Wedding Dress [chapter 2]

wedding-fress

xianara presents:

Wedding Dress – Second Vision

Bae Suzy and Kim Myungsoo, and others || Drama, Romance, AU, Life, Angst, Slight!, Friendship || PG 15 || Chaptered: Teaser 1

disclaimer: beside the story and poster i own nothing!

So in my lone thoughts, there is always a place for you. Did i find you?

Enjoy reading

Wedding Dress

Setelah membasuh wajahnya yang kuyu gadis bersurai cokelat madu itu pun segera mengeringkan tangannya pada hand dryer yang menggantung di dekat kaca toilet. Ia seperti mengalami dejaboo, dejava, deja vu? Ah pokoknya hal yang seperti itu.

Peristiwa yang barusan melewatinya rasanya seperti sudah pernah ia alami tanpa sadari. Berawal dari sebuah rupa seseorang yang bisa dibilang cukup familiar. Wajah yang mengingatkan masa lalunya. Atau mungkin dia itu?

Masa lalu yang dengan setia berdiri di barisan paling belakang di lobus frontalnya pun perlahan merangsek maju. Wajah itu memang familiar, Nona! Itu dia!

“Tck, ” Suzy meloloskan decakan malas mendengar hipotesa masa lalunya.

“Dia itu siapa? Aku saja tidak tahu. Hidupku selama ini sudah baik-baik saja kok. Apa yang salah? Dasar!”

Neuron pada zona memori di dalam otaknya memang sering berlaku seperti itu. Mengingat ia mengidap suatu kelainan pada fungsi otaknya, amnesia disosiatif, yang diebabkan oleh tragedi yang terjadi di masa lalu yang meninggalkan rasa trauma yang begitu mendalam. Sehingga membuatnya kehilangan beberapa informasi personal mengenai pribadi seseorang yang bersangkutan.

Suzy pun memilih mengabaikan si masa lalu yang masih sibuk bercuap-cuap di dalam pikirannya. Segera ia meninggalkan toilet yang lebih mirip kamar tidur karena saking bersihnya itu. Ia pun merajut langkah menuju pintu toilet berwarna putih lesi tersebut lantas menariknya.

Setelah daun pintu itu tertutup ia mendengar seseorang yang menyerukan namanya dari belakang. Sontak ia pun langsung membalikan badannya.

“Suzy?” panggil seseorang kepada Suzy yang baru saja keluar dari toilet wanita.

Suzy terlonjak kaget dibuatnya. “Oh. Myungsoo. Ada apa?” ia pun memandang heran Myungsoo yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

“Kau masih marah kepadaku?” tanya Myungsoo ragu. Ia sendiri tak percaya mengapa ia berani bertanya seperti itu kepada Suzy. Belum tentu Suzy yang berdiri di hadapannya ini adalah orang yang sama yang pernah ada di dalam hidupnya saat SMA dulu.

“Marah? Karena apa? Kita kan baru bertemu.” gurat kebingungan muncul di paras gadis itu. Namun ia juga merasa familiar dengan wajah pria di hadapannya. Semakin ia paksa memori di otaknya untuk mengingat, Suzy tak kunjung berasil untuk meningatnya.

“Kau tidak mengingatku? L? SMA Jongno..” Myungsoo berkata pelan. Perasaan takut akan kehilangan muncul kembali setelah kurun waktu sewindu kurang dua tahun yang berusaha ia kubur dalam-dalam.

Neuron dalam zona konvergensi gadis itu tiba-tiba berkontraksi. Kepala gadis itu seketika pening mendengar pria di hadapannya menyebutkan kata yang asing namun terasa sangat familiar. Ribuan potret kenangan seakan menyeruak dengan paksa untuk keluar. Mereka saling berebut untuk mendapatkan posisinya yang seperti sedia kala.

Fragmen dua anak manusia yang sedang bersepeda di taman dekat sungai yang memisahkan Seoul berputar. Disusul dengan potongan adegan Suzy yang sedang tertawa lepas sambil menunjuk wajah seseorang yang bermasker lumpur. Sehingga sampai pada klimaks dari proses loading memory tersebut, di mana ia sedang menangis sambil menahan sedu sedan supaya tidak terdengar dengan menggigit tangannya keras. Potongan kecil memori itu jumlahnya sangat banyak.

“L for Myungsoo. Apakah mungkin?”

Gadis itu berusaha untuk tidak terlihat kesakitan. Ia pun memijat pelan tengkuknya. Berusaha merelaksasikan prosesor penting di kepalanya yang overworking. Ia pun menggelapkan penglihatannya selama lima detik.

1,

Aku suka makanan yang pedas!

Aku tidak bisa makan makanan yang pedas!

2,

Hitam dan biru warna yang keren!

3,

Kim Myungsoo! Mau kuhajar? Ha?!

4,

Bae Suzy! Aku menyerah! Sudahlah, kita sudahi saja main ular tangganya!

5,

Kim Myungsoo! Aku membencimu!

Gadis itu tersentak. Ia pun segera mengatur ekspresinya. Rasanya seperti berendam dalam gentong berisi air berkapasitas ribuan meter kubik yang dikejutkan aliran listrik setara menara sutet secara tiba-tiba. Amnesia disosiatif yang dideritanya selama beberapa tahun ini seketika memulih.

Ia tahu siapa pria ini. Ya, dia itu,

“Kim Myungsoo. Aku Kim Myungsoo.”

Aliran darah di sekujur tubuhnya merasa berhenti di tengah jalan. Otaknya pun dilanda kekurangan suplai oksigen. Suzy mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Benar, dia itu Kim Myungsoo. Penyebab dirinya mengalami amnesia disosiatif skala ringan sekaligus penyembuh ke-abnormal-annya itu.

“Oh kau.” Suzy meneguk salivanya. Ia mencoba menekan agoni dalam tenggorokannya kuat-kuat. Ingatan pahit bersama dengan pria di depannya terus mendominasi pikiran dan sebagian besar perasaan gadis itu.

“Aku hampir lupa denganmu. Ehm, kau sekarang bekerja di sini?” Suzy berkata dengan nada datar. Ia cukup berhasil memalsukan amarah yang berkecamuk di dalam raganya.

“Hm, ya begitulah, “ Myungsoo mengusap tengkuknya. Dengan suara yang tegas ia pun kembali melanjutkan. “Suzy, kau, kau tidak berubah sama sekali. Senang bertemu lagi denganmu. Sudah lama ya. Enam tahun,”

Suzy tak dapat menahan badai yang berkecamuk di dalam hatinya. Banyak pekerjaan di Seoul, tapi kenapa ia harus menjadi seorang staff manager di sini? Mengapa harus Myungsoo pula? Ah ia benci dengan garis yang mempertemukan mereka, sekali lagi.

Melihat Myungsoo yang dengan santai mengucapkan salam pertemuan mereka setelah enam tahun tak jumpa malah memancing amarah gadis itu.

“Iya enam tahun. Kau memang benar. Aku masih sama. Masih membencimu!”

Setelah berkata seperti itu Suzy meninggalkan Myungsoo. Tak peduli dengan teriakan Myungsoo untuk berhenti, ia tetap menegakkan langkahnya menuju lift. Beruntung saat ia menekan tombol anak panah ke bawah, lift langsung terbuka. Suzy pun segera masuk dan dengan cepat menekan tombol di dalam sana supaya pintu lift itu menutup.

***

Di rumah Suzy.

Sesampainya di rumah, Suzy langsung berlari menuju kamarnya dan menguncinya. Ia pun hanya memberi salam kepada ibunya dengan mencium kening perempuan paruh baya itu. Mengabaikan pertanyaan kenapa ia telah tiba di rumah lebih cepat dari biasanya.

Beruntung kontraksi yang diderita kepalanya tidak terlalu hebat sehingga dirinya tidak merasa pusing luar biasa saat amnesia disosiatifnya memaksa untuk sembuh. Hal itu malah digantikan dengan perasaan sakit hati yang tidak terkira sakitnya dalam lubuk hati terdalam gadis itu.

Suzy bersender di depan pintu kamarnya. Deru napas terburunya berusaha ia tekan sekuat tenaga. Keringat dingin yang menetes di pinggiran wajah gadis itu dihiraukannya. Suzy benar-benar tak habis pikir, kenapa ia bisa bertemu dengan sahabat yang berubah jadi pengkhianat itu lagi sekarang.

Seseorang yang berhasil terlupakan namun kembali mengaktifkan dirinya menjadi sel-sel yang kembali menguasi setiap ruang di dalam otak gadis itu.

Ia pun mengambil ponsel di dalam tasnya. Menghubungi Jinyoung langsung.

“Park Jinyoung!! Kenapa kau tak bilang kalau Myungsoo itu bossmu!! Bodoh sekali kau!!!!” Suzy berkata sesaat sebelum Jinyoung mengatakan halo.

“Eh eh? A-ada apa??” Jinyoung yang tahu-tahu disemprot oleh Suzy tergagap menjawab ‘halo’ temannya itu. “Suzy, kau kenapa?”

“Aku, aku, aku tidak apa. Maaf sudah mengganggu.”

‘Bip’

Suzy mematikan sambungan telepon secara sepihak. Tidak seharusnya ia menyalahkan Jinyoung atas takdir ini. Toh ia memang tak bercerita apa-apa soal Myungsoo – lupa akibat dari amnesia disosiatifnya itu.

Di seberang sana Jinyoung hanya bisa terdiam dengan ekspresi kebingungan. Ia pun hanya memandang dengan kosong ponsel dilayarnya. Sejurus kemudian ia pun kembali ke aktifitasnya yang tertunda tadi, memasang giant lamp di gedung pernikahan di Yeouido.

Jinyoung dan Suzy bertemu secara tak sengaja saat keduanya bekerja dalam event wedding yang sama. Dan saat itu ia pun tak tahu menahu soal bos Jinyoung yang kebetulan adalah Myungsoo – mantan sahabat yang terlupakan itu. Bodoh! Aku tak boleh menyalahkan Jinyoung. Ia kan tak tahu menahu soal masa laluku bersama Myungsoo.

Refleks, ia menepuk jidatnya dengan pelan. Suzy lupa memberitau ibunya kalau ia ada pekerjaan ke luar negeri. Ia pun beranjak dari duduknya lalu membuka pintu yang ia kunci sebelumnya. Bergegas menyusuri lorong di rumahnya menuju dapur.

Suzy mendapati ibunya yang sedang mengelap perabotan dapur. Gelas dan piring yang sudah bersih berada di sisi kiri beliau. Sebuah lap menganggur yang tergeletak di sebelahnya lantas diambil oleh Suzy. Ia pun membantu ibunya.

“Ada apa ini?” Ibu Suzy membeo melihat anak gadisnya yang tiba-tiba berada di dapur.

“Aku mau pergi ke luar negeri.” jawab Suzy.

“APA?!” Ibu Suzy menghentikan kegiatan mengelap gelasnya. “Untuk apa?!?”

“Ibu. Tenanglah. Aku ada pekerjaan rias pre wedding di Dubai. Tidak lama, hanya dua hari.” Sambung Suzy.

“Oh pekerjaan. Ibu kira kau beralih menjadi tenaga kerja wanita. Ya sudah hati-hati di sana. Kapan akan berangkat?”

“Aku akan berangkat minggu depan. Ah aku pasti akan rindu dengan ibuku ini.” ujar Suzy seraya memeluk ibunya dari samping. Ibu Suzy pun mengusap pelan lengan Suzy yang melingkar di tubuhnya. Ia juga pasti akan merindukan satu-satunya permata hati dari buah cintanya dengan alamarhum suaminya.

“Anakku, “ ucapnya halus seraya tersenyum kepada anak gadis semata goleknya itu. “Jangan terlalu lelah bekerja dan selalu jaga kesehatanmu di sana ya.”

Suzy mengangguk pelan dan mengangsurkan sebuah kecupan sayang pada pipi yang kecil itu.

Begitu juga dengan Suzy. Gadis itu harus tabah dan super sabar untuk menghadapi dua hari di Dubai bersama Myungsoo. Ya, pria pengkhianat itu akan ikut serta dalam pemotretan prewedd BoA dan Yunho.

***

Seminggu kemudian.

Rombongan EO Red Light telah berkumpul di dalam ruang keberangkatan Incheon Airport menuju Dubai International Airport. Check in di bagian imigrasi telah dilaksanakan. Dalam masa dua menit lagi mereka akan take in ke dalam maskapai penerbangan Etihad Airways dengan fitur direct flight ICN – DXB.

Suzy memandang rombongan kecil yang akan bekerja bersamanya. BoA dan Yunho, Minho – si fotografer – Minah sebagai asisten wardrobe, Myungsoo, serta Suzy sendiri. Koper yang dibawanya juga hanya satu. Berisi perkakas make up bridal khusus yang dimiliki Suzy. Untuk perkakas pribadi ia hanya membawa satu ransel yang berisi pakaian dan sanity tools. Serta satu tas selempang.

“Waktu di Dubai lebih cepat empat jam dari Seoul, ” ujar Myungsoo mengingatkan. “Jadi segera atur jam kalian. Supaya jangan sampai ada yang tertinggal.”

Semuanya menuruti perkataan Myungsoo. Suzy mengatur arloji di tangannya dengan menambah empat jam lebih cepat.

Minho dengan tas kamera yang ia selempangkan di tubuhnya segera menghampiri Suzy. Ia menyodorkan sebuah bungkusan cokelat dengan wangi khas roti yang baru diangkat dari panggangan.

“Tidak. Terima kasih.” tolak Suzy halus.

Croissant ini paling enak lho. Chef Perancis asli yang membuatnya.” tukas Minho cepat. “Ambillah.”

“Hei Minho, Suzy kan sudah bilang tidak. Lebih baik berikan kepadaku. Ya kan Suzy?” Minah menginterupsi Minho.

“Lagi pula croissant itu bukan dari Perancis. Tapi dari Turki.” jelas Suzy kepada keduanya. “Minho, lebih baik kau berikan kepada Minah. Lihatlah, mulutnya sudah berair begitu.”

Minho pun mengangsurkan croissant yang dibelinya kepada Minah. Dengan penuh sukacita Minah menerimanya. “Thanks Minho!” Minah sendiri tak peduli dengan ejekan tak kasat telinga yang Suzy berikan kepadanya.

“Pelan-pelan makannya. Ih kau ini.” Minho mengingatkan Minah.

Pemandangan di depannya membuat Suzy terkekeh geli. Perjalanan kali ini pasti menyenangkan. Lupakan tentang Myungsoo. Ada DUO MIN yang akan menemaninya ini. Minah dan Minho.

“Upp, biiwarkwan. Oh ya, croisswant itu mwemwang dwari Twurki ywa. Akwu bwaru tahwu.. nyam.” Minah berbicara sambil mengunyah croissant yang memenuhi mulutnya.

“Astaga, jangan berbicara kalau sedang mengunyah! Kau bisa tersedak.” Suzy pun cepat-cepat mengambil botol berisi air mineral di saku luar ranselnya. Takut-takut Minah akan tersedak nantinya.

“Dia itu seperti bar-bar. Hih!”

“MINHO! Enak saja!”

“Lho? Memang benar!”

“Hei-hei hentikan!”

“Eh maaf.” Minah meloloskan kekehan kecil. “Oh ya, croissant yang kutahu asalnya dari Perancis. Kok kau malah bilang dari Turki. Kenapa?”

“Begini, dulu waktu Dinasti Ottoman masih berkuasa di Byzantium Kostantinopel atau yang biasa dikenal Istanbul, roti berbentuk bulan sabit serupa dengan simbol di bendera Turki itu sangat terkenal. Anak buah Napoleon Bonaparte yang saat itu menyerang Istanbul melihatnya. Karena tertarik, mereka memboyongnya ke Perancis. “ Suzy menjelaskan dengan santai.

“Namun lambat laun, croissant yang kita kenal sekarang ini ternyata jadi tersohor karena Perancis. Mereka mengibaratkan bentuk croissant yang menyerupai bulan sabit ini sebagai lambang keruntuhan Dinasti Ottoman yang berasil dirobohkan oleh tentara Perancis di masanya. Itu yang kutahu dari sejarah.”

Minho dan Minah dibuat tercengang oleh intermezzo yang diberikan oleh Suzy. Keduanya pun tersenyum kagum kepadanya. Minah sontak langsung menggiring Suzy untuk menuju ke pesawat. Karena panggilan untuk penerbangan Incheon –Dubai telah disuarakan.

“Wah aku baru tahu! Ckckck, kau cerdas sekali Suzy.” Ujar Minah dengan sorot mata kagum di kedua matanya.

“Tidak, kau berlebihan Minah.” Suzy menjawabnya sambil meninju pelan lengan Minah.

“Kau alumni universitas mana? Kau pasti selalu meraih IPK tertinggi ya?” Minho menambahkan.

“Iya, iya kau kuliah di mana?”

“Aku kuliah, ” Suzy berdehem sebentar lalu melanjutkan. “Di Salon Jung OnStyle di Gangnam.”

“KAU KULIAH DI SALON? BAGAIMANA MUNGKIN!”

***

Di pesawat, mereka kebagian tempat duduk satu baris. BoA dan Yunho berada di bagian paling ujung, disusul Minho dan Minah, serta Myungsoo yang berada tepat di samping Suzy. Dalam hati Suzy merasa risih berada di dekat Myungsoo. Suzy harus bisa bertahan selama kurang lebih lima jam.

“Kau tidak kuliah?” tanya Myungsoo di sela-sela kegiatannya membaca katalog pesawat.

“Bukan urusanmu.” jawab Suzy dengan suara pelan namun tajam.

Di kursinya Myungsoo hanya bisa terdiam mendapati jawaban kasar Suzy. Myungsoo menoleh ke kanannya memastikan Minho dan Minah sudah tertidur pulas. Ia mendapati BoA dan Yunho yang sudah bergelung di dalam selimut dengan mata terpejam sambil saling menautkan tangan mereka.

Suzy segera menutup novel yang berada di pangkuannya dan memasukannya ke dalam tas selempangnya. Ia tak mengindahkan pandangan Myungsoo yang tertuju padanya. Dengan segera ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Itu selimutku! Kalau mau pakai minta saja sana ke pramugarinya.” kata Myungsoo lekas menarik selimut yang telah membungkus tubuh Suzy.

“Ha! Menyebalkan! Kenapa anak playgroup seperti kau ada di sini sih?!” desis Suzy.

Ia pun menghembuskan napas dengan kasar. Di sekelilingnya terpajang para penumpang yang telah tertidur pulas. Ia tak ingin dikeroyok masa karena membuat suara bising yang nantinya akan membangunkan mereka. Pun terpaksa ia menelan bulat-bulat amarah yang siap meluap dari dalam dirinya. Pada akhirnya ia hanya bisa mengeratkan jaket yang dikenakannya. Lalu memejamkan mata dan berharap saat ia terbangun, Myungsoo sudah lenyap dari pandangannya.

***

Suara gemuruh terdengar di dalam kabin penumpang. Guncangan keras membangunkan para penumpang yang sedang tertidur. Begitupun Suzy. Mereka pun mengeratkan pegangannnya pada sabuk pengaman yang terikat kencang di pinggang mereka.

BoA dan Yunho berpegangan satu sama lain. Di samping mereka, Minah dan Minho tanpa sadar saling menautkan jemari mereka erat.

“Suzy, bangun!” kata Myungsoo dengan jemarinya yang tergerak menepuk pelan pipi Suzy.

Suzy mengerang dalam tidurnya. Ia pun terbangun seketika setelah guncangan hebat yang ia rasakan. Selimut yang membalut tubuhnya terjatuh. Suzy membeku di kursinya. Tak tahu harus berbuat apa, Suzy memejamkan mata dan melafalkan doa keselamatan yang  selama ini ia ingat.

Sebuah tangan terulur menggenggam jemari gadis itu. Sentuhan itu berusaha untuk menenangkan gadis yang kesadarannya sedang di awang-awang. Myungsoo yang menggenggam erat jemari Suzy mengencangkan genggamannya. Guncangan akhirnya berakhir dengan suara yang terdengar dari dek pilot.

“Dear passengers, sorry for the inconvient. But now the trouble is over. We will touch down to Dubai in minutes away. Please hold fast the seatbelt. And thanks for choosing us as your flying partner.” Ujar co-pilot dengan suara lembut yang mampu menenangkan para penumpang.

Suzy mengerjapkan kedua matanya. Huh. Ketakutan yang menjalar di sekujur tubuhnya mampu membuat wajahnya jadi pucat pasi. Aliran drahnya serasa berhenti di tengah jalan. Sekilas terbayang olehnya potongan film Final Destination dengan scene pesawat yang ditumpangi teman-teman si pemeran utama terbakar seluruhnya. Tak lama ia merasakan sesuatu yang menggengam erat tangan kanannya.

“Kau tidak apa? Ada yang luka?” tanya Myungsoo khawatir.

Suzy menarik jemarinya yang berada di dalam genggaman Myungsoo dengan paksa. “Aku tidak apa.”

“Kalian semua baik-baik saja? Yunho dan BoA? Kalian?” Myungso bertanya satu per satu.

“Kami baik-baik saja, Myung. Hanya saja BoA masih gemetaran.” sahut Yunho.

Suzy merasakan sensasi menggelikan nan aneh ketika mengingat jemari Myungsoo yang bertautan dengan miliknya tadi. Selimut yang tergeletak di bawah segera dipungutnya. Masih teringat saat tidur tadi, ia merasakan ada sesuatu yang menghangatkan tubuhnya. Ternyata itu sebuah selimut. Selimut yang sama yang direbut oleh pria itu sebelumnya.

Pesawat  akhirnya mendarat dengan mulus di landasan Dubai International Airport. Rombongan kecil bergerak menuju tempat pengambilan bagasi. Setelah proses imigrasi yang beres dilakukan, rombongan Myungsoo segera menuju area kedatangan di Terminal D. Myungsoo melambaikan tangannya kepada seseorang yang memegang papan nama “Myungsoo – Seoul”.

“Assalamualaikum Tariq, how do you do?” sapa Myungsoo dengan ramah kepada seorang pria berwajah khas timur tengah dengan kulit yang cukup putih.

“Waalaikumsalam, how do you do? I’m fine, Alhamdulillah, thank you.” jawab  Tariq dengan senyumnya yang menawan.

“Really good. Oh ya, they’re my friends that will stay with me here for two days or more.” kata Myungsoo memperkenalkan.

“Assalamualaikum.” Ujar BoA dan Yunho berbarengan sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.

“Waalaikumsalam. Excuse me, are you Yunho from TVXQ?? And you’re the soloist BoA?!” ujar Tariq menyelidik.

Yunho dan BoA mengangguk senang.

“Tariq, I’ve told you before right?”

“I know. I’M SORY MYUNGSOO, BUT I NEVER TOLD YOU THAT I’M CASSIOPIEA!!!” seru Tariq kegirangan.

Suzy, Minho, dan Minah serempak menjatuhakn rahang mereka. Antusiasme seorang pria bernama Tariq inilah penyebabnya. Sementara Yunho dan BoA yang menikmati sesi mini fan meeting dengan penggemar timur tengahnya. Dengan berat hati Myungsoo terpaksa menghentikan kegiatan itu dan segera menyuruh rombongan meninggalkan area kedatangan dan bergegas menuju ke mobil.

***

Tiba di Dubai  pada pagi hari, mereka pun langsung tancap gas melaksanakan acara pemotretan pre wedding. Setelah mengedrop bagasi di hotel, mereka segera menuju ke kawasan Khalid bin al-Walid yang terdapat White Fort.

Sebagai destinasi pertama pemotretan, pihak EO memilih tempat ini bukan karena dekat dengan tempat mereka menginap. Bangunan ini konon pernah dijadikan kediaman penguasa di masa silam. Panorama arsitektur bernuansa timur tengahnya kentara sekali di tengah bangunan futuristik di tengah kota menjadi daya tarik tersendiri.

Minho, Minah, dan Suzy segera menunaikan kewajibannya masing-masing. Minho dengan cekatan memasang peralatan pemotretannya dibantu dengan staff suruhan Tariq. Dan pemuda itu masih saja tersenyum penuh melihat BoA dan Yunho yang sedang dirias oleh Suzy. Sementara Minah merapikan setiap detail gaun putih yang membalut tubuh mungil BoA. Myungsoo dan Tariq juga sibuk membantu menyempurnakan setiap detail yang kurang di mata mereka.

Suzy mengubah tatanan gaya rambut BoA dengan sentuhan French twist dengan sematan buckle yang romantis. Gaya dimulai dengan membuat puntiran rambut French twist di belakang. Suzy merapikan bagian poni BoA, kemudian diarahkan menutupi gelungan hingga rapi. Terakhir, Suzy membentuk buckle dari ujung rambut yang disisihkan dari gelungan, hingga menutupi bagian atas gelungan.

Beautiful. Eonni kau benar-benar cantik.” kata Suzy sambil menyisir anak-anak rambut BoA.

“Ini semua berkat sentuhanmu. Seperti Tangan Midas.” BoA berkata sambil tersenyum malu.

Eonni kau berlebihan. Dari dasarnya kau sudah cantik. Aku hanya memperjelas saja.”

Suzy pun memoles riasan cantik modern yang lembut pada wajah BoA. Sengaja ia memilih riasan natural supaya tidak terkesan berlebihan. Riasan mata diberi nuansa light brown yang senada dengan kelopak mata BoA. Suzy juga menambahkan beberapa bulu mata untuk membuat penampilan dramatis. Keseluruhan tampilan dibuat dengan lembut dengan rona pipi dan bibir dalam nuansa pink nude.

Sentuhan terakhir ialah gaun yang dikenakan oleh BoA. Gaun dengan A-line dengan permainan tekstur yang apik membuat penampilan BoA semakin cantik. Terdapat detail aplikase korsase dan aksen pita emas di pinggangnya.

Minah dan Suzy berdecak kagum. Suatu saat mereka pasti juga akan mengenakan gaun putih seperti itu. Tapi mereka juga tak muluk-muluk. Tak perlulah mengadakan prewedd di luar negeri seperti ini.

“Wow. Eonni benar-benar seperti malaikat! Suzy kita berhasil!” ujar Minah.

“Benarkah?” BoA melihat pantulannya di depan cermin. Ia sendiri takjub melihatnya.

“Terima kasih.”

Pemotretan pun dimulai. Kedua pasangan itu mulai menampilkan pose-pose romantis yang mampu membuat Minah gigit jari. Sementara Suzy dibuat senyam-senyum sendiri. Minho dengan lihai membidikkan kameranya sambil tetap mengarahkan mereka untuk berpose dengan baik.

“Ya, ya, benar begitu. Oh, Yunho tolong taruh tanganmu di pinggang BoA, dan BoA coba kau pegang tangan Yunho. Menghadap ke arah itu. Ya, bagus sekali! Pertahankan,”

Pemotretan berjalan dengan lancar. Dalam kurun waktu kurang lebih 30 menit Minho sudah mendapatkan gambar yang cukup banyak dan bagus. Myungsoo pun mengapresiasi  kerja timnya. Tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih kepada staff bawahan Tariq yang banyak membantu.

“Baik, siap-siap semuanya, kali ini kita akan ke gurun Rub Al Khali. Tempat kedua. Semangat!!” Myungsoo menyemangati timnya.

Suzy sudah siap mengangkut koper berwarna silver berisi perkakas make upnya. Namun hal itu dihalangi oleh lengan Myungsoo. “Tak baik wanita membawa barang berat seperti ini.”

To Be Continued.

Epilogue:

Seorang gadis remaja yang wajahnya sembab itu tengah berjalan sambil terhuyung di sekitaran gang pemukiman rumah warga. Sejenak, ia pun bertumpu pada tiang listrik yang dipenuhi selebaran-selebaran tak penting untuk berdiri. Lututnya serasa lemas karena ia bawa berlari sepanjang waktu ia kabur dari atap gedung sekolah menuju rumahnya.

Isak tangisnya berubah menjadi erangan kesakitan. Ia memegang batok kepalanya yang serasa dihantam godam raksasa milik para algojo di kerajaan romawi. Ingin rasanya ia menyerabuti helai demi helai rambut dari kulit kepalanya demi mengurangi kesakitan yang didera kepalanya itu.

“Ah!!!” Ia mengeluh kesakitan.

Keseimbangannya pun mulai goyah. Kunang-kunang seperti menghalangi pandangan gadis terhadap objek yang ada di depannya. Perutnya pun serasa digunakan sebagai wadah pengocok milkshake. Ia mual hebat.

Seperekian sekon kemudian, ia pun jatuh pingsan.

“Bae Suzy!!!!”

***

maafkan saya karena interaksi myungsoo – suzy yang masih belum grgetz! bagi yang di chapter pertama bertanya-tanya kenapa Suzy bisa lupa sm Myungsoo, jawabannya sudah diberikan di chapter ini yaitu, Suzy mengalami amnesia disosiatif. untuk lebih jelasnya akan saya beberkan di chapter ketiga.

feel free to leave hot critics and sweet reviews to this chapter🙂

terima kasih❤

see u in the next chapter!

xianara-sign

90 responses to “Wedding Dress [chapter 2]

  1. Ooh jadi Suzy kena amnesia disosiatif, pantesan dia gak ingat Myungsoo pas pertama jumpa. Tp knp Myungsoo berubah jd penghianat?

  2. Euum jdi suzy mengalami amnesia disosiatif, pantesan aja lupa. Lalu apa penyebabnya? Knp suzy mnganggap myung pengkhianat? apa Bnar myung berubah mnjadi pengkhianat? knp suzy membenci myung? ada masalah apa antara suzy dan myung?

  3. aku gak nyangka hehe. biarpun myungzy perang dingin(?) tapi masi bisa senyum2 nemuin comedy nya sama perhatian simplenya mungsoo ke suzy wkwk :3. author jjang~

  4. aha! ternyata benar amnesia ya😀
    masih belum mengerti dengan kesalahan myungsoo di masa lalu. pembunuh?😮

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s