Belle in the 21st Century (Chapter 3) – The First Meeting

belle-in-the-21-century

Belle in the 21st Century

kkezzgw storyline

Cast: miss A’s Suzy, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: more than 12~

belle-cast-myungzy

Genre: Romance, Marriage Life, Family, Friendship

Rated: General

Length: Chapter

BELLE IN THE 21st CENTURY: CHAPTER 1 | 2

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog: keziagw wonkyoonjung Ask.fm

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari MyungZy dan nanti akan dilanjutkan ke MinStal, TaeLli, dan seterusnya. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

————————————————————-

—Cerita dalam chapter ini telah diperbaharui pada 23 Juni 2016. Reader baru maupun lama disarankan untuk membaca lagi untuk menghilangkan kebingungan di chapter-chapter berikutnya—

*

*

*

MWO-MWORAGU?!? Ka—kau akan menikah dengan siapa?” pekik Eunji kaget.

Suzy mengangguk seadanya begitu melihat reaksi Eunji. Bahkan ia sendiri pun tidak percaya akan hal ini, “Ne, aku akan menikah dengan putra sulung Jaekyo Group itu.”

Mulut Eunji menganga lebar tak percaya. Jangnan aniya!!? Tidak mungkin…omo—omo Suzy, bukankah kau sangat membenci perusahaan itu? Jangan bercanda!”

Suzy menatap Eunji jengkel, “Justru karena itulah makanya aku masih tidak percaya dengan ini semua!”

“Omo…omo! Jangan – jangan…kau akan menikah dengan Kim Myungsoo?!”

Suzy mengangkat wajahnya dengan ragu, ia bahkan belum pernah melihat atau tahu siapa calon suaminya itu, “Entahlah…sejujurnya aku tidak tahu apapun tentang Jaekyo Group selain mereka adalah penyebab kematian orang tuaku.”

Eunji menatap Suzy seolah-olah sahabatnya ini sudah gila. “Kau tidak tahu siapa itu Kim Myungsoo?”

Dengan polosnya Suzy menggeleng seraya memiringkan kepalanya, “Memang dia siapa? Bukankah dia hanya penerus Halstein Industries? Lalu kenapa kau menatapku seakan aku tidak tahu siapa itu Super Junior atau SNSD?”

Eunji memutar bola matanya malas menghadapi temannya yang satu ini, Suzy memang tidak mengikuti gossip yang beredar di luar sana mengingat ia sibuk mengejar pendidikannya dan part-time job-nya yang menumpuk sehingga ia tidak terbiasa melakukan hal-hal ala remaja wanita pada umumnya, terkadang Eunji ikut prihatin atau bahkan mengejeknya. “Kau benar-benar kolot.” Umpatnya sebelum mengambil ponselnya dan membuka situs pencari.

“Lihat ini! Kim Myungsoo, putra sulung sekaligus calon penerus Jaekyo Group yang saat ini sedang ramai dibicarakan dimana – mana karena sebentar lagi ia yang akan menjadi CEO Jaekyo Group!”

Dengan malas Suzy merebut ponsel itu dan melihat apa yang terpampang di layar ponsel Eunji. Detik berikutnya, mata bulat Suzy terbelalak begitu melihat siapa itu Kim Myungsoo. Sekelebat bayangan sosok pria itu mulai berdesakan masuk ke dalam pikirannya, debaran jantungnya kembali terasa begitu ia sadar dirinya pernah bertemu dengan pria bernama Myungsoo itu; sekalipun bukan pertemuan yang bisa disebut ‘pertemuan’.

Bukankah pria ini yang ditemuinya di club malam minggu lalu yang dengan kurang ajar berani menciumnya?

“Eunji, a—apa kau yakin pria ini yang bernama Kim Myungsoo?”

Eunji mengangguk santai sambil tersenyum penuh kekaguman kearah foto Myungsoo, “Lalu siapa lagi? Bagaimana, dia seksi dan tampan ‘kan? Asal kau tahu saja, dia sudah beberapa kali dinobatkan sebagai ‘The Most Successful Bachelor in the World’ oleh majalah Forbes! Kau beruntung sekali,”

“Namun tentu saja skandal percintaannya tidak pernah habis disebarkan oleh para media. Kau tahu, Myungsoo sering sekali berhubungan dengan para model dan artis dengan jangka hubungan yang sangat pendek. Oh iya, dia juga sering pergi ke club malam atau menghabiskan malam dengan teman kencannya. Selain itu—”

Suzy tidak lagi mendengarkan apa yang Eunji katakan. Bayangan dirinya dan pria sejenis Myungsoo akan menjalani kehidupan pernikahan saja sudah membuat kepalanya berdenyut pening. Hidupnya sial sekali!

**

Suara tepuk tangan kembali memenuhi ruang rapat ketika Myungsoo selesai mempresentasikan proyek terbaru Jaekyo Industries pada Rapat Umum Pemegang Saham siang itu. Proyek kali ini akan dipimpin Myungsoo secara langsung sebagi awal dari posisi yang ia inginkan sejak dulu.

Para pemegang saham dan wajah – wajah penting dalam Jaekyo Group tampak puas dengan ide – ide jenius Myungsoo. Walaupun terkenal angkuh dan playboy, namun dalam urusan bisnis Myungsoo tidak pernah mengecewakan siapapun.

Hal itu membuat Tuan Kim tersenyum puas melihatnya, ia semakin yakin sudah waktunya ia menyerahkan jabatan ini kepada putra pertamanya.

Dan melihat peluang bahwa sekarang adalah momentum terbaik untuk mengumumkan pengumuman ini, Tuan Kim pun mengambil alih posisi Myungsoo di podium.

“Tuan – tuan sekalian, terima kasih atas kesetiaan serta kerja sama yang selama ini anda lakukan dalam memajukan Jaekyo Group menjadi yang terdepan. Pada kesempatan kali ini, saya Kim Jongwoon sebagai CEO dari Jaekyo Group secara resmi akan mengumumkan peralihan kedudukan CEO Jaekyo Group kepada anak saya, Kim Myungsoo, dalam waktu dekat setelah Myungsoo resmi menikah dan berhasil membuktikan keberhasilannya dalam memimpin perusahaan adidaya ini melalui proyek besar ini,”

Mata Myungsoo melotot marah mendengarnya sementara para pemegang saham lainnya mulai berbisik – bisik membicarakan dirinya. Mereka mungkin kebingungan sekaligus penasaran dengan pengumuman mendadak yang diberikan Tuan Kim, terlebih dengan reputasi Myungsoo sebagai playboy kelas kakap yang membuktikan ia bukanlah tipe pria yang siap berkomitmen.

Myungsoo mendengus tak percaya dengan apa yang diucapkan ayahnya, ayah dan anak itu saling melempar tatapan tajam namun mereka harus menjaga sikap di depan sang nenek. Myungsoo bersumpah akan mencaci maki ayahnya setelah rapat sialan ini selesai.

Sepanjang sisa acara, Myungsoo hanya diam dan memasang ekspresi wajah mengerikan yang sanggup menakuti apapun yang ada di muka bumi. Ketika rapat selesai, secepat kilat Myungsoo menghampiri ayahnya di ruangannya.

Aboji, apa maksudmu dengan semua ini? Dan pernikahan apa itu? Aku tidak pernah menyetujuinya!”

Tuan Kim yang sejak tadi memunggungi anaknya kini menatap kedua bola mata Myungsoo yang menatapnya penuh kebencian, “Aku tidak akan mendengar apapun penolakanmu, jika kau masih ingin menjadi CEO Jaekyo Group, kau harus menikah dengan gadis itu.”

Myungsoo menahan kepalan tangannya untuk menahan segala keinginan meninju apapun yang ada di sekitarnya. Dadanya bergemuruh hebat dengan sorot mata menatap tajam Tuan Kim yang berdiri tenang dihadapannya seakan memasang bendera perang diantara mereka.

“Belum cukupkah kau mengatur hidupku selama ini? Aku sudah bersedia secara sukarela menjadi Vice President dan hanya berdiam diri saat kau bilang aku belum cukup pantas untuk menjadi CEO, dan sekarang…kau menyuruhku menikah? Kapan kau akan berhenti mengatur dan mempersulit kehidupanku!?”

Ayahnya berdecak sinis mendengar serentetan kata yang terucap dari mulut anak sulungnya, “Bagaimana caranya agar aku bisa berhenti mengatur hidupmu jika kau sendiri belum bisa menata hidupmu dengan baik? Kau ini pria keturunan keluarga Halstein yang terhormat! Jika kau ingin berhenti diatur olehku, bertingkahlah seperti manusia terhormat!”

“Aku seperti ini karena dirimu!” debat Myungsoo dengan emosi yang sudah mencapai ubun – ubun.

“Tidak, kau seperti ini karena kau terlalu menutup mata untuk berpikir positif pada apapun yang kulakukan padamu. Kau terlalu marah padaku, dan bahkan kau marah pada dirimu sendiri, Myungsoo!” ucap Tuan Kim datar namun sarat akan emosi.

Myungsoo menghembuskan nafasnya dengan berat, paru – parunya seakan tersumbat sesuatu yang membuat sirkulkasi oksigen dan karbon dioksida tidak teratur, “Gadis sialan mana yang akan kau nikahkan denganku?”

“Oh, tentu saja yang akan membuatmu berubah dan bertekuk lutut pada aturan Keluarga Choi”

Myungsoo berdecak meremehkan mendengarnya, “Aku pria bebas, tidak ada yang bisa merubahku apalagi membuatku bertekuk lutut pada seseorang, sekalipun itu kau!”

Kim Jongwoon menyeringai tipis mendengar hal itu, ia melipat tangannya di depan dada sambil menatap Myungsoo datar, “Percayalah, kau akan takjub melihatnya”

“Jadi kau menantangku? Baiklah, bawa siapapun gadis itu! Tapi jangan harap ia akan sanggup menyandang status sebagi istriku dalam kurun waktu satu bulan. Ah, tidak, bahkan akan kupastikan ia akan segera menghilang dari hidupku dalam waktu satu minggu!”

Setelah mengatakan ‘sumpahnya’, Myungsoo segera berbalik memunggungi ayahnya dan keluar dari ruang kerja sang kakek setelah perdebatan sengit antara dirinya dan sang ayah. Kim Jongwoon hanya tersenyum licik sambil menatap pintu itu dengan tatapan senang, “Aku pegang perkataanmu, nak.”

**

Suzy melangkah masuk ke dalam perusahaan Halstein Industries dengan linglung—kedua kalinya dalam minggu ini—setelah ia pulang kuliah dan menemukan fakta bahwa tunggakan uang kuliahnya sudah terbayar lunas, dan bahkan sudah terbayar hingga ia lulus nanti.

Jelas saja ia shock dan tak percaya mendengarnya, ia sudah tahu siapa pelakunya, tak lain adalah Kim Jongwoon sendiri, calon ayah mertuanya yang kini sedang duduk di hadapannya dengan tenang sama seperti saat beliau mengajukan ‘tuntutan’ itu.

“Kemarilah, hari ini kau akan bertemu dengan putraku”

Kalimat singkat itu membuat jiwa Suzy seakan terguncang dan ia tak tahu harus berbuat apa selain mengikuti dan mengiyakan permintaan itu. Dan disinilah dia, menunggu calon suaminya yang sepertinya tidak bersahabat sendirian di ruangan dingin yang membuat suasana semakin tak terkendali.

Tak lama, pintu ruangan terbuka dan munculah sosok pria dengan segala kesempurnaan fisik yang membuat kepala Suzy pening seketika. Kim Myungsoo—dengan kemeja putih dipadu dengan celana panjang hitam serta tatanan rambut yang terlihat berantakan; yang terlihat begitu sexy—menatap tajam kearah Suzy dan sang ayah yang tersenyum ramah menyambutnya.

“Myungsoo, akhirnya kau datang. Kemarilah, nak. Calon istrimu disini”

Dengan ekspresi datar seolah tak bernyawa, Myungsoo hanya melirik keduanya sebelum berjalan mendekati mereka. “Ini calon istrimu, Suzy.”

Myungsoo memperhatikan baik-baik gadis yang duduk di hadapannya. Pria itu bingung harus bereaksi seperti apa begitu melihat calon istrinya ini. Sejujurnya ia sedikit terkejut melihat penampilan gadis itu yang jauh diluar ekspektasinya tentang sosok istri. Gadis itu hanya mengenakan kaus lengan panjang berwarna hitam, haren feet pants berwarna cokelat, dan sneakers putih yang membalut kaki kecilnya, rambutnya diikat satu dan gadis ini tidak memakai make up sama sekali. Terlalu biasa untuk seseorang sepertinya.

“Myungsoo,” pria itu mengulurkan tangannya acuh.

“Suzy,” jawab Suzy pelan menahan rasa sebal jika teringat kasus di club malam itu, ia hanya berharap Myungsoo tidak mengenalinya.

“Jadi…bagaimana Myungsoo, apa pendapatmu mengenai calon istrimu?”

Myungsoo mengendikan bahunya acuh sembari mengalihkan pandangannya dari Suzy, “Lumayan” ucapnya acuh.

Sejujurnya pria itu memang tidak mempedulikan siapa dan bagaimana caranya gadis ini bisa menjadi calon istrinya. Myungsoo tidak bodoh untuk menyadari bahwa Suzy bukanlah gadis dari kasta yang sama dengannya, terlihat dari caranya berpenampilan—yang tidak menunjukan kesan feminism, berkelas, ataupun elegan sama sekali—yang sejujurnya tidak menjadi masalah berarti bagi Myungsoo selama gadis itu tidak menganggunya. Namun gerak-geriknya yang terlihat tidak nyaman berada diantara orang asing membuat pria itu mengernyit tak suka.

Sangat kaku dan canggung, jelas bukan tipe wanita idamannya. Kini matanya memperhatikan bentuk tubuh Suzy yang biasa saja ataupun parasnya yang tidak secantik beberapa teman kencan wanita yang biasa ia temui. Oh tidak, gadis ini benar – benar tipe ayahnya.

“Tapi ayah, sepertinya kau salah membawa wanita. Tidak mungkin ‘kan kau akan menikahiku dengan perempuan seperti ini? Mendekati tipeku saja tidak,” ucap Myungsoo gamblang.

“Pria ini benar-benar mencari mati denganku!” batin Suzy menyuarakan kekesalannya sambil berusaha mengontrol emosinya yang siap meledak – ledak.

Walaupun dalam kekesalannya terselip perasaan mencelos dan keraguan yang semakin tinggi akan kelangsungan rumah tangganya dengan pria dengan tingkat keangkuhan yang memprihatinkan ini. Sekalipun ia gugup setiap berdekatan dengan pria ini, namun sifat keras kepalanya—yang kebetulan setara dengan Myungsoo—terlihat begitu saja.

Myungsoo melirik arlojinya cuek lalu membereskan kerah kemejanya dengan santai, “Kurasa tidak ada yang perlu dibahas lagi. Kalau begitu aku permisi”

“Myungsoo, kau—”

Perkataan Tuan Kim terpotong begitu pintu ruangannya terbuka dan tertutup cepat oleh Myungsoo yang berjalan santai meninggalkan mereka berdua dengan kondisi ‘mengenaskan’ ini.

“Sepertinya pernikahan ini tidak akan berjalan dengan baik. Lebih baik aku mengabdi menjadi budakmu untuk membayar tuntutan itu, Bapak Tuan Kim yang terhormat” ujar Suzy setengah pasrah dan emosi.

Tuan Kim melirik kearah Suzy yang menatapnya datar, sekali lagi ia dibuat kagum oleh gadis ini.

Sebelum ia bertemu Myungsoo, gadis itu terlihat seperti kelinci yang meringkuk di liangnya karena gugup harus bertemu dengan calon suaminya yang bahka tak ia ketahui siapa dan rupanya seperti apa. Namun sekarang, apa yang didapatinya? Gadis itu jelas terlihat sedang menahan emosinya yang siap meledak-ledak karena harga dirinya terasa diinjak – injak oleh anak sulungnya itu.

Hal ini membuat Tuan Kim menyeringai senang dan semakin yakin harus menumbalkan Suzy menjadi istri Myungsoo, ia yakin gadis malang ini mampu mengubah Myungsoo dengan sifat kerasnya, “Justru inilah tuntutanku sekarang, Nona Suzy. Kau…harus mengubah anak itu secepat mungkin.”

Suzy melongo tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Mengubah? Mengubah makhluk es itu menjadi sehangat mentari? Terdengar seperti memindahkan gunung Everest ke gurun Sahara.

“APA?! Pak, sungguh aku lebih rela kelelahan karena mencari uang untuk membayar tuntutan itu dibanding aku lelah menghadapi anakmu yang sangat menyebalkan itu”

Tuan Kim bersedekap tak peduli, “Aku tidak peduli, ini adalah tuntutanku. Seharusnya sebagai terdakwa, kau bersedia melakukan apapun yang diperintahkan olehku, Nona Roxanne. Lagipula, kau dengar sendiri ‘kan dia berkata bahwa kau jauh dari tipe idealnya? Lakukan ini, menikah dengan putraku sampai ia berubah atau kau tidak membayar sama sekali tuntutan itu dan bersiaplah melihat ayahmu ku jebloskan ke dalam penjara”

Suzy menghela nafasnya dengan berat. Ia yakin hidupnya akan semakin rumit dan berliku karena menikah dengan raja es bernama Kim Myungsoo.

**

“Jiyeon ruangan 7, Gaby ruangan 18, Suzy ruangan 22—”

Suara tawa dan obrolan mereka di ruangan khusus pelayan club malam pun terhenti begitu mereka melihat kepala pelayan memerintahkan pelayan – pelayan mereka yang ditugaskan untuk menemani tamu VVIP yang baru berdatangan pada pukul 10 malam waktu setempat.

Suzy menelusuri lorong ruangan VVIP itu sambil mencari nomor ruangan tempatnya bekerja malam ini. Walaupun ia sudah mulai terbiasa, namun tetap saja aura yang tak ia sukai masih tercium di sepanjang lorong—alkohol dan asap rokok.

“Nona Suzy?”

Gadis itu menoleh dan mendapati bodyguard – bodyguard Kim Jongwoon berdiri di belakangnya. Suzy menyipitkan mata curiga, “Mau apa kalian?”

“Kami diperintahkan tuan untuk membawa anda sekarang, nona?”

“Apa kalian bilang?” Suzy tertawa tak percaya, “Bilang pada boss kalian kalau aku sekarang sedang bekerja!”

“Tidak bisa nona, beliau meminta kehadiran anda sekarang juga…”

“Maaf, tapi aku tetap akan bekerja, kalian bisa pergi sekarang,”

Bodyguard – bodyguard itu saling melempar pandangan, salah satu dari mereka mengangguk mengiyakan sebelum mereka semua bersama – sama menyusul Suzy yang sudah meninggalkan mereka.

Saat tangannya akan meraih gagang pintu itu, mereka menarik Suzy menjauh dari pintun dan segera membekap mulutnya. Suzy meronta – ronta sambil melotot marah pada bodyguard – bodyguard itu.

“Maafkan kami nona,” ucap salah satu dari mereka tampak tak enak, “kami diperintahkan untuk membawa anda dengan cara apapun jika anda menolak dengan cara baik – baik,”

Suzy masih meronta marah namun obat bius yang terhirup olehnya membuat kepalanya pening dan akhirnya ia pun kembali terkulai tak sadarkan diri.

 

TO BE CONTINUE

 

A/N [2016/06/23] : Hallo readers sekalian! Jadi kalian pasti tahu aku vakum selama setahun karena terlalu cape ngadepin para readers yang nuduh FF ini plagiat FF lain. Karena itu aku memutuskan untuk merenung dan memutar otakku untuk tetap melanjutkan cerita FF ini walaupun dengan alur yang harus kuubah. Semoga perubahan yang ada disini berjalan kearah yang lebih baik, dan bagi kalian yang nuduh FF ini plagiat, semoga versi yang baru ini tidak bikin kalian nuduh saya lagi.

See you on the next chapter!<3

104 responses to “Belle in the 21st Century (Chapter 3) – The First Meeting

  1. Oooo myungsoo ternyata playboy kelas wahid,suzy yg sabar ya,udah bejek2 aja tu myung biar bisa berubah menjadi superman,hahahahaha

  2. Pingback: Belle in the 21st Century (Chapter 4) – Beast’s Family | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  3. Pingback: Belle in the 21st Century (Chapter 5) – Pre-Wedding | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s