Forever (Chapter 2)

forever-by-peniadts

Forever (Chapter 1)

Ayako Jung Storyline

Main Cast : Bae Suzy (Miss A’s Suzy) – Kim Myungsoo (Infinite’s L) – Park Jiyeon (T-ARA’s Jiyeon) || Genre : Romance, Drama, Fluff, Hurt/Comfort, Angst, and AU || Rating : PG-15+ || Length : Chaptered || Disclaimer : Plot and story is mine. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there same any title or characters. Sorry if you find typo(s)

A/N : Tulisan yang bercetak italic (miring) artinya masa lalu. Sama satu lagi, jika Suzy berada di Korea namanya berubah menjadi Sooji dan sedangkan ia berada di luar negeri namanya akan berubah menjadi Suzy ^^ | Well, ini kan baru permulaan. Jadi maaf ya bagi kalian kalo agak sedikit kesel sama chapter pertama dan chapter kedua ini. Karena ini baru permulaannya saja~ Tenang aja bagi kalian, INI ASLI FF MYUNGZY ^^

Big thanks to peniadts @ Cafe Poster for amazing poster!

Previous : Chapter 1

Happy Reading ^^

“Percayalah Sooji-ah. Eomma pikir, mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk semuanya.” 

Coba kalian cerna baik-baik ucapan Wanita paru baya itu dengan baik-baik. Tunggu, itu adalah jalan yang terbaik untuk semuanya? Hey coba pikir, anak kandungmu sudah sangat terpukul setelah kau mengucapkan kalian yang sangat menyakitkan baginya. Kenapa kau malah berpikir ini yang terbaik untuk anak kandungmu itu. Ny. Bae?

Apa kau tidak bisa merasakan betapa retaknya hati anak kandungmu sendiri ketika kau menyuruhnya untuk merelakan orang yang sangat dicintainya menikah dengan anak angkatmu? Dimana akal sehatmu? Rasanya Sooji langsung ingin mati saja tanpa merasakan itu terlebih dahulu. Tapi, Tuhan masih memberinya celah dan kesempatan untuk membiarkannya hidup di dunia. Mungkin ia akan menemukan sebuah titik terang yang saat ini belum ia ketahui, saat ini Sooji sama sekali tidak terpikirkan oleh kata-kata. Ia hanya terus bisa membiarkan air mata nya terus mengalir, sebagai pelampiasan yang biasa di gunakan untuk orang-orang yang merasa sakit hati setelah mendengar berita yang sama sekali tidak ingin mereka dengar. Sooji merasa sangat shock serta kaget mendengar ucapan Ibu nya itu. Ia bukan seseorang yang bisa menerima kenyataan begitu saja dan hanya mengikuti alur takdir, lagipula jika ada takdir buruk, berarti sang manusia yang berbuat suatu kesalahan sehingga takdir buruk menimpanya. Ia juga bukan seseorang yang bisa menerimanya dengan pasrah dan ia mengalah begitu saja, ia juga masih punya rasa egois! Dan seseorang juga mempunyai rasa yang sangat egois ketika membahas tentang Cinta. Ciri khas manusia adalah: mereka pasti mempunyai sifat egois, jadi tidak mungkin manusia diciptakan tidak memiliki rasa egois.

Apa kau ingin melihat anak kandungmu sendiri merasakan kesakitan yang sangat pada batinnya, membuat depresi dan kemudian menjadi gila hanya karena suruhanmu itu? Siapa yang disalahkan? Ya kau! Kau yang menyuruhnya untuk merelakan lelaki yang dicintainya untuk anak angkatmu. Dia hanyalah anak angkat tapi kenapa kau malah mementingkan ‘dirinya’ daripada anak kandungmu sendiri? Wanita paruh baya itu masih menatap kosong kearah Sooji yang menundukan kepalanya, sangat jelas ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis. Sooji selalu tidak menangis ketika bersama keluarganya, ia selalu tersenyum dan menunjukan wajah yang begitu bahagia ketika bersama mereka. Sekarang pertahannya kini begitu runtuh, hanya karena Cinta. Yah~ Maklum, siapa yang rela Cinta nya di berikan kepada orang yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya. Rasanya dia seperti seorang pengkhianat kelas kakap. Dia yang tadinya memberi kebahagian di depan mata Sooji, sekarang malah menjatuhkannya ke dasar jurang dengan cara menghempaskannya begitu saja. Hilang sudah, seorang Bae Sooji yang murah senyum, seorang Bae Sooji yang ceria.

“Hal apa yang bisa membuatku dapat merelakan Myungsoo oppa untuk unnie?” tanyanya sambil masih memandang kosong ke depan. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali daritadi, ia hanya diam dan melakukan gerakan-gerakan kecil. Dunianya seakan berputar hebat. Saking ia ingin mempertahankan seorang Cinta nya untuk dirinya sendiri. Mungkin ini egois dan dirinya seakan tidak mau berbagi Cinta nya kepada orang lain walau sedikitpun. Saat kemarin terasa begitu menyenangkan baginya, namun dalam sekejap semua menjadi seperti mimpi buruk. Mungkin malam ini insomnia nya akan kambuh dan sering terbangun malam-malam, karena itu masalah seperti itu akan sering menghantuinya. Mungkin Sooji lebih bersyukur di kejar oleh para hantu daripada harus seperti ini. Karena di kejar hantu sepertinya sangat menyenangkan daripada harus merasakan sebuah kepahitan Cinta nya. Membuat hatinya merasakan nyeri yang begitu hebat dan sangat mendalam. Sooji mengepalkan tangannya, menahan emosi yang sebenarnya sudah sangat memuncak sampai ke ujung kepalanya. Rasanya ia ingin meluapkan emosi nya, tapi karena tidak bisa, ia lebih memilih untuk memandang Ibu nya dengan tatapan kosong. Pikirannya bercabang.

Wanita paru baya itu mendongak dan menutup matanya sejenak, mencari jawaban itu menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh anak kandungnya sendiri.

“Karena unnie mu lebih mencintai Myungsoo daripada dirimu. Bisa dibilang Cinta unnie mu lebih besar daripada kamu,”

Deg!

Mata almond nya melebar seperna. Mencintai Myungsoo? Maksudnya??

Unnie mu mencintai Myungsoo sudah sejak lama. Terlebih saat kau mengenal Myungsoo, karena ia sudah mencintai perasaanya pada Myungsoo sejak dulu. Hanya saja, ia lebih memilih untuk mengalah pada dongsaeng-nya setelah mengetahui kau juga mencintainya,”

Dunianya malah semakin berputar. Dengan lemah, tangan Sooji menekan dada kirinya kuat. Menahan perasaan sakit yang semakin lama membuatnya merasa sangat tersiksa. Air mata nya juga bertambah mengalir dengan deras, seakan melampiaskan semuanya. Jujur saja, kalau boleh ia berdoa agar Tuhan mencabut nyawa nya sekarang, ia akan lakukan itu. Tapi, ia masih bisa berpikir dengan waras dan segera menyingkirkan pikiran buruk serta bodoh itu. kepalanya seakan pecah memikirkan masalah yang kini melilit kehidupannya. Kakak nya lebih mencintai Myungsoo –kekasihnya. Ia dan Myungsoo sudah melewati masa-masa bersama, bahkan mereka bertiga –Sooji, Myungsoo, dan Jiyeon– pernah berjalan bersama menikmati keindahan langit sore saat itu. Sekarang? Lihat, semuanya telah menjadi kebalikannya. Kenapa masalah ini malah semakin besar? Kenapa masalah ini harus menimpanya? Kenapa masalah ini harus di takdirkan untuknya? Apakah ia pernah berbuat kesalahan yang besar? Tidak. Entahlah, mungkin semuanya sudah ada Tuhan yang mengaturnya.

“Tapi… Eomma tahu ‘kan bahwa aku juga mencintai Myungsoo oppa dan kami sudah beberapa tahun berhubungan. Tapi, kenapa? Kenapa Eomma malah lebih mendukung unnie daripada aku? Kenapa Eomma? Kenapa?!”

Diam. 

“Aku dan Myungsoo oppa saling mencintai. Kenapa Eomma malah tidak pernah bisa mengerti keadaanku? Setidaknya walaupun itu hanya sedikit saja. Bukankah semenjak Eomma mengangkat Unnie menjadi bagian keluarga kita dan membuat marga Unnie otomatis berubah menjadi Bae, aku sudah terlalu banyak mengalah? Aku bahkan merelakan kamar kesayanganku untuknya, aku rela mencari tumpangan untuk sampai ke sekolah karena mobil pribadi ku di bawa oleh Unnie yang saat itu keadaannya memang penting karena di sudah kelas tiga. Eomma dan Appa… Mengajak unnie berlibur ke London dan meninggalkanku sendirian di rumah besar ini. Aku sering melihatnya dipeluk oleh Eomma dan Appa ketika Unnie akan beranjak untuk tidur. Sedangkan aku? Aku seakan dilupakan oleh kalian.”

Diam. Membelak tidak percaya setelah mendengar penuturan anak kandungnya itu. Terdengar sangat lirih dan terdengar lebih sedikit suara bisikan.

“Me-menjadi anak yang di nomor duakan. Rela membagi kasih sayang kalian yang dulu hanya tercurah kepadaku dan sekarang berpindah ke Jiyeon unnie.” Sooji diam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. “Eomma dan Appa datang pada acara lomba dance yang di ikuti oleh unnie, dan melupakanku yang saat itu tengah berjuang demi untuk memenangkan piala dalam kontes menyanyi. Aku sudah rela membagi waktu yang cukup panjang, aku melakukan itu semua dengan ikhlas dan tanpa aku sadari sudah sangat lama aku membagi hal itu untuk unnie. Dan waktu yang lama itu juga aku sudah dilupakan oleh orang-orang di rumah ini. Dan… Aku merasa hanya Myungsoo oppa-lah yang saat itu masih sangat perduli padaku. Dan, rasa Cinta ku dengannya sudah sangat menjadi besar. Bahkan aku pernah berjanji untuk tetap menjaga hati ini untuk Myungsoo oppa karena sudah membawa pengaruh positif bagiku. Tapi sekarang setelah Eomma mengucapkan kata itu… Kenapa Eomma juga ingin mengambil Myungsoo oppa?!”

Sooji semakin terisak. Ia menangis disetiap kata yang ia ucapkan tadi, mungkin terlalu to the point. Tapi ia memang ingin mengungkapkan semua uneg-uneg nya selama ini yang sebenarnya sudah lama ingin ia keluarkan. Malah kata-kata tadi semakin membuat hatinya merasakan nyeri yang semakin luar biasa. Sungguh, semua kata yang tadi ia ungkapkan memang fakta dan sudah terbukti dengan asli! Ia memang sudah terlupakan semenjak kehadiran ‘gadis’ yang dulunya adalah sahabatnya sejak kecil yang mengisi hari-hari masa kecilnya itu. entahlah kata tadi sopan atau tidak jika dikatakan oleh dirinya untuk orang-tuanya, yang pasti Sooji adalah orang yang mementingkan kesopanan pada siapapun dan yang lebih tua. Mungkin jika ada kata-kata yang lumayan kasar, ia akan melupakannya juga. Ia ingin meluapkan semua itu. mungkin pertahannya selama ini sudah habis dan ingin merebut kembali apa yang sudah menjadi hak nya.

“Tidak bisakah saat ini aku tidak berbagi? Aku tak bisa membagi Myungsoo oppa dengannya? Ini menyakitkan Eomma, awalnya aku juga tidak percaya dengan kata Eomma dan awalnya menganggap itu sebagai gurauan karena sebentar lagi aku –mengira– akan segera menikah dengan Myungsoo oppa dan awalnya aku berpikir juga eomma ingin membuatku sedih dan mengecohkanku. Tapi aku salah, semuanya benar. Hiks~”

Isakan yang tadinya ia bersusah payah untuk ia tahan. Sekarang, semuanya lolos.

Diam.

Ucapan Sooji tadi benar-benar tidak bisa dijawab dengan logis oleh wanita paruh baya itu. Wanita paruh baya itu menangis sejadi-jadinya ketika ia sudah menyadari bahwa tersiksanya batin anaknya selama ini. Ya jujur saja, selama beberapa tahun setelah itu ia tidak menyadari adanya rasa kesakitan yang begitu mendalam pada diri Sooji. Ia melihat Sooji baik-baik saja dan mengerti tentang semuanya itu. Karena kau lebih memperhatikan anak angkatmu sendiri daripada anak kandungmu yang sesungguhnya, Ny. Bae! Ia tidak tahu betapa batin Sooji sangat tersiksa. Sooji adalah type orang yang terkadang suka memendam perasaan sakitnya sendiri dan dia adalah type orang yang akan membuka mulutnya saat ada seorang sahabat sejati yang masih bisa berdiri di sebelahnya. Bukankah sebaiknya semua anak lebih dekat pada orang-tua nya sendiri daripada orang lain? Itu benar. Tapi kali ini, kasusnya sangat beda dengan kasus seorang Bae Sooji. Sejak saat mereka mengangkat ‘dia’ menjadi anggota keluarga, Sooji sudah tersisihkan dan dia hanya mempunyai seorang sahabat dan kekasihnya sendiri. Karena ‘dia’ dulu adalah sahabat sejati Sooji yang paling menyenangkan, tapi sekarang begitu berbeda. Sooji sedikit tidak akrab dengannya, ah~ lebih tepatnya masih akrab karena Sooji adalah aktris yang cerdas dalam berakting. Sekarang Sooji mempunyai seorang sahabat yang lebih baik dari ‘dia’ sahabat Sooji yang sekarang adalah orang yang sangat baik dan pintar dalam menjaga rahasia sahabatnya sendiri. Sssttt… Hanya sahabat Sooji yang sekaranglah, tahu semua rahasia terbesarnya. Namanya Jung Soojung, panggil saja Soojung. Sebenarnya nama aslinya adalah Krystal Jung, aslinya dia orang dari San Fransisco yang pindah ke Korea Selatan. Mereka secara tidak sengaja bertemu. Karena perbedaan itulah yang membuat mereka cepat akrab. Soojung adalah orang yang dingin dan mempunyai sifat seperti lelaki alias tomboy, sedang Sooji, wajahnya begitu sangat lembut. Tunggu, kita kembali ke masalah awal. Bilang saja bahwa seoarang Ibu nya adalah Eomma yang gagal. Ia bahkan tak mengetahui seberapa besar luka yang telah Sooji tanggung karena keegoisannya selama ini. Sungguh, tidak pernah terbesit di pikirannya sekalipun untuk melupakan Sooji, ia hanya berusaha focus pada ‘anak angkatnya’

“Bukankah… A-aku… Anak kandungmu Eomma? Bukankah selama ini aku sudah menuruti semua kemauan yang telah eomma mau? Tapi, hanya kali ini saja… Aku mohon, hanya kali ini saja aku tidak bisa menuruti permintaan eomma yang sangat berat ini..”

Duk..

Kedua lutut Sooji menapaki lantai. Ia berlutut di hadapan Ibu-nya. Gadis ini langsung memegangi pergelangan tangan Ibu-nya. Sebenarnya ia sudah tidak kuat lagi dengan semuanya, akhirnya pertahanannya bertahan dengan cara langsung berlutut kepada Ibu-nya. Ia memohon, untuk kali ini saja. Mungkin ini seperti permintaan terakhirnya agar ia tidak meraung-raung lagi. Tolong, untuk kali ini saja ia tidak mengalah dan mau egois. Hanya untuk kali ini saja, biarkan dia bahagia bersama seseorang yang sudah sangat dicintainya. Karena… Orang itu amat teramat penting bagi hidup Sooji. Keluarganya yang sudah tidak pernah memperhatikannya, hanya Kim Myungsoo seorang saja yang biasa memberikan keceriaan kembali pada dirinya. Membuat harinya berwarna, membuatnya tersenyum. Mungkin dulu keluarganya sudah tidak pernah memperhatikan dirinya lagi, dan hanya Myungsoo lah yang tetap setia berada di sampingnya. Memberi dukungan untuknya, agar tetap bersamanya. Tentulah Sooji menuruti ini semua. Tapi… Apakah takdir juga akan berkata lain? Atau justru semuanya juga tidak akan pernah terjadi? Entahlah..

Jebalyo, Eomma…”

Wanita paruh baya itu sungguh tersentak kaget apa yang telah dilakukan Sooji padanya. Bagaimana semuanya bisa terjadi begini? Ia merasa tampak sangat jahat. Melihat hal itu, hatinya juga terasa nyeri apa yang telah di katakannya. Ia merasa sangat bersalah. Apakah segitu perjuanganmu, Bae Sooji? Untuk tetap mempertahankan Myungsoo kembali padamu? Pikirnya.

“Bangunlah Sooji,”

Sooji tetap menggeleng tegas. Ia juga tidak akan mau bangun sekarang. “Jeongmal mianhaeyo Eomma. Mianhae, karena kali ini aku tidak bisa menuruti perintahmu. Sungguh aku tidak akan maksud lain, tapi kali ini kumohon Eomma.. Untuk kali ini saja aku tidak bisa menuruti kemauanmu,”

Wanita paruh baya itu tak bergeming, tak menyahut.

“Aku tak pernah meminta sesuatu apapun pada Eomma, jadi berikan hal ini sebagai permintaanku yang pertama dan permintaanku yang terakhir. Hanya sekali saja eomma,”

Sooji masih berlutut. Meminta dan memohon pada Ibu-nya. Sooji adalah anak yang sangat berbakti pada Ibu-nya, tak pernah sekalipun ia menentang permintaan Ibu-nya. Tapi untuk kali ini saja. Bolehkah ia egois? Sooji itu anak yang baik. Tapi kenapa Ibu-nya tidak mau membiarkannya bahagia, bersama orang yang sangat mencintainya. Bukankah mereka saling mencintai satu sama lain? Tapi kenapa takdir tidak mempersatukan mereka berdua? Semuanya seakan berbelok dan berubah pesat. Entahlah, bagi Bae Sooji, Kim Myungsoo adalah satu-satunya orang yang sudah senantiasa mencintainya sepenuh hati. Dengan hati yang tulus dan sepenuhnya. Kim Myungsoo memberikan semua hatinya untuk Bae Sooji. Ada beberapa hal mengapa Sooji sangat mempertahankan Myungsoo untuknya; Ia adalah lelaki yang sangat baik, Sooji sudah sangat tahu bagaimana kalau Kim Myungsoo benar-benar mencintai seorang wanita, ia adalah seorang pria yang amat sangat setia pada orang yang sudah ia cintai. Mereka berdua sudah berjanji akan tetap bersama, dan mereka berjanji dan percaya bahwa Cinta mereka tidak akan pernah dipisahkan oleh apapun itu. Kecuali, mereka akan terpisahkan saat maut benar-benar akan memisahkan mereka. Walaupun, begitu. Cinta mereka juga akan tetap hidup, itulah janji mereka saat dulu. Sekarang? Oh, bahkan Sooji sudah tidak bisa mengatakan hal itu semua. Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan hal yang sangat menyakitkan itu. terlalu menyayat hati.

Bolehkah? Setidaknya untuk saat ini saja..

Wanita paruh baya itu alias Ny.Bae ikut berlutut. Memeluk tubuh mungil Sooji dan membawanya ke dekapan hangatnnya, khas seorang Ibu ketika menyalurkan perasaan hangat dan penuh kasih sayang ke anaknya. Sooji sudah menangis tersedu-sedu hingga matanya sudah membengkak karena saking banyaknya air mata yang keluar. Kemudian, mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil yang sudah berada di dalam dekapannya. Dan sekarang, Sooji belum juga membalas pelukan sang Ibu dan membuatnya tambah merasa amat bersalah. Ia yang telah membuat anak kandungnya sangat tersiksa karena ulahnya sendiri, kenapa ia tidak merasa bahwa batin Sooji sangat tersiksa? Apakah naluri keibuannya sudah hilang dari dirinya?

“Tidak, nak. Eomma yang seharusnya meminta maaf karena tak pernah memikirkan perasaanmu selama ini. Maafkan Eomma, sungguh…”

Kemudian, dengan tangan yang masih sangat bergetar itu membalas pelukan hangat milik Ibu-nya. Bolehkah sekarang Sooji juga jujur? Ia merasakan hal yang begitu amat rindu dengan pelukan khas milik Ibu-nya yang sudah jarang diberikan kepada Ibu-nya. Sungguh! Sooji begitu rindu dengan pelukan hangat ini. Malah sudah tidak pernah lagi. Sekarang? Bisakah sekarang Sooji melampiaskan semua itu dalam dekapan hangat Ibu-nya? Merasakan perasaan hangat di tubuhnya ketika sang Ibu memeluk tubuhnya untuk membuatnya sedikit tenang. Hangat. Itulah yang sekarang ia rasakan.

Air mata yang berasal dari mata kedua wanita itu kini semakin menderas.

.

.

.

Bersikaplah yang baik pada Ibumu, bagaimanapun juga dialah yang telah melahirkan dan merawatmus sewaktu kau masih kecil. Bersusah payah melahirkan hingga bertaruh nyawa. Jadilah seorang anak yang baik, karena surga berada di bawah telapak kaki Ibu ^^

.

.

.

Sooji berjalan dengan lemas menuju sebuah rumah mewah dengan gerbang membawa cokelat muda. Matanya sangat terlihat sayu dan membengkak, karena habis menangis. Sangat tidak enak dipandang, apalagi yang melihat adalah laki-laki. Pokoknya, sekarang Sooji tampak terlihat sangat menderita. Ia masih bisa merasakan sayatan tak kasat mata di dalam hatinya. Tapi, ia segera menepis semua rasa sakit yang mulai sangat terasa sekarang dan mulai menekan tombol bel yang berada di samping kiri pintu rumah tersebut dengan sangat lemas. Luka itu, masih sangat membekas di dalam hatinya dan belum juga kering. Oh, kenapa penderitaannya begitu banyak? Kapan ia bisa merasakan sebuah kebahagian yang begitu teramat berarti baginya? Sepertinya ia tidak akan pernah bisa merasakan sebuah kebahagian itu. Ehmm, entahlah.

Seseorang segera keluar dari gerbang rumah mewah itu. Salah satu pembantu disana tersenyum ramah padanya dan mempersilahkannya untuk masuk dengan senyum ramah dan juga bersifat sopan. Tak perlu ditanya lagi, karena seluruh pelayan di rumah mewah itu sudah sangat hafal siapa ‘Bae Sooji’ Seseorang yang selalu menebar keceriaan dan senyum dimana-mana dengan senyuman hangat nan manis miliknya. Ah~ Tunggu, sebelumnya ia menghapus semua air mata yang mengalir tadi sebelum akhirnya menekan tombol bel itu dan melangkahkan kakinya di lantai rumah mewah nan elegant itu dengan anggun. Dan juga membenarkan penampilannya yang sangat kacau, benar-benar seperti orang yang habis menangis atau… Frustasi karena sesuatu? Yah, mungkin itu yang sangat cocok untuk diberikan kepada penampilan Sooji yang sebelumnya sebelum ia kembali menjelma menjadi seorang Ratu Ceria yang penuh senyum dan baik hati. Jadi, tidak perlu ditanya lagi kenapa para pelayan di rumahnya sudah mengenal ‘Bae Sooji’ karena sebelum ia jatuh ke jurang, ia adalah seorang gadis manis yang cantik dan juga lucu. Dan mencoba untuk tersenyum. Karena bibirnya seakan kaku atau tidak bisa di gerakan ketika bibirnya harus melengkung keatas. Menandakan sebuah senyuman manis.

Sooji mencoba memasang senyuman semanis mungkin. Walaupun sudah berlatih beberapa kali tadi, tetap saja masih susah untuk ia lakukan di depan orang. Setelah ia merasa bahwa senyumannya sudah amat manis dan penuh dengan keceriaan, ia mulai membuka pintu utama rumah itu yang pasti akan segera menghubungkannya dengan ruang tamu.

Ceklek~

Pintu rumah terbuka dengan sempurna.

Deg!

Astaga! Sakit di hatinya malah bertambah dengan semakin parah. Matanya membelak kaget ketika meliat sebuah pemandangan yang amat menyakitkan. Karena itu, kembali menciptakan luka di dalam hatinya semakin bertambah banyak. Bahkan, luka di hatinya sekarang belum ada yang sembuh. Semuanya masih harus perlu di obati dan itupun di obati berkali-kali tapi tetap tidak bisa. Kemudian, matanya memandang kosong, pada pandangan yang amat nyata dan terjadi langsung di depan matanya. Entahlah, rasanya sangat sakit. Pantas! Karena itu memang hal yang sangat menyakitkan. Kenapa semua ini begitu sakit? Hatinya terluka semakin parah. Sooji menelan ludahnya dengan susah payah.

Dengan…

Kedua orang yang sedang berciuman dengan amat lembut dan mesra.

Orang-orang yang sangat ia kenal. Orang-orang yang sangat ia kasihi dan ia sayangi dengan sepenuh hatinya.

Oke! Sekarang Sooji sudah tidak tahan untuk membendung air matanya lagi yang sudah berkumpul di pelupuk matanya, bahkan ia mencoba untuk tidak berkedip sama sekali untuk tetap membendung air mata itu agar tidak ada setetes air pun yang jatuh. Karena sekali berkedip saja, semuanya sudah begitu banyak yang keluar. Sudahlah! Ia malah berkedip dan mengutuk dirinya sendiri tidak bisa menahan diri untuk menahan air mata itu. Dan, hasilnya yang telah ia dapatkan adalah air mata yang mulai berjatuhan dan mengalir di pipinya.

“O-oppa…”

Seolah mendengar suara yang begitu familiar ditelinga mereka berdua, keduanya langsung melepaskan tautan mereka berdua lalu membulatkan matanya begitu lebar tatkala mengetahui bahwa mereka kepergok berciuman oleh Sooji. Sungguh kini mereka berdua tampak sangat kaget dengan kedatangan Sooji yang sangat spontanitas itu terjadi. Kenapa tidak mengetuk pintu dulu? Pikir mereka masing-masing. Bukankah itu sedikit lebih baik agar mereka tidak kepergok sedang berciuman?

To be Continue…

Oke, kalian yang baca jangan pada emosi dulu nih~ Soalnya aku udah bilang ini baru pemulaan dan Suzy juga yang kesakitan disini. Jadi, mohon sabar sampai akhirnya Suzy dan Myungsoo akan bersatu kembali ^^ tinggalkan comment kalian yah, jangan lupa~~ Karena itu adalah sumber penyemangat dan motivasi aku buat lanjutin FF ini dengan cepet ^^. Terimakasih 🙂

73 responses to “Forever (Chapter 2)

  1. waahh… ff nya daebak thor…
    feeLL nya dapat gila bangat amat sangat sampe tengah malam gini aku sendirian nangis di kamar gara” baca ff mu thor..
    pengen sih komen kyk temen yg lainnya pi aku ngikutip author ja deh kyk nya author lebih paham dr pd aku..
    tetap semangat ya thor.terus berkarya
    ku tunggu part 4 nya hehe…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s