The Fog [Chapter 9]

poster by cloverqua at Art Fantasy

Title: The Fog

Author: Little Thief

Main cast: Suzy, Myungsoo, Mark

Genre: romance, angst, fantasy

Length: chaptered

Rating: PG-13

Mark menghampiri mereka dan duduk dengan bantingan keras, seolah ingin mengusik antusias mereka. Kemudian, ia memutar bola mata dan menyeringai ke arah Suzy.

“Selamat siang, kalian berdua.”

Myungsoo menatap Suzy kikuk dan kemudian tertawa, “Kenapa?”

Mark mengerutkan dahi, “Kenapa? Dengar, sepertinya kalian tidak senang kehadiranku, ya? Ayo pesan makan siang.”

Suzy menunjuk ke arah sudut ruang makan dari kejauhan. Dimana si Koki Kacang Polong, Mr. Gum, duduk di counter-nya. “Itu saja. Pesankan aku satu, Mark. Akan kubagi dua nanti dengannya.”

Kemudian Mark melirik Suzy, lalu bergantian Myungsoo, “Kau serius? Aku benar-benar malas, astaga, baiklah.”

Mark berjalan ke arah Mr. Gum dengan menggerutu. Sebegitu serukah mereka? Baru beberapa Mark melangkah, mereka berdua kembali bercengkrama, dan Suzy menanggapinya dengan penuh tawa. Mark mendengus kesal.

Pesan kacang polong satu mangkuk.” Katanya, dan Mr. Gum langsung memberinya mangkuk berisi kacang polong, dengan enggan Mark menerimanya. Setelah mengambil sup dari Mr. Emre, dia kembali ke meja dan menyerahkan mangkuknya.

“Itu.”

Suzy hanya meliriknya sebentar, kemudian menerimanya, “Terimakasih,” dan kembali berbicara dengan Myungsoo.

Mark memakan supnya, melamun, merasa diabaikan. Kedua orang itu terus berganti topik. Mulai dari kuliner, cara memasak ini itu, dan membicarakan negara mereka. Bahkan ketika Mark mulai mencuri kacang polong Suzy, gadis itu tidak sadar sama sekali.

“Ya, jadi begitulah, kemudian Ayahku bilang ‘Lebih baik kau tidak hidup sama sekali, Nak!’, kemudian, sekarang aku benar-benar tidak hidup.”

Suzy tertawa untuk yang kesekian kali dan merasa lapar, ia mulai mencari mangkuknya. “Mark. Kau makan kacang polongku, ya?”

“Kukira kau tidak akan memakannya,” Mark cemberut, dan meninggalkan mereka berdua dengan perasaan sakit hati. Suzy kemudian tertawa lagi, diikuti oleh Myungsoo.

“Dia kalau marah memang begitu, ya?”

Mark memilih membolos kelas tari kali ini. Lagipula, Suzy tidak akan melarang-larangnya lagi. Jadi, dia memilih untuk masuk ke kamarnya, memutup pintu dan menyalakan AC. Udara dingin menyergapnya, berbanding terbalik dengan udara panas di luar tadi.

Dia duduk di meja belajarnya dan mengeluarkan kertas yang dia tulis di pelajaran matematika tadi.

Untuk Azura S.C, temannya Suzy
Dari aku, Mark Tuan

Aku Mark Tuan. Lahir di Taiwan, tapi tinggal di Thailand. Hobiku, tidak punya. Aku senang melakukan apa saja.

Aku tidak akan berkata banyak tentangku. Nanti saja bila kita bertemu. Aku tidak akan kemana-mana nanti saat Natal. Jadi, kurasa kita bisa bertemu saat aku menghadiri Natal di rumah Suzy nantinya.

Mark.

“Kirimnya pakai telegram saja kalau sesingkat ini,” gerutunya pada diri sendiri. Kemudian, ia merebahkan diri ke kasurnya ketika pintu ruangannya menjeblak terbuka. Dilihatnya Sehun dari pintu, tengah berjalan ke arahnya.

“Hai. Kau membolos juga? Mau menemaniku kali ini?” Mark bertanya malas seraya menguap. Namun tiba-tiba temannya itu menarik kerah pakaiannya, dan mendorongnya dengan gerakan kilat ke arah dinding, membuat Mark terkejut setengah mati.

“Wow, wow, ada apa?” tanya Mark. Punggung tangan Sehun menahan lehernya.

“Kau dekat dengannya?”

“Dengan siapa?”

“Pianis itu! Setelah kematian temanmu yang bodoh, kau dekat dengannya?”

Mark menatap Sehun sejenak, wajahnya memerah marah, dan mendorong dadanya, “Apa maksudmu?”

“Dengar, Mark, dengar. Kau sudah kelewatan. Tadinya aku bersimpati padamu. Tadinya aku mengasihanimu. Menganggap ilusi tololmu hanya khayalan. Tapi, tadi, dengan siapa pianis itu berbicara?”

“Apa yang bisa kau dapat dariku?” Mark berteriak marah, “Ada apa dengan perempuan itu?”

“Berbicara sendiri di ruang makan selama tiga jam pelajaran! Sekaligus makan siang! Tertawa sendiri. Aku yakin ada sesuatu yang membuatnya jadi begitu. Kau penyebabnya, bukan?”

Hati Mark mencelos. Dalam hati dia merutuki kebodohan Suzy. Harusnya gadis itu sadar diri bahwa lawan bicaranya tadi adalah arwah penasaran yang tidak terlihat. Berusaha memasang wajah tenang, dia menepuk pundak Sehun.

“Sobat. Kau hanya terlalu emosi. Dengar, aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Aku berada di kelas matematika saat dia begitu. Aku tidak terlibat. See? Tidak ada gunanya menghajarku.”

“Tapi aku bersumpah dia berbicara sendiri.”

“Lagipula, kalau dia berbicara sendiri, apa hubungannya denganmu?” Mark kini mulai menggeram, mendorong Sehun keras.

Sehun menatap Mark dengan dengusan napas keras, seolah serigala yang siap menerkamnya. Kemudian dari tatapan matanya, Mark mengetahui apa artinya. Tatapan Sehun melunak, dan dia kemudian melangkah mundur.

“Terserahlah. Aku yakin dia jadi sinting karena ada sangkut pautnya denganmu.”

Mark memikirkan kejadian itu saat jam sekolah berakhir dan menjelang makan malam. Dia tidak percaya, Sehun yang selama ini ngotot untuk menggantikan posisi Myungsoo menjadi temannya menjadi seperti itu. Dia berubah menyeramkan.

Tapi Mark bisa membaca arti matanya. Sehun jelas menyukai pianis itu, walaupun sebetulnya agak aneh. Apakah dia yang meneror Suzy? Mengirimkan surat cinta yang membuat ngeri di mejanya? Mendadak dia berubah menjadi psikopat, dan Mark agak khawatir sekarang.

Di ruang makan, dia hanya makan malam sendirian. Tapi dengan Myungsoo di depannya, dan tak ada orang yang melihatnya. Sayang sekali. Mark memutuskan tutup mulut sampai akhirnya ruang makan benar-benar sepi dan hanya menyisakan dirinya, dan ia mulai berbicara dengan berbisik halus.

“Myung, aku punya cerita aneh sewaktu kau masih di sini tadi siang.”

Lalu Mark bercerita panjang lebar tentang kejadian Sehun menyerangnya. Tentu dengan berbisik. Dia tidak ingin seperti Suzy, yang bodohnya terlalu asyik sampai tidak sadar ada orang mengerikan yang menguntitnya.

“Sehun?” Myungsoo berkata lambat, “Aku tidak tahu. Hanya kenal sedikit, maksudku. Kenapa dia jadi berubah seperti itu? Kau ada masalah dengannya?”

“Astaga, justru dia yang kelihatan mau cari onar denganku. Aku mengabaikannya terus-terusan.” Mark menyeruput jusnya, menatap Myungsoo dan menghela napas, “Mungkin ada sesuatu gangguan pada dirinya.”

“Mungkin, kita tak tahu,” Myungsoo mengangkat bahu, “Ngomong-ngomong, dimana Suzy?”

“Oh, mulai mencari dia, rupanya, ya?” sindir Mark, masih terluka atas kejadian tadi siang.

“Dia menyenangkan,” Myungsoo tersenyum, mengetuk-etukkan meja. “Tidak banyak bicara. Tapi pendengar yang keren. Wawasannya luas, kau tahu. Ya, ya, begitulah.”

“Oh.” Mark menjawab singkat. Mereka tetap di situ, menunggu Suzy untuk datang. Mark melamun tentang kejadian tadi siang yang benar-benar menghantuinya ketika terdengar jeritan nyaring dari arah kamar mandi.

Mark terkaget menyadari suara perempuan di sana. Mark baru ingat bahwa Suzy tinggal di sini sampai malam hari untuk mengurus pengunduran dirinya. Dia bertatapan dengan Myungsoo dalam sedetik, dan langsung melesat dari ruang makan menuju kamar mandi.

Seluruh murid tampaknya sudah pergi dari gedung ke sekolah ke kamar masing-masing, jadi tidak ada yang mendengar teriakan itu. Tapi Mark dan Myungsoo dengan kilat sampai ke toilet laki-laki. Jantung Mark nyaris berhenti ketika melihat apa yang ada di depannya.

Persis seperti kejadian tadi siang, tapi kali ini yang diserang Sehun adalah Suzy. Lelaki itu mengembuskan napas keras-keras ke arah Suzy. Tangan kanannya mencekik leher itu perlahan, membuat wajah Suzy memerah kehabisan udara. Suzy menangis, dan terus menjerit walaupun dia tahu kehadiran Mark dan Myungsoo di sana.

Mark panik, dan dengan sigap mendorong Sehun sampai ia terpental ke dinding. Cekikannya pada Suzy terlepas, membuat wanita itu langsung lunglai dan terbatuk-batuk.

Ketika Mark akan membantunya, tiba-tiba Sehun melayangkan tinjunya, dengan sangat kerasnya memukul seluruh bagian kepalanya sampai biru dan menendang kakinya, membuat Mark langsung tidak sadarkan diri.

Suzy tidak sanggup lagi berteriak ketika Mark sudah terdiam di situ bagai mayat dengan memar. Sehun kembali menarik kerah pakaian Suzy, dan kembali menahan lehernya dengan tangan kanannya. Namun kali ini, tangan kirinya mengambil sesuatu dari sakunya, dan benda keperakan tajam muncul di tangannya.

“Asal kau tahu, aku sangat mencintaimu…sangat…” Sehun berbisik seperti orang gila, mulai menusuri pipi gadis itu dengan pisaunya. Suzy memejamkan matanya kuat-kuat ketika sebuah teriakan menggelegar dan menyeramkan memenuhi toilet.

“Hei!”

Sehun menoleh, kali ini perhatiannya benar-benar teralih. Wajahnya langsung memucat, dan pisaunya terjatuh dari genggamannya. Ia melepas cengkraman Suzy, dan tidak mampu berkata-kata.

“K-kau…”

Myungsoo mengambil tempat sampah toilet, dan sampah-sampah itu berceceran ketika ia mengangkatnya. Kemudian, dipukulnya kepala Sehun dengan tempat sampah tersebut. Pria gila itu tidak sadarkan diri, dan terjatuh dengan sedikit darah di kepalanya.

Myungsoo meletakkan lagi tempat sampah tersebut, dan menghampiri Suzy yang terduduk di lantai, terbatuk, mengambil napas dengan cepat. Suzy menangis keras, dan Myungsoo perlahan memeluknya walaupun tahu tidak akan hangat rasanya.

“Diam. Diam, oke? Kau baik-baik saja. Kau baik-baik saja. Dia sudah tidak sadarkan diri. Kau baik-baik saja. Ada aku di sini.” Myungsoo mengusap lembut rambutnya, disusul isakan Suzy setelahnya.

Kemudian, beberapa orang yang sedari tadi mendengar keributan itu mulai mendatangi toilet. Terkejut, mereka membawa Mark dan Sehun yang tidak sadarkan diri ke bangsal rumah sakit. Sedangkan Suzy, atas izin Mr. Adrian, diperbolehkan tinggal hanya satu malam saja di kamar Mark. Gadis itu masih terlalu takut untuk pulang atas kejadian yang menimpanya.

Suzy terduduk di kasur di sebelah Mark yang dulunya kasur Myungsoo. Dia jelas masih trauma. Dia tidak banyak bicara sedari tadi. Dia merasa sangat aneh harus tinggal di kamar laki-laki. Tapi dia tak peduli, yang ingin dilakukannya adalah menghilangkan ingatan lelaki sinting itu darinya.

Padahal Suzy kenal orang itu. Dia cukup dekat dengan Mark. Pria itu juga sering menyapanya. Bahkan Mark sering menggodanya dengan nama pria itu. Kenapa dia malah jadi begitu?

“Kau baik-baik saja, oke? Tidurlah. Besok kita akan mengadakan sidang sekolah untuk Sehun. Mungkin dia memang banyak masalah.” Kata Myungsoo seraya menghampirinya yang sedang terduduk.

“Bagaimana dengan Mark?”

“Aku sudah mengeceknya. Dia baik-baik saja. Hanya ada lebam beberapa di kepalanya. Dia akan hadir untuk sidang Sehun besok. Kau sebagai saksi mata, juga wajib hadir. Jadi, istirahatlah dari sekarang.”

“Aku takut, Myungsoo.” bisik Suzy lirih.

“Tidak perlu. Aku akan menjaga kamar ini. Tidak ada anak murid lain yang bisa mengganggumu. Jangan pedulikan ini kamar siapa. Kau benar-benar mengalami hari yang menakutkan…”

Suzy mengangguk, dan jantungnya berhenti berdetak ketika sosok itu memeluknya beberapa detik. Walaupun hanya bayangan samar, dia merasa kehangatan menjalari tubuhnya. Ia tertidur di tempat tidur Myungsoo dan tanpa perlu waktu lama dia sudah tertidur pulas.

Suzy masuk ke sebuah ruangan yang disebut “Ruang Sidang”. Ruang ini dipakai untuk menangani kasus murid yang membuat masalah. Ruangan ini memakai ruangan teater, pantas saja Suzy keheranan begitu banyak kursi yang ada. Jaksa dan hakimnya adalah guru-guru mereka sendiri. Biasanya penyidangan para murid adalah pribadi bila hanya masalah kecil. Tapi kejadian Sehun kemarin sudah termasuk gangguan kejiwaan, yang berarti masalah serius, sehingga ruang sidang ini kini penuh sesak dengan anak-anak murid.

Suzy duduk di barisan depan, sebagai saksi dari kejadian. Ruang sidang ini berpusat pada panggung kecil di depan. Panggung itu hanya ditempati tiga kursi dan tiga meja yang digunakan untuk si jaksa dan hakim. Kemudian di depan tiga kursi itu ada lagi sebuah kursi dari arah berlawanan untuk si tersangka. Panggung itu dibatasi dengan pagar kayu pendek, dan kursi para penonton sidang itu terlihat seperti kursi di stadion. Melingkar.

Suzy melongok mencari-cari Mark, khawatir bila pria itu tidak datang tepat waktu. Tapi kemudian Myungsoo menunjuk ke dua orang yang baru memasuki ruangan. Mark dan Sehun. Mereka berjalan dengan seorang pengawas masing-masing, dengan jarak berjauhan, seolah takut akan saling menyerang lagi. Mereka mengenakan perban yang diikat di kepala mereka, tanda dari penyerangan semalam.

Mark membuka pintu pagar dan berjalan ke arah Suzy di barisan depan. Suzy langsung memeluknya erat, sangat bersyukur dia baik-baik saja.

“Aku sangat senang keadaanmu tidak kacau. Bagaimana lukamu?”

“Tidak begitu sakit,” Mark tersenyum, suaranya serak, “Ayo, kita lihat saja sidangnya.”

Dia duduk di sebelah kanan Suzy dan Myungsoo di kiri Suzy. Mark jelas masih sangat terguncang dengan kejadian yang menyebabkannya pingsan seharian. Suzy menggenggam dan meremas tangannya, dibalas oleh Mark. Tanda untuk saling menguatkan.

Sidang itu berlangsung sangat lama. Sehun tidak mau menjawab berkali-kali. Ia terus melawan untuk tidak bercerita. Sampai akhirnya seorang guru lukis, Mr. Ronson, berkata dari microphone.

“Untuk saksi, Mark Tuan, kau diperbolehkan berbicara untuk menceritakannya secara jelas.”

Mark kemudian berdiri, menceritakan dengan lantang seluruh kejadiannya, termasuk saat siang hari di kamarnya itu. Ketika Suzy dipersilahkan bicara, ia bercerita segalanya. Ketika Suzy yang hendak menuju ruang staf. Sehun tiba-tiba memaksa agar Suzy mengikutinya, dan tiba-tiba ia terpojok ke kamar mandi lelaki. Setelah Mark dan Suzy menceritakan kejadiannya, Sehun menangis tersedu-sedu, berkata dengan patah-patah dan alasannya begitu mengejutkan.

“Aku punya kekasih di Korea Selatan. Aku begitu mencintainya. Dia menunggu agar aku pulang ke sana, saat libur Natal nanti. Tapi baru seminggu lalu aku mendengar kabar dia meninggal karena tindak kekerasan dari teman-temannya di sekolah. Hatiku kacau dan hancur, miss…lalu aku mulai gila, tapi aku tak menceritakan pada siapapun. Aku mulai berilusi tentang Suzy itu. Gadis itu mirip dengan kekasihku, jadi aku mengharapkan kekasihku kembali, dan aku menyerangnya seolah dialah kekasihku. Aku mulai gila dengan berpikir menyerangnya adalah cara agar aku mendapat gadis yang kucintai kembali kepadaku.”

Suzy mendengarnya dengan sangat tidak percaya. Dia tidak tahu akan menjadi korban dari semua hal ini. Maka, ketika sidang itu selesai dengan dinyatakan Sehun bersalah dan akan dikeluarkan dari sekolah, kembali ke negara asalnya, Suzy bergetar hebat. Myungsoo memeluknya, kemudian diikuti Mark.

“Tidak apa-apa. Aku akan tetap di sini.” bisik Myungsoo, dan itu adalah yang paling membuatnya tenang.

A/N

Eh Sehun apakabar? Kangen sama kamu, kok malah jadi kayak begini.

Fyi aja nih, yang bagian di ruang makan itu yang Mark ambil sup dari ‘Mr. Emre’. Emre ini nama mahasiswa bule asal Jerman yang sempet kukenal di tempat kursus, dan dia ini ganteng :”) maafin ya dijadiin tukang sup di sini oho

Chapter terpanjang!! Dua ribu kata. Semoga gak bosan. Dan di chapter 10, buat yang penasaran Azura itu sosoknya kayak gimana, insya allah besok akan segera terjawab :p

Jangan lupa juga like atau commentnya. Semoga terhibur! ^^

28 responses to “The Fog [Chapter 9]

  1. Yah kirain sehun bneran suka sma suzy trnyata sehun disini rada gila dn nganggep suzy sbg kekasihnya yg udh mninggal itu..

  2. yah thor pnsaran nih sma pmbunuh myungsoo siapa???
    kpn d’critain yah ktonologis kjdian nya ???
    pnasaran,,

  3. Aigo sehun jdi gila ikh serem deh ngelihat sehun jdi pysco bgtu . Wah myung udh berani peluk” suzy nh mski transparan sih hehehe. Tetap semanget yah thor wat bikin ff’a ne

  4. Aku kira sehun ada sangkut pautnya dengan kematian myung tapi ternyata bukan itu yA..hehe

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s