[Oneshot] The Mask

the-mask

xianara presents:

The Mask

Bae Suzy, Lee Donghae and Choi Siwon || AU, Friendship, Drama, Family-life, Psychology, Hurt/Comfort, OOC. || Oneshoot || PG 16 (harsh words)

Credit poster to: vanilla milk’s art. [THANKS DEAR FOR THE SUPERB POSTER!^^]

Disclaimer : Beside the story I own nothing! Plagiarism and Bashing are forbidden! This is a fiction, not a real story. If you find a similarity in reality, it’s just a part of coincidence.

Warning! Suzy/Siwon/Donghae OOC! Very OOC!!! Some inconvient physical actions that used!! The story contains Suzy’s Point Of View! Crack-plot!!

beware of reading this one cause……

The one who hides behind the mask named falsity will never end good. Just like you.

– – –

Enjoy Reading!

-The Mask-

Saat itu aku masih berumur 19 tahun. Aku baru lulus dari sekolah menengah atas di Seoul. Aku yang berasal dari kalangan menengah mencoba bertahan hidup di tengah kota besar dan tak punya angan untuk kuliah. Yang kupikirkan saat itu adalah kerja, kerja, dan kerja.

Aku bekerja untuk menutupi kebutuhanku dan keluargaku yang cukup besar, yah, walaupun kami sudah mati-matian untuk berhemat. Aku anak sulung dari seorang orang tua tunggal yang ditinggal kabur oleh suaminya. Aku punya satu adik laki-laki yang sekarang sudah duduk di bangku tingkat sepuluh SMA.

Mencari pekerjaan tetap dengan hanya modal surat tanda tamat belajar SMA sangat tidak mudah, terlebih di Seoul. Beruntung, kerabatku memiliki teman yang kebetulan perusahaan tempatnya bekerja sedang membutuhkan pegawai. Aku dengan semangat yang besar menyambangi tempatnya bekerja yang ternyata kantor pelayanan jasa pengiriman barang. Letak kantornya pun berseberangan dengan KBS building di Yeouido.

Hanya dengan sekali interview aku diterima bekerja sebagai akuntan di bagian administrasi keuangan. Pekerjaanku lumayan menyita waktu. Aku bekerja dari hari Senin sampai Sabtu, dari pukul 9 pagi sampai pukul 8 malam. Kebetulan aku bekerja sendiri.

Kantor pelayanan pengiriman barang ini tidak terlalu besar karena hanya sebuah kantor cabang pembantu. Walaupun kecil tapi tidak ada pengaruhnya dengan pekerjaanku. Tak jarang aku kelelahan setiap habis bekerja karena aku harus menghitung kas kantor beserta laba-ruginya, dan mengurus gaji para karyawan.

Beruntung, para karyawan di tempatku bekerja orangnya ramah dan tidak mengimani garis senior-junior. Jadi mereka bekerja ya bekerja saja dengan hubungan sosial kekeluargaan. Hal tersebutlah yang menjadi alasan kenapa aku betah bekerja di sini.

Untuk urusan gaji, aku patut bersyukur. Karena sekarang aku sudah bisa membantu menutupi kekurangan dan mencukupi kebutuhan keluargaku. Uang sekolah adikku yang tertunggak 6 bulan sudah bisa aku tutupi. Lalu, aku juga bisa sedikit memberikan uang saku kepada ibu dan adikku. Rasanya beban ekonomi di hidupku sudah mulai menguap sedikit demi sedikit.

Bossku yang merupakan kepala kantor cabang tempatku bekerja juga sangat baik kepadaku. Tak jarang beliau pun membantuku bila aku menemui kesulitan dalam bekerja. Dalam setiap kesempatan beliau juga kadang menawariku untuk mengantarkan aku pulang ke rumah saat aku sedang lembur sampai malam.

Choi Siwon.

Pria paruh baya berparas tampan itu merupakan boss di tempat kerjaku. Di mataku, beliau merupakan pribadi yang baik dan tegas. Beliau tahu kapan harus bersikap serius dan kapan waktu santai saat bekerja.

Selain itu, beliau juga seorang pekerja keras. Pasalnya, kantor cabang tempat aku bekerja bisa selalu masuk Top 3 di setiap forum karena usahanya. Padahal umur dari kantor ini masih seusia jagung. Namun, kesuksesan itu tak membuat dirinya jumawa. Di setiap forum akbar, beliau pasti akan selalu berterima kasih kepada para karyawan yang membantunya. Jujur, aku kagum kepadanya.

“Sooji-ssi, tak baik wanita pulang malam-malam sendirian, bagaimana kalau saya antar pulang? Kebetulan rumah kita searah.” tawar Mr. Choi kepadaku.

“Terima kasih atas kebaikan Anda tapi maaf saya tidak bisa Mr. Choi.” tolakku halus.

“Kenapa tidak?”

“Saya pasti merepotkan Anda.” tegasku langsung. Beliau pun hanya tersenyum menanggapi penolakanku.

Tetapi itu bukan akhir dari usahanya untuk membujukku agar pulang bersamanya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Dikarenakan untuk jalan ke halte aku harus menerobos hujan dan parahnya aku tidak sedang bawa payung saat itu. Aku pun dengan terpaksa menerima ajakan dari Mr. Choi tersebut.

“Kau pasti tidak bawa payung? Kalau kau kehujanan dan sampai sakit, besok kau pasti tak masuk kerja.” Aku pun menghela napas pelan dan mengiakan perkataan Mr. Choi.

Jadinya saat itu aku pun diantar pulang sampai ke rumahku, dengan selamat oleh bossku itu.

***

“Sooji-ya, ayo kita istirahat dulu? Cepatlah? Tugasnya kan bisa dilanjutkan nanti.” rengek Hyojung Eonni kepadaku.

“1 menit lagi Eonni. Oke?” aku berkata kepada rekan kantorku yang usianya terpaut 4 tahun di atasku. Hyojung Eonni lantas menggeleng pelan sambil merapikan tatanan rambutnya yang diombre warna buah persimmon khas provinsi Jeolla-do.

Ia pun mendekatiku. Berbisik ke daun telingaku untuk melaporkan keadaan terkini perutnya. “Eyy, cacing-cacing di perutku sudah hafal koreografi MAMACITA. Dan sekarang mereka pun sedang melakukan dancenya! Kau tahu itu? Palliwa!

Mau tak mau, aku tersenyum geli menanggapi laporan khas dunia lain milik Hyojung Eonni itu.

“40 detik lagi Eonni! Bersabarlah!”

Mwoya? Kau menghitungnya!” pekiknya yang kembali membuatku terkikik geli.

Eonniku yang cantik, 30 detik lagi ya!” tukasku cepat.

Hyojung Eonni menjatuhkan rahangnya ke bawah. Tak menyangka bahwa aku sungguh-sungguh menghitung sekon yang terlewat sambil mengerjakan kas harian yang mampu membuatku cepat ubanan.

Setelah 30 detik.

Dwaesseo!” ujarku senang sambil memijit kedua bahuku.

Setelah dikiranya buku kas, alat-alat tulis, dan kertas-kertas lainnya telah berada di tempatnya, aku beranjak meja kerjaku. Lalu menghampiri Hyojung Eonni, yang ternayata masih setia menunggu.

“Eonni, katanya mau istirahat dan makan? Ayoo!” ajakku. Sebelumnya,aku pun juga menyapa Dong Hee Sunbae yang sedang bersamanya.

“Akhirnya. Kau tahu kan, cacing-cacing di perutku ini benci menunggu?” cicit Hyojung Eonni. Aku hanya menggeleng menanggapinya.

Ia pun menggandeng lenganku dan menariknya dengan cepat. Sesampainya di kantin, Hyojung Eonni langsung menyerbu kedai nasi kari milik Jang Ahjumma. Meninggalkanku di sebuah meja berkursi empat dekat jendela yang menghadap ke luar.

“Ah! Aku meninggalkan kotak bekalku.”

Aku pun baru ingat kalau aku meninggalkan kotak bekal berisi bento buatan ibu di meja kerjaku. Dengan sekali gerakan aku beranjak dari kursi untuk kembali ke ruang kerja. Namun saat aku baru melangkahkan kaki kurang dari tiga langkah, aku dicegat oleh sosok yang tak asing bagiku. Mr. Choi dan kotak bekalku yang sudah ada di tangannya.

“Ini ambilah,” Mr. Choi mengangsurkan kotak bekalku yang berwarna merah dengan hiasan bunga sakura di atasnya.

“Terima kasih Mr. Choi.”

“Kau meninggalkannya di mejamu,” Mr. Choi berkata sambil tersenyum tipis.

Ne. Maaf sudah merepotkan Anda.”

“Tidak merepotkanku,”

“Sekali lagi, terima kasih.” ucapku agak kikuk. Jujur, aku pun tidak tahu mesti berucap apa lagi kepadanya.

“Hm, apakah kau hanya bisa mengatakan terima kasih dan maaf saja kepadaku?”

Ne? Te-tentu tidak. Saya hanya tidak tahu harus berkata apa kepada Anda.”

“Begitu.” Mr. Choi menganggapi ucapanku sambil menganggukan kepalanya pelan.

Tiba-tiba Hyojung Eonni datang dengan nampan berisikan nasi kari dan segelas oksusu cha sebagai menu makan siangnya. Seketika ia pun langsung memasang wajah innocentnya. Tatkala mendapati Mr. Choi sedang berdiri di dekatku.

Annyeonghaseyo Sajangnim. Apakah Anda sudah santap siang?” tanya Hyojung Eonni.

“Kebetulan belum,”

“Ah, begitu toh.” Hyojung Eonni menjawabnya pelan.

Baru saja aku akan membuka mulutku, tiba-tiba Mr. Choi berkata sesuatu yang mampu membuat bola mataku hampir keluar dari sarangnya.

“Bagaimana kalau aku bergabung dengan kalian? Apakah kalian keberatan?”

Aku bertatapan dengan Hyojung Eonni di sebelahku. Layaknya melakukan telepati, kami pun mengangguk lemah.

“Baiklah, kalau Anda tidak keberatan juga.”

Makan siang kali itu pun tak hanya kuhabiskan dengan Hyojung Eonni seperti biasanya melainkan bersama dengan Mr. Choi. Walaupun pada awalnya kami agak canggung, Hyojung Eonni mampu mencairkan suasana dengan baik.

“Sooji-ya,kau tahu tidak?” ujarnya membuyarkan lamunanku.

“Tidak, Eonni. Apa sih memangnya?”

“Selama aku bekerja, baru kali ini aku bisa mengobrol santai dengan atasanku. Sebelumnya, hih!” ia mengibaskan tangannya. “Menyapa saja, keringat dingin sudah bercucuran. Hih benar-benar!” cicitnya lengkap dengan ekspresi aneh yang terpancar di wajah ovalnya.

“Haha, benarkah? Berarti Mr. Choi itu memang baik.” tanggapku sekenanya.

Yokshi! Gwaenchan namja, ani, gwaenchaneun sajangnim!

***

Hari jumat di minggu pertama bulan Agustus aku pulang lebih cepat dari biasanya. Mengapa? Karena aku akan mengikuti kegiatan pelantikan anggota palang merah angkatan baru.

Eh? Aku belum memberitahu kalian ya? Aku ini anggota palang merah. Aktif sejak aku mengenyam bangku SMP tingkat delapan. Banyak sekali manfaat yang aku rasakan semenjak aku bergabung dengan palang merah atau yang lebih dikenal Red Cross dalam bahasa inggris. Salah satunya, aku sudah pernah menancapkan kaki di puncak Jirisan. Di dewan pun aku dipercaya menduduki posisi bendahara. Dan dalam kegiatan pelantikan anggota ke-16 yang diadakan di Yongin kali ini, aku mendapat porsi sebagai sekretaris.

Pukul empat sore aku telah selesai mengerjakan tugas kantorku. Setelah berpamitan kepada Hyojung Eonni aku tidak langusung meninggalkan kantor. Aku mampir ke ruangan ibadah yang memang ada di kantorku.

Ruangan ibadah ini dibangun atas prakarsa Mr. Choi. Dari kabar yang berhembus, dana yang digunakan untuk membangun ruangang berukuran 6 x 6 ini sebagian besar berasal dari kantongnya. Tanpa aku ketahui sebelumnya, beliau memiliki tekad untuk menjadi misionaris setelah ia pensiun. Dan itu cukup membuktikan bahwa beliau adalah sosok yang religius.

Aku berdoa dan memohon kepada Tuhan agar kegiatanku kali ini tidak mendapat halang rintang. Aku pun juga memohon kepadaNya supaya selalu melindungiku. Setelah selesai mengucapkan sajak suci kepada Trinitas Agung, aku bergegas meninggalkan ruang ibadah tersebut.

Di depan ruang ibadah itu terdapat jejeran bangku panjang yang sengaja diletakan di sana. Aku menaruh ransel kemahku dan perlengkapan lainnya. Teringat bahwa aku lupa mengabari Donghae – seniorku yang tinggal di Nowon – untuk menjemputku. Aku mencari ponselku yang ternyata terselip di sektor ransel terdalam.

Kalau saja aku tak lupa mengisi ulang T-Money dan mengeceknya setiap waktu, aku tak perlu meminta seniorku yang nyatanya seorang Wonderfuls – sebutan fans fanatik grup wanita Wonder Girls – akut itu untuk menjemputku. Ponsel model flip keluaran apparel alat komunikasi kenamaan negeri ini sudah kugenggam.

Tepat saat aku akan memencet tombol menghubungi Donghae, mataku menangkap sosok Mr. Choi yang berjalan mendekatiku. Ah ia pasti ingin beribadah juga.

“Annyeonghaseyo Sajangnim,” aku memberikan salam kepada Mr. Choi yang saat itu mengenakan kemeja lengan panjang polos berwarna putih lesi. Lengannya pun digulung sampai ke siku sehingga memperlihatkan lengan bawahnya yang kekar. Kentara sekali ia sangat rajin pergi ke Gym untuk membentuk tubuhnya itu.

“Sooji, sudah mau berangkat?” tanya Mr. Choi tanpa menjawab salamku sebelumnya.

Ye Sajangnim.”

“Hati-hati Sooji. Jangan sampai kau terluka dan kelelahan di sana,” pesan Mr. Choi.

Ne, algetsseumnida.” ucapku halus seraya menundukkan kepalaku.

Jujur, citra Mr. Choi di mataku semakin tinggi. Selain sifat-sifat bak dewa yang telah kusebutkan sebelumnya; sikap perhatiannya adalah yang paling aku kagumi. Ia sungguh sangat perhatian terlebih kepadaku. Tunggu, bukankah itu agak, ganjil.

Setelah Mr. Choi meninggalkan pesan kepadaku, aku kembali teringat untuk segera menghubungi Donghae. Ponsel yang berada di genggamanku kudekatkan. Tombol memanggil Donghae sudah kutekan. Perhatianku sedikit teralihkan dari Mr. Choi yang ternyata masih belum bergeming dari tempatnya berdiri. Entahlah apa yang akan dilakukannya. Karena aku tidak begitu merisaukannya.

***

Setibanya aku di rumah setelah kegiatan pelantikan yang memakan waktu dua hari itu, aku langsung mengunci diriku di dalam kamar sempitku. Aku menangis sejadinya. Air mata dengan derasnya turun dari kedua mataku dan mengalir di pipiku hingga sampai ke leherku.

Selama dua hari aku berusaha bersikap seperti biasa dengan orang di perkemahan. Termasuk Donghae. Dia salah satu orang terdekatku kalau kau boleh tahu. Ia menyadari perubahanku itu. Namun dia cukup bijak untuk tidak menanyakan langsung kepadaku. Ia selalu membiarkan diriku nanti yang akan bercerita terlebih dahulu. Kalau aku sudah siap.

Ibu dan adikku langsung menggedor-gedor tak sabaran daun pintu kamarku. Adikku sampai mengancam akan mendobraknya kalau aku tidak membukanya.

“Nak! Bukalah pintunya! Kenapa kau menangis seperti itu?” dapat kudengar suara ibuku yang panik di balik pintu.

Noona! Apa yang terjadi kepadamu? Buka pintunya! Kau ingin aku mendobraknya?!!”

“Sooji-ya? Ayo buka pintunya.”

“Sooji Noona!Ceklek. Aku membuka pintu kamarku. Lalu bergegas mendekap ibu dengan erat. Kembali kutumpahkan air mata yang ternyata masih belum habis persediannya. Sang Moon yang mendapati kondisiku yang berantakan ini tak bisa berkata apa-apa. Ia pun membawa ibu dan diriku kedalam pelukannya.

***

Ketika Jumat awal Agustus itu, di waktu sore,

Setelah Mr. Choi meninggalkan pesan kepadaku, aku pun kembali teringat untuk segera menghubungi Donghae. Ponsel yang berada di genggamanku kudekatkan. Tombol memanggil Donghae sudah kutekan. Perhatianku sedikit teralihkan dari Mr. Choi yang ternyata masih belum bergeming dari tempatnya berdiri. Entahlah apa yang akan dilakukannya. Karena aku tidak begitu memerhatikannya.

Namun tepat saat aku mengangkat pandanganku ke depan dengan ponsel yang kuangsurkan untuk menempel di telingaku, Mr. Choi didapati tengah memandangiku secara intens. Aku sendiri tak mengerti jenis serta maksud dari kilat yang terpancar di kedua bola matanya yang tajam. Sorot yang belum pernah kudapati sebelumnya dari seorang Choi Siwon.

Getaran-getaran tak bertuan mulai terasa di sekitarku. Alarm tak kasat mata yang telah kupasang berbunyi. Seperti menandakan ada bahaya yang mengancam. Tapi bahaya itu, apakah dari seseorang yang baik hati, apakah Mr. Choi akan…?

Tubuhku mati rasa ketika perlahan Mr. Choi berjalan tepat ke arahku. Aku seperti telah disuntik anestesi dalam dosis tinggi. Aku tak dapat merasakan apa-apa di sekitarku. Bahkan ponsel yang melekat di genggamanku. Perlahan tapi pasti. Mr. Choi dengan gerakan selambat seekor siput memangkas jarak denganku. Segala macam pikiran berkecamuk di dalam otakku.

Apa yang akan dia lakukan?!

Kurasakan mulutku saat itu juga seperti telah dilumuri lem super. Suaraku sendiri tercekat di tenggorokan. Aku tak bisa berteriak. Apalagi mengeluarkan sepatah kata dari bibirku yang terasa kelu. Ransel yang tadinya berada di bangku panjang di dekatku, kutarik perlahan mendekat ke arahku. Kupeluk ransel pemberian Donghae dua tahun yang lalu dengan erat.

Aku pun sampai melupakan panggilan yang kubuat kepadanya. Mr. Choi pun berhenti mengikis jarak denganku. Tubuhnya yang menjulang di depanku membuatku berhadapan dengan dadanya yang bidang itu. Hal itu pun semakin membuat aura di sekitarku semakin mencekam.

Layaknya kecepatan anak panah milik Dewa Eros yang dibidikkan menuju bumi, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ia hampir mencium bibirku! Dengan gerakan seperti kilat, aku berhasil menghindar. Aku pun melindungi wajahku dengan ransel yang kupeluk sebelumnya. Kudekap erat ransel di wajahku itu.

Energi yang berada di dalam tubuhku serasa terkuras habis. Perutku dibuat mulas. Otak di dalam kepalaku dipaksa bekerja secara keras untuk menghilangkan berkas-berkas memori yang barusan terlintas melewatiku dalam sebuah realitas.

Segala jenis teknik taekwondo yang pernah kupelajari sampai aku mengikatkan sabuk hitam di pinggangku rasanya tak berguna. Air mata sudah mengenang di sudut kedua mataku. Tetapi aku berusaha keras, untuk menahannya tetap di sana.

Dengan mengumpulkan segala keberanian, aku mengangkat pandanganku. Kutantang kedua manik mata yang sekarang menurutku laksana lubang hitam itu. Kudapati sebuah sorot mata lembut namun hal itu tidak terpancar dari tindak-tanduk yang baru saja Mr. Choi lakukan kepadaku.

“Tidak kena kok. Saya pamit berdoa dulu ya. Sampai jumpa.”

Itulah kata-kata yang kudengar sayup-sayup karena aku masih kehilangan seluruh kesadaranku. Tak peduli dengan perkataan Mr. Choi barusan, aku bangun dari posisi jongkokku. Menggendong erat ransel di pundakku dan bergeas meninggalkan ruangan terkutuk di depan tempat ibadah itu. Sampai aku pun mengabaikan panggilanku untuk Donghae.

***

Malam itu aku pun menceritakan kejadian yang menimpaku itu. Tak mampu aku menahan tangis sambil bercerita. Terlalu suram memoar yang kudapatkan. Ibu mengusap punggungku untuk menenangkan. Aku bercerita dengan suara yang tersendat-sendat. Sang Moon tak hentinya menghanturkan tisu ke hadapanku.

“Sudah Nak. Rasanya pasti berat sekali. Tapi yang terpenting kau tidak apa. Mulai sekarang kau harus bisa jaga diri lebih baik lagi.” pesan ibu kepadaku.

“Ini namanya kasus pelecehan seksual. Hal ini harus dilaporkan kepada pihak yang berwenang. Haruskah kita meminta bantuan Paman Kwon?” usul Sang Moon.

“I-ini na-ma-manya hamp-p-pir peleceha-han seksual Sang Moon-a. be-belum ter-terjadi.” jawabku terbata-bata.

“Iya aku tahu Noona. Tapi tak ada salahnya kan?”

Tepat sehabis aku membeberkan peristiwa pahit yang kualami kepada keluargaku, aku segera menghubungi Donghae. Beruntung di sambungan pertama ia langsung mengangkatnya.

“Oh, Soojirang, waeyeo?” sapa Donghae di seberang yang tengah asyik menonton DVD Showcase Wonder Girls. “Donghae-ya…” ujarku sembari menahan sedu sedanku.

“Aku mau cerita kepadamu.. ” Aku pun kembali mengeluarkan suara sesengukan yang kutahan sedari tadi.

YAA, NIGA WAE? MUSEUN IRREOKA!?” teriak Donghae sejadinya. Ia pun langsung menekan power off DVD-nya beserta layar televisinya. Bersiap mendengarkan keluh kesahku malam itu.

***

Kejadian (hampir) pelecehan seksual yang kualami merubah pandanganku terhadap Siwon. Ya, sekarang aku menyebutnya Siwon saja. Tanpa embel-embel Mr. Choi atau BOSS! Dia bukan lagi sosok bersahaja dan baik hati seperti yang kukenal sebelumnya.

Ternyata dia selama ini bersikap sangat baik kepadaku karena ada maunya. Aku pun terbuai oleh topeng yang selama ini ia kenakan. Persis seperti pepatah dari timur, ada udang di balik batu. Kebaikan yang ia berikan tidak didasari hati yang tulus.

Sikapnya mulai berubah kepadaku. Ya, kepadaku. Ia menjadi dingin bila berada di dekatku. Bahkan kadang jikalau tak ada orang di dekatku sifat otoritenya muncul. Proteksi dirikupun otomatis aku tingkatkan. Akhirnya aku menceritakan kejadian ini kepada Hyojung Eonni.

“DASAR LAKI-LAKI BRENGSEK!” serunya tak terima.

Eonni-ya ini masih di kantor, tahan emosimu. Kumohon,”

“Kau bilang tahan emosi? Bagaimana aku bisa? Aigoo! Dia sudah punya seorang putera tapi kelakuannya itu! Astaga, dorong aku ke laut kuning sajalah!” ujarnya sambil memukul dadanya pelan guna menekan amarahnya tersebut.

Eonni bagaimana kalau aku resign saja?”

Geureotchi. Itu lebih baik.” Hyojung eonni berkata mendukung keputusanku. “Kau resign saja. Ini demi kebaikanmu. Kalau kau butuh cadangan pekerjaan, aku bisa membantumu. Kau tidak usah cemas Sooji-ya.”

Eonni, gomawo. Maaf aku selalu merepotkanmu.” ucapku seraya menghamburkan pelukan kepadanya.

Gwenchana. Kau sudah kuanggap seperti adik kandungku. Anggaplah aku juga sebagai eonnimu, arratchi?”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Yang kulakukan hanya menganggukan kepala dan mematrikan senyum termanisku kepadanya. Ternyata, aku memang tidak pernah sendirian. Tuhan selalu mengirimkan orang terkasihNya kepadaku, Hyojung Eonni. Di kantor jahanam ini.

***

Surat Pengunduran Diri.

Aku meletakkan surat pengunduran diri atas namaku di meja kerjaku. Aku memang tak menceritakan peristiwa pahit itu kepada karyawan yang lain. Kemarahan yang menguasai relung hatiku masih bisa berkompromi dengan pikiranku. Aku tak ingin membuat Siwon malu di hadapan karyawannya sendiri. Makanya aku hanya memberitahukan hal tersebut hanya kepada orang-orang terdekatku saja.

Hari Senin di musim semi, aku resmi berhenti bekerja. Ponselku kubiarkan berdering tanpa henti. Tak kujawab setiap panggilan yang berasal dari Siwon. Ya, mantan bossku itu tak bisa menerima surat pengunduran diriku. Namun, aku tak peduli. Untuk apa ia menahanku? Apa ada maksud tersembunyi lagi? Bodohnya diriku kalau aku terjatuh lagi ke dalam lubang yang sama. Setiap panggilan, SMS, dan apapun itu yang berasal dari Siwon kuabaikan.

Sembari mengisi waktu luangku, aku membantu ibu berjualan di pasar. Aku juga menerima tawaran Donghae untuk menjadi Pembina Palang Merah di sekolah dasar sekitaran Seoul. Donghae juga cukup tahu batasan. Ia tak pernah sekalipun menyinggung soal kejadian’itu’. Justru, ia malah membantu mengalihkan perhatianku untuk kegiatan yang positif. Benar-benar sahabat yang baik bukan?

Dua bulan setelah aku berhenti bekerja, rutinitasku hanya berkutat pada kegiatanku di pasar dan pembinaan kegiatan ekstra palang merah di sekolah dasar. Terakhir aku mendapatkan kabar dari Hyojung Eonni. Dia ternyata sudah resign. Dia sendiri sekarang sudah bekerja di kantor pos di distrik Jamsil.

***

Malam itu, aku sedang membuat kimchi lobak di dapur. Aku sibuk mengaduk bahan-bahan seperti bubuk cabai, gochujang, serta tambahan kecap asin dengan lobak yang sudah diiris sebelumnya. Sedangkan ibuku di ruang tengah bersama Sang Moon sedang menonton drama yang memang sedang naik daun di Korea Selatan saat itu.

Saat aku menghampiri ibu untuk mencicipi kimchi lobak buatanku, terdengar suara ketukan pintu.

“Sang Moon-a buka pintunya cepat!” suruh ibu kepada Sang Moon.

Eomma, aku tak bisa. Noona tolong buka pintunya.”

“Baiklah. Aku tahu kalian berdua tak mau meninggalkan televisi.” jawabku sarkatis. Aku menuju pintu depan rumahku. Kenop pintu berwarna cokelat tua itu pun kuputar.

“Cari siap – ?” suaraku hilang ditelan bumi. Setelah pintu terbuka seluruhnya aku dibuat hampir terkena serangan jantung di tempat. Choi Siwon sedang berdiri di hadapanku.

Annyeonghaseyo, maaf menganggu kalian,”

***

Aku berjalan lunglai menuju ke stasiun bawah tanah Yeouido. Hari ini aku ada jadwal pembinaan di Sekolah Dasar Suwon. Untuk mencapai Suwon aku pun harus transit di beberapa stasiun yang menyebabkanku harus berangkat lebih awal. Tatapanku hanya tertuju pada anak tangga yang sedang kuturuni. Beruntung aku tidak menabrak orang yang berada di hadapanku. Pikiranku melayang ke malam di mana Siwon datang ke rumahku.

Flashback.

Aku, ibu, dan Sang Moon duduk saling berhadapan dengan Siwon. Setelah ibu meletakkan secangkir teh hangat di atas meja kami, ibu ikut bergabung duduk bersama kami. Semuanya terdiam. Tak ada yang berniat untuk membuka percakapan. Hawa panas yang dihantarkan oleh ondol yang menjadi alas duduk kami rupanya tak bisa mendinginkan suasana di antara kami berempat saat itu.

Aku berdehem pelan. Menatap ibu dan Sang Moon dengan pandangan ‘Aku usir saja ya dia?’

“Maaf saya mengganggu Bibi sekeluarga di malam selarut ini.” ujar Siwon sopan kepada ibu.

“Sebenarnya ada hal yang mau saya bicarakan. Mengenai Bae Sooji.”

Aku dan ibu hanya bisa menyodorkan kesunyian. Sedangkan Sang Moon terlihat menganggukan kepalanya.

“Silahkan, bicara saja.” jawab Sang Moon.

Siwon menundukan pandangannya pada cangkir teh yang ia pegang. Di ujung lidahku sendiri sudah banyak kata yang ingin kulontarkan kepadanya. Namun aku mengurungkan niatku. Aku tak ingin membuat konflik. Ibu di sampingku memberikan tatapan agar aku bersikap biasa saja.

“Apakah Sooji benar-benar tidak bisa kembali bekerja?”

Aku termangu di tempatku. Aku tak berniat untuk menjawab pertanyaan retoris Siwon yang jelas-jelas ia lontarkan kepadaku.

“Sooji itu sosok karyawan yang sangat baik. Dia rajin, tekun, dan cekatan. Saya tidak bisa kehilangan dia.”

“Itu sih terserah anak saya. Semua keputusan ada di tangannya.” Ibuku menjawab sambil menggengam tanganku yang mengepal.

Perlahan aku berani mengangkat pandanganku. Kutatap kedua mata elang Siwon yang memancarkan sorot kelembutan itu. Namun, aku tidak boleh termakan oleh tipu dayanya. Siapa tahu ia memakai topengnya itu?

Wae geuraesseo?!! Kenapa Anda melakukan itu kepada saya?!!?!” aku tak dapat menahannya. Aku melontarkan pertanyaan yang selama ini menjadi bulan-bulananku. Alasan apa yang mendasari sehingga ia melakukan hal tercela itu kepadaku.

“Itu…. Karena…

Karena,

saya sayang dengan Sooji.”

Siwon memandangku dengan tatapan yang sama sekali tak dapat kumengerti. Mulutku terkatup dibuatnya. Sungguh, jawaban yang ia berikan sangat jauh dari ekspetasiku.

“Saya sayang kepada Sooji sebagai seorang karyawan yang baik.” Lanjut Siwon.

Selanjutnya, pria itu membeberkan kejadian kelam tersebut ke hadapan ibu dan Sang Moon. Aku menahan tangisku agar tidak pecah. Luka di hatiku masih belum sembuh benar. Siwon benar-benar menceritakan dari A sampai Z. Ibu yang mendengarnya dibuat speechless. Berbeda dengan adikku yang masih mampu menahan erupsi magma dalam hatinya.

“Tapi kalau Anda menyayangi saya, seharusnya Anda tidak melakukan itu! Kalau Anda berani melakukan itu tandanya Anda tidak menyayangi saya. Anda justru melukai saya!!” Aku membalas alasan konyol Siwon dengan penuh penekanan di setiap frasanya.

Ibu mencoba menenangku dengan mengusap punggungku. Sang Moon yang melihatnya hanya mampu mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

“Maafkan saya. Saya sungguh menyesal. Saya berjanji saya tidak akan melakukan hal ini lagi.”

“Cukup.” Sang Moon berkata sambil memencet ponselnya.

Rupanya ia telah merekam pembicaraan kami. Aku yakin, bagian saat Siwon mengemukakan alasannya itu juga ikut terekam.

“Pamanku itu anggota kepolisian di departemen kriminal di distrik Gangnam. Rekaman ini bisa segera kuberikan kepadanya sebagai bukti untuk menahanmu.” lanjutnya.

Kuakui, langkah Sang Moon sangat brilliant. Merekam pengakuan Siwon di ponselnya. Lalu rekaman tersebut bisa dijadikan alat bukti pamungkas untuk dilaporkan kepada pihak berwajib. Raut wajah Siwon berubah menjadi sekeruh waduk yang tak pernah dikuras. Mendengar kata polisi dan penahanan tentu saja membuatnya jadi jiper.

“Tunggu dulu. Kita masih bisa menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan, bukan?”

“Kalau itu masih belum terlambat. Bagaimana, Noona?” Sang Moon menatapku. Menunggu diriku menuntaskan pertanyaan retorisnya. Namun baru saja aku akan membuka mulut, ibu sudah menyela pembicaraanku terlebih dahulu.

“Apakah Anda bisa berjanji hal ini tidak terjadi lagi? Baik kepada anak saya ataupun yang lain?” ibu berusaha membuat Siwon berjanji. Jujur, aku sedikit heran juga ragu.

Kami semua pun menitikberatkan mata kami kepada Siwon yang masih belum menggerakan mulutnya. Aku memberikan sinyal kepada ibuku, ‘mengapa-ibu-berkata-seperti-itu?’ dengan menyenggol lengannya. Sedangkan ibuku hanya membalas mengusap lenganku. Seakan ia berkata ’tenang-semuanya-akan-jadi-baik-baik-saja’.

“Tentu. Saya berjanji dengan nyawa saja sebagai taruhannya, dan atas nama Tuhan. Hal tersebut tidak akan terjadi lagi.” Janji Siwon mantap.

Flashback end.

Tanpa sadar, aku sudah tiba di Stasiun Suwon. Kegiatan melamun tadi ternyata memakan waktu cukup banyak juga. Kuayunkan langkahku meninggalkan Stasiun Suwon dan menapaki anak tangga menuju exit 6. Dari arah sini aku hanya tinggal berjalan kaki sekitar dua menit untuk mencapai gerbang SD Suwon.

Aku menyapa petugas keamanan yang berjaga di depan gerbang. Lalu, dengan segera, pria paruh baya berkumis tipis itu membukaan gerbang dan membiarkanku masuk.

“Paman, Joheun Achimieyeo!

“Oh, Sooji-ssi Joheun Achime! Akhirnya kita bertemu lagi! Kenapa aku terdengar seperti merindukanmu ya? Hehe.” canda bersera petugas berseragam biru benhurnya itu.

Jeongmalyeo? Hahaha. Anda bisa saja. Kalau begitu saya masuk dulu ya, Paman.”

“Oh iya, temanmu itu sudah datang lho. Dia bilang dia menunggumu di dekat pohon ek itu.” Lanjut paman yang kukenal bernama Lee Hyukjae itu.

“Oh oke. Terima kasih!” Aku meninggalkan Paman Lee yang langsung duduk di kursinya sambil membaca koran paginya.

Aku memutuskan untuk menolak bekerja kembali di kantor itu. Rasa trauma yang menyelimutiku masih tersisa. Makanya, aku memilih untuk menjadi Pembina Red Cross untuk SD, SMP, maupun SMA di sekitar Seoul. Untuk bayaran aku tak terlalu peduli. Toh, aku melakukannya karena aku menyukainya.

Aku juga punya berita besar!

Tahun depan aku memutuskan untuk mendaftar ke bangku perkuliahan. Kabar gembira bukan? Pundi-pundi yang aku sisihkan setiap bulan dalam kurun waktu setahun aku bekerja ternyata cukup untuk bekal masuk kuliah. Ibu juga sangat mendukung keputusanku itu. Aku memilih sebuah universitas swasta yang berada di pinggiran kota Seoul. Biaya yang ditawarkan juga tidak terlalu menguras dompet. Sesuailah dengan kondisi ekonomi keluargaku. Aku pun dengan mantap menetapkan jurusan Manajemen sebagai majorku.

Kembali ke SD Suwon. Kulihat siluet seorang pria yang berdiri menghadap dekat pohon ek yang dibilang oleh Paman Lee tadi. Dedaunan yang menguning dan saling berguguran ke tanah menciptakan pemandangan yang cukup indah ketimbang pria yang berdiri di sampingnya dengan cengiran konyol yang terpampang di wajahnya.

“Hei Sooji! Kau sudah datang? Lama sekali sih!” sapa Donghae. Ya, pria berhidung bangir ini memang partner abadiku dalam kegiatan ini.

Eoh. Siapa suruh kau tidak menjemputku?” aku menghampirinya dan menghadiahi bahu Donghae dengan satu ‘sentuhan gigitan semut’ yang diakhiri erangan kesakitan darinya.

“Aaaaw. Yaa! Kau bilang tak usah menjemputmu! Sekarang kau malah menyemprotku!”

“Aku bilang begitu ya? Aku tidak ingat tuh.” ujarku santai. Selanjtunya dapat kutebak Donghae pasti keki.

“Ya, ya, terserah kau. Sekarang ayo segera persiapkan peralatan untuk latihan nanti.”

Aku mengikuti Donghae yang mendahuluiku ke ruang UKS di ujung pohon ek tempatnya berdiri tadi. Jadi kali ini, kami akan melakukan latihan Basic Life Support (BLS) pada murid tingkat enam Sekolah Dasar. BLS ini penting untuk penyelamatan pertama pada korban yang henti napas atau henti jantung. Prosedur intinya berupa Cardio-Pulmonari Resuscitation (CPR) yang meliputi pemberian napas buatan dan penekanan dada.

***

Dari pengalamanku di atas, aku menyadari sesuatu. Aku ini gadis yang polos. Lalu, kepolosanku itu malah dimanfaatkan oleh oknum dengan ikhwal yang tak baik. Aku yang mengira semua orang di dunia itu pada dasarnya baik, terkecoh oleh sikap baik Siwon.

Senang memang bila memiliki boss yang baik dan perhatian. Tapi kita harus tahu. Apakah ada maksud tersembunyi dari aksi tersebut? Aku sungguh naif. Ternyata kebaikan Siwon kepadaku itu palsu.

Don’t judge book by its cover itu tak usah diragukan lagi kebenarannya. Karena aku sendiri telah mengalaminya. Dari luar Siwon terlihat baik dan perhatian namun siapa tahu ia memiliki niat untuk menyakitiku.

Sungguh, sejak saat itu aku pun berubah. Aku jadi tak mudah dipengaruhi orang seperti biasanya. Pikiranku pun menjadi tiga langkah lebih maju ke depan. Selain itu aku juga mengambil kelas aikido dengan Donghae setiap akhir pekan guna meningkatkan proteksi diriku sendiri.

Di satu sisi aku juga patut bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena mengirim para malaikatNya. Ibu, Sang Moon, Donghae, tak lupa Hyojung Eonni selalu setia berada di sampingku untuk menguatkanku. Teguran yang Ia berikan justru membuatku jadi makin dekat dengan orang-orang terkasihku.

***

“Donghae…” panggilku kepada Donghae yang tengah memeriksa komputer untuk kelengkapan latihan kami nanti.

“Apa?”

“Itu.. Hm..” aku menggantungkan kata-kataku. Selanjutnya tanpa rasa bimbang aku pun dengan mantap melanjutkan. “Terima kasih sudah menjadi Lee Donghae – sahabatku selama ini.”

Donghae menghentikan kegiatan menerawang layar kompi di depannya dan menyipitkan kedua matanya. Ia lalu tersenyum sambil mengangguk.

“Hanya itu?”

“Tidaklah! Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih karena selalu berada di sisiku setiap saat bahkan tanpa kuminta. Terima kasih karena kau tak pernah absent melontarkan lelucon untuk menghiburku. Terima kasih sudah menjadi sahabat dan teman untukku! Lee Donghae, gomawo!”

Aku mengatakannya dengan kadar ketulusan tingkat tinggi mengingat segala kebaikan tanpa pamrih seorang sahabat seperti Donghae. Tiba-tiba aku jadi sentimentil seperti ini. Tanpa canggung aku pun meraih bahu pria itu dan mendekapnya. Ia pun lekas menepuk bahu mungilku tersebut. Membalas dekapanku dengan dekapan lainnya.

Lihatlah? Bukankah kami ini sahabat yang benar-benar saling melengkapi? Tak peduli dengan anak-anak yang akan melihat nanti. Yang terpenting aku ingin berterima kasih kepada sahabatku ini!

***

Be a right person, just gotta be true to your self. Just don’t let your true identity fades away by wearing mask. – xnr.

***

END.

a/n:

lagi,ff ini awalnya dibuat untuk mengikuti KSF writting contest waktu saya masih menjadi freelancer tetapi diurungkan karena length yang melebihi kuota.

DONT BASHING AFTER READING ya.

and have a nice day~

xianara-sign

25 responses to “[Oneshot] The Mask

  1. jaman skarang emng bnyak orng yg dpan nya baik tp di blkang busukk ,, kasihan sooji,, tp untung ad donghae yang slalu membantu dan menemaninya ,, aq pkir awalnya donghae bkl suka ma sooji ,, tp gg tau dechh ,, yg jelas orng kyk siwon hrus nya berubah ke jalan yang baikk

  2. Keren!
    Ini cukp banyk trjadi di dunia nyata!
    Btw, ga nyangka bangt, di balik sikap pnuh kharisma Siwon trsimpan sbuah kebusukan yg dngan pintrny ia tu2pi di balik topengny, dan sialny malah Suzy yg bgitu mnghargainy yg malah kena cipratan kebusukan namja tsb! Ckck
    untng aja Suzy ga mudah lu2h dngan rayuan geu namja!
    Aish! Siwon jjinja!
    Bnr2 ga bisa diprcaya!
    Daebak Thor!
    Aku tunggu ff mu yg lain!
    Keep hwaiting! ^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s