The Fog [Chapter 8]

cr cloverqua @ Art Fantasy

Title: The Fog

Author: Little Thief

Main cast: Suzy, Myungsoo, Mark

Genre: romance, angst, fantasy

Length: chaptered

Rating: PG-13

Suzy melempar tasnya keras asal-asalan, dan dengan gerakan kilat ia membuka laptopnya. Ia menghubungkan dengan internet, kemudian mencari-cari berita tentang Kim Myungsoo yang masih jadi perbincangan.

Pilihannya tertuju pada satu judul dimana ia merasa bisa menemukan titik terang.

“Pembunuh Masih Dicari, Kerabat: Myungsoo Orang Baik”

Suzy nyaris membanting mouse-nya, dan ia menutup laptop kesal, “Aku tidak butuh pendapatmu, kerabat Myungsoo!” ia mengoceh lewat mulutnya. Kemudian pikirannya terlintas pada Azura yang sudah lama tak ditemuinya karena kesibukan. Maka ia menelepon sahabatnya itu, dan langsung bertanya sebelum temannya sempat menjawab.

“Halo? Hei, Azura. Ini aku Suzy. Aku ingin membicarakan sesuatu. Bisa bertemu?”

“Temanku, Bae Suzy. Bagaimana kabarmu?” Azura meletakkan sebuah nampan penuh donat warna-warni, “Lama tidak bertemu.”

Suzy tersenyum, mengambi salah satu donat, “Aku baik, tapi hanya agak muak dengan kehidupan.”

“Makanya jadi remaja normal saja,” Azura mendengus, “Pergi ke sekolah, makan di restoran sepulangnya. Apa yang biasa kau lakukan di Mushten, hm?”

“Menjadi Staf sekolah. Yeah, seperti itulah. Aku tak pernah menempuh pendidikan formal, kau tahu, kan? Seluruhnya tertuju pada musik.”

Azura mengembuskan napas, menyedot gelas berisi limunnya, “Kau sudah dapat teman di sana?”

“Ya, tampan, kurasa dia bakal jadi tipe idealmu,” ledek Suzy. Azura tertawa lebar, kemudian menjentikkan jarinya, memakan donat kedua. Gadis berambut pirang itu bisa makan sebanyak apapun tanpa kegemukan.

“Jadi, ceritakan tentang teman barumu. Kau punya fotonya?”

“Dasar penggoda,” dengus Suzy. “Tidak. Dia pintar menari, musik…begitupun matematikanya. Ah, ini sulit. Kau mau berkenalan dengannya?”

Azura mengangkat bahu.

“Kirim surat padanya?”

“Boleh.”

Suzy akan bercerita tentang masalahnya dengan Myungsoo, tapi dia menutup mulutnya. Tidak ada yang boleh tahu tentang ini, kecuali dirinya sendiri dan Mark. Sebagai gantinya, Azura justru sudah melempar pertanyaan padanya.

“Kemana kau akan menghabiskan Natal?”

“Eh?” Suzy tersadar dari lamunan.

“Kemana kau akan menghabiskan Natal?” ulang Azura.

Suzy baru menyadari bahwa hari Natal hanya seminggu lagi, dan dia sama sekali tidak tahu. “Entahlah. Mungkin di rumahku. Aku undang kau saja bagaimana?”

“Boleh juga. Nah, aku akan tulis surat ke temanmu itu agar dia datang ke acara Natal di rumahmu. Oke?”

“Hm, yah.”

“Teman lelakimu itu tidak ada rencana akan berlibur ke negara asalnya kan?”

Suzy tampak berpikir, “Kurasa tidak.”

“Bagus.” Azura tersenyum simpul.

Tampaknya temannya itu begitu antusias untuk mengenal Mark, karena dua hari kemudian, sebelum berangkat ke Mushten, Azura melampirkan sebuah amplop kepada Suzy.

“Ini, berikan padanya. Dari Azura Sean Campbell, bilang saja ke dia.” Gadis itu melayangkan senyuman manis yang Suzy yakin Mark akan menyukainya dalam waktu yang cepat.

“Baik,” Suzy memasukannya ke dalam tas, “Ada lagi? Fotomu, barangkali?”

“Aku mau lihat dia tertarik padaku apa tidak. Kebanyakan para lelaki tertarik ketika melihat visualisasinya,” gerutu Azura. “Bisa kau kirim balasannya nanti padaku?”

“Tentu saja. Kau terlihat penasaran sekali. Nah, aku akan berangkat. Sampai jumpa.” Suzy memeluknya, dan kemudian ia melesat masuk ke dalam mobil dan mengendarainya sendirian selagi Ibunya belum bisa mengantarnya karena masih ada urusan di Kanada.

Suzy kemudian baru sadar Azura mendatangi rumahnya jam setengah enam pagi begini saking antusiasnya mengirimi Mark surat. Suzy tersenyum. Temannya itu memang sangat bersemangat bila bertemu orang baru. Dia punya jutaan obrolan menarik. Suzy kadang iri padanya.

Ketika sampai di sekolah tersebut, dia tidak menemukan siapa-siapa. Maka, sebelum dia memasuki Ruang Staf, ia memutuskan pergi ke ruang makan. Menemui Mark.

Dia harus datang ke sini tiap harinya karena sudah jadi bagian dari para guru. Meskipun dia lebih sering menghabiskan waktu bersama Mark. Pria itu sering membolos karenanya, membuat Suzy merasa tidak enak hati.

Ruang makan terlihat sudah agak sepi, tandanya para murid sudah siap untuk belajar. Suzy yakin orang yang dicarinya masih duduk di sana. Benar saja, Mark duduk di salah satu sisi meja, memakan salad sarapannya.

“Hai, Mark. Tidak berangkat ke kelas Matematika?” seorang teman menepuk pundaknya.

“Nanti saja,” Mark menanggapi dengan mulut berlumuran mayonais, “Aku akan berangkat nanti.”

“Oke. Tadinya aku ingin berangkat denganmu agar kau tidak sendirian. Baiklah, semoga harimu menyenangkan.”

Tapi Suzy tahu Mark tidak duduk sendirian di sana. Setelah temannya itu pergi, Suzy menghampiri Mark dan dibalas pria itu dengan senyum seadanya.

Mark menunjuk mulutnya, menandakan dia tidak bisa berbicara karena mulutnya penuh. Suzy mengangguk, dan kemudian menatap dingin orang di samping Mark.

“Halo, kau akan membolos lagi?” tanya Suzy.

Mark mengangkat bahunya, “Aku malas sekali.”

“Aku takkan membiarkanmu bolos lagi, Mark.” Suzy menatapnya tajam, “Setelah sarapan ini, kau harus ke loker dan masuk ke kelas. Sudah banyak kau membolos, rasanya.”

Mark menanggapi dengan enggan. Kemudian Suzy teringat pada sesuatu. “Oh, ya. Ada temanku yang ingin berkenalan denganmu.”

“Oh, ya?” Mark tidak kelihatan tertarik.

“Ya. Dia kirimkan surat ini padamu,” Suzy menyodorkan amplopnya dan diterima oleh Mark. Mark membaca nama di amplop itu sambil mengerutkan dahi.

“A-zura Sean Ca-mp-bell?” dia mengejanya lambat-lambat.

“Ya. Dia temanku. Baca suratnya saat kau kebosanan atau apa di kelas matematika nanti.”

Mark tersenyum lebar, entah karena apa, mengantongi amplop tersebut. Dia berdiri dari kursinya dan menatap Suzy dan Myungsoo yang masih terduduk. Dia berubah menjadi semangat.

“Jadi, aku akan ke kelas. Bagaimana dengan kalian…”

Mark ragu untuk melanjutkan ketika Myungsoo memotong, membuat Suzy terkejut, “Tinggalkan saja aku dengannya.”

“Oke,” Mark tersenyum lagi, mengacak rambut Suzy, “Aku kembali begitu kelasnya berakhir, ya?”

Kemudian, dia berlari keluar dari ruang makan dengan langkah lari yang gembira. Meninggalkan Suzy dan Myungsoo yang duduk berhadapan dengan kikuk dan canggung.

Entah mengapa, senang sekali ketika Azura itu mengiriminya surat. Rasanya seperti bertemu teman pena lama. Dia tersenyum sendiri selama pelajaran, dan gatal tangannya ingin membuka amplop surat tersebut.

Maka ketika si guru Matematika itu lengah dan kemudian jatuh tertidur, Mark mengambil surat itu dari sakunya. Amplop itu sudah lusuh terdudukinya, tapi Mark tetap membukanya dengan semangat. Dia tak mampu menahan senyumnya yang terus mengembang sedari tadi.

Untuk temannya Suzy,
Dariku, Azura Sean Campbell

Mark tertawa. Nama yang bagus, pikirnya.

Aku tidak begitu baik dalam menyapa orang. Jadi, aku memperkenalkan diri dahulu.
Namaku Azura Sean Campbell. Biasanya dipanggil Azura. Umurku enam belas, tinggal satu kota denganmu tapi agak lebih jauh. Hobiku membaca, dan mengoleksi gaun. Aku bersekolah di sekolah perempuan, hehehe.

Aku hanya anak tunggal satu-satunya. Well, warna kesukaanku adalah biru. Karena Azura itu warna semacam biru, sebetulnya! Aku cerdik dan jago memanah, aku punya pekarangan untuk latihan memanah pada saat akhir pekan.

Aku suka makan. Rasanya bisa makan berapa porsi dalam sehari, tapi tubuhku tak pernah gemuk. Aku agak kesal. Asal kau tahu, kalau kau bertemu denganku, ada ciri khas pada diriku. Rambutku bergelombang panjang, mataku berwarna hijau menyala. Dan wajahku…galak! Mungkin itu saja.

Oh, ya, temannya Suzy. Kau mau datang saat Natal nanti di rumah Suzy? Kutebak kau pasti tidak akan liburan kemana-mana saat Natal.

Azura.

Mark merasakan jantungnya berdegup ketika membaca ajakan Azura. Ia sangat tertarik pada gadis ini. Kepribadiannya kelihatannya menyenangkan. Mark melipat suratnya tepat waktu ketika si guru terbangun, dan menatap kelas dengan wajahnya yang tidak menyenangkan.

“Halo,” Suzy memaksakan senyum, yang dibalas dengan Myungsoo. “Kau Myungsoo, bukan? Aku Suzy.”

Suzy harus memastikan tidak ada orang yang memperhatikan, karena dia bisa dianggap orang gila nanti. Rasanya sangat canggung, dan Suzy ingin cepat-cepat pergi dari sini.

“Er…jadi, kata Mark, kau meminta bantuanku? Mencari seorang pembunuh?”

Myungsoo tidak berkata-kata.

“Oke, lupakan saja. Sebelum aku bisa membantumu, bagaimana bila kau mengenalkan latar belakang dari kehidupanmu dulu? Pasti menyenangkan.” Kata Suzy, berusaha melempar senyum.

“Aku lahir di Seoul.” Jawab Myungsoo singkat, membuat Suzy kaget akan suaranya.

“Sama denganku.”

“Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku menikah dan tinggal dengan keluarganya di Inggris.”

“Karena itulah kau pindah ke sini?”

Myungsoo menggeleng. “Aku masuk ke sini setahun lalu. Seleksi memilihku ketat sekali. Aku diterima masuk karena kemampuan fotografiku. Lalu, kemudian, setelah masuk aku memilih kelas fotografi, dan musik seperti Mark.”

“Kau begitu menyukai seni, begitu ya?”

“Seni itu indah,” Myungsoo tersenyum, membuat Suzy tertegun. Itu pertama kali dilihatnya Myungsoo tersenyum, “Aku sangat menyukainya. Gambar dan musik itu perpaduan yang sempurna sekali.”

“Kau bisa memasak?”

“Aku ini koki yang handal,” Myungsoo memulai, membuat kekakuan di antara mereka mencair, dan Suzy tidak lagi merasa takut. Dia justru benar-benar tertarik.

“Ibuku mengajariku hal tentang kuliner. Kau tahu, kuliner Amerika. Gumbo, hamburger, taco, omelet dan sebagainya. Atau Italia. Sebut saja pizza, spaghetti, tapi asal kau tahu, aku bisa membuat adonannya sendiri, bukan instan. Lalu kau tau risotto?”

Suzy menggeleng, merasa malu.

Itu masakan dibuat dari beras dan bumbu yang, unik. Atau masakan Asia? Yeah, sushi, ramen, kimchi…nasi lemak, lahpet, gado-gado. Aku bisa memasaknya.”

“Wow,” puji Suzy, benar-benar takjub, “Jadi, selain seni, kau menyukai cita rasa?”

“Mereka satu perpaduan untukku. Bukan berbeda bidang lagi.”

“Kau pandai memasak roti, bukan?” Suzy kini berharap Myungsoo mau bercerita lebih banyak lagi. Kini dia justru bertopang dagu, menatap bayangan Myungsoo seolah lupa bahwa dia adalah hantu dan tidak nyata.

“Oh, roti dan kue! Aku sangat sangat menyukainya. Memang disitulah kemampuan memasakku berasal. Apa, ya? Contoh saja kue sus, croissant, black forest? Hm…donat, bibingka, bakpau, cokelat chips? Apa, ya, macarongingerbread, fortune cookie. Oh, ya, kau tahu onde-onde? Bakpia? Aku menjual semua itu di toko rotiku.”

Suzy menggeleng, dia tidak tahu harus berkata apa sementara Myungsoo berkata panjang lebar.

Myungsoo mendecakkan lidah, “Lain kali, kau harus mencoba memasak sesuatu. Kau bisa membuka restoranmu sendiri, meraih kekayaanmu sendiri. Perempuan yang baik itu yang bisa memasak, iya, kan?”

“Aku tidak memiliki bakat apapun di situ, hidupku hanya pada musik.” Sergah Suzy, agak tersindir karena dia hanya memasuki dapur beberapa kali seumur hidup.

“Tapi bagaimana bila anakmu kelaparan? Kau suguhi mereka dengan nada piano?”

“Tidak, bukan begitu maksudku.”

“Percayalah, hidup ini ada banyak yang bisa kau ambil. Ada musik, olahraga, sains, kuliner, travel. Bukan soal cinta melulu, bukan? Bukan lagi tentang patah hati saja. Aku akan hidup lagi jika aku mau. Aku sudah mencoba berkecimpung di dunia musik. Aku menang di berbagai bidang sains, olahraga. Aku bisa kuliner. Aku sering berkeliling. Aku hanya ingin merasakan satu hal saja.”

“Apa?”

Myungsoo tersenyum pahit. “Merasakan jatuh cinta.”

Mark keluar dari kelas dengan senyum riang yang tidak bisa ditahannya. Ia sudah menulis balasannya sedari tadi, dan memilih baru esok akan dikirim ke Azura. Agar gadis itu penasaran.

Dimana Suzy? Mark mencari-cari mereka berdua dan Myungsoo. Apakah mereka pergi ke padang rumput? Rasanya tidak mungkin. Mereka berdua saja masih kaku begitu. Mark mencari mereka ke sekeliling asrama, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencari mereka di ruang makan, mungkin masih di sana.

Dan memang masih ada di sana. Mereka berdua masih duduk di bangku yang sama. Tapi bedanya kali ini mereka terlihat begitu akur. Suzy tertawa menanggapi ucapan Myungsoo, dan kelihatan begitu dekat. Suzy bahkan lupa bahwa ia harusnya sudah masuk ke Ruang Staf sejak berjam-jam yang lalu.

Mark menatap mereka dari kejauhan. Tiba-tiba, perasaan riangnya berubah menjadi perasaan yang aneh. Membakar tubuhnya. Dia tidak begitu suka melihat pemandangan itu. Mendadak dia merasa menyesal bersikeras mengenalkan Myungsoo pada Suzy. Apa itu…cemburu?

A/N:

Q: ih ini authornya gimana sih dulu aja updatenya lama sekarang jadi sehari satu chapter begini

A: jujur, aku sendiri merasa suntuk dan bosan. Ingin sekali rasanya cerita ini cepat-cepat selesai.

31 responses to “The Fog [Chapter 8]

  1. Aigo akhir’a myungzy udh deket yah aq berharap mereka bisa tetap deket heheh. Hhmm kaya’a mark cemburu deh ke myungzy padahal pas baca surat azura dy dag dig dug heheh. Tetap semanget yah thor wat bikin ff’a ne

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s