The Fog [Chapter 11A]

Title: The Fog

Author: Little Thief

Main cast: Suzy, Myungsoo, Mark

Genre: romance, angst, fantasy

Length: chaptered

Rating: PG-13

Pesta Natal itu sesungguhnya tidak dia habiskan di rumah Suzy. Entah kenapa, melihat gadis itu, Mark merasa ingin menjauh dari Suzy dan Myungsoo. Mengenal Azura lebih dekat, dan dua orang itu tak mengusiknya. Maka ia hanya berada di rumah Suzy selama tiga puluh menit saja untuk acara makan malam bersama dan mengumpulkan kado, kemudian Mark dan Azura sudah pergi entah kemana, berdua.

Maka Mark kembali jam sebelas malam dengan kunci mobil Suzy di tangannya. Otot wajahnya begitu kelelahan karena ia terlalu banyak tersenyum-senyum sendiri. Tubuhnya letih, tapi jiwa dan raganya melayang entah kemana. Ia akhirnya kembali ke kamar ketika Myungsoo dan Suzy sedang menonton film horror kesukaan Myungsoo dulu, The Amityville Horror. Mereka berdua menoleh ketika Mark membuka pintu, dan bak orang kasmaran, jatuh ke tempat tidur.

“Dari mana saja kau?” tanya Myungsoo, menyelidikinya.

Mark terkekeh, “Kau tidak perlu tahu.”

Tapi Suzy tersenyum lebar, “Kencan pertama, ya? Kemana saja kau kali ini?”

Jujur, Mark sendiri lupa. Hari ini begitu berkesan untuknya. Ini adalah Natal terbaik seumur hidup. Dia berharap bisa selamanya tinggal di sini dan tak akan pulang. Mark tampak berpikir-pikir.

“Um, berjalan-jalan.” gumamnya.

Perjalanan pertama ialah mereka mengelilingi kota Oklahoma City yang Mark sendiri tak begitu tahu karena malas sementara ia sendiri selalu tinggal di kamar asrama. Mereka tersasar berkali-kali. Kemudian segalanya berlalu begitu saja. Restoran, taman bermain, semua itu Mark lewati bersama Azura hanya dalam waktu tiga jam yang menurutnya hanya seperti sepuluh menit.

“Kau benar-benar menjadikannya kekasih, eh?” tanya Myungsoo, kini menatap bingung Mark yang menelungkupkan kepalanya dengan bantal.

“Argh!” Mark menggeram, melempar bantalnya kesal, dan kemudian tersenyum sendiri lagi. “Kau tahu, dude? Aku orang paling bahagia di malam Natal ini! Apa kau ada sisa makan malam? Atau telepon rumah? Kalau begitu aku pergi, dulu, hei!”

Mark berjalan gontai keluar kamar, benar-benar seperti orang yang mabuk.

Suzy hanya menggeleng-geleng maklum, “Memangnya dia seperti itu bila sedang jatuh cinta, ya?”

Myungsoo mengangkat bahu. “Entahlah. Rasanya aneh bila dia bisa menyukai seseorang, bukan?”

“Tapi, aku sudah menduga, dia akan menyukai Azura dalam waktu yang cepat.”

“Sama sepertiku. Aku bisa menyukai seseorang dalam waktu yang cepat.”

Hati Suzy mencelos, “Siapa? Memang kau punya naluri untuk melakukannya?”

“Mungkin, mungkin,” sahutnya manggut-manggut, “Entahlah, aku terlalu banyak patah hati saat kecil, bila aku menyukai seorang teman tetanggaku. Aneh, bukan? Aku tidak mencintai siapapun setelah itu.”

“Oh.” Ujarnya singkat. Dalam hati dia berharap, Myungsoo mau membukakan isi hati pria itu untuknya.

“Ketemu lagi kalau besok, kita akan bertukar kado,” kata Mark dengan suara serak di telepon dari kejauhan, tapi terdengar sangat bahagia, “Selamat malam.”

Kemudian pria yang kini mulai aneh itu masuk kembali ke kamar. Ia merebahkan diri kembali di kasurnya, dan terus tertawa seperti orang sinting tanpa henti. Selama sepuluh menit dia hanya tersenyum, berguling, diam, dan kemudian tertawa lagi, begitu seterusnya. Suzy agak terganggu karenanya.

“Bisakah kau diam dan berhenti bersikap seperti orang sinting?” tanyanya jengkel.

Bukannya diam, Mark justru tertawa lebih keras, dan berguling, menghadap mereka yang terduduk di lantai di bawah tempat tidur. Ia menatap layar televisi di depan mereka. Saat itu tepat wajah hantu menakutkan ada di depan mereka, biasanya Mark akan langsung menjerit ketika melihatnya, tapi kini rasanya biasa saja.

“Hei, kau pernah merasakan yang namanya…hm, jatuh cinta pada pandangan pertama?”

Kini Myungsoo yang menjawabnya, “Ya.”

“Bagaimana perasaanmu, Sobat? Senang, gembira? Punya hasrat ingin terus menemani dan melindungi? Atau terus menerus bersamanya tanpa mau pulang?”

Myungsoo memutar bola matanya, “Ya, itu benar.”

“Itulah,” lanjut Mark, menjetikkan jarinya, “Itu yang aku rasakan. Apapun itu, jangan berbohong, kau bisa gila karenanya. Jadi, jangan ganggu aku. Biarkan aku sinting di hadapanmu. Oke?”

Suzy mendelik, dan kemudian tersenyum lebar. Membiarkan Mark tersenyum sendiri, sampai akhirnya satu jam kemudian, pria itu sudah pulas tertidur. Terbawa ke mimpi bersama gadis yang pergi berjalan-jalan bersamanya beberapa jam yang lalu.

Esoknya, adalah hari yang tampaknya tidak begitu bagus.

Mereka duduk bersila, membentuk lingkaran, di bawah pohon Natal di rumah Suzy. Kemudian, Suzy melempar kado masing-masing untuk mereka, bahkan Myungsoo diberikan juga. Mark mendapat sebuah tas ransel.

“Hei, ini bagus. Terimakasih,” ucapnya, terkagum.

Suzy mengangguk. “Terimakasih kembali.”

Kemudian Azura datang. Hati Mark terasa hangat, dan gadis itu duduk di sebelahnya, berada di antara dirinya dan Myungsoo.

“Halo, Suzy.” Katanya, kemudian mengambil sesuatu dari tasnya, “Ini untukmu. Selamat hari Natal!”

Suzy menerima sebuah kotak yang sebesar genggaman tangan dan ia sudah menduga Azura membelikannya sebuah jepit rambut. Itu adalah kado yang selalu dia berikan, namun Suzy selalu menerimanya dengan senang.

“Selamat Natal juga, ini untukmu.” Ia melempar sebuah kotak besar. Azura menerimanya dan langsung membukanya tanpa ampun, menemukan sebuah bingkai foto yang cukup besar, dan kemudian keheranan.

“Untuk apa bingkai foto ini?”

Suzy mengedip kepada Myungsoo, terkekeh dan kemudian berdeham, “Mungkin, bila kau dan Mark akan menikah atau berfoto bersama. Pakai saja bingkai itu.”

Azura diam sejenak, dan kemudian senyumnya terkembang kembali. Ia menatap Mark lugu, terlihat tidak enak. Tapi kemudian dia menatap Suzy lekat-lekat, “Ah, aku Cuma ingin kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan temanmu ini. Itu saja!”

Mark menatap Myungsoo, selagi Suzy dan Azura langsung memulai percakapan panjang mereka. Mark meminta bantuan, dan Myungsoo menganggukan kepalanya, disertai sebuah seringai misterius.

Lantas Mark berdeham. Azura menghentikan pembicaraannya, kemudian menatap Mark, menunggunya membicarakan sesuatu. Mark sedang memikirkan kata-kata apa yang akan diucapkannya. Tapi kalimat itu sudah terlanjur keluar sebelum pria itu mengatur lidahnya yang kelu.

“Ma-maugisaku?”

Azura tertawa terbahak-bahak, “Kau mengucapkan mantra?”

“Ma…mau pergi bersamaku?” Mark merasa wajahnya merah dan dia ingin tenggelam di lautan yang jauh secepatnya. Dia melirik Myungsoo gugup, tapi temannya menatap wajahnya dengan yakin.

“Er, maksudku, ini hari terakhir aku bertemu denganmu.” tambah Mark lagi.

Gadis itu mengangguk, “Boleh. Tapi, hei, Suzy, kau tak apa sendirian di sini?”

Suzy mengibaskan tangannya, “Silahkan saja. Nanti ada keluargaku yang akan datang ke sini, kok,” dia mengatakan alasannya, dan melirik ke Myungsoo yang tak mampu dilihat oleh Azura.

Azura mengangguk, dan berjalan duluan ke pintu. Mark dengan gesit mengambil sebuah kotak kado yang tadinya ia akan berikan kepada gadis itu. Ia menatap Myungsoo dan Suzy yang masih terduduk di lantai, dan menyeringai, “Doakan aku sukses, Kawan. Doakan!”

Kemudian ia menyusul Azura di pintu, dan mereka sudah mengobrol lagi dengan akrabnya. Setelah pintu tertutup, Suzy menghela napas keras.

“Berapa lama aku akan begini?” tanyanya.

“Maaf?” sahut Myungsoo, “Apa maksudnya?”

“Melihat temanku bahagia seperti itu,” ia mendengus, “Kau tahu, dia tidak pernah sebegitu bahagia semenjak aku mengenalnya.”

“Begitupun aku.”

Mereka hening sejenak. Suzy bingung akan membicarakan apa. Kesunyian ini mencekam mereka. Kemudian, setelah sepuluh menit membisu, ia akhirnya buka mulut.

“Jadi, aku memastikan aku sudah tidak jadi bagian dari pianis di sana. Kau tahu itu? Amat sangat melelahkan, dan monoton. Aku tidak suka hal begitu. Aku ingin menyelesaikan sekolahku, dan kemudian menjadi pemusik sungguhan.”

“Benar-benar tidak datang lagi ke sana?” tanya Myungsoo, ada nada putus asa di dalamnya.

“Aku akan datang, tapi tak sesering itu. Karena dengan pengunduran diri tandanya aku bukan lagi jadi bagian dari pada guru. Tapi aku yakin mereka akan menerimaku memasuki gerbang sekolahmu, itu saja.”

Myungsoo menyandarkan kepalanya di dinding, ia memejamkan matanya. Rasa gelisah ini benar-benar mencekam. Andai saja dia bisa memiliki Suzy dalam keadaan hidup. Tapi siapa dia sekarang? Hanya kabut aneh yang mengintainya. Bukan seseorang yang bisa hidup di hatinya.

“Aku harap kau tidak akan pergi.” Kata-kata itu terucap keluar dari mulutnya.

“Sama denganku. Kuharap pembunuhmu tidak akan ditemukan, jadi kau bisa lebih lama bersamaku.”

Mark kembali pulang jam tiga sore, dengan wajah sumringah. Dia sudah bersiap pulang kembali ke sekolah. Tangannya masih terasa hangat bekas genggamannya pada gadis itu. Maka, dia menyiapkan segalanya dan akhirnya sudah siap untuk kembali pada pukul empat sore.

Azura masih berdiri di sebelah mobil. Dia tidak mengantarkan kembalinya Mark, padahal Mark ingin sekali dia bisa ikut mengantar. Maka, ketika selesai memasukkan tasnya yang berat, dia mendekati Azura.

“Senang rasanya bisa melewati waktu bersama,” ujarnya, benar-benar merasa kehilangan sekali.

Azura memukul pelan dadanya, “Jangan begitu cengeng. Aku sudah beri nomor teleponku, telepon aku sepuasmu.”

“Benar,” gumam Mark. “Hei, bolehkah aku…”

Kemudian tanpa menyelesaikan kata-katanya, ia keburu menarik gadis itu ke rengkuhannya, dan hanya dalam beberapa detik, pelukan itu selesai.

“Hanya itu yang ingin aku lakukan,” Mark terkekeh, menarik tangan Azura dan mengecup punggung tangannya, seperti yang biasa dilakukan seorang Pangeran kepada seorang Putri di dongeng-dongeng kesukaannya dulu.

“Selamat tinggal, Nonaku Tersayang.”

Azura jelas masih terguncang dan pipinya memerah, tapi dia menatap Mark yang lebih tinggi darinya dan mengangguk. “Ya. Sampai berjumpa lagi.”

Kemudian Mark berjalan gesit menuju mobil, menutup pintu mobil. Kemudian dari balik kaca, ia melambaikan tangannya kepada seorang gadis yang berdiri. Kemudian ia menyandarkan punggungnya dan jatuh tertidur.

Dude, aku bilang kau akan kembali ke kamarmu. Sudah pukul jam enam sore. Ayo, bangun!”

Mark terbangun dengan mengerang, merasa terganggu. Dia merasakan mobil menjadi luar biasa pengap, dan ia segera keluar dari pintu. Gedung sekolah yang menjulang sudah menantinya, mendadak Mark jadi rindu dengan kamarnya.

Ia segera mengambil tas ranselnya di bagasi, dan kemudian menyampirnya di punggung. Tapi Myungsoo masih bersama Suzy, entah berbicara apa. Apapun itu, Mark cukup sedih mengingat Suzy tidak akan datang sesering mungkin. Namun, rasa kantuk menguasainya, sampai dia tidak sadar, di belakang punggungnya, Myungsoo mengecup bibir Suzy.

—-

Dua hari setelahnya, gadis itu mendapatkan waktu istirahatnya kembali. Maka, sebagian siang itu ia habiskan untuk makan yang banyak. Dan terus menerus tidur. Dia akhirnya bisa menjauh dari aula sekolah yang luar biasa membosankan. Dia mendengar sudah ada seorang guru pengganti untuk dirinya, tapi Suzy tak peduli.

Ia kembali ke kamarnya, menyalakan laptopnya. Selama satu jam pertama dia habiskan untuk bermain permainan game yang konyol dan mendengarkan musik. Setiap lagu yang dia putar mengingatkannya pada Myungsoo. Malam setelah dia mengantar Mark, ketika pria itu menciumnya…

Membayangkan itu, Suzy langsung membelalak, teringat sesuatu. Ia menyingkirkan pikiran luar biasa indah itu dari otaknya, dan segera menghubung ke internet dan mencari kasus pembunuhan Myungsoo di kata kuncinya.

Kemudian berita itu langsung muncul, dan sepertinya tampak baru. Suzy langsung dengan semangat membaca satu per satu berita yang ada, namun semangatnya runtuh ketika melihat judul dari berita-berita itu berujung pada satu pokok yang sama.

Pembunuhnya telah ditemukan.

Jantung Suzy serasa ingin keluar dari tempatnya. Maka dengan tangan bergetar, dia membuka sampai sekitar sepuluh berita yang ada. Namun, berita paling pertama yang dibacanya sudah menjelaskan segalanya. Pembunuh Kasus KMS Ditemukan, judul itu, seolah menikam anak panah tepat ke jantungnya.

Setelah nyaris berbulan-bulan tidak menemukan titik terang, pagi ini, pembunuh dari kasus kebakaran roti Kimm’s Bakery, berhasil ditekuk polisi.

Pembunuh berinisal BWH itu ditemukan pada tanggal 26 Desember pukul 9.42 malam. Identitasnya terlacak setelah ada sidik jari tertinggal pada serpihan kaca pintu ruangan.

Motif pembunuhan yang dilakukannya dikarenakan dendamnya pada temannya yang merupakan pemilik toko roti. Atas kejadian ini, satu orang tewas. Dia sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Sidang pertamanya dilaksanakan tanggal 29 Desember. Untuk sekarang sampai esok ke depan, dia masih akan diperiksa pihak kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut.

Mata Suzy sudah memanas dan berkaca-kaca, dan kemudian, di bawah berita itu, ada foto dari tersangka mengenakan pakaian tahanan. Melihat foto tersebut, Suzy langsung menjerit, merasa kaget luar biasa.

Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menjerit. Tenggorokannya perih, dan ia langsung menutup laptopnya keras, kemudian berlari keluar kamarnya. Ia mencakar-cakar dinding dan kemudian ia mendengar suara gedoran pintu bawah yang terkunci.

“Suzy!” jerit Ibunya, suaranya melengking aneh daripada biasanya, “Suzy! Buka pintunya! Aku pulang! Suzy!”

Tapi gadis itu tak menjawab sama sekali. Dia justru merosot turun dari dinding, dan memeluk kedua lututnya. Ia terisak keras, dan kemudian bahunya bergetar hebat.

Pembunuh itu. Pembunuh itu bukan apa-apa bila dia tak mengenalnya. Tapi kali ini, dia amat sangat mengenalnya. Namanya Bae Woo Hyuk. Separuh umur Suzy dihabiskan bersamanya sebelum orang itu meninggalkannya. Dia adalah seseorang yang mendapatkan kewajiban untuk mengasuhnya sebagai seorang Ayah.

“Suzy! Suzy! Buka!” Ibunya menggedor pintu semakin keras, tapi Suzy tidak menjawab. Hanya tangisannya yang menandakan dia tak ingin membuka pintunya.

—-

Sarapan ini dilewatkan Mark dengan tenang. Ia memakan oatmeal-nya dengan Myungsoo di depan. Namun dia tak mau bicara, karena tentu saja, orang bisa menganggapnya sinting.

Mark membayangkan Azura di kepalanya selagi ia mengunyah sarapan. Tapi ketenangan itu terganggu oleh suara seorang yang berteriak sangat keras dan berdiri di ambang pintu. Joshua, teman dekatnya yang merupakan ketua kelas di kelas Matematikanya yang kini menjadi ketua angkatan.

“Pembunuh Myungsoo! Pembunuh Myungsoo sudah ditemukan!”

Joshua menghampiri Mark dengan segenggam besar majalah milik sekolah, yang Mark yakin akan ia bagikan di kelas matematika setelah ini. Dan dengan tangan bergetar, dia menyerahkannya.

“Buka, Mark. Buka.” Cecernya, dan Mark membuka halaman pertama majalahnya. Ada beberapa kalimat yang dicetak dengan tinta hitam berukuran besar.

Pembunuh Kim Myungsoo Sudah Ditemukan

Kemudian Mark bergetar hebat, menatap Myungsoo yang ada di hadapannya. Matanya memanas dan langsung berkaca-kaca. Perlahan tapi pasti, kabut tubuh Myungsoo mendadak berubah menjadi samar. Entah karena perlahan ia menghilang atau karena air yang mengumpul di mata Mark dan kemudian jatuh di sudut matanya.

-tbc ke 11b-

AUTHOR NOTE:

Sebenarnya Mark suka sama siapa thor? Pertamanya sama Suzy, dan sekarang dia sama Azura. Oke?

Akhirnya, bagian klimaks. Mungkin chapter selanjutnya atau chapter 13, cerita ini benar-benar rampung. #yeah #syukuran. Chapter 11B bukan lagi mengangkut Mark atau Suzy, tapi sudah akan beralih ke kehidupan Myungsoo. Benar-benar ke kehidupan Myungsoo.

Mungkin banyak yang sayang Myungzy gak bisa nyatu. But let me remind you, dear, kisah cinta memang nggak akan selalu berakhir bahagia…

Regards, Nadia.🙂

27 responses to “The Fog [Chapter 11A]

  1. huaa aq baru sempet baca bagian ini, gila jadi yang dimaksud myungsoo orang orang yang dapat melihatnya itu ad sangkut pautnya sama kematiannya sekarang terjawab sudah. gak nyangka eyyy ternyata bapaknya suzy,tp hanya alasan itu dia dengan tega bakar dan bunuh myungsoo?astaga…

    aigoo myungsoo dah menghilang?dia menghillang saat pembunuh nya tuh dah ketemu?astaga..
    pasti suzy shock dan gak nyangka,, ada adegan kissing tapi sedihnya myungsoo bukan manusia…
    ditunggu kelanjutannya ne…

  2. Trnyata pembunuhnya itu appa nya suzt.. pantas wktu awal dibilanh kalo suzy ada kaitanyya dg kasus kematian myung… yah.. myungzy kelar..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s