[Freelance] New Destiny Chapter 2

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy –  Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

….

 

Joseon, 1365

Kediaman Putri Mahkota benar-benar kosong. Karena menghilangnya Putri Mahkota, para dayang dari kediaman Putri dipulangkan untuk sementara di rumah mereka masing-masing sambil menunggu ditemukannya Putri Mahkota.

“Aneh sekali Putri tiba-tiba menghilang…” gumam Myungsoo sembari mengamati setiap sudut ruangan Putri Mahkota.

Ia kemudian beranjak mendekati lemari kecil di kamar itu, membukanya satu-persatu lalu menutupnya kembali saat tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tak berhenti disitu, Myungsoo juga meneliti setiap inchi tembok perabotan yang ada di sana termasuk sekat pembatas. Tak lupa Myungsoo juga mengecek alas tempat Putri Mahkota tidur yang saat itu tak tertata rapi.

“Benar-benar aneh. Jika Putri pergi karena tak betah menjadi Putri Mahkota atau takut pada pihak yang melawan Putri, harusnya Ia meninggalkan sesuatu untuk Putra Mahkota. Bahkan Ia juga tak membawa pakaian ataupun uang.”

Selagi Myungsoo sibuk dengan argumen-argumennya, seorang dayang istana tengah berlari kecil menuju kediaman Putri. Tanpa mengetahui keberadaan Myungsoo, dayang tersebut langsung membuka pintu kamar Putri.

Cklek.

Omo!”

Myungsoo tersentak mendengar pekikan dayang istana tersebut. Dilihatnya si dayang yang juga sama terkejutnya.

“Anda… siapa?”

Bingung harus bagaimana akhirnya Myungsoo menarik dayang tersebut untuk keluar dari kediaman sang putri. Ia membawanya ke tempat yang agak jauh dari sana.

“Maaf, Anda siapa? Tolong lepaskan saya!”

Bersamaan dengan itu, Myungsoo melepaskan genggaman tangannya pada si dayang. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan menghela nafas panjang sambil menatap dayang tersebut.

“Apa kau salah satu dayang dari kediaman Putri Mahkota?” tanya Myungsoo.

Dayang tersebut menganggukkan kepalanya. “Ne, saya salah satu dayang Putri. Anda siapa? Mengapa Anda ada di kamar Putri?” cerca dayang tersebut.

“Aku adalah pengawal pribadi Putra Mahkota, Kim Myungsoo. Aku di sana untuk mencari tahu tentang menghilangnya Putri Mahkota,” jawab Myungsoo, “tapi belum sempat aku menemukan sesuatu, kau datang. Apa yang kau lakukan di kediaman Putri Mahkota?”

Dayang tersebut terlihat sedikit ragu, namun akhirnya Ia menjawab juga, “sepertinya aku meninggalkan kantungku di kediaman Putri kemarin dan aku bermaksud untuk mencarinya.”

Myungsoo memicingkan matanya menatap dayang tersebut namun segera Ia hilangkan tatapan tajamnya itu dan memasang seutas senyum. “Kalau begitu silahkan cari secepatnya sebelum ada yang melihatmu berkeliaran di kediaman Putri,” kata Myungsoo.

Detik itu juga dayang tersebut segera meninggalkan Myungsoo dan kembali ke kediaman Putri Mahkota.

“Mencurigakan. Aku bahkan tak menemukan kantung apapun tadi,” gumam Myungsoo sambil memicingkan matanya. Perlahan kakinya melangkah mengikuti dayang tersebut secara diam-diam.

Eoh, dia sudah keluar. Cepat sekali dia mencari kantungnya.”

Melihat dayang tersebut keluar dari kediaman Putri Mahkota, Myungsoo pun menghampiri dayang tersebut.

“Apa kau sudah menemukannya?”

Dayang tersebut terkejut melihat Myungsoo masih ada di sana. Sedetik kemudian ia memasang senyumnya pada Myungsoo. “Ne, saya sudah menemukannya. Saya mohon jangan beritahukan pada siapa-siapa kalau saya kemari,” pinta Dayang itu.

Myungsoo menganggukkan kepalanya lalu pamit pergi. Namun baru beberapa langkah, Ia berbalik lagi dan melihat dayang itu sudah meninggalkan kediaman Putri Mahkota. Ia segera mengikutinya hingga keluar istana. Langkahnya dengan gesit terus mengikuti dayang tersebut bahkan sampai melewati pasar-pasar.

Bruk!

Tiba-tiba saja seorang anak kecil dengan pakaian kumal menabraknya hingga terjatuh. Myungsoo segera menolong anak tersebut agar bangun.

Gwaenchanha?” tanyanya.

Anak tersebut hanya menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya berlari menjauhi Myungsoo. Sesaat Myungsoo mengamati anak tersebut. Sejurus kemudian Ia kembali mengingat tujuannya berada di sana.

Eoh, kemana dayang itu?” gumamnya saat dayang yang diikutinya tak terlihat.

Kaki Myungsoo kembali bergerak menelusuri jalan-jalan kecil di pasar untuk mencari dayang putri tadi. Hingga Ia mencapai ujung pasar, Myungsoo tak kunjung menemukannya. Kepalanya menengok kesana kemari mencari keberadaan si dayang yang menghilang bagai ditelan bumi.

“Sial! Aku kehilangan dayang itu!” umpat Myungsoo.

….

“Jadi maksudmu menghilangnya Putri Mahkota adalah karena diculik?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya saat Putra Mahkota Howon mengulangi perkataannya tadi. Saat ini Ia memang berada di kediaman Putra Mahkota. Karena tak berhasil menemukan dayang tadi, Myungsoo memutuskan akan memberitahukan kecurigaannya pada Putra Mahkota.

“Apa yang membuatmu yakin kalau Putri Mahkota menghilang karena diculik, bukan karena melarikan diri?” tanya Howon.

“Maafkan saya, Choha, karena ini hanyalah kecurigaan saya dan belum terbukti benar. Tapi setelah menyelidiki kamar Putri Mahkota seperti yang Anda perintahkan, saya tak menemukan apapun,” kata Myungsoo berhenti sejenak sembari memastikan Howon menyimaknya dengan baik, lalu Ia melanjutkan, “menurut yang saya ketahui, orang yang melarikan diri cenderung akan meninggalkan sesuatu  seperti surat atau setidaknya membawa uang karena mereka akan pergi. Tapi saya menemukan kotak penyimpanan uang milik Putri masih penuh dan tak ada satu suratpun yang ditinggalkan Putri.”

Howon terdiam lalu menghela nafas. “Bisa saja Putri sengaja tak meninggalkan jejak.”

“Maafkan saya, Choha, tapi kecurigaan saya tidak sampai disitu,” kata Myungsoo.

Howon menyipitkan matanya menatap Myungsoo. “Apa maksudmu?”

“Saat saya sedang mencari sesuatu, tiba-tiba ada salah satu dayang putri yang datang. Saya membawanya keluar dan bertanya apa yang Ia lakukan disana, Ia bilang kalau Ia meninggalkan kantungnya di kediaman Putri. Setelah mencarinya, saya bertanya pada dayang tersebut dan dia bilang sudah menemukan kantungnya. Padahal sebelumnya saya tak menemukan apapun di sana,” jelas Myungsoo.

Howon terdiam. Keningnya berkerut, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi.

“Maafkan saya, Choha, karena saya kehilangan jejak dayang tersebut dan tak bisa memastikan kebenarannya.”

Lagi. Howon tak merespon perkataan Myungsoo. Ia masih mencaritahu alasan mengapa ada yang menculik Putri Mahkota. Matanya membulat saat Ia teringat sesuatu.

“Wangseja…”

“Aku tahu perasaanmu saat ini. Tapi kau harus kembali ke kediamanmu. Bagaimanapun juga ini sudah begitu larut untuk berkeliaran di istana, Wangseja.”

Howon menggeram saat teringat perkataan neneknya dihari menghilangnya Putri Mahkota saat itu. Kedua tangannya terkepal erat sambil menggumamkan sesuatu, “Ibu Suri….”

Jweseonghamnida?”

“Myungsoo, cari tahu tentang dayang itu. Aku yakin ada seseorang dibalik ini semua.”

Ne, Choha. Saya permisi.”

….

Myungsoo keluar dari kediaman Putra Mahkota dengan kening berkerut dalam. Bahkan sapaan Kasim Hong pun tak dihiraukannya.

“Seseorang… siapa yang dimaksud Putra Mahkota?” gumam Myungsoo seraya berjalan menjauhi kediaman Putra Mahkota.

“Ibu Suri….”

“Aku yakin ada seseorang dibalik ini semua.”

Kedua mata Myungsoo membulat sempurna saat menyadari siapa seseorang yang dimaksud Howon tadi. Mulutnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada satupun kata yang keluar.

‘Jangan-jangan… Yang Mulia Ibu Suri?’ Batin Myungsoo.

BUM! Wuushhh….

Mata Myungsoo semakin membulat saat tiba-tiba saja telinganya menangkap bunyi dentuman yang keras. Seperti suara sesuatu yang jatuh. Ia juga merasakan hembusan angin yang cukup kencang menerpa kulitnya.

Myungsoo sedang berusaha untuk mengabaikan bunyi itu saat tiba-tiba saja tanah yang dipijaknya bergetar. Bangunan-bangunan disekitarnya pun mulai bergetar dan runtuh satu-persatu. Bahkan Myungsoo tak sanggup berdiri dengan benar.

“Ada apa ini?” teriaknya.

Melihat bangunan yang semakin lama semakin hancur, Ia menjadi teringat Putra Mahkota yang tadi sedang berada di kamarnya. Mengingat itu, Myungsoo segera bergegas ke kediaman Putra Mahkota. Bagaimanapun, Putra Mahkota bisa tertimpa bangunan jika tak segera keluar dari kamarnya.

Begitu sampai di paviliun Putra Mahkota, Myungsoo langsung melangkahkan kakinya ke kamar Putra Mahkota dengan susah payah karena tanah yang terus bergetar.

Choha! Choha!” panggilnya sambil membuka pintu kamar Putra Mahkota.

Myungsoo memasuki ruangan tersebut dengan sempoyongan. Namun kosong. Tak ada siapa-siapa di sana. Myungsoo hanya dapat melebarkan kedua matanya saat ruangan Putra Mahkota sudah berantakan seperti kapal pecah.

“Dimana Putra Mahkota dan yang lainnya?” pekik Myungsoo.

Tak menemukan apapun di kamar Putra Mahkota, Myungsoo segera bergegas untuk keluar dari ruangan tersebut.

BRUK!

Belum sempat tangan Myungsoo meraih pintu, tiba-tiba atap kamar Putra Mahkota tersebut runtuh menimpanya hingga ia tersungkur di lantai.

“Tolong.. aku!”

Dengan terbata-bata Myungsoo mengeluarkan suaranya untuk meminta tolong. Kakinya tak bisa digerakkan, dadanya terasa sesak, dan tangannya hanya dapat menggapai-gapai udara, sedangkan semua yang ada disekitarnya terus saja bergetar.

“Tolong aku…” lirih Myungsoo.

Pupilnya menyipit saat tiba-tiba muncul sinar putih sangat menyilaukan. Myungsoo mengangkat tangan kanannya berusaha untuk menutupi matanya dari sinar terang tersebut. Perlahan sinar tersebut semakin mendekati Myungsoo.

Semakin dekat.

Dan,

BLAM!

Semuanya menjadi gelap.

….

Seoul, 2015

Hiruk pikuk Kota Seoul tak bisa lepas dari kepadatan yang ada di stasiun kereta bawah tanah. Para penumpang yang ingin menaiki kereta terus berdesakan agar bisa menaiki kereta tujuan mereka. Sama halnya dengan para penumpang yang ingin naik, para penumpang yang ingin turun pun harus rela berdesakan untuk mencapai pintu.

Suzy salah satunya.

Gadis itu akhirnya bisa bernafas lega setelah penuh perjuangan keluar dari kereta. Ia kemudian mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu-persatu dengan buru-buru hingga tiba di pintu keluar stasiun yang langsung berseberangan dengan gerbang kampusnya.

“Suzy-ah!” panggil Krystal sambil melambaikan tangannya saat melihat Suzy memasuki Kampus.

Suzy tersenyum tipis melihat Krystal. Digandengnya lengan gadis cantik itu dan segera menggeretnya masuk ke kampus.

Mwoya? Senyummu aneh sekali. Tak seperti biasanya,” ujar Krystal saat menyadari ada yang aneh pada sahabatnya itu. Belum lagi saat dengan lesu Suzy menyenderkan kepalanya di bahu Krystal. “Ada apa?”

Gelengan pelan dirasakan Krystal dipundaknya. Dengan paksa Ia melepaskan gandengan Suzy lalu memicingkan matanya untuk mengamati gadis itu.

“Katakan padaku ada apa? Kau ini tak pandai menyembunyikan sesuatu padaku, arra?”

Suzy merengut. Ia tahu Krystal pasti akan menyadari kelesuannya dengan cepat. Ia pun menghela nafas panjang sebelum akhirnya menarik Krystal untuk duduk di salah satu bangku panjang yang ada di koridor.

“Krystal-ah, eottokhae?”

Kening Krystal mengernyit. “Mwo?”

“Huaaa! Krystal-ah, harabeoji jahat sekali! Tiba-tiba saja dia bilang akan menikahkanku dengan cucu temannya. Ahh… Aku bahkan tak mengenal namja itu. Namanya saja aku baru tahu kemarin. Eottokhaji?”

Kedua mata Krystal membulat tak percaya.

“Kau akan menikah? Jinjja?” tanya Krystal yang dijawab dengan anggukan oleh Suzy. “Woah… daebak!”

Mendengar sahutan Krystal membuat kedua mata Suzy menatapnya tajam. Ia kemudian mengulurkan kepalan tangannya dan menjitak puncak kepala gadis itu. “Ya! Apanya yang ‘daebak’?” ketusnya.

Krystal menampilkan cengirannya membuat Suzy mendengus sebal.

Geunde, kenapa tiba-tiba begitu?” tanya Krystal.

Suzy mengedikkan bahunya. “Molla! Sudah kubilang harabeoji jahat!”

Kali ini giliran Suzy yang merasakan jitakan dari Krystal. “Ya! Jangan begitu! Bagaimanapun Dia adalah kakekmu, orang yang merawatmu sejak kedua orang tuamu meninggal.”

“Ah, molla! Molla! Molla!

….

Ya! Kau tak mau pulang ke rumah?”

Suzy melirik Krystal dengan kesal. Sedaritadi gadis itu terus merecokinya dengan pertanyaan yang sama, seperti ‘kau tak mau pulang?’ atau ‘ayolah! Kakekmu pasti mengkhawatirkanmu kalau kau tak kunjung pulang. Kau yakin tak mau pulang?’. Terus seperti itu hingga Ia merasa telinganya akan pecah.

Tanpa menghiraukan Krystal, Suzy terus memainkan gayageum-nya.

Saat ini Ia tengah berada di rumah gurunya. Hanya saja gurunya sedang pergi jadi hanya Krystal yang ada di rumah.

“Suzy, pulanglah…”

“Kau ini kenapa sih? Biasanya juga aku sering kan menginap di rumahmu, kenapa tiba-tiba mengusirku begini? Kau tak mau aku menginap disini?” cerca Suzy yang sudah gerah mendengar Krystal yang menyuruhnya pulang.

Krystal menghela nafas panjang. “Bukan begitu. Hanya saja Kakekmu akan khawatir. Lagipula kalau kau tidak mau dijodohkan, lebih baik bilang dari sekarang. Daripada terus menghindar yang ada masalahmu tak selesai-selesai.”

“Heuh. Aku malas pulang. Biarkan aku menginap malam ini saja. Aku akan menghubungi harabeoji nanti.”

Kalau sudah begitu, Krystal tak bisa berkata apa-apa.

….

Krystal mengerjapkan matanya. Diliriknya jam dinding berbentuk kepala doraemon yang terpasang salah satu sisi kamarnya. Pukul tiga dini hari. Matanya kembali melirik ke arah lain. Tak ada orang di sampingnya. Harusnya Suzy tidur disana. Kemana gadis itu?

Dengan gontai Krystal membangunkan dirinya dan beranjak keluar dari kamarnya. Samar-samar Ia dengar suara gayageum dari ruang tengah.

Eoh, lampunya menyala. Apa Suzy belum tidur daritadi?” gumam Krystal.

Ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Dan benar saja, dilihatnya Suzy dengan mata yang masih terbuka lebar tengah serius menggerakkan jemarinya di atas senar-senar gayageum tanpa menyadari kehadiran Krystal.

“Suzy…” panggilnya.

Yang dipanggil pun menghentikan permainannya kemudian menoleh ke arah Krystal.

Eoh, kau belum tidur?” tanyanya.

Krystal mendesis pelan. Ia kemudian beranjak untuk duduk di samping Suzy. “Harusnya aku yang bertanya begitu. Kau belum tidur? Apa kau tidak lelah terus bermain gayageum begini? Kupikir musik darimana, ternyata kau. Mendengar suara musik apalagi gayageum malam-malam begini, menyeramkan tahu!” celoteh Krystal.

Suzy menampilkan seringaiannya. “Apa aku membangunkanmu? Mian,” ucap Suzy, “aku selalu memainkan gayageum kalau sedang kesal.”

“Tapi tidak malam-malam juga.”

“Hehe.. mian.”

Hening. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat, lima, dan seterusnya. Baik Krystal maupun Suzy tak ada yang bersuara selama beberapa detik. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya salah satu dari mereka mulai bersuara.

“Suzy-ah, apa kau sebegitu tidak inginnya dijodohkan oleh kakekmu?” tanya Krystal hati-hati.

“Tentu saja. Dari dulu aku ingin menikah dengan orang yang kucintai. Semua orang juga pasti begitu. Tapi kalau aku menikah karena dijodohkan, itu berarti aku menikah karena terpaksa. Walaupun mungkin nanti aku bisa menerimanya dan mulai menyukainya tapi tetap saja aku menikah bukan karena mencintainya,” jelas Suzy, “geunde.. harabeoji tidak mau ada penolakan. Aku jadi kesal.”

Mendengar curahan hati sahabatnya membuat Krystal termenung. Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di otaknya.

“Suzy-ah, lebih baik kita tidur sekarang. aku akan mengajakmu ke suatu tempat besok.”

Suzy mengerutkan keningnya. “Eoddi?”

Bimil. Pokoknya ikut saja besok, ne?”

Call.”

….

Suzy menatap sekelilingnya dengan wajah datar. Bangunan bersejarah yang merupakan salah satu dari empat istana utama di Korea itu terpampang jelas di hadapan Suzy. Beberapa orang hilir mudik membawa sterofoam. Ada juga yang membawa kardus-kardus dan kain-kain berwarna-warni.

“Bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik?”

Dengan ekspresi yang super datar, Suzy membalas tatapan Krystal. “Ya! Untuk apa kau membawaku ke Istana Changdeokgung?”

Krystal menampilkan senyuman lebarnya. Ia kemudian menarik lengan Suzy untuk masuk ke area istana yang lebih dalam. “Sebenarnya ide ini terlintas begitu saja di otakku. Karena kau bilang kau sedang kesal, makanya aku akan membuatmu melupakan kekesalanmu,” jawab Krystal.

Suzy mengernyitkan keningnya bingung sembari berujar, “aku tak mengerti maksudmu.”

“Dengar ya, Bae Suzy, hari ini sebenarnya aku ada janji untuk membantu temanku melukis beberapa kain untuk persiapan Joseon’s Festival. Temanku itu adalah panitia disini. Lalu aku ingat kalau kau juga pandai melukis. Jadi daripada kau terus bermain gayageum di rumah lebih baik kau membantuku juga disini,” jelas Krystal.

Suzy terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. “Baiklah aku akan membantumu.”

“Bagus kalau begitu. Sekarang kita cari temanku dulu. Kajja!” ajak Krystal.

….

“Seperti ini?” tanya Suzy sambil menunjukkan lukisannya pada seorang gadis berambut sebahu yang diklaim Krystal sebagai temannya. Dan kalau Ia tidak salah mengingat, namanya adalah Lee Jieun.

Jieun mengangguk sambil tersenyum lebar. “Wah… kau berbakat sekali, Suzy-ssi.”

Gomapseumnida.”

Suzy kembali melanjutkan lukisannya. Sesekali Ia melirik Krystal yang juga sibuk melukis di sampingnya.

Beberapa menit kemudian.

Suzy meregangkan otot-otot lehernya sambil sedikit merentangkan tangannya. Ia kemudian memandang kain di hadapannya dengan puas. Kain yang tadinya hanya berwarna putih polos itu kini menjadi cantik dengan beberapa lukisan bunga dan kupu-kupu menghiasinya.

Ia kemudian melirik Krystal yang masih berkutat dengan lukisannya.

“Kau belum selesai?” tanya Suzy.

Krystal yang tengah serius hanya menjawab dengan mengguman “eum” tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun pada Suzy.

“Aku mau ke toilet dulu,” kata Suzy seraya beranjak berdiri meninggalkan Krystal bersama kain-kain lukisannya.

Dengan langkah yang santai Suzy berjalan mencari toilet. Sesekali Ia berhenti untuk menyapa beberapa orang yang dikenalnya seperti pemusik yang akan tampil bersamanya saat hari H atau beberapa panitia yang tadi sempat berkenalan dengannya.

Eoh, kenapa toiletnya jauh sekali sih?” gerutu Suzy.

Ia pun memutuskan untuk melewati jalan lain dan berharap jalan itu akan membawanya ke toilet dengan lebih cepat.

Wuushhh… BUM!

Tiba-tiba saja Suzy merasakan hembusan angin yang cukup kencang bersamaan dengan suara dentuman yang begitu keras. Kepalanya menoleh kesana-kemari mencoba mencari sumber suara.

Bola mata Suzy berhenti bergerak. Manik matanya terpaku pada bangunan yang ada di hadapannya. Keningnya mengernyit sambil mencoba mengingat bangunan yang sangat familiar itu.

Eoh, ini kan kediaman Raja Howon saat Ia masih menjadi Putra Mahkota,” gumam Suzy.

Entah apa yang membuat kakinya tertarik untuk melangkah lebih dekat menghampiri bangunan itu. Suzy terus melangkahkan kakinya hingga tanpa sadar Ia telah berada di depan pintu kamar bangunan tersebut.

“Boleh masuk tidak ya? Ah, masuk sajalah!”

Dengan yakin Suzy meraih pintu dan perlahan membukanya. Matanya membulat saat dilihatnya seseorang dengan pakaian seperti dalam drama-drama sejarah–yang sering ditontonnya–tengah tengkurap dengan lemas di tengah-tengah ruangan.

Suzy segera mendekati orang tersebut dengan panik.

“Hei! Apa kau sakit? Kau mendengarku kan? Apa kau sedang bermain drama? Apa yang kau lakukan disini?” cerocos Suzy sambil mengguncang-guncangkan tubuh pemuda itu.

Perlahan pemuda itu membuka matanya. Ia menatap Suzy dengan sayu.

Tak tahu harus bagaimana, akhirnya Suzy membantu orang tersebut untuk bangun, kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar. Suzy pun membantu melepas sepatu dan hiasan kepala  yang terpasang di tubuh pemuda itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya pemuda itu sambil menahan tangan Suzy yang akan membuka hanboknya.

“Apa?”

“Kau, apa yang kau lakukan? Beraninya kau menyentuhku!”

Kedua alis Suzy bertaut, bingung. Ia tak ingin melakukan apa-apa. Hanya bermaksud untuk melepaskan hanbok luar yang dipakai pemuda tersebut agar tidak sesak. Dan kebingungan Suzy semakin bertambah saat pemuda itu membentaknya dengan aksen yang aneh.

“Apa kau sedang bermain drama?” tanya Suzy.

“Apa?”

“Kau berbicara dengan aksen yang aneh. Seperti di drama sageuk saja,” jawab Suzy. “Jadi apa kau salah satu pemain drama sageuk? Aku tak tahu sedang ada syuting drama disini. Kau syuting drama apa? Apa kau berperan sebagai pengawal pribadi seperti di dramanya Kim Soo Hyun? Atau seperti Kang Chi di drama Gu Family Book?”

Pemuda tersebut menatap Suzy dengan bingung. “Apa yang kau bicarakan?”

Ne? Ah maaf kalau aku banyak bicara hehe.”

Tiba-tiba saja pemuda itu menatap Suzy tajam membuatnya terdiam seketika. “Berikan aku minum.”

Ye? Eung… tunggu sebentar.”

Suzy bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia pun melangkahkan kakinya ke tempat Ia melukis tadi. Kalau tidak salah, Ia punya sebotol air mineral di tasnya. Namun baru beberapa langkah, Ia tak sengaja bertemu Jieun.

“Jieun-ssi!” panggil Suzy.

Jieun menoleh sambil memasang senyumnya. “Suzy-ssi, kau habis darimana?”

“Ah, aku tadi habis jalan-jalan. Kebetulan aku haus, jadi aku mau kembali ke tempat tadi.” Jawab Suzy.

Geure? Kebetulan aku tadi dapat jatah minum dan belum kubuka,” kata Jieun sambil merogoh tasnya lalu mengulurkan sebotol air mineral pada Suzy, “ini untukmu saja. Jadi kau tak usah kembali dan bisa menikmati jalan-jalanmu lagi.”

“Bolehkah?”

Jieun menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan seutas senyum.

Setelah mengucapkan terima kasih, Suzy pun bergegas kembali ke paviliun tempat pemuda tadi menunggunya.

“Maaf lama, ini air minum- loh?”

Kening Suzy berkerut saat melihat pemuda tadi sudah tak ada di tempatnya. Ia kemudian keluar dari ruangan dan melongokkan kepalanya mencari pemuda tersebut namun tak ada siapapun di sana.

“Kemana namja tadi?”

Wushh…

Tiba-tiba saja angin bertiup cukup kencang hingga membuat tubuh Suzy sedikit menggigil. Ia kemudian menatap lagi bangunan di belakangnya.

Isanghane…”

….

TBC

….

Hai… Ada yg nungguin cerita ini ga? Semoga ada yaa… Maaf kalo ceritanya gaje abis trs juga bikin bingung. Tp makasih buat yg mau baca apalagi yg sampe ninggalin komen dsb. Pokoknya makasih dan jangan lupa RCL yaaa😀

79 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 2

  1. Masih belum ngerti, kok bisa myung ditahun 2015 apa ada kekuatan gaib #ngacoabaikan wkwkwk
    Myung kmna?
    Oke nexttttt aja dehh kekeke~

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s