[CHAPTERED] MY TWIN #4

my-twin

 

A fanfiction by aininsofi (@aininsofi)

Poster by Hyeorili_cc [Thanks Auril^^]

———-

MAIN CAST

Bae Suzy [Miss A] as Bae Suzy and Bae Sooji

Kim Myungsoo [Infinite] as Kim Myungsoo

Yoo Youngjae [B.A.P] as Yoo Youngjae

AND OTHER CAST

Romance ; Family ; Friendship ; Scool-life ; Fluff ; Comedy/?

———-

DON’T BE PLAGIATOR! THIS STORY IS MINE!

GOD ALWAYS KNOW!

———-

Don’t be silent reader(s)!

———-

Note: Warning! Adegan ada yang sedikit nyeleneh di chapter ini.

Typo? Sorry xD

———-

 

 

 

Sooji menghembuskan nafas tak beraturan sembari menutup pintu kamarnya dengan tegang.

Apa tadi yang baru saja ia dengar?

Apakah dia tidak salah dengar?

Temannya, Yoo Youngjae. Menanyakan hal aneh yang membuat Sooji tak mengerti jalan pikiran namja itu.

Tapi, disisi lain, Sooji merasa senang bahwa Suzy dan Myungsoo tak memiliki hubungan apapun.

Walaupun ada secuil bagian dari perkataan Suzy tadi yang membuatnya sempat kesal.

Myungsoo menyukai Suzy.

Tapi, sepertinya Suzy menyukai Youngjae. Pikir Sooji.

Sooji menghempaskan tubuhnya dikasur dengan hati berbunga – bunga.

Walaupun Myungsoo menyukai Suzy. Suzy tak membalas hati namja itu. Jadi, ini merupakan kesempatan besar bagi dirinya. Untuk bisa membuat Myungsoo menyukainya.

Sooji tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa Suzy tidak membuatnya menderita lagi.

Gomawo, Suzy-ah. Batin Sooji senang.

Sooji tersenyum, lalu memejamkan matanya.

 

***

 

“Sooji, ayo kita bermain petak umpet!” Ajak Suzy kepada adiknya.

                Sooji tersenyum dan mengangguk ke arah kakak-nya.

                Mereka berdua benar – benar kembar, sama, dan tidak dapat dibedakan. Hanya ada beberapa hal yang bisa membuat orang tua mereka bisa membedakan kedua anaknya. Yaitu tataan rambut.

                Suzy selalu membiarkan rambutnya terurai manis dengan hiasan bandana di atasnya. Sedangkan Sooji, dia lebih suka memakai kuncir rambut yang manis dan lucu.

                “Kalau begitu, kau dulu yang bersembunyi ya,” Kata Suzy.

                Sooji mengangguk menuruti apa kata eonni-nya.

                Melihat itu, Sooji segera berlari mencari tempat persembunyian yang menurutnya tepat.

 

***

 

Suzy, Sooji dan kedua orang tua mereka duduk bersama di ruang keluarga.

                “Bae Sooji! Apa yang kau pikirkan??! Nilai – nilai di rapormu sangat jelek! Apa kau tidak bisa mencontoh Suzy??!” Bentak Nyonya Kim dengan sangat marah.

                Sooji hampir saja menangis. Tapi dia sudah berumur empat belas tahun, dia bukan anak kecil. Tapi, sekalipun bukan anak kecil, semua orang akan sedih ketika mereka mendapatkan bentakkan dari orang tua mereka, apalagi seorang Ibu.

                “Sooji, kalau begini caranya, masa depanmu akan suram!”

                “Eomma!” Suzy terkejut mendengar perkataan eomma-nya itu, begitu pula Sooji. “Bisa kah eomma bersikap sedikit lembut pada Sooji??!”

                “Suzy… Jangan kau bela adik bodohmu itu,” Ujar Nyonya Kim dengan lebut pada Suzy.

                “Tapi Eomma tak perlu mengtakan hal sekasar itu padanya!”

                “Masuklah ke kamar dan tinggalkan kami Suzy!” Kali ini Tuan Bae yang angkat bicara.

                Dengan kesal Suzy menuruti perkataan Appa-nya.

 

***

 

Suzy termenung di kamarnya dengan sedikit perasaan yang mengganjal dihatinya.

Sakit.

Suzy meletakkan tangannya tepat di jantungnya. Dengan wajah menahan kesakitan, Suzy bisa merasakan ada perasaan aneh di dalam sana.

“Apa ini, Bae Suzy?” Tanyanya pada diri sendiri.

Perut Suzy juga ikut sakit. Seakan – akan ada banyak kupu – kupu yang sedang marah di dalam perutnya.

Sekarang ini Suzy menahan kesakitan dalam dirinya.

Suzy tertawa. “Bae Suzy,” Katanya pada dirinya. “kau bukan yeoja lemah.”

 

***

 

Youngjae menyapa Sooji dengan senyum manisnya. “Hai! Bae Sooji!” Sapanya ketika melihat Sooji dari kejauhan di koridor depan sekolah.

Sooji yang berjalan sembari menengok kebawah kakinya langsung menoleh ketika mendengar suara yang sudah tak asing baginya. “Yoo Youngjae?” Gumamnya.

Sooji langsung tersenyum lebar melihatnya. Bagaimana tidak? Youngjae-lah alasan dia bisa mengetahui kebenaran yang mengganjal dalam hatinya.

“Ya! Bae Sooji! Kenapa kau terlihat aneh seperti ini?” Tanya Youngjae heran melihat sikap Sooji yang aneh.

Sooji mengerutkan alisnya. “Apanya yang aneh?”

Youngjae menghela nafas panjang. “Tidak. Tidak apa – apa.” Ujarnya mengurungkan niat untuk mengatakan bahwa sekarang ini Sooji terlihat lebih senang.

Well, lagipula, Youngjae sudah tau kenapa Sooji berikap seperti itu.

“Kau ingin pergi ke kelas?” Tanya Youngjae.

“Ayo.” Sooji langsung melangkahkan kakinya menjauhi tempat tadi dan meninggalkan Youngjae.

Youngjae menggeleng – gelengkan kepalanya. “Aku sudah menunggunya disini dan dia meninggalkanku? Dasar yeoja.” Gumamnya pelan.

Youngjae tertawa kecil, dan lagi – lagi, dia tak sengaja melihat sesosok yeoja. Tapi kali ini, yeoja itu menatapnya. Dan ketika sadar dia sudah tertangkap basah oleh Youngjae, yeoja itu terkejut.

 

***

 

Suzy menatap Youngjae dan Sooji dari kejauhan dengan perasaan campur aduk.

Apakah jangan – jangan Sooji-lah yeoja yang Youngjae cintai? Pikir Suzy berkali – kali dalam benaknya.

Kedekatan Sooji dan Youngjae yang nampak jelas dimatanya membangun sebuah gunung di dalam hatinya.

Gunung yang sewaktu – waktu dapat meledak setiap saat.

Suzy termenung menatap keduanya. Tapi dia begitu terkejut ketika melihat Youngjae menatap kearahnya.

Suzy yang sangat terkejut tak tau apa yang harus ia lakukan dalam beberapa detik. Tapi dalam detik berikutnya, Suzy tau dia harus segera pergi dari tempat itu.

Suzy berlari sesegera mungkin. Suzy berlari secepat kilat meninggalkan Youngjae yang dibuat heran dengannya.

Dia tak peduli kemana dia akan pergi, asalkan kakinya membawa dirinya ke tempat yang jauh dari tadi.

Karena pikiran kacau Suzy dan tali sepatunya yang lepas, Suzy jatuh tersungkur di depan ruang guru. Semua buku tulis dan pelajaran yang ia bawa berserakan di lantai.

Dengan panik Suzy membereskan buku – bukunya dan sesegera mungkin berdiri lagi.

Tapi, ketika dia berusaha berdiri, semua bukunya kembali berserakan di lantai.

“Butuh bantuan?”

Suzy berhenti memungut buku – bukunya dan terdiam ketika seseorang berdiri di depannya.

Suzy mengenal suara itu, tapi perlahan dia mendongak ke atas untuk memastikan ingatannya.

 

***

 

Sepertinya keputusan Myungsoo untuk berangkat lebih awal kali ini membuatnya jera untuk melakukan hal ini lagi.

Mungkin itu takkan terjadi jika dirinya tidak terpaksa membantu Seok saem untuk membereskan arsip nilai di ruang guru.

Tapi setidaknya Myungsoo tau berapa nilai ulangannya. Yah, untung saja bukan Suzy yang ada disana.

Jika iya, Myungsoo akan sangat malu jika mengetahui Suzy melihat nilainya yang sangat hancur.

Myungsoo memasukkan arsip nilai terakhir di map besar itu dengan perasaan lega.

“Seok saem, aku sudah selesai.” Ujarnya lega.

Seok saem tersenyum, untuk ukuran wanita paruh baya yang sudah memiliki anak, senyum Seok saem masih terlihat begitu manis.

Well, tapi Myungsoo tidak tertarik pada hal itu.

“Terima kasih Myungsoo, kau bisa pergi sekarang. Maaf sudah merepotkanmu.”

‘Tanpa disuruh, aku juga akan pergi.’ Batin Myungsoo dalam hati.

“Selamat pagi,” Ujar Myungsoo sembari mengenakan tasnya.

“Pagi,”

Sesegera mungkin Myungsoo pergi dari ruangan itu. Dia takut Seok saem akan berubah pikiran dan menyuruhnya kembali.

Myungsoo membuka pintu ruang guru dan mendesah. “Akhirnya,” Gumamnya kesal.

 

Yah, sebetulnya dia sedikit kesal dengan Seok saem, tapi mau bagaimana lagi, dia hanya seorang murid.

Myungsoo berjalan pelan ke arah kelasnya, dia berjalan ke kiri.

BRAKK

Kaki Myungsoo terhenti ketika mendengar suara itu. Suara itu dari arah belakang punggungnya.

Dengan penasaran Myungsoo menoleh ke belakang. Dia sedikit terkejut ketika melihat Suzy duduk di lantai dengan buku – buku yang berserakan di hadapannya.

Myungsoo hampir saja menghampiri Suzy kalau saja dia tidak ingat bahwa Suzy sedang marah padanya.

Myungsoo menahan dirinya.

Dia hanya memperhatikan Suzy dari tempatnya berdiri.

Tapi ketika Myungsoo melihat Suzy jatuh untuk kedua kalinya, Myungsoo tak tahan lagi melihatnya. Sesegera mungkin Myungsoo menghampirinya.

“Butuh bantuan?” Tanya Myungsoo menawarkan.

Perlahan Suzy mendongak menatapnya.

“Bagaimana? Kau butuh bantuan?” Tanya Myungsoo menawarkan untuk kedua kalinya.

“Tidak perlu.” Ujar Suzy ketus. Dengan sesegera mungkin, Suzy berdiri.

Myungsoo menghela nafas berat. “Kau masih marah padaku?” Tanya Myungsoo sembari memegang lengan Suzy ketika yeoja itu berlalu di sampingnya.

Lengan Suzy bergerak berusaha lepas dari genggaman Myungsoo. Tapi namja itu tak membiarkan Suzy lepas begitu saja.

Tatapan keduanya bertemu saat itu juga.

Myungsoo menatap Suzy dengan pandangan yang berbeda.

Hal itu membuat Suzy gugup, karena selama ini, Myungsoo selalu bertingkah kekanak – kanakkan dihadapannya.

Karena entah kenapa, Suzy merasa saat ini Myungsoo yang ada dihadapannya bukanlah Myungsoo yang Suzy kenal.

“Tolong jawab aku Suzy.” Pinta Myungsoo. “Apa kau masih marah padaku?”

Suzy membuang tatapannya, lalu menjawab pertanyaan itu dengan ketus kembali. “Kau tidak perlu tau. Itu bukan urusanmu!”

“Itu urusanku!” Bentak Myungsoo pada Suzy.

Suzy terkejut dengan sikap Myungsoo yang aneh. Dia tak bisa berkata apa – apa. Yang bisa ia lakukan sekarang ini hanyalah menatap Myungsoo dengan tatapan tak percaya.

Sejak kapan Myungsoo terlihat seserius ini?

“Kenapa itu bisa menjadi urusanmu?” Tanya Suzy berusaha terlihat biasa.

Tapi, walaupun dia mengatakan hal itu, sorot matanya tetap saja menunjukkan bahwa dia sangat terkejut dengan sikap Myungsoo yang tiba – tiba berubah seperti ini.

Myungsoo menahan nafasnya. “Kau bertanya karena kau benar – benar tidak tau. Atau kau ingin aku mengatakannya langsung padamu?”

Kini giliran Suzy yang menahan nafasnya. Tapi Suzy tak ingin terlihat menyedihkan dihadapan Myungsoo saat ini. “Kalau pun aku tidak tau, aku tidak ingin tau.”

Myungsoo merasa seperti baru saja Suzy menancapkan sebilah pisau dihatinya. Mimik kecewa terlihat jelas diwajahnya. Sikap Suzy yang seakan tak peduli pada perasaannya membuatnya sakit.

Tapi dari rasa sakit itulah, Myungsoo mendapatkan kekuatan untuk merengkuh wajah yeoja itu dan mendekatkan bibir miliknya ke bibir milik Suzy.

Dengan sesegera mungkin, Myungsoo mencium bibir lembut milik Suzy.

Suzy menjatuhkan semua bukunya kembali.

Suzy terkejut, dan secepat mungkin dia berusaha melepaskan dirinya dari Myungsoo.

Myungsoo tak mau membiarkan hal itu terjadi, dia memeluk Suzy dengan erat.

Suzy tau dia takkan sanggup melawan Myungsoo, tapi dia masih saja berusaha menghentikan ciuman itu.

BRAAKK

Ketika suara pukulan itu terdengar, seketika itu juga Suzy terlepas dari cengkraman Myungsoo.

Dengan segera, Suzy sadar apa yang sedang terjadi.

Youngjae memukul Myungsoo dengan kekuatannya. Suzy takkan mempercayai hal itu jika dia tidak melihatnya langsung.

Yoo Youngjae, murid teladan sepertinya memukul seseorang.

“Jangan pernah memaksa Suzy seperti itu!” Bentaknya pada Myungsoo.

Suzy kembali sadar, Youngjae melihat dirinya dicium oleh Myungsoo. Itu membuatnya sangat malu.

Tanpa peringatan, Suzy berlari meninggalkan semua buku – bukunya dan meninggalkan kedua namja itu.

Myungsoo yang menyadari kesalahannya hanya diam diatas lantai. Ada sedikit perasaan bersalah yang mengganjal dihatinya.

Youngjae menghela nafas panjang. “Kalau kau mencintai Suzy, bukan seperti ini caranya.”

Myungsoo menatap Youngjae kesal. “Tau apa kau tentang cinta?”

“Cinta? Apa kau sudah gila? Cinta itu dari hati, bukan paksaan.” Youngjae terdiam sebentar. “Kalau kau mencintainya, kau tidak akan sanggup melukainya.”

Myungsoo terdiam mendengarnya. Lalu namja itu mengelak. “Kau tidak tau bagaimana rasanya tersakiti.”

“Cinta itu lebih baik tersakiti daripada menyakiti.”

 

***

 

Suzy tertunduk sedih di belakang sekolah.

Dia tidak bisa mempercayai hal ini. Myungsoo telah merebut ciuman pertamanya.

Dan yang paling parah, dia melakukan itu dihadapan Youngjae.

“Apa Myungsoo gila? Tidakkah dia punya pikiran?” Gumam Suzy kesal.

Sekarang ini, dia tidak tau apakah dia masih cukup berani untuk bertemu dengan Youngjae ataupun…. Myungsoo?

“Eomma, apa yang harus kulakukan??” “Myungsoo sudah gila!” “Argh!!!”

“Berhentilah berteriak. Kau akan terlihat sangat lucu kalau seperti itu.”

Suzy terdiam. Dia terhenyak. Dia mengenali suara itu.

Perlahan – lahan Suzy menoleh ke sumber suara.

Youngjae berdiri di hadapannya dengan tangan yang penuh buku pelajaran.

“Kau tidak bisa meninggalkan benda penting seperti ini begitu saja. Apalagi di depan ruang guru. Apakah kau ingin mendapat hukuman?” Ucap Youngjae sembari mendekati Suzy.

Gawat, hati Suzy rasanya panas ketika Youngjae duduk disampingnya. Suzy masih sangat malu atas kejadian itu.

“Kau tidak perlu malu. Aku tau kau tidak ingin melakukan hal seperti itu di depan umum.”

“Apa maksudmu? Aku memang tidak ingin melakukannya. Kau sendiri tau Myungsoo yang memaksaku.”

Youngjae tersenyum. Percaya atau tidak, senyum itu benar – benar membuat Suzy tentram. Suzy tersenyum juga karena itu.

“Jangan pernah pudarkan senyummu.” Ujar Youngjae tiba – tiba.

Suzy terkejut. “Hah?”

“Kau tau, senyum itu manis.”

 

***

 

to be continued

 

EPILOG

 

Dua anak kecil berumur 7 tahun bermain dengan senangnya di taman yang penuh dengan salju itu.

Musim dingin yang membekukan semuanya tak membuat kedua saudara kembar itu berhenti bermain.

“Sooji, lihatlah.” Panggil Suzy dengan suara manis khas anak – anaknya.

Sooji yang sedang asik bermain salju menoleh kearah kakaknya. Dengan kaki manisnya, dia menghampiri Suzy. “Wah, eonni, boneka saljunya bagus.”

“Kau suka?”

Sooji mengangguk senang.

“Bagaimana kalau kita membawanya pulang?” Kata Suzy dengan polosnya.

Sooji mengangguk lagi.

Setelah itu, Sooji membawa boneka salju itu dengan hati – hati.

Sementara Sooji berusaha membawa boneka salju itu, Suzy mengambil beberapa butiran salju lalu ia membentuknya menjadi bulatan yang kurang sempurna.

“Sooji!” Panggil Suzy.

Sooji menoleh, dan saat itu juga, bulatan salju itu menimpa dirinya. Sooji terkejut dan menjatuhkan boneka saljunya.

Melihat boneka salju itu hancur, Sooji menangis.

Suzy yang melihat adiknya menangis mendatanginya dengan segera. “Kenapa kau menangis?”

Sooji hanya diam dan tetap menangis.

“Jangan menangis. Akan kubuatkan boneka salju lagi. Ayolah Sooji, jangan menangis. Kalau Appa dan Eomma tau, aku akan dihukum.”

Mendengar itu, Sooji menghentikan tangisannya. “Buatkan lagi.”

“Iya, tapi kau jangan menangis lagi.”

“Kenapa?”

“Karena senyummu manis.”

 

EPILOG END

 

 

 

 

Hai guys!

Maaf ya chapter 4 lama di post nya😥

Aku sibuk banget sumpah.

Tugas satu belum kelar, dapet tugas yang lain. Pokoknya tugas numpuk banget…

Maaf xD

Oh ya, aku juga akan ngepost In Dream yang chapter 2 + You’re Mine Chapter 1

Tapi nggak janji cepet xD

Don’t forget to leave me a comment^^

21 responses to “[CHAPTERED] MY TWIN #4

  1. Untung yg liat Youngjae bukan Sooji, bisa2 Sooji tambah benci sama Suzy. Kenapa orang tua Suzy-Sooji bersikap seperti itu? Itu yg menyebabkan Sooji benci sama Suzy, padahal mereka kan saudara yg harusnya saling menyayangi😦
    Semoga masalag cinta segi empat ini ga merusak hubungan persaudaraan Sooji-Suzy🙂
    Nextnya ditunggu ne author, gomawo^^

  2. aku masih pusing baca ff ini ngebedain suzy sama soojinya tapi gpp lah yg penting main castnya suzy jadi biarin lah kkk

  3. Bener tuh kata youngjae.. cinta itu pake hati bukan paksaan… ugh…. disni youngjae bener2 keren thor… truz jadinya youngjae bakalan suka ma siapa???

  4. Ckckckck…bikin greget..aissh si myung maunya..endingnya suzy bakal ama cp?? myung ajalah.. toh ciuman pertama suzy udah d rebut myung…kasihan youngjae klow dapet sisa..hahaha #bukbukbuk(d gebukin author)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s