It’s Love, but? (Chapter 4)

kiyomizu-miuzki-copy

It’s Love, but? (Chapter 4)

Kiyomizu Mizuki’s Storyline

Main Cast : Kim Myungsoo [INFINITE’s L] – Bae Suzy [Miss A’s Suzy] || Genre : Romance, Comedy (little bit), Sad, Hurt/Comfort, Fluff, Drama, and Friendship || Rating : PG-15+ || Length : Series || Disclaimer : Plot and story is mine. I’m sorry if there same any title or characters. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. Sorry if you find typo(s)

Big thanks to ladyoong for amazing poster!

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

***

“Jaga bicaramu! Kau kira aku jelangkung?! Hantu Indonesia itu?”

“Iya! Itulah yang sangat mencerminkan sosok dirimu oppa!”

“Dasar yeoja menyebalkan!”

Begitulah mereka. Masih saling melempar kata atau adu mulut. Suzy mengkerucutkan bibirnya imut. Sebenarnya dia lelah terus-terusan bertengkar dengan Myungsoo. Tapi apa boleh buat? Mereka kan saling memiliki kepribadian yang egois, tapi di sisi lain mereka mempunyai sisi lembut, baik, dan ramah. Sama-sama keras kepala. Sejujurnya, wajah mereka cantik dan tampan. Myungsoo hanya kembali meneguk kembali air mineral nya dan memasang wajah dingin pada Suzy. Myungsoo malas sebenarnya jika harus bertengkar dengan Suzy dan ingin menjauh dari gadis itu. Ruang dance adalah tempat yang tepat untuk menjauh –bukan ditempat lain– Jika ia terlalu jauh dari Suzy, mungkin saja gadis itu bisa membuat kekacauan yang lebih besar daripada ini dan membuat anggota Infinite yang lainnya semakin pusing menghadapi hal itu.

Namun, suara ketukan pintu menyadarkan mereka yang masih saling berperang melempar tatapan dingin dan tajam, seperti menusuk ke manik mata masing-masing. Situasi seperti ini saja mereka masih bisa bertengkar. Lagipula, anggota Infinite yang lain sudah mewajibkan Myungsoo agar menjaga Suzy lebih ketat dan dialah penyebab adanya Suzy yang menumpang di dorm mereka karena lupa dengan letak hotelnya. Bukankah kedua sama-sama bisa dijuluki sebagi pembuat masalah?

Tok.. Tok..

“Nuguya?” Sepertinya perasaan Myungsoo tidak enak. Siapakah orang yang berani mengetuk pintu ruangan dance ini kecuali orang-orang yang bersangkutan atau ada perlu. Myungsoo takut jika itu adalah anak dari boyband lain yang masih asuhan Woollim Entertainment. Jika itu benar-benar orang lain bagaimana? Pasti mereka langsung panic atau bisa melaporkannya kepada manager boyband itu. Sepertinya semakin kacau saja jika itu sungguh akan terjadi oleh Infinite. Urusan mereka akan semakin berat bukannya malah semakin mudah, mereka harus berurusan dengan CEO mereka. Apalagi Sunggyu yang memiliki tanggung jawab yang besar dan dia leader.

“Ini aku hyung,”

Oh tidak! Tubuh Myungsoo semakin menegang, ternyata benar saja dugaannya tadi. Seseorang akan memasuki ruangan dance ini. Wajahnya tampak panik, kemudian, dialihkannya pandangan itu kearah Suzy yang masih menatapnya dengan polos dan tidak merasa bahwa bahaya sebentar lagi akan datang untuknya. Apakah gadis itu tidak sadar bahwa sebentar lagi bahaya akan mengancamnya? “Suzy-ah, cepat kau sembunyi!” desak Myungsoo kembali seraya memaksa membalikan tubuh Suzy. “Ppaliwa!!” Rasanya jika orang tersebut tidak sabar dan langsung membuka pintu ruangan ini dan ketahuan, Myungsoo rasanya ingin langsung mati saja jika itu sungguh terjadi.

Wae?” Suzy merasa bingung.

“Cepat! Aku akan menjelaskannya nanti!” Myungsoo mendorong tubuh Suzy kearah meja. Untunglah disana ada meja dan dibawahnya sedikit tertutup dan mungkin tubuh Suzy tidak akan terlihat disana. Dan semoga saja, Suzy tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan seperti tadi yang membuat jantung Sunggyu dan Myungsoo rasanya ingin berhenti berdetak jika sang manager berhasil membuka lemari itu. Tapi, entah apakah rasa beruntung itu sedang berpihak padanya jadilah ponsel sang Manager berbunyi. Rasanya begitu geli ketika mengingat kejadian itu.

Orang tersebut sudah membuka pintu ruangan practice dance. Untunglah, Suzy sudah bersembunyi di bawah meja itu. Tubuh Myungsoo menjadi menegang ketika orang itu masuk. Myungsoo berdoa dalam hatinya semoga saja dirinya dan Suzy selamat dari orang itu yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Sebelumnya ia membungkukan tubuhnya dulu agar menjaga rasa sopannya pada sang sunbae nya dan tidak lupa melempar senyum ramah, Myungsoo juga membalas senyuman orang itu.

“Hyung sebelumnya aku kesini untuk mengambil buku yang tertinggal disini untuk memberinya pada Manager hyung,” ucap orang itu sopan. Belum sempat Myungsoo membalas ucapan orang itu, dia sudah berjalan menuju meja –yang merupakan tempat persembunyian Suzy– Tubuh Myungsoo yang tadinya menegang harus dipaksa menegang kembali ketika orang itu sudah mengambil buku yang ia maksud. Napasnya begitu terlihat memburu, Myungsoo menelan ludahnya dengan susah payah. Suzy sudah kembali membawa hal buruk bukan? Seseorang tiba-tiba datang disaat terdapat Suzy disana. Setelah mendapat barang di butuhkan si orang itu, kemudian ia berbalik.

“Kau sudah mendapat barang yang kau butuhkan?”

“Sudah hyung. Aku permisi,”

Orang itu menghilang. Akhirnya Myungsoo bisa menghirup napas lega karena Suzy tidak berbuat sesuatu yang mencurigakan lagi seperti yang tadi. Myungsoo menyingkirkan meja tersebut dan melihat bahwa gadis itu terlihat meringkuk di dalam sana menahan rasa takut yang dilandanya. Myungsoo menepuk pundak Suzy pelan. “Sekarang dia sudah pergi, jadi kau tidak usah terlalu tegang seperti tadi.” Apa yang dilakukan Myungsoo sekarang? Ia tampak mengelus bahu gadis itu dengan lembut. Mencoba memberi ketenangan yang lebih padanya.

“Serius? Sungguh, aku sangat takut.” Tanpa sadar Suzy menarik tubuhnya untuk memeluk Myungsoo. Myungsoo terdiam ketika Suzy berhasil mengeratkan pelukannya, tanpa sangat jelas bahwa tubuh gadis itu bergetar. Myungsoo masih terdiam dengan berlakuan Suzy padanya, apa yang terjadi pada dirinya kembali? Insiden yang tidak di sengaja kembali mereka lakukan. Awalnya, Myungsoo juga sedikit ragu ingin membalas tapi gadis itu masih terlihat shock, jadinya ia sedikit mengelus punggung Suzy pelan. Myungsoo menelan ludahnya, gadis ini begitu manis jika di lihat lebih dekat. Apa yang Myungsoo katakan tadi? Ia memuji Suzy? Ah, dengan cepat, Myungsoo mengusir pikirannya itu.

“Sebaiknya kau kembali ke dorm dan aku akan menyusulmu, jangan kemana-mana!” perintah Myungsoo setelah Suzy melepaskan pelukannya. Suzy ikut menelan ludahnya, kenapa Myungsoo jadi terlihat sangat tampan dimata nya, ahh, kenapa Suzy malah memuji Myungsoo tampan? Sangatlah tidak pantas menurutnya, ia pun memilih membuang pikirannya yang tadi jauh-jauh. Sebenarnya Suzy bosan jika terus menerus berada di dorm mereka, namun mau bagaimana lagi? Ia pergi sendirian? Ah tidak!

“Soo Ji-ah? Kenapa kau begitu membuat sejuta masalah dalam hidupku? Sejak kau datang, masalah semakin lama semakin besar yang harus aku hadapi! Aku lelah Suzy-ah, aku pusing dengan kejadian beberapa hari ini sejak ada kau! Jadi, tolong jangan ganggu aku! Aku pusing memikirkan ini semua! Arraseo? Kau tahu? Ini begitu melelahkan, aku tidak akan terus menerus seperti ini! Tolong hargai aku, aku juga akan menghargai mu dengan sebaliknya.” Entah kenapa Myungsoo mengatakan hal tersebut dengan begitu mudah, alasannya: Ia terlalu lelah menghadapi sejuta kecerobohan yang dibuat oleh Suzy. Nada Myungsoo juga sedikit meninggi tadi menandakan bahwa dia begitu lelah dan pusing.

Deg!

Hati Suzy seakan mencelos ketika Myungsoo mengatakan kata-katanya tadi. Entah kenapa hatinya malah sangat sakit mendengar hal itu, ia jadi merasa bersalah dengan kesalahan yang begitu banyak dan itu adalah perbuatannya sendiri. Suzy merasa bahwa dirinya adalah orang yang sangat bodoh. Entah kenapa ia merasa sangat bersalah. Ah, rasanya Suzy tidak mempunyai harga diri! Ia merusak ketenangan orang lain? Mungkin, sekarang waktunya Suzy menghitung berapa jumlah kesalahan yang telah ia buat. Suzy menelan ludahnya, ah payah! Rasanya, dia begitu bersalah padanya, Myungsoo yang sudah rela membawa dan menginap di dorm mereka. Argh, kenapa segala yang dilakukan Suzy menjadi sebuah kesalahan yang membuat mereka sangat repot? Aish, rasanya jika lebih masalah dari ini, Suzy mungkin tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

Perlahan namun pasti, air mata Suzy tanpa disengaja jatuh. Cengeng. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur bersalah dengan semua kekacauan yang dibuatnya dan membuat member Infinite apalagi Myungsoo merasa kerepotan dengan kedatangannya. Suzy menghapus air matanya kasar dan berjalan menuju dorm Infinite kembali, ia berusaha menahan isakan tangisnya agar tidak keluar dan membuat Myungsoo yang tadinya merasa kerepotan sekarang merasa –mungkin– akan merasa bersalah kepadanya karena membuatnya menangis.

***

“Astaga! Myungsoo bodoh, bagaimana kau bisa memarahi dia dengan kejam begitu?”

“Bagaimana jika hatinya terluka dan menangis?!”

“Arghh! Myungsoo bodoh, hati wanita itu mudah terluka!!”

Myungsoo mengacak-acak rambutnya frustasi. Ah, sepertinya dia yang kelewat batas karena memarahi Suzy dengan kata-kata yang cukup pedas dan sepertinya Suzy menangis dengan kata-kata Myungsoo tadi. Emosi nya sedang di luar batas sehingga membuatnya tidak terkendali ketika mengucapkan kata-kata. Ah, Myungsoo masih bingung, ia takut mereka memarahi Myungsoo. Bisa mati dia tidak bisa menjadi Suzy dengan baik. Namun, seketika ia mendengar suara isakan tangis wanita. Apakah itu Suzy? Pikir Myungsoo. Perlahan, ia berjalan mengikuti suara tangisan itu.

“Suzy-ah?”

Myungsoo memanggil Suzy dengan nada pelan yang masih membenamkan kepalanya di kedua lututnya. Walaupun seberapa besar perjuangan Suzy agar bisa menahan isakan tangisnya, tetap saja sampai ke telinga Myungsoo. Sebenarnya ia sudah mati-matian agar tidak mengeluarkan isakan tangisnya. Perlahan, Myungsoo menyentuh bahu kanan Suzy. Pandangannya tetap lurus menatap gadis berambut coklat itu dengan tatapan sendu nya. Myungsoo tersenyum tipis, kemudian tangan kiri nya memegangi bahu Suzy yang satu nya. Ia bingung apa yang harus ia ucapkan untuk menemani gadis itu agar berhenti menangis. “Suzy-ah, nan gwenchana?” Kali ini Myungsoo berhasil mengatakan dirinya bodoh, mengapa ia mengatakan bahwa Suzy baik-baik saja? Sedangkan, Suzy menangis karena ulah dirinya sendiri. Ah, Myungsoo benar-benar bodoh. Malah sangat bodoh. Sudah berapa kali ia memarahi gadis itu? Tapi, kalau Myungsoo boleh jujur, sebenarnya Suzy mempunyai wajah yang cukup cantik dan manis. Hey! Kenapa ia malah memuji pembuat masalah itu?!

Mianhae,” ucap Myungsoo dengan suara ragu. Ia masih memegangi kedua bahu gadis yang berada di depannya kini. Sungguh, bodoh perbuatannya! Andai saja waktu bisa diulang kembali, mungkin Myungsoo akan bersikap lebih baik pada Suzy dan tidak sampai mengomeli gadis itu sembarangan. Maaf. Kata-kata apalagi yang harus Myungsoo ucapkan selain kata maaf? Kalau saja ia tidak menangis, mungkin Myungsoo sudah menghiburnya untuk membeli ice cream untuk Suzy. Sekarang, gadis itu menangis dan itu ulahnya, jadi tidak pernah bercanda. Sekarang, dia juga masih menemani gadis itu sampai ia tenang.

Suzy mendongakan kepalanya, masih terlihat bahwa ia mati-matian menahan isakan tangisnya itu agar tidak keluar. Ia melihat wajah Myungsoo yang penuh dengan kecemasan dan –mungkin– merasa bersalah karena sudah membuatnya menangis. Suzy masih menggigit bibir bawahnya, seberapa apapun tenaganya untuk bisa menahan isakannya, tetap saja Myungsoo bisa merasakannya. Ia memandang lelaki itu dengan sedikit takut, kali ini memang Suzy mengaku merasa sangat bersalah karena telah membuatnya marah dan sebenarnya itu wajar. Tapi, kata-kata Myungsoo seakan membuat jantungnya mencelos atau karena kata-kata juga menyakitkan? Menurut Suzy itu benar.

Mianhae. Tadi aku hanya emosi saja, jadi tidak sempat terkontrol dan tidak tahu jika akhirnya kau seperti ini.” Tanpa di sengaja, Myungsoo langsung menarik tubuh Suzy kedalam pelukannya. Mengharapkan bahwa ia sedikit tenang dan tidak menangis lagi. Walaupun, ia masih ada rasa sedikit kesal pada gadis ini. Sebenarnya dia bisa membicarakannya dengan baik, tapi Myungsoo belum bisa mengontrol nya. Mungkin, sebenarnya tadi ia sadar. Tapi, karena rasa kekesalannya juga hampir memuncak. Tapi, ia kira Suzy akan sadar dan tidak akan membuat keributan lagi. Justru, Suzy menangis, Myungsoo lupa bahwa ia harus merangkai kata-kata terlebih dahulu sebelum ia lontarkan. Ia baru sadar setelah beberapa detik mengomeli Suzy menggunakan kata-kata yang pedas.

Sekarang, waktunya kita menghitung sejak kapan mereka tidak sengaja berpelukan. Tiga kali atau lebih? Sepertinya tiga kali sudah cukup. Dan itu adalah unsure ketidaksengajaan mereka. Yasudahlah, mungkin dengan memberi perasaan hangat pada seorang gadis membuatnya akan sedikit tenang. Myungsoo tersenyum tipis seraya mengelus surai kecoklatan Suzy dengan lembut. Bukankah perlakuan special dan hangat bisa membuat seseorang yang tadinya penuh dengan kegelisahan bisa berubah menjadi tenang. Termasuk Suzy yang merasakan hal itu, tadinya ia merasa sangat bersalah, tapi setelah Myungsoo memberikannya sebuah perlakuan yang lembut dan hangat seketika bisa membuat jiwanya tenang kembali.

“Seharusnya aku meminta maaf padamu karena membuatmu merasa kerepotan dan harus menghadapiku dengan sabar. Aku tahu aku pembuat masalah, tapi setelah kau mengucapkan kata-kata itu aku seperti baru sadar. Mianhaeyo,” balas Suzy, ia semakin memeluk Myungsoo erat seakan tidak mau melepaskannya. Walaupun, kata-kata Myungsoo tadi cukup pedas dan melukai hatinya. Suzy sedikit bisa merasakan aroma tubuh Myungsoo yang membuatnya semakin tenang dan tidak mau melepaskan pelukannya ini. Entah hantu apa yang memasuki dirinya, Suzy merasa sangat nyaman ketika berada di pelukan Myungsoo yang menurutnya begitu hangat.

“Sudahlah. Lebih baik kau melupakan peristiwa tadi, justru aku yang lebih merasa bersalah padamu karena sudah membentakmu. Dan aku baru ingat bahwa hati seorang wanita itu sedikit sensitive.” Perlahan Myungsoo melepaskan melukannya dari Suzy. Sepertinya, Suzy sedikit enggan ketika Myungsoo melepaskan pelukannya. Namun karena Suzy adalah gadis yang sedikit menjaga image-nya, akhirnya ia ikut melepaskan pelukannya meski ia tidak mau itu terjadi dan ingin lebih lama berada di pelukan Myungsoo. Myungsoo melempar senyuman menawannya pada Suzy, dengan sedang hati Suzy ikut membalas senyuman itu. Suasana diantara mereka seakan sangat hangat.

“Sekarang kau tidak usah menangis lagi, aku semakin bersalah melihatmu menangis sesegukan seperti tadi.” Nada Myungsoo seakan melembut. Perlahan tangannya menghapus beberapa sisa air mata yang masih mengenang di mata inda milik Suzy, kemudian melayangkan kembali senyumannya dan sedikit merapikan rambut milik Suzy yang sedikit berantakan. Mungkin melihat Suzy seperti ini, membuat perasaan Myungsoo jauh lebih tenang bisa membuat gadis itu kembali memunculkan senyum ceria miliknya.

Ani. Tidak seharusnya kau yang meminta maaf padaku, justru aku yang harus meminta maaf padamu. Kau sudah mengizinkanku menginap di dorm mu, aku merasa, begitu banyak pengorbanan yang harus kau jalani demi aku.” Jawab Suzy seraya tersenyum kecut. Sepertinya gadis ini sedikit malu mengungkapkan begitu banyak kebaikan Suzy yang di limpahkan untuknya selama ia tinggal di dorm Infinite. Tempat yang dimana mempunyai tujuh namja yang sangat tampan –sebenarnya Suzy juga beranggapan seperti itu.

“Sepertinya kau terlalu berlebihan Suzy-ah,” Myungsoo mengacak-acak surai kecoklat milik gadis itu yang tadinya sudah tertata rapi kembali sedikit acak-acakan akibat ulah Myungsoo yang sedikit jahil. Myungsoo beranjak dan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis yang tadi duduk disampingnya untuk berdiri. Suzy menyambut uluran tangan Myungsoo yang membantunya untuk berdiri. “Bagimana kalau kita memakan ice cream bersama-sama? Kebetulan, masih banyak ice cream di kulkas. Kau mau?” Myungsoo bertanya kepada Suzy yang tadinya sudah ingin menyelakan acara menontonnya yang sedikit terhambat karena panggil Myungsoo kepadanya.

Mwo?! Ice cream? Tentu saja aku mau, karena itu minuman kesukaanku sepanjang masa!” ujarnya ceria ketika telinga mendengar kosa kata ‘ice cream’. Mungkin, minuman manis itu adalah dunianya. Bagi Suzy, hidup tanpa ice cream itu terasa hampa dan seperti dunia itu gelap tidak ada penerang sebelum ada ice cream. Pikirannya memang sangat aneh, tapi begitulah kenyataan dalam benaknya. Pikiran dan sikapnya memang sedikit kenak-kanakan dan sepertinya gadis yang satu ini membutuhkan seorag pendamping hidup yang mempunyai sikap dewasa. “Akanku bantu,”

Myungsoo tertawa kecil melihat tingkah Suzy yang seperti anak kecil yang berusia lima tahun ketika meminta di belikan balon oleh ibunya. Myungsoo membuka kulkas dan mengambil beberapa rasa ice cream untuk di coba oleh mereka berdua. Namun, ia perlahan menyunggingkan senyumnya kecil agar tidak terlihat oleh Suzy. Yah, terkadang namja akan bisa juga menjaga image nya di depan seorang gadis seperti Suzy. Tapi, perasaan mereka masih belum yakin sepenuhnya. Perasaan? Ah, bukankah mereka saling merasa nyaman? Tapi mereka masih bingung apa yang dimaksud dengan perasaan nyaman itu. Jika seseorang merasa nyaman dengan seseorang di dalam hatinya ketika orang itu melakukan hal-hal hangat, sama seperti mereka berdua. Perasaan nyaman di dalam lubuk hati seseorang itu ada dua: perasaan nyaman karena bisa bertemu, berkenalan, dan bersahabat dan perasaan tertarik dengan orang itu. Yup, benar perasaan nyaman di lubuk hati masing-masing itu ada dua pilihan. Yang, pastinya mereka memilih satu, tapi masing-masing dari mereka masih bingung diantara dua pilihan yang di landa mereka berdua.

“Kau mau menambahkan apa? Ada dua pilihan: chocochip atau beberapa butiran meses. Kau mau memilih yang mana diantara keduanya?” tanya Myungsoo seraya menaruh ice cream yang habis ia ambil dari tempatnya. Dilihatnya Suzy yang masih melihat-lihat beberapa isi topping ice cream yang akan menjadi pilihannya. Mungkin, Suzy masih berpikir-pikir yang mana topping yang akan dipilihnya untuk saat ini. “Suzy-ah, kau ingin rasa apa saja? Aku baru saja menuangkan rasa coklat?” Myungsoo bertanya untuk kedua kalinya. Seketika, Suzy menatap Myungsoo balik.

“Bagaimana kalau rasa vanilla atau kau mau rasa coffee? Tanya Myungsoo seraya melihat-lihat rasa ice cream dan mengangkatnya. Myungsoo juga masih mempertimbangkan rasa apa yang harus di masukan ke dalam mangkuk ice cream ini. Mungkin masih bisa ia usulkan untuk Suzy agar gadis itu cepat mengambil keputusan. Saat Myungsoo berniat untuk menunjukan ice cream rasa coffee, namun ia segera mengurungnya. Rasa kopi? Rasanya pasti tidak enak, pikir Myungsoo. Ia pun menaruh kembali tempat ice cream yang barusan ingin di angkatnya.

Midnight cookies and cream?” Myungsoo membaca tulisan yang berada di tempat ice cream yang satu persatu ia keluarkan untuk melihat rasanya. Sepertinya ini terlihat sangat enak untuk dicoba, pikir Myungsoo. Pandangannya teralih kembali pada Suzy yang mengeluarkan beberapa topping yang cocok untuk dihias di ice cream yang mereka buat. Menurut Myungsoo, berkreasi dengan ice cream (?) sangat menyenangkan, apalagi di waktu senggang ini. Lagipula, Myungsoo juga jarang meminum ice cream, itu terjadi saat musim panas atau saat ia ingin ice cream. Jika di waktu luang ini, biasanya lelaki itu lebih memilih beristirahat atau melatih kemampuan dance-nya.

“Wow, ini ice cream Haagen-Dazs?” Suzy memandang takjub kea rah beberapa tempat ice cream yang ia keluarkan. Ketika ia menaruh beberapa topping, matanya langsung melihat merk ice cream yang di keluarkan oleh Myungsoo dan matanya langsung berbinar-binar. Yeah, itu memang ice cream kesukaanya. Apalagi sangat enak dan rasanya begitu bermacam-macam dan membuat Suzy sendiri bingung untuk memilih rasa apa yang harus ia pilih. Dulu, saat ia masih berada di tempat asalnya, sebelum berkunjung ke Korea, Suzy masih menyempatkan diri untuk bisa menikmati rasa ice cream kesukannya. Ia baru sadar bahwa di dorm Infinite cukup banyak ice cream apalagi itu merk ice cream kesukaanya. Tentu saja ice cream harganya cukup mahal, namun sangat enak dan menggoyang lidah, begitulah tanggapan Suzy.

“Memangnya kenapa? Setiap kami ada waktu luang, Sungyeol dan Woohyun sering membelikan kami ice cream Haagen Dazs,” jawab Myungsoo santai. Suzy sedikit memandang Myungsoo heran, apakah namja itu tidak tahu harga yang harus ia keluarkan untuk membeli ice cream mahal tapi sangat lezat itu? Namun, sepertinya Myungsoo sadar dengan tatapan Suzy yang seakan dengan mimik heran menatapnya (?), ia menjadi sedikit risih dengan pandangan Suzy. “Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa yang salah dengan wajah tampanku?” tanya Myungsoo seraya meraba-raba wajahnya.

Suzy berdecak ketika lelaki itu berhasil menyatakan bahwa dirinya tampan –menurut Suzy, Myungsoo juga tampan dan memang betul– “Aigo. Mengapa kau sangat seakan tidak tahu apa-apa? Pantas, di bandara kau hanya memakai pakaian dan topi yang sama! Sangat tidak kreatif! Dan kau tidak tahu harga ice cream yang sekarang berada di genggaman mu?” Suzy seakan tidak percaya dengan pikiran Myungsoo. Bukankah idol seperti dia begitu update tentang berita terbaru? Aneh. “Aigo! Kau itu idol dan pasti tahu tentang segala hal! Memangnya kau tidak tahu harga ice cream itu?” gemas Suzy.

“Memangnya berapa? Bagaimana aku bisa mengetahui harga, padahal aku sendiri belum pernah membelinya sama sekali, karena yang sering membeli itu Sungyeol dan Woohyun, aku dan yang lainnya kecuali mereka berdua hanya tinggal menikmatinya,” jawab Myungsoo polos.

Suzy menepuk keningnya. Astaga, idol yang satu ini membuatnya sedikit gemas dan ingin menampar wajah sok polos situ. Namun, Suzy tetap tidak melakukannya karena ia juga tahu sampai batas mana yang harus dilakukannya. Suzy mengatur napasnya agar telihat tampak tenang. “Harganya bisa dibilang cukup mahal, mungkin aku bisa terlahir di tengah keluarga yang sangat berkecukupan. Aku bisa menikmati ice cream itu, namun aku masih bisa membatasi berapa uang yang harus aku keluarkan untuk membelinya. Aku berusaha tidak boros hanya karena ice cream itu, dengan sedikit menabung.” Jawab Suzy tenang.

“Oh.”

To be Continue..

Well, maaf klo aku lama update😀. Leave your comment please *buing-buing* #plak.

46 responses to “It’s Love, but? (Chapter 4)

  1. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 9) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 9) | Kiyomizu Mizuki·

  3. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 10) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  4. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 10) | Kiyomizu Mizuki·

  5. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 11) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  6. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 11) | Kiyomizu Mizuki·

  7. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 12) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  8. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 12) | Kiyomizu Mizuki·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s