Catastrophically [Beginning]

CATASTROPHICALLY

“Magic is dangerous – but love is more dangerous still”

park

BASED ON MORTAL INSTRUMENT AND INFERNAL DEVICE BY CASSANDRA CLARE

⌊ PG 17 • Fantasy/Romance/Friendship • Chaptered • Poster by imjustagirl ⌋

staring by

zzzz

  tumblr_m6z9eqvQT71qm375oo1_250.gif   tumblr_m6z9eqvQT71qm375oo11_250.gif

[SYNOPSIS]

Bae Suzy yang masih berumur 16 tahun pergi ke Club Pandemonium bersama sahabatnya yang bernama Oh Sehun. Tapi, disana  ia diculik oleh seorang yang disebut iblis oleh sang penyelamatnya. Setelah sang penyelamat itu menyelamatkan Suzy. Ia ingin pergi meninggalkan Suzy, tetapi Suzy mencegatnya. Mereka berkenalan. Nama penyelamat Suzy itu Kris. Krispun pergi setelah meninggalkan sesuatu yang akan Suzy gunakan.

Keesokan harinya, Suzy malah mendapati rumahnya acak-acakan. Ia histeris mencari ibunya tetapi malah menemukan ibunya yang sudah tidak sadarkan diri. Suzy diserang oleh sesuatu dan lagi-lagi diselamatkan oleh Kris. Setelah kejadian itu, Kris yang merasa khawatir akan Suzy. Ia membawa Suzy ke sebuah Institut. Disana, Suzy dapat menemukan jati dirinya yang asli. Dan keaslian keluarganya. Ia bertemu banyak kawan shadowhunter seperti Suzy di institut itu.

Di institut ada dua lelaki yang paling dekat dengan Suzy. Yaitu Kris dan Myungsoo. Tanpa sadar, tumbuhlah sebuah perasaan diantara ketiganya. Konflik percintaanpun mulai terbuat di institut. Sampai, Sehun ikut masuk ke institut dan membuat konflik cinta segitiga bahkan cinta segiempat yang benar-benar membingungkan. Dibalik itu, Suzy berusaha membuat ibunya bangun dengan cara apapun. Karena, Suzy pikir ibunya lah yang menyimpan rahasia itu. Padahal, kunci dari semua itu bukan ibunya tetapi Suzy sendiri.

[CHARACTERS]

Bae Suzy – 16 years old

Suzy telah hidup hanya bersama ibunya sejak kecil. Itulah yang membuat ia sangat menyayangi ibunya. Ia juga memiliki sifat yang penyayang, keras kepala dan mempunyai banyak keinginan tahu. Ia memiliki wajah yang cantik alami, tinggi dan sepasang mata cokelat. Ia menyukai photography dan membaca buku. Ia banyak berubah semenjak datang ke Institut dan bertemu Kris dan Myungsoo yang pada akhirnya Suzy jatuh cinta pada keduanya.

Wu Yifan – 17 years old 

Dia lahir di Guangzhou. Orang-orang biasa memanggilnya Kris. Awalnya, ia hidup dengan keluarga yang makmur. Sampai, ia tidak sengaja membuka kotak iblis yang membunuh kakaknya dan membuat ia pergi meninggalkan Guangzhou dan pindah ke Seoul. Ia mempunyai suatu rahasia yang tidak semua orang mengertinya. Karena sesuatu pula, ia menjadi kasar. Ia mempunyai watak keras kepala dan susah diatur serta mulutnya yang tidak bisa dijaga. Ia tinggi dan tampan serta mempunyai mata yang tajam dan keahlian bertarung diatas rata-rata. Kris jatuh cinta pada suzy dan tidak bisa berhenti mencintainya

Kim Myungsoo or Nico Kane – 17 years old

Dia seharusnya tinggal di London. Tetapi, ia pindah ke Korea dikarenakan ia tidak mau tinggal algi di london setelah batin dan raganya di siksa oleh iblis. Ia bergantung pada suatu obat dikarenakan ulah iblis itu. Ia pandai bermain musik. Myungsoo sudah terlahir menjadi orang yang lembut sangat lembut. Selain sifatnya yang lembut, ia mempunyai wajah yang bercahaya bagaikan cahaya bulan selalu meneranginya kapanpun. Selain itu, tanpa ia sadari ia jatuh cinta kepada orang yang sama seperti parabatainya Kris.

Oh Sehun – 17 years old

Sahabat kecil Suzy. Ia selalu ada untuk Suzy.  Kapanpun — dimanapun. Awalnya, ia adalah seorang manusia sampai ia berubah menjadi anak malam. Ia tampan, dan terlahir kaya raya. Ia juga diam-diam menaruh hati pada Suzy. Tetapi Suzy bahkan tidak pernah memberinya sedikit harapan untuknya  dan membuat Sehun terkadang sedikit putus asa. Terlebih saat ia melihat betapa dekatnya Suzy dengerin Kris dan Myungsoo.

[PROLOG]

Suzy Side, Winter in 1998

Di musim dingin yang menusuk itu. Bae Suzy atau yang sering disapa Suzy, sedang asyik bermain perang bola salju dengan sahabat kecilnya, Oh Sehun atau Sehun.

“Ouch, YAK Oh Sehun, akan kubalas kau,” teriaknya.

“Coba saja jika bisa,” ledek Sehun.

Mereka tetap saja asyik akan permainan itu tanpa sadar bahwa suhu di sekitar mereka semakin menurun. Tiba-tiba saja seorang wanita keluar dari pintu rumah yang tepat berada disamping Suzy. “Tidakkah kalian masuk? Suhu semakin menurun,” ujar wanita. Suzy dan Sehun menoleh ke wanita itu.

“Tapi, ini sangat seru,” cemberut Suzy.

“Suzy kecilku, ayo masuk suhu semakin menurun, ibu takut kau sakit,” bujuk wanita itu. Suzy tetap saja tidak menghiraukan bujukan wanita itu.

“Suzy, aku kedinginan, lebih baik kita masuk,” akhirnya Sehun mengeluarkan suaranya. Wanita itu pun membuat senyuman simpul untuk Sehun. Sedangkan Suzy membulatkan matanya tidak percaya. Sejak kapan Oh Sehun berada di pihak ibunya.

“Dengar bukan apa yang Sehun katakan tadi? Ayo masuk,” bujuk wanita itu lagi. Kini, Suzy hanya menurutinya. Saat, Suzy memasuki rumah itu, ia baru sadar bahwa suhu di luar memang sangat dingin sehingga saat ia memasuki rumahnya, ia merasakan kehangatan yang memeluknya. Suzy dan Sehun lekas duduk di sebuah sofa yang tepat berada pada ruang keluarga yang cukup besar itu.

“Ini,” ucap wanita yang disapa ‘mama’ oleh Suzy itu sambil memberikan keduanya cangkir yang berisi hot chocolate.

“Terima kasih,” senyum Sehun. Sedangkan Suzy hanya menerimanya dengan diam. Inilah, kenapa ia sangat benci berada di ruang keluarga. Disana terdapat foto ayahnya. Ayah yang telah meninggalkan Suzy saat Suzy masih bayi. Ibunya hanya menjelaskan bahwa ayahnya meninggalkan Suzy karena suatu urusan pekerjaan penting dan tidak pernah kembali lagi. Secara tidak langsung, ibunya mengajarkan Suzy untuk membenci ayahnya sendiri.

“Tidak bisakah aku dan Sehun pindah ke kamarku? Aku muak disini,” geram Suzy.

Ibu Suzysebenarnya tahu foto ayahnya itulah membuat Suzy tidak suka berada di ruang keluarga. Tapi, ibunya dengan sengaja memasangnya karena untuk mengenangnya, “Tidak, tidak boleh seorang lelaki dan perempuan berada di satu kamar hanya berdua,”

“Yatuhan, kami masih berumur 9 tahun,” gerutu Suzy. Ibunya hanya menggeleng. Sehun hanya cekikikan melihat Suzy.

“Apa yang kau ketawakan ha?” ketus Suzy.

“Bukan apa-apa,” pekik Sehun. “Kalau begitu, aku pulang dahulu ya. Bi, terima kasih atas hot chocolate-nya itu sungguh enak,” lanjutnya. Lalu, Sehun berdiri danmengambil jaket tebalnya itu dan memakainya.

“Hati-hati,” ujar Suzy. Sehun mengangguk dan berpamitan pada ibu Suzy dan berjalan keluar.

Saat Sehun sudah pergi.

“Ibu, kenapa kau masih memasang foto bajingan itu disini? Itu sungguh membuatku tidak nyaman,” geram Suzy.

“Bagaimanapun juga, ia ayahmu. Dan tolong sekali, bisakah kau menjaga ucapanmu? Kau baru 9 tahun sayang,” ucap ibunya sambil mengelus kepala Suzy.

“Tapi—” ibu Suzy memasang wajah seperti ‘jangan katakan sesuatu tentangnya lagi‘ dan itu berhasill membuat Suzy berhenti. “Baiklah, aku ingin tidur siang dahulu. Bangunkan aku jika sudah sore,” ujarnya. Ibunya mengangguk. Suzypun meninggalkan ruangan itu dan berjalan ke kamarnya.

Berantakan

Itulah kata yang tepat untuk mengambarkan kamar Suzy. Suzy yang bersifat tomboy sejak lahir ini, memang tidak bisa berlaga layaknya seorang gadis. Terkadang, ibunya tidak habis pikir bagaimana saat Suzy besar nanti.

Suzy langsung saja merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ya, ia tidak berbohong. Ia memang mengantuk. Pelan-pelan ia memejamkan matanya. Mimpi selalu saja ia bermimpi.

Kau berdarah malaikat. Itu tidak bisa dipungkiri lagi.

Kata-kata dari seseorang yang tidak jelas itu lagi. Lagi-lagi itu.

Tangan Suzy tergerak tetapi matanya tertutup, tetap tertutup. Ia seperti zombie, bergerak lunglai. Ia tertidur — masih tertidur. Tangannya mencari sebuah barang diatas meja kecil dekat dengan tempat tidurnya. Dan ia mengambil sebuah spidol hitam. Tanpa sadar pula, ia menggambar sesuatu ditangannya. Sebuah rune, angelic power rune.

[Catastrophically]

“Suzy, Bae Suzy bangun,” ketuk ibunya itu. Tapi, tidak ada tanda-tanda dari Suzy. Ibunya pun membuka pintunya. Dan melihat Suzy terbaring di lantai. “Yatuhan Suzy,” gemas ibunya itu. Ia menarik tangan Suzy yang tepat pada saat itu, ia timpa dengan tubuhnya. Dan saat menariknya. Ia melihat apa yang ada di tangan Suzy. Ia tercengang. “Tidak mungkin,” cemasnya. Dengan keras ia membangunkan Suzy.

“Ouch, sakit,” gumam Suzy yang kala itu masih setengah sadar.

“Ayo bangun,” tarik ibunya terburu-buru.

“Kemana?” Tanya Suzy.

“Sudah ayo bangun,” ulangnya. Suzy berdiri tegap. Mereka keluar rumah dengan cepat. Dan sang ibu langsung bergegas mengunci pintu. Tidak tahu seberapa jauhnya itu, mereka berjalan kaki menuju tujuan mereka yang entah itu kemana.

[Catastrophically]

Tok tok

Ibu Suzy mengetuk pintu itu dengan kencang. Pintu itupun terbuka dan terlihat sesosok lelaki.

“Dia ingat lagi,” cemas ibu Suzy itu. Suzy menatap mereka bingung.

“Ada apasih ma?” Ucap Suzy. Sang lelaki menatap Suzy dengan seksama dan mengalihkan pandangannya ke arah ibu Suzy lagi.

“Masuklah kedalam Jia,” ucap lelaki itu. Ibu Suzy yang ternyata bernama Jia itu menarik Suzy dengan paksa.

“Sakit ma,” keluh Suzy.

Mereka memasuki ruangan yang penuh dengan ramuan.

“Minum ini,” lelaki itu memberikan Suzy sebuah minuman berwarna merah pekat.

“Tak mau,” ucap Suzy.

“Suzy, minumlah,” senyum Jia.

“Rasanya seperti strawberry,” lanjut sang lelaki  sambil tersenyum. Suzy mau tak mau meminumnya dan lama-kelamaan matanya terasa berat dan iapun tertidur di sofa itu.

“Ceritakan kejadiannya,” ujar sang lelaki.

“Aku tidak tahu Sungyeol, tiba-tiba saja saat aku menemukannya terbaring di lantai, ia telah menggambar rune itu,” jawab Jia. Lee Sungyeol atau yang sering disapa Sungyeol ini adalah seorang warlock atau setengah manusia dan iblis. Ia adalah seseorang bukan seseorang. Tepatnya ia setengah iblis yang sangat dipercaya oleh Jia. Setengah iblis yang mempunyai kekuatan tidak terbatas.

“Tidakkah kau beritahu ia?” Tanya Sungyeol.

“Aku belum siap,” jujur Jia. “Tolong hapus ingatannya,”

“Baiklah,” jawab sang warlock. Sungyeol membaca sebuah mantra dan menyetuh kepala Suzy. “Sudah,” ucapnya. Jia mengangguk lega. Sungyeol pun membantu membawa Suzy yang masih tertidur atau mungkin pingsan ke mobilnya. Ia mengantarkan Jia dan Suzy kerumahnya.

“Terina kasih,” ucap Jia.

“Sama-sama,” jawab Sungyeol lalu pergi menggunakan mobilnya itu. Mau tidak mau, Jia harus menggengong anaknya ini kedalam rumah. Dibaringkan Suzy di tempat tidurnya. Jiapun tidak lupauntuk menghapus tanda yang ada di tangan Suzy dan  membangunkan Suzy dengan lembut.

“Bangun sayang,” ucap Jia.

Suzy membuka matanya, “Oh, sudah sore ya?” Gumam Suzy. Suzy mengangguk dan tersenyum.

 Tiap tahun

Jia membawa Suzy ke Lee Sungyeol

Untuk menghapus ingatan Suzy

Ingatan-ingatan baru Suzy

Tentang siapa ia sebenarnya

♣♣♣

Kris Side, Guangzhou — November 1999

Kris histeris melihat kakanya di bunuh oleh iblis itu. Iblis hijau yang tidak sengaja Kris lepaskan dari kotak yang mengurungnya kini merampas nyawa sang kakak.

“Kini, semua orang yang mencintaimu akan tersiksa,” kutuk sang iblis dan meninggalkan Kris sendirian. Kris menangis layaknya anak berumur 3 tahun, ya, walaupun ia masih berumur 11 tahun.

“Papa,” teriaknya histeris. Lalu seorang lelaki memasuki ruangan itu.

“Apa yang terjadi?” Lelaki itu kaget melihat anak perempuannya sudah terkulai lemah dipangkuan Kris.

“Ia melindungiku dari iblis hijau yang tidak sengaja aku lepaskan dari kotak itu,” isaknya sambil menunjuk kotak yang telah terbuka. Lelaki itu atau yang biasa disebut baba oleh Kris mendekati anak perempuannya yang terbaring lemah itu. Ia mengendong anaknya itu dan berdiri.

“Tidak,” hanya itu yang keluar dari mulut sang papa.

“Apakah ia baik-baik saja?” Tanya Kris, tapi sang papa tidak menjawab ia hanya menunduk dan keluar dari ruangan itu.

[Catastrophically]

Hari ini, hari dimana pemakaman kakak Kris berlangsung. Hari dimana Kris merasa paling bersalah. Hari dimana ibunya dan adiknya tidak berhenti menangis dan Kris membeku, tidak harus apa. Ia hanya teringat akan kutukan sang iblis. Ya kutukan itu. Kris teringat akan kutukan itu. Ide gila menyerangnya.

“Pa, aku pulang duluan ya,” ujar Kris. Sang ayah hanya mengangguk.

Kris berjalan sendirian. Rasa bosan menyerangnya. Ia mulai menendang-nendang kerikil yang berada dijalan. Ia senang sekaligus sedih dengan idenya ini. Akhirnya ia sadar bahwa sedari tadi seorang lelaki mengikutinya dari belakang.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kris.

“Aku disuruh menemanimu sampai ke rumah oleh tuan Kevin,” ujar seorang lelaki yang ternyata ajudannya sendiri.

“Sudahlah, kembali sana,” perintah Kris. Bawahan ayahnya itupun langsung menurutinya dan meninggalkan Kris sendirian. Kris berjalan hingga sampailah ia ke rumahnya. Ia memasuki kamarnya dan berkemas. Kris berencana pergi. Pergi dari China dan pindah ke Korea. Ke institut yang berada di Korea agar jauh dari keluarganya. Agar keluarga tidak tersiksa karena masih menyayanginya.

Kris yang notabenya anak dari seseorang yang penting di negaranya. Dengan hanya memberitahukan namanya dan marganya, ia bisa mendapatkan tiket pesawat gratis. Ia pergi meninggalkan China dengan cepat.

[Catastrophically]

“Kenapa kau kembali?” Tanya papa Kris alias Kevin Wu.

“Tuan Krismenyuruhku kembali tuan,” ucapnya.

“Sudah kubilang ikuti dia,” ucap Kevin. “Ah, kau ini menyusahkan,” lanjut Kevin. Kevin langsung saja menaiki kereta kudanya dan pulang ke rumah. Saat ia sampai di rumah, ia mendapati Kris sudah tidak ada. “Sudah kuduga,” ujar Kevin.

Tepat saat itu juga, mama Kris pulang.

“Ada apa?” Tanyanya.

“Kris pergi,” ujar Kevin.

“Kemana?” Tanyanya lagi.

“Mungkin ke institut yang berada di Korea, karena hanya institut itu yang terdekat dari sini,” jelas Kevin. Kaki mama Kris melemas dan terjatuh. “Kita beristirahat saja dahulu,” lanjutnya.

[Catastrophically]

“Dimana institut itu?” Gumam Kris sendirian. Bulan telah menerangi malam itu tapi Kris tak kunjung menemukan institut itu. Orang-orang di sekitarnya menatapnya aneh. Ya, bagaimana seorang bocah berumur 11 tahun keliling Korea dengan tas besar yang digendongnya.

Ada sesuatu yang menarik pandangan Kris. Gereja tua. Itulah yang menarik pandangan Kris. Kris berencana istirahat disana. Ia berjalan menuju gereja tua itu. Tapi, semakin dekat ia dengan gereja itu. Bangunannya seperti berubah pelan-pelan. Akhirnya, Krispun sampai di depan gereja tua itu. Tapi, yang ia lihat bukan sebuah gereja, melainkan sebuah bangunan tua besar seperti istana.

“Demi Malaikat Raziel, terima kasih,” ucap Kris. Kris menyentuh pagar itu dan otomatis pagar itu terbuka. Karena hanya darah setengah malaikatlah yang bisa membuka pagar itu. Ia mengetuk pintu itu dan terlihatlah seorang wanita membukannya.

“Nuguya?” Ucap sang wanita.

“Euh…” Jawab Kris karena ia tidak mengerti bahasa Korea. Sebenarnya, ia mengerti tapi hanya sedikit.

“Tak bisa bahasa Korea?” Tanya wanita itu dengan bahasa Inggris. Kris hanya mengangguk. “Kau siapa?” Lanjut wanita itu.

“Wo jiao Kris,” jawab Kris.

“Oh, dari China rupanya, aku tahu marga Wu,” kata wanita itu. “Mari masuk,” ujarnya. Kris memasuki bangunan itu.

“Wah besarnya,” gumam Kris. Walaupun Kris tinggal di tempat yang cukup besar juga. Tapi, tempat ini jauh lebih besar. Langit-langit gedung itu sangatlah indah. Apalagi untuk Kris yang mencintai kemewahan. Tempat itu sangat indah baginya. Wanita itu mengajak Kris duduk.

“Berapa umurmu?” Tanyanya.

“11 tahun,” jawab Kris.

Daebak,” ucap wanita itu.

Xiexie,” balas Kris.

“Kau mengerti bahasa Korea?” Tanya wanita itu.

“Sedikit,” ucap Kris.

Wanita itu tersenyum, “Namaku Park Bomi, aku kepala institut ini.”

“Bomi noona,” dengan otomatis Kris memanggilnya noona.

“Pertama, panggil aku Bomi. Nephilim tidak seformal kelihatannya,” jelas Bomi. “Kedua, ni shi bushi Shanghai ren?” Tanyanya.

Wo bushi Shanghai ren, wo shi Guangzhou ren,” jawab Kris.

“Oh,” ucap Bomi. “Siapa nama orang tuamu?”

“Kevin Wu,” kata Kris.

Bomi seperti mendengar nama seseorang yang sudah mati, “Bukankah ia yang menikahi manusia dan berhenti menjadi shadowhunter?”

Kris hanya mengangguk lemas, “Iya,” jawabnya.

“Sudah, lebih baik kau istirahat,” kata Bomi. “Krystal,” teriak Bomi. Lalu, datanglah seorang pelayan kecil.

“Ya, ada apa?” Jawabnya.

“Tolong antarkan Kris ke kamarnya,” ucap Bomi. Krystal hanya mengangguk. Sungguh, ia mengagumi wajah Kris yang sangat tampan walaupun ia hanya bocah berumur 11 tahun. Sesungguhnya, Krystalpun baru menginjak 11 tahun. “Ikuti saja dia,” kata Bomi. Kris hanya mengangguk dan berdiri mengikuti Krystal.

Sungguh, institut ini sangat luas bagi Kris. Kris sedari tadi memandangi Krystal yang hanya diam. Sebenarnya, Krystal notabenya hanya seorang pelayan. Jadi, ia tidak berani membuka mulut sedikitpun. Dengan dihantui dalam keheningan, akhirnya Kris sampai pada kamarnya. Kamar itu tidak terlalu luas. Kasur putih berada di pojok ruangan. Lagi-lagi tanpa alasan Kris terdiam di depan kamar itu memperhatikan isinya.

Krystal bingung dengan Kris, “Tenang saja, kamar ini tidak dikutuk. Disini hanya sedikit gelap saja,” akhirnya Krystal membuka mulut.

Dikutuk.

Kris mengingat kembali. Bahwa ia dikutuk, dikutuk oleh iblis hijau sialan itu. Tidak boleh ada orang di institut yang sayang padanya.

“Aku tidak takut gelap. Sekarang kau bisa tinggalkanku,” ucap Kris sinis. Dan menutup pintu dengan keras.

“Juteknya,” protes Krystal. Tanpa Krystal tahu, bahwa ialah yang salah ucapan. Ialah yang memulai sifat Kris yang polos menajdi dingin dan tajam itu. Sifatnya yang berubah 180º.

[Catastrophically]

Kris pergi ke ruang makan. Ia melihat Bomi tersenyum padanya.

“Kau duduk disini,” ucap Bomi. Lalu Bomi memperkenalkan semua yang ada di institut.

“Ini Kim Jongin, lalu ini suamiku Park Jinyoung, ia Son Naeun dan ini kakanya Luhan,” jelas Bomi. “Luhan dan Naeun berasal dari Tiongkok, tepatnya Beijing,” lanjut Bomi. Kris hanya mengangguk.

“Kau tampan sekali,”  ceplos Naeun.

“Memang, terimakasih,” jawab Kris singkat. Bomi tersenyum melihat Kris. Sebenarnya, ia kaget juga melihat perubahan sifat Kris.

[Catastrophically]

Seoul Institute, December 1999.

“Kris,Kris, ayo keluar temui orang tuamu,” bujuk Bomi.

“Tidak mau.” Kris menangis sambil meringkuk dibawah ranjangnya.

“Ayolah Kris, jebal,” pinta Bomi lagi.

“Kubilang tidak mau, kau bebal, usir mereka sekarang juga,” ucap Kris.

Bomi kaget bukan kepalang. Iapun menyerah. Ia keluar dengan tampang lesu. Dan bilang pada orang tua Kris bahwa ia tidak ingin menemui mereka dan menyuruh mereka pergi. Kevin kaget mendengar anaknya kenapa menjadi seperti ini. Iapun memutuskan untuk pergi dengan istrinya meninggalkan institut itu. Bomi kembali memasuki kamar Kris.

“Mereka sudah pergi,” lirih Bomi.

“Sekarang kau yang pergi dari kamarku,” balas Kris.

Walaupun ia baru sebulan bertemu Kris, tapi ia sudah menganggap Kris anaknya sendiri, “Baiklah,” jawab Bomi. Iapun keluar dan menutup pintu meninggalkan Kris yang meringkuk dibawah kasur sambil menangis.

[Catastrophically]

Seoul Institute, February 2000.

Semua penghuni Institut sedang bersantai di ruang itu. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu.

“Siapa itu?” Bingung Jongin.

“Aku tidak tahu,” balas Luhan. Mereka semua beranjak menuju pintu. Krystal membuka pintu. Dan terlihatlah seorang namja tinggi yang kurus kering.

“Annyeong haseo, Kim Myungsoo imnida,” kata namja yang bernama Myungsoo itu sambil membungkuk. Entah kenapa, jiwa Kris seperti terhubung dengannya.

“Annyeong Myungsoo, silahkan masuk,” ucap Bomi.

♣♣♣

Myungsoo Side, London Institute — November 1999

“Nico, kau diam disitu. Mom mohon jangan bersuara,” ucap seorang wanita sambil mencium pipi Nico.

“Nico, kau harus dengarkan perkataaan mom-mu barusan, jangan keluar dari sana sebelum dad suruh,” lanjut sang ayah. Nico hanya mengangguk dan sembunyi di lemari tua itu.

Di dalam sana gelap, sempit serta pengap. Tapi, anehnya Nico masih bisa bernafas. Padahal, tidak ada lubang udara sedikitpun. Nico berada dalam keheningan yang menyelimutinya. Hingga, ia mendengar suara teriakan ibunya. Nico bergegas keluar. Tidak peduli apa yang ibunya dan ayahnya katakan kepada Nico. Ia tetap keluar dari lemari itu dan mengambil pedang perak diatas kasur ayahnya dan keluar dengan lagak seperti tidak takut dengan apa yang ia hadapi.

“Jangan sakiti ibu dan ayahku,” teriak Nico sambil menodongkan pedangnya.

“Nico,” ucap lemas ibunya.

“Nico, apa yang kau lakukan,” teriak ayahnya. Nico gemetaran. Sang iblis menghampirinya dengan tawanya yang meledak.

“Wah, ternyata kedua nephilim ini mempunyai anak,” tawa sang iblis menggelegar di institut.

“Jangan mendekat atau kubunuh kau,” ucap Nico ketakutan.

“Kau bodoh, iblis Yanlou sepertiku tidak takut dengan ancaman bocah kecil.” Yanlou menangkis pedang Nico dengan sekali jentikan. Nico ketakutan bukan kepalang. Yanlou telah membunuh semua penjaga. Kini hanya tersisa Nico, ibunya dan ayahnya. Melihat Nico, rencana Yanlou berubah. Ia tidak jadi langsung membunuh Kim Sunggyu dan Amelia Kane, ia berencana untuk menyiksa mereka. Lewat putra kecil mereka. Yanlou mengikat Nico di kursi. Ia menaruh Nico di depan kedua orang tuanya yang juga di ikat. Yanlou memulai aksinya menyiksa Nico. Ia menyuntikkan racun iblis atau Yinfen ke Nico. Efeknya langsung menghanguskan pembuluh darah Nico dan mengoyakkan pikirannya. Nico samar-samar mendengar teriakan ibunya. Dua hari. Dua hari Nico keluar masuk dunia mimpi dan halusinasi. London yang terbakar, dunia tenggelam dalam darah, jeritan-jeritan orang sekarat. Setiap beberapa jam, Nico kembali ke dunia nyata hanya untuk melihat orang tuanya menjeritkan namanya.

[Catastrophically]

Nico terjaga penuh. Tetapi, ia hanya mendengar teriakan ayahnya. Ibunya telah dibungkam. Suara ayahnya kering dan serak seperti tidak pernah diberi minum. Ayahnya memanggil namanya. Bukan nama Inggrisnya. Ia memanggil Nico dengan nama Koreanya. Nama lahir yang diberikan oleh ayahnya. Kim Myungsoo. Nico atau Myungsoo bersyukur masih bisa mendengar suara ayahnya. Tapi, diselingan kebahagian Nicobahwa kedua orang tuanya masih hidup, iblis itu datang lagi. Ia lagi-lagi menyuntikkan Yinfen ketubuh Stephan.

[Catastrophically]

London Institute, December 1999.

Brak

Para enklaf atau pasukan Shadowhunter memasuki ruangan. Iblis Yanlou itu panik. Tapi, dengan cekatan mereka menyerang iblis Yanlou itu. Tetapi, dasarnya Yanlou itu iblis kuat. Ia tidak bisa dengan mudah dibunuh. Yanlou melarikan diri. Para enklaf menemukan Kim Sunggyu dan Amelia Kane tewas menggenaskan. Sedangkan Nico ditemukan menjerit-jerit, mengigau tak karuan. Para enklaf panik. Institut sudah hancur. Dimana-mana bergeletakan mayat. Dan hanya satu yang hidup. Hanya Nico. Para enklaf membawa Nico ke Saudara Hening atau Silent Brother. Karena hanya Saudara Hening lah penyembuh paling hebat di dunia shadowhunter. Para Saudara Hening menyembuhkan Nico dengan sekuat tenaga mereka. Tapi, ada satu yang tidak bisa diperbaiki oleh mereka. Nico sudah kecanduan. Kecanduan akan racun iblis itu. Tubuhnya tergantung pada racun itu. Seperti narkoba yang mencandui tubuh pecandunya. Para enklaf mencoba membuat Nico untuk tidak kecanduan racun iblis atau Yinfen lagi. Mereka mencoba menyapihkan Nico dari racun itu. Tapi, bagi Nicohidup tanpa Yinfen membuatnya merasakan sakit yang sangat luar biasa. Bahkan, para enklaf bisa menghalangi rasa sakit yangNico asakan oleh mantra warlock. Tetapi, tubuh Nico bagaikan berada di ambang kematian karena tidak ada racun itu.

[Catastrophically]

London Institute, January 2000.

Setelah berminggu-minggu para enklaf melakukan segala percobaan untuk Nico. Mereka memutuskan untuk membiarkan Nico dan racun iblis itu. Sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Hidup Nico tergantung racun itu. Padahal, racun itu sendiri ialah kematian perlahan Nico. Tapi, tanpa racun itu berarti kematian cepat.

 [Catastrophically]

London Institute, February 2000.

“Kau ingin menetap di London atau tidak?” Tanya seorang lelaki tua.

“Tidak,” jawab Nico tegas.

“Kenapa?” Tanya lelaki tua itu lagi.

“Tinggal disini sama saja menyiksa batinku,” jawab Nico.

“Lalu kau ingin kemana?” Lelaki tua itu membuang puntung rokok yang ia hisap.

“Korea, Institut di Korea,” ujar Nico.

“Tapi itu sangat jauh Nico,” gumam sang lelaki tua.

“Tapi, darisanalah ayahku berasal Kek. Dan, kumohon jangan panggil aku Nico lagi. Panggil aku Myungsoo. Kim Myungsoo. Mulai detik ini, aku tidak akan menggunakan nama Nico lagi. No more Nico Kane. Jika mengingat itu, aku seperti tinggal di mimpi buruk yang selalu mencekamku,” jelas Nico. Sang kakek hanya mengangguk saja. Kini, nama Nico Kane hanya kenangan belaka yang sungguh kelam. Ia menggantinya menjadi Myungsoo. Nama yang ayahnya buat untuknya.

“Baiklah Myungsoo,” ucap sang Kakek. “Kapan kau angkat berangkat?”

“Malam ini juga,” ucap Myungsoo.

“Kau gila ya? Tidak mungkin ada pesawat malam ke Korea,” cerewet sang Kakek.

“Tidak bisakah aku menggunakan portal?” Tanya Myungsoo.

“Kau masih dibawah umur bocah ingusan,” ucap sang Kakek.

“Yasudah temani aku,” kata Myungsoo singkat.

Sang Kakek kaget mendengar kegigihan cucunya,”Baiklah.”

Myungsoo berjalan menuju kamarnya. Kamar inilah tempat dimana Myungsoo besar. Ia mengemas barangnya. Semua baju-bajunya. Semua mainannya. Bagaimanapun, semengerikan kehidupannya. Ia masih bocah 11 tahun yang perlu mainan. Lalu, ia membuka night stand-nya. Srek. Terdengarlah suara laci dibuka. Dan, terlihat sebuah kotak. Kotak ini terbuat dari emas, lidahnya bertatah glasir dengan seorang perempuan langsing dalam jubah putih, bertelanjang kaki dan memegang kertas papirus panjang. Sehun membuka kotak itu perlahan. Dan terlihat sebuah abu keperakan tebal yang berwana perak terang. Sehun seperti mencintai dan membenci obat atau Yinfen itu. Ia menutup kotak itu lagi. Dan memasukannya ke tas yang akan dia bawa. Ia beralih ke meja kecil di dekat jendela. Disitulah foto kecilnya berada. Lalu, padangan Sehun terpaku pada sebuah patung kecil dewa Zeus pemberian ayahnya.

Flashback

April 1997.

“Selamat ulang tahun Nico.” Amelia mencium pipi anak satu-satunya. “Mom memberikanmu buku-buku ini, kau harus membacanya yah,” lanjutnya. Nico yang notabenya tidak suka membaca hanya tersenyum dan memeluk ibunya. Bagaimanapun juga itu pemberian ibunya.

Lalu ayahnya menghampirinya, “Ini untukmu Myungsooku.”

Myungsoo senang akan pemberian ayahnya. Ia memeluk ayahnya dengan erat.

“Kau harus menjadi seperti dewa Zeus, tangguh, kuat dan tidak terkalahkan,” ucap Kim Sunggyu sambil mengacak-acak rambut Myungsoo.

Flasback end

“Maafkan aku dad, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku lemah. Hidupku bahkan tergantung dengan benda sialan itu,” umpat Myungsoo. Bagaimanapun juga, kejadian itu benar-benar mengubah sifat Myungsoo. Dari nakal menjadi baik. Dari kekanak-kanakan menjadi dewasa. “Akhirnya selesai juga,” ujar Myungsoo. Ia keluar untuk menemui kakeknya.

“Kek, ayo berangkat,” ujar Myungsoo.

“Kakek tidak ikut, kamu sendiri saja melewati portalnya, warlock Jackson akan membantumu,” kata sang Kakek. Myungsoo hanya mengangguk. Ia mengikuti apa yang warlock Jackson bilang. Lalu terbukalah sebuah pintu besar di dalam Institut.

“Sebutkan tujuanmu,” kata sang warlock.

“Institut Seoul,” jawab Myungsoo.

“Sekarang lompat ke dalam,” teriak warlock Jackson. Myungsoo menengok kebelakang dan melihat kakeknya melmbaikan tangan. Myungsoo tersenyum kepada kakeknya dan melompat.

Splash

Myungsoo jatuh di rerumputan setelah melewati perbatasan waktu antar Seoul dan London. Seperti sebuah perjalanan bayangan.

“Ouch, seperti inikah rasanya menggunakan portal,” gerutu Myungsoo. Ia berdiri dan membersihkan bajunya. Ia berjalan menuju pintu Institut dan mengetuknya. Tidak berapa lama kemudian, ada seorang wanita yang membukannya. Myungsoo bak melihat keluarga. Banyak sekali orang yang menjemputnya.

“Annyeong haseo, Kim Myungsoo imnida,,” bungkuk Myungsoo.

“Annyeong Myungsoo, silahkan masuk,” sang wanita tersenyum melihat Myungsooo. Myungsoo memasuki Institut itu. Tidak jauh berbeda dengan yang berada di London. Seorang pelayan kecil menyuruh Myungsoo duduk di sofa.

“Annyeong Myungsoo, aku Park Bomi, kepala Institut ini,” ujar Bomi memperkenalkan diri. “Kau berasal darimana?”

“Institut London,” jawab Myungsoo.

“Nico Kane?” Kata seorang lelaki. Myungsoo mengangguk. “Aku Park Jinyoung, masih ingatkah kau?” Lanjutnya.

“Kau parabatainya dad bukan?” Ucap Myungsoo.

Jinyoung mengangguk, “Apa kabar dengan Sunggyu? Apakah ia baik-baik saja? Rune parabataiku sudah 3 bulan sakit sekali, seperti terputus.”

“Dad sudah meninggal,” ucap Myungsoo. Sunggyumelongo mendengarnya. Pantas saja rune-nya bulan-bulan terakhir ini sakit dan menghilang, Jinyoung kira, itu karena Sunggyu sangat jauh darinya. Tapi ternyata, parabatai-nya telah meninggalkannya.

“Meninggal kenapa?” tanya Jinyoung.

“Coba tanya istrimu saja,” kata Myungsoo lembut.

Bomi yang tadi terdiam akhirnya membuka mulut, “Myungsoo, kau bisa ke kamarmu dahulu. Kris, tolong antarkan Myungsoo ke kamarnya, kamarnya tepat di sebelah kamarmu.”

Myungsoo memandangi seorang bocah yang sepertinya umurnya sama seperti Myungsoo. Bocah itu mengajak Myungsoo mengikutinya. Sementara Bomi menceritakan semuanya, tentang iblis Yanlou dan lainnya. Tentang seluruh kepala institut harus mencari obat untuk Nico Kane ataus ekarang Kim Myungsoo.

Mereka berjalan dalam keheningan, tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Hingga akhirnya, bocah yang menemani Myungsoo berjalan membuka mulut.

“Siapa namamu?” Tanyanya.

“Kim Myungsoo,” jawab Myungsoo.

“Tapi kenapa Jinyoung memanggilmu Nico Kane?” Tanyanya lagi.

“Itu nama Inggrisku atau nama dari ibuku. Ibu dan ayah berbeda kebangsaan. Ibuku American sedangkan ayahku Korean,” jelas Myungsoo.

“Oh, aku Wu Yifan atau orang-orang memanggilku Kris Wu atau Kris juga bsia, senang mengenalmu,” ucap bocah yang ternyata bernama Kris itu. “Umurku 11 kau?” Tanya Kris.

“Sama.” Myungsoo membuat senyum simpul. Entah kenapa, Myungsoo seperti merasa tersambung dengan Kris. Saat mereka hampir sampai, kaki Myungsoo melemas. Ia kolaps, ia tidak kolaps sepenuhnya ia setengah sadar. Ya, SMyungsoo membutuhkan racun iblis itu. Kris panik bukan kepalang. Ia menarik tubuh Myungsoo ke kamarnya. Lalu, ia menidurkan Myungsoo di ranjanga. Untung, tubuh Kris jauh lebih besar dari Myungsoo.

“Kotak emas di tasku,” ucap Myungsoo lemah. Kris segera membuka tasnya. Ia mengacak-acak tas Myungsoo hingga ia menemukan kotak emas itu. Kris memberikan kotak itu pada Myungsoo. Kris tidak mengerti, entah Myungsoo menghirupnya atau meminumnya. Sehabis meminum itu Myungsoo tertidur. Kris yang melihat Myungsoo tertidur merasa iba. Ia membereskan semua barang-barang Myungsoo. Ditata dengan rapih. Lalu, ia menaruh kotak itu persis di samping Myungsoo. Saat ia membereskan barang-barang Myungsoo, ia menemukan banyak buku dan Kris tersenyum melihat itu karena Kris sangatlah mencintai buku. Ia meninggalkan Myungsoo untuk beristirahat dan kembali ke ruangan tadi.

“Kris, kau kenapa?” Tanya Luhan.

“Myungsoo, ia aneh, tiba-tiba ia menghirup atau meminum sebuah abu aku tidak mengerti dan tiba-tiba tertidur,” jelas Kris. Bomi mengangguk. Bomi menceritakan semuanya ke penghuni Institut itu. Ia bagaikan seorang ibu yang menceritakan dongeng ke anak-anaknya. Semuanya memperhatikan seksama. Memperhatika Bomi yang sedang bercerita tentang asal-usul Myungsoo yang sebenarnya.

[Catastrophically]

Seoul Institute, March 2001.

Kris dan Myungsoo. Mereka seperti saudara. Bahkan melebihi saudara. Kris menyayangi Myungsoo, begitu pula sebaliknya. Mereka bukan saudara. Tapi mereka bahkan melebihi saudara. Myungsoo bisa dibilang adalah kelemahan Kris. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk mejadi parabatai. Dimana 2 orang yang lebih dekat bahkan dari saudara mereka sendiri dan saling melindungi satu sama lain. Dimana sering dikenal sebagai 2 orang yang hampir menyerupai 1 orang. Diikat melalui upacara dan hanya bisa memilih 1 parabatai untuk seumur hidup dan bersumpah untuk melindungi satu sama lain.

 Entreat me not to leave thee,

Or return from following after thee—

For whither thou goest, I will go,

And where thou lodgest, I will lodge.

Thy people shall be my people, and thy God my God. 

Where thou diest, will I die, and there will I be buried. 

The Angel do so to me, and more also,

If aught but death part thee and me.

 

Itulah sumpah yang Kris dan Myungsoo ucapkan. Lalu dibuatlah rune parabatai di tangan mereka masing-masing.

THE END

p.s :

Entahlah, kalian suka genre ini atau tidak. INGAT ini based dari mortal instrument dan infernal devices. Ini bisa dibilang mix diantara kedua novel itu. Dimohon apresiasinya. Dan ini juga bisa dibilang ff aku yang remake.

Wo  jiao Kris : Aku dipanggil Kris.

Ni shi bushi Shanghai ren : apakah kau orang Shanghai?

Wo bushi Shangha ren, wo Guangzhou ren : aku bukan orang Shanhai, aku orang Guangzhou.

tattoo___runes_i_by_bhanesidhe-d1hh5rs

CONTOH RUNE

 

42 responses to “Catastrophically [Beginning]

  1. Pingback: Catastrophically [1st] | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Owh aq ngerti skrang thor, jdi suzy itu stngh manusia and malaikat gtu yah, sbnr’a apa yah yg udh di smbunyiin ama jia dari suzy? Tetap semanget yah wat bikin ff’a thor and next’a jangan lama” ne. Fighting ne

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s