Bi, Barish, Rain (Last Chapter+Epilog)

Bi, Barish, Rain

Title : Bi, Barish, Rain | Author : dina | Genre : Family, Romance, Married Life | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji | Other Cast : Jung Ill Woo (as Kim Ill Woo), Sonam Kapoor (as Roja Singh), Kim Barish, Nam Taehyun, others

Disclaimer   :

Bi, Barish, Rain fanfic yang menghadirkan cerita kasih sayang seorang wanita terhadap keluarganya. Fanfic ini mungkin tidak semenarik fanfic romance lainnya, namun author berharap fanfic ini mampu menghadirkan cerita novel dengan bahasa yang sederhana. Seperti munculnya pelangi yang indah dibalik hujan, seperti itulah tema cerita fanfic ini. Ide, alur dan plot murni pemikiran author, all cast belongs to God, their parents and their agency, enjoy it readers ^^

Dengan segenap cinta

-dina-

Poster by rosaliaaocha

***

“Kata hyung, Barish semakin piawai bermain piano”

“Jinca?!”

“Hem…”

Mommy miss you so much Barisha..” senyum Sooji sambil mengecup foto putra yang kembali ia ingat

—–

Sooji mengepak barang-barang yang akan ia bawa nanti untuk Barish, 2 hari lagi tepatnya 11 Februari 2015, ia akan berangkat ke London menemui putra tercintanya. Oleh-oleh untuk Barish telah ia kemas rapi, tak lupa surat yang berisi pesan cinta untuk Barish

“Oppa jaket mana yang ingin kau pakai?” tanya Sooji sambil memilih baju dan jaket hangat untuk mereka pakai ketika di London

“Warna biru, kaos bergambar kita bertiga kau bawa serta” titah Myungsoo

“Yang ini?” tunjuk Sooji

“Yap…jangan lupa kaos yang aku desain untuk hyung dan keluarganya” titah Myungsoo kembali menghadap laptopnya. Myungsoo masih sibuk dengan pekerjaannya karena selama 14 hari nanti ia melimpahkan tugas kantornya ke Jonghyun, beberapa proyek yang masih berjalan akan ditangani sementara oleh Jonghyun, tidak heran jika di malam hari Sooji sibuk dengan mengepak barang yang sepertinya tidak akan cukup ia bawa sedangkan Myungsoo sibuk dengan pekerjaan yang ia lanjutkan di rumah

“Belum selesai oppa?” tanya Sooji mendapati suaminya masih berdiam diri menghadap dokumen dan mesin kerjanya

“Eoh…sedikit lagi, sebentar aku susul” jawab Myungsoo tanpa sempat melihat Sooji

“Baiklah” Sooji sangat mengerti kesibukan suaminya demi perjalanan jauh mereka, meninggalkan semua pekerjaan suaminya. Sooji menuju ruang makan, menyimpan makanan yang tersisa, kemudian mematikan lampu dan berjalan ke arah kamar Barish. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang putranya kemudian mulai membaca buku cerita sambil sesekali tersenyum mengingat celotehan demi celotehan Barish menjelang tidur ketika dirinya membacakan cerita Hans dan pohon kacang hijaunya, atau cerita warior Mulan dan Pocahontas. Memorinya tentang Barish mulai menampakkan dirinya, pun ketika di Lhasa, pertama kali ia bertemu dengan Barish, menggendongnya ketika tertidur dengan pipi gembul merahnya

“Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu” senyum Sooji, matanya mulai berat hingga tidak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus, Sooji tertidur

2 jam kemudian

“Sooji-ya” Myungsoo memasuki kamarnya yang kosong, alisnya tertaut, “kau dimana sayang?” lanjutnya sambil berjalan ke arah dapur, “tidak ada?” gumamnya

“Sooji-ya” panggil Myungsoo yang kemudian masuk ke kamar Barish, “kau di sini” senyumnya melihat Sooji memeluk guling terlelap dalam tidurnya. Myungsoo melepas sendalnya kemudian naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya di samping istrinya

“Kau pasti sangat senang akan bertemu dengan Barish” gumamnya sambil menarik tubuh istrinya, Sooji menggeliat pelan, menyamankan dirinya dalam pelukan Myungsoo, “jaljayo” lirihnya

—-

Sooji melihat tubuhnya ke dalam cermin besar, mengangkat kaosnya hingga memperlihatkan perutnya yang tidak lagi datar. Sooji mengusap pelan perutnya yang mulai membuncit, di dalamnya terdapat janin yang telah berusia 33 minggu

“Kyeopta” kekehnya sambil mengelus perutnya, “kurasa aku harus beli celana baru” Sooji menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri melihat dari segala engel

“Sayang dimana dasiku?”

“Kugantung di dalam lemari” jawab Sooji sambil terus mematut dirinya di depan cermin

“Aigo…” Myungsoo tiba-tiba mengecup pipi Sooji dari belakang, “kau sedang apa?”

“Ige…” tunjuk Sooji sambil kembali mengangkat kaosnya, memperlihatkan perutnya yang membuncit, “lingkar perutku bertambah 3 cm oppa” senyumnya

“Eoh…kau mulai menggemuk rupanya, pantas aku semakin kesulitan mengangkatmu” goda Myungsoo

“Ya oppa, berat badanku baru naik 5kg” protes Sooji sambil membetulkan dasi suaminya

“Jinca?! Aku tidak bisa membayangkan seperti apa tubuhmu 5 bulan lagi” kekeh Myungsoo

“Aku akan sebesar ini” ucap Sooji melebarkan kedua tangannya, “dan kau harus sanggup menggendongku dan aegy kita bersamaan” Sooji memeluk leher Myungsoo

“Astaga” Myungsoo memeluk gemas istrinya

“Coba kulihat perutmu” ucap Myungsoo sambil menekuk lututnya sejajar dengan perut Sooji

“Lihat sudah menyembul, kyeopta!” celetuk Sooji

Myungsoo tersenyum sambil mengecup perut Sooji, “kau sehat-sehat di dalam ne, appa dan eomma akan setia menunggumu sampai kau hadir di dunia ini” ucap Myungsoo sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Sooji, “kurasa aegyku laki-laki” ucapnya lagi yang disambut anggukan Sooji

“Hem…laki-laki atau perempuan, kita akan tetap menyayanginya oppa” balas Sooji

—-

Penerbangan menuju London tinggal beberapa jam lagi, Sooji mengenakan jaket birunya berjalan menuju pintu keberangkatan, sebelumnya mereka akan melewati pintu imigrasi untuk kemudian bertolak menuju London menggunakan jasa penerbangan British Airways, jarak tempuh memakan waktu 12 jam. Ill Woo akan menjemput mereka di bandara Heathrow London, rencananya Barish akan ikut serta menjemput mereka, dan membayangkan Barish akan menjemput mereka berdua membuat Sooji tidak lepas dari senyumnya

“Sampaikan salamku untuk Ill Woo dan keluarganya” ucap tuan Kim yang ikut mengantarkan Sooji dan Myungsoo ke bandara

“Baik abhoji”

“Kau sudah menelepon appamu?” tanya tuan Kim

“Sudah, appa titip pesan untuk keluarga Ill Woo oppa, beliau titip topi tradisional untuk Barish khusus dari Jeju” jawab Sooji

“Oiya eonni, oleh-oleh untuk Barish dan Loli dariku sudah kau bawa?” tanya Solbi

“Ne..sudah di dalam koper, mereka pasti suka”

“Sooji-ya jaga kesehatanmu, makan yang banyak, jangan terlalu lelah” pesan Ny. Kim

“Ne algheseumida omonim” senyum Sooji

“Kajja kita masuk” ajak Myungsoo sambil memeriksa kembali barang bawaannya

“Saya pamit abhoji, omonim, Solbi-ya” Sooji memeluk satu persatu anggota keluarganya

Sooji dan Myungsoo melambaikan tangannya berjalan menuju pintu keberangkatan

“Berapa jam perjalanan kita nanti?”

“12 Jam lebih mungkin, istirahatlah, semalam kulihat kau tidak tidur”

“Ne oppa…aku terlalu senang akan bertemu dengan Barish” senyum Sooji

Pesawat telah tinggal landas meninggalkan bandara Incheon Korea, Sooji manatap jendela, di luar sana awan putih terbentang luas, ingatannya kembali ke 8 tahun silam ketika ia bertemu dengan Barish di Lhasa, “aku tidak pernah mengira akan bertemu dengan Ill Woo oppa dan Roja eonni di Lhasa, kau tahu oppa Roja eonni tampak sangat cantik saat itu, memakai sari putih dibalut kain tebal Himalaya sambil mengucapkan salam”

“Benarkah?”

“Hem sangat anggun, beda denganku yang seperti laki-laki” kekehnya

“Tapi kau tetap cantik menurutku”

“Heol..aku istrimu oppa” ucap Sooji yang berhasil membuat Myungsoo tersenyum

“Lalu hyung?”

“Ill Woo oppa sedikit lebih gemuk dari terakhir kita bertemu setelah kita menikah, apa karena dipenjara ne oppa? Wajah Ill oppa menjadi lebih tirus” Sooji tampak berpikir

“Mungkin saja”

“Aah..ada bibi Khri, aku hampir melupakannya”

“Nuguseyo?”

“Dia yang merawat Barish dan mendampingi Roja eonni ketika Barish masih dalam kandungan”

Myungsoo tersenyum mendengarkan cerita Sooji ketika di Lhasa, terkadang menangapinya dengan serius dan bercanda, hingga Sooji mulai menguap, “kau mengantuk” Myungsoo menarik kepala istrinya, menyandarkan ke bahu kirinya

“Bangunkan aku jika sudah sampai ne oppa, jalja” Sooji mengecup pipi suaminya kemudian tertidur

Myungsoo menatap jendela, di sana awan masih tampak terang, perjalanan menuju London seperti berjalan mundur karena selisih waktu antara Seoul dan London sehingga hanya awan terang yang mereka lihat, perkiraan nantinya mereka akan mendarat sore hari di London. Myungsoo mengecup puncak kepala Sooji, keputusan besar yang ia ambil, resiko akan kehilangan keluarga kecilnya berputar kembali di memorinya, pada akhirnya sebuah kebahagiaan yang ia perjuangkan membuahkan hasil yang menggembirakan

Would you like some tea, Sir?” tawar pramugari

No, thank you” tolaknya sambil menyandarkan kepalanya, perlahan ia ikut tertidur

—–

Bandara Heathrow, London

“Dimana mereka?” Ill Woo mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, layar monitor kedatangan telah menampilkan pesawat British Airways penerbangan dari Korea telah mendarat, senyumnya mengembang ketika mendapati adiknya mendorong troly barang berjalan berdampingan dengan adik iparnya

“Myungsoo” teriaknya yang berhasil membuat Myungsoo dan Sooji menolehkan kepala mereka

“Ya! hyung” Myungsoo mempercepat langkahnya

“Aigo…kau sampai juga” Ill Woo memeluk erat Myungsoo sambil menepuk punggung adiknya

“Ne…”

“Sooji-ya” panggil Ill Woo sambil membuka lebar kedua tangannya

“Oppa” Sooji menyambut pelukan hangat Ill Woo, “I miss you so much, kau tampak sehat” Ill Woo melepas pelukannya sambil mengusap pelan kepala Sooji

“Ne oppa, aku sangat sehat”

“Lihat kau mulai tampak gembul” Ill Woo mencubit pipi Sooji

“Benarkah?” Sooji memegang kedua pipinya

“Kau sendirian hyung?”

“Hem..Roja sibuk dengan Lalita, kau sudah tahu aku memiliki putri?

“Ne oppa…pasti cantik”

“Sangat, lagi-lagi putriku mirip dengan Roja” kekehnya

“Lalu dimana Barish?” tanya Sooji

“Dia menolak untuk ikut, sepertinya cukup sibuk dengan Lauren”

“Benarkah?” tanya Sooji sedikit kecewa, ia sangat berharap Barish menyambutnya dengan pelukan hangat di bandara

“Jangan kecewa, kalian pasti akan bertemu” hibur Myungsoo

“Kajja kita pergi sekarang?” tawar Ill Woo

“Hem…aku tidak sabar bertemu dengan Barish, eonni, Lalita” senyum Sooji

“Bagaimana perjalananmu?” Ill Woo mendorong troly sambil mengobrol dengan Myungsoo, Sooji menggandeng lengan Myungsoo sambil mendengarkan Ill Woo bercerita, melihat sekeliling bandara. Sesampainya di mobil, Ill Woo menceritakan banyak tempat sepanjang jalan yang mereka lewati, Myungsoo memotret dari dalam mobil

“Oppa aku lapar” celetuk Sooji dari bangku belakang

“Eoh…kita beli roti dulu ne hyung” pinta Myungsoo

“Okay” Ill Woo memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko roti, Myungsoo membeli beberapa roti yang tidak ia jumpai di Korea

“Kau suka rotinya?” tanya Ill Woo ketika mereka sudah kembali di dalam mobil

“Hem..jhoa oppa” senyum Sooji sambil terus melahap rotinya, “aegyku benar-benar kelaparan” lapornya yang disambutan senyuman Ill Woo

“Kurasa kau akan 3 kali lipat dari ini nantinya” goda Ill Woo

“Heol..kalian kakak dan adik sama saja, selalu mengejekku” protes Sooji

“Haha…” tawa pecah di dalam mobil

—-

“Cah sudah sampai” Ill Woo melepas seatbeltnya kemudian membuka pintu mobil diikuti Sooji dan Myungsoo

“Ini rumahmu hyung?”

“Ne..rumah sederhana” Ill Woo membuka bagasi, mulai menurunkan koper demi koper milik Myungsoo dan Sooji. Dari dalam rumah tampak balita perempuan berusia 3 tahun berlari keluar diiringi teriakan suara wanita

“Loli” panggil Roja setengah berlari mengejar Lalita, Sooji menampakkan senyum cerahnya melihat kakak iparnya mengejar putri kecilnya

Here you are” Roja berhasil menangkap Loli yang tertawa geli khas anak kecil

“Eonni…” sapa Sooji

“Aah…Sooji” Roja tampak terkejut sambil terkejut, kalian sudah sampai?” Roja menghampiri Sooji, menurunkan Lalita dari gendongannya berganti memeluk adik iparnya erat

“Kau sudah sehat” senyumnya

“Seperti yang kau lihat eonni, aku sangat sehat” jawab Sooji

“Hai” Sooji menyapa Lalita

“Hai” jawab Lalita malu-malu menyembunyikan wajahnya dibalik kaki Roja

What’s your name?

“Loli..” lirihnya, pipinya semakin merona

Cute” Sooji menjongkokkan dirinya

I’m your aunty, Sooji aunty” Sooji memperkenalkan dirinya sambil membuka telapak tangannya memberi Lalita permen, dengan malu-malu dan ragu Lalita melihat Roja kemudian berganti menatap Sooji

Say something to aunty” titah Roja

Thank you aunty” ulangnya dengan nada manja, sedikit cedal mengambil permen dari telapak tangan Sooji

“Aigo..kau lucu sekali” kekeh Myungsoo

Good girl” Sooji mengusap pipi Lalita sambil terus tersenyum

“Kita masuk” ajak Ill Woo yang membawa koper dibantu Myungsoo

“Berapa jam perjalanan kalian?”

“12 jam lebih eonni, dimana Barish?” tanya Sooji

“Dia baru saja keluar dengan Lauren”

“Lauren?”

His best friend in here

Really?

Yap, in Korea he has Judy, and in here, Lauren” kekeh Roja

“Dia menuruni pesonaku” Myungsoo memuji dirinya

Oh My” kekeh Roja

“Oiya Sooji, Barish telah menyiapkan sesuatu di kamar kalian” lanjut Roja

“Benarkah?”

Yap…take a rest, aku siapkan makan malam”

“Terimakasih eonni” Sooji berjalan menuju kamarnya diikuti Myungsoo dan Lalita di belakangnya

You’re not shy anymore” ucap Myungsoo

Hu um” Lalita tersenyum kecil sambil kembali berlari meninggalkan Myungsoo dan Sooji

“Mama” teriaknya

“Aigo…” Myungsoo menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu keponakannya

“Lihat oppa” Sooji meletakkan tas jinjingnya di tepi ranjang, di atas ranjang telah tertata rapi beberapa hadiah disertai kartu ucapan

“Apa ini?” tanya Myungsoo

Sooji duduk dan mengambil salah satu kartu ucapan yang tertempel di masing-masing kado, di sana tertulis ucapan ulang tahun dengan huruf yang masih sedikit berantakan

London, May 1st 2011

Dear Mommy

Happy birthday mom! I miss you so much, get well soon Mommy 😦

I always love and miss you mom…

Sooji terharu membaca kartu ucapan ulang tahun Barish untuknya, perlahan ia kembali mengambil kartu lainnya

London, May 1st 2012

Dear Mommy ^^

Happy birthday!

Yeay I’m happy for you mom!

Mommy is the best mom in the world and I’m the luckiest son in this world who have you mommy, I LOVE YOU MOMMY

Mata Sooji mulai memerah membaca surat kedua Barish, surat yang dibuat ketika dirinya masih dalam masa pemulihan dan belum bisa mengingat Barish. Kembali ia mengambil surat ketiga, di hadapannya, Myungsoo ikut membaca surat yang telah dibaca Sooji

“Dia mengkhawatirkanmu” ucap Myungsoo

“Ne…” Sooji menganggukkan kepalanya sambil membaca surat ketiganya

London, May 1st 2013

Good morning Mommy!!

Happy blessed day Mommy 

School is really great mom, I’m making a lots of friends and studying hard, I have Lauren as my best friend like Judy did for me in Korea

I always pray for your healthiness mom, something missing without mommy and appa…I love you both, always…

Sooji menitikkan airmatanya, ia tidak pernah mengira rasa sayang Barish masih terjaga ketika dirinya tidak di sampingnya, ingatannya kembali di masa ia mendampingi Barish memasuki masa sekolah taman kanak-kanaknya, menemani Barish belajar dan mengenal dunia baru

“Kau menangis?” tanya Myungsoo

“Baca ini oppa” pinta Sooji sambil menyodorkan kartu ucapan yang baru saja ia baca

“Barish..” senyum Myungsoo ketika membaca surat ketiga putranya

Sooji mengambil surat terakhir, kartu ucapan ulang tahun keempat yang dibuat Barish untuknya

London, May 1st 2014

Mom…

Lucky me to have you in my life…you mean to me more than words can ever say mommy

On your special day, I want to say HAPPY BIRTHDAY MOMMY!!

I want to thank you for being there for me always eventhough were far apart but my love still grow for you mom, hope I can see you soon, I miss you so much mommy Sooji

Sooji menutup surat keempatnya, air matanya menetes tidak terbendung

I’m home” suara anak laki-laki memecah kesunyian

“Barish” Sooji berdiri meninggalkan surat dan kadonya, berjalan keluar kamar, ia menutup mulutnya ketika melihat Barish berdiri di ruang tamu sambil menggoda adiknya

Loli look your cheeks, a lot of chocolate” ucapnya

“Barish” panggil Sooji, sontak Barish menolehkan kepalanya, ia termangu sebentar kemudian tersenyum, “Mommy” panggilnya sambil setengah berlari ke arah Sooji, membuka kedua tangannya sangat lebar seakan-akan ingin memeluk bulan

“Barish” Sooji memeluk erat Barish yang telah berada dalam dekapannya, entah mengapa rasanya berjuta bintang berjatuhan melihat putra yang 4 tahun lamanya terpisah dari dirinya, “kau sudah besar” bisik Sooji sambil berkali-kali mencium pipi Barish

Is it your Barisha?” tanya Sooji seakan tidak percaya di hadapannya telah berdiri anak 10 tahun yang tampan

Yes mommy…It’s me” senyum Barish sambil mengecup pipi Sooji

“Ya Tuhan” kembali Sooji memeluk erat Barish diikuti Myungsoo yang mendekati mereka

“Appa…” panggil Barish

Myungsoo menganggukkan kepalanya, berganti memeluk Barish, “you grew up” ucapnya

Yes I am Sir” senyum Barish, “aku yang selalu membalas pesan appa”

“Ne..appa tahu itu kau” senyum Myungsoo kembali memeluk Sooji dan Barish

Roja dan Ill Woo menatap reuni keluarga kecil putranya, Sooji masih terisak menangis bahagia, tanpa disadari Rojapun menitikkan airmatanya, dirinya teringat bagaimana Sooji berusaha mendekatkan dirinya dengan Barish ketika pertemuannya dengan putra semata wayangnya di rumah tuan Kim, sekarang ia tahu seperti apa rasa bahagia Sooji kembali melihat Barish

—-

“Mommy sudah membuka kadonya?” tanya Barish yang tampak antusias

“Hem…mommy suka semua kado darimu” Sooji tidak bosan-bosannya mengelus kepala Barish, duduk di sampingnya, mendengarkan cerita demi cerita putra kecilnya

“Lauren dan aku sering bermain piano bersama”

“Benarkah?”

“Yap mom, ada banyak piala di kamarku, mommy mau lihat?”

Of course honey” senyum Sooji

“Kudengar kau hamil Sooji-ya” tanya Ill Woo

“Ne…33 minggu oppa”

Woaa congratulation” sambut Roja

Thank’s eonni

“Kau akan punya adik lagi Barish” ucap Ill Woo

Really? awesome, sister or brother?” tanya Barish

“Belum tahu” senyum Sooji

“Laki-laki atau perempuan aku tetap suka” jawab Barish berusaha diplomatis

Myungsoo tertawa melihat semangat Barish, dirinya disibukkan dengan kelucuan Lalita yang berkali-kali gagal membuka kado darinya

“Sepertinya Loli suka dengan kotak musik pemberianmu”

“Hem..lihat dia berkali-kali membuka dan menutup kotak musiknya” kekeh Myungsoo sambil mencubit ringan pipi Lalita

“Oiya besok Barish ada pertunjukkan seni di sekolahnya”

“Benarkah?”

“Mommy dan appa datang ya” pinta Barish

“Apakah diperbolehkan hyung?”

“Tentu saja, besok Barish menjadi salah satu pengisi utama, dia akan memperlihatkan pertunjukkan pianonya di hadapan orang tua murid dan beberapa pengawas sekolah”

“Okay, appa dan mommy akan datang melihat pertunjukkanmu” ucap Sooji sambil memeluk erat Barish yang duduk di sampingnya, mengusap pelan kepala Barish

“Kau pasti sangat pintar di sekolah”

Not really mommy, ada Lauren yang lebih pintar dariku, besok aku kenalkan mommy ke Lauren”

Sooji kembali mengangguk sambil tersenyum melihat keluarga suaminya, sungguh demi apapun Sooji ingin mengabadikan apa saja yang ia lalui selama di London, keceriaan yang selalu ia tunggu dan bayangkan akhirnya terjadi, bertemu dan bercengkrama dengan Barish

—-

“Kita duduk di sana” tunjuk Ill Woo sambil mencari kursi untuk keluarganya, tempat duduk ketiga dari depan dengan posisi semakin ke belakang tempat duduk semakin naik. Sooji duduk sambil terus mengamati dimana Barish, tak lama kemudia acara dimulai dengan choir pembuka menyanyikan lagu kebangsaan Inggris, kemudian berganti dengan pertunjukkan tari anak-anak multietnis, Sooji tampak tersenyum senang mendapati Barish di barisan belakang ikut menari dan bernyanyi. Acara selanjutnya pertunjukkan opera yang menceritakan sebuah cerita anak-anak Hansel and Gretel yang dimainkan teman-teman Barish dan adik kelas mereka, sangat lucu dan menghibur hingga sampailah pada acara akhir, pertunjukkan piano Barish. Setelah menunggu hampir 2 jam pertunjukkan demi pertunjukan akhirnya muncullah Barish dari balik panggung beserta seorang gadis yang sangat cantik

“Dia siapa?” tanya Sooji

“Lauren” jawab Roja sambil tersenyum

Cute…” senyum Sooji yang menangkupkan kedua tangannya, lampu hall mulai meredup, Barish duduk di bangku bersiap memainkan pianonya

“Ehem…” Lauren membuka suaranya

Good evening, my name is Lauren and he is my friend Barish, we would like to show you all our gift, especially for Barish’s mommy who came from Korea, yesterday” ucap Lauren sambil tersenyum

Sooji terkejut mendengar dirinya disebut, jantungnya mendadak berdegup kencang, Myungsoo menggenggam erat tangan Sooji

“Pertunjukkan itu ditujukan untuk kita kan oppa?” tanya Sooji yang disambut anggukan Myungsoo

Here we go, hope you enjoy it” Lauren mulai menarik nafasnya, orkestra mulai bersiap begitupun dengan Barish dengan jemarinya menempel di tuts piano

Alunan lagu Somewhere Over The Rainbow mengiringi suara lembut Lauren yang menyanyikan dengan penuh kesyahduan, perlahan Sooji tersenyum, matanya mulai berat dan memerah, ingin rasanya ia berlari ke panggung memeluk erat Barish. Ia tidak pernah menduga mendapatkan kado penyambutan dari Barish, mempersembahkan lagu untuknya dan Myungsoo. Lagu yang pertama kali dimainkan Taehyun ketika memilihkan piano untuk Barish, lagu yang sering Myungsoo mainkan bersama Barish, lagu yang selalu ia nyanyikan untuk Myungsoo ketika hanya mereka berdua di rumah tanpa kehadiran Barish, lagu yang mempunyai banyak kenangan baginya. Kembali memori demi memori dirinya dengan Barish terputar ulang layaknya video yang dimainkan di sebuah player

“Aku ingin piano, can I have it mom?”

“Uncle hari ini aku mendapatkan pelajaran musik”

“Musik? Baguslah”

“Kau mau memainkan alat musik apa?”

“Piano mom”

“Kau harus giat berlatih sayang, agar suatu saat nanti kau bisa menjadi pianis”

“Apa itu pianis?” tanya Barish

“Seseorang yang sangat pintar bermain piano” jelas Taehyun

“Aku mau menjadi pianis uncle!”

…..

“Do you like music?”

“Yes Miss”

“What instrument do you like?”

“Ehm…I wanna try to play piano”

“Try?”

“Interesting, what song do you like?”

“Somewhere over the rainbow”

“But that is old song, where do you know that song?” tanya Miss Clair

“My uncle play it for me”

“Oh…very nice”

“I can play it too Miss”

“Really? Do you practicing at home before?”

“Yes I am”

“So, do you want to play that song right now?”

“Should I?”

“Of course if you don’t mind”

“Yes Miss”

……

“Mommy where are you?” tanya Barish

“Mommy di Jepang sayang, kau sudah makan?”

“Ne…kapan mommy pulang? Hari ini Taehyun uncle dan aku akan membuat cupcake”

“Nanti sore, wuaa kalian memang jjang! Sisakan untuk mommy ne”

“I miss you mommy” ucap Barish

“Mommy miss you too Barish” balas Sooji

“Hati-hati mom, I love you..muach” Barish mencium ponselnya

“Nado Barisha…”

…..

“Mommy bolehkah aku bertemu dengan Mr. Yiruma?” pinta Barish

“Kenapa?”

“Aku hanya ingin bersalaman dengannya, mungkin saja tanganku akan tertular kepintarannya mom”

“Thank you very much Mr. Yiruma” Barish membungkukkan badannya dengan sopan

“Aigooo..kyeopta”

“You’re welcome Baris, take care, you must practice hard okay?!”

“ I will Sir!!”

…..

“Jadi aku harus memanggil uncle apa?”

“Panggil appa, Myungsoo appa”

“Call!”

…..

“Mommy kapan aku punya adik?”

“Hem?”

“Memang ada apa dengan adik?”

“Taehyun uncle yang memberitahuku kalau mommy dan appa akan segera memberiku adik”

“Aigoo…Taehyunie”

“Kalau mommy memberi adik, Barish ingin adik lelaki atau perempuan?”

“Perempuan”

“Kenapa?”

“Karena adik perempuan pasti sangat cute, seperti Judy”

“Judy?”

“Yap, Judyku mom”

“Judymu?” ulang Sooji

“Judy temanku anak Emily aunty”

…..

“Kau tidak ingin keluar Barish?”

“Tidak, aku ingin bersama mommy”

“Kita keluar ya, kasihan kakek Kim sendirian” pinta Myungsoo

“Mommy jangan menangis” kedua tangan mungil Barish menyeka airmata Sooji

“Kau mau keluar?”

“Kalau mommy keluar, aku ikut keluar”

……

“Mommy! Kemarilah”

…..

Airmata bahagia Sooji tidak terbendung bersamaan dengan alunan lagu yang dinyanyikan Lauren, kenangannya akan Barish sedari kecil hingga sekarang ia mampu mengenali lagi Barish membuat hatinya trenyuh

“Barish…oppa aku ingin ke sana” Sooji berdiri ketika lagu hampir berakhir

“Eoh?” Myungsoo tampak terkejut ketika Sooji berjalan keluar dari kursi penonton berjalan mendekati panggung, Ill Woo menyusul di belakang sambil memberikan kode kepada guru yang berada di bawah penggung untuk memperbolehkan Sooji mendekati putranya. Perlahan namun pasti para hadirin dibuat terheran dengan kehadiran Sooji yang telah berdiri di sisi panggung ketika alunan lagu selesai

I Love You Mommy, I Love You Appa” suara Barish dari microphone menggema di seluruh hall, Sooji berjalan mendekati Barish yang telah berdiri membalikkan tubuhnya, melihat dengan senyuman mommynya yang berjalan ke arahnya. Barish membuka kedua tangannya menyambut pelukan Sooji

Mommy Love You So Much Barish” peluk Sooji yang diiringi tepukan riuh penonton, beberapa orang tua bahkan ikut menitikkan airmata melihat adegan di hadapan mereka

“Terimakasih…” ucap Sooji sembari mengusap pelan pipi Barish

Hallo Mam, my name is Lauren, nice to meet you” sapa Lauren masih di atas panggung

Oh..hai Lauren, I’m Sooji aunty, nice to meet you too” sambut Sooji

Thank you for your beautiful song” puji Sooji yang kembali tersenyum dan menitikkan airmata, memeluk Lauren dan Barish bersamaan. Myungsoo, Ill Woo dan Roja dan hadirin lainnya berdiri dan bertepuk tangan merasa bangga dengan keberadaan Barish di dunia ini

That’s my son” puji Ill Woo yang dibalas anggukan Myungsoo

“Barish anak yang hebat hyung”

—-

“Kau bahagia?”

“Sangat oppa”

“Barish akan mengunjungi kita setelah kau melahirkan”

“Ne…dan aku tidak sabar menunggu saat itu datang” senyum Sooji, “gomawo oppa” Sooji mengecup pipi Myungsoo, “terimakasih untuk kehadiranmu di hidupku, terimakasih telah mempertemukanku dengan Barish, saranghae oppa” lagi Sooji mengecup ringan bibir Myungsoo

“Nado sayang…” Myungsoo mengeratkan genggaman tangannya, kepala Sooji ia sandarkan di bahunya sambil menatap awan dari balik jendela pesawat yang membawa mereka kembali ke Korea

 

Flashback

“Kau suka di sini?”

Yes mommy, bisakah mommy dan appa tinggal di sini bersamaku?”

“Maaf sayang, pekerjaan appa ada di Korea”

“Tapi appa dan mommy akan mengunjungiku lagi kan?”

“Tentu saja, atau kau yang Korea? Mengunjugi kakek Kim, kakek Bae, nenek, Solbi aunty dan Taehyunie uncle?”

Good idea mommy, I miss them

“Taehyunie uncle sebentar lagi akan mempunyai putra”

Really?

“Hem..he was married with your piano teacher

“Miss Seulgi?”

Yes…”

Really mom?” Barish memandang takjub, “lalu Judy? Seperti apa dia sekarang?”

“Judy semakin cantik, dia masih mengingatmu”

“Aku semakin ingin ke Korea”

“Liburan musim panas datanglah ke Korea, adikmu ini akan lahir di pertengahan tahun ini”

“Okay mommy, aku akan mengajak papa, mama dan Loli” senyum Barish

“Dan kau akan bertemu kembali dengan Judy”

“Yap..” senyum Barish

Flashback end

♥♥♥

An Epilog

.

.

.

“Sooji-ya” Myungsoo melepas jas kerjanya sambil berjalan menuju kamar, “kau sedang apa?” Myungsoo mengecup pipi Sooji

“Aku sedang membuat album”

“Album?”

“Ne album foro kenangan”

“Kau isi apa saja?”

“Ige lihatlah”

Sooji membuka halaman pertama album foto

lhasa

lhasa1

“Ini dimana?”

“Ini Lhasa, ige ada yak, sapi Himalaya, aku biasa makan dari olahan susu yak

“Seperti apa rasanya?”

“Percayalah oppa, aku yakin kau tidak akan mau mencobanya” kekeh Sooji

potala

“Lalu ini?”

“Ini istana Pottala tempat aku menghabiskan waktu bersama Barish, di sinilah aku, Barish dan bibi Khri berpisah dengan Roja eonni”

“Eoh…Barish pasti masih kecil sekali”

“Hem..dia baru 25 bulan saat itu”

srinagar

“Lalu ini?”

“ini Srinagar, aku sempat memfotonya ketika Ill Woo oppa membawa kami keluar dari Lhasa”

“Tertutup salju”

“Ne..saat itu awal Januari, salju sedang tebal-tebalnya”

leh

“Ini dimana?”

“Kota Leh, ini juga aku yang memfoto, bayangkan oppa sebegitu sempitnya jalan menuju kota Leh, belum lagi kita bertemu dengan penggembala yang membawa hewan peliharaannya, sangat merepotkan”

“Ini kejadian sebelum kau dan hyung terpisah?”

“Ne…ini sebelum tragedi penculikan Ill Woo oppa, aku sempat mengabadikan jalanan yang kita lalui”

“Sepertinya kau sering sekali bertemu dengan penggembala”

“Ne…kebanyakan warga Himalaya memiliki hewan gembalaan”

IC-2

“Ini kan sekolah Barish”

“Yap….Namsan International Kindergarten, sekolah pertama Barish, aku merindukan momen-momen itu” senyum Sooji

taman kota seoul

“Taman kota?” Myungsoo menautkan alisnya, “kapan kau foto?”

“Ketika kau sibuk mengajari Barish bersepeda”

“Eoh…”

“Ini dimana?”

“Manali…Roja eonni memberikan foto ini padaku”

“Manali?”

“Hem..di India, tempat ini persinggahan mereka setelah Ill Woo oppa terbebas dari penjara, sebelum ke Korea mereka tinggal di Manali sambil menyembuhkan luka di kaki Ill Woo oppa” jelas Sooji

manali1

“Ini ketika musim dingin”

manali

“Ini ketika musim semi”

“Sepertinya kota yang cantik, kurasa kita bisa berlibur ke sana” usul Myungsoo

“Terlalu jauh oppa” kekeh Sooji, “aku lebih senang ke Jeju”

“Jinca? Seperti bulan madu kita?”

“Hem..jhoa” balas Sooji

jalan meunju rumah kim

“Bukankah ini jalan menuju rumah ini?”

“Ne…aku memfotonya sebelum kita pindah”

“Kalau dilihat dari depan tampak sempit, tapi halaman belakangnya luas” celetuk Myungsoo

“Kau yang merancangnya oppa” senyum Sooji

“Kau beruntung mempunyai suami hebat sepertiku” puji Myungsoo

“Arrasoyo tuan Kim” kekeh Sooji

seoul nationel university

“SNU?”

“Hem…kebanggaanku”

“Kau salah satu pengajar muda di sana”

“Dan kau salah satu alumni kebanggaan SNU oppa”

“Ne…”

ill woo's huse in london

“Rumah hyung”

“Hem..rumah yang hangat, aku senang Barish bahagia di sana, kemarin aku lihat piala lomba piano berjajar tertata rapi di kamar Barish, Lauren juga anak yang baik oppa, dia bercerita banyak hal tentang Barish, kyeopta” senyum Sooji

“Judy dan Lauren..aigo…” kekeh Myungsoo

London elementary school

“Sekolah Barish kau foto juga?”

“Tentu saja oppa, aku bangga putraku sekolah di sana, salah satu sekolah terbaik di London”

“Ne…Barish mewarisi kecerdasan hyung dan eommanya”

loli

“Lalita?”

“Hem…dia lucu sekali, kuharap putra-putri kita akan seperti mereka, cantik dan tampan serta cerdas”

“Aku berdoa seperti itu”

barish

“Barish..”

My lovely boy…” Sooji mengusap foto Barish yang ia ambil ketika makan malam setelah pertunjukkan pianonya

“Dan ini…halaman untuk anak kita kelak” Sooji menatap Myungsoo, “kau akan segera menjadi ayah dalam waktu dekat oppa”

“Dan kau akan menjadi eomma”

“Kau tidak ingin mencium aegy kita?” tanya Sooji

“Setiap menit aku selalu ingin berada di dekat kalian” Myungsoo mengecup lama perut buncit istrinya, gomawo sayang” ucap Myungsoo yang menghadiahkan sebuah ciuman hangat untuk Sooji

FIN

Akhirnya….selesai juga part ending ini🙂 pengen nyelipin lagu somewhere over the rainbow tapi lagi-lagi gagal, tanpa mengurangi esensi cerita, hanya berharap readers mampu membayangkan seperti apa suasana di dalam hall, semoga…

Mianhe kalau readers terlalu lama menunggu part ini diposting, mianhe juga kalau part ini kurang memuaskan. Saya hanya mau bilang, GHAMSAHAMIDA!! #BIG BOW atas apresiasi readers semua selama ini, ff yang paling panjang buatan saya, hampir 250 halaman kalau diketik di kertas A4, fantastik kkk….

Ingin sekali saya sebutin satu per satu nama readers sebagai penghargaan saya atas effort kalian meninggalkan komen dan sukarela like setiap chapternya, beneran ff ini membuat saya merasakan keterikatan dengan kalian para reader, bahagia, sedih, haru mewarnai setiap chapternya, ada yang komen suka di part2 awal, sedih mewek-mewek di part klimaks dan pengennya sih part akhir ini mampu mengharubirukan readers (bahasa apa ini?)

Sekali kali terima kasih banyak, saya sayang kalian semua…leave LONG COMMENT YA, ceritain part mana yang paling berkesan buat kalian, see you on Yoona dan Hell Kitchen

I LOVE YOU ALL GUYS!!! PELUUUKKK!!

134 responses to “Bi, Barish, Rain (Last Chapter+Epilog)

  1. Walaupun aku telat komen sm bacanya, ttp tdk menyurutkan smgt aku buat tulis komen..
    Aku seneng bgt Author mau repot2 nyelipin foto2 tempat Suzy dl pernah singgah dan foto lalita sm barish yg sudah agak besar, jd bikin mkn kebayang situadi dan kondisi yg mrka alami..
    Dan aku terimakasoh skali Author memberi happy ending..
    Aku ngerasa stlh baca chapter ini, ada berkah dibalik bencana..
    Aku ga bs ngebayangin Suzy yg grs berpisah lama dengan barish, dan dgn kecelakaan yg menimpa Suzy, membuat barish kembali menjalin tali hubnya dengan ortu kandungnya tanpa melupakan Suzy..
    Setiap karakter disini bner2 mempunyai kepribadian yg aku kagumi..
    Terima kasih buat FFnya yg menginspirasi ini.. Aplg dgn Suzy biasku sbgai tokohny..

  2. Huaaaaa keren banget bener2 manangis dibuatnya… terutama saat konser Barish… TT
    Smg part sr
    Lanjutnya alias epilog diceritakan bgmn anak kandung mereka…. author jjang

  3. Nggk bisa komen apa2 lgi, ini ff terdaebak yg pernah aku baca ><
    ceritanya mengaduk aduk perasaan semua readers
    sedih, terharu, bahagia, sakit semuanya bercampur menjadi satu:);(
    Sumpah nangis tadi baca part sooji mmbuka surat2 dri barish sma waktu barish memainkan piano buat sooji itu feelnya ngenaaaaaaaaa banget, walaupun lagunya nggk ada tpi ttp dpt dirasakan aura kesedihannya;(
    semua part aku sukaaa^^
    ffnya bener2 berhasil kak dina^^
    Ciptakan ff yg kaya gini lagi kak dina:D
    Jhoa jhoa jhoa
    Gamsahamnida kak Dina^_^

  4. Ya ampun terharu banget baca part ini.
    Sich loly lucu banget.akhir’nya suzy bisa ketemu sama barish

  5. Akhirnya happy ending juga, ahh suka. Apalagi ada fto” kenangan suez, semangat terus buat kak dina. Dan ahh sampe susah mau ngomong apa… pokoknya daebakk

  6. Sangan indah,,,, keindahan keluarga yg harmonis,,,, seperti not lagu yang tersusun rapi,,, keindahan nada yang terdengar…. Sampe nangis pas bagian barisha main piano,,, mengungkapkan seberapa hebat’y suzy sebagi ibu untuk’y. (Seberapa anak penting utk ortu, sepenting itu pula ortu utk anak’u),,,, salut jujur sma yg bikin, aku iseng baca langsung part ini tanpa tahu cerita awal, tapi langsung tersentuk,,, semga karya’y sll sukses!!

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s