Belle in the 21st Century (Chapter 2) – His Demands

belle-myungzy

Belle in the 21st Century

kkezzgw art&storyline

Cast: miss A’s Suzy, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: more than 12~

belle-cast-myungzy

Genre: Romance, Marriage Life, Family, Friendship

Rated: General

Length: Chapter

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog: keziagw wonkyoonjung Ask.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari MyungZy dan nanti akan dilanjutkan ke MinStal, TaeLli, dan seterusnya. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————————–

—Cerita dalam chapter ini telah diperbaharui pada 23 Juni 2016. Reader baru maupun lama disarankan untuk membaca lagi untuk menghilangkan kebingungan di chapter-chapter berikutnya—

*

*

*

Sinar matahari yang menusuk permukaan bumi sukses membuat Myungsoo terjaga dari tidur lelapnya setelah semalaman menghabiskan waktu di club malam. Pria itu menggeliat sesaat sebelum kelopak matanya terbuka sempurna, ia mengerjap sekilas lalu mendudukkan dirinya di tempatnya tidur yang menjadi alas tidurnya selama bertahun – tahun terakhir.

“Shit,” umpatnya merasakan kepalanya berdenyut nyeri dan tenggorokannya terasa kering efek meminum alkohol terlalu banyak.

Myungsoo bangkit berdiri dengan bertelanjang dada, meraih segelas air dan langsung meminumnya cepat. Dengan langkah malas ia masuk ke dalam kamar mandi bersiap berangkat kerja. Hari Sabtu biasanya dihabiskan oleh sebagian orang untuk bersantai di rumah bersama keluarga mereka, namun hal itu tidak pernah ada dalam kamus seorang Kim Myungsoo-setidaknya selama sepuluh tahun terakhir ini.

Tanpa minat sedikitpun, ia mengolesi selai kacang keatas roti tawar di depannya, menyeruput kopi arabika sambil memandangi jendela kaca yang menampakan kecantikan kota New York di pagi hari. Setelah itu Myungsoo menyalakan televisi mencari berita tentang perekonomian dunia, kebiasaan yang selalu ia lakukan saat pagi.

“Selamat pagi permirsa, kembali bersama kami pada Morning Wide. Kabar mengenai peralihan kekuasaan Jaekyo Industries kepada putra mahkota generasi ketiga dari kerajaan bisnis ini masih menjadi tanda tanya besar, namun hal ini berdampak baik pada penjualan saham Jaekyo Industries,” Myungsoo hanya tersenyum miring penuh kemenangan mendengar berita – berita yang minggu ini dihebohkan dengan pergantian CEO dari perusahaan keluarganya.

Myungsoo mengalihkan pandangannya dari TV ketika ponselnya berbunyi. Melihat nama asisten ayahnya di layar ponselnya membuat ia menaikkan alis bingung, namun memutuskan untuk mengangkatnya.

“Kim Myungsoo-ssi?”

“Ada apa, Jungsik?”

“Saya hanya ingin memberitahu anda untuk menggantikan posisi Tuan Kim Kiho pada rapat hari ini.”

“Memang ada apa dengannya?”

“Hari ini beliau berhalangan hadir dikarenakan urusan yang tidak dapat ditunda.”

Myungsoo mengangguk acuh. “Baiklah, berikan saja semua materinya pada sekretarisku, jam berapa meeting itu mulai?”

“Sekitar jam dua siang, tuan.”

Setelah itu, Myungsoo segera merapikan semuanya dengan asal sebelum berjalan keluar dari penthouse-nya. Setiap langkah pria itu menunjukkan kebesaran dan keagungannya, siapapun yang melihatnya akan merasa terintimidasi dan bertekuk lutut takut. Tidak heran Myungsoo kembali menjadi perhatian para wanita yang berada di dalam lift seperti yang selalu terjadi jika wanita melihatnya. Namun Myungsoo hanya memberikan senyum miring mematikan pada mereka tanpa benar – benar tertarik.

Begitupun ketika langkah tegapnya membawanya masuk ke dalam gedung pencakar langit Jaekyo Group yang selalu dibanggakan keluarganya. Semua sibuk memberi salam kepada Myungsoo dengan sopan dan segan, dua orang di meja receptionist sibuk melempar senyum sensual kearah Myungsoo begitupun karyawati lainnya yang kerap kali mempercantik diri hanya untuk menarik perhatian General Manager atau calon CEO mereka, namun Myungsoo tidak pernah menanggapi mereka. Ia bagai hasil karya seni yang tak tersentuh dengan pancaran mata gersang tak ada kehidupan.

“Selamat pagi, Tuan Kim.”

Selamat pagi.”

Seperti biasa, Myungsoo hanya menanggapi sapaan personal assitant-nya yang selalu menyapanya tanpa maksud lain seperti karyawati lainnya. Myungsoo pribadi cukup mengagumi dan selalu puas akan kinerja kerjanya yang selalu cepat, rapi, dan teratur. Ia juga menikmati ketidaktertarikan wanita itu padanya karena hal itu membuat wanita itu terlihat lebih serius dalam bekerja dan ia merasa nyaman berdiskusi dengan wanita cerdas ini.

Sir, saya mendapat informasi bahwa anda yang akan menggantikan Mr. Kim Jongwoon dalam rapat siang nanti.”

“Persiapkan semua materinya dan kirim semuanya dalam waktu satu jam ke e-mail saya,”

“Baik, sir.”

Dan hari Sabtu ini kembali dihabiskan Myungsoo dengan berkutat di dalam ruang kerjanya hingga dini hari, melupakan kenyataan bahwa jiwanya meraung penuh kelelahan setiap harinya.

**

Suzy berjalan tergesa menuju halte bus. Ia harus segera sampai di Sugar Momma atau ia harus kembali mendengar nyanyian merusak telinga oleh manager yang kerap kali memarahinya jika ia terlambat. Udara dingin yang menusuk sampai ke tulang membuat Suzy mengeratkan menggigil dan memasukkan kedua tangannya ke kantung hoodie ungunya. Jalanan di tempatnya menginjakkan kaki sekarang cukup sepi.

Hari ini ia terlihat bersemangat. Bulan ini biasanya banyak turis yang akan datang kesini, sehingga ia tidak sabar untuk melayani mereka di bandara. “Ah..semoga job-ku hari ini mengalir deras!”

Hey! Stop right there!”

Suzy menoleh kearah belakang kebingungan mendengar suara – suara aneh itu. Matanya membulat begitu melihat seorang pria berlari kearahnya dengan wajah ketakutan dan panik. “Menyingkir dari hadapanku! Tolong menyingkir, cepat!”

Suzy masih tergagap bingung di tempatnya ketika pria itu tak sanggup melambatkan larinya, sampai akhirnya laki – laki itu menabraknya dan membuat mereka sama – sama terjatuh di aspal dan berguling terus kearah kanan dengan kecepatan tinggi.

“AW!” Suzy memekik keras begitu merasakan punggung dan pantatnya mencium aspal dengan sempurna, bahkan kepalanya juga terbentur trotoar beton yang ada di sampingnya. Detik berikutnya ia bisa merasakan keningnya mulai mengeluarkan darah segar yang membuatnya cukup shock, kepalanya berdenyut nyeri dan sekujur tubuhnya memar begitu saja.

Suzy baru saja berniat membuka mulutnya saat menyadari pria yang menabraknya tadi sudah jatuh terkapar dan dikepung oleh empat pria lainnya dengan keadaan babak belur. Sontak Suzy langsung bangkit berdiri untuk menyelamatkan pria malang itu, tak peduli dengan kepalanya yang mulai pening maupun tubuh memarnya yang harus ia paksakan untuk berdiri.

PLANG~

Sebuah kaleng berhasil mendarat mulus tepat di belakang kepala salah satu dari mereka, pria itu langsung menjerit kesakitan membuat keempatnya menoleh kearah Suzy marah.

“Beraninya kau ikut campur! Apa masalahmu melempariku dengan kaleng bodoh ini, huh? Siapa kau?”

“Aku hanya tidak suka melihat minimnya keadilan disini. Sebagai seorang pria, bagaimana kalian bisa melawan seorang pria dengan bantuan tiga pria lainnya? Memalukan!”

“Jangan macam – macam dengan kami, nona muda! Kau tidak takut pada kami yang sekarang bisa saja mematahkan lehermu hingga mati?” tanyanya dengan wajah garang, berusaha menakuti Suzy.

Pria itu membelalakan matanya begitu melihat justru Suzy tertawa keras lalu menatapnya dengan tatapan menantang. “Takut? Aku takut pada kalian? Tak ada satupun alasan di dunia ini yang dapat membuatku takut pada laki – laki biadab seperti kalian!” sentaknya emosi.

Keempatnya langsung mengepalkan tangannya dengan tatapan menyala – nyala mendengar jawaban Suzy. Mereka jelas tersinggung. “Baik, lebih baik bunuh mereka berdua!”

Suzy dengan sigap langsung menghindari serangan dari tiga pria yang sekarang menyerangnya sekaligus. Namun dengan gesit dan cekatan, Suzy yang memang ahli dalam hal bela diri dengan mudahnya menghindar dan bahkan berhasil melayangkan tinjuan ke wajah pria – pria itu. Tubuhnya ia rendahkan dan kaki kanannya terangkat untuk menendang salah satu pria itu, sikutnya berhasil ia gunakan untuk menjinakkan pria yang ingin menyerang di belakangnya. Ketika salah satu dari mereka mulai bangun, Suzy dengan gesit segera memukul mereka dengan lututnya membuat pria itu mengerang kesakitan di bagian dagunya. Suzy benar – benar berhasil mengalahkan pria – pria itu dengan mudahnya-dan sendirian.

Pria yang menabrak Suzy tadi sibuk menganga lebar melihat aksi Suzy yang terlihat sangat keren dan menganggumkan. Ia terbiasa melihat para actor – actor di film action beradegan seperti ini, namun berbeda rasanya jika kau melihat itu secara langsung dan ‘pemeran utamanya’ adalah seorang wanita.

Wanita?

Pria itu mengerjap untuk memastikan dan memang benar di depannya seorang gadis yang sibuk berkutat dengan para lelaki yang mengerjarnya, sedangkan ia? Hanya pria lemah yang terlihat semakin lemah saat melihat wanita secantik Suzy ahli bela diri. Detik berikutnya, ia berinisiatif untuk menelpon polisi agar segera datang ke tempat kejadian, ia juga melirik papan nama jalan yang terdekat di sekitarnya, setelah itu menyembunyikan kembali ponselnya.

Ketua dari pria – pria yang sekarang sudah terkapar di aspal itu melebarkan matanya tak percaya melihat Suzy yang sanggup menaklukkan anak buahnya. Ia mengeram marah dan langsung menyerang Suzy, namun siapa sangka justru Suzy langsung memasang kuda – kuda dan berputar cepat. Anak buah dari pria itu menahan nafas melihat Suzy memutar tubuh dan menendang kepala pria itu dengan mudahnya, seketika itu juga priaitu berhasil ia taklukkan dengan mudahnya.

NENONENONENO~

Semua yang ada disana langsung menoleh saat mendengar suara sirine polisi menggema, ketika keempat pria itu berusaha kabur dari sana, Suzy langsung membungkam mereka dengan pukulan maupun injakkan keras di punggung mereka membuat keempatnya langsung meringis sakit dan kembali jatuh kesakitan.

Polisi – polisi itu segera mengamankan keempat preman tadi menuju mobil polisi. Suzy masih mengatur nafasnya yang memburu, ekor matanya tak sengaja melihat pria yang menabraknya tadi bangkit berdiri dan menghampirinya. “Agassi, te-terimakasih banyak atas bantuanmu! Mungkin tanpa kau, nyawaku berakhir hari ini juga” katanya sambil membungkuk sopan.

Suzy tersenyum lalu menepuk bahunya lembut, “Gwaenchanayo. Sudah kewajibanku menolong orang lain jika aku memang bisa. Apa lukamu tidak apa – apa?”

“Ah, aku sudah biasa menghadapai hal seperti ini, sudah tidak terasa sakit lagi.” ujar pria itu tersenyum malu sebelum ia menyadari luka baru yang ada di kening Suzy. Pria itu menarik nafas kaget. “Agassi, keningmu berdarah! Astaga, kau harus segera ke rumah sakit! Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, agassi.”

Suzy menggeleng cepat dengan ekspresi santai walaupun sebenarnya kepalanya terasa sakit. Perbincangan singkat mereka harus terhenti saat seorang polisi menghampiri keduanya untuk mengamankan mereka sebagai saksi dalam kejadian ini.

**

Suzy langsung bangkit berdiri begitu melihat pria yang ternyata bernama Kibum itu keluar dari ruangan interogasi yang memerangkapnya selama dua jam terakhir. Pria itu terlihat letih, putus asa, dan sedikit ketakutan entah karena apa.

“Apa interogasinya berjalan dengan lancar?” tanya Suzy ragu.

Kibum hanya mengangguk seadanya membuat Suzy semakin mengernyitkan dahinya bingung dengan tingkah pria ini. “Tapi kenapa kau terlihat gelisah dan ketakutan seperti ini? Apa kau sudah menghubungi keluargamu?”

“Itu..itu-”

“YAK KIM KIBUM!”

Suzy terlonjak kaget mendengar suara nyaring yang menggema di kantor polisi itu. Ia menoleh kebelakang dan membulatkan matanya begitu melihat wanita berambut pirang dengan postur seperti model papan atas berjalan kearah mereka sambil menghentak – hentakkan kaki dengan ekspresi siap menerkam. Suzy terkesiap bingung saat Kibum berlari menyembunyikan diri di belakang Suzy dengan ekspresi ketakutan. Ada apa ini? Dan..siapa gadis ini?”

Mata gadis itu semakin memerah menahan emosi melihat Kibum yang meringkuk ketakutan di balik punggung Suzy dan langsung menarik kausnya kasar. “Kau berjudi lagi ya?!” tanya gadis itu galak.

Kibum meronta sambil memohon kearah gadis itu. “Noona, ini bukan sepenuhnya kesalahanku! Mereka benar – benar mencari masalah!” cicit Kibum membela diri.

Yoojung menggertakkan giginya kesal lalu memukul punggung Kibum kencang hingga Suzy terlonjak kaget. Kibum mengaduh saat merasakan punggungnya panas mendapat ‘ciuman’ manis dari tangan kecil Yoojung yang minim daging itu.

“APPO!” jeritnya kesal dan malu. Kibum jelas menyadari kehadiran Suzy diantara mereka, namun ia ragu kakaknya yang cantik ini sadar akan hal itu. Jika ia sadar, tidak mungkin wanita yang sellau menjaga image ini melakukan kekejaman ini di depan orang lain.

Yoojung menatap Kibum sinis dengan tangan terlipat di dadanya, posenya saat ini benar – benar menunjukkan segala kegarangan seorang kakak pada adiknya yang tidak tahu diri seperti Kibum. Suzy semakin kaget melihat Yoojung menarik telinga Kibum hingga pria malang itu memekik kesakitan. “AH! LEPASKAN! APPO! APPO!

Suzy benar – benar harus menahan tawanya melihat kakak adik di depannya menunjukkan kasih sayang mereka dengan caranya sendiri. Perilaku sang kakak yang dengan mudahnya menghukum sang adik dimanapun mereka berada jelas menunjukkan mereka sering merasakan hal itu. Suzy memilih untuk menjadi penonton yang baik dan hanya memperhatikan mereka sambil mengulum senyum, tak berniat sama sekali untuk menginterupsi.

Kibum memejamkan matanya sambil merutuki dirinya sendiri ketika ia melihat ekspresi Suzy. Mata Yoojung membulat sempurna lalu telapak tangannya menutup mulutnya yang menganga karena kaget, sepertinya juga baru menyadari kehadiran Suzy diantara mereka.

Yoojung terlihat gelagapan dan gusar di tempatnya menyadari ‘kekerasan’ yang ia lakukan pada adiknya menjadi santapan orang lain. “Uh-oh…aku baru sadar ada orang lain disini,” ucapnya sambil tertawa canggung yang hanya dicibir Kibum sinis.

Suzy tertawa geli. “Gwaenchana, kalian terlihat lucu. Aku merasa terhibur melihatnya”

Oh demi Tuhan Yoojung, kau menghibur orang lain dengan cara seperti ini-batin Yoojung menyuarakan kata hatinya.

“Tunggu….apa kau wanita yang ditabrak bedebah ini?”

“Bedebah!?” bentak Kibum tak terima.

Suzy mengangguk pelan membuat Yoojung kembali menyerang Kibum dengan cubitannya. “Mwoya! Kau ini kenapa, huh?”

Yoojung menatap geram kearah adiknya yang tampak tak berdosa atas kejadian ini, ia semakin merasa tidak enak melihat luka – luka di tubuh Suzy. ” Lihatlah, kau sudah membuat nona ini terkena serangan musuh – musuhmu! Kau pasti belum minta maaf, kan?”

“Siapa bilang? Aku sudah meminta maaf padanya sebelum kau datang!”

Yoojung menggeleng tak setuju, Cepat minta maaf lagi sebelum aku melaporkannya pada eomma dan appa!”

Kibum menghela nafasnya pasrah, ia tidak tahu kakaknya bisa semenyebalkan ini! “Maafkan aku, nona, Maafkan aku,” kata Kibum sambil membungkuk hormat pada Suzy yang menatap takjub kearahnya.

Yoojung tersenyum tak enak pada Suzy. “Jeongmal jeosonghaeyo agassi. Adikku ini memang terkadang sulit diatur. Aku akan menanggung biaya berobatmu.”

“Tidak perlu sampai seperti itu, aku sudah terbiasa mendapat luka seperti ini,” Suzy mengumpat pelan begitu teringat dengan pekerjaannya di cafe, gawat ia bisa terkena amukan nenek sihir lagi kalau begini caranya!

“Hmm…agassi, sepertinya saya harus pergi sekarang, ada urusan mendadak yang harus saya lakukan sekarang, permisi!”

“Eo, agassi kau mau kemana? Agassi!?”

**

Bahu Suzy serasa ingin patah. Ia benar – benar kelelahan hari ini dan akhirnya terpaksa membatalkan pekerjaannya di bandara sebagai supir gelap. Kepalanya berdenyut tanpa henti akibat benturan dengan trotoar tadi siang. Dan satu – satunya hal yang ia lakukan sekarang adalah tidur.

Tapi sepertinya keinginannya itu tidak terkabulkan. Tidak setelah ia melihat pintu kamar kosnya terbuka lebar dan barang – barang pribadinya berserakan di teras. Terlihat para debt collector yang waktu itu mengejar – ngejarnya sibuk mengangkut barang – barang itu.

Dengan panik, Suzy segera berlari menuju kamar kosnya. Betapa kagetnya dia ketika mendapati kamarnya sudah acak – acakan dan nyaris kosong. Matanya menggelap marah melihat foto keluarganya pecah dan sudah tak berbentuk lagi.

“Apa yang kalian lakukan disini?! KELUAR!”

“Ah, pemilik kamar ini sepertinya sudah datang,” ucap salah satu dari mereka tampak cuek dan mereka semua tetap mengobrak – abrik kamar Suzy.

Suzy masih sibuk memikirkan berbagai cara untuk mengusir mereka sebelum matanya melihat preman itu menemukan kalung peninggalan ibunya yang ia sembunyikan dibawah seprai bantal. Kalap, Suzy segera menarik salah satu preman disana dan meninjunya hingga preman itu mengerang kesakitan.

Niat Suzy untuk merebut kalung itu terhenti ketika ketua preman itu menarik lengannya kasar dan menampar pipinya kencang hingga ia jatuh tersungkur ke lantai. Kepalanya mendadak pening dan darah segar mengucur deras di sudut bibirnya. Ia ingin melawan lagi tapi tamparan kedua membuat mulutnya terkunci.

Dengan ganas, ketua preman itu mengangkat wajah Suzy kasar sambil tersenyum penuh ejek. “Sudah lama sekali aku ingin menampar wajah sialanmu ini, jalang kecil,” dan Suzy hanya bisa menahan tangis ketika preman itu menamparnya lagi, “selama ini aku sudah menyuruhmu untuk membayar tunggakan hutang – hutang itu secara baik – baik, tapi sepertinya kau lebih suka dikasari!”

“Kalian membuat hutangku meningkat 600% dari yang seharusnya kubayarkan, jelaskan padaku bagaimana aku harus membayarnya!?”

“KAMI TIDAK PEDULI! Yang kami tahu adalah hutang adalah hutang, dan kami ingin hutang itu dibayarkan segera atau—”

“Atau apa?”

“Atau kami akan membunuh ayahmu!”

Suzy tertawa meremehkan, “Lucu sekali. Lalu apa? Kau akan menghancurkan kuburan ibuku?”

Preman itu mengerang marah dan anak buahnya memberikan sebuah ponsel kepada Suzy. Mata Suzy membulat sempurna melihat salah seorang preman disini menyamar sebagai dokter dan bersiap mencabut alat – alat medis yang melekat di tubuh Tuan Roxanne.

“Kami bisa melakukan apa saja yang kami mau, termasuk membunuh ayahmu yang malang itu.”

“BAJINGAN!” teriak Suzy penuh amarah dan frustasi, “Jangan pernah kalian sentuh ayahku!”

Preman – preman itu hanya tertawa senang mendengarnya sebelum kembali menangkup wajah Suzy kasar, “Kalau begitu berikan uang itu, gadis manis. Kami memberikanmu waktu satu minggu ke depan untuk melunasi semuanya. Jika tidak…maka siapkan ucapan salam perpisahan termanis untuk ayahmu itu.”

Mereka menarik paksa kalung peninggalan ibu Suzy dari tangannya sebelum berjalan keluar. “Ah ya, persiapkan tubuh indahmu itu untuk kami nikmati minggu depan! HAHAHA!”

Hati Suzy terasa hancur dan ia langsung menangis sambil memeluk foto keluarganya yang masih tersisa dari sisa penjarahan yang dilakukan preman – preman itu.  Tidak ada satupun yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Marah, kecewa, sedih, terluka, dan dendam seolah berkumpul menjadi satu.

Tangannya terkepal hingga memutih dan wajahnya mengeras ketika melirik koran yang menampilkan kesuksesan Jaekyo Group menjadi salah satu perusahaan tersukses di dunia. Dendam yang selama ini berusaha ia padamkan kini langsung membakar hatinya yang sedang terluka.

Suzy menghapus air matanya dengan kasar sebelum berjalan keluar dari kamar kosnya. Ia harus memberi pelajaran pada orang yang membuat keluarganya hancur seperti sekarang.

**

Kim Jongwoon berjalan dengan penuh wibawa saat ia memasuki gedung Jaekyo Group. Tampak kepuasan tersirat di balik kulit wajahnya yang keras dan dingin setiap melihat kerajaannya semakin berkembang pesat. Berpuluh – puluh tahun ia mengembangkannya dengan cara apapun untuk mencapai posisi ini dan sebentar lagi Myungsoo-lah yang harus menjaga perusahaan ini. Dan ia yakin dengan kejeniusan Myungsoo, Jaekyo Group akan menjadi perusahaan nomor satu di dunia.

Tanpa Kim Jongwoon dan pengawalnya ketahui, Suzy berhasil masuk ke dalam gedung Jaekyo Group. Tangannya masih mengenggam foto keluarganya erat – erat, pandangannya terpusat pada Tuan Kim yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya.

Langkah kaki Suzy semakin dekat dengan posisi Tuan Kim berdiri saat ini, dan ketika dirasa jarak mereka sudah cukup, Suzy setengah berlari menghampiri pria itu.

Sebelum Tuan Kim sempat menyadari apa yang terjadi, Suzy sudah melayangkan tinjunya pada Tuan Kim hingga pemimpin perusahaan raksaksa itu jatuh. Mata Tuan Kim melotot kaget, namun kepahitan gadis itu terhadap Tuan Kim membuatnya tidak peduli dengan apapun lagi selain melakukan ini.

Suzy mencengkram kerah kemeja Tuan Kim kencang, tangannya bergetar menahan air mata yang sejak tadi sudah menggenang dari kedua matanya, “APA KAU PUAS?! KAU PUAS KARENA EGO-MU ITU BERHASIL MENGHANCURKAN KELUARGAKU?! HAH?! JAWAB AKU!!”

“A-apa-apaan ini! Si-singkirkan gadis ini sekarang juga!”

Sebelum bodyguard – bodyguard Tuan Kim sempat menarik gadis itu Suzy langsung melawan semua bodyguard yang berniat menghajar ayahnya. Kali ini ia mengeluarkan semua kemampuannya dalam bela diri membuat Kim Jongwoon yang masih terdiam menatapnya takjub sekaligus takut. Bayangkan saja, gadis itu sukses menghadapi sekitar sepuluh bodyguard-nya yang sudah terlatih seorang diri, namun detik berikutnya ketakutan langsung menghantuinya begitu Suzy menoleh kearahnya dengan tatapan penuh kebencian.

Gadis itu kembali mencengkram kerah Tuan Kim dengan ganas, “Apa kau bahkan pernah memikirkan nasib karyawan – karyawanmu yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya?! Menghargai mereka layaknya manusia pada umumnya?! KAU BAHKAN MENGANGGAP RAKYAT RENDAHAN SEPERTI KAMI BAGAI ONGGOKAN SAMPAH YANG MENGEMIS UANG PADAMU!”

“A-agassi, sepertinya anda—”

“Apa kau tahu apa yang terjadi dalam hidupku selama enam tahun ini karena kau?! Kau melimpahkan semua kesalahanmu pada kami, tanpa pernah memikirkan dampak atau apa yang akan kami alami selanjutnya!” Suzy tanpa sadar mencekik leher Kim Jongwoon hingga nafas pria itu mulai megap – megap, “Kau…..KAU SECARA TIDAK LANGSUNG ADALAH PEMBUNUH IBUKU, BAJINGAN! AKAN KUBUNUH KAU!!”

Tuan Kim terus berusaha melepas cengkraman tangan Suzy hingga para bodyguard-nya berhasil menyeret gadis itu menjauh dari Tuan Kim yang kini terbatuk – batuk, “CEPAT BAWA GADIS INI KELUAR!”

Suzy susah payah memberotak sekuat tenaga dalam cengkraman bodyguard-nya. Sorot matanya yang gelap menatap penuh kebencian kearahnya, “Aku tidak peduli lagi jika kau akan melaporkanku ke polisi atau memasukkanku ke rumah sakit jiwa, karena…..KARENA KAU SUDAH MENGHANCURKAN SEMUA YANG MENJADIKAN ALASANKU UNTUK HIDUP! TERKUTUK KAU, KIM JONGWOON!!!”

Karyawan – karyawan yang ada disana menatap kebingungan dan penuh rasa ingin tahu kearah Tuan Kim yang mengepalkan tangannya marah.

Jungsik menghampiri Tuan Kim dengan panik, “A-anda tidak apa – apa, tuan?”

Dan tanpa keduanya sadari, Myungsoo berdiri di ujung dengan tatapan menilai serta alis terangkat penuh spekulasi.

**

PLAK!

Jungsik hanya memasang wajah datar ketika atasannya melampiaskan kemarahannya padanya dan beberapa barang yang dilempar begitu saja dari meja kerjanya.

“BAGAIMANA MUNGKIN GADIS ITU BISA LOLOS DARI PANTAUAN SECURITY HAH?! BAGAIMANA KALAU ADA CALON INVESTOR MELIHAT ORANG BIASA SEPERTI DIA BISA MENGHAJAR CEO PERUSAHAAN INI?!”

Joesonghamnida. Kami akan lebih memperketat pengamanan kantor mulai saat ini.”

Ekspresi Kim Jongwoon sekarang tampak mengerikan, bagaikan predator yang bersiap mencari mangsanya. Gadis kurang ajar, ia mempermalukannya di depan seluruh karyawannya, harga dirinya terasa diinjak – injak oleh gadis tadi.

“Kurang ajar, apa gadis sialan itu tidak tahu dia berhadapan dengan siapa? Berani – beraninya ia memperlakukan seorang Kim Jongwoon seperti itu?!”

Jungsik hanya diam di hadapan Tuan Kim tanpa memberikan komentar, walaupun ia tahu apa tugasnya setelah ini.

“Selidik gadis itu,” Perintah Tuan Kim begitu dingin, “Selidik apapun yang berhubungan dengan gadis kurang ajar itu, selengkap dan sedalam – dalamnya. Jangan sampai ada yang terlewatkan, terutama alasan mengapa ia berani menghajarku seperti tadi! Aku ingin semuanya sudah ada di depan mejaku paling lambat besok pagi. Dan pastikan rekaman CCTV yang berhubungan dengan insiden itu dimusnahkan. Kau dengar itu Ronald?!”

Jungsik memandang atasannya dengan skeptis, “A-anda tidak menyuruh saya membunuhnya?”

Tuan Kim menggeleng seraya tersenyum dingin, “Tidak, aku punya cara yang lebih menyenangkan untuk menyiksa gadis itu…”

Jungsik menundukkan kepalanya patuh. “Baik, tuan.”

**

Sepanjang perjalanan Suzy meremas rambutnya frustasi dan memukul – mukul kepalanya sambil bergumam, “Bodoh…Suzy bodoh…kau memang bodoh….”

Bagaimana mungkin ia berani melakukan itu pada pimpinan perusahaan nomor satu di negara ini? Hingga detik ini Suzy pun masih mempertanyakan kegilaan yang ia lakukan kemarin siang, walaupun tentu saja ia tidak menyesali perbuatannya.

Ketika Suzy memasuki gang – gang kecil untuk mempersingkat waktu menuju halte, tiba – tiba ia merasakan derap langkah kaki yang tak terdengar di belakangnya. Suzy menegang dan langsung memasang mode waspada.

Suzy langsung menarik tangan pria yang memegang bahunya lalu membantingnya ke aspal, ia memelintir tangannya hingga pria itu mengerang kesakitan, “Siapa kau?!”

Saat Suzy lengah, sesuatu membekap mulut dan hidungnya dengan kain putih. Suzy yang kebingungan berusaha meronta namun bekapan itu semakin kencang dan gadis itu bisa merasakan kedua tangannya dipegangi oleh dua pria lainnya. Dan detik berikutnya, kegelapan menyapa Suzy dan ia tidak sadarkan diri.

**

Hal pertama yang Suzy lihat saat membuka matanya adalah sebuah ruangan kosong yang hanya berisi dua kursi kayu dan meja mahogany yang berada tepat beberapa meter di depannya. Ingatan sebelum ia pingsan kembali masuk ke pikirannya, membuat Suzy bergidik ketakutan. Apa para debt collector itu menculiknya?

“Kau sudah sadar rupanya,”

Sontak Suzy langsung menoleh dan matanya terbelalak melihat Kim Jongwoon berjalan masuk ke dalam ruangan diiringi banyak bodyguard di belakangnya. Ketakutannya mendadak hilang dan hanya perasaan benci yang dirasakan Suzy saat ini.

Kim Jongwoon menyeringai sinis kearah Suzy seraya meletakkan pistol keatas meja, “Don’t look at me like that, young lady. Kau tahu itu tidak menakutiku, seharusnya kaulah yang takut padaku karena kapan saja aku bisa mengakhiri hidupmu dengan pistol ini.”

“Kau tidak mungkin berpikir aku takut padamu setelah apa yang kulakukan padamu ‘kan, Tuan Kim?!”

“Sayang sekali, seharusnya kau takut padaku, Nona Bae. Terlebih setelah apa yang ayahmu lakukan pada perusahaanku.”

Suzy mengernyit bingung, “Apa maksudmu?”

Kim Jongwoon memberi isyarat pada Jungsik untuk melakukan apapun yang sudah mereka sepakati. Jungsik pun mengangguk dan langsung memberikan sebuah map yang berisi kumpulan – kumpulan berita mengenai Jaekyo Group di tahun 2012, dimana saat itu pabrik Jaekyo Industries bermasalah dengan para buruh, terutama karena kecelakaan kerja yang menewaskan tujuh buruh mereka, termasuk ayah Suzy.

“Saat itu perusahaan kami sedang merancang proyek terbaru yang membutuhkan teknologi terbaru untuk dapat menciptakan produk sesuai ekspektasi kami. Hal ini tidak dapat terwujud karena kemampuan para buruh sudah tertinggal jauh dari yang kami harapkan untuk proyek kami. Karena itulah Jaekyo Industries memutuskan untuk mengurangi hampir sebanyak 70% dari buruh yang ada dan menggantinya dengan mesin, namun mereka tidak dapat menerima keputusan itu dan memutuskan untuk berdemo besar – besaran yang mengguncang nilai saham perusahaan kami,”

Suzy hanya menatap Jungsik datar tanpa minat, ia tahu akan berujung kemana perkataannya, “Lalu apa hubungannya dengan kecelakaan itu?”

“Ayah anda, atau Bae Sangwoo….adalah pemimpin dari demo tersebut.”

“A-apa?! Ti-tidak mungkin! Kalian pasti hanya mengkambing hitamkan ayahku!”

Kini Jungsik menunjukkan potongan – potongan rekaman CCTV kepada Suzy. Disana terlihat ayahnya sedang berdiri di tengah – tengah buruh lainnya, “Anda bisa melihatnya sendiri, nona. Disana terlihat jelas bahwa Bae Sangwoo tengah memprovokasi buruh lainnya agar melakukan demo itu. Rekaman CCTV ini diambil dua hari sebelum demo besar – besaran itu terjadi.”

Suzy tercengang begitu mendengar fakta mengejutkan yang baru saja ia dengar. Wajahnya seperti baru disiram air es, ia sama sekali tidak tahu akan hal ini.

“Karena ulah ayahmu kami harus mempertimbangkan kembali proyek terbaru Jaekyo Industries ini. Jatuhnya nilai saham perusahaan membuat kami semua harus bekerja ekstra keras untuk meyakinkan kembali para investor, menarik kembali minat mereka menanam saham di perusahaan kami. Akhirnya proyek kami terpaksa dibatalkan karena perusahaan lain telah mencuri ide kami dengan meraup keuntungan besar, sesuai prediksi kami ketika pertama kali mencetuskan ide ini.”

Dengan susah payah Suzy menelan salivanya sambil sesekali membasahi bibirnya yang terasa kering, ia mendadak gugup dan sedikit takut dengan sosok pria di depannya. Ia takut karena kebenciannya pada Jaekyo Group selama ini ternyata sama sekali tidak beralasan, apa seharusnya ia bersyukur karena mereka tidak menuntut ayahnya?

Kim Jongwoon tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Suzy yang mendadak berubah pucat, “Jadi Nona Suzy, setelah mendengar semuanya seharusnya anda bersyukur saat itu saya tidak menuntutnya karena membuat saham perusahaan Jaekyo Group jatuh hingga 27% serta mengalami kerugian sebesar 8 triliun,” ujar Kim Jongwoon dingin, “Tapi sepertinya aku harus menuntutnya karena putri semata wayangnya berani menghajarku tanpa tahu kebenaran yang ada.”

“Ti-tidak!” Suzy menggeleng keras dan langsung berlutut ketakutan di depan Kim Jongwoon, “Maaf atas tindakan dan perkataan saya yang menyinggung hati anda. Tapi, kumohon…ja-jangan libatkan ayah saya dalam hal ini, kumohon…”

“Memang sejak awal aku tidak berminat menuntutnya, tapi karena kau nona, sepertinya aku harus mempertimbangkan keputusanku enam tahun silam. Karena dia, perusahaanku sempat merugi dan bahkan enam tahun kemudian putrinya menghajarku di kantor yang ia rusak. Bagaimana ini? Sepertinya akan sulit sekali memaafkan ayah anda, saya bukan orang pemaaf.”

Suzy menggeleng ketakutan dan kalut, tanpa ia sadari ia sudah menangis dan mengemis maaf pada Kim Jongwoon, “Kumohon tuan, jangan! Jangan tuntut ayahku……atau—atau biar aku saja yang menanggungnya, kau boleh lakukan apapun padaku tapi jangan pada ayahku….”

“Kau bersedia menangung tuntutannya?” tanya Kim Jongwoon pura – pura terkejut, dalam hati ia tersenyum penuh kemenangan. Seperti yang kuduga, batinnya bersuara. Ia tidak menyangka Suzy sepolos itu karena tidak menyadari kelicikannya memutar balikan fakta yang ada.

Suzy mengangguk yakin, “Ya, tuntut saja aku.”

“Apapun yang harus kau lakukan agar ayahmu bebas dari tuntutan?”

Gadis itu terdiam sebentar tampak ragu, namun seraya mendesah pasrah ia perlahan mengangguk, “Apapun.”

Senyum penuh arti di wajah Tuan Kim semakin melebar mendengarnya, “Baiklah jika kau bersedia melakukannya, besok datang ke kantorku tepat pukul dua belas siang. Jika kau tidak datang…kupastikan ayahmu mendekam di penjara seumur hidup!”

Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Suzy pun menetes. Saat pintu ruangan sudah tertutup dengan sempurna, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa selain menangisi kehidupan yang sepertinya tidak pernah berada di pihaknya.

**

Suzy menatap gedung pencakar langit di depannya dengan ragu. Ia menatap sekelilingnya, melihat aktifitas yang berada di sekitar kantor. Tentu saja pakaian yang dikenakan mereka terlihat rapi dan berkelas, tidak seperti dirinya yang hanya memakai kaus biasa, rambut panjangnya juga hanya ia ikat asal. Namun ia tak peduli, tujuannya datang kesini bukan untuk melamar kerja atau sejenisnya, ia ingin memenuhi tuntutan Kim Jongwoon.

Suzy menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk, ia hanya berharap tidak ada yang mengenali wajahnya setelah aksi barbar yang ia lakukan dua hari yang lalu.

“Permisi, dimana ruang kantor Tuan Kim?”

Receptionist itu terdiam sebentar lalu memandangi penampilan Suzy dari atas sampai bawah, seakan menilai kepantasan seorang tamu yang datang untuk menemui raja dari Jaekyo Group ini.

“Apa anda sudah membuat janji dengan beliau, agassi?”

Suzy memutar bola matanya malas, “Atas nama Bae Suzy. Silahkan anda tanyakan sendiri,”

Dengan sedikit kesal, wanita itu memberitahu bahwa kantor CEO berada di lantai tiga puluh. Tanpa berlama-lama, Suzy segera masuk ke lift dan menekan angka 30. Beberapa karyawan disana memandangi Suzy dengan tatapan bingung—yang tidak digubris sedikitpun oleh Suzy. Semakin tinggi lift itu membawa para karyawan, semakin sepi orang yang berada di dalam lift dan kini hanya menyisakan Suzy yang masih harus bersabar untuk mencapai lantai 30.

TING~

Suzy memperhatikan lantai 30 yang baru saja ia pijaki setelah keluar dari lift. Terlihat jelas lantai ini sengaja di desain sebaik dan semewah mungkin dibanding lantai yang lainnya. Karyawati – karyawati yang berlalu lalang di hadapannya terlihat formal namun kesan sexy dan elegan tak pernah surut dari mereka, ia seolah sedang menjadi penonton sebuah fashion show bertemakan ‘pakaian kerja wanita’. Hanya suara stiletto yang mengetuk – ngetuk lantai yang memecahkan keheningan lantai ini, seolah kantor ini diciptakan untuk keheningan dan keagungan.

Detik itu juga Suzy kembali memperhatikan penampilanku dan berakhir dengan sebuah umpatan, ia tiba – tiba merasa ciut diantara pernak – pernik pakaian formal para wanita di sekelilingku. Sebelum ini ia merasa cukup menarik, sekarang ia merasa seperti gadis desa yang sedang mencari alamat.

“Ada yang bisa saya bantu, agassi?”

“Saya Bae Suzy, Tuan Kim—”

“Nona Bae,” ucap sekretaris itu yang langsung tersenyum ramah, “anda sudah ditunggu di kantor beliau..”

Suzy tersenyum canggung lalu mengangguk. “Anda sudah ditunggu beliau di dalam ruangannya, mari saya antar.”

**

“Aku kira kau tidak akan datang, Nona Bae”

Suzy langsung menoleh kearah Tuan Kim yang duduk di kursi kebesarannya dengan segelas kopi di tangannya. Pria itu tersenyum miring melihat wajah tidak bersahabat Suzy, “Duduklah, aku tidak sedang menghukummu.”

Suzy menghempaskan tubuh rampingnya ke sofa sambil melirik sinis kearah Kim Jongwoon yang sedang mengambil berkas – berkas—tunggu…apa ia harus menandatangani sesuatu?

Ia memandangi ruangan Tuan Kim yang begitu luas dan landscape kota terlihat begitu jelas di tengah gedung pencakar langit di pusat kota. Sofa putih yang ia duduki terletak di tengah ruangan, beberapa lukisan maupun patung berbentuk binatang buas menghiasi sudut – sudut ruangan. Suzy termangu melihat sederet foto prestasi maupun piala penghargaan yang diberikan negara maupun dunia international untuk Jaekyo Group. Tiba-tiba ia gugup menghadapi Tuan Kim, entah berapa yang harus ia bayar untuk menutupi kerugian perusahaan adidaya ini.

Dentingan cangkir di depannya mengalihkan perhatian Suzy, kini Kim Jongwoon sudah duduk di depannya dengan aura bossy yang begitu terasa di setiap sendi – sendi tubuhnya, “Minum tehnya sebelum dingin”

Suzy tersenyum dingin lalu menyembunyikan tangannya yang gemetar gugup, “Aku tidak ingin membuang waktuku, Bapak Tuan Kim yang terhormat. Masih banyak part-time job yang harus kulakukan setelah ini. Lebih baik anda katakan berapa yang harus aku bayarkan.”

Sejujurnya Tuan Kim kagum akan keberanian gadis di depannya ini. Melihat bagaimana gadis ini berani melawannya tanpa peduli siapa dan seperti apa dirinya, ia semakin yakin keputusannya adalah keputusan terbaik.

“Baiklah, sepertinya Nona Bae memiliki jadwal yang penuh sehingga sulit sekali bertemu dengan CEO Jaekyo Group yang menganggur ini,”

Tanpa berbasa – basi lagi, Tuan Kim meletakan map ke atas meja yang langsung membuat Suzy membeku di tempatnya. Jantungnya berdebar begitu Tuan Kim membuka map itu dengan pelan seakan mengejeknya. Ia tidak sanggup membayangkan nilai nominal yang tertera pada surat itu.

“Nona Bae, mungkin ini menjadi kabar baik untukmu karena saya tidak akan menuntutmu dengan uang ataupun membawa kasus ini ke meja hijau. Bukan, bukan itu tuntutan yang harus kau bayar,”

Tanpa sadar Suzy menghembuskan nafasnya yang tertahan sejak tadi. Setidaknya ia bisa bernafas sedikit lega karena Kim Jongwoon sedikit bermurah hati padanya. “Kau memang akan dikurung dalam penjara namun bukan penjara itu yang kumaksud,”

Suzy mengernyit, “Apa maksudmu?”

Kim Jongwoon menghembuskan nafasnya berat lalu menatap Suzy tegas. “Menikahlah dengan putra sulungku”

DEG!

Tubuh Suzy seperti disambar petir di siang hari karena ia hanya bisa melongo tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, “A-apa?”

Tuan Kim mengangguk santai seolah kalimatnya barusan hanyalah gossip tentang pernikahan Barbie dan Ken, “Kau mendengarnya ‘kan? Itu tuntutanku padamu dan kau tidak bisa membantah.”

Suzy terbelalak mendengarnya, bagaimana bisa…ia menikah dengan putra sulung dari Jaekyo Group?

“Anda pasti keliru, tuan,” ujar Suzy sambil tertawa canggung, “aku bukan mempelai wanita yang baik untuk pu-putramu—”

“Memang benar,” jawab Tuan Kim mengiyakan, “tapi saat ini kaulah satu – satunya wanita yang bisa mengendalikannya,”

“Mengendalikannya?”

Tuan Kim mengendikkan bahunya santai sambil menatap Suzy dengan sorot mata tak terbantahkan, “Aku butuh seseorang yang dapat mengimbangi dan mengendalikannya dan aku rasa putraku bisa kembali seperti dulu jika memiliki seorang disampingnya dengan karakter sepertimu, karena aku yakin kau bisa memperbaiki karakternya sesuai standard calon CEO Jaekyo Group di masa mendatang.”

Guratan kebingungan di wajah Suzy semakin terlihat, “Aku tidak mengerti..”

“Sejak awal berdirinya Jaekyo Group, ayahku selalu menetapkan syarat bahwa jika generasi penerusnya harus menikah dulu sebelum ia diangkat menjadi pemimpin Jaekyo Group, syarat itu pun berlaku padaku. Karena saat ini aku akan menyerahkan tahta ini padanya, ia harus menikah secepat mungkin.”

“Bagaimana kalau putra anda tidak menyukaiku?”

Tuan Kim tertawa lantang mendengarnya, “Kau tenang saja, nona. Aku memilihmu karena kau jelas bukan wanita idaman putraku, lagipula aku sudah memiliki wanita akan kunikahkan dengannya setelah semua ini berakhir..”

Suzy sepertinya menangkap apa maksud dari pernikahan ini, “Jadi maksudmu—”

Tuan Kim mengangguk, “Ya, pernikahan ini hanya bersifat sementara, karena aku harus segera menyerahkan posisi ini ke tangannya tapi calon mempelai wanita putraku tidak bisa datang dalam waktu dekat. Itulah alasan mengapa ide ini muncul,”

Pikiran Suzy seakan lumpuh, bagaimana mungkin Tuan Kim dengan santainya menjadikannya tumbal untuk menggantikan calon menantu idealnya yang tidak bisa memenuhi permintaannya? Kenapa ia bisa terlibat dalam masalah pelik seperti ini?

Memang seharusnya aku tidak datang dan menghajarnya waktu itu, umpat Suzy dalam hati.

“Jika kau menerimanya, aku akan memberikan beberapa aset berharga Jaekyo Group untukmu, kehidupanmu dan pengobatan ayahmu pun terjamin.” Tuan Kim mendorong map tadi kepada Suzy, menatap gadis itu dengan tatapan mengancam, “Tapi jika kau menolaknya, jangan harap ayahmu akan terbebas dari tuntutanku. Aku memberimu waktu satu menit.”

Satu menit?! Kau pikir ini tidak menyangkut peristiwa paling penting dalam hidup seorang wanita?!

Suzy rasanya ingin meneriakkan kalimat itu tepat di wajah Tuan Kim. Ia benar – benar tidak siap dengan semua ini, hal terakhir yang ia pikirkan saat bertatap muka dengan CEO dari Halstein adalah dituntut untuk menjadi istri dari calon penerus perusahaan raksaksa ini. Suzy masih tak percaya dengan situasi ini, bagaimana mungkin ini bahkan terjadi?

Suzy menatap nanar surat itu, pulpen yang berada dalam genggamannya ia cengkram erat penuh kebimbangan. Pernikahan untuk seorang wanita bukanlah hal sepele yang bisa dipermainkan hanya karena sebuah tuntutan bodoh. Siapapun dan apapun itu, jika menyangkut pernikahan harus memikirkan dengan baik tentang keputusan yang akan ia ambil. Namun, keadaan yang mendesak membuat Suzy harus mengesampingkan logikanya.

Dengan tangan gemetar serta keputusan bulat, Suzy menghembuskan nafasnya dengan berat sebelum membubuhi surat itu dengan tanda tangannya.

Tuan Kim tersenyum penuh kemenangan melihat tanda tangan Suzy sudah menghiasi surat itu dengan baik. “Selamat datang di keluarga Kim, Bae Suzy. Aku akan menghubungimu lagi dalam waktu dekat,”

Suzy hanya diam tak bergeming, ini masih terasa seperti mimpi dalam bayangannya. Demi apapun, seumur hidupnya ia tak pernah bermimpi akan menikah dengan cara seperti ini, dan yang terpenting—ia tidak menyangka akan menikahi putra sulung Jaekyo Group, putra mahkota Jaekyo Group, perusahaan engineering dan pemilik pabrik transportasi terbesar di dunia.

Entah apa yang akan ia hadapi dalam hidupnya setelah perjanjian ini. Namun yang Suzy tahu, hidupnya sudah berubah 360 derajat, dan ia tidak tahu apakah ini merupakan yang baik atau justru menjatuhkannya ke dalam lubang lainnya.

TO BE CONTINUE

 

A/N [2016/06/23] : Hallo readers sekalian! Jadi kalian pasti tahu aku vakum selama setahun karena terlalu cape ngadepin para readers yang nuduh FF ini plagiat FF lain. Karena itu aku memutuskan untuk merenung dan memutar otakku untuk tetap melanjutkan cerita FF ini walaupun dengan alur yang harus kuubah. Semoga perubahan yang ada disini berjalan kearah yang lebih baik, dan bagi kalian yang nuduh FF ini plagiat, semoga versi yang baru ini tidak bikin kalian nuduh saya lagi.

See you on the next chapter!<3

 

89 responses to “Belle in the 21st Century (Chapter 2) – His Demands

  1. Suzy emang gadis yg tangguh … Begitu menyayangi ayahnya hingga rela nglakuin apapun untuk ayahnya … Bener” daebak.
    Semoga aja suzy bisa melayukan si mawar merah dengan cinta tulusnya itu …

  2. Huaaa.. salut banget ma suzy. Saking sayangnya ma appanya dia rela melakukan apapun demi menyelamatkan appanya T.T
    Sifat tangguh suzy emank cocok buat jdi pendamping myung, tapi diperjanjiannya ko ada kata cerai. Eish jadi klo myung udh berubah nanti myungzy bakalan cerai yaah… u.u

  3. Omg.. beneran suzy bakalan nikah sama myungsoo. Woah.. bakalan makin seru de.
    Aku gk nyangka ceo jaekyo group bakalan nikahin mereka berdua
    Lanjut terus y Thor…

  4. Omg… gak nyangka banget suzy bakal nikah sama myungsoo. Lebih gk nyangka lagi ceo jaekyo group yg nikahi mereka berdua. Woah… bakalan makin seru banget de…
    Lanjut terus y…

  5. Pingback: Belle in the 21st Century (Chapter 3) – The First Meeting | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  6. Pingback: Belle in the 21st Century (Chapter 4) – Beast’s Family | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  7. Pingback: Belle in the 21st Century (Chapter 5) – Pre-Wedding | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s