The Fog [Chapter 7]

poster

thanks to cloverqua @ Art Fantasy ^^

Title: The Fog

Author: Little Thief

Main cast: Suzy, Myungsoo, Mark

Genre: romance, angst, fantasy

Length: chaptered

Rating: PG-13

Mark menyendok makan malam yang ia santap sendiri di kamar. Ia menatap kaku orang di depannya yang tengah duduk di kursi belajarnya, mengentak-entakan pensilnya ke meja.

“Tapi sayangnya ini tidak semudah yang kau bayangkan,” gumam Mark, mengunyah lambat-lambat satu sendok kacang polongnya, “Maksudku, tidak ada yang percaya aku bertemu dengan orang mati. Tidak ada.”

“Tapi, Mark…”

“Aku tahu kau benar-benar butuh bantuan. Aku sanggup menolongmu. Tapi masalahnya adalah aku tidak bisa mengerjakan ini sendirian. Dan sayangnya lagi, tidak ada orang yang percaya padaku bahwa kau butuh bantuanku.”

“Bagaimana dengannya?”

Mark tahu Myungsoo sudah menanyakan Suzy tentang hal ini. “Dia sama seperti yang lain. Dengar, jangan terus menerus meminta. Aku pun sedang berusaha. Seluruh sekolah sudah mengataiku sinting karena hal ini.”

“Maafkan aku, Mark.”

Mark melempar sendoknya frustrasi, menatap bayang samar Myungsoo di depannya. Rasanya aneh melihat dia kembali bukan lagi sebagai wujud orang hidup. Mark ingin makhluk ini lengser dari hidupnya, walaupun dia masih merindukan sosok Myungsoo yang asli.

“Kau ingat apa, maksudku, apa yang terjadi pada kematianmu?”

“Api,” jawab Myungsoo, “Dan asap. Kemudian apinya masuk ke bagian dalam tubuhku, membakarnya.”

“Lalu?”

“Pukul sekitar tujuh lewat empat puluh lima saat itu. Ibuku menelepon belasan kali, menyuruhku untuk pulang. Aku sedang ada di dapur, sendirian, membereskan gumpalan adonan yang bercecer. Aku berkata padanya bahwa sebentar lagi aku akan pulang. Pegawai lain sudah pulang lebih awal. Kemudian kudengar pintu toko berderit terbuka, Mark. Dia adalah pelanggan terakhir yang masuk. Aku membiarkannya beberapa lama untuk memilih roti-roti yang ada. Dan ketika aku keluar dari dapur untuk melayaninya, semuanya sudah hilang. Hanya ada api membakar.”

“Kau tidak berusaha menyelamatkan diri?”

“Tadinya. Pintu keluar sudah beberapa langkah di dekatku, ketika aku tidak sengaja menginjak kantung plastik yang licin. Kemudian kubangan api besar itu menjilat tubuhku, kemudian…”

“Kau mati.”

Mark menahan napas. Dia tidak mengerti dengan kematian Myungsoo. Dia merasa ada yang janggal bahwa sudah berbulan-bulan pembunuh itu tak tertangkap. Apakah polisi sudah menghentikan pencarian?

“Aku berada di kumpulan orang-orang dari seluruh benua, Myungsoo. Bukan di Korea Selatan. Kecil kemungkinan kutemukan pembunuhnya di sini. Maksudku, bisakah kita tunggu sampai beritanya keluar?”

“Aku tidak bisa pergi dari pandanganmu kecuali aku bisa menemukan siapa pembunuhku, dan apa kaitannya dengan orang yang bisa kulihat.”

Mark tersedak ketika memakan daging asapnya, “Maaf. Kaitan? Kaitan denganku?”

“Entahlah,” Myungsoo berdiri kesal. Mark tidak tahu apakah ia benar-benar berdiri. “Tapi semua ini ada kaitannya dengan kalian berdua. Kau, dengan gadis itu.”

“Hei. Aku baru mengenal Suzy beberapa bulan. Dan dia sudah disangkut pautkan dengan kematianmu itu?”

“Percuma membelanya, Mark. Dia juga harus ikut membantuku.”

Mark menghela napas, meletakkan piring di nakas sebelah tempat tidurnya, kemudian menarik selimut. “Terserah kau.”

****

Pagi harinya, sebelum ia bergegas mandi, ia menelepon Ibunya di Thailand. Kemudian, suara melengking Sophia menghampiri telinganya.

“Selamat pagi,” kata Sophia lesu.

“Hai, Sophia. Ibu ada di sebelahmu?”

“Mark?” Sophia menguap di seberang telepon, “Tidak ada. Maaf, tapi apa kau sudah menerima foto rambut kepangku?”

“Belum,” Mark menjawab singkat, tapi kemudian tersenyum, “Tapi kau tetap manis walaupun rambutmu ditata seperti apa.”

“Itu jelas.”

“Rapikan rambutmu dan hapus air liur di kanan bibirmu.”

“Kau benar,” Sophia sepertinya sudah kehilangan selera, “Ini ada Ayah ingin bicara denganmu.”

Mata Mark membelalak lebar mendengarnya. Ia merasakan kerinduannya lepas ketika mendengar suara berat Ayahnya menyapa lewat telepon.

“Mark! Apa kabarmu?”

“Baik, Ayah.”

“Bagaimana dengan sekolahmu?”

“Tetap menjadi yang terbaik,” Mark menyeringai. “Apa kau sudah tahu dari Ibu?”

“Apa?” tanya Ayahnya, tapi kemudian tersadar akan sesuatu, “Oh, ya. Aku turut berduka cita, Mark. Kini dengan siapa kau tinggal di kamarmu?”

“Sendiri. Sampai ada anak baru yang datang, menurutku. Kedengarannya menguasai kamar sendiri menyenangkan. Yeah, maksudku, Myungsoo sering berlagak menguasai kamar.”

“Tapi tidak ada yang lebih baik daripada punya teman sekamar,” ujar Ayahnya.

Kemudian Mark terdiam, “Ayah? Kau sudah dapat beritanya?”

“Berita? Aku saja baru dapat dari Ibumu kemarin. Media Thailand tidak membicarakan berita itu.”

“Aku tahu. Tapi bisakah kau membantuku mencari tahu pembunuh Myungsoo? Mungkin kau bisa lihat di internet. Sangat sulit menemukannya sementara komunikasiku hanya telepon.”

“Kau tak perlu membantu, Mark. Polisi pasti masih mencarinya.”

“Yeah, tapi…” Mark memutar bola mata, mengingat percakapannya dengan Myungsoo semalam, “Aku dan Suzy ingin mencari tahu siapa. Kami penasaran setengah mati.”

“Tunggu. Suzy?” nada tanya Ayahnya berganti penuh selidik, “Siapa dia? Kau bilang kau hanya tinggal sendiri.”

“Oh. Dia pianis sekolah. Teman perempuanku.”

Ayahnya kemudian tertawa, “Perempuan? Aku baru tahu kau punya teman perempuan.”

“Aku baru mengenalnya beberapa bulan terakhir.”

“Kau sudah…” Ayahnya kemudian mendengus tertawa, “Maksudku, jatuh cinta?”

Mark bersyukur Ayahnya tidak melihat wajah merahnya dan dia berseru, “Tidak! Astaga, ada-ada saja.”

“Dia cantik?”

Cantikkah? “Ya.”

“Oh. Jangan berbohong kalau Ayah tanyakan lagi tentangnya, ya.” Ayah Mark tertawa terbahak-bahak. “Kau kikuk begitu kalau bicara tentang perempuan. Baiklah, aku akan cari beritanya. Semoga prestasimu bagus. Aku akan tutup teleponnya. Selamat pagi, Nak.”

“Selamat pagi juga, Ayah.”

Kemudian Mark menutup teleponnya. Kemudian dia baru menyadari betapa kikuknya dia ketika Ayahnya menyelidiki Suzy. Dia tersenyum-senyum sendiri dan masuk ke kamar mandinya.

***

Ketika Mark kembali dari ruang makan setelah sarapan, dan hendak berjalan ke lokernya, dia menemukan seorang perempuan memakai rok berjalan ke arah Ruang Staf. Mark berlari kencang kemudian mencegat lengannya.

“Hei. Hei.”

Suzy memutar bola matanya, menatap Mark dingin, “Kenapa?”

Mark mengerutkan kening, “Kenapa? Aku bersyukur kau sudah masuk hari ini.”

“Memang begitu,” gerutunya ketus, “Minggir, Mark.”

“Kau mengajar hari ini?” tanya Mark, dia berharap Suzy mau membolos lagi.

Suzy menatap lantai di bawahnya, menghela napas, “Aku akan mengundurkan diri jadi pianis.”

Mata Mark melebar kaget, “Hei, tidak bisa! Kenapa kau secepat itu mengundurkan diri? Kau masih harus mengajar banyak semester lagi.”

“Aku muak, Mark! Kaukira menyenangkan menjalankan hidup monoton itu? Aku ingin keluangan untuk berekspresi dengan pianoku. Bukan ditata untuk mengajari kalian. Aku bisa punya banyak waktu untuk mengejar grade yang tinggal sedikit lagi. Ini semua semakin buruk dengan hantu yang akan kau kenalkan itu!”

Mark melepas cengkramannya dan menatap Suzy kecewa, “Kau marah padaku?”

Suzy menatapnya penuh kebencian, “Menurutmu saja bagaimana?”

Kemudian Suzy berjalan cepat ke arah Ruang Staf, dan menghilang ke balik pintunya.

***

“Mark?”

Suara lembut seorang wanita menyapanya, mengguncang lembut tubuhnya yang tertidur di ruang makan sekolah. Melupakan pesan Ayahnya, Mark membolos kelas musik dan melanjutkan tidurnya di ruang makan. Dia bukan satu-satunya yang bolos, ada sekitar dua puluh anak makan di sana, yang artinya mereka juga membolos.

Mark terbangun dan merasakan ujung halus rambut Suzy menyentuh tengkuknya. Dia menatap gadis itu dengan pandangan nanar. Kepalanya pusing dan berputar.

Suzy mengambil sesuatu dari meja, dan menunjuk sebuah benda kecil berukuran beberapa senti, “Kau membolos. Dan kau merokok?”

“Hanya sekali isap, aku hanya mencoba,” Mark terbatuk, “Dan kini aku pusing.”

Suzy duduk di hadapannya dengan dua gelas kopi dingin kesukaan Mark, dan disodorkannya satu ke Mark. “Aku minta maaf, Mark.”

“Ya,” jawab Mark singkat, menyeruput kopinya, “Terima kasih.”

Suzy tersenyum simpul, “Aku merasa emosiku tidak stabil akhir-akhir ini. Aku benar-benar minta maaf sudah marah tadi padamu.”

“Ya, tapi kau benar-benar akan mengundurkan diri?”

Suzy menghela napas, “Aku sangat ingin. Tapi aku tidak tahu apakah Ibuku akan mengizinkannya. Aku juga berat meninggalkan sekolah ini. Jarang sekali aku bisa berada di antara kalian.”

Mark diam, meminum kopinya sampai tinggal setengah gelas. “Tapi, tentang pria itu. Kau masih marah padanya?”

Suzy mengangkat bahu, “Entahlah. Aku merasa agak aneh. Tapi kau bisa menceritakannya padaku bila itu mengurangi bebanmu.”

“Aku bukan hanya akan menceritakannya padamu,” Mark terbatuk lagi dan menginjak-injak batang rokok yang hanya satu kali ia isap tadi, “Tapi menunjukannya padamu.”

***

Mereka menaiki lantai dua gedung asrama setelah mendapat alasan bahwa Mark kurang sehat. Mereka sampai di kamar Mark yang rapih dan berbau parfum ruangan aroma lavender.

Kemudian Mark masuk, dan merogoh laci di nakas di sudut kamarnya. Kemudian ia mengambil sebuah album foto kecil, dan menyerahkannya pada Suzy.

Mereka duduk di tempat tidur Mark dan menatap foto itu dengan lekat. Mark menunjuk pada halaman pertama, “Ini, sewaktu aku dan dia di kebun stroberi. Ini, sewaktu di kelas matematika.”

Mark terus menjelaskan sementara Suzy merasakan hawa dingin yang aneh sudah menikamnya. Dia memejamkan mata, tidak lagi mendengarkan perkataan Mark. Ia sudah siap dengan apapun. Dia tidak akan berteriak, apalagi marah. Maka dengan berat dia mengadahkan kepalanya.

Dan menemukan bayangan itu lagi di sudut kamar. Orang yang ada di album foto yang baru saja dia lihat. Orang itu menatap Suzy nanar, tapi dia tidak menyeramkan. Justru lebih terlihat sebagai malaikat yang datang.

Suzy tersenyum, tubuhnya agak gemetar, tapi dia justru menyapa seolah bertemu dengan teman lama.

“Kim Myungsoo?”

-tbc

 

A/N

yAHA akhirnya Myungsoo muncul juga :”) walaupun ga begitu banyak sih. Tapi di chapter selanjutnya, dia udah bakal lebih banyak keliatan. Dan akhirnya kegatelan nulis myungzy moment bakal ada di chapter selanjutnya :””) terimakasih untuk membaca! Saran dan kritiknya ditunggu!^^

34 responses to “The Fog [Chapter 7]

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s