Wedding Dress [chapter 1]

wedding-dress-suzy

xianara presents:

Wedding Dress – First Encounter

Bae Suzy and Kim Myungsoo; Choi Minho, Bang Minah, Park Jinyoung, and others. || Drama, Romance, AU, Life, Angst, Slight!, Friendship || PG 15 || Chaptered: Teaser

disclaimer: beside the story and poster i own nothing!

First encounter after a ton of yearsCome back again? 

Enjoy reading🙂

Wedding Dress

Suzy memoleskan blush on berwarna merah muda ke kedua sisi pipi Lee Hyori sebagai sentuhan terakhir. Kembali ia menyapukan seulas bedak tipis untuk merapikan make up idola wanita se-Korea Selatan itu. Setelah dirasa sempurna, ia pun merapikan perkakas make upnya tersebut.

Eonni sudah selesai. Coba lihat ke cermin.” Pinta gadis itu kepadanya. Suzy pun mengangkat serbet yang digunakan sebagai alas untuk menutupi baju Hyori agar tidak terkena serpihan bedak.

“Perfect. As always. Thanks dear.” ucap Hyori sambil mematut dirinya di cermin. “Seperti biasa. Sudah kutransfer ke rekeningmu.”

“Terima kasih banyak Eonni.” Ujar Suzy sambil membungkukan badannya. Membayangkan nominal di rekeningnya akan bertambah saja sudah membuat dirinya senang luar biasa.

Your welcome. Untung ada kau. Kalau saja Kwangja tidak terkena diare akut mungkin show-ku akan batal. Tapi Tuhan mengirim seorang malaikat untuk menyelamatkanku. Hehe.” Hyori menyebutkan salah satu staff make up artistnya yang terkenal bertubuh jangkung dan  mengatakannya sambil tertawa.

Eonni berlebihan. Haha.” jawab Suzy sekenanya.

Nama: Bae Suzy
Usia: 24 tahun
Pekerjaan: Penata rias Idol / Bride
Hobi: Tidur, makan, minum, kadang-kadang menyambangi Gym (lebih sering di alam mimpi), dan menonton film.
Motto Hidup: Selama aku benar aku akan terus berbicara untuk membela diriku!
Impian: Melupakan masa lalu. Meninggalkan kenangan buruk. Mengubur semua mimpi yang tak jadi nyata. Menjadi isteri baru dari Matt Damon.

Sementara di lain tempat pada waktu yang bersamaan,

Terdapat keributan di sebuah kantor yang terletak di lantai 26 di Gangnam-gu Office. Seorang pria dengan raut wajah merah padam menahan amarah terlihat bolak-balik seperti setrika di dalam ruang meeting.

“Gaeun sedang cuti hamil. Jaesoon, Hana, dan Sumin jadwalnya full untuk wedding ceremony di Apgujeong dan Jamsil. Yaa! kalian bagaimana bisa teledor seperti ini?!” bentak pria tersebut.

Para staff yang diketahui merupakan karyawan sebuah Event Organizer ternama ibukota itu hanya bisa termangu di tempat duduk masing-masing. Tak ada satupun dari mereka yang berani angkat bicara.

“Kenapa diam?! Jawab!?”

Suasana ruang meeting EO Red Light begitu dingin. Itu semua bermuara pada kelalaian departement managing dalam memeriksa ulang jadwal para staff tersbut. Kesalahan para staff managing ialah mereka lupa menilik kembali kalau jadwal make up artist mereka bulan depan sudah full. Karena keteledoran itu pun, mereka jadi melupakan sebuah agenda penting.

Pre wedding pasangan selebritas Hallyu Wave yang akan dilaksanakan di Abu Dhabi tengah bulan ini. Bertepatan dengan masa di mana para make up artist-nya memiliki jadwal masing-masing.

“Myungsoo maaf. Kami akui itu memang kesalahan kami.” Jawab salah seorang staff laki-laki yang bekerja sebagai lighting staff bernama Jinyoung tersebut.

“Itu memang kesalahan kalian!” komentar Myungsoo – pria yang marah-marah di awal tadi – dengan nada menyalahkan.

“Kalau diperkenankan, saya ada solusi untuk masalah kali ini, ” Lanjut Jinyoung dengan raut wajah harap-harap cemas.

“Apa solusimu?”

“Kita sewa make up artist professional independent.” usul Jinyoung pasti.

Nama: Kim Myungsoo
Usia: 24 tahun 11 bulan
Pekerjaan: Seksi repot di lapangan EO Red Light
Hobi: Menghirup oksigen. Mengedipkan mata. Mengatupkan mulut. Menggaruk bagian tubuh yang gatal. Menonton film di bioskop – sendirian.
Motto hidup: tidak punya!
Impian: Berhenti menyesali perbuatan bodoh di masa lalu. Menjadi seseorang yang penting baginya, lagi.

Suzy tiba di rumahnya di Jongno-sam ga. Kawasan pemukiman padat penduduk itu telah menjadi tempat tinggal Suzy selama kurang lebih 24 tahun. Ia lahir, besar, dan tinggal di sana dengan kedua orang tuanya. Namun sayang, ayah Suzy harus menghadap Yang Maha Kuasa di saat ia berada di kelas tiga SMA. Tepat sebulan sebelum ia melaksanakan Suneung.

“Ibu, aku pulang.”  Suzy mencopot sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah.

“Ibu???”

Ia masuk ke ruang tengah dan tidak mendapati ibunya di sana. Di rumah dengan luas empat petak tersebut ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Beliau bekerja sebagai penjaga toko kelontong yang dirintisnya bersama dengan almarhum suaminya di Pasar Jongno.

“Ah, kau sudah pulang? Ibu di kamar Nak!” teriak ibu Suzy dari dalam kamar.

“Ibu? Kenapa ada di kamar? Dan yaa, televisi siapa ini? Ibu baru beli? Apa kredit?”cerocos Suzy mendapati ibunya tengah menikmati acara talkshow dengan Yoo Jaesuk sebagai MC-nya.

“Eyy ini punya ayahmu. Dulu, sudah lama sekali ini dibawa ke tukang reparasi. Sebelum kau lahir. Saking lamanya televisi ini diperbaiki, ayahmu sampai lupa mengambilnya.” jelas ibu Suzy.

“Oh begitu. Ah, lalu biaya reparasinya?”

“Tidak dipungut biaya alias gratis. Teman ayahmu kebetulan teknisinya. Lalu mengetahui fakta bahwa ayah telah tiada, ia malah memberi ibu gratis service.” lanjut ibu Suzy. “Kau sudah makan? Ibu memasak cumi goreng, kesukaanmu.”

“Aku sudah makan. Aku ke kamar dulu Bu.” pamit Suzy. Tak lupa ia mendaratkan kecupan di kening ibunya dengan sayang sambil berlalu.

Di kamar yang tak begitu luas itu Suzy merebahkan dirnya di atas kasur yang hanya cukup untuk ukuran satu orang saja. Jiwa dan raganya dibuat cukup lelah dengan kegiatan hari ini. Mau tak mau ia harus mau. Ia harus bekerja untuk mengurangi beban ibunya.

Sesungguhnya setiap hari melihat ibunya bangun di pagi-pagi buta lalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan berlalu ke pasar untuk mengurus tokonya setiap hari, membuat perasaan gadis itu teriris. Ia tak tega melihat ibunya harus bekerja keras seorang diri. Makanya sekarang ia pun mati-matian bekerja tak kenal waktu untuk sebuah kehidupan yang mapan bagi keduanya kelak.

Ia mengambil kalender mejanya. Terdapat angka yang dibulatkan dengan spidol merah di bulan ini lengkap dengan catatan di bawahnya. Untuk bulan depan jadwal di minggu terakhir sudah full. Ia pun membayangkan rekening tabungan miliknya yang selalu gagal diet. Rekening gendut itu mengasyikan! Kalender di genggamannya pun ia taruh kembali di tempat yang semula.

“Tengah bulan sepertinya free. Ah aku bisa beristirahat. Asyikk.” Gumam Suzy pelan. ia pun sudah berencana akan melahap DVD The Mummy Returns yang dibeli di “lapak” biasa ia memborong DVD.

Angan bersantai bersama Brandon Fraster dan Jet Li seketika buyar oleh dering ponsel yang cukup memekakan telinga. Ia pun segera mengambil ponsel persegi panjang berwarna hitam miliknya di tempat ia menaruh kalendarnya.

JR is calling!

Suzy mengernyit begitu mengetahui siapa yang meneleponnya. Dengan satu gerakan ia mengangkat panggilan dari temannya itu.

Eoh? Jinyoug? Ada apa?”

“Ah, Suzy-ah. Kau sedang apa?” tanya Jinyoung di seberang telepon.

“Jawab dulu pertanyaanku,” Suzy mendengus mendengar basa-basi Jinyoung. Ia yakin, pasti pemuda itu ada perlu sesuatu dengannya.

“Hehe. Maaf menganggu waktu istirahatmu. Begini, aku ingin minta bantuanmu. Mau bantu temanmu ini tidak?”

“Bantu apa?”

“Begini.. ini menyangkut hidup dan matiku. Pekerjaanku sedang di ujung tanduk. Kau harus membantuku Suzy-ah. Ku mohon.”

“Iya, iya. Aku pasti bantu. Kalau kau sudah merengek seperti ini, pasti ini danger ya?”

“This is more than danger! Jadi begini, kau tengah bulan ini ada schedule tidak?”

“Kebetulan kosong. Hei cepat katakan kau minta bantuan apa kepadaku?” Suzy berkata tak sabaran.

“BENARKAH?!” Jinyoung berteriak di ujung telepon. Suzy pun menjauhkan telepon dari telinganya. Bisa-bisa ia harus pergi ke dokter telinga setelah bertelepon dengan Jinyoung.

“Yaa! Jangan berteriak!”

“Kalau begitu, kau pasti bisa kan jadi make up bridal pre wedding BoA dan Yunho?! Tolong jangan katakan tidak!!” lanjut Jinyoung

“APA?!! Prewedd BoA dan Yunho?!” kini gentian Suzy yang berteriak di ujung telepon.

“Soal komisi kau tidak perlu khawatir. Kau akan mendapatkan di atas rata-rata. Aku yang jamin. Jadi?” Jinyoung menunggu jawaban Suzy di ujung telepon.

Pikiran gadis itu pun kembali digerayangi oleh rekening gendutnya. Kalau ia menerima tawaran Jinyoung, ia yakin ia pasti bisa merenovasi rumahnya awal tahun depan. Karena komisi dari bridal pre wedding terlebih public figure kenamaan, pasti angka nolnya bertumpukan di belakang.

Eoh. Baiklah. Aku akan membantumu, ” jawab Suzy.  “Dan ingat, aku melakukan ini karena ingin membantumu!” Suzy menekankan kata membantumu.

“Haha. Terima kasih! Besok kalau begitu segera ke kantorku, kita urus berkas-berkas dan passportmu.” Tukas pria itu cepat. “Kau punya passport kan?”

Passport? Tunggu, apa prewedd kali ini akan dilaksanakan di luar negeri? Wow! Ia yakin pasti bayarannya benar-benar selangit. Suzy pun tak dapat menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.

“Tentu aku punya. Jangan bilang kalau preweddnya dilaksanakan bukan di Korea. Jinyoung-ah apa kita akan ke luar negeri?” tanya Suzy penasaran.

“Dubai.. Preweddnya akan dilaksanakan di sana. Selama dua hari sesuai jadwal.”

“Oh di sana. Yang ada menara Burj Khalifa itu? Oh saja.” komentar Suzy pelan.

Namun sedetik kemudian,

“APA?!!  DUBAI?! PARK JINYOUNGGGGGG!!” teriak Suzy kembali. Dan sukses membuat Jinyoung melempar ponselnya ke kasur karena teriakan gadis itu.

“Jadi kau sudah menemukan solusinya?” tanya Myungsoo di ujung mejanya.

Kali ini ia sedang berada di ruang meeting yang ia pakai untuk menyemprot anak buahnya kemarin. Tetapi kali ini ia hanya bersama Jinyoung, Naeun – staff managing – dan Minho – fotografer yang dipakai jasanya untuk prewedd BoA dan Yunho. Mereka menunggu kedatangan Messiah yang didatangkan oleh Jinyoung. Tak lain dan tak bukan ialah Suzy.

“Sudah bos. Kau tenang saja.” jawab Jinyong tenang.

Pintu di ruangan itu terbuka, terlihat Suzy menyembul di baliknya.

“Selamat pagi. Maaf terlambat. Apa meetingnya sudah dimulai?”

“Ah temanku! Kau sudah datang!”

Jinyoung bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Suzy. Baru saja ia akan memeluknya namun gadis itu telah menarik tangan Jinyoung dengan kasar terlebih dahulu. Di sudut meja sana seorang pria malah terlihat seperti mayat hidup. Wajah pria itu – Myungsoo –  seperti dilanda badai yang terjadi di lautan teduh setelah melihat kedatangan Suzy.

“Park Jinyoung! Kenapa kau selalu menyimpan hal-hal penting di bagian akhir?! Dubai!!?” desis Suzy tajam namun pelan.

“Maaf. Aku, aku.”

“Ehem!” Myungsoo berdehem pelan memotong ucapan Jinyoung.

Keduanya pun menghentikan aksi saling lempar kata dan menatap pria yang berpangkat lebih tinggi daripada Jinyoung tersebut. Setelah mengatur ekspresi wajahnya, Jinyoung pun memperkenalkan Suzy kepada para staff yang ada di sana.

“Bos, ini dia professional make up artist yang akan kita gunakan jasanya. Bae Suzy.” tukas Jinyoung cepat.

Naeun yang berdiri di dekat Myungsoo menghampiri Suzy. Mengucapkan salam perkenalan terhadapnya. Mendahului Myungsoo yang masih terpaku menatap Suzy. Deg! Jangan bilang dia itu Suzy dari SMA Jongno.

“Halo, Aku Naeun. Senang berkenalan denganmu.” ucap Naeun sambil menjabat tangan Suzy dan melampirkan senyum manisnya.

Perkenalan gadis berhidung bangir ke dalam itu pun langsung dibalas oleh Suzy. “Hai, Aku Suzy. Senang berkenalan denganmu. Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik.”

Disusul oleh Minho yang tak ketinggalan ingin berkenalan dnegan Suzy. “Aku Minho, fotografer professional nomor satu di EO Red Light ini. Hehe.”

“Oh, hai Minho!”

Myungsoo merasa dirinya diabaikan kehadirannya oleh bawahannya. Ia pun kembali berdehem dengan keras.

“Ehem! Kenalannya bisa dilanjutkan nanti. Sekarang mari kita segera mulai briefingnya. Naeun tolong bacakan semuanya.” Perintah Myungsoo kepada Naeun.

“Hei, tidak bisa sabar sedikit apa?” protes Naeun tak peduli dengan sorot ‘aku-atasan-kau-bawahanku-cepat-lakukan-saja!’ bossnya itu kepadanya. Naeun melengos. “Suzy, tolong disimak baik-baik ya.”

Naeun pun membaca susunan kegiatan yang akan dilakukan selama mereka berada di Dubai. Suzy menyimaknya dengan seksama. Berbeda dengan Minho. Pria itu malah menguap sambil menutup mulutnya karena terlalu bosan mendengar Naeun bercuap-cuap.

Lain halnya dengan Myungsoo. Ia sendiri sih sudah hafal betul dengan kegiatan akbar yang menjadi tanggung jawab terbesarnya itu. Myungsoo justru sibuk memandangi Suzy lekat-lekat. Ia yakin, ia pasti Suzy. Bae Suzy teman satu kelas masa SMA-nya.

“Sepertinya sudah jelas semua. Myungsoo?” tanya Naeun mengakhiri kegiatan cuap-cuapnya.

“Kim Myungsoo?” panggil Naeun sekali lagi tetapi pria itu bergeming. Rupanya ia tengah terkunci di dalam rumah imajinya.

“Kim Myungsoo?! Kau tidak mendengarkanku?”

“Eh? Eh iya. Aku dengar.” Myungsoo tersentak dari lamunannya setelah bahunya diguncang Naeun.  “Baik, jadi seperti itu. Kau mengerti?” Myungsoo bertanya kepada Suzy.

“Iya.”

“Satu lagi. Untuk soal komisi, kau tak perlu cemas. Kami tak akan membayarmu di bawah rata-rata. Justru kami menyediakan bonus untukmu.” Lanjut Myungsoo.

Mendengar kata bonus, binar di kedua mata Suzy dibuat semakin menyala. Ia pun segera mengatur raut wajahnya yang kelihatan sangat bahagia mendengar kata bonus menjadi biasa saja. “Iya aku mengerti. Omong-omong passportku nanti akan diurusi oleh kalian kan?” Suzy menatap lekat ke arah Naeun lalu ke Myungsoo.

“Tak usah khawatir. Kami punya staff khusus untuk mengurusinya.”

“Myungsoo, masalahmu sudah terselesaikan kan? Sekarang izinkan aku untuk pergi. Aku harus ke Cheongdam mengecek persiapan lighting di grand opening party Empire Group.” pamit Jinyoung. “Suzy, aku duluan. Terima kasih sudah mau membantu.”

“Iya silahkan.” Myungsoo mempersilahkan Jinyoung pergi.

“Hati-hati Jinyoung-ah.!”

Myungsoo pun kembali memandangi Suzy. Dan kali ini ia kepergok olehnya. Ia pun langsung membuang pandangannya. Suzy sendiri menganggapnya biasa saja.

6 tahun silam. SMA Jongno.

Suzy terdiam di atap gedung sekolah berlantai empat tersebut. Ia memandang ke bawah dengan perasaan yang kalut. Tidak. Ia tidak cukup bodoh untuk terjun ke bawah. Ia tidak ingin mati konyol.

“Suzy, “ panggil seseorang dengan suara bassnya.

“Cukup. Jangan mendekat! Kau tahu aku sangat sangat membencimu, Myungsoo!” Suzy berkata membelakangi Myungsoo.

“Tapi ini semua hanya kesalahpahaman. Kau harus tahu itu!“

Suzy berbalik menghadap Myungsoo. Dipandanginya pria di hadapannya ini dengan sorot benci yang panasnya melebihi api neraka. Suzy pun mendengus dibuatnya.

“Mau kesalahpahaman atau bukan, aku tak peduli! I don’t give a damn!” Suzy berkata sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia harus bisa mengatur amarahnya. Ia tidak boleh meledak.

“Kenapa kau tidak mau dengar dulu!? Apakah ini namanya seorang teman?! Hah!?” teriak Myungsoo. Ia sendiri pun tak sadar dengan nada bicaranya yang hampir mencapai delapan oktaf. Suzy yang mendengarnya dibuat sedikit gusar. Air mata telah menggenang di pelupuk mata gadis itu.

“Teman? Teman katamu?! Kau ini sudah kuanggap sebagai SAHABAT! Bodoh! Kau selama ini hanya menganggapku sebagai teman. Sedangkan aku melihatmu sebagai sahabat! Dasar bodoh!” maki Suzy dengan suara yang tak kalah tingginya dengan Myungsoo.

Keduanya pun terlibat pertengkaran hebat karena sebuah kesalahpahaman. Myungsoo pun mencoba menjelaskannya kepadanya. Di lain sisi, ia sendiri sudah kepalang basah menganggap Myungsoo sebagai pengkhianat.

“Suzy, maaf…” Myungsoo berkata dengan suara yang sangat pelan. Terdengar ketulusan di setiap kata yang ia ucapkan. Kendati demikian gadis itu sendiri merasakan tak ada ketulusan dalam kata maaf yang bocah laki-laki itu ucapkan.

“Maaf. Tapi kata maafmu itu tak bisa membayar rasa sakit hatiku ini. Bagaimana mungkin seorang teman membunuh temannya sendiri di hadapan orang lain? Apakah kau tak berpikir mengenai semuanya? Kau sudah berjanji kan? Apakah aku memang bukan seorang teman bagimu? Hah!” Suzy menepukan dadanya sambil berkata seperti itu.

“Cukup! Aku tak ingin berbicara lagi denganmu. Aku tak ingin melihatmu lagi. Aku sudah muak denganmu!” ucap Suzy sambil mencopot paksa gelang persahabatan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Mulai sekarang, tak ada lagi kata kita. Kau dan aku bukan teman lagi!”

Bracelet persahabatan hasil buatan mereka sendiri itu pun ia lempar ke sembarang tempat. Dengan lekas ia meninggalkan Myungsoo yang membatu di tempatnya. Air mata yang sukses meluncur dengan derasnya membawa Suzy berlari meninggalkan atap sekolah. Berlari meninggalkan segala kenangan dan tali yang mengikat mereka selama ini. Persahabatan.

“Suzy?” panggil seseorang kepada Suzy yang baru saja keluar dari toilet wanita.

To Be Continued,

Epilogue:

Musim semi ditandai dengan bunga sakura yang bermekaran di Seoul Forest dengan eloknya. Sehingga berimbas pada banyaknya turis lokal maupun mancanegara, yang datang ke festival musim semi yang rutin diadakan oleh pihak pemerintah.

Biasanya sebuah festival pasti dimeriahkan oleh jajaran mini-stand baik itu berupa makanan, kerajinan tangan, fashion, dsb. Pada festival tersebut banyak sekali booth-booth yang menyediakan beragam aktivitas yang menyenangkan. Salah satunya, yakni booth khusus membuat kerajinan bracelet dengan cara menganyamnya.

Pengunjung yang ada di sana terlihat asyik menganyam sebuah bracelet dari serat kain tipis dengan berbagai warna. Setelah mencermati dengan seksama tutorial sederhana yang diperagakan sebelumnya, mereka pun mulai membuatnya.

Begitupula dengan yang dilakukan Myungsoo dan Suzy. Kedua remaja setengah gaul Seoul tersebut kentara sekali menikmati proses pembuatannya. Ehm, lebih tepatnya hanya gadis itu sih yang terlihat menikmati menyalurkan kreatifitasnya. Sedangkan bocah lelaki itu? Ia melipat wajahnya dengan kesal karena sedari tadi ia tak kunjung berhasil membuat satu pola sederhana pada braceletnya.

“Oops, sepertinya kau mulai frustasi. Haha, “

“Bagus. Tertawa saja sana. Ha, ini membosankan!” gerutu Myungsoo.

“Hahaha. Dasar payah. Berikan tanganmu?”

Myungsoo mengernyit dan tidak urung mengindahkan perintah gadis itu. Ia pun menyodorkan telapak tangannya kepada gadis itu dengan gerakan yang acuh. Suzy pun meletakan sebuah bracelet buatannya yang sangat indah di atas telapak tangan bocah lelaki itu. Ia pun menunggu reaksi dari bocah lelaki yang menatapnya dengan tatapan yang tercengang.

“Untukmu tuh. Spesial buatan Bae Suzy!”

Myungsoo tidak susah untuk menyembunyikan seulas senyum tipis di atas bibir. Kendati harga dirinya sebagai seorang lelaki tercoreng karena tidak berbakat dalam hal seni, di satu sisi perasaan hangat di dalam hatinya mendominasi. Ia senang luar biasa!

“Tada! Lihatlah!” Suzy pun memamerkan pergelangan tangan kanannya yang sudah terlingkar oleh bracelet yang serupa dengan milik Myungsoo itu.

Keduanya pun tersenyum dengan memamerkan deretan tulang di atas gusi mereka.

Bracelet Persahabatan!!!” seru keduanya secara berbarengan sambil menempelkan pergelangan tangan mereka masing-masing.

***

a/n

maaf sekali  atas teaser sebelumnya yang membingungkan, abstrak, dan gagal menarik perhatian pembaca T_T padahal sengaja lho saya ngedrop teaser seperti itu supaya dpt feedback yg beragam.eh tau2nya saya malah dapat monofeedback. alias pada kebingungan T_T. maaf juga atas jalan cerita yang monoton dan klise di chapt ke-1 ini. duh sekali lg maafkan saya.

btw, untuk chapter pertama ini saya juga bingung kenapa bisa jadi seperti ini. bcs tadinya gak ya gini T_T

if u think it’s a poor one u can leave it

appreciation is a must right?😉

last, tenkyu banget buat kalian yang sudah meluangkan waktunya untuk menengok ff receh ini❤

see ya in the next chapter,

xianara-sign

lampiran gambar:

tumblr_lrqq32WLH71qguqxg

ini gambar dari friendship bracelet mereka, hehe

115 responses to “Wedding Dress [chapter 1]

  1. ffnya bagus thor. radi aku galait genre trus sempet nyangka ada comedynya gitu soalnya aku bisa senyum2 gaje bacanya. tapi setelah liat genrenya angst aku takut bayangin endingnya wkwkwk. dfnya keren banget thor kaya nonton film comedy bioskop gitu yg tiba2 ada profil castnya dikertas trus ada suara ketikannya. (?) abaikan. pokonya izin baca ya thor hehe

  2. Jd pengen k Korea pas musim semi… berhanami sm brondong Korea gitu… aiiihhhh….
    Beleum ketemu penggambaran Suzy sbg cewek cantik thor… kucari d chap berikutnya

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s