Untitled Love [PART 9 END]

Miss A Suzy - Cosmopolitan Magazine September Issue ‘13 2Untitled love

Author: chick

Main cast: Bae Suzy, Kim myungsoo

Other cast: (cast sewaktu-waktu bertambah)

Genre: Romance

Length : chaptered

Disclaimer: semua cerita, karakter, alur dan setting adalah berdasarkan murni dari pemikiran author sendiri.
typo bertebaran selamat membaca ^^

Part 9

Mata soojung menyipit memerhatikan tingkah suzy sepulangnya tadi. Gadis itu terus diam dan menjawab pertanyaan soojung seadanya saja. Kali inipun suzy hanya mengaduk-aduk supnya tanpa berniat untuk memakannya. Di tangannya masih tergenggam sebuah amplop yang menurut soojung sangat mencurigakan.

Memangnya apa yang dipikirkan gadis ini? Pikir soojung kesal.

“yya!”

Seruan soojung akhirnya berhasil menyadarkan suzy hingga membuat gadis itu terlonjak di tempatnya.

“yya, jung soojung!” jerit suzy ketika kuah supnya sedikit mengenai baju piyamanya.

“kau ini. Sup yang susah payah ku buat bukannya di habiskan malah kau pandangi saja” oceh soojung

“aku tak berselera soojung-ah”

“yyak, jangan berani-berani mengatakan itu didepan masakanku” omelnya lagi. Namun suzy tetap diam tak bersemangat beradu mulut dengan soojung saat ini.

“waeyo?”

Tanya soojung setelah beberapa menit kemudian. Ia melirik amplop di tangan suzy dan memastikan bahwa benda itulah dalang dari kediaman dan sikap aneh suzy.

“ani”

“lalu amplop apa itu?”

“bukan apa-apa”

Soojung mendesis pelan tak puas dengan jawaban suzy. Dengan gerakan cepat, ia pun merebut amplop itu dari tangan suzy.

“daebak daebak daebak. Aku tak tau myungsoo sunbae berminat sebagai ahli astronomi atau seorang astronout mungkin?” gumam soojung takjub.

“apa selama ini aku hanya membuatnya susah soojung-ah?” tanya suzy dengan suara serak membuat soojung segera mendongak panik.

“apa maksudmu?”

“demi memenuhi permintaan orangtua ku, myungsoo oppa tak mengejar impiannyauntuk ke harvard lalu memilih bersamaku”

Soojung tak berkomentar saat suzy kembali menangis kini lebih kencang lagi.

“dia… berkorban banyak padaku, sampai aku tak sadar dengan dirikuyang terlalu egois hingga merusak impiannya”

“suzy-ah geuman…” hibur soojung beranjak duduk disebelah suzy sambil mengusap punggungnya.

“kau tak salah suzy-ah”

FLASHBACK

Myungsoo berlari di sepanjang koridor dengan nafas tersengal. Ia melihat kesekeliling dan menemukan gadisnya ternyata berada tepat di depan ruang ugd. Gadis itu membenamkan kepalanya di kedua lututnya sambil menangis sesegukan.

Laki-laki itu pun mendekatinya dengan hati ikut meringis melihat gadisnya sangat terpukul dengan apa yang di alaminya.

“suzy-ah..” myungsoo berjalan mendekat dan langsung menarik gadis itu dalam pelukannya. Berharap suzy lebih tenang.

“oppa..”

“tenanglah, aku disini” ucap myungsoo membiarkan gadis itu kembali menangis sejadi-jadinya. Ia tahu pasti sangat berat mengetahui bahwa kedua orangtuanya kini sudah tiada. Gadis itu sendiri, tak memiliki keluarga lagi selain kedua orangtua nya yang nyatanya sudah meninggalkan gadis itu terlebih dahulu.

Setelah tangis gadis itu reda, myungsoo membawa suzy pulang kerumahnya melihat gadis itu sudah tertidur saking kelelahannya. Tak mungkin juga ia meninggalkan gadis itu di rumahnya sendiri takut terjadi apa-apa saja padanya.

Beruntung kedua orangtua myungsoo dengan senang hati menerima suzy selain suzy sudah akrab dengan mereka, orangtua myungsoo pun sudah menganggap suzy selayaknya anak mereka sendiri. Myungsoo pun cukup lega selama suzy di rumahnya gadis itu perlahan kembali ceria dan tak lagi bersedih jika mengingat kedua orangtuanya. Meskipun sesekali ia mengadu pada myungsoo bahwa ia merindukan mereka.

“maaf merepotkan mu eommonim” kata suzy suatu hari saat ibu myungsoo menghampirinya dan menawarkannya semangkuk bubur.

“sama sekali tidak suzy-ah. Aku senang kau menuruti ucapan myungsoo untuk disini. Nyaman kan dirimu dan tak usah merasa canggung, arra?”

“ne, eommonim”

“jangan bersedih lagi suzy-ah ada myungsoo dan kami disini. Aku tak heran jika myungsoo sekarang berubah protektif padamu. Dia sangat menyayangimu, aigoo”

Keduanya terkekeh pelan dan sejak saat itu suzy bertekat untuk tetap kuat dan tak bersedih agar tak merepotkan kedua orangtua myungsoo yang sangat memperihatikannya. Dan termasuk untuk myungsoo juga.

***

“kenapa kau memilih menjadi seorang dokter , oppa? Bukankah dari kecil impianmu menjadi seorang astronot?” tanya suzy dengan merapatkan dirinya pada myungsoo yang berjalan disebelahnya. Tangan myungsoo pun segera meraih jemari suzy dan menggenggamnnya mencoba menyalurkan kehangatan disana.

“karena jika suatu saat kau terluka, aku lah yang akan menyembuhkanmu. Dan ku pikir-pikir menjadi astronot tak cocok denganku.”

“lalu bagaimana jika kau sendiri yang terluka, oppa? Siapa yang akan merawatmu?” myungsoo mengusap dagunya pura-pura berfikir

“seorang dokter tak boleh sakit. Ia harus memikirkan nasib pasiennya. Lagipula ada kau”

“na? Wae?”

“makanya cepat tumbuh dewasa nona bae. Belum saatnya aku mengatakannya padamu”

“mengatakan apa?”

Myungsoo terkekeh gemas mengatahui bahwa keingintauan suzy sangat besar kali ini.

“eomma dan appamu akan marah jika ku katakan padamu sekarang. Maka dari itu cepatlah tumbuh dewasa”

“aku jadi penasaran” timpal suzy merengut.

Myungsoo mengehentikan langkahnyadan menoleh kearah suzy. Kemudian melepas syalnya dan melilitkan kembali pada leher gadis itu.

Laki-laki itu tersenyum melihat rona pipi suzy yang menurutnya sangat menggemaskan. Ia lalu menarik suzy lagi membuat gadis itu berjinjit.

“mwohae?” tanya suzy bingung ketika kedua tangan myungsoo bergerak menagnkup pipinya.

“memandangmu dari dekat”

“ck, hentikan oppa sebelum orang-orang melihat kesini” ucap suzy susah payah dengan bola mata menatap sekeliling dengan was-was.

Namun bukannya menuruti perkataan suzy, myungsoo semakin mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka bertemu. Suzy yang masih terkejut dengan tindakan myungsoo hanya bisa membatu.

Ini bukan pertama untuknya tapi sukese membuat seluruh anggota badannya tiba-tiba tak berfungsi. Ah sepertinya ia harus terbiasa akan tindakan tiba-tiba myungsoo ini.

“aku akan menjagamu sampai matipun suzy-ah. Merry christmas”

FLASCHBACK END

***

Myungsoo berjalan di koridor rumah sakit sambil sesekali membalas sapaan entah itu pasien berusia lanjut, wanita sebaya ibunya bahkan bebrapa anka kecil. Tak dipungkiri kepopulerannya makin meluas setelah ia mengaku memiliki kekasih yang akan segera di nikahinya. Bukan Cuma bualannya saja tapi itulah yang dikatakannya ketika ia tak tahan lagi mendengar seorang pasien wanita menawarkan putrinya untuk berkencan dengan myungsoo.

Dan itu terjadi berulang kali.

Myungsoo tersenyum ketika pandangannya tertujuh pada satu sudut yang terdapat jendela kaca raksasa di bagian lobby rumah sakit. Ia berjalan mendekat. Tepat pada seorang bocah laki-laki berumur sekitar tujuh tahunan. Salah satu pasien pengidap kanker.

“jun-ah mwohae?” tanya myungsoo berjongkok menyamai tinggi bocah itu.

Sedangkan bocah bernama jun itu hanya merengutkan wajahnya sambil kembali menatap keluar jendela.

“aku bosan disini. Apa dokter mau mengizinkanku untuk bermain diluar?”

Myungsoo tersenyum mengusap bahu jun.

“bukankah seharusnya kau berada di kamarmu?kau bisa bermain diluar jika kau sudah meminum habis obatmu”

“shireo! Obatnya pahit dan membuatku mengantuk. Nan shireo!” ujar jun tegas sambil menutup mulutnya.

“aigoo.. yasudah ayo, aku akan menemanimu kembali keruangan mu. Ibumu bisa panik mencarimu”

Jun hanya mengangguk lesu tak juga membantah perkataan dokternya yang sudah ia kenal semenjak dirawatnya di rumash sakit ini.

“nah sekarang kau istirahat dulu, jun-ah” ucap myungsoo sembari membantu bocah itu tidur di atas ranjangnya.

“dokter tak akan menyutikkan obat dari selang ini kan?” tanya jun menunjuk selang infus yang terpasang di balik telapak tangannya.

“aniyo”

Myungsoo akhirnya meninggalkan ruangan tersebut ketika bocah itu mencoba untuk tidur. Beruntung ibunya sudah kembali sebelum ia juga ikut tertidur disana.

“myungsoo-ah”

Myungsoo sontak menoleh dan tersenyum tipis pada dokter jung. Laki-laki paruh baya itu berjalan mendekatinya dengan senyum ramah seperti biasa.

“mm, kau ada waktu sebentar? Aku ingin mengobrol denganmu” kata dokter jung.

Alis myungsoo bertaut bingung biasanya jika suatu hal yang ingin dibicarakan atasannya itu, ia pasti langsung mengucapkannya sekarang juga.

Keduanya memutuskan untuk mengobrol di atap rumah sakit. Tempat yang sering sekali di jadikan beberapa pegawai rumah sakit melepas lelah atau sekedar menyulut batang rokoknya.

“bagaimana kabar suzy?” tanya dokter jung dengan pandangan yang lurus menatap bangunan kota. Myungsoo pun ikut memandang kearah sana dan seketika mengingat suzy yang mengomelinya karena berkencan di atap gedung rumah sakit dulu.

“dia baik. Semenjak keluar dari rumah sakit ia selalu melatih lengannya”

“geurae…” senyum dokter jung.

Kembali keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Myungsoo pun hanya bisa menunggu atasaanya itu memulai kembali obrolannya. Tampaknya memang serius karena saat ia melirik pada dokter jung, wajahnya tampak gusar.

“kau tau kan… setiap tahunnya dokter magang akan menerima surat rekomendasi dari menteri kesehatan?”

Seingat myungsoo, ia pernah mendengar kabar ini para dokter magang akan diseleksi dan yang terpilih akan di pindah tugaskan pada rumah sakit cabang.

“mereka memilih negara cina sebagai pusat trainee kali ini dan pengangkatan pangkat diadakannya hanya dalam dua tahun.”

Myungsoo mengangguk samar masih menyimak baik-baik cerita dokter jung. Mengapa perasaannya kurang enak?

Dokter jung menghela nafas entah bagaimana cara menyampaikan maksudnya pada myungsoo dengan lembut seolah takut ia mendengar sanggahan dari juniornya itu.

Laki-laki itu kemudian mengeluarkan amplop berlogo kesehatan tepat diatasnya.

“ambillah” ucap dokter jung

“apa ini?”

Myungsoo menatap benda itu dan dokter jung bergantian sedangkan jemarinya kini membuka cepat kertas itu. Ia membacanya seksama atau bahkan mengulang-ulang kalimat yang tertulis disana dengan degupan jantung yang berpacu serta mata melotot.

“cina? Aku?” myungsoo hampir saja berteriak jika bukan dokter jung di depannya.

“kau lolos masuk kriteria untuk tahun ini. Cina satu-satunya tempatmu agar kau bisa jadi dokter”

“t-tapi.. aku? Benar-benar aku? Tapi dokter magang disini banyak. Mengapa aku?” kata myungsoo lagi. Mengetahui dirinya lulus dari ujian-ujian magangnya adalah kebahagian yang sangat kecil dari hatinya sisanya hanya ada kegusaran luar biasa.

“mereka memilih atas kinerjamu. Ketelitianmu, dan semua potensi yang kau miliki dalam bidang ini. Sangat jarang mereka memilih dokter magang yang bahkan masih beberapa bulan bekerja di rumah sakit… myungsoo-ah kumohon pikirkan baik-baik”

Detik itu juga myungsoo sekana gondok dibuatnya. Ia masih terdiam disana walau dokter jung sudah beranjak meninggalkannya tanpa penawaran apapun lagi.

Cina? Bukankah sangat jauh? Dan sosok suzy tiba-tiba terlintas dibenaknya. Itu berarti ia harus meninggalkan suzy? Oh tidak, ini hal yang paling dibencinya. Mana mungkin ia meninggalkan gadis itu setelah bertahun-tahun ia menetapkan bahwa gadis itu tanggung jawab terbesar di hidupnya.

Tidak, ia harus memikirkan cara lain agar semuanya kembali semula. Ia tak peduli jika ia harus menolak surat bodoh itu.

***

Suzy tersentak dari lamunannya ketika sepasang lengan tengah melingakari pinggangnya dengan erat. Buru-buru ia mematikan kompor menyadari supnya sudah mendidih.

“mian, kau kaget yah?” tanya myungsoo tersenyum kecil di belakang suzy.

Cukup mengagetkan baginya mendapati gadis itu diapartemennya. Dan tebakannya tadi benar, gadis itu melamun hingga tak mendengar kedatangannya.

“duduklah oppa, aku akan menyiapkan mangkuknya”

Bukan menuruti permintaan suzy, myugsoo malah merapatkan dirinya pada gadis itu.

“yya..”

“aku merindukan mu” ucap myungsoo dengan mencium pelipis suzy berkali-kali. Sedangkan wajah gadis itu mulai merona akan perlakuan myungsoo.

“oppa geuman, supnya akan dingin” pinta suzy lagi

“tapi aku benar-benar merindukanmu” rengek myungsoo manja membuat kening suzy mengernyit heran dengan tingkah aneh myungsoo.

“arra..arra aku juga merindukanmu oppa. Jadi cepatlah duduk, kau bahkan belum mandi sudah berani mencium ku, huh?”

“arasseo” ucap myungsoo akhirnya dengan cekikikan. Segera di kecupnya bibir gadis itu lalu berlari ketempat duduknya. Sedang suzy hanya berdecak kesal tanpa banyak bicara lagi segera menyiapkan makan malam.

“oh ya, kenapa kau tiba-tiba disini? Tanpa mengabariku” tanya myungsoo disela-sela makannya. Sedikit melirik suzy yang tengah memandangnya serius.

“wae? Andwe?”

“aniya. Aku senang” seru myungsoo dengan senyum lebar. Kembali ia menyantap supnya hingga berhasil menandaskannya dengan hati gembira. Efek pekerjaan membuatnya mudah lapar dan masakan suzy satu-satunya obat perutnya itu.

“masakan mu memang paling enak” ungkap myungsoo. Senyumnya memudar menyadari sedari tadi suzy enggan bersuara. Sup dimangkuknya pun masih setengah. Gadis itu melamun lagi?

“suzy, gwenchana? Kau sakit?” tanya myungsoo segera menyadarkan suzy yang hampir tersedak. Buru-buru ia meminum airnya.

Suzy kembali tak menggubris pertanyaan myungsoo dan langsung bangkit merapikan meja.

“suzy.. kau kenapa?” tanya myungsoo lagi sambil menahan pergelangan tangan suzy.

“terjadi sesuatu kah?”

“a-aniyo”

Suzy hendak ingin berlalu kedapur ketika sebuah benda tiba-tiba jatuh dari sakunya. Matanya melotot melihat benda itu tepat jatuh di dekat kaki meja.

“kau tak a..pa..” nada myungsoo melambat mengikuti arah pandang suzy. Myungsoo mengambil benda tak asing itu dan menatap suzy bergantian.

“ige mwoya?” gumam myungsoo bingung. Dengan cekatan ia membuka amplop itu dan terbelalak kaget. Ya ampun cukuo dengan kejutan yang diberi dokter jung, umpat myungsoo dalam hati.

“i..ini..” nafas myungsoo tak beraturan dengan kepala yang siap meledak setelah mengerti isi surat tersebut.

“s-suzy ini.. astaga.. tunggu..”

“kenapa tak memberitahuku?” ucap suzy dengan nada bergetar. Sebelum myungsoo sadari, gadis itu sudah mencapai dapur dan bergeming di depan westafel.

Myungsoo mendadak bungkam entah harus mengucapkan apa. Tapi ia tahu kemana arah pikiran gadisnya saat ini.

“tidakkah kau terlalu banyak berkorban padaku? Kau.. lebih memilih diriku ketimbang meraih cita-citamu. Kalau saja orangtuamu tak membuatmu berjanji, kau pasti..”

“tidak suzy.. jangan berpikir seperti itu. Ini murni kemauanku, arra?” ujar myungsoo segera melesat mendekati suzy. Uh-oh tampaknya ia sudah membuat gadis itu kembali menangis.

Ia memutar tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya. Jemarinya pun dengan cepat mengusap pipi suzy yang basah.

“mianhae.. oppa. Aku.. terlalu egois ingin bersamamu. Aku..”

“tidak, jangan menyalahkan dirimu. Aku melakukannya karena aku ingin”

“tapi..”

“aku tak akan pernah menyesali keputusan ku, dan berada disisimu adalah keputusanku. Jadi… kumohon jangan menyalahkan dirimu” pinta myungsoo

“mianhae oppa” ucap suzy lalu memeluk myungsoo erat. Diredamnya suara tangisnya yang tak kunjung mereda. Ia teringat akan peringatan soojung yang mendengar alasan myungsoo dulu sebelum ia bertindak gegabah. Dan ia bersyukur ia mau menuruti ucapan sahabatnya.

***

Myungsoo mengeringkan rambutnya sehabis mandi dengan pandangan lurus pada gadisnya yang asik menonton tv sambil memakan eskrimnya.

Ia cukup lega suzy mau mendengar alasannya meskipun beberapa kali menyalahkan dirinya.

“mwohae?”

Myungsoo beranjak duduk disebelah suzy.

Suzy mengalihkan pandangannya dari tv dan menatap kearah myungsoo lekat.

“wae?”

“kau memakai sabun ku lagi?” tanya suzy sambil mengendus kearah tubuh myungsoo.

“yya.. eissh aku kehabisan sabun mandi jadi memakai milikmu”

“geurae.. isi kulkasmu juga sudah kosong. Kita akan berbelanja nanti”

“call” ucap myungsoo sambil tersenyum lalu mengusap kepala suzy dengan lembut. Ia seketika teringat ucapan dokter jung beberapa jam lalu. Bagaimana ia menyampaikan hal ini pada suzy? Apa harus mengatakannya sekarang?”

“aku senang kau mendengar alasanku” kata myungsoo setelah lama terdiam

“berkat soojung. Dia mengatakan kalau aku harus mendengar ucapan mu terlebih dahulu”

“geurae? Lalu bagaimana bisa amplop itu ditangan mu? Seingatku, aku kehilangannya dan memang tak niat mencarinya”

“son naeun”

“mwo?” keing myungsoo berkedut

“dia yang menemukannya dan menyimpannya. Dan kemarin memberikannya padaku”

Ya seingat myungsoo ia kehilangan benda itu dari atas jendelanya dan terbang ke pekarangan rumah naeun dulu. Tapi ia memang tak berniat mengambilnya. Tak sangka jika naeun menyimpannya. Tunggu.. atas dasar apa? Pikir myungsoo bingung dengan monolog yang bermunculan.

Suzy tersenyum tipis dan kembali memeluk myungsoo. Sejenak ia memejamkan matanya menikmati kehangatan karena berada di dekapan laki-laki itu. Sepertinya malam ini akan terasa berat baginya.

“aku…aku tak sengaja membuat seorang patah hati, oppa” gumam suzy

“patah hati? Nugu? Wae?” suzy tertawa pelan dan mulai menceritakan perihal choi seungmin. Ia juga menunjukkan pada myungsoo selembar foto yang disimpan seungmin yang sukses membuat naeun salah paham padanya.

“ah jadi dia cinta pertamamu” kata myungsoo sambil membolak-balik foto itu. Foto saat dia dan suzy masih tahap pendekatan. Tak habis pikir seseorang malah memotret bagian ini.

“wae? Wajahmu terlihat cemburu oppa” goda suzy malah makin membuat wajah myungsoo cemberut .

“memang. Tapi aku pantas lagi cemburu pada seseorang yang sudah tiada. Atau mungkin diatas sana seungminlah yang cemburu padaku karena beruntung mendapatkan cintamu”

“seungmin oppa orang yang baik, dia selalu membantuku dulu dan juga selalu menebar senyum padaku”

“sudahlah, mengapa kau jadi keterusan membahasnya?” omel myungsoo berdecak pelan. Sedangt suzy hanya tertawa.

“kau tak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya suzy setelah tawanya mereda. Ia menjauhkan dirinya dari myungsoo dan kembali menikmati eskrimnya.

“mwonde?”

Suzy terdiam lagi namun ia harus mengatakannya saat ini juga, tekadnya.

“seperti keberangkatann mu ke cina mungkin” ujar suzy tanpa menatap myungsoo yang mulai membatu di tempatnya.

Myungsoo menelan liurnya susah payah mendengar penuturan suzy. Oh tuhan pecahkan kepalnya sekarang juga!

“aku bertemu dokter jung tadi di minimarket dekat rumah sakit. Dan kami mengobrol”

Mendengar suzy mengakatakan ‘mengobrol’ apalagi bersama dokter jung. Oh malam ini benar-benar sial untuknya. Mengapa semuanya harus terungkap dalam sehari saja?

Suzy menatap myungsoo seksama tak lagi mengemut sendok eskrimnya. Ia bisa menebak apa yang dipikirkan myungsoo saat ini membuat suzy hanya bisa menhela nafas pelan.

“bukankah itu berita bagus? Kau bisa menjadi dokter sungguhan disana”

Myungsoo tak akan keberatan memnuhi surat itu ke cina asal hanya sehari saja. Bukan dalam jangkan waktu lama seperti lima tahun.

“tidak, itu justru bukan hal yang bagus. Aku bisa menjadi dokter sungguhan disini”

“tapi..” suzy hendak mengelak namun myungsoo terlebih dahulu beranjak menuju kamar dan membaringkan tubuhnya diastas ranjang.

“oppa.. jangan berfikir untuk menolaknya” ucap suzy menyusul diambang pintu. Namun segera mendekati laki-laki itu karena seakan tak mendengar ucapannya.

“sebaiknya kita tidur. Besok akhir pekan dan kita harus menggunakannya dengan baik” ucap myungsoo menarik gadis itu untuk berbaring disebelahnya.

“oppa, kau menolaknya karena aku kan?” sahut suzy lagi.

Myungsoo menggeram pelan tapi tak ingin menjawab keingintahuan suzy lagi.

“sudahlah jangan membahasnya” akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut myungsoo setalah sadar suzy benar-benar menuntutnya.

“pergilah.. aku tak berhak menahanmu”

Myungsoo beralih menatap suzy tajam dalam diam. Entah apa yang dipikarannya saat ini, ia mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan detik kemudian bibir mereka bertemu. Ciuman yang sedikit aneh bagi suzy seolah ia merasakan kekalutan dari laki-laki di hadapannya. Ia juga tau myungsoo bukan orang yang mudah menyetejui apapun termasuk ke cina demi profesinya.

Tautan mereka terlepas setekah cukup lama. Suzy menormalkan deru nafasnya kembali menatap myungsoo.

“baiklah. Aku akan kesana. Jadi sekarang tidurlah”

Suzy tersentak mendengar jawaban myungsoo. Yang bahkan belum lewat sejam laki-laki itu sudah merubah pikirannya. Ia tersenyum tipis dan menuruti ucapan myungsoo agar segera bebaring.

“jalja oppa”

***

END

#hayoo mau ngapain wkwk tiba-tiba end gini yah. Tapi emang udah saaatnya untuk di akhiri hehe. Tenang readers end nya bukan beneran. Part selanjutnya author bikin special part heheh jadi mohon bersabar. Special protect ga yaaaahh… terimakasih untuk para readers baik hati yang mau baca dan komen sejauh ini dan kadang author ini membuat kalian sebel. Mian. Sabar yah nunggu special partynya. Akhir kata THANKS MMUAH.

 

64 responses to “Untitled Love [PART 9 END]

  1. Yaa dan ini berakhir happy ending😀 joah !
    Myung pergi ke cina tanpa mengajak suzy? Seharusnya dia nikahin dulu suzy wkk.

    Cerita nya seru dan ga ngebosenin. Aku suka hehe. So, tetap berkarya authornim ! Cheer Up.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s