It’s Love, but? (Chapter 5)

kiyomizu-miuzki-copy

It’s Love, but? (Chapter 5)

Kiyomizu Mizuki Storyline

Main Cast : Kim Myungsoo (Infinite’s L) – Bae Suzy (Miss A’s Suzy) || Other Cast : Infinite member || Genre : Romance, AU, Angst, Fluff, Friendship, Hurt/Comfort, and other || Rating : PG-15+ || Length : Series || Disclaimer : Plot and story is mine. I’m sorry if there same any title or characters. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. Sorry if you find typo(s)

 Thanks to ladyoong for Amazing Poster ^^

Previous Chapter : Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5

Happy Reading!!

“Oh,”

“Suzy-ah, sekarang kau ingin menambahkan ice cream apa? Aku sudah menunggunya terlalu lama, cepatlah! Sebelum ice cream ini meleleh.” Myungsoo sedikit meninggikan suaranya agar gadis yang berada di sampingnya masih sibuk dengan urusannya masing-masing tanpa memikirkan urusan Myungsoo yang masih berkutat pada tumpukan-tumpukan ice cream yang berada di depannya. Rasanya Myungsoo merasa bahwa dirinya di cueki oleh gadis yang meminta ice cream itu padanya, meski ia yang menawarkan dan dengan senang hati gadis itu menerima tawaran Myungsoo, dan jangan lupa! Suzy sangat-sangat menyukai ice cream dalam bentuk apapun itu.

Suzy seketika langsung menolehkan kepalanya kepada Myungsoo yang sudah sedikit mempertajam tatapannya pada dirinya yang seakan mencueki keberadaan Myungsoo. “Rasa ice cream? Aku ingin rasa Chocolate Chip Cookie Dough, terus dicampuri dengan Vanilla Swiss Almond, terus di tumbuk oleh Peppermint Bark, diatas tadi ada rasa Mint Chip dan Green Tea, di tambahi bahan-bahan itu kurasa tidak buruk untuk bisa menikmati rasa ice cream yang sesungguhnya,” celoteh Suzy yang mengambil alih pekerjaan Myungsoo untuk menaruh ice cream itu di tempat yang tadinya di bawa oleh Myungsoo. Gadis ini memang sedikit cerewet jika masalah soal rasa ice cream, ia akan terus membuka mulutnya jika memperjelas soal ice cream.

Myungsoo hanya diam dan tidak merespon ucapan Suzy yang seperti nge-rapp tadi, menurutnya gadis itu terlalu cepat memperjelasnya sehingga dia tidak terlalu mengerti tentang ucapan gadis itu barusan makanya ia lebih memilih diam daripada harus menjawabnya tapi dia tidak tahu apa inti pembicaraan itu. Sekarang, Myungsoo malah yang mengambil alih pekerjaan Suzy tadi, jadi intinya mereka bertukar tempat atau bertukar perkerjaan (?). Sudahlah, itu mereka saja yang tidak sengaja. Myungsoo lebih baik mengambil alih pekerjaan Suzy yang menurutnya lebih merepotkan itu, yah menurutnya ia sedikit lebih mudah. Karena ia hanya tinggal menaruh topping-topping itu. “Jadinya kau ingin apa?” tanya Myungsoo setelah melihat Suzy sudah selesai membuat hasil karyanya, ice cream ice cream itu terlihat bertumpuk.

Choco chip, sedikit meses, waffle, sedikit coklat cair, Mini Marshmallows, Almond, sedikit taburan kacang, Syrup Coklat, Oreo, dan Chocolate Sauce. Bagaimana menurutmu? Apakah itu cukup?” Suzy mendorong sedikit tubuh Myungsoo agar menyingkir, menurutnya lelaki itu tidak tahu apa-apa tentang ice cream jadi harus ia awasi terus seperti siswa sekolah dasar yang sedang menjalankan Ujian Semester mereka? Karena sedaritadi Myungsoo hanya mengamati masing-masing topping itu tanpa menyentuh sama sekali. Lebih baik Suzy yang mengerjakan daripada nanti hasilnya tidak memuaskan bukan? Kkk~

“Sudah cukup! Kau terlalu banyak,”

“Tapi hasilnya memuaskan!”

“Terserah, aku hanya mengikutimu saja! Sekarang, aku akan mnegambil sendok dank au bawakan mangkuk ice cream itu ke sana, nanti aku akan menyusul.” Myungsoo memberi intruksi pada Suzy agar membawakan mangkuk ice cream yang berada di hadapan Suzy agar yang merias dan yang menentukan rasa ice cream itu Suzy seorang, mungkin ini lebih baik bukan? Memang begitu mereka berdua, kadang saling mengomeli satu sama lain dan terkadang kompak dan saling membantu. Kira-kira kalau mereka menjadi pasangan akankah mereka cocok? Mungkin saja.

Suzy hanya mengangguk dan membawa mangkuk yang cukup besar karena mereka ingin menghabiskannya berdua dengan satu mangkuk sebenarnya ini bertujuan agar tidak merepotkan seseorang yang kebagian jadwal mencuci piring hari ini. Myungsoo menujuk balkon yang cukup luas dan juga terdapat dua kursi dan satu meja, suasanya juga sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat curhat ataupun mengobrol berdua saja. Matahari tampak tidak terlalu bersinar dan cuacanya juga bersahabat walaupun sudah akan menjelang waktu sore. Ah, jangan lupakan pasti mereka akan saling bersedia membawa tissue agar tidak tumpah kemana-mana. Suzy bergerak menyesuaikan letak duduknya yang menurutnya akan nyaman, matanya berkilat-kilat sangat senang melihat pemandangan kota Seoul yang memang indah apalah ditambah dengan ada ice cream yang berada di depan matanya, astaga! Rasanya Suzy merasa cukup bahagia. Yah, memang begitulah dirinya.

Myungsoo berhenti bergerak untuk memberikan satu sendok ice cream untuknya. “Sepertinya kau bahagia sekali melihatnya? Ah, sudahlah! Lebih baik cepat kita habiskan ice cream ini sebelum mencair,” tegur Myungsoo yang menyadari bahwa sepertinya gadis itu tidak menyadari kehadiran dan masih asyik dengan dunia sendiri. Bagaimana tidak Suzy merasa sangat nyaman? Angin sepoi-sepoi terus bertiup yang sekarang memainkan rambutnya dan membuatnya berterbangan di udara. Sebenarnya Myungsoo juga merasakan hal nyaman seperti ini, angin sepoi-sepoi itu juga memainkan anak rambutnya dan menerpa wajah tampannya.

“Baiklah,” Suzy sedikit tersentak ketika mendengar suara baritone milik Myungsoo yang mengacaukan dunianya. Kemudian tangannya bergerak mengambil sedikit ice cream yang sekarang sudah sedikit bertumpuk di sendoknya kemudian menyuapkannya kearah mulutnya. Suzy merasa sensasi yang berbeda sendiri ketika ice cream itu sampai di rongga mulutnya, mulai lumer dan merasakan hal manis dan dingin. Bukankah itu yang mencerminkan ice cream? “Sudah cukup lama aku tidak mencoba ice cream di Korea,” tanggap Suzy, matanya masih menyapu setiap sudut kota Seoul yang sekarang sudah mulai menjelang sore.

“Memang selama kau di Korea tidak pernah menyentuh ice cream sama sekali?” tanya Myungsoo di sela-sela menyuap ice cream yang miliknya. Tatapan matanya begitu terlihat teduh, Suzy sepertinya mulai terpana melihat tatapan Myungsoo padanya. Seperti menyorotkan sesuatu, bahkan manik matanya seperti tidak berkedip ketika matanya menatap kearah Myungsoo yang terlihat masih menanti jawabannya.

“Belum.”

Masing-masing dari mereka sekarang mulai mencurahkan seputar curhatan atau obrolan kepada mereka yang berada di depannya. Suasanya seperti sangat hangat ditambah dengan sore hari yang sangat cerah dan angin yang bertiup dengan lembut seperti menjadi latar bagi mereka berdua. Yah, mungkin biasanya mereka sekarang tidak akan menjadi seakrab ini jika tidak ada insiden sebelumnya seperti tadi, Suzy menangis. Karena Myungsoo merasa bersalah akhirnya lelaki itu pasrah dan menenangkan Suzy. Terlihat sekarang bahwa mata Suzy berkilat-kilat sempurna ketika mereka makan ice cream, wajahnya begitu terlihat ceria dan tidak ada kesedihan lagi. Myungsoo merasa lega ketika melihat ekspresi Suzy yang tadinya muruh sekarang berubah drastis. Kadang masing-masing dari mereka mengucapkan beberapa kata lelucon dan membuat suasana semakin bersahabat, apalagi mereka hanya berdua di dorm, hmm apakah suasana sekarang juga bisa di sebuat suasanya romantis? Suzy tertawa puas ketika mendengar Myungsoo menceritakan beberapa lelucon ditambah mimik wajahnya juga berubah sangat drastis.

Namun, beberapa menit kemudian. Keduanya berhenti mengobrol, sepertinya masih bingung dengan apa yang harus di ceritakan lagi. Terlihat mereka berdua hanya menyantap ice cream itu tanpa obrolan sama sekali dan membuat keduanya mengumpat dalam hati, suasana canggung kembali tercipta dan untuk kedua kalinya mereka berdua mengumpat secara bersamaan karena benci dengan suasana sepi seperti ini tanpa obrolan yang menarik. Apalagi mereka hanya berdua tanpa ada orang lain lagi di sekitar mereka. Shit!

Namun, Myungsoo mendongakan kepalanya. Suzy masih menundukan kepalanya seraya mengaduk-aduk ice cream bagiannya itu. Matanya menyusuri Suzy setiap lekuk wajah Suzy, dalam hatinya dia sedikit terpesona melihat rupa gadis itu yang menurutnya sekarang sangat cantik. Apakah Myungsoo tidak sadar? Tidak peka? Atau tidak mau mengakuinya dari dulu? Matanya berhenti bergerak ketika melihat sisa ice cream yang mengotori disudut bibir milik Suzy. Secara perlahan, Myungsoo mengulurkan tangannya untuk membersihkan sisa-sisa ice cream itu dengan lembut dan membuat Suzy sedikit terkejut dan… Wajahnya, sedikit terlihat mereka –padahal Suzy sudah ingin menyembunyikannya. Perlakuan Myungsoo kepadanya tampak begitu manis dan sangat lembut, sehingga membuat gadis itu menjadi nyaman.

Sudah cukup lama mereka menikmati matahari senja dan sekarang matahari itu sudah tenggelam. Malam telah tiba, namun member Infinite yang lain belum sama sekali tidak ada yang pulang dan membuat Myungsoo kembali mengumpat. “Hyung! Kalian sedang dimana? Sampai kapan kau pulang, eoh? Aku merasa sendirian.” Rengek Myungsoo saat Sunggyu menelfonnya dan ternyata mereka sedang berada di dorm Super Junior, apalagi kalau bukan bersenang-senang. Myungsoo kembali berdecak, benar apa yang dikatakan leader nya tadi bahwa masih ada Suzy yang bersamanya, tapi terasa sangat canggung ketika bersama.

Sekarang matanya menangkap sosok Suzy yang menyantap ramen buatannya –walaupun dia tidak sama sekali bisa memasak– Karena tidak ada Woohyun yang menyiapkan makan malam, terpaksa mereka berdua menyantap makanan siap saji. Sebenarnya bisa saja Myungsoo memanggil delivery, tapi setelah ia menemukan jam dan sudah pukul sebelas malam dan satu jam menuju hari esok. Kakinya melangkah kearah gadis itu yang menyantap ramen buatanya tanpa obrolan yang menarik. “Hey, kalau kau sudah mengantuk tidur di kamarku saja. Aku akan tidak di kamar lain,”

“Tapi tidak apa-apa?”

“Gwenchana,”

***

Suzy mengambil pisau di dapur. Tangannya sangat bergetar ketika untuk pertama kalinya permukaan tangannya itu menyentuh permukaan pisau yang ujung-nya terkenal dengan ketajaman itu. Kemudian, tangannya mengentuh wortel kemudian memotongnya dengan tangan yang sangat bergetar. Ini pertama kalinya ia memegang dapur, dan untuk pertama kalinya ia memegang pisau itu. Tangannya begitu bergetar ketika potongan ketiga dan seterusnya di mulai. Adakah yang menyadari bahwa kakinya begitu bergetar saking ketakutannya tangannya teriris pisau? Ya. Sebenarnya sangat terlihat bahwa ia begitu gugup karena memegang sebilah pisau saja. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Astaga! Apakah segitu ketakutannya ia?

“Suzy-ah, apa yang kau masak?”

Nam Woohyun. Namja itu kemudian melangkahkan kakinya kedepan bertujuan untuk melihat hasil karya masakan yang dibuat oleh gadis itu. Tentu saja air yang berada di dalam panci tersebut sudah mencapai suhu yang cukup tinggi. Hidup Woohyun mengendus-ngendus aroma yang terpancar dari dalam panci itu. Sedetik kemudian, ia mulai melihat hasil yang di kerjakan oleh Suzy, seketika matanya membulat sempurna dan dengan cepat, Woohyun mematikan kompor. Bagaimana tidak? Ia melihat semua isi sayuran yang sudah tercampur menjadi satu sudah berubah menjadi warna hijau pekat. Menjijikan. “Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?” Woohyun bertanya dengan pelan, walaupun ada sedikit rasa kesal di dalam hatinya, tapi ia berusaha meredam rasa kesal itu. Lebih baik bertanya secara baik-baik daripada akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan bukan?

“Hmm, sebenarnya aku hanya ingin membalas perbuatan baik kalian padaku. Tapi karena aku sangat bingung ingin membalas dengan apa, maka dari itu aku memilih untuk memasakan kalian sesuatu, aku kira ini cukup mudah. Tapi ternyata, hasilnya malah akan bertambah buruk,” Suzy menjawab dengan nada yang terdengar sangat menyesal. Ia berpikir untuk membuat masakan yang special, tapi setelah mengingat bahwa ia tidak pernah memasak sesuatu. Dan lihat apa hasilnya? Buruk. Benar-benar buruk, apalagi semua bahan masakan yang berada di dalam kulkas di masukannya ke dalam satu panci kemudian berubah menjadi warna hijau pekat. Astaga! Terdengar saja sudah terdengar sangat menjijikan apalagi masuk ke dalam tenggorokan seseorang. “Mianhae. Aku tidak tahu jika akhirnya menjadi seperti ini,” ia menunduk. Tidak berani menatap mata Woohyun.

“Hey, Woohyun-ah! Apa yang kau masak?” sebelum Woohyun ingin membuka suaranya, Sunggyu dan Sungyeol sudah berada di samping mereka, sepertinya untuk melihat proses pembuatan makanan yang sekarang sudah hancur karena ulah ceroboh Suzy. “Sepertinya terlihat enak?” gumam Sunggyu ketika ia menyendokan makanan itu dan menghirup aroma yang terpancar darinya. “Apakah ia sudah matang? Aku ingin mencobanya karena terlihat enak?” tanya Sunggyu sebelum akhirnya ia memakan makanan itu.

“Ya. Sepertinya terlihat enak,” gumam Sungyeol.

“Ya!! Hyung jangan di makan!” cegah Woohyun sebelum keduanya menyuapkan makanan itu kedalam mulut mereka. “Jangan dimakan! Ini masakan gagal, ya… Aku dan Suzy sedang bereksprerimen! Ya, ini masakan gagal! Jadi jangan dimakan, jika kalian memakannya aku tidak akan bertanggung jawab jika ada yang terjadi pada kalian, karena itu kecerobahan kalian sendiri tidak mau mendengarkan omonganku,” Woohyun berasalan agar hyung-nya tidak memakan makanan itu. Yah, jika mereka berhasil memakannya mungkin sesuatu yang buruk akan semakin terjadi dan memperburuk keadaan.

“Makanan gagal?” gumam Sunggyu bingung. Ia baru pertama kali mendengar sebuatn ‘makanan gagal’ dari mulut Woohyun. “Apa yang dimaksud dengan makanan gagal? Aku baru pertama mendengar sebutan itu?” Sunggyu menggaruk belakang tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Hanya saja dia sudah terlal bingung apa yang dimaksud dengan ‘makanan gagal’ yang terlontar langsung dari mulut Woohyun. Matanya masih menatap Woohyun yang masih diam mematung sama seperti Suzy, dia tidak menyadari bahwa gadis itu sebenarnya sangat takut. Ketika kedatangan Sunggyu dan Sungyeol ke dapur, tubuhnya yang menegang dipaksa menegang lagi karena ia takut Woohyun membocorkan kecerobohannya lagi. Oke, sudah berapa kali Suzy membuat kekacauan? Apalagi sekarang sudah tidak ada lagi bahan makanan dari di kulkas. Karena ulahnya yang memaksa untuk memasak sesuatu tapi hasilnya sangat begitu gagal dan tidak pantas di sebut dengan makanan.

“Ya! Itu makanan gagal, tidak boleh dimakan. Karena aku dan Suzy habis melakukan sebuah eksperimen dadakan, aku yang mengajaknya. Dan setelah kedatangan hyung, kebetulan eksperimen kami sudah selesai dan hasilnya cukup memuaskan. Hahaha! Berarti kami sudah berhasil, walaupun hanya memanfaatkan makanan di kulkas! Hahaha,” Woohyun tertawa dan merangkul pundak Suzy. Matanya masih menatap kearah Suzy yang masih setia dengan sikap diam mematungnya. “Benar kan Suzy-ah? Kita sudah berhasil membuat sebuah ramuan yang menjijikan! Dan, oh, tadi sebenarnya aku berharap agar kalian memakan ramuan menggelikan itu yang pasti aku yakini kalian akan bolak-balik ke toilet dengan alasan sakit perut! Kalian masih saja selamat ketika aku mengingat kita sedang ada schedule bersama, jadi, aku tidak jadi membuat kalian menderita seperti itu. Haha,” Woohyun masih terlihat setia merangkul pundak Suzy. Sebenarnya itu hanyalah alasannya bualannya agar mengalihkan perhatian Sunggyu dan Sungyeol. Ya, itulah Woohyun. Walaupun ia tidak suka melihat dapurnya hancur, tapi ia masih bisa berbuat baik pada Suzy agar tidak membuatnya merasa bersalah lagi. Ia hanya melatih kemampuan beraktingnya, seraya membela gadis itu.

“Benar oppa. Mianhae untuk Sunggyu dan Sungyeol oppa, karena aku memang diajak oleh Woohyun oppa untuk melakukan hal ini, ia pun akhirnya memaksa dan aku tidak bisa menghindar lagi.” Suzy tersenyum tipis. Sebenarnya ia merasa sangat bersalah, kenapa malah Woohyun yang sangat berbuat baik padanya untuk mengalihkan perhatian mereka bahwa sebenarnya Woohyun yang mengajak Suzy untuk melakukan eksperimen itu? Padahal, semuanya berasal darinya yang membuat makanan itu. Kecerobohannya karena sudah memaksa untuk melakukan sesuatu pembalasan yang baik untuk member Infinite yang telah membantunya, tapi hasilnya sangat mengecewakan dan membuat mereka tidak bisa sarapan pagi ini. Rasanya Suzy benar-benar sangat berterima-kasih pada perbuatan Woohyun yang sangat baik padanya itu. Setelah dia mengingat bahwa nanti pasti Woohyun yang akan terkena omelan dari kedua hyung-nya itu yang sebenarnya bahwa dia yang pantas menerima itu semua, bukan Woohyun!

Pletak!

Dengan kekuatan sinar matahari (?), Sunggyu dan Sungyeol langsung menjitak kepala Woohyun dengan bersamaan dan membuat yang terkena meringis kesakitan seraya mengelus kepalanya yang menjadi korban. “Dasar kurang ajar! Kenapa kau hampir sama dengan Kyuhyun hyung? Sejak kapan kau mempunyai jiwa evil, siapa yang mengajarimu, eoh?” omel Sunggyu pada Woohyun. “Pantas saja kau melarang kami untuk memakan makanan itu, tapi jangan pernah kau lakukan lagi! Kalau aku sudah bisa menyuapkan makanan gagal mu itu ke mulutku dan mengetahui bahwa itu perbuatanmu dan menyeret Suzy kesana, maka aku akan menghukummu kembali!” omel Sunggyu lagi. “Ternyata aku baru tahu kau mempunyai dua sisi kepribadian yang berbeda. Yaitu: Jiwa Evil dan jiwa baik. Astaga! Kenapa aku baru sadar kau memilikinya?” lanjutnya lagi. Hmm, sebenarnya Suzy tidak tahu apa yang terjadi padanya jika Woohyun tidak membelanya dan mengucapkan bahwa itu adalah kesalahannya dan memaksa Suzy.

“Ya! Hyungdeul, Woohyun-ah! Kita harus segera pergi, ini sudah hampir akan terlambat! Kajja,” teriak Dongwoo dari arah belakang mereka. “Cha! Jadi kita harus cepat. Sunggyu hyung, seharusnya kau yang memperingatkan seperti ini dan bukan aku! Mana tanggung jawabmu sebagai leader? Kenapa kita jadi tertukar seperti ini?” ucap Dongwoo lagi. Masih sempat-sempatnya ia mengomel layaknya seorang Halmeoni-halmoeni yang kecopetan duit gopek (?) #abaikan.

“Baiklah!”

“Ya! Hyung, tunggu aku!”

Setelah kepergian Sungjong, Dongwoo, Hoya, Woohyun, Sungyeol, dan Sunggyu. Suzy masih setia berpijak di dapur tempatnya. Astaga! Kenapa ia selalu lolos dari sebuah kecerobohan yang ia lakukan? Kenapa Woohyun tidak jujur bahwa sebenarnya itu adalah perbuatannya yang asli? Kalau saja Woohyun jujur, mungkin Suzy akan segera angkat kaki, ah tapi sepertinya tidak mungkin karena mereka pasti masih mempunyai hati nurani dan melindungi dirinya sampai ia menemukan tempat penginapan yang baru lagi. Benar bukan? Mereka bukan namja yang tega mengusir dirinya dari sana. Tapi, ia masih merasa bersalah karena Woohyun yang terkena omelan dari sang leader, Sunggyu. Dan juga plus terkena jitakan dari kedua hyung-nya tadi. “Ah, Suzy bodoh! Kenapa jadi Woohyun oppa yang terkena omelan dari mereka?” Suzy mengutuk dirinya sendiri.

“Kau masih selamat. Untung saja Woohyun baik,”

Suzy kembali tersentak ketika suara mengagetkannya. “Ya, aku tahu.” Ucapnya seraya berjalan ke belakang Myungsoo. Masih ada rasa bersalah di dalam hatinya, ya, apalagi Myungsoo kembali mengagetkannya lagi, kembali membuat hatinya merasa bersalah. “Jadi kau tidak usah mengingatkan aku lagi.” Ucapnya lagi.

Myungsoo malah tersenyum. “Maaf aku malah kembali membuatmu merasa bersalah. Bagaimana kalau kita membeli bahan makanan untuk membalas perbuatanmu yang tadi?” tawar Myungsoo. Ya, daripada gadis itu masih bingung ingin meminta maaf dengan cara apa. Ya, mungkin juga sedikit membantu dirinya. “Sekarang, kau hanya tinggal ganti pakaian dengan baju penyamaran, aku sudah menyiapkannya. Tapi, sedikit hati-hati, karena aku meminjam punya Sungjong.” Lanjut Myungsoo. “Ppali!!”

Jinjja?!”

Myungsoo mengangguk santai. “Tapi cepat sedikit sebelum aku berubah pikiran!”

***

Mungkin kali ini mereka sedikit bisa selamat. Karena saat mereka ingin keluar membeli bahan makanan yang tadi sudah di hancurkan oleh Suzy di pasar yang terkenal di Seoul. Ya, sebelumnya ia dan Myungsoo tadi sempat tertangkap oleh Manager Infinite yang –mungkin– tidak sengaja melihat batang dan tubuh mereka berdua yang berjalan. Tadinya, Suzy harus menggunakan suara perut agar suara aslinya tidak terdengar dan tidak dicurigai. Myungsoo juga menyamarkan identitas Suzy sebagai Hoya, memang kebetulan Myungsoo meminjam pakaian Hoya sebagai penyamaran. Tadinya Suzy sangat tegang karena takut identitas aslinya terbongkar dan langsung menghebohkan seluruh pihak. Untunglah ia berjalan sesuai dengan karakter seorang laki-laki, jadi mungkin dengan cara itu tidak akan terbongkar dengan mudah. Tampaknya jika Myungsoo yang melihat Suzy bagaikan seorang gadis tomboy yang modis. Bagaimana tidak? Rambutnya tergulung ke atas dengan topi dan juga dilengkapi dengan kacamata hitam. Astaga! Myungsoo saja bingung ingin menafsirkan penampilan Suzy kali ini seperti apa.

Suzy mengedarkan pandangannya kearah sekitar. Benar saja ia melihat banyak toko-toko kecil yang menjual bahan-bahan makanan yang terletak di sisi jalan. Namun, kemudian yang merasakan tangan seseorang sedang menggegam tangannya erat tanpa meminta izin ingin memegangnya terlebih dahulu. Ditambah dengan suasana yang seakan membuat tempat itu seperti pasar terbesar dan terlengkap di seisi kota Seoul. Ya, Suzy dan Myungsoo sudah menginjakan kaki mereka ditengah pasar yang cukup terkenal di Seoul. Myungsoo tampak berjalan santi disamping Suzy, sedangkan gadis itu tampak berjalan canggung disamping Myungsoo. Tadinya, sebelum menginjakan kaki di tempat ini, Myungsoo tidak mengatakan apapun dan pada akhirnya mereka membeli bahan-bahan makanan disini. Banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang untuk membeli bahan makanan, memang sedikit terlihat rusuh.

“Bisa akan menjadi kacau jika kau hilang di tempat ramai seperti ini. Jadi lebih baik aku menggenggam tanganmu, arraseo?” bisik Myungsoo sembari mengedarkan pandangannya pada toko-toko yang ada disekitarnya.

Suzy hanya bisa terdiam ketika Myungsoo membisikan suatu kata padanya. Ya, bersamaan dengan bisikan Myungsoo tadi, lelaki itu juga menggenggam tangannya dan akhirnya gadis itu menurut saja apa yang di perintahkan oleh Myungsoo. Namun, entah kenapa Suzy malah semakin canggung ketika Myungsoo sudah menggenggam tangannya. Ya, tangan lelaki itu hangat dan membuatnya malah semakin nyaman berada di sampingnya. Tapi, bukankah lebih baik Suzy menuruti permintaan Myungsoo daripada dirinya malah akan semakin membuat masalah lebih besar lagi ketika ia tiba-tiba hilang ditengah riuhnya isi pasar itu. Ia tidak mau merepotkan Myungsoo lagi, sudah berapa kali ia merepotan lelaki itu? Ya, walaupun sudah beberapa kali dan Suzy hanya mendapat omelan dari Myungsoo dan saat itu pernah membuat dirinya menangis.

“Kita kesana. Ada toko yang menjual sayur dengan lengkap,” ucap Myungsoo menarik tangan Suzy agar mendekat kearah toko yang dimaksud dengan dirinya. Sebenarnya ia langsung menarik tangan gadis itu tanpa meminta persetujuan dirinya, sebenarnya Myungsoo sudah tahu bahwa padanya akhirnya Suzy akan menyetujui permintaannya walaupun ia tidak meminta persetujuan langsung darinya. Lagipula, maksudnya juga cukup baik bukan? Mengantarkan gadis itu membeli bahan-bahan makanan, karena insiden tadi pagi.

Ahjumma, yang ini berapa?”

Ahjumma?!”

Suzy mencoba mengendalikan tubuhnya yang seakan terombang-ambing karena berada diantara para Ahjumma yang berdesak-desakan mengantri membeli sayur itu. Memang cukup begitu banyak orang-orang yang membeli sayur di tepat ia berdiri. Dan yang bisa dipastikan orang-orang disana berdesak-desakan dan juga saling ingin menang sendiri. Suzy saja hampir tidak bisa mengeluarkan suaranya, sebenarnya dia masih bisa mengeluarkan suara untuk membeli bahan-bahan makanan itu, tapi karena terlalu ramai dan terlalu berisik, jika dia mengeluarkan suara pastinya sudah tidak bisa terdengar –sebenarnys bisa saja, tapi kalau dia berani berteriak, tapi Suzy sepertinya tidak mungkin melakukan kegiatan konyol itu yang bisa membuatnya malu setengah mati. Terlalu banyak suara di sekitarnya, jika ia malah meminta bantuan Myungsoo, sudah di pastikan bahwa suara baritone-nya akan terdengar dan –mungkin– mereka bisa mengetahui bahwa lelaki yang berada disamping Suzy adalah seorang Kim Myungsoo Infinite atau sering dikenal dengan nama L. Ah, tidak mungkin! Pasti akan sangat kacau jika itu terjadi.

“Soo Ji-ah,”

Dengan cepat Myungsoo menarik tangan Suzy agar keluar dari para orang-orang yang berdesak-desakan membeli bahan-bahan makanan itu. Myungsoo sedikit menahan suaranya agar tidak terlalu terdengar dan tidak terdengar seperti mencurigakan. Ia tadi hanya bisa melihat dari kejauhan bahwa mengendalikan tubuhnya yang di dorong oleh para orang-orang itu. Karena orang-orang tersebut bisa dikatakan rusuh dan saling egois tidak mau mengantri, kacamata hitam yang digunakan Suzy hampir saja terjatuh dan. Dan untungnya Myungsoo segera menarik lengan gadis itu agar tidak terlalu lama di dalam sana. Hmm, sudah beberapa kali Suzy berteriak dan sering menggunakan suaranya tapi tidak direspon juga, sepertinya suaranya sangat terkalahkan. “Kau tidak apa-apa? Tadi hampir saja kacamata yang digunakanmu hampir terjatuh,” tanya Myungsoo yang masih memegangi pundak gadis itu dari belakang. Saat mendadak kacamatany hampir terjatuh, ia juga sedikit tersentak kaget. “Lain kali kau harus lebih mengendalikan tubuhmu Suzy-ah, kalau terjatuh bagaimana? Kau hampir saja membuatku cemas.” Myungsoo berucap lembut.

“Bagaimana aku ingin bisa mengendalikan tubuhku jika akhirnya mereka lebih kuat dan dengan mudahnya bisa membuatku terombang-ambing? Fiuh, untunglah kau menarik tanganku dan dengan mudah tidak membuatku bisa terjatuh begitu saja. Gomawo,” balas Suzy. Kemudian, mereka sedikit menjauh dari tempat yang sebelumnya tadi. “Sekarang kita ingin kemana?” heran Suzy saat Myungsoo menarik untuk melangkahkan kaki mereka kembali untuk menjauh.

“Diam saja. Nanti kau juga akan tahu hasilnya,”

Seketika kemudian, mereka sudah terduduk di sebuah kursi di sebuah café yang tidak jauh dari tempat sebelumnya. Memang sebenarnya Myungsoo berencana untuk mengistirahatkan tubuhnya di sebuah café itu, tempatnya juga lumayan besar dan sangat nyaman untuk di tempati. Awalnya Suzy ingin menolak ketika Myungsoo mengajaknya kesini, ia takut sesuatu yang lebih buruk terjadi. Alias identitas mereka terbongkar dengan mudah, tapi sepertinya tidak mungkin bagi Myungsoo. Karena ia sudah memilihkan beberapa pakaian lelaki untuk penyamaran yang dipakai Suzy. Tapi, disisi lain jika Suzy menolak bisa saja gadis itu kembali menghilang, yasudahlah lebih baik ia mengikuti apa yang dilakukan Myungsoo, bukankah itu lebih baik? Sejujurnya, Suzy sudah kapok membuat kekacauan lagi. Maka dari itu ia tidak mau menolak semua kemauan Myungsoo. Suzy mengedarkan pandangannya ke seisi sudut-sudut café tersebut. Tempatnya cukup nyaman dan disini juga cukup ramai, banyak kegiatan yang dialkukan disana. Antara lain, mengobrol atau sedikit curhat kepada teman yang diajak. Atau sekedar ingin duduk bersama bersama sang kekasih, Suzy sedikit bergidik ketika membayangkan itu.

“Kacamata ini membuatku sedikit tidak nyaman,” Suzy berkomentar. Ia kemudian sedikit membetulkan posisi dan letak kacamata-nya.

“Kalau tidak nyaman, kenapa tidak di lepas saja?” Kemudian, Myungsoo membantu melepas kacamata itu.

“Kenapa di lepas? Kalau ketahuan bagaimana?”

Myungsoo memutar bola matanya. “Kau bilang tadi tidak nyaman? Yasudah aku lepas. Jika tidak mau ketahuan bahwa kau adalah seorang wanita, jangan menunjukan gerak-gerikmu seperti seorang wanita dan usahakan wajahmu jangan terlalu terekspos.”

Suzy hanya menganggukan kepalanya. “Yasudah. Tapi kenapa kau mengajakku kemari? Bukankah kita ingin membeli bahan makanan yang tadi sudah di hancurkan olehku?” protesnya.

“Aku ingin beristirahat sebentar, nanti kita lanjut kembali!” balasnya santai. “Pelayan?”

Kemudian, Myungsoo memanggil salah satu pelayan. Namun terlihat dari tatapan pelayan itu bahwa, sepertinya ia mengenal sosok yang tadi sudah memanggilnya ini. Tatapannya terlihat sangat menyelidik atau mungkin saja ia ‘sedikit’ mengenal orang ini? “Ya Tuan? Anda ingin memesan apa?” tanyanya sopan. Dengan sedikit merubah tingkah lakunya agar tidak terlihat.

“Kau ingin memesan apa?” Myungsoo sedikit menahan suara aslinya. Ia sengaja tidak menyebutkan nama Suzy agar tidak ketahuan bahwa seorang Kim Myungsoo sedang berjalan bersama seorang gadis.

“Aku hot-chocolate dan croissant-almond aja,” Suzy memakai suara perut agar suara aslinya tidak terlihat. Ia sengaja mengeluarkan suara yang nge-bass agar tidak mencurigakan. “Kalau kau?”

“Hmm, hot-chocolate dua.” Ucap Myungsoo singkat. “Hmm, kau! Bisa kesini sebentar?” Myungsoo kembali memanggil pelayan yang tadi sudah datang ke meja yang ia tempati bersama Suzy.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan tentang diriku. Jadi kunci mulut-mu rapat-rapat dan jangan perlihat gerak-gerikmu yang mencurigakan,” bisik Myungsoo. Ya, sedaritadi ia mengetahui bahwa pelayan itu mengawasinya dan bahkan menatapnya dengan tatapan seakan menyelidik dirinya.

Pelayan itu tersentak. Dan benar saja yang tadi ia pikirkan tentang orang itu bahwa ia adalah seorang Kim Myungsoo atau L Infinite! Kemudian, ia hanya bisa menganggukan kepalanya. Karena nada bicara Myungsoo tadi cukup menggunakan nada yang mengancam.

Setelah pelayan itu pergi. “Sebenarnya apa yang kau katakana pada pelayan itu?” tanya Suzy.

“Rahasia,”

To be Continue..

Aku tahu ini telat nge-uptade banget. Tapi, Chapter 6-nya bakal aku publish cepet kok. Maaf kalo kurang memuaskan hati kalian :D. Leave your RCL please *buing-buing* #plak! 😀

Advertisements

46 responses to “It’s Love, but? (Chapter 5)

  1. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 10) | Kiyomizu Mizuki·

  2. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 11) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  3. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 11) | Kiyomizu Mizuki·

  4. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 12) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  5. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 12) | Kiyomizu Mizuki·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s