My Husband, Kim Myungsoo

WEDDING

Title : My Husband, Kim Myungsoo | Author : dina | Genre : Romance | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer

Story is Mine, all cast belongs to God and their family

.

.

.

Apakah kau yakin cinta pertamamu adalah cinta sejatimu?

Bagiku tidak selalu

 ♥

Sooji meletakkan cangkir tehnya, mendung di sekitar kota Daegu membawa dirinya semakin menerawang, melamunkan hidup yang ia jalani selama ini. Tadi malam merupakan malam yang sangat berarti bagi keluarga Bae, pertemuan antara kedua orang tuanya dengan orang tua Kim Myungsoo, pemuda yang 4 bulan terakhir selalu menemani kemana appanya pergi

“Memang siapa dia appa?”

“Dia?”

“Hem…pria yang selalu appa banggakan”

“Myungsoo maksudmu?”

“Memang tidak ada orang yang lebih pintar dan loyal daripada dia?”

“Kau tidak suka dengan Myungsoo?” tanya appa penuh selidik

“Tidak…bukannya tidak suka, hanya saja perilakunya yang tidak aku suka”

“Perilaku yang mana?”

“Merebut hati appa dan eomma”

Tuan Bae sangat tahu perangai putrinya, Lee Hong Bin alasan mengapa Sooji sangat menentang kedekatan dirinya dengan Myungsoo. Pria pertama sekaligus kekasih yang telah bersama putrinya selama 8 tahun terakhir. Lee Hong Bin merupakan putra seorang pengusaha dari Seoul, orang tua Hong Bin hanya menganggap Sooji teman dekat putranya. Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam pikiran mereka untuk menjadikan Sooji menantu mereka kelak. Tuan Bae terlalu lelah untuk menasehati putrinya bahwa hubungan yang ia jalani tidak akan berujung pada pernikahan, namun Hong Bin bersikeras untuk memperjuangkan Sooji, hingga saat itu tiba, sebuah surat undangan pertunangan Hong Bin dengan Oh Ha Young putri rekan ayah Hong Bin. Tak pelak dalam 6 bulan terakhir Sooji tampak murung menunggu kedatangan Hong Bin untuk memintanya kembali atau sekedar meminta maaf, namun kenyataannya Hong Bin tidak pernah datang kepadanya

“Anda melamun?” suara pria membuyarkan lamunan Sooji

“Eoh..appa di dalam” jawab Sooji tanpa menatap Myungsoo, tanpa menanyakan apa tujuan pria di hadapannya sudah tentu appanyalah yang sedang ia cari

“Ne” ucap Myungsoo singkat. Baik dirinya maupun Sooji hampir tidak pernah bertegur sapa, jangankan untuk berkenalan, menyapapun ia merasa berat. Jika bukan karena ayah Sooji yang begitu baik hati mengajaknya bergabung dalam proyek pembangunan resort di kaki gunung Palgong, ia tidak akan mau berbasa-basi menyapa wanita yang menyambutnya dengan wajah masam di depan rumah atasannya

“Kau sudah datang rupanya”

“Iya sajangnim, kita berangkat sekarang?” tawar Myungsoo

“Kajja…”

Tuan Bae melewati ruang tengah, di sana Sooji tengah melamun menghadap jendela besar kediamannya

“Kau tidak ke perkebunan hari ini?” tanya tuan Bae

“Sebentar lagi appa” Sooji menoleh ke ayahnya kemudian memaksakan senyumnya, “appa jangan terlalu lelah, aku tidak mau appa sakit” Sooji membetulkan kerah jaket ayahnya

“Arasso…dan appa juga tidak ingin melihatmu melamun seperti tadi”

“Ne…”

“Kami berangkat, kajja Myungsoo-ssi” tuan Bae berlalu bersama Myungsoo meninggalkan Sooji yang tengah menatap mereka berdua

“Haruskah aku menerimamu?” gumam Sooji. Ingatannya kembali ke peristiwa semalam ketika ayahnya memintanya untuk menikah dengan Myungsoo. Alasan klise perjodohan, Myungsoo orang yang tepat menjadi pendamping Sooji sekaligus orang kepercayaan ayah Sooji sejak mengerjakan proyek mereka di Seoul. Myungsoo sendiri bukan orang baru bagi Sooji, mereka telah mengenal satu sama lain sedari kecil karena pertemanan orang tua mereka. Myungsoo menghabiskan masa sekolahnya di Jerman, sedangkan Sooji di Seoul, namun ketika mereka sama-sama bertumbuh tidak pernah sekalipun orang tua mereka membicarakan tentang perjodohan. 6 Bulan terakhir sejak Hong Bin meninggalkan Sooji, sejak itulah ayah Sooji berusaha mendekatkan dirinya dengan Myungsoo

—-

“Kita harus bicara” pinta Sooji

“Tentang apa?”

“Yang kita jalani saat ini”

“Eoh…”

“Kau tetap akan menerimanya?”

“Yang mana?”

“Perjodohan kita?” tanya Sooji

“Menurutmu? Apa yang akan kau lakukan jika menjadi diriku?”

“Aku akan menolaknya”

“Sayangnya aku bukan dirimu” Myungsoo berlalu dari hadapan Sooji, dalam beberapa menit pertunangan mereka akan dilangsungkan dan dalam sisa beberapa menit ini Sooji masih ingin menggoyahkan keteguhan Myungsoo yang menerima perjodohan mereka

“Kau akan tersakiti” lirih Sooji

Pertunangan berjalan lancar dan sederhana, hanya dihadiri keluarga dekat. Myungsoo menyematkan cincin tergrafir namanya di jari kiri Sooji, begitupun sebaliknya. Sooji berjengkit kaget ketika bibir Myungsoo menyentuh keningnya, sebuah kecupan ringan yang Sooji sendiri tidak bisa mengartikannya. Sebuah senyuman tersungging di wajah pria di hadapannya, sambil menerima ucapan selamat, Myungsoo tidak berhenti tertawa menyambut tamu mereka

“Tersenyumlah sayang” eomma mengelus punggung Sooji

“2 bulan lagi kita akan menjadi besan tuan Kim” ucap tuan Bae

“Ne…aku tidak sabar segera menimang cucu” balas tuan Kim

“Haha…” tawa tuan Bae menggelegar, Sooji tertegun menyadari satu hal, pernikahan yang telah di depan mata. Bukan sebuah komitmen berlandaskan cinta namun hanya kesepakatan kedua belah pihak, dirinya dan Myungsoo

—-

“Otte? Bagaimana menurutmu? Sooji cantik bukan?” Jiyeon menata ulang gaun pengantin milik Sooji. Gaun dengan potongan leher V berenda di bagian dada hingga lengan panjangnya, berbahan brokat paris berwarna putih tulang menjuntai sederhana. Myungsoo melihat Sooji dengan tatapan datarnya, dirinya juga mencoba tuksedo yang akan ia kenakan senada dengan calon istrinya

“Bagian ini nanti sedikit dikecilkan” Jiyeon hendak memasang jarum di bagian pinggang Sooji

“Myungsoo-ssi bisa bantu aku pegangkan bagian ini” pinta Jiyeon

Myungsoo mendekat ke Sooji, menahan ujung kain yang hendak disematkan jarum oleh Jiyeon, dengan posisi seperti ini otomatis jarak antara dirinya dengan Sooji semakin dekat. Mau tidak mau Sooji mencium bau parfum Myungsoo, “harum” batinnya sambil sepintas menatap wajah calon suaminya dari samping. Sebelah tangan Myungsoo memegang ponsel, membalas pesan dari rekan kerjanya

“Kau sibuk?” tanya Sooji

“Eoh…ne” jawab Myungsoo yang reflek menghadap wajah Sooji. Untuk beberapa detik wajah Sooji dan Myungsoo berhadapan dengan jarak kurang dari 5 cm, “yeppo” celetuk Myungsoo yang sukses membuat pipi Sooji memerah bagai tomat

“Dimana eonni?” Sooji mengalihkan pandangannya ke arah lain, berpura-pura mencari Jiyeon untuk menyembunyikan pipinya yang entah mengapa berubah warna, dan Myungsoo suka dengan perubahan itu

“Dengar Sooji-ya, aku tidak akan menyentuhmu jika kau tidak memintanya” bisik Myungsoo ke telinga Sooji. Sontak Sooji menahan nafasnya, “apa maksudnya?” batin Sooji tanpa mempedulikan wajah Myungsoo yang semakin tersenyum geli mendapati telinga Sooji yang ikut memerah

Your wish tuan Kim” Sooji berusaha melawan tatapan Myungsoo

“Benarkah?” Myungsoo mulai mendekatkan wajahnya diikuti Sooji yang memundurkan wajahnya

“Kau bisa jatuh kalau memundurkan wajahmu” Myungsoo memeluk pinggang Sooji

“Apa yang kau lakukan?” tanya Sooji menutupi kegugupannya

“Sudah kukatakan aku tidak akan menyentuhmu jika kau tidak meminta” ulang Myungsoo

“Lalu ini kau sebut apa?”

Skinship” senyum Myungsoo

“Itu sama saja tuan Kim”

“Tapi kau tidak menolakku”

“Maksudmu?”

“Kau tidak menolak posisi kita saat ini”

Sooji melihat kedua tangan Myungsoo sudah melingkar sempurna di pinggangnya

“Kalau sekarang aku menciummu maka pernikahan kita nanti akan menjadi ciuman kedua kita” Myungsoo semakin mendekatkan wajahnya diiringi bulu mata Sooji yang bergerak akibat matanya yang mengerjap, ia seperti memakan ribuan bulu yang menyebabkan perutnya merasakan gelitikan halus

“Ehem…” suara berdehem menggema di ruangan

“Eonni” Sooji melepaskan dirinya dari dekapan Myungsoo

“Aigo…kalian tidak sabaran sekali” Jiyeon tersenyum geli, “dulu ketika aku menikah dengan Seungho oppa juga seperti kalian, menggebu di malam pertama dan diakhiri dengan ini” Jiyeon mengelus perutnya yang membuncit, calon buah hatinya akan lahir 3 bulan lagi. Myungsoo tersenyum geli melihat wajah kikuk Sooji

“Kalian ingin berapa anak nantinya?” tanya Jiyeon

“4 Anak” jawab Myungsoo sambil melepas tuksedonya tidak peduli dengan wajah Sooji yang terkejut

“Banyak sekali”

“Ne..aku ingin keluargaku nanti diramaikan dengan suara anak-anak” Myungsoo menghampiri Sooji, menyodorkan kancing kerahnya yang susah untuk dibuka. Reflek Sooji membuka kancing Myungsoo, entah mengapa mendengar jawaban tulus Myungsoo sedikit menggugah hatinya

“Kalian sudah seperti suami istri, bahkan membuka kerah bajupun kau serahkan istrimu” kekeh Jiyeon

“Eoh…” Sooji melepaskan tangannya dari kemeja Myungsoo

“Gomawo” Myungsoo mengelus puncak kepala Sooji

—-

“Eonni” panggil Sooji

“Kau di sana rupanya”

“Sudah lama?” tanya Jiyeon

“Ani…10 menit yang lalu”

“Kau pesan apa?”

“Wafel, aku sedang tidak ingin makan” jawab Sooji

“Aigo..kau sedang berdiet eoh?”

“Tidak juga, aku hanya sedang malas makan akhir-akhir ini”

“Mungkinkah karena sedang jatuh cinta? Dulu aku juga seperti itu, kehilangan nafsu makan ketika memikirkan Seungho oppa di awal perkenalan kami”

“Waeyo?”

“Molla….cinta memang aneh”

“Tapi aku tidak mencintai Myungsoo eonni”

Tuk…sendok cantik mendarat sempurna di kening Sooji

“Paboya!! Myungsoo sangat menyukaimu, kau beruntung mendapatkan calon suami seperti Myungsoo”

“Memang eonni tahu siapa Myungsoo sebelumnya?”

“Tentu saja, dia teman kuliah Seungho oppa”

“Hem…semua orang mengatakan dia baik, tampan, sempurna”

“Dia berkali lipat lebih baik daripada Hong Bin”

“Eonni….”

“Cintai Myungsoo, maka dia akan lebih mencintaimu melebihi yang kau kira”

“Benarkah??”

“Hem…percaya padaku”

Sooji terdiam menatap Jiyeon, “pegang ucapanku sayang” lanjut Jiyeon

“Lalu bagaimana dengan perasaanku terhadap Hong Bin oppa?”

“Buang jauh-jauh”

“Tidak semudah itu eonni”

“Semua akan mudah jika kau merelakan hatimu untuk Myungsoo”

—-

Sooji berjalan di altar diiringi lagu From This Moment On Shania Twain dengan mengapit lengan kiri ayahnya. Wajahnya yang tertutup tudung masih menampakkan aura kecantikan pengantin wanita yang hendak memasuki tahap baru dalam hidupnya. Sooji menyusuri wajah demi wajah tamu undangan hingga pada satu titik ia melihat mantan kekasihnya

“Hong Bin oppa…” lirihnya dengan wajah terkejut melihat Hong Bin di sisi ujung tempat duduk di sepanjang lorong altar yang ia lewati. Dada Sooji bergetar hebat, kebimbangan datang menyergap. Di sana Myungsoo telah menunggunya, ia menguatkan hati serta menanamkan dalam pikirannya bahwa pilihannya tidak salah. Berkali-kali ia menggumamkan perkataan Jiyeon, “cintai Myungsoo, maka dia akan lebih mencintaimu melebihi yang kau kira”. Hingga akhirnya ia berhasil berdiri di samping Myungsoo, mengucapkan ikrar pernikahan disaksikan seluruh keluarga dan tamu undangan. Rasanya ingin sekali Sooji membalikkan tubuhnya, menatap wajah Hong Bin untuk terakhir kalinya, tapi ia tidak sanggup. Wajah Myungsoo dengan senyum tulusnya telah mengalihkan dunianya saat ini

“Kau boleh cium istrimu” ucap Pendeta

Myungsoo menatap mata Sooji, seolah-olah meminta ijin istrinya, “bolehkah” ucapnya tanpa bersuara

Beberapa detik Sooji terpaku, namun perlahan ia megerjapkan matanya. Wajah Myungsoo semakin mendekat hingga bibir mereka bersentuhan. Demi apapun Sooji merasakan ribuan kupu-kupu terbang di dalam perutnya menghantarkan rasa hangat. Walaupun kurang dari 4 detik Myungsoo menempelkan bibirnya namun sorak tamu undangan membuyarkan lamunannya. Di saat itulah Hong Bin berdiri menjauh dari kerumunan

“Kurasa kita telah mengambil jalan yang tepat” senyumnya sambil melangkah meninggalkan gereja

—-

Sooji berbaring sambil bersandar di kepala ranjang, matanya menerawang menatap ke luar jendela. Langit berwarna kelabu, awan mendung terlihat berat oleh air dan hujan bisa turun kapan saja. Pucuk-pucuk cemara sesekali bergoyang karena angin, membawa aroma mendung dan getah cemara masuk ke dalam kamar. Beberapa kali suara gemuruh guntur yang teredam terdengar dari kejauhan. Myungsoo memutuskan untuk langsung membawa Sooji ke rumah mereka, rumah yang berdekatan dengan pembangunan resort mereka di pegunungan Palgong. Tepat 2 minggu mereka menjadi suami istri, Myungsoo menepati perkataannya, ia tidak menyentuh Sooji sampai istrinyalah yang memintanya

“Kau dimana?” gumam Sooji sambil berkali-kali menatap pintu utama. Satu hal yang Myungsoo belum ketahui, Sooji sangat takut dengan suara gemuruh guntur

Brak!!

Suara pohon tumbang menyebabkan listrik di rumah padam, spontan Sooji meraih ponselnya memencet sebuah nomor

“Myungsoo-ssi…cepat pulang” rengeknya

“Kau kenapa?”

“Listrik mati, aku takut”

“Gidaryo, aku segera pulang”

Myungsoo menyambar mantel dan kunci mobilnya, melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi menuju rumahnya yang menghabiskan waktu 30 menit perjalanan dari resortnya

“Apa itu?” Myungsoo memelankan laju mobilnya mendapati seekor anak anjing meraung di samping induknya yang tidak bernyawa

“Ya Tuhan” Myungsoo menepikan mobilnya, membuka pintu dan menyingkirkan anak anjing tersebut. Ia tidak tega melihat induk anjing yang telah mati tergeletak di pinggir jalan, spontan ia melepas mantelnya kemudian membopong ke arah ladang kosong. Dia memasukkan anak anjing ke dalam mobil kemudian menggambil peralatan bengkelnya yang bisa ia pakai untuk membuat lubang. 30 Menit ia beradu dengan derasnya hujan, hingga sebuah lubang sedalam 20 cm berhasil ia buat. Myungsoo meletakkan induk anjing di dalam lubang kemudian menutupnya dengan tanah yang ia gali tadi. Tubuhnya sangat kotor, serta merta ia kembali ke mobilnya, berlalu dengan lolongan anak anjing ditinggal mati induknya

Krek…

Sooji berlari keluar rumah ketika ia melihat cahaya lampu mobil suaminya memasuki pintu gerbang rumah mereka. Ia mengambil payung kemudian membuka pintu gerbang, Myungsoo memasukkan mobilnya di garasi kemudian keluar sambil membawa anak anjing yang tampak menggigil kedinginan sama halnya dengan dirinya

“Astaga kau kenapa?” Sooji tampak terkejut melihat penampilan Myungsoo

“Ige..aku menyelamatkan anak anjing, mian aku lama sampai di sini”

“Gwenchana…listriknya sudah menyala 10 menit yang lalu” Sooji menghampiri Myungsoo, menerima anak anjing yang menggigil kedinginan

“Kiyowo…” Sooji mengelus kepala anak anjing tersebut

“Kau suka?”

“Kita pelihara” pinta Sooji disambut anggukan Myungsoo

“Kusiapkan air hangat” Sooji berjalan memasuki rumah, selayaknya seorang istri ia langsung menyiapkan segala keperluan mandi suaminya dan anak anjing yang dibawa Myungsoo tentunya

“Aigo..siapa yang membuangmu?” Sooji duduk bersimpuh di ruang tengah, anak anjing tersebut telah bersih dan tidak lagi menggigil. Sooji memberinya susu putih hangat

“Dimana kau menemukan anak anjing ini?” tanya Sooji

“Di tepi jalan, induknya mati” jawab Myungsoo sambil meneguk susu coklat hangatnya

“Kasihan…” lirih Sooji sambil mengelus anak anjing tersebut

“Kita namakan siapa?”

“Rover?” jawab Sooji sambil mengerjapkan matanya

“Darimana kau dapat nama itu?”

“Terbersit begitu saja, Rover cute keutchi?!” senyum Sooji

“Ne…Rover” panggil Myungsoo

“Anak-anak kita pasti senang melihat Rover” celetuk Sooji tanpa disadarinya

“Eoh…” Myungsoo tersenyum melihat tingkah kekanakan istrinya, kalimat terakhir yang ia dengar terngiang berkali-kali tanpa ia pinta

“Mungkin harus aku yang memintamu” batin Myungsoo

—–

Malam itu pesta pernikahan Jinwoo sepupu Myungsoo digelar, tampak beberapa tamu yang Myungsoo kenal berjalan menghampirinya sekedar menyapa dirinya atau istrinya tepatnya. Sooji memakai gaun berwarna hijau tosca dengan potongan rendah di bagian punggungnya, menampakkan punggung putih mulusnya, rambutnya ia gelung dengan harnet sehingga tampak anggun

“Kau tidak kedinginan?”

“Sedikit”

Myungsoo melepas jasnya, menyampirkan di tubuh istrinya, “kalau seperti ini tidak dingin lagi” senyum Sooji

“Myungsoo-ya!!” panggil Seungho dan Jiyeon yang mulai tampak kesulitan berjalan memasuki usia kehamilannya ke 8 bulan

“Eonni” peluk Sooji sambil mengusap perut besar Jiyeon

“Aigo..lihat perutmu Jiyeoni” kekeh Myungsoo

“Kau kapan menyusulku?” tanya Jiyeon tanpa basa-basi

“Segera eonni” jawab Sooji dengan mantap

Myungsoo yang mendengar jawaban Sooji hanya tersenyum, entah ide apa yang ada di pikirannya

“Kau dengarkan istrimu Myung, cepatlah membuat aegy” kekeh Seungho yang dihadiahi cubitan Sooji

“Ya oppa memang semudah itu membuat aegy?” tanya Sooji

“Molla..kalian kan yang melakukannya” jawab Seungho sekenanya yang berhasil membuat wajah Sooji merah padam

“Sudahlah jangan kau goda istriku, kajja kita ke sana, tuan Shinjo menunggu kita” Myungsoo berlalu bersama Seungho

“Kalian sudah melakukannya?” tanya Jiyeon sepeninggal Myungsoo dan Seungho

“Apa eonni?”

“Ini” Jiyeon menautkan kedua telapak tangannya

“Ajig…” geleng Sooji

“Bagaimana bisa?”

“Molla…”

“Myungsoo tidak memintamu?”

“Tidak”

“Astaga dia pasti sengsara menahan hasratnya” kekeh Jiyeon

“Ya eonni!!” protes Sooji, “dia mengatakan tidak akan menyentuhku jika aku tidak memintanya”

“Jinca?!” debak!”

“Apanya yang hebat?”

“Kau tidak peka? Dia ingin melakukannya dengan cinta sayang, tanpa paksaan”

“Tapi….seharusnya pria dulu yang meminta, bukannya aku” wajah Sooji merona

“Paboya!! Kenapa kau tidak mengambil inisiatif terlebih dahulu?”

“Eonni…” rengek Sooji, “aku terlalu malu untuk meminta dia mendekatiku”

“Lalu selama ini apa yang kalian lakukan?”

“Opso…hanya skinship kecil”

“Ya Tuhan” Jiyeon menepuk keningnya

“Kau tahu, ketika aku melahirkan kuharap sudah ada caon bayi tertanam di rahimmu” titah Jiyeon

“Ya!! eonni memang kau pikir beli bayi apa?”

“Molla…” Jiyeon mengedikkan bahunya

—-

Myungsoo dan Sooji memasuki rumah mereka, suara Rover memecah kesunyian malam

“Kau belum tidur rupanya” Myungsoo mengelus puncak kepala Rover, memberinya susu kemudian meninggalkan halaman samping tempat Rover bermalam

“Sooji-ya” panggil Myungsoo yang mendapati istrinya hendak menutup tirai jendela kamar yang masih terbuka

“Hem…”

Myungsoo berjalan mendekati Sooji, pandangannya tertuju ke punggung Sooji. Melihat punggung istrinya yang terbuka, spontan ia mendekatkan punggung tangannya, mengelus punggung Sooji perlahan

“Jika aku memintamu terlebih dahulu, apakah kau akan mengabulkannya?” tanya Myungsoo sambil mengecup ringan bahu belakang Sooji berkali kali kemudian memeluk istrinya dari belakang. Menghembuskan nafas hangatnya di belakang telinga Sooji

Sooji menahan nafasnya, dadanya berdegup kencang, “apakah anak-anak kita akan setampan Lee Minho oppa?” tanya Sooji sambil menatap pantulan dirinya dan Myungsoo di jendela

“Ani…dia tidak akan setampan artis pujaanmu itu”

“Lalu?” Sooji mengernyitkan alisnya

“Mereka akan setampan dirimu dan secantik diriku”

“Tidak keliru?”

“Aniyo..orang bilang anak laki-laki akan lebih mirip eommanya, anak perempuan akan mirip appanya”

“Ne…terserah kau saja” kekeh Sooji

“Saranghae Sooji-ya” Myungsoo mendaratkan kecupan di pipi Sooji

“Nado…” senyum Sooji semakin mengeratkan pelukan suaminya

—-

“Lo-vel” panggil Ae-cha putri kecil Sooji

“Lo-vel duduk” perintahnya penuh konsentrasi

Rover yang mengerti perintah tuan putrinya mendudukkan dirinya dengan lidah menjulur

“Lihat eomma Lo-vel jorok!” lapor Ae-cha

Myungsoo tersenyum mendengar celotehan putri sulungnya, sebentar lagi akan lahir anak kedua, ketiga dan keempat mereka karena di dalam rahim Sooji tertanam 3 calon bayi sekaligus

“Aigo…jangan berteriak sayang” ucap Sooji dari dapur

FIN

Minhe readers, semua ff chapter kepending, terlalu rupek dengan semua jadual dan acara keluarga. Minggu depan mungkin semua kembali normal, ff ini juga dibuat singkat, kurang dari 2 jam….mian kalau kurang memuaskan, RCL nya ditunggu, ghamsahamida🙂

92 responses to “My Husband, Kim Myungsoo

  1. Aku kira lo-vel itu love ternyata rover ya hehehee…aecha lucu banget sihh :)…
    Wah myungzy mau punya dede kembar 3 nih,pasti bakalan riuh dg suara tangisan bayi nantinya,suasana yg kurindukan🙂

  2. Aku sangat menikmati disetiap kata perkatanya^^
    untung sooji nggk goyah karna ngeliat hong bin dan dia ttp menikah sma myung:D
    Suka banget sma sifat myung disini, dia tidak pernah memaksakan sooji, nggk egois dan dewasa hmmm suka tipikal cowo kya gini wkwkwk
    Aigoo lo-vel??? Wkwkwk
    myung bner2 nepatin janjinya buat punya anak 4. Apalagi langsung kembar 3 lgi, jdinya bukan Song Triplets lgi tpi Kim Triplets wkwkwk

  3. Khhh myungsoo namja yg sempurna. Dy rela gk nyentuh suzy karna suzy gk mau sm dy. Syukurlah tpi endingnya membahagiakan. Ini ff pertama authornim yg aku baca .. Hehehe fighting ne thor bkin ffnya

  4. Wuihhhh hongbin apa maksudnya datang k nikahan sooji? Trs ada part yg ilang … tiba2 aecha dah gede.. hihihi.. smutnya mana thor hahahihihuhu

  5. Heh myung daebak bener deh. Dia nepatin janjinya lagi, dan suez juga sebenernya udah suka myung kan. Tapi suez belum sadar, ahh happy ending jhoa… jhoa

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s