Mistakes and Regrets #2

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo

 Poster by animeputri @High School Graphics

 I don’t own anything besides the storyline

First Encounter

 Seoul, 2016

Sebuah audi hitam memasuki halaman sebuah rumah yang dapat dikatakan mewah. Dari dalamnya kemudian keluar seorang yeoja cantik dan seorang namja yang kemudian bergegas mengeluarkan sebuah koper dari bagasi. Dari dalam rumah kemudian keluar seorang wanita paruh baya, yang kemudian sedikit berlari menghampiri yeoja yang baru saja keluar dari mobil. Begitu sampai di depan yeoja itu, wanita paruh baya itu langsung memeluknya.

“Sooji-ah, Aigoo. Sooji-ah neomu yeppo. Kau sudah menjadi yeoja dewasa sekarang.” Wanita paruh baya itu melepas pelukannya dan memandangi Sooji.

Sooji tersenyum kikuk, kemudian dibungkukkannya sedikit tubuhnya, “Annyeonghaseyo, oremanieyo Nam Yimo.”

“Aigoo, Uri Sooji. Akhirnya kau pulang, nak.” Nyoya Nam – Ibu Woohyun, kembali memeluk erat Sooji.

“Ehem. Oemma, Sooji pasti lelah, biarkan dia istirahat, Oemma jangan terus-terusan memeluknya, dia pasti risih.

Ocehan Woohyun membuat Nyonya Nam melepaskan pelukannya terhadap Sooji. Ditepuk-tepuknya, tangan Sooji perlahan, kemudian ditariknya Sooji menuju rumah, “Kau pasti lelah ya, ayo masuk dan kau bisa langsung istirahat. Yimo akan meminta Bibi Ham menyiapkanmu segelas susu coklat.”

“Emm, boleh aku minta secangkir teh dan bukan susu, Yimo?”

Ne? Tapi biasanya kau suka sekali susu coklat.”

Ani Yimo, aku sedang ingin teh saat ini.”

Geure.. Yimo akan meminta Bibi Ham mengantarkanmu secangkir teh hangat.”

Sooji menanggapi ucapan Yimonya dengan sebuah senyuman tipis.

Di depan sebuah kamar yang berada di lantai dua, Nyonya Nam akhirnya berhenti. Nyonya Nam kemudian membuka pintu kamar tersebut dan mengajak Sooji masuk ke dalamnya.

“Ini akan menjadi kamarmu, Sooji-ah. Semoga cukup luas untukmu ya. Kau bisa langsung berisitirahat. Kalau ada apa-apa kau bisa minta bantuan Woohyun atau Bibi Ham.”

Ne, Jeongmal gamsahamnida, Yimo.”

Bibi Han kemudian mengelus rambut Sooji perlahan setelah itu kembali berjalan menuju pintu.

“Ah Yimo, Samchon i odiyeyo? Aku ingin mengucapkan salam.”

Nyonya Nam memutar tubuhnya dan kembali menatap Sooji, “Dia ada di ruang kerjanya Sooji-ah. Kau masih ingat letak ruang kerja Samchonmu kan?”

Sooji mengangguk menjawab pertanyaan Yimonya. Sedikit banyak dia masih ingat tata letak ruangan rumah Samchonnya karena Ibunya sering membawanya ke sana saat dia masih kecil. Nyona Nam tersenyum, “Tapi kau tak perlu memaksakan diri. Dia pasti mengerti bahwa keponakannya baru saja melewati perjalanan yang cukup jauh. Kau bisa menyapanya nanti saat makan malam Sooji-ah.”

Sooji menggeleng lalu tersenyum kecut, “Nan gwenchana, Yimo. Kurasa ada yang perlu Samchon sampaikan padaku hingga mendesakku untuk segera pulang.”

Nyonya Nam ikut tersenyum getir melihat ekspresi Sooji, “Geure. Terserah kau saja, Sooji-ah. Yimo tinggal dulu kalau begitu.” Nyonya Nam kemudian kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Sooji.

Selepas kepergian yimonya, Sooji menghela nafas dan matanya kemudian menjelajahi kamar barunya. Dilihatnya kopernya sudah diletakkan oleh Woohyun di kaki tempat tidurnya yang berukuran king size. Kamarnya cukup luas dengan warna dinding putih bersih. Sebuah kaca besar berdiri tegak di ujung ruangan dengan lemari enam pintu berada di sebelahnya. Terdapat sepasang meja dan kursi, dan sebuah sofa mungil di pojok ruangan lengkap dengan lemari buku. Semuanya berwarna putih. Senyum kecil tersampir di bibirnya, Sooji menyukainya, mengingatkannya pada Oemmanya. Kamarnya memiliki balkon yang menghadap ke halaman belakang rumah. Sooji melangkahkan kakinya menuju balkon. Dari balkonnya, Sooji dapat melihat kolam renang dengan sebuah gazebo kecil di pojok halaman. Sooji kembali menghela nafas. Dia tidak menyangka dirinya kini benar-benar telah berada di Korea. Sooji memejamkan matanya, Kini saatnya untuk menghadapi Samchonnya.

Tok tok tok

“Masuk.”

Mendengar jawaban dari Samchonnya, Sooji pun membuka pintu ruang kerja Samchonnya dan melangkah masuk. Begitu masuk, dilihatnya Samchonnya yang tengah berkutat dengan dokumen-dokumen di tangannya.

Sooji kemudia membungkukkan tubuhnya sedikit, “Annyeonghaseyo Samchon. Na yeogi isseoyo.”

Sooji melihat Samchonnya meletakkan dokumen-dokumennya di meja, melepas kaca matanya kemudian menatap Sooji.

“Kau sudah sampai rupanya.”

Ne, Samchon.”

Tuan Nam menganggukkan kepalanya, bertanya-tanya mengapa anaknya – Woohyun, tidak memberitahunya perihal kedatangan Sooji.

Tuan Nam kembali memfokuskan pandangannya pada Sooji, “Kau tumbuh dengan baik Sooji-ah.”

Sooji membungkukkan tubuhnya sedikit, “Ini berkatmu Samchon.”

Tuan Nam tersenyum kecil mendengar jawaban Sooji, “Kau pasti tahu alasan mengapa aku memintamu untuk secepatnya kembali kan, Sooji-ah?”

Sooji diam, tidak menjawab pertanyaan Samchonnya. Tangannya mengepal kencang, tentu saja dia tahu.

Tangan Tuan Nam terulur mengambil kacamatanya yang tadi sempat ditanggalkannya dan memakainya kembali. Dia berdeham pelan, “Kau bisa kembali ke kamarmu dan beristirahat. Kita akan membicarakan hal ini lagi nanti.”

Sooji membungkukkan kembali tubuhnya, “Ne Samchon.”

Ketika Sooji berbaalik arah dan membuka pintu ruang kerja Samchonnya bermaksud untuk keluar, didengarnya Samchonnya kembali berbicara, “Anggap saja ini rumahmu Sooji-ah. Dan… Tolong persiapkan dirimu.”

Sooji hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Samchonnya.

Sooji menatap langit malam dari balkonnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi matanya tak kunjung menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Pikiran Sooji kembali melayang pada ucapan Samchonnya tadi. Setelah makan malam Samchonnya mengajak dirinya dan Woohyunh ke ruangannya. Sooji menghela nafas dan memejamkan matanya.

“Aku tahu kau lelah, Sooji-ah. Mianhae. Tapi menurutku kau sudah cukup besar untuk memahami bahwa hal ini merupakan hal yang sangat penting.”

Sooji tetap diam, mendengarkan setiap perkataan Samchonnya.

“Kau tahu kan bahwa Oemmamu, ani, Oemma tirimu, Lee Nahyun, mengambil alih perusahaan ayahmu?”

Rahang Sooji mengeras, tentu saja dia tahu. Dia tahu bahwa Oemma tirinya dan SUAMI barunya kini mengambil alih perusahaan ayahnya semenjak ayahnya meninggal hampir 6 tahun yang lalu. Sooji juga tahu bahwa Oemma tirinya mengatakan kepada publik umum bahwa dirinya, Bae Sooji, pewaris sah dari Jaesan Group mengalami gangguan jiwa akibat ditinggalkan oleh ayahnya.

“Kau pasti tahu bahwa kau akan menjadi pewaris sah Jaesan saat umurmu 22 tahun berdasarkan surat wasiat ayahmu, dan tidak ada satupun yang dapat mengubah kenyataan itu. Bahkan Lee Nahyun sekalipun.”

Sooji tetap diam, tidak menaggapi apapun ucapan Samchonnya.

“Saat ini, publik percaya bahwa seorang Bae Sooji mengalami gangguan jiwa. Lee Nahyun tidak mengetahui sama sekali mengenai keberadaanmu dan tidak tahu bahwa selama ini kau, aku sembunyikan di Jepang. Dia percaya bahwa kau benar-benar hilang ingatan dan mengalami gangguan kejiwaan akibat kecelakaan itu dan tidak akan kembali. “

Rahang Sooji mengeras mendengar kata kecelakaan yang diucapkan oleh Samchonnya. Giginya bergemeletuk pelan.

Tuan Nam tentu saja mengerti sebesar apa kebencian Sooji pada Ibu tiriya itu. Tuan Nam tahu bahwa Sooji sempat sangat menyayangi Lee Nahyun dan pengkhianatannya menyebabkan luka yang dirasakan Sooji sangat dalam.

Tuan Nam menghela nafas kemudian bangkit dari kursinya dan menghampiri Sooji.

“Kau, Bae Sooji, adalah pewaris sah Jaesan. Kau putri satu-satunya dari Bae Sunghoon. Aku akan membantumu merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu, Sooji-ah.”

Sooji mengerutkan dahinya mendengarkan ucapan Samchonnya, “Aku tidak menginginkannya Samchon. Aku tidak ingin perusahaan Appa. Aku hanya ingin membalas dendam pada Lee Nahyun sialan itu.” Jawaban Sooji terdengar sangat dingin.

Tuan Nam memegang kedua pundak Sooji, “Jaesan adalah segalanya bagi Lee Nahyun. Begitu kau merebutnya, dia tidak akan memiliki apa-apa lagi.”

“Tapi Sam…”

“Jaesan dapat berdiri sekokoh sekarang berkat Ayahmu dan Ibumu. Bae Sunghoon dan Nam Haneul. Aku melakukan ini untuk adikku Sooji. Lee Nahyun yang membuat keluarga adikku seperti ini, aku tidak akan memaafkannya. Jaesan adalah peninggalan kedua orang tuamu untukmu, Sooji. Kau dibesarkan sebagai penerus Jaesan. Apa kau benar-benar rela melepas Jaesan untuk seorang wanita licik seperti Lee Nahyun?”

Sooji menghela nafasnya, dipejamkan matanya, dan bayangan seorang Lee Nahyun yang tersenyum sinis di rumah duka saat kematian ayahnya kembali berputar. Sooji benar-benar membenci wanita itu.

“Baiklah paman.”

Klek

Suara pintu kamar yang terbuka menyadarkan Sooji dari lamunannya.

Annyeong” Di ambang pintu terlihat Woohyun dengan kedua tangan yang memegang cangkir, tersenyum kikuk ke arah Sooji.

Woohyun melangkah masuk ke kamar Sooji dan berjalan menghampiri Sooji yang masih berada di balkon.

Ige, teh hangat untukmu, aku tahu kau pasti belum tidur.” Woohyun menyodorkan salah satu cangkir yag dipegangnya kepada Sooji.

Sooji mengambilnya kemudian menghirup aromanya perlahan.

Gomawo

“Hmm.. bisakah kau mengucapkan kata gomawo dengan lebih tulus?”

Sooji tidak mengatakan apapun dan tetap menghirup aroma tehnya yang dirasanya benar-benar menenangkan.

Woohyun meghela nafasnya, “Aku tahu kau tidak suka berada di sini Sooj, Kau tidak suka berada di Korea. Korea mengingatkanmu banyak hal yang menyakitkan, tapi bisakah kau tidak memasang wajah datar dan dingin begitu di setiap kesempatan?”

Sooji mulai meminum tehnya perlahan.

Woohyun berdecak, “Kau benar-benar meyebalkan sekarang, neo arra?”

Sooji berhenti meminum tehnya dan menatap Woohyun datar.

Woohyun membalas tatapan Sooji dengan malas, “Wae? Kau tidak terima kusebut menyebalkan? Aku ini Oppamu, bersikaplah sopan sedikit.”

“Jam berapa kita harus ke kantor besok, Oppa?”

Woohyun kembali berdecak mengetahui ucapannya sama seklai tidak ditanggapi oleh Sooji.

“Jam 8 pagi. Abeoji sudah memberitahumu kan? Kau akan menjadi Direktur di Hwajae Property. Abeoji benar-benar mempercayaimu sekaligus mengujimu, arra? Kau harus benar-benar menunjukkan kemampuanmu.

Sooji mengerutkan dahinya bingung, “Maksudnya?”

Sooji pikir dia akan dimasukkan ke kantor pusat Hwajae, membantu Woohyun yang kini menjabat menjadi Direktur Utama. Namun mendengar ucapan Woohyun barusan sepertinya tidak.

Woohyun menatap Sooji intens kemudian menghela nafas. Diteguknya lagi tehnya yang kini sudah mulai dingin.

“Kau pasti tahu kan Hwajae Property terkenal oleh pembangunan Resort dan Apartmentnya?”

Sooji mengangguk. Dia sangat ingat Appanya selalu memuji perusahaan milik kakak iparnya itu, terutama sektor propertynya. Appanya selalu menyukai gedung-gedung hasil rancangan arsitek Hwajae.

“Dan kau tahu siapa saingan terbesar Hwajae saat ini? Jaesan, tentu saja.”

Sooji kembali mengerutkan dahinya, seingatnya Jaesan tidak bergerak di bidang property.

“Jaesan Development memang masih seumur jagung. Tapi berkat nama raksasa Jaesan, pasti membawa pengaruh yang sangat besar bagi perkembangannya. Link yang tersebar dimana-mana serta otoritas Jaesan Group yang belum tertandingi membuat Jaesan Development masuk jajaran perusahaan property yang tidak bisa disepelekan. Dan kau pasti tahu kan siapa yang ada dibalik Jaesan? Lee Nahyun, tentu saja. Dia sangat hebat bukan?”

Sooji mendengus mendengar ucapan Woohyun. Wanita itu hebat? Yang benar saja. Wanita itu hanya memanfaatkan Jaesan demi kepentingannya.

Woohyun tersenyum melihat perubahan ekspresi Sooji, “Akui saja dia memang hebat Sooji-ah. Dia mungkin memang mendapatkan Jaesan dengan cara kotor. Tapi dia berhasil membuat raksasa Jaesan menjadi super raksasa Jaesan. Atau begitulah setidaknya anggapan orang-orang.”

Woohyun kembali mengela nafas, “Itulah mengapa Abeoji menugaskanmu di Hwajae Property.”

Sooji mengerutkan dahinya lagi, masih tidak mengerti ucapan Woohyun.

“Kau, sebagai seorang pendatang baru di Hwajae Property, tiba-tiba menjabat sebagai seorang Direktur. Orang-orang pasti bertanya-tanya mengenai kemampuanmu. Kau harus menunjukkan bahwa kau bisa menjalankan ini Sooji-ah. Kau harus mengasah kemampuanmu terlebih dahulu di Hwajae sebelum kau merebut kembali Jaesan. Dengan berhasil mengembangkan Hwajae Property, maka saat kau muncul sebagai seorang pewaris Jaesan, Dewan Direksi tidak akan menolakmu. Kau tunjukkan pada dunia bahwa kau memang seorang Bae, penerus dari Bae Sunghoon yang terkenal selalu sukses dalam setiap proyeknya. Tunjukkan pada Lee Nahyun bahwa kau bukan lagi anak kecil yang bisa disepelekan.”

Sooji memejamkan matanya perlahan sebelum turun dari mobi Woohyun.

“Kau tegang?”

Sooji menatap Woohyun dengan wajah datar, “Menurutmu? Aku jelas-jelas orang baru. Usiaku baru 21. Dan percaya atau tidak, Nam Woohyun-shi, aku baru saja wisuda kurang lebih 3 minggu yang lalu.”

Woohyun terkekeh mendengar jawaban sepupunya itu.

Kajja, Abeoji sudah di dalam. Dia ingin mengenalkanmu pada semua staff.”

Sooji mengurut dahinya perlahan. Kepalanya terasa pusing, padahal ini merupakan hari pertamanya bekerja. Masih teringat jelas wajah para staff yang benar-benar terlihat terkejut begitu Samchonnya mengenalkan dirinya sebagai keponakannya sekaligus Direktur baru di Hawajae Property. Sooji sendiri menjadi sedikit tidak percaya diri. Untung saja wakil direkturnya sepertinya orang yang dapat diandalkan.

Tok tok tok..

“Masuk” Sooji menjawab dengan sedikit malas.

Sajangnim, ini beberapa berkas yang harus anda tanda tangani untuk beberapa proyek ke depan. Dan Woohyun meminta saya untuk mengingatkan anda agar lebih fokus mengenai pembangunan resort di Jeju.” Seorang namja meletakkan berkas-berkas penting tersebut di meja Sooji.

Sooji sedikit mengernyitkan dahinya mendengar wakilnya yang menyebut nama Woohyun tanpa embel-embel apapun.

Ne. Kau bisa kembali bekerja.”Sooji membuka berkas yang kini telah berpindah di tangannya dengan malas.

Gamshamnida.” Namja di depan Sooji kembali bersuara.

Ne.” Sooji menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.

Ani, maksudku anda seharusnya mengatakan gamsahamnida.”

Sooji mengela nafasnya kasar. Dia tarik ucapan bahwa wakil direkturmya dapat diandalkan. Ditatapnya nyalang, namja bermata sipit di depannya.

“Anda bisa kembali bekerja jika anda sudah selesai menggurui saya, Kim Sunggyu-shi.”

Sunggyu – Namja itu, hanya tersenyum kecil melihat reaksi atasannya.

Geure? Jadi anda merasa hebat karena anda seorang Direktur? Anda orang baru di sini Sooji-shi. Anda pasti orang yang hebat karena Tuan Nam mmempercayakan Hawajae Property pada anda. Tapi… Anda haru selalu ingat bahwa di atas langit masih ada langit, anda harus ingat bahwa Hwajae Property bisa sekuat sekarang berkat tangan orang-orang hebat lainnya, berkat para arsitek, dan para staff kecil lainnya. Jadi sebaiknya anda perhatikan sikap anda, Sooji-shi. Saya permisi.” Selepas berbicara panjang lebar, Sunggyu pun melangkahkan kakiknya keluar dari ruangan atasannya. Meninggalkan Soiji yang kembali menghela nafas dan kembali memijit pelan dahinya.

Sooji termenung di dalam mobilnya. Pikirannya kembali bercabang dan tidak fokus.

“Kita sudah sampai nona.”

Suara Pak Cha, supirnya lah yang menyadarkan Sooji dari lamunannya.

“Ah ne, sebentar ya Pak Cha. Saya mungkin tidak akan lama.”

“Baik nona.”

Sooji kemudian turun dari mobil. Dikepalkannya tangannya untuk menguatkan dirinya sendiri. Dihirupnya nafas dalam-dalam kemudian dikeluarkannya perlahan. Setelah merasa lebih tenang, Sooji melanjutkan berjalan.

Kakinya berhenti di antara dua pusara putih. Bae Sunghoon dan Bae Haneul. Sooji berjongkok dan meletakkan seikat bunga lili putih, jenis bunga kesukaan ibunya.

Oemma, Appa, Nan yogi isseoyo.” Suara Sooji terdengar lirih.

Sooji menatap nanar keduara pusara tersebut dan mulai menangis.

Mianhaeyo, baru kembali mengunjungi Appa dan Oemma sekarang. Jeongmal mianhaeyo.” Isaknya.

“Aku tumbuh jadi yeoja yang cantik kan Oemma? Aku mirip sepertimu kan Oemma?” “

“Appa, aku sudah lulus kuliah. Nilai kelulusanku pun sangat baik. Appa tidak mau memberiku hadiah? Aku belajar bisnis sama sepertimu, Appa. Juga di universitas yang sama denganmu. Appa pasti bangga denganku, keutchi?”

Sooji menggigit bbibir bawahnya perlahan, berusaha meredam isakannya.

Oemma, Appa. Aku baik-baik saja di sini. Nam Samchon benar-benar baik padaku, Oemma. Samchon memberiku kamar idamanmu, Oemma. Semuanya putih, aku menyukainya, Oemma juga kan?”

Appa, usiaku kini sudah 21, aku sudah belajar menjadi seseorang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab. Aku meminta izinmu untuk mengambil alih Jaesan. Kau tidak keberatan kan, Appa?

Appa, Oemma, Kalian tidak perlu khawatir dengan keadaanku. Aku bukan lagi Sooji yang manja seperti dulu, Sooji yang sekarang lebih kuat. Aku tidak akan lari lagi, Appa.”

Sooji menghela nafas, mengusap kasar air matanya yang masih mengalir kemudian bangkit berdiri.

Aku pamit, Appa, Oemma. Ada seseorang yang harus aku temui. Aku berjanji akan sering mengunjungi kalian.”

Sooji terdiam memandangi kedua pusara orangtuanya, kemudian kembali menghela nafas. Sooji lalu melangkah meninggalkan kedua pusara tersebut. Kakinya terus berjalan memasuki area pemakaman itu lebih jauh.

Di depan sebuah pusara putih yang bertuliskan nama Lee Sungyeol, Sooji berhenti. Dirinya kemudian kembali berjongkok dan meletakkan seikat bunga daffodil.

Annyeong Yeol-ah. Oremaniya.” Suara Sooji kembali bergetar menahan tangisnya.

Annyeong chingu.” Sooji menggigit bibir bawahnya.

“Kau tidak ingin menjawabku Yeol? Kau tidak ingin menyapaku? Aku mebawakanmu daffodil, bunga kesukaanmu, keutchi?” Suara Sooji semakin memelan yang dirringi dengan air matanya yang perlahan jatuh.

Mianhae Yeol. Jeongmal mianhae, aku baru bisa mengunjungimu sekarang. Mianhae.”

Isakan Sooji semakin kencang. Diremasnya dadanya perlahan. Rasa sedih, bersalah, takut, kembali menderanya. Dadanya terasa sakit dan sesak.

“Yeol-ah. Kau mau mamaafkanku kan? Aku tahu aku salah, aku terlalu pengecut sehingga baru mengunjungimu sekarang. Jeongmal mianhae, Yeol-ah.”

Sooji menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha meredam tangisnya. Sooji tahu sekencang apapun dia menangis, dia tidak bisa membalikkan waktu. Sekeras apapun dia meminta, Sungyeol tidak akan kembali ke sisinya.

Nuguseyo?” Suara seorang yeoja membuat Sooji terkesiap. Dia kenal suara ini. Sooji membuka tangkupan tangannya dan mengusap wajahnya kasar, berusaha menghilangkan jejak air mata di wajahnya.

Nuguseyo?” Yeoja itu kembali bertanya, kali ini dengan nada menuntut.

Sooji menghelas nafasnya, berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak normal, berusaha mengurangi rasa tegangnya. Sooji pun membalikkan badannya. Dilihatnya seorang yeoja yang berdiri sekitar 3 meter di belakangnya dan seorang namja yang berdiri tepat di belakang yeoja tersebut. Wajah yeoja itu yang terkejut melihatnya.

“Annyeong Soojung-ah.Sooji memperhatikan reaksi yeoja di depannya itu, kemudian matanya beralih kepada si namja.

“Annyeong Myungsoo-ah

TBC-

 a/n

Annyeong readers! Ada yang masih nunggu kelanjutan ff ini?
Makasih banget yang udah ngasih comment di part 1, mian belum aku bales, tapi serius, semua aku baca dan aku hayati kok, Jeongmal gomawo buat supportnya J
Ini part 2 nya, semoga suka ya. Seperti biasa, mian kalau diksi amburadul, garing atau typo bertebaran kkk Ditunggu commentnya~

 

82 responses to “Mistakes and Regrets #2

  1. Pingback: Mistakes and Regrets #2 | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s