Mistakes and Regrets #3

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo

Poster by animeputri @High School Graphics

I don’t own anything besides the storyline

Reminisce

Warning! Yang bercetak tebal adalah flashback dan mohon perhatikan tahunnya.

 Seoul, 2009

“Yeol-ah, tunggu aku!”

Seorang yeoja manis berambut panjang dengan seragam Seoul High berlari tergopoh-gopoh mengejar seorang namja yang berada lumayan jauh di depannya.

“Yeol-ah, pelankan jalanmu!” teriak yeoja itu lagi, melihat jarak antara dirinya dengan namja di depannya itu semakin melebar.

Namja yang dipanggil Yeol itu akhirnya berhenti melangkah. Dia kemudian menoleh kebelakang dan melihat yeoja yang memanggilnya tadi sedang berlari-meskipun cara larinya aneh. Namja itu lalu berjalan menghampiri yeoja tersebut dan menarik pergelangan tangannya.

“Ayolah, Bae Sooji. Kita bisa terlambat jika cara berlarimu seperti ini.”

Yeoja itu, Bae Sooji, mempoutkan bibirnya mendengar penuturan namja itu. Dihentakannya tangannya sehingga terlepas dari genggaman Sungyeol.

“Yya! Itu salahmu sendiri Lee Sungyeol. Kau yang terlambat bangun dan mebuat kita menjadi terlambat berangkat, jangan salahkan caraku berlari.” Sungut yeoja itu

Sungyeol terkekeh melihat yeoja yang berjalan disampingnya itu bersungut-sungut.

“Yya, itu juga salahmu, Sooj, membuatku harus begadang sampai malam hanya untuk mendengarkan bagaimana kemungkinan-kemungkinan hari pertamamu sebagai siswa SMA.”

Sooji kembali merengut mendengar jawaban sahatnya sejak kecil itu. Sebentar kemudia wajah yeoja itu kembali cerah dan binar di matanya menunjukkan semangatnya.

“Aku senang sekali, Yeol-ah! Akhirnya kita bisa satu sekolah! Akhirnya kita jadi siswi SMA! Akhirnya aku menjadi dewasa!” pekik Sooji riang.

Sungyeol kembali terkekeh melihat tingkah sahabatnya, “Kata siapa kau sudah dewasa Sooj? Tingkahmu bahkan seperti anak SD begini.”

Sooji memberikan death glare pada sahabatnya itu dan berjalan mendahuluinya.

“Yya! Aku ini siswi SMA, jangan samakan aku dengan bocah SD, Lee Sungyeol!”

Tawa Sungyeol pecah mendengar teriakan Sooji yang sepertinya sepenuh hati itu.

Sooji menatap geram Sungeyol kemudian berlari mendahuluinya, “Dwesso, terserah kau saja Lee Sungyeol.”

Bukannya berhenti tertawa, Sungyeol bahkan tertawa semakin keras, “Aigoo, Sooj. Kau bilang kau sudah dewasa tapi karena hal seperti ini saja ngambek.”

Melihat Sooji yang tidak lagi menggubrisnya akhirnya Sungyeol berhenti tertawa. Dilihatnya jarak aatara dirinya dan Sooji yang lumayan jauh membuatnya sedikit panik.

“Yya..yya Sooji-ah. Tunggu aku!” teriak Sungyeol.

“Tidak mau. Weeee…” Sooji menjawab teriakan Sungyeol juga dengan teriakan, kemudian menoleh kebelakang sebentar hanya untuk menjulurkan lidahnya ke arah Sungyeol.

“Yya…yyaa tunggu aku Bae Sooji! Memangnya kau tahu bis mana yang akan kita gunakan? Teriak Sungyeol lagi.

Mendengar pertanyaan Sungyeol, Sooji berhenti dan mematung. Diputarnya badannya perlahan ke belakang. Dengawan wajah merah menahan malu dan kesal Sooji kembali berteriak, “Ayo cepat Yeol! Aku tidak mau terlambat di hari pertamaku!”

Tawa Sungyeol kembali pecah melihat wajah Sooji, “Aigoo uri Sooji kan tidak pernah naik bis, geutchi?”

Sooji hanya mendengus mendengar Sungyeol yang kini sudah berada di sampingnya. Sungyeol tersenyum melihat yeoja di sampingnya itu terlihat sangat kesal karenanya. Namja itu kemudian mengacak rambut Sooji singkat dan menggenggam tangannya.

Kajja Sooji-ah! Hari ini pasti menyenangkan!” seru Sungyeol lantang,

Sooji ikut tersenyum melihat semangat Sungyeol dan ikut berseru, “Ne, hari ini pasti menyenangkan!”

“Yeol-ah! Kau kemana saja?”

Sungyeol menghampiri Sooji dengan senyum yang tidak dapat dia sembunyikan.

“Sooj.. err ada yang ingin kukenalkan padamu.”

Setelah berkata seperti itu, muncul seorang yeoja dari belakangnya.

Anyeong Sooji-shi. Jung Soojung imnida.” Mata Sooji membelalak melihat yeoja di depannya. Dia kemudian melirik Sungyeol yang terlihat gugup di depannya. Sooji tersenyum dan kembali menatap Soojung.

“Jung Soojung? Jungie, geutchi? Aigoo, neomu yeppo Jungie-ah. Sungyeol sudah sering bercerita banyak tentang yeojachingunya.”

Semburat merah muncul di kedua pipi Soojung mendengar perkataan Sooji dan Sungyeol pun menggaruk tengkuknya, salah tingkah. Sooji hanya tertawa kecil melihatnya.

“Aigoo, kalian benar-benar kyeowo.”

“Berhenti mengejekku pabo!”

“Jungie saja tidak marah. Iya kan Jungie?”

Soojung hanya mengangguk menaggapi ucapan Sooji. Sooji menjulurkan lidahnya kepada Sungyeol, merasa mendapatkan dukungan dari Soojung.

“Aish Jungie, jangan pernah kau bela princess manja ini.” Sungut Sungyeol.

“Ah iya Sooj, sebenarnya ada satu orang lagi yang ingin kukenalkan padamu. Tapi sepertinya dia belum datang.”

Nugu?” Sooji mengerutkan dahinya, penasaran.

“Dia tidak akan datang, Oppa. Dia sedang tidak enak badan, jadi kurasa dia tidak akan datang hari ini. Mungkin besok.” Ucapan Soojung membuat Sooji berhenti berpikir. Seringai kecil muncul di bibir Sooji.

“Yang ingin kukenalkan padamu itu sahabatnya Jungie, Sooj. Mereka sama seperti kita. Sudah saling kenal bahkan sejak memakai popok.” Jelas Sungyeol.

Oppa!” Sooji tiba-tiba berteriak.

Oppa! Kau memanggil Yeol dengan sebutan Oppa jungie-ah! Aigoo perutku geli sekali”

Wajah Soojung dan Sungyeol kembali berwarna merah padam.

“Yya.. Berhenti meledekku, pabo!”

Oppa! Sooji!” Soojung sedikit berteriak memanggil Sungyeol dan Sooji ketika mereka baru saja melewati pagar sekolah.

Aigoo Jungie, Aku tidak menyangka suaramu bisa begitu lantang.” Sooji mengusap telinganya yang sedikit terasa pengang akibat teriakan Soojung.

“Ah mianhae..” Soojung hanya bisa membalas ucapan Sooji dengan senyum malu.

“Kalian berangkat bersama lagi?” Tanya Soojung, sedikit menyelidik.

“Tentu saja. Kau tau kami bertetangga kan Jungie?” Sooji menjawab santai.

Soojung mengangguk mengiyakan.

“Aaah solma.. Kau cemburu ya Jungie? Geokjongma aku tidak doyan dengan spesies seperti Yeol.” Oceh Sooji

Soojung hanya tertawa kecil mendengar ucapan Sooji sedangkan Sunyeol hanya mendengus.

“Jungie-ah, ayo ke kelas.” Suara bass seorang namja memecah obrolan singkat ketiga orang itu.

Sooji mengerutkan dahinya, merasa tidak kenal dengan namja baru itu.

“Ah iya. Sooji ini yang ingin kami kenalkan padamu kemarin. Dia sahabat Jungie sejak kecil.”

Namja itu membungkukkan badannya sedikit.

Nan Myungsoo, Kim Myungsoo imnida.

Namja itu memperkenalkan dirinya dengan nada bosan dan dingin. Namja itu memperkenalkan dirinya tanpa senyum. Tapi namja itu berhasil Sooji terperangkap dalam pesonanya.

Namja itu adalah sahabat dari kekasih sahabat Sooji.

Namja itu adalah namja pertama yang membuat jantung Sooji terus melompat.

Namja itu adalah namja yang memperkenalkan pada Sooji bagaimana rasanya jatuh cinta.

Namja itu adalah namja yang membuat Sooji selalu berharap dan menunggu.

Namja itu adalah namja yang berdiri di samping Sooji namun matanya selalu melihat seorang yeoja lain.

Namja itu adalah namja yang berkata akan selalu bersama Sooji saat ternyata hatinya bukan milik Sooji.

Namja itu adalah namja yang berkata menyukai Sooji namun mencintai yeoja lain.

Namja itu adalah Kim Myungsoo. Kim Myungsoo menyukai Bae Sooji namun mencintai Jung Soojung.

Seoul, 2016

Sooji menatap bingkai foto yang berada di genggamannya. Jari telunjuknya perlahan tejulur, mengelus permukaan bingkai – yang menunjukkan foto dirinya, Jieun, dan Jongin – dengan lembut. Tangannya kemudian membuka bagian belakang bingkai tersebut, mengeluarkan selembar foto yang tertutupi sebelumnya. Foto terakhir dirinya dengan Sungyeol, Soojung, dan Myungsoo. Sungyeol dengan senyum lebar dan tangan kanannya yang membentuk huruf V dan tangan kirinya merangkul Soojung yang berada di sebelah kirinya dengan protektif. Soojung yang tersenyum lepas dengan tangan kanannya yang memeluk pinggang Sungyeol. Sooji yang berada sedikit lebih di depan dibanding yang lain dengan kedua tangan terentang lebar. Dan Myungsoo.. yang menatap Soojung yang berada di sebelah kanannya dengan tatapan lembut.

Sooji menarik selimutnya dengan kasar. Menenggelamkan wajahnya dalam gumulan selimutnya. Sooji menggigit bibir bawahnya keras-keras, berusaha menahan tangisnya. Dia sudah berjanji pada Jieun dan Jongin untuk tidak menangis. Dia sudah berjanji pada kedua orang tuanyan untuk menjadi lebih kuat. Dipejamkannya matanya kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan kejadian sore tadi dari kepalanya.

Sooji masih mengingat jelas bagaimana Soojung yang histeris melihatnya, Soojung yang kemudian menamparnya dan mengatakan bahwa dirinya tidak pantas untuk mengunjungi Sungyeol. Sooji memperhatikan bagaimana tatapan Myungsoo pada Soojung yang belum berubah, bagaimana Myungsoo berusaha menenangkan Soojung dengan lembut, dan bagaimana Myungsoo dengan tatapan dinginnya, meminta Sooji untuk pergi.

Sooji terisak, dia tahu dia salah. Dia tahu dia penyebab Sungyeol pergi. Dia tahu Soojung kini membencinya. Dia tahu Myungsoo selalu mencintai Soojung. Tapi… mengapa tetap sakit? Meskipun Sooji sudah mengetahui kenyataan itu, mengapa hatinya tetap sakit? Meskipun Sooji sudah bertekad untuk menjadi lebih kuat mengapa dirinya tetap menangis?

Drrttttt drrrtttttt drrrrrttttt

Drrttttt drrrtttttt drrrrrttttt

Drrttttt drrrtttttt drrrrrttttt

Sooji masih terisak, membiarkan hpnya tetap berdering tanpa berniat mengangkatnya.

Drrttttt drrrtttttt drrrrrttttt

Drrttttt drrrtttttt drrrrrttttt

Hpnya kembali bergetar. Sooji mengalah, perlahan tangannya terjulur dan mengambil hpnya yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Sooji menatap layar hpnya sekilas. Sederet nomer yang tidak dikenalnya muncul di layar hpnya.

Yeoboseyo” Suara Sooji terdengar sangat serak sehabis menangis.

“….” Hening. Sooji tidak mendengar apapun.

Yeoboseyo” Desak Sooji lagi. Tetap hening. Sooji menghembuskan nafas kesal. Moodnya semakin berantakan.

“YYa! Neo uro? Waeeeeee?” Suara JIeun terdengar melengking di telinga Sooji.

Sooji mengerutkan dahinya, dilepaskannya hpnya dari telinganya dan mengecek caller id si penelfon. Nomor tak dikenal.

“Jieun?”

Ne, na ya. Neo uro?”

Kau ganti nomer Jieun-ah?”

Ani, Jongin yang ganti nomer, hpnya hilang di Osaka. Dia menelfonmu, ingin mendengar kabarmu, tapi mendengar suara serakmu dia langsung memberikannya padaku. Dia bilang dia bisa langsung terbang ke Korea jika mendengarmu menangis. Yyaaaa, neo uro? Waeeee?”

Sooji tersenyum kecil mendengar ocehan Jieun di telfon. Jongin tetap berlebihan seperti biasa.

“Sooj? YYaa jawab pertanyaanku.”

Nan gwenchana jigeum, Jieun-ah.”

Geotjimal!” Suara Jieun terdengar frustasi.

Jinjja gwenchana Jieun-ah. Tadi aku memang sedikit tidak baik tapi mendengar suaramu aku sudah merasa baikan.”

Yya jangan membuat kami panik. Kau tahu aku sedikit cemburu saat Jongin bilang dia akan menyusulmu kalau mendengarmu menangis.”

Sooji terkikik kecil mendengar ucapan Jieun, Sooji juga dapat mendengar Jongin yang berteriak ‘Hanya Lee Jieun untuk Kim Jongin’ di belakang Jieun. Memang hanya mereka yang bisa membuat Sooji kembali tersenyum.

“Jadi?”

“Jadi apa Jieun-ah?”

“Kau tidak mau menceritakan pada kami apa yang terjadi? Bagaimana harimu di Korea?”

Sooji menghela nafasnya dan mulai menceritakan pada kedua sahabatnya itu, apa yang dialaminya.

Sooji melangkahkan kakinya meunju ruang makan. Dilihatnya samchon, yimo, dan sepupunya sudah siap di meja makan dengan kegiatannya masing-masing. Samchonnya denga Koran paginya, Yimonya terlihat sibuk mengambilkan sarapan untuk suami dan anaknya, dan Woohyun yang fokus dengan gadgetnya. Ditariknya sebuah kursi di depan Woohyun, tepat di samping yimonya.

“Selamat pagi, Sooji.” Nyonya Nam kemudian mengambilkan setangkup roti dengan ham dan selada dan meletakannya di piring di hadapan Sooji.

Gamsahamnida, Yimo.”

Sooji mulai menyantap saran paginya.

“Bagaimana hari pertamamu di kantor Sooj?” Suara samchonnya memecah keheningan pagi itu.

Sooji menengadahkan kepalnya. Menatap samchonnya yang juga sedang menatapnya intens dan telah meletakan Koran paginya entah di mana.

Sooji berdeham kecil, di lapnya mulutnya dengan serbet, “Lumayan, Samchon.”

“Sunggyu hyung bilang Sajangnim barunya dingin, sedikit tidak sopan, dan tidak berbaur dengan para staff.” Woohyun membuka suaranya tanpa mengalihkan pandangannya dari sarapannya.

Sooji mengerutkan dahinya. Sunggyu? Nugu?

Geure? Jika Sunggyu sudah berkata begitu pasti benar, hajiman kemarin hari pertama Sooji jadi wajar jika dia masih belum terbiasa.”

Woohyun mendengus mendengar ucapa ayahnya, “Geure. Terserah Abeoji saja.”

Woohyun kemudian menatap Sooji yang berada di seberangnya, “Kau harus sedikit lebih sering tersenyum Sooji-ah. Agar para staff nyaman bersamamu dan tidak ketakutan melihatmu. Dan belajarlah untuk bilang terimakasih.”

Kerutan di dahi Sooji perlahan hilang. Dia kini ingat siapa Sunggyu.

“Ah, jadi Kim Sunggyu-shi yang mengadu pada Oppa?”

Woohyun mengangkat alisnya mendengar nada Sooji yang begitu menekankan kata ‘Kim Sunggyu’.

Woohyun tersenyum miring melihat ekspresi Sooji yang terlihat kesal.

Wae? Kau tidak menyukainya? Dia wakilmu, sajangnim. Lebih baik jika mendengar nasihatnya. Dia jelas lebih pengalaman dibandingkan dirimu.”

Kini giliran Sooji yang mendengus. Dia masih ingat ‘ancaman’ Sunggyu kemarin dan bagaimana Sunggyu ‘menggurui’nya.

Sudut bibir Woohyun semakin terangkat ke atas melihat Sooji. Sooji sekarang memang lebih dingin dan jarang senyum, tapi setidaknya Sooji masih merespon ucapannya.

“Jangan kesal begitu padanya Sooj. Nanti kau jatuh cinta.”

Sooji memutar bola matanya malas, “Maldo andwe. Dia terlalu tua untukku, dan mata sipit seperti itu jelas bukan tipeku.”

Woohyun terkekeh, “Dia tidak setua itu Sooj. Dan Kim Sunggyu jelas punya charm yang membuat para staff yeoja berbisik setiap dia lewat.”

Sooji kembali mendesis, “Yang benar saja”

Sooji menatap dokumen di tangannya dengan gusar. Sebuah proyek pembuatan resort baru di Yangyang, tepatnya di dekat Pantai Naksan benar-benar menyita perhatiannya. Ini akan menjadi proyek besar perdananya. Sooji tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.

Sooji kembali mencoba fokus menatap berlembar-lembar proposal dan berpuluh-puluh design yang diajukan padanya. Sooji harus memilih, tapi Sooji takut keputusannya salah. Sooji menghela nafasnya kesal. Dia menghirup teh hangatnya yang telah dibuatkan oleh sekretarisnya.  Sooji tidak menyangka hari keduanya bahkan sudah sesulit ini.

Tok tok tok

Ketukan di pintu menghentikan Sooji dari kegiatannya mengirup aroma teh. Diletakannya cangkirnya kembali di meja, “Masuk.”

Kim Sunggyu muncul dengan setumpuk dokumen di tangannya. Sooji tersenyum kecut melihat kehadirannya ditambah setumpuk dokumen baru yang harus ditanganinya.

Sunggyu menundukkan sedikit tubuhnya kemudian berjalan ke arah meja Sooji dan meletakkan semua dokumen di tangannya di atasnya.

Sajangnim, ini proposal-proposal tambahan yang diajukan untuk proyek di Naksan. Ada beberapa design, yang menurut tim sangat baik dan bisa anda pilih.”

Sooji mengangguk kemudian berdeham kecil, “Gamsahamnida”.

Sunggyu tersenyum kecil mendengar ucapan Sooji, “Cheonma. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa meminta bantuanku.”

Sooji sedikit membelalakkan matanya mendengar ucapan Sunggyu yang tidak formal, padanya.

Sunggyu kembali membungkuk, “Saya permisi.”

Melihat Sunggyu yang mulai berjalan ke arah pintu membuatnya menghela nafas.

“Sunggyu-shi.” Panggil Sooji. Sooji melihat Sunggyu memutar tubuhnya, kembali menatap Sooji dan mengangkat sebelah alisnya.

“Ne?”

Sooji kembali berdeham, “Bisa kau bantu aku memilih? Bisa kau merekomendasikan padaku design, ani, arsitek yang dapat dipercaya? Aku bahkan belum tau kondisi lokasi pembangunan seperti apa.”

Sunggyu tersenyum kecil mendengar ucapan Sooji. Woohyun benar, cepat  atau lambat sajangnimnya ini akan meminta bantuannya.

Geure, aku akan membantumu.”

Sooji bangkit dari kursinya kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit, “Gamsahamnida.”

Sunggyu tertawa kecil melihat tingkat atasannya, “Aigoo, tidak usah sungkan begitu Sooji-shi. Tuan Nam dan Woohyun sudah seperti keluargaku.”

Sooji sedikit salah tingkah mendengar ucapa Sunggyu. Sooji tersenyum kikuk dan menggaruk area di bawah telinga kanannya, “Geure?”

Pantas saja Woohyun dan Samchon percaya begitu saja pada ucapan Sunggyu mengenai dirinya, pikir Sooji.

Sunggyu kembali tertawa pelan melihat tingkah Sooji, tangannya otomatis terangkat mengacak kepala Sooji, yang sebenarnya adalah atasannya.

“Seorang atasan bersikap sopan itu wajar. Seorang atasan yang dapat mendengar pendapat bawahannya akan menjadi seorang yang sukses.” Sunggyu tersenyum lebar pada Sooji.

Sooji tertegun. Matanya menatap busajangnimnya yang masih menampakkan senyumnya. Hatinya terasa hangat.

Seorang atasan yang dapat mendengar pendapat bawahannya akan menjadi seorang yang sukses.

Seperti Appanya. Kata-kata yang diucapkan Sunggyu tadi seperti kata-kata yang pernah diucapkan oleh Appanya pada Sooji. Sooji tersenyum. Senyum tulusnya yang pertama semenjak dia kembali ke Seoul.

Gomawo, Jeongmal gomawo” Sooji merasa Woohyun benar, Kim Sunggyu ternyata tidak seburuk dugaannya.

 

-TBC-

 a/n

Annyeong, ini chapter 3 mistakes and regrets.

Gomawo buat comment-commentnya readers! Aku bacain satu-satu kok, mian kalau ga aku bales.

Hmm hampir semua bingung ya sama ceritanya.

Mianhae kkk pada bingung ya kenapa chapter 1 dan 2 keliatan ga nyambung sama prolog.

Hmm salah aku juga sih, sebenernya prolog di sini tuh kaya preview singkat gitu, apa yang ada di prolog bakal muncul di chapter sekian atau scene sekian. Mungkin nyebutnya bukan prolog kali ya seharusnya, tapi teaser? Tapi habisnya kalau disebut teaser menurut aku juga terlalu singkat dan terlalu ‘ga merangkum’ makanya aku sebut prolog kkk. Jeongmal mianhae jadi pada bingung.

Dan seperti yang aku bilang di chap 1, aku gamau buru-buru, alurnya bakal lambat, tokoh juga bakal muncul satu-satu, jadi yang bingung ini siapa, itu siapa, tunggu aja yaa.

Dan mian banget di chapter ini malah adanya moment Suzy-Sunggyu, Myung belum nongol, tapi ya gimana, lagi doyan berat nih sama Sunggyu kkk tapi Myung juga udah sempet disinggung kan?

Terus kalau baca ff aku mohon perhatikan tahunnya. Aku tuh nulisnya alurnya maju mundur gitu, jadi untuk menghindari kebingungan tolong banget perhatikan tahunnya.

Dan makasih banget udah baca a/n edisi kali ini yang super duper panjang kkk :3

Happy reading, chingu! Mian for bad writing, typos, wrong diction or anything.

Feel free to give me advices, suggestion, or critics, yang penting nulis sesuatu di kolom komentar :3

See you on next chapter J

72 responses to “Mistakes and Regrets #3

  1. Pingback: Mistakes and Regrets #3 | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s