The Fog [Chapter 10]

cr cloverqua@ArtFantasy

Title: The Fog

Author: Little Thief

Main cast: Suzy, Myungsoo, Mark

Genre: romance, angst, fantasy

Length: chaptered

Rating: PG-13

Empat hari lagi adalah hari Natal, dan Mark nyaris terloncat ketika dilihatnya dari kalender sekarang sudah tanggal dua puluh satu. Dengan cepat dia bergegas mandi, memakai seragamnya walaupun sudah muak mengikuti kelas tarinya, dan mengambil satu amplop yang belum dia kirim ke Suzy.

Surat untuk Azura.

Dia melesat ke ruang makan, dan di situ duduk Suzy bersama Myungsoo. Orang-orang banyak yang ingin menemaninya takut ada sesuatu yang terjadi, tapi mereka tak bisa melihat Myungsoo yang menjaganya.

Mark duduk di depan mereka, di sebelah Myungsoo. “Hai! Selamat pagi.”

“Hai,” Suzy menyapa sambil tersenyum tipis. Traumatiknya pada kejadian dua hari lalu berkurang, dan kemarin, Sehun sudah kembali ke Korea untuk diserahkan kembali kepada orangtuanya. “Tumben, biasanya kau kelihatan murung.”

Mark tersenyum, “Aku lega. Kasus ini sudah selesai.”

Suzy mengangguk semangat. “Oh, ya, ambil itu untukmu.” Katanya seraya menunjuk ke sebuah gelas kopi dingin kesukaannya.

“Wah, terimakasih. Kopi dingin dengan krim cookies? Seperti di Starbucks saja. Bukannya kau harus membayar untuk menyertakan krim ini? Aku sih tidak mau.”

Suzy menyeringai, “Myungsoo mencurinya untuk kita berdua. Dan, kau lihat. Banyak sekali krimnya!”

Mark menyeruput kopinya senang dan kemudian mengambil amplop tersebut dari sakunya, “Oh, ya, aku hampir lupa temanmu si Azura itu. Ini, kirimkan padanya sepulang dari sini nanti.”

Suzy menerima amplop itu dan tersenyum, “Oh, kau sudah mengenalnya. Bagaimana? Apakah dia kelihatan menarik?”

“Ya, lumayan untukku.” Mark menggigit sedotannya, tapi kemudian mencondongkan badannya, berbisik, “Tapi kalau boleh jujur, apakah dia benar-benar cantik?”

“Dasar pria,” Suzy menghela napas, “Kau jangan lihat apa penampilannya. Ya, kuakui dia cantik. Sangat cantik. Woah, kau akan jatuh cinta nantinya. Berhati-hatilah.”

Myungsoo dan Mark tertawa, dan kemudian Mark menyantap hamburgernya.

“Eh, Myung,” Mark berbisik agar tidak ada yang mendengar, menyikut Myungsoo yang berada di sebelahnya, “Kau mau ikut tidak?”

“Kemana?” sahut Myungsoo heran. Mark mendongak ke arah Suzy.

“Ke rumah Suzy. Acara natal. Sekalian aku akan bertemu Azura.”

“Wah, kelihatannya menyenangkan.” Myungsoo manggut-manggut, “Tapi, bagaimana dengan…”

Suzy melambaikan tangan, “Tidak masalah. Jangan banyak bicara padaku di depan orang lain. Aku bisa dibilang sinting nantinya.”

Senyum Myungsoo merekah, “Ini kelihatannya menarik. Entahlah, Natal terakhirku tak begitu menyenangkan.”

“Memang bagaimana ceritanya?”

“Yeah, aku hanya sendirian di rumah. Ibuku dan Ayahku sibuk. Mereka hanya mengantarkanku paket kiriman hadiah dan aku sudah terbiasa. Tapi tidak ada yang lebih indah dari berkumpul bersama keluarga, kan?”

“Nah, kita rayakan saja di rumahnya,” ulang Mark.

“Tampaknya kau benar-benar penasaran dengan gadis itu, ya?” Myungsoo terkekeh.

Mark tidak bisa berbohong. Dia hanya mengangguk. “Ya. Jadi, besok adalah hari terakhir kita belajar. Lalu esoknya lagi kita ke rumahmu, Suzy. Oke? Kita rayakan malam Natal di sana. Menginap di sana. Nanti, pada hari Natal, kita lakukan apalah. Baru malamnya kita kembali ke sini. Setuju?”

Suzy mengacungkan jempolnya, “Oke.”

Hari ini, sekolah tampak cukup lengang. Beberapa murid yang rumahnya tidak begitu jauh pulang merayakan Natal. Kebanyakan dari mereka memilih tinggal di sekolah karena rumah di luar benua atau negara. Tapi tidak dengan Mark.

Ia sudah menyiapkan beberapa pasang pakaian. Ibu Suzy masih berada di Kanada, tapi dia menerima dengan senang hati apabila Mark datang. Maka, selagi menunggu Suzy menjemputnya, dia menelepon orangtuanya di Thailand.

Lagi-lagi, Sophia yang menjawabnya.

“Halo. Ini Mark, ya, kan?”

“Ya.”

“Mau apa?” tanya Sophia, “Ibu dan Ayah tidak ada. Hanya aku sendiri di rumah.”

“Bilang padanya aku merayakan Natal di rumah temanku,” Mark nyengir lebar, “Oh, ya, apakah kau akan mengirimkan aku kado Natal?”

“Mungkin, ya. Tergantung si Pak Santa. Kau hanya mau bilang itu saja? Akan kusampaikan nanti ke Ibu.”

Mark langsung mencegat, “Eh, tunggu. Aku akan bercerita sesuatu. Dengarkan, ya. Karena ini cerita yang keren.”

Mark kemudian menceritakan kejadian penyerangan Sehun dan juga sidangnya, tapi kali ini dibumbui sedikit kebohongan untuk menambah kesan dramatis. Sophia tidak bicara selama tiga puluh menit Mark menceritakan kejadian tersebut. Ketika ia mengakhiri ceritanya, Sophia diam sesaat.

“Wow,” ujarnya pada akhirnya. “Kelihatannya keren. Jadi kalian saling cakar dan gigit seperti serigala, begitu?”

“Ya. Tolong ceritakan itu pada Ayah dan Ibu. Mereka pasti terkesan.”

“Tapi memangnya kau menang? Kau kan tidak punya kuku. Kerjaanmu menggigitnya tiap hari.”

Mark langsung menutup telepon dengan muram. Dia memandang kukunya, memberengut, tapi kemudian tertawa. Memang benar, sih, dia memang selalu menggigiti kukunya.

Akhirnya ia mematikan lampu kamar dan mengunci pintu, kemudian pergi ke depan sekolah. Menunggu kedatangan Suzy. Seluruh murid ramai-ramai bergerombol di sana, menunggu untuk dijemput juga.

Menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya mobil itu sampai juga di pekarangan sekolah, berlumuran salju.

Mark langsung berlari ke sana dengan tas ransel besar di punggung. Dengan Myungsoo yang ikut lari di sebelahnya. “Hei, badai salju, ya?”

“Ya, kulihat di ramalan cuaca sekitar empat jam lagi,” Suzy menerawang, “Kalian sudah siap? Ayo berangkat!”

Suzy menyetir mobilnya, sementara Mark duduk di sebelah kursi supir, dan Myungsoo di belakang mereka. Tidak ada bahan pembicaraan selama perjalanan, karena Suzy kelihatan tak ingin diganggu.

“Jadi, Ibumu masih di Kanada?”

“Ya,” Suzy membalas singkat, membelok tajam ke kanan, “Akan kembali kira-kira minggu depan.”

“Jadi kau tinggal sendirian terus akhir-akhir ini?” tanya Myungsoo, dibalas anggukan Suzy.

“Hm, ya, ya. Kecuali hari ini. Kau akan tinggal di rumahku, bukan? Dan tolong jangan berbicara kecuali aku mengerem. Aku susah konsentrasi bila menyetir.”

Mark menghabiskan sisa perjalanan itu dengan mengantuk, dan akhirnya tertidur. Tiga puluh menit yang hanya seperti lima menit kemudian, Suzy sudah menepuk-nepuk pundaknya, menyuruhnya bangun.

“Hei, sudah sampai. Ayo, bangun! Bangun!” seru Suzy di telinganya. Mark mengucek matanya dengan malas dan keluar dari mobil. Udara segar menghampirinya, dan di hadapannya, ada sebuah rumah besar.

“Wow,” decak Myungsoo.

Rumah itu, Mark sudah bisa menebaknya, rumah Suzy. Rumahnya cukup besar, walau hanya terdiri atas dua lantai. Rumah itu memanjang, jadi terkesan luas. Temboknya berwarna putih bersih. Di depan rumah itu ada sebuah taman kecil yang cukup luas, dan lampu-lampu taman meneranginya dengan terang. Ada pintu kayu warna cokelat yang menanti mereka.

“Kita bicarakan ini nanti. Ayo, kita masuk.” Suzy mengisyaratkan mereka, dan berjalan perlahan setelah mengunci mobilnya.

“Pukul berapa sekarang?”

“Dua sore. Menghabiskan dua jam perjalanan, kau tahu? Untung badai saljunya belum datang.”

Mark tidak banyak bicara selama memasuki rumah itu. Dia hanya menaruh tasnya di kamar yang telah disediakan. Rumah ini terasa begitu sepi. Mark jadi sedih. Apakah ini rasanya bila dia tidak ada di rumah? Apakah sesepi ini?

“Em, ngomong-ngomong,” Mark agak canggung, “Maaf, maksudku, Azura…”

Suzy yang berada di ambang pintu tersenyum, mengerti maksudnya. “Bersabar saja. Dia akan merayakan malam Natal di sini, kok. Dia akan datang sekitar pukul tujuh malam nanti.”

Mark menghembuskan napas lega. Mendadak dia berharap waktu cepat-cepat berlalu dan segera menuju pukul tujuh. “Oke, jadi, kita lakukan apa sekarang?”

Suzy menatap Myungsoo penuh arti, “Hm. Makan siang? Kau lapar?”

“Ya,” Mark menyeringai. “Hei, ayo, Myungsoo.”

Mereka menghabiskan waktu selama beberapa jam di meja makan, Mark terus menerus menambah porsinya diikuti dengan senang hati oleh Suzy. Pohon Natal besar bertengger di ruang keluarga, dengan beberapa tumpuk kado di bawahnya.

“Kau sudah siapkan kado Natalmu?” tanya Myungsoo.

“Ya. Nanti, akan kutaruh. Tenanglah,” ujar Mark tersenyum, memakan porsi entah untuk yang keberapa kalinya.

“Andai saja kau hadiahkan aku kesempatan untuk hidup lagi,” sahut Myungsoo tersenyum pahit, “Kau, Suzy, apa kadomu?”

“Menurutmu?” Suzy mengangkat bahu.

“Kau sudah belikan kado untuk gadis kecintaanmu, itu, eh, Mark?” tanya Myungsoo datar.

“Gadis kecinta—oh, sudah.” Timpal Mark. Myungsoo jelas merujuk pada Azura. Pria itu tahu Mark sangat tertarik padanya dan menganggap itu hal aneh. Karena dia tertarik hanya pada tulisan. Suzy melirik mereka berdua.

“Oh, aku paham. Kau sudah mulai…” gumam gadis itu.

Suzy memutar bola matanya, memberi isyarat dan terkekeh. Mark langsung menepisnya, “Ah, jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat.”

“Memang kenyataannya begitu, ya, kan?”

Mark menghabiskan waktunya setelah itu dengan menelepon bergantian Ibu, Ayah dan Sophia melalui telepon rumah Suzy. Keluarganya mengaktifkan suara speaker dan tidak memakai gagang telepon agar mereka bertiga bisa bercakap sekaligus dalam satu waktu. Untung telepon itu tidak memungut biaya, Mark pun juga tak tahu. Jadi dia asyik menelepon selama berjam-jam, dari tadinya duduk kini terduduk di lantai. Membicarakan segala hal yang terjadi, begitupun penyerangan Sehun. Mengobrol begitu seru sampai tak mau lepas, membiarkan Suzy dan Myungsoo asyik bercengkrama di ruang keluarga.

“Ya, kurasa liburan Natal kali ini akan bagus,” ucap Mark memainkan kukunya, “Bagaimana dengan kalian?”

“Aku yakin ini Natal terbaik!” teriak Sophia.

“Jangan keras-keras, Sophia!” bentak Ayahnya.

“Mark, jangan merepotkan di sana,” pesan Ibunya, “Kami menunggu kehadiranmu, oke?”

“Oke,” Mark mengangguk, “Aku sangat merindukan kalian. Tunggu aku beberapa bulan lagi, ya?”

Mark hendak memutuskan sambungan telepon ketika Ayahnya memotong, “Eit, tunggu, Nak. Aku bahkan belum bertemu siapa yang mengundangmu malam Natal ini. Bisa panggilkan teman perempuanmu itu?”

Mark terdiam sejenak, ragu, dan kemudian menyanggupi. Ia berjalan ke ruang keluarga, dimana Suzy dan Myungsoo sedang asyik membaca majalah berdua.

“Suzy, itu, Ayahku ingin berbicara padamu di telepon.”

Suzy menoleh padanya, dan bangkit dari sofa. Ia berbisik sesuatu pada Myungsoo dan pergi berjalan ke telepon, diikuti Mark.

“Halo,” sapa Suzy hangat, senyumnya mengembang.

“Ayah, aku tahu itu pasti dia!” pekik Sophia, “Itu dia!”

“Diam, Sophia!” sela Mark mendekatkan mulutnya ke speaker, dan tertawa, kemudian diikuti balas tawa Sophia.

“Halo. Kau temannya Mark, bukan?” tanya Ayahnya.

“Ya.”

“Oh, teman perempuan?”

“Ya.”

“Bagaimana Mark di pelajaran? Di sekolah? Apakah ia melakukan sesuatu yang buruk?”

Suzy menatap Mark sejenak, dan tersenyum, “Tidak ada. Dia hanya sering membolos beberapa kali. Selebihnya, dia anak yang baik.”

“Sudah kuduga, anak itu berbohong padaku!” geram Ayahnya, tapi Mark tahu itu bukan sungguhan.

“Dan, siapa namamu?” tanya Ibunya.

“Suzy. Bae Suzy. Aku dari Korea.”

“Oh, Korea.” Sambungnya, tapi kemudian Ibunya terdiam, mungkin teringat pada teman anaknya, Myungsoo.

“Bisakah kau perhatikan bila dia sedang jatuh cinta pada seseorang?” celetuk Sophia dari telepon. Suzy menoleh ke telepon dan berusaha menahan tawanya.

“Oh, kau adik Mark, bukan? Aku Suzy. Siapa namamu?”

“Sophia Tuan.”

“Oh, nama yang bagus. Aku sedang mengira, kau pasti mengepang rambutmu untuk Natal tahun ini, ya?”

Sophia memekik, “Bagaimana kau bisa tahu? Aku bahkan belum mengirimkan fotonya pada Mark!”

Suzy tertawa ke arah Mark, dan dibalas Mark dengan senyum seadanya. Sophia sudah berubah menjadi cukup menyebalkan.

“Tapi, betulan, Suzy, apakah kau bisa awasi bila dia jatuh cinta? Karena dia ini aneh kalau bisa menyukai seseorang. Rasanya tidak cocok dengan perempuan manapun, kan? Jangan-jangan dia jatuh cinta padamu.”

Mark berusaha menahan jantungnya yang nyaris keluar. Isi perutnya naik, membuatnya ingin terbatuk. Sebisa mungkin dia tenang, berusaha menahan warna merah pada pipinya. Sophia sangat menjengkelkan dan membuatnya nyaris ketahuan bila perubahan itu terlihat. Dia tak mau tanda itu terlihat, karena tepat saat itu Suzy menoleh ke arahnya, kemudian beralih ke telepon.

“Oh, ya. Pasti. Aku yakin ia jatuh cinta dengan seseorang kini. Ada lagi yang lain, Sophia?”

“Bilang padanya, bawakan satu temannya untuk jadi teman kencanku! Senang mengenalmu, Suzy! Dah!”

Kemudian saluran telepon terputus. Suzy mematikannya dan kemudian tertawa terbahak-bahak, berbalik menuju sofa dan kembali membaca majalahnya dengan Myungsoo.

“Ada apa?” tanya Myungsoo.

Suzy mengibaskan tangannya, “Kau perlu tahu ini! Aku suka dengan keluargamu, Mark. Mereka lucu sekali! Jarang rasanya punya keluarga seperti itu.” Suzy tersenyum, “Dan, apa maksudnya itu?”

“Apanya?”

“Ketika adikmu bilang tentang kau jatuh cinta. Kenapa pipimu merah?”

Mark mencelos. Sialan! Dia berharap Suzy tidak mengetahui perasaannya yang baru dia ketahui selama ini terpendam pada gadis itu. Seolah doanya terkabul, Suzy bergumam, “Jelas aku akan beritahu dia bahwa kau sangat tertarik, atau mungkin mulai menyukai Azura Sean.”

Mendengar nama itu jantung Mark berdebar lebih keras daripada tadi. Maka, menutupi wajahnya yang akan memerah seperti udang rebus, dia menyerah dan berjalan menuju kamar. Menikmati badai salju, sampai akhirnya ia tertidur di tempat tidurnya.

“Bangun, man. Malam Natal! Pukul tujuh kurang dua puluh menit saat ini! Saatnya menunggu gadis kecintaanmu!” teriak Myungsoo seraya mengguncang tubuhnya. Mark malas untuk bangun, dan hendak tidur lagi, ketika Myungsoo berteriak.

“Azura akan datang sebentar lagi!”

Bagai robot, Mark langsung sigap terbangun mendengar nama itu, dan matanya membuka lebar, tidak mempedulikan suara tawa terbahak Myungsoo. Dia mandi dalam kecepatan kilat hanya sepuluh menit, dan kemudian menggunakan pakaian merah polos dan sebuah jaket hitam terbaiknya. Di depan kaca, dia menyisir rambutnya serapi mungkin, mencuci wajahnya berkali-kali, dan bahkan mulai membayangkan cermin itu adalah bayangan Azura di depannya.

Maka sepuluh menit itu dihabiskan Mark menunggu Azura di ruang tamu. Ia duduk di sofa ruangan tamu sampai kakinya kram. Jantungnya berdetak kencang sampai nyaris lepas dari tempatnya tiap ia membayangkan Azura akan datang di depan pintu dengan gaunnya. Tiap detik terasa begitu lambat, seolah menghalanginya menemui gadis itu. Tiap detik itu juga jantung Mark berdesir hebat.

Myungsoo dan Suzy sedang memasak bersama berbagai masakan untuk malam Natal ini. Mark berusaha agar seluruh pakaian dan rambutnya tetap rapi. Akhirnya, sudah jam tujuh lewat sepuluh menit, ketika Mark khawatir gadis itu tak akan datang.

Sepuluh menit kemudian, Mark merasa putus asa dan hendak berbalik ke kamar. Dia berpikir akan menghancurkan makanan di pesta malam Natal, menginjak-injak jaket yang dipakainya dan kembali ke Mushten dalam keadaan berjalan kaki karena Azura tak kunjung datang, ketika denting bel listrik berbunyi.

Mark langsung membuka pintunya tanpa perlu diaba-aba. Dan pintu itu dibukanya dengan jantung berdetak dan nyaris melompat keluar dari tubuhnya, dengan perasaan terlalu senang sampai ingin muntah, pipi merah, kaki gemetar, dan tangannya pun gemetar begitu membuka pintu dengan pegangannya. Kemudian, apa yang ada di hadapannya membuatnya terkesiap.

Seolah ada malaikat datang kepadanya, menjemputnya. Mark yakin matanya membelalak, tidak berkedip. Kakinya semakin bergetar ketika melihat bayangan gadis itu ada di depannya, membuatnya tersihir dan terhipnotis selama beberapa waktu sampai senyumnya melemparnya ke kenyataan.

Azura, ada di depan pintu, dengan senyum menawan, rambut hitam yang berkilau, dan gaun yang indah. Menyapa Mark, dan Mark melupakan apapun tentang hidupnya, bahkan Myungsoo dan Suzy dan dia hanya bisa berfokus pada Azura. Dan Mark tahu ia sudah terlanjur terperangkap dalam mata gadis itu yang hijau bersinar.

A/N (melompat ke curhat)

Kalian tentu sudah tahu seperti apa muka Suzy, Mark, Myungsoo atau si Sehun. Tapi gimana dengan si Azura? Nah, ini dia…

Jreng!:’)

kayaKarena sulit membayangkan tokoh yang satu ini pake muka khayalan. Aneh. Pengen ada real feeling. Dan, model untuk foto di atas itu Kaya Scodelario. Karena emang karakter dia paling cocok sama yang aku bayangin sewaktu nulis cerita ini. BHAK.

(promosi lagi) Kaya Scodelario ini pemain film The Maze Runner, sebagai Teresa. Sebagian pecinta fiksi distopian pasti tau. Dan, Kim Soo Hyun menjadikan Kaya sebagai tipe idealnya. (digaplok Hyunzy shipper). Tapi emang bener, walaupun beritanya udah sekitar tahun 2012. Bahkan Kim Soo Hyun adalah satu-satunya aktor Korea yang berhasil satu photoshoot sama dia. Kaya berpendapat bahwa Soohyun baik dan gentle.

Oke, jangan dibenci ya. Kaya ini adorable sekali lho. Lagian disini dipakai buat model karakter doang sih AHA. Segitu saja sih, mau nambahinnya. Mungkin sudah ada yang tahu? Diharap jangan ada para shipper yang potek. Hanya ingin membagi informasi saja <///3

Semoga terhibur dengan ceritanya🙂

Regards, Nadia

27 responses to “The Fog [Chapter 10]

  1. emmm pertanyaan nya mark itu suka sama sapa toh?suzy apa azura?aigoo aigoo mark mark dia ditukang boong dan lebay kan yang ngehajar sehun ksn myungsoo nya knp dia ngaku ngaku untung adiknya itu shopia dah ngerasa kl kakaknya itu boong ~phew*kkk, lanjut baca…

  2. Yah si mark baru aja kemaren cemburu liat myungsoo sma suzy,, kirain suka sma suzy eh malah sekarang udh terpesona bnget sm Azura hhhh

  3. Kbanyakan berkisah tentang mark yang ternyata suka ama azura.. aku kira dia beneran suka ma suzy… aku nungguin myungzy moment ni thor…
    Next ditunggu….

  4. Aigo mark kaya’a jatuh cinta deh ama azura cie cie cie heheheh sampe” dy enggk kedip” tuh , akh myungzy makin deket deh. Tetap semanget yah thor wat bikin ff’a ne
    Fighting ne

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s