Mistakes and Regrets #4

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kim Sunggyu

Poster by animeputri @High School Graphics

I don’t own anything besides the storyline

Dreams

 

Warning! Yang bercetak tebal adalah flashback dan mohon perhatikan tahunnya.

 

“Andwee!”

Sooji membuka matanya dan berusaha mengatur nafasnya yang tidak teratur. Peluh terlihat jelas di dahinya. Tangannya gemetar. Tenggorokannya terasa sangat kering. Sooji bangkit dari posisi tidurnya dan menyenderkan punggungnya di kepala tempat tidur.

Sooji menghitung satu sampai sepuluh, berusaha menenagkan dirinya. Dipejamkannya matanya erat-erat dengan kedua jari-jari tangannya yang saling mengait. Kemudian isakan kecil terdengar dari mulut Sooji.

Mimpi itu lagi. Mimpi buruk yang merupakan refleksi dari keadaan nyata yang pernah Sooji alami. Malam. Hujan. Sungyeol. Dan… darah. Sooji menggigit bibir bawahnya kencang-kencang. Rasa bersalah kembali menjalari dirinya. Mianhae Sunyeol-ah. Jeongmal mianhae. Dan sepanjang sisa malam itu, Sooji menghabiskan waktunya untuk menangis.

Seoul, 2010

Yya Bae Sooji, ayo pulang. Lee Ahjumma menunggumu di rumah.”

Yya Bae Sooji!”

“Sooji-ah!”

Sooji tidak menggubris sama sekali teriakan Sungyeol dan mempercepat jalannya.

Sungyeol kemudian berlari mendahului Sooji, dan memotong langkah yeoja tersebut.

Yya, neo kka! Tidak perlu ikut campur urusanku. Kka!” Sooji membentak Sungyeol yang berada di hadapannya. Sooji kemudian berusaha melewati Sungyeol dan kembali berjalan namun Sungyeol menahan lengannya. Menarik Sooji untuk kembali menatapnya.

Yya! Ada apa denganmu? Lee Ahjumma sangat khawatir padamu, neo arra? Sekarang sudah larut Sooj. Dan juga hujan. Ayo pulang!”

Sungyeol kemudian menarik paksa Sooji untuk ikut dengannya. Sooji berdecak kesal kemudian menyentakkan tangan Sungyeol.

Yya! Sudah kubilang tidak usah ikut campur!”

Sooji menatap nyalang Sungyeol, emosi jelas terlihat di matanya.

Tatapan Sooji tentu saja menyulut emosi Sungyeol juga, “Geure. Aku tidak akan ikut campur. Kasihan sekali Bae Ahjushi. Anaknya sekarang menjadi liar. Oemma dan Appamu pasti menangis di sana.”

Plak!

“Jangan membawa-bawa Oemma dan Appaku!” teriak Sooji.

Sungyeol meringis memegangi pipinya yang ditampar Sooji. Sungyeol mengenal Sooji hampir seumur hidupnya dan ini pertama kalinya Sooji menamparnya. Sungyeol mengenal Sooji hampir seumur hidupnya dan ini pertama kalinya dirinya melihat tatapan Sooji yang begitu terluka.

Tangan Sungyeol kemudian terulur dan menangkup kedua pipi Sooji. Ditatapnya Sooji lekat-lekat.

Mianhae. Jeongmal mianhae. Maafkan aku karena tidak peka, Sooj. Mian. Aku tidak akan mengungkitnya lagi. Ayo sekarang kita pulang. Semua mengkhawatirkanmu.”

Sooji melepas tangan Sungyeol dari pipinya dengan perlahan. Sooji menggigit bibir bawahnya. Dirinya kemudia mundur perlahan menjauhi Sungyeol.

Nan shirreo. Aku tidak mau kembali ke sana. Shirreo!”

Sungyeol mengacak rambutnya frustasi, “Ada apa denganmu Sooj? Sudah kukatakan bahwa Lee Ahju..”

“Dia tidak mengkhawatirkanku, geokjongma. Dia tidak peduli padaku.”

“Sooj! Dia Oemmamu! Tentu saja dia mengkhawatirkanmu!”

Sooji mendengus, “Oemma tiri.”

Sungyeol mengerti. Sooji sudah pernah menceritakan beberapa keanehan Lee Ahjumma padanya. Bagaimana Oemma tiri Sooji itu yang jarang menjenguk Appa Sooji di rumah sakit. Bagaimana Oemma tiri Sooji itu berubah dingin dan menjauhi Sooji semenjak memegang jabatan sebagai Direktur Utama Jaesan Group menggantikan Appa Sooji, dan sikapnya di rumah duka 3 hari yang lalu benar-benar menunjukkan siapa seorang Lee Nahyun sebenarnya.

Sungyeol menghela nafasnya, “Ayo Sooj, kau harus pulang. Jika tidak mau ke rumahmu. Kau bisa ke rumahku. Semua mengkhawatirkanmu.”

“Bukan cuma Oemmamu, ada aku, orang tuaku, Soojung dan Myungsoo yang mengkhawatirkanmu.” Sungyeol menmbahkan cepat-cepat sebelum Sooji memotong ucapannya lagi.

Sooji kembali mendengus mendengar ucapan Sungyeol. Emosinya hari ini benar-benar tidak terkontrol.

“Kau bercanda? Myungsoo? Sejak kapan dia benar-benar peduli padaku?”

“Dia menunggumu dengan Soojung di rumahmu.”

“Dia disana karena ada Soojung!” teriak Sooji melengking.

“Dia tidak akan ke rumahku kalau bukan karena ada Soojung yang perlu dia temani.”

“Apa kau tidak menyadarinya, Lee Sungyeol? Kim Myungsoo menyukai kekasihmu!” Sooji kembali berteriak histeris.

Sungyeol menghela nafas lagi, “Nan arra. Tentu saja aku menyadarinya Sooji-ah.”

Hening. Sooji diam tidak menimpali ucapan Sungyeol. Hanya gemericik air hujan yang menyentuh tanah yang terdengar.

Ucapan Sungyeol barusan seakan menghantam Sooji. Prasangka-prasangka buruk mulai bermunculan di kepalanya.

Sooji mengepalkan tangannya, “Kau tahu? Kau menyadarinya?”

Sungyeol diam. Diperhatikannya yeoja di depannya yang terlihat menyedihkan. Hujan membuatnya sangat basah dan bibirnya sudah mulai berubah kebiruan. Sungyeol harus segera membawanya pulang.

“Tentu saja aku menyadarinya, bukankan Myungsoo memperlihatkannya denngan sangat jelas?”

Sooji menggigit bibir bawahnya, kemudian menghela nafasnya kasar.

“Daebak! Daebak! Lee Sungyeol, neo jinjja daebak!”

Sungyeol mengerutkan dahinya bingung.

“Jadi kau mendukungku dengan Myungsoo agar Myungsoo jauh-jauh dari Soojung, begitu?”

Sungyeol membelalakkan matanya, “Bukan Sooj, kau sal..”

“Kau pasti tertawa, geutchi? Mendengarkanku bercerita soal Myungsoo sedangkan kau tahu bahwa Myungoo is deeply in love with Soojung.”

Sungyeol menggelengkan kepalanya, “Kau salah, Sooj. Kau salah faham.” Sungyeol melangkah, mendekati Sooji, namun Sooji mundur perlahan, kembali melebarkan jaraknya dengan Sungyeol.

Neo kka! Aku tidak percaya denganmu lagi, Kka!”

Sooji mulai berlari, tidak peduli kakinya yang sudah terasa lsilver. Tidak peduli badannya yang sudah kuyup. Tidak peduli dirinya yang tidak memiliki tujuan ke mana.

“Sooj!””

Sooji mendengar Sungyeol memanggilnya, dan Sooji yakin Sungyeol mengejarnya. Sooji mempercepat jalannya untuk menyebrang begitu melihat lampu lalu lintas masih berwarna hijau. Namun ketika Sungyeol berhasil menyusulnya  dan berhasil meraih tangannya, Sooji menyentakkan tangannya dengan keras, “Kkaragu!”

Sentakan Sooji membuat Sungyeol limbung dan sedikit tergelincir, namun kemudian Sungyeol bangkit kembali dan tetap menahan lengan Sooji.

Sebuah cahaya mendekati mereka dan suara klakson terdengar memekakkan telinga.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin

Sooji menyaksikannya, bagaimana sebuah van hitam mendekati mereka dengan kecepatan yang dapat dikatakan tinggi, bagaimana Sungyeol mendorongnya untuk menyelamatkannya, dan bagaimana Sungyeol kemudian tergeletak penuh darah di tengah hujan. Semua terjadi begitu cepat. Semua terjadi di depan mata Sooji.

Malam itu, Bae Sooji kehilangan Lee Sungyeol, sahabatnya.

“Selamat pagi, Sajangnim.”

Sooji mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk kemudian menganggukan kepalanya sedikit, menjawab sapaan dari busajangnimnya. Sooji kemudian menggeser tubuhnya, memposisikan dirinya di pojok lift dan kembali menundukkan kepalanya.

Sunggyu mengernyitkan dahinya heran. Beberapa hari belakangan ini Sajangnimnya begitu tidak bersemangat. Sunggyu ingin bertanya, tapi Sunggyu tahu dia tidak memiliki hak untuk ikut campur masalah atasannya. Suasana di lift begitu canggung, dengan Sooji yang masih menunduk dan berkutat dengan pikirannya sendiri dan Sunggyu yang mencuri pandangan pada atasannya, masih enggan bertanya. Dan sialnya, tidak ada lagi orang yang masuk ke lift selain mereka.

Ting

Begitu lift mencapai lantai 23, lantai di mana terletak ruangan Sajangnim dan tentu saja – Busajangnim, Sooji menegakkan tubuhnya. Menghela nafas pelan, kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Sunggyu pun melakukan hal yang sama, menghela nafas dan melangkah menuju ruangannya setelah sebelumnya masih sempat menatap punggung Sajangnimnya yang perlahan menjauh.

Di ruangannya yang cukup besar, yang di dominasi dengan warna reddish-brown khas kayu mahogany, Sunggyu duduk terdiam di kursinya. Tangannya memang memegang seberkas dokumen mengenai pengembangan proyek pembangunan komplek condominium yang sedang berlangsung di Daejeon namun pikirannya tidak terfokus pada berkas tersebut. Pikiran Sunggyu tidak fokus dan bercabang. Salah satu cabangnya pikirannya tentu saja, sajangnimnya, Bae Sooji.

Sunggyu menghela nafas, kemudian meletakan berkas tersebut di atas mejanya. Dirinya kemudian bangkit dari kursinya dan melangkah menuju jendela besar yang berada hampir di sepanjang sisi kiri ruangannya. Ditatapnya jalanan Seoul yang tetap padat meskipun sudah msilveruki jam kantor. Ditatapnya pula jajaran gedung-gedung bertingkat yang terlihat berderet dari ruangannya. Pandangan Sunggyu kemudian berhenti pada sebuah bangunan bergaya dinamis yang terlihat sangat menjulang meskipun jarak antara gedung tersebut dengan Hwajae Property cukup jauh. Gedung tersebut terlihat begitu raksasa meskipun Sunggyu menatapnya dari ruangannya yang berada di lantai 23. Gedung tersebut begitu terlihat berkilau dan eksklusif. Gedung pusat Jaesan Corporation milik Jaesan Group.

Sunggyu kembali menghela nafasnya. Masih diingatnya betul cerita Woohyun saat SMA dulu, mengenai adik sepupunya yang manis dan ceria, Bae Sooji. Masih diingatnya pula cerita Woohyun mengenai orang-orang terdekat Sooji. Dan dia tidak menyangka dia akan menemukan nama orang itu di sederet nama yang disebutkan oleh Woohyun. Masih diingatnya pula cerita Woohyun mengenai Sooji, oemma, appa, oemma tirinya, dan Jaesan. Woohyun menceritakan bagaimana Sooji yang kemudian kehilangan orang-orang terdekatnya, termasuk oemma dan appanya, dan bagaimana orang-orang terdekat Sooji juga melukainya. Dan Sunggyu kembali tidak menyangka mendengar nama orang itu lagi, orang yang menurut Woohyun merupakan salah satu penyebab Sooji terus menangis tiada henti dan membuat Tuan Nam menjauhkan Sooji dari Korea.

Tok tok tok

Ketukan di pintu menyadarkan Sunggyu dari lamunannya.

Sunggyu berdeham pelan, “Masuk.”

Pintu ruang kerja Sunggyu perlahan terbuka dan memperlihatkan Lee Sungjong – sekretarisnya – yang memegang sesuatu yang terlihat seperti sebuah buku kecil.

Sungjong membungkukkan tubuhnya sedikit kemudian menghampiri atasannya yang berdiri di dekat jendela.

“Undangan dari Jaesan, Busajangnim.”

Sunggyu mengangguk kemudian menerima pemberian Sungjong dengan senyum kecil di bibirnya.

“Terimakasih, kau bisa kembali bekerja.”

Ne, algesseumnida” Sungjong kembali membungkukkan tubuhnya kemudian melangkan keluar dari ruangan Sunggyu.

Sunggyu mengamati undangan yang berada di tangannya. Bentuk undangannya memang seperti sebuah buku kecil. Berwarna maroon dengan tulisan bewarna silver yang diukir dengan indah. Ulang tahun Jaesan yang ke 25.

Sooji menatap undangan berwarna maroon itu dengan tatapan kosong. Beberapa menit yang lalu Hyeri – asistennya, memberikannya sebuah undangan dari Jaesan. Diperhatikannya baik-baik tulisa berwarna silver yang menghiasi cover depan undangan tersebut. 25th Anniversary of Jaesan. Sooji mengatupkan bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan diri untuk tidak berteriak. Sooji kemudian meletakkan sembarang undangan tersebut di mejanya.

Sooji meminum tehnya yang mulai dingin dengan cepat kemudian tangannya terjulur mengambil kembali dokumen yang tadi sempat dia tinggalkan. Dokumen tersebut adalah dokumen mengenai perkembangan project di Naksan yang sudah berjalan selama hapir sebulan. Undangan dari Jaesan tersebut menyadarkan Sooji untuk kembali fokus dengan pekerjaannya, kembali fokus dengan tujuannya kembali ke Korea, yaitu merebut Jaesan kembali. Merebut Jaesan dari Lee Nahyun. Sooji mengakui bahwa semenjak dirinya bertemu dengan Myungsoo dan Soojung di pemakaman waktu itu membuat pikirannya tidak fokus sehingga dirinya sedikit melupakan Jaesan dan malah membuatnya kembali membuka memori menyakitkan dan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Sooji menatap samchonnya dengan pandangan tidak suka.

“Tidak, Samchon. Aku tidak mau.”

“Kau tidak bisa menolak, Sooji. Kau akan mewakili Hwajae untuk datang ke sana, lagipula kau memang mendapatkan undangannya.”

Shirreoyo!” Sooji sedikit memekik mengeluarkan suara penolakannya.

Tuan Nam membalas tatapan Sooji dengan lembut. Rasanya Tuan Nam ingin marah mendengar pekikan Sooji, tapi melihat mata Sooji mengingatkan dirinya pada adiknya, Nam Haneul. Tuan Nam dapat melihat sosok Haneul pada diri Sooji, berhati lembut dan penyayang, namun dibalik itu masih ada sosok Bae Sunghoon yang bijaksana namun keras kepala.

Tuan Nam menghela nafasnya, “Kau tetap akan pergi Sooj. Kau akan mewakili Hwajae. Kau akan didampingi Woohyun. Sudah saatnya kau bertemu dengan Lee Nahyun.”

“Tapi, Samchon…”

“Aku tidak terima penolakan, Sooji-ah. Mianhaeyo. Tapi kurasa Ulang Tahun Jaesan merupakan waktu yang tepat untukmu menampakkan diri.”

Sooji menhembuskan nafas, “Ne, Algesseumnida Samchon.”

“Dan mengenai proyek perdanamu Sooji-ah, Resort di Naksan, kudengar menuai banyak pujian dan mendapat sambutan yang sangat baik.”

Sooji diam tidak memberi komentar apapun terhadap pernyataan samchonnya.

“Selamat. Chukkahamnida. Keputusan yang sangat tepat menempatkanmu di Hwajae Property.”

Sooji menundukkan sedikit tubuhnya, “Gamsahamnida, Samchon. Kurasa aku bisa mengerjakannya dengan baik berkat arahan dari Woohyun oppa, dan busajangnim.”

Tuan Nam mengulas senyum tipis mendengar jawaban Sooji, “Aaa Kim Sunggyu. Bagaimana dia menurutmu, Sooji-ah?”

“Dia orang yang baik dan cekatan. Jika tidak ada lagi hal penting yang ingin samchon bicarakan, aku permisi.” Sooji kembali membungkuk kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Samchonnya.

Sooji menatap botol kecil berisi obat tidur miliknya. Saat di Jepang dulu, Sooji memang sering kesuliltan untuk tidur makadari itu dia memiliki obat tidur sesuai dengan anjuran dokter. Meskipun begitu, Jieun selalu menentang Sooji untuk menggunakannya. Jieun selalu berkata lebih baik Sooji meminum segelas teh atau coklat hangat agar lebih tenag sehingga kemudian bisa tidur. Sooji mengehela nafas, diletakkannya kembali botol obat tersebut di laci nakasnya. Sooji kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuat segelas teh.

“Kau belum tidur?”

Suara Woohyun sukses mengejutkan Sooji dan membuatnya hampir saja menjatuhkan cangkir tehnya. Sooji mendengus melihat penampilam sepupunya yang terlihat acak-acakan, khas baru bangun tidur.

Woohyun hanya bisa memamerkan deretan giginya melihat tatapan Sooji, ‘Aku tertidur tadi Sooj. Padahal masih banyak dokumen yang perlu aku baca.”

Woohyun kembali menguap kemudian membuka kulkas dengan sekali sentakan. Ditariknya keluar sebotol cola kemudian diminumnya dalam sekali teguk lalu dilemparkannya botol yang telah kosong itu ke dalam tempat sampah.

“Aku duluan Sooj.”

Sooji mengangguk membiarkan Woohyun melangkah keluar dapur. Namun hanya berselang beberapa saat dilihatnya Woohyun yang kembali melangkah ke dapur.

“Oh ya, untuk acara ulang tahun Jaesan, kau akan ditemani Sunggyu Hyung. Aku harus ke Busan. Siapkan dirimu Sooj.”

Selesai mengatakan itu Woohyun kembali berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Sooji yang menatap kosong cangkir tehnya.

Sooji meremas tangannya dengan gugup. Digigitnya bibir bawahnya unutk menahan kegelisahannya. Banyak orang yang menyapanya dan banyak pula yang hanya menatapnya heran.

“Kau terlihat cantik tenang saja.”

Sooji mendengus mendengar pujian Sunggyu.

“Aku atasanmu, Sunggyu-shi, jadi jaga sikapmu.”

Sunggyu terkekeh mendengar jawaban Sooji. Sooji memang terlihat sangat cantik malam ini. Dengan dress berwarna hitam berpotongan heart yang menjuntai hingga mata kakinya, dan tiara kecil yang tersemat di rambutnya yang sedikit digelung.

“Jadi bawahan tidak boleh memuji atasannya?”

Sooji memutar bola matanya malas.

“Kau benar-benar tampak cantik Sooji-ah.” Sunggyu tersenyum sambil menatap Sooji dalam.

Sooji dapat merasakan pipinya memanas dipandangi seperti itu oleh Sunggyu.

Sunggyu kembali terkekeh melihat reaksi Sooji. Ditariknya tangan gadis itu perlahan dan dikaitkannya pada lengannya.

Kajja. Kau perlu membangun relasi.”

Sunggyu yang memang telah terjun lebih dulu ke dunia bisnis, berkat Tuan Nam yang mempercayakan dirinya sebagai sekretaris pribadinya, tentu saja memiliki relasi yang lebih luas dibandingkan Sooji. Sunggyu mengenalkan Sooji sebagai keponakan Tuan Nam, sebagai seorang yang dipercaya Tuan Nam untuk memegang Hwajae Property,dan sebagai seorang yang berada dibalik kesuksesan pembangunan resort terbaru mereka di Naksan. Sooji terus menampikan senyumnya sepanjang malam. Sooji memang terlihat tenag sekarang, namun pikirannya serasa belum siap. Sejujurnya Sooji belum siap bertemu dengan oemma tirinya. Sooji bersyukur Sunggyu yang pergi bersamanya malam ini setidaknya keberadaan Sunggyu sedikit menenangkannya.

“Kau tidak ingin menyapanya, Sooj?”

“Nugu?”

Neo omma, tentu saja.”

Bahu Sooji menegang mendengar pertanyaan Sunggyu yang tiba-tiba. Sunggyu tahu tentang oemmanya? Tentang Lee Nahyun? Sooji mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa – ah matta, Woohyun. Sunggyu pasti diceritakan Woohyun.

“Tidak. Tidak sekarang. Aku belum siap.” Sooji menghela nafas kemudian meletakkan gelas minumnya di meja terdekat.

“Kalau begitu persiapkan dirimu, karena saat ini dia menghampiri kita.” Bisik Sunggyu.

Bahu Sooji kembali menegang mendengar pernyataan Sunggyu. Dirinya serasa tidak bisa membalikkan tubuhnya. Begitu mebalikkan tubuhnya, dilihanya seorang wanita yang memakai dress berwarna golden brown melangkahkan kakinya dengan anggun menuju mereka. Sooji langsung menundukkan kepalanya. Sebenci apapun Sooji pada Lee Nahyun, Sooji tidak bisa mengelak bahwa oemma tirinya itu memiliki aura yang sangat mengintimidasi.

“Aaah, Kim Sunggyu dari Hawajae.”

Sooji dapat melihat dari ekor matanya bahwa Sunggyu membungkukkan tubuhnya sedikit.

Ne. Selamat ulang tahun untuk Jaesan, sajangnim.”

Terimakasih. Jaesan sudah berumur, begitupun aku, sayangnya aku belum memiliki penerus yang tepat bagi Jaesan. Beruntungnya Nam Jangwoo-shi memiliki dirimu dan Woohyun.” Jawab Lee Nahyun dengan angkuh.

Sunggyu kembali membungkukkan tubuhnya.

“Dan siapa ini?” Tatapan Lee Nahyun kini beralih pada Sooji yang masih menunduk di sebelah Sunggyu.

“Ah perkenalkan, dia direktur baru yang memegang Hwajae Property.”

“Geure? Aku memang mendengar mengenai penggantian direktur di Hwajae Property. Tapi aku tidak menyangka, direktur barunya semuda ini. Apa dia bisa menjalankan bisnis ini dengan baik?” Ucapan Lee Nahyun begitu menohok Sooji, namun Sooji masih belum berani membuka suaranya.

“Jadi, siapa namamu anak muda?” Ucapan Lee Nahyun kembali terdengar angkuh dan terdapat nada memerintah di sana.

Sooji menghela nafas, dia sudah berjanji pada appanya untuk tidak lari lagi. Sooji kemudian mengangkat kepalannya. Dapat dilihatnya wajah Lee Nahyun yang terkejut melihatnya.

Na ya, oemma. Bae Sooji.”

-TBC-

a/n

Annyeong lagi readers! Ini aku bawain newest chapter dari mistakes and regrets.

Gomawo buat semua yang udah ngedrop comment.

Aku udah bilang kan alurnya bakal lambat? Jadi mian kalo progressnya lambat banget.

Dan maaf ya banyak Sunggyunya. Tapi tenang aja, ini tetep ff Myungzy ko, soalnya abang Sunggyu punyanya ogut :3

Mian banget belum ada Myungsoonya, chapter depan kayanya Myungsoo muncul dengan kecepatan penuh (?) kkk

Kesimpulan aku dari bacain comment kalian, kayanya aku jahat banget ya jadi penulis, banyak banget yang bilang poor Sooji soalnya kkk.

Sebenernya aku ngerasa gagal di chapter ini, soalnya datar banget.

But the story must go on, aneh ga aneh, suka ga suka, itu kalian yang menentukan hehe.

Mian for typos, bad writing, bad ideas, and wrong diction.

Selamat membaca chingu, kritik, saran, apapun, aku terima :3

80 responses to “Mistakes and Regrets #4

  1. Pingback: Mistakes and Regrets #10 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Suzy hwaiting :)…hohh myungsoo ya yg ada hubungan sama suzy..sunggyu jjanh, aw jadi terpesona sama sunggyu disini..woohyun jadi oppa lucu bgt..suzy yg semangat

  3. Pingback: Mistakes And Regrets #11 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  4. Pingback: Mistakes and Regrets #12 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  5. Ah, jadi begitu kronologi meninggalnya sungyeol. Wah, lee nahyun apa dia akan kaget mengetahui putri tirinya?

  6. Pingback: Mistakes and Regrets #4 | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s