[ONE SHOOT] LOVE IS A NIGHMARE

wpid-126_edit_14

Author ohohmr || Main Cast : Kim Myungsoo INFINITE as Minsoo – Bae Suzy MISS A as Suzy || Other Cast : Mark Tuan GOT7 as Mark || Genre : Romance, Sad, Comedy || Rating : PG-15 || Length : One Shoot || Disclaimer : Cast adalah milik Tuhan dan cerita adalah milik saya. Thanks.

Summary : Look. Love is a nightmare, huh? Time’s over.

(VIXX–Eternity)

Happy reading viewers

.

.

.

.

.

Minsoo menyusuri jalanan kota Mokpo yang sepi menggunakan sepeda gunungnya. Pikirannya sedang kacau. Akhir-akhir ini ia juga jadi sering bermimpi buruk. Entahlah, seorang gadis yang beberapa hari lalu ia temui telah mengusik pikirannya.

Kenapa aku ini? batinnya dalam hati.

Ia mengacak-acak rambutnya kesal. Sepeda yang dikendarainya oleng, mungkin itu karena Minsoo terlalu ceroboh atau mungkin juga ia tak sadar bahwa kedua tangannya yang bertugas mengontrol laju sepeda sudah lepas dari pegangan sepedanya. Betapa bodohnya.

Sepeda yang dikendarainya itu ambruk dan tubuh Minsoo terjungkal cukup jauh dari lokasi insiden ‘kecelakaan sepeda’ itu terjadi. Kaki serta tangannya memar, kepalanya yang  terbentur aspal tampak luka. Luka itu cukup serius karena kulit di bagian dahinya sobek akibat terbentur tadi. Minsoo yang malang..

Anehnya Minsoo sama sekali tidak mengerang kesakitan dengan kondisinya yang seperti itu, atau setidaknya bergaya layaknya orang yang terluka pada umumnya. Ada apa ya?

Gadis itulah jawabannya. Gadis yang sedari tadi memenuhi pikirannya kini berdiri di depan tubuh Minsoo yang tergeletak di aspal.

“Kau baik-baik saja?” tanya gadis itu santai. Tidak ada ekspresi khawatir yang terlihat dari wajah itu.

Minsoo terdiam.

Gadis itu berinisiatif membantu Minsoo untuk bangkit. Ia memapah seorang Minsoo. Gadis tersebut tinggi dan berisi, ia memiliki tubuh yang ideal. Secara keseluruhan, tubuhnya termasuk sangat atletis bagi seorang gadis. Entahlah, mungkin dia seorang pegulat, atau..? Sudahlah, kalian tidak perlu tahu. Tidak penting juga.

“Namaku Bae Suzy, panggil aku Suzy saja. Kita belum sempat saling berkenalan sebelumnya.” Suzy memperkenalkan dirinya terlebih dahulu setelah ia selesai mendudukkan Minsoo di kursi panjang di depan minimarket.

Gadis itu pergi.

Rasa kecewa tertoreh di wajah Minsoo. “Hmm..” dengusnya.

Selang 7 menit kemudian, gadis itu kembali dengan membawa kotak P3K. Wajahnya berkeringat, napasnya memburu. Oh, ternyata dia habis berlari. Namun anehnya, wajah Suzy sama sekali tidak terlihat letih.

Menarik, ujar Minsoo dalam hati. Minsoo tersenyum sekilas, padahal tidak ada hal yang lucu. Aneh. Saat ini Suzy sedang sibuk membaca aturan penggunaan kotak P3K yang ia bawa tadi, maklum.. ini adalah kali pertamanya Suzy memegang kotak itu. Ia masih pemula. Oh, ternyata itu alasan mengapa Minsoo tadi tersenyum.

“Maafkan aku. Aku kurang handal dalam mengobati seseorang.” kata Suzy dengan nada datar. “Jadi, sekarang bagaimana? Kau setuju aku obati? Aku tidak janji lukamu itu akan sembuh, aku malah takut jika luka itu tambah parah karena kecerobohanku.”

Minsoo menatap Suzy dengan tatapan sok cool, hmm.. padahal saat ini hatinya sedang berbunga-bunga dengan kehadiran sang gadis pencuri memori otaknya. “Obati saja dulu. Masalah lukaku akan sembuh atau tidak, itu biar aku sendiri yang tanggung.”

Suzy mengangguk setuju, “Baiklah kalau itu maumu.”

Perlahan tapi pasti, Suzy menuangkan alkohol ke daerah kaki Minsoo yang terluka. Disekanya cairan alkohol yang mengalir melewati area luka dengan kapas.

Gadis itu mengobati Minsoo dengan sangat hati-hati dan teliti. Dia tidak terlihat seperti seorang pemula.

Minsoo sama sekali tidak terlihat kesakitan, ia malah senang. Alasan mengapa dia seperti itu pasti kalian sudah tahu sendiri. Jelasnya adalah, Minsoo itu tipikal cuek. Mau bagaimana pun ia terluka, jika disitu ada benda atau seseorang yang disukainya, ia akan dengan gamblangnya melupakan rasa sakitnya. Tipikal seperti itu jarang ditemui. Bisa dibilang Minsoo merupakan spesies orang yang unik.

“Kalau sakit bilang, ya?” Suzy menghentikan aktivitasnya sejenak, ia kemudian menyempatkan diri untuk menatap Minsoo yang juga sedang menatapnya sedari tadi. Minsoo yang tertangkap basah oleh kedua mata Suzy tetap pada pendiriannya, ia tak sekali pun mengalihkan pandangannya dari Suzy. Suzy sudah menyadari hal itu sejak lama, namun ia lebih memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Suzy berdiri, ia menangkup wajah Minsoo, hal itu membuat jantung Minsoo berpacu dengan kecepatan penuh. Hawa panas menyelimuti wajahnya. Dalam hati Suzy berkata, hahaha.. aku menang! Neo pabo-ya.

Ternyata Minsoo hebat juga, ia dengan mudah dapat mengontrol mimik wajahnya, wajah itu terlihat tenang walau hatinya berkata lain.

Suzy meniup lembut luka sobek di dahi Minsoo. Jarak antara Suzy dan Minsoo sangat dekat, hal itu membuat Minsoo dengan leluasa menghirup aroma parfum lavender yang Suzy pakai. Sebagai lelaki ia pasti sangat tergoda kepada benda di depannya. Benda itu terus menyentuh ujung dagu Minsoo, hal itu membuat Minsoo menjadi geli. Ya, benda itu adalah dada Suzy. Tentu para kaum adam sangat menikmati sensasi seperti itu, bukan?

Suzy sudah selesai mengobati seluruh luka Minsoo, gadis itu kemudian menjauh dari dekat Minsoo. “Selesai sudah, sekarang kita impas.”

Minsoo memperhatikan plester yang memenuhi kaki dan tangannya, “Hmm.. kerja yang bagus. Terima kasih, Suzy-ah.”

“Kau bahkan belum sempat menyebutkan namamu tadi,” koreksi Suzy.

“Maaf, itu privacy.”

Suzy mengerjapkan matanya selama berulang-ulang kali, mungkin ia sedang mencerna kata-kata yang di lontarkan Minsoo barusan. “Menyebalkan!” kini nada suara Suzy mulai meninggi.

Senyum sumringah terpancar di wajah Minsoo, “Hahaha.. aku bercanda kok.” Minsoo kemudian mengisyaratkan Suzy untuk duduk di sebelahnya. “Namaku Kim Minsoo.”

Hari sudah sore–hampir malam, namun mereka masih duduk di kursi panjang itu sambil mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, hanya mereka berdua yang tahu.

.

.

.

.

.

Lagi-lagi Minsoo bermimpi buruk. Sebuah pertandakah itu?

.

.

.

.

.

“Mark, kau kenal dengan gadis itu?” tunjuk Minsoo kepada gadis yang sedang santap siang di ujung kantin.

Mark mengangkat bahu. “Memangnya ada apa? Tumben sekali kau bertanya soal wanita padaku.”

“Aku tertarik padanya,”

Pernyataan itu membuat Mark terpaku, ia menghentikan acara makannya. “Kau serius?” tanya Mark tak percaya.

Ada alasan kenapa Mark merespon seperti itu. Mark adalah teman Minsoo sejak duduk di bangku kelas 1 SMP. Ia kenal betul dengan yang namanya Minsoo. Minsoo bukan lelaki yang gampang tertarik kepada yeoja, secantik apapun yeoja tersebut tetap saja sulit menembus kriteria Minsoo. Kriteria yeoja idaman Minsoo sangat sulit di tebak dan sulit juga untuk di dapat. Sekalinya ada, itu benar-benar harus dijaga. Karena jika terlepas, maka hilanglah kesempatan Minsoo untuk mendapatkan hati yeoja tersebut, dan.. yang tersulit lagi adalah mencari penggantinya.

“Wah, akhirnya setelah sekian lama kau mendapatkan seorang yeoja idamanmu.” Mark tersenyum bangga.

“Jangan begitu. Aku belum mendapatkan gadis itu, jadi kau jangan senang dulu.”

“Tapi aku sempat curiga bahwa kau itu ada kelainan. Kukira kau menyukai sesama jenis, maka dari itu aku sangat senang mendengar berita ini. Hahaha…”

Minsoo mengacuhkan Mark, ia malas menanggapi segala ocehan yang tak berujung pada sesuatu yang menguntungkan dirinya. Ia lebih memilih terus menatap gadis di ujung sana ketimbang berbicara dengan tante namja bawel seperti Mark.

“Habiskan dulu makananmu baru bicara. Sebaiknya kau harus belajar kode etik yang benar jika ingin berteman denganku.”

Mendengar hal itu Mark tak berekspresi, ia tetap fokus kepada makanannya karena ia beranggapan bahwa Minsoo sedang bercanda–padahal tidak.

.

.

.

.

.

Memang benar jika beberapa hari sebelum kecelakaan sepeda itu Minsoo pernah bertemu dengan Suzy. Dimana? Di sekolah. Mereka berdua satu sekolah, gadis yang dilihat Minsoo saat di kantin kemarin adalah Suzy.

Kesukaan Minsoo kepada Suzy bermula sejak saat itu..

FLASHBACK ON

Pak Ahn, pelatih atletik SMA Mokpo, meniup peluitnya.

Mendengar aba-aba itu, seorang gadis yang sedari tadi bersiap di lapangan segera berlari. Seminggu yang lalu rekor lari sprintnya adalah 5 detik untuk jarak 100 meter. Tidak tahu apa sekarang akan lebih baik atau tidak. Nyatanya gadis itu berlari sedikit lebih cepat dari minggu lalu. Luar biasa!

Minsoo duduk di tribun penonton yang sepi karena hari ini klub atletik sedang latihan dan bukan bertanding. Ia melihat penampilan berlari gadis tersebut. Ia penasaran dengan skill lari yang di miliki gadis itu. Tanpa sadar ia mulai berjalan turun ke lapangan untuk melihat lebih jelas lagi.

Bip!

Pak Ahn menghentikan laju stopwatchnya ketika gadis itu sudah sampai finish.

“Rekormu adalah 4,5 detik. Berusahalah. Kau pasti bisa, Bae Suzy.” ujar Pak Ahn mencoba menyemangati gadis yang bernama Suzy itu.

“Baik, Pak!” jawab Suzy lantang.

Hari sudah sore dan kegiatan atletik di hentikan. Sudah jamnya untuk kembali ke rumah masing-masing. Namun seseorang masih saja berlari mengelilingi lapangan. Ia sudah tampak letih namun tetap memaksakan diri untuk berlari terus non stop.

Minsoo juga ternyata masih disitu, ia memperhatikan setiap gerak-gerik yeoja yang sedang berlari di lapangan itu.

BRUKK!!!

Yeoja itu tumbang.

Dengan sigap Minsoo segera berlari menuju yeoja tersebut jatuh.

“Hei!” Minsoo berusaha mengecek kesadaran sang yeoja dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya.

“Uhuk.. uhuk..” yeoja itu tiba-tiba saja batuk. Tidak, bukan sekedar batuk tapi batuk itu disertai dengan darah.

Minsoo melepas dasinya, ia menggunakan dasi itu untuk menyeka darah yang keluar dari mulut yeoja itu. Perasaan panik menggerayanginya. Ia kemudian menggendong serta membaringkan yeoja itu di ruang kesehatan. Sudah malam, tidak ada lagi dokter yang bertugas disana. Ruang kesehatan tampak kosong melompong. Tidak ada orang sama sekali. Beruntung Minsoo memiliki keahlian sang Ayah. Ia mengambil obat-obatan yang di perlukan untuk meredakan penyakit yeoja yang terbaring lemah di kasur. Setelah yeoja itu baikan, Minsoo mengambil kompres. Ia merasakan tangan yeoja itu panas, begitu pula dengan dahinya. Minsoo menaruh kompres itu di dahi sang yeoja, berharap malam ini juga yeoja itu siuman.

Kartu pengenal yang tertera di baju sang yeoja memperlihatkan identitas, seperti nama dan juga kelas. “Hmm.. Bae Suzy..” gumam Minsoo parau. Ia terlihat letih. Tenaganya terkuras bukan karena Minsoo menggendong atau berlari hingga sampai ke ruang kesehatan, tapi ia letih karena perasaan panik bercampur khawatir yang saat ini melandanya terus berkecamuk di dalam pikirannya. Ia masih belum menyadari sesuatu. Bodoh.

Sudah diputuskan, Minsoo akan menjaga yeoja itu hingga ia siuman nanti. Namun mengingat hari ini ia ada janji makan malam dengan keluarganya, ia pun berusaha mencari nomor keluarga yeoja itu di dalam kantong celana sang yeoja.

Ia memasukkan jemarinya perlahan, dan didapatinyalah handphone yeoja tersebut.

11 panggilan tak terjawab–Eomma.

Minsoo menekan tombol call.

Tersambung!

Tak sampai hitungan 5 detik, orang diseberang sudah mengangkat panggilannya. “Suzy-ah? Akhirnya kau menelepon Ibu!”

“Maaf, Bu. Bae Suzy, anak anda, sedang dalam keadaan pingsan. Saya menunggu kedatangan anda di ruang kesehatan sekolah.”

Sebelum wanita itu sempat berkata lagi, Minsoo segera memutuskan sambungan. Ia malas berurusan dengan seseorang yang tidak ada hubungan dengannya.

Tak lama kemudian, wanita yang ditelepon Minsoo datang dengan keadaan wajah yang dipenuhi kepanikan. Ia mendekati Minsoo, bertanya bagaimana keadaan putrinya. Tanpa melontarkan sepatah omongan pun, Minsoo mengisyaratkan bahwa putrinya baik-baik saja, kemudian ia pamit undur diri.

FLASHBACK OFF

.

.

.

.

.

Entahlah, ia sendiri bingung mengapa ia tertarik kepada Suzy. Ia hanya mengikuti apa kata nalurinya saja. Sudah 3 hari berturut-turut ia melihat Suzy latihan, ia merasa keringat yang bercucuran di dahi yeoja itu saat berlari membuatnya tampak begitu sexy.

Suzy dan Minsoo berada di kelas yang berbeda, namun mereka satu angkatan. Membingungkan memang, padahal kelas mereka berseberangan tapi kenapa Minsoo tidak pernah mengenal dan mengetahui Suzy, atau pun sebaliknya? Sudahlah, itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah.. dimana Suzy?

Minsoo terus mencari keberadaan Suzy, sejak bel masuk sekolah berbunyi wajah  Suzy tak nampak di matanya. Ada apa sebenarnya?

.

.

.

.

.

“Uhuk.. uhuk..” Suzy terus-menerus batuk. Batuk itu disertai dengan darah. Tenggorokannya kering, ia jadi sulit berbicara. Bibirnya putih sekali, memucat di setiap sudutnya. Suzy yang malang..

Ia masih saja berkutat di toilet sekolah sejak pagi tadi. Dirinya tak berani memasuki kelas dengan mempertontonkan lumuran darah yang mengotori seragamnya. Ia tak ingin orang-orang menganggapnya sebagai seorang yang penyakitan, walau di realitanya hal itu memang benar.

Suzy memang mengidap penyakit.

Suzy membutuhkan udara segar, ia akhirnya berjalan ke belakang taman sekolah, kemudian meringkuk di bawah pohon. Ia memeluk erat tubuhnya, terpaan angin ternyata membuatnya kedinginan. Serba salah memang.

Tiba-tiba seseorang menepuk puncak kepalanya. Ah, Minsoo-ya.. ujar Suzy dalam hati, ketika mengetahui siapa yang datang.

“Ada apa dengan seragammu?” tanya Minsoo–tatapannya menginterogasi.

“Tidak apa-apa,” Suzy berbohong. Namun Minsoo tidak bodoh, ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Firasatnya benar.

“Ayo, kutemani kau ke ruang kesehatan,” ajak Minsoo.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin Eommaku khawatir. Jika aku berada di ruang kesehatan, kau pasti akan menyuruh Eomma untuk datang,” Suzy menunduk. Firasat Minsoo mengatakan bahwa sebentar lagi yeoja itu akan menangis.

Binggo!

Firasat Minsoo..

SALAH BESAR!!!

Ternyata yeoja itu sedang flu. Terlihat seperti sedang menangis memang, tapi saat ini ia tidak menangis melainkan sedang menarik ingus yang hampir saja keluar dari hidungnya. Udara dingin membuatnya terserang flu.

Minsoo duduk di sebelah Suzy. Kepala Suzy yang tadinya bersandar di pohon kini beralih posisi, tangan Minsoo mengarahkan kepala yeoja itu ke pundaknya, katanya, “Jika kau tidak ingin kubawa ke ruang kesehatan, setidaknya biarkan aku terlihat berguna.”

Pundak Minsoo sedikit terguncang karena anggukkan kepala Suzy. Tangan Minsoo mendekap pundak Suzy yang sedang kosong. Tangannya yang satu lagi menggenggam jemari Suzy, berusaha memberi kehangatan.

Suzy tak bereaksi, ia mempersilahkan Minsoo berbuat sesukanya selama itu masih di bawah batas kewajaran.

“Suzy-ah..”

“Hmm..?”

“Bagaimana kesan pertamamu terhadapku?”

“Mmm.. kau baik karena telah menolongku,” Suzy berbicara dengan mata yang layu–seperti mengantuk, “Kau luar biasa pintar menyembunyikan perasaanmu.” sambungnya. “Kau juga mesum,” Suzy tersenyum nakal.

“Baru kali ini aku melihatmu tersenyum,” ujar Minsoo. Ia sepertinya tidak menyadari sesuatu. Itulah akibat jika terlalu terpesona dengan senyuman seorang yeoja. “Apa katamu? Aku mesum?!”

“Tambahan lagi, kau lamban. Neo pabo-ya. Lihat sendiri ‘kan? Kau baru sadar bahwa aku mengataimu mesum. Pabo!”

“Bagaimana kau–”

Suzy memotong perkataan Minsoo, “Aku sengaja melakukan hal itu. Memangnya aku yeoja murahan? Aku hanya sedang mengetesmu, tapi ternyata kau hebat juga dalam pengontrolan mimik wajah. Daebak!”

“Tapi dadamu adalah yang terbaik! Hahaha..” tawa Minsoo menggelegar.

Suzy mencubit perut Minsoo, namun itu tak terasa sakit karena saat ini Suzy sedang tak bertenaga.

Mereka berdua tertawa bersamaan.

“Aku.. men–” belum sempat Minsoo melanjutkan kata-katanya, lagi-lagi Suzy memotong.

“Nado. Saranghaeo, Minsoo-ya..” ujar Suzy, ia sepertinya dapat membaca pikiran orang, bahkan dengan kondisinya yang sedang sakit seperti saat ini.

Minsoo menatap Suzy, wajahnya berseri-seri. Ia senang cintanya terbalaskan. “Jadilah yeojaku?”

Suzy mengangguk, “Mmm..” matanya mengerjap lemah.

Tanpa aba-aba yang pasti, Minsoo mencium bibir Suzy. Cukup lama.

Tapi… kenapa ia tak dapat merasakan napas Suzy?

Matanya yang tadi terpejam dibukanya. Minsoo mengusap pipi Suzy lembut, berusaha membangunkan Suzy yang sepertinya sedang tertidur. “Suzy-ah..”

Tidak ada respon apa-apa.

Detik berikutnya Minsoo mengecek nadi Suzy.

BLAARRR!!

Petir seperti menyambar kepala Minsoo.

Ia membeku mendapati tubuh Suzy yang makin lama semakin mendingin tanpa bisa ia atasi.

Tes! Tes! Tes!

Butir-butir air mata bermunculan, detik berikutnya butiran-butiran itu melesat melewati pipi Minsoo dan bermuara di ujung dagunya.

.

.

.

.

.

Mimpi buruknya benar-benar terjadi. Ia tak menyangka jika hal itu adalah sebuah pertanda bahwa Suzy akan meninggalkan dirinya untuk selama-lama-lama-nya–selamanya.

Sudah 5 hari sejak kepergian Suzy..

Minsoo mengurung diri di kamar. Ia tak mau makan atau pun minum. Ia hanya ingin Suzy kembali, hanya itu.. tapi itu mustahil. Semua yang terjadi berdasar atas kehendak Tuhan, manusia tidak dapat mencegahnya.

Bayangan Suzy selalu terngiang-ngiang di benak Minsoo. Ia tak rela melepas Suzy, kriteria idaman yang sulit ia temukan itu.

.

.

.

.

.

6 Oktober 2013 Pukul 15:20, itu adalah hari dimana Suzy meninggal di relungan Minsoo. Ternyata Suzy menderita penyakit Tuberculosis atau yang lebih dikenal dengan sebutan TBC.

.

.

.

.

.

Minsoo sudah kembali ke kesehariannya, namun ia masih berduka. Namja itu sudah berubah. Kini ia menjadi dingin dan sangat sensitif jika ditanya soal wanita.

Tiap harinya pikiran Minsoo akan selalu menerobos ke masa lalu, masa di saat Suzy meninggal di pelukannya. Masa dimana ia baru saja akan berbahagia. Ia sangat rindu masa itu.

Sepeninggalan Suzy, Minsoo menjadi aneh. Tiap tanggal 6, bulan apa pun itu, Minsoo akan bertingkah seperti orang gila. Pertama-tama ia akan pergi ke pohon di belakang taman, tempat dimana ia dan Suzy terpisah oleh maut. Setelah dari sana ia akan ke lapangan, ia berlari mengelilingi lapangan hingga ia letih sendiri. Selanjutnya Minsoo akan ke ruang kesehatan, ia berbaring disana, entahlah.. ia hanya berbaring, tidak melakukan apa-apa. Dan yang terakhir adalah, ia akan pergi ke tempat tinggal Suzy, hanya untuk bertemu Eomma Suzy. Minsoo yang malang..

Dokter mendiaknosa bahwa Minsoo menderita trauma psikis yang dalam, dimana ia akan terus merasakan kesedihan, maka dari itu ia melakukan aktivitas-aktivitas aneh tersebut. Trauma itu menyebabkan sang penderita ingin ikut merasakan ‘hal-hal’ yang di lihatnya semasa ‘seseorang yang meninggalkannya’ itu hidup dulu.

Orang-orang terdekatnya tidak dapat berbuat apa-apa, mereka hanya bisa mengawasi Minsoo dari kejauhan.

THE END
Saya author baru disini. Kenalkan nama pena saya ohohmr. Salam kenal. Semoga kalian suka dengan ff saya yang satu ini, ini adalah publish’an pertama saya disini. Mohon diberi penilaian (what do you think?). Silahkan spam kotak comment di bawah ini, jika kalian melakukannya, saya akan sangat senang.

Oh iya, saya jg ingin berterima ksh kepada para readers yg sdh membaca ff ini tp tdk tahu ingin mengomentari apa di kotak comment di bwh ini, walau kalian berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak, saya tetap senang krn kalian sdh membaca ff saya ini. Terima kasih.

19-20 Feb 2015

72 responses to “[ONE SHOOT] LOVE IS A NIGHMARE

    • saya sk ending yg sad wkwk.. serius. itu hanya sekedar hobby aja. nanti saya bkl buat yg happy,mohon di tunggu ya karya saya selanjutnya. terima ksh

  1. sebelum baca ceritanya.. sempet waswas karena ini >> Genre : Romance, Sad, Comedy . Kenapa juga itu si SAD nyempil ditengahh huaa ;( ternyata benardugaan saya kalau bkal sadending ,kasian myung baru aja ketemu yeoja idamannya eh malah ditinggal pergi selamalamanya😦 wlcm thor!!suka banget sama karyamu!!feelnya dapet dan tata bahasanya rapi JjangJjang!!ditunggu sequel atau new ffnya!! Fighting!

  2. aq penasaran sm ff km yang sebelumnya dan aq cari dan ternyata juga sama sama sedihhh ahh ku kira pas suzy minsoo yang jatuh kan di deskripsi in muka suzy tampa ekspresi dan ga lelah saat lari tadi, ku pikir? mungkin suzy hantu juga disini tp ternyata bukan kkk dan ternyata disini sad ending lagi walaupun disini suzy yang harus pergi dan minsoo yang harus sedih huaaa,aq sukaaa
    ditunggu ff sad ending lainnya/loh?/*kkk….

  3. Huhu mngkin mreka jdian ga nympe’ lima menit yaa,, suzy langsung pergi selamanya pas di plukan myungsoo..
    Dan si myungs smpe trauma gara2 dtinggal suzy..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s