[Freelance/Oneshoot] Origami of Love

mz

Title : Origami of Love | Author : dlwnsghek11 | Genre :  Comedy, Romance, School Life | Rating : Teen | Main Cast : Bae Suzy ‘Miss A’,  Kim Myungsoo or L‘Infinite’ | Other Cast : Lee Junho ‘2PM’

Disclaimer :

Ini ff pertama yang aku kirim ke kingdom. Ceritanya sedikit diambil dari dunia nyata aku, semoga kalian suka~ cerita ini sudah sempat aku share ke salah satu fanbase di facebook dengan cast yang berbeda ^^

~Sejauh apapun jarak yang memisahkan, tidak akan menghentikanku untuk terus menyayangi bahkan mencintaimu. Tetaplah menjadi milikku, segalanya untukku, selamanya~

Entah sejak kapan yeoja itu hobi sekali membuat prakarya sederhana dari origami ini. Yang dia tau dia berkeinginan membuat itu sejak dia mulai menyukai seorang namja. Hatinya selalu berbunga-bunga jika mengingat wajah namja pujaannya itu. Terkadang juga tersenyum malu mengingat bodohnya dia bisa menyukai namja seperti kekasihnya. Namun, begitulah takdir yang membawanya pada kenyataan jika dia mencintai namja yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya.

Setelah membuat banyak origami berbentuk ‘love’ dengan berbagai warna, dimasukkan origami tersebut ke sebuah kaleng bening yang memang khusus digunakan untuk menaruh origami koleksiannya ini. Ada beberapa origami tersebut diselipkannya untuk hadiah yang terkadang dia berikan untuk namjanya. Entahlah, yeoja ini begitu menyukai kebiasaannya ini.

Dulu dia akan membuat origami ini hanya sebagai koleksi, namun sejak beberapa bulan yang lalu dia berniat membuatnya jika dia merindukan namjanya. Jika diingat-ingat sudah ada beberapa kaleng bening yang penuh dengan origami ‘love’ buatannya. Ada perasaan bangga disana, meskipun mereka terpisah akan jarak, namun cintanya tidak pupus sedikitpun. Yeoja ini berharap jika namjanya akan sama sepertinya.

Ya, mereka terpisah, terpisah sangat jauh. Namjanya bertekad ingin melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Sejak mengenal Suzy, namja itu berpikiran lebih dewasa dari sebelumnya. Itu yang dia tau dari teman-teman namjanya. Bisa dibilang dia bad boy dan pembangkang. Semua berubah sejak namja itu melihatnya. Suzy malu sendiri jika mengingatnya.

Tidak ada dalam niatan Suzy ingin membuat namjanya tetap tinggal di Seoul dengannya. Dia tidak ingin menjadi alasan namjanya kehilangan cita-cita yang sudah mulai ingin digapai oleh namjanya. Malah Suzy sangat bangga dengannya. Suzy selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Disini Suzy masih selalu menunggu namjanya kembali padanya. Entah itu kapan.

Suzy dengan namjanya berbeda tiga tahun. Kini Suzy menginjak kelas tiga di Senior High School. Sedangkan, namjanya baru memasuki semester satu dikuliahnya. Mengapa? Dulu, sebelum mereka saling kenal, namjanya lebih memilih bekerja terlebih dahulu dibandingkan kuliah. Jujur saja, saat mendengar keinginan namjanya untuk kuliah ada perasaan kaget. Untuk itu Suzy bangga saat mendengar namjanya ingin melanjutkan studinya.

“Oppa, aku merindukanmu,”

***

Suzy menghela nafas lega dengan kedua ujung bibirnya terangkat keatas. Baru saja dia selesai mengumpulkan tugas-tugasnya yang menumpuk. Akhirnya, bebannya selesai untuk semester ini. Dan semester depan, dia harus lebih rajin belajar untuk ujian kelulusan.

Hari ini adalah class meeting di sekolahnya. Suzy sangat tidak menyukai keramaian. Oleh karena itu, kini dia sudah berada di dalam perpustakaan. Membaca buku lebih baik dibandingkan berteriak di perlombaan basket antar kelas hari ini.

Setelah memilih-milih buku, Suzy mendudukan dirinya di bangku favoritnya. Pojok kanan yang menghadap langsung ke taman belakang sekolah. Pemandangan yang sangat segar menurutnya. Suzy mulai membuka lembar awal bukunya dan mengkonsentrasikan pada isi buku tersebut.

***

“Ehem,”

Merasa ada yang berdiri di hadapannya, Suzy mendongakkan kepalanya. Dan menemukan Junho disana. Mengapa namja ini ada disini? Suzy tau betul jika namja ini sangat tidak menyukai keadaan perpustakaan yang sangat sepi. Mungkin dia akan kesini jika dia sangat membutuhkan waktu tidur.

Junho adalah mantan kekasihnya dulu. Suzy memutuskan namja itu karena baru menyadari sesuatu. Dia tidak nyaman jika mereka harus menjadi sepasang kekasih, Suzy lebih menyukai pertemanan mereka dulu. Sangat egois memang. Tapi jika hubungan itu terus berlanjut, malah akan menyakiti mereka berdua. Junho pun menerima itu semua. Suzy sangat berterima kasih pada namja itu. Semoga tidak ada yang menyakiti namja itu dimasa depan. Suzy masih merasa sangat bersalah. Namun apa yang harus dia perbuat.

“Ada apa, Junho-ah?”

Junho mendudukkan dirinya di bangku yang ada didepan Suzy kemudian memberikan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado dengan pita ungu diatasnya. Apa ini untuknya?

“Untukku?” tanya Suzy sambil menunjuk dirinya sendiri.

Junho menganggukkan kepalanya. “Ne, ini tentu saja untukmu. Kau baru saja berumur tujuh belas bukan? Anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahun untukmu,” ujar Juho cuek.

“Ulang tahunku sudah lewat beberapa minggu yang lalu, pabo,” ledek Suzy.

Junho hanya bisa menggaruk tengkuknya sambil menyengir malu. Suzy masih menyukai gaya ini. “Mianhe aku sangat terlambat. Kemarin-kemarin aku sangat bingung memberikan ini padamu bagaimana,” jujurnya.

Suzy membelalakkan matanya lalu tertawa sangat keras. Perpustakaan kini sangat sepi karena semuanya sibuk dengan class meeting. Oleh karena itu, Suzy biasa saja saat tertawa seperti itu.

“Yak!!! Kau menertawakanku?! Baiklah jika kau tak mau. Aku bisa memberikan ini pada So Eun,”

Suzy segera merebut kado tersebut dari tangan Junho. “Apa-apaan kau. Ini hadiah untukku. So Eun akan sedih jika mengetahui kado yang kau kasih ternyata sebenarnya untukku,” semprot Suzy.

“Anak pintar,” ujar Junho sambil mengacak rambut Suzy.

“Yak!!!! Kau merusak tatanan rambutku!!” Junho tidak menjawabnya, hanya menaikkan kedua ujung bibirnya melihat Suzy yang mulai merapikan tatanan rambutnya.

“Apa kita bisa kembali seperti dulu?” tanya Junho penuh harapan.

Suzy menatap Junho sebentar, lalu menawarkan jabatan tangan pada namja itu dengan senyuman indah miliknya. “Tentu saja. Kita bukankah masih teman?”

Junho menerima jabatan tangan Suzy dengan senang hati.

“Ya, kita masih teman,”

***

Suzy memasukkan origami buatannya hari ini ke dalam botol bening yang mulai penuh itu. Lalu menaruhnya kembali di atas meja belajarnya. Hari ini sangat membosankan. Eomma dan appa pergi mengunjungi sepupunya di Gwangju, tempat tinggalnya dulu. Dan Suzy ditinggal sendiri dirumah. Suzy menatap jam yang bertengger di atas tempat tidurnya. Sudah jam sepuluh malam. Lebih baik dia tidur sekarang.

Setelah memposisikan senyaman mungkin di kasur kesayangannya, tiba-tiba Suzy merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya. Dengan gerakan cepat Suzy menjauhi tangan orang asing itu dari pinggangnya. Dan akan mengambil ancang-ancang memukul orang asing yang sembarangan masuk ke dalam kamarnya dengan raket nyamuk yang kebetulan berada di samping ranjangnya.

“Yak!!! Siapa kau???!!!!”

Selepas dari pelukan orang asing tersebut, Suzy segera mengambil raket tersebut lalu menghabisi orang asing tersebut tanpa ampun.

“Rasakan kau rasakan!!!” Suzy tidak memperdulikan ringisan orang itu.

Jujur saja Suzy sangat takut saat ini, bagaimana tidak? Disaat dirinya sedang berada dirumah yang besar ini seorang diri. Kemudian ada orang lain yang memeluknya sembarangan. Bagaimana jika orang tersebut penculik? Atau lebih parahnya pemerkosa? Suzy takut sendiri membayangkannya. Suzy semakin menyerang itu dengan raketnya. Tak ngampuninya sedikit pun.

“Yak!!! Suzy hentikan!!! Appoo!!!!” Suzy tidak memperdulikannya yang difikirkannya sekarang yang penting nyawanya dan harga dirinya.

“Yak!!! Ini aku, Suzy-ah!!!”

“Mwo??? Kau jangan sok mengenalku orang gila!! Mau apa kau masuk sembarangan ke rumah orang lain, hah??!!!” Suzy semakin menyerangnya tanpa ampun.

“Ini aku!!! KIM MYUNGSOO!!!!!”

Suzy berhenti. Menatap orang itu tidak percaya. Bagaimana bisa? Bukankah?

Orang itu berusaha menegakkan kepalanya, menahan sakit di tengkuk dan punggungnya. Ternyata serangan Suzy sangat menyeramkan, begitu pikirnya.

“Myung oppa???” ujar Suzy sambil menepuk pipiya pelan. Berusaha meyakinkannya jika yang dihadapannya kini memang benar namjanya.

“Ne, ini aku, sayang. Kau jahat sekali padaku. Kau tak lihat badanku sakit semua?” kesal Myungsoo.

Suzy menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal. “Mianhe, oppa. Ini salah kau juga, tiba-tiba masuk ke rumah orang lain lalu masuk ke kamarku dan memelukku. Kau malah bisa dibilang maling, oppa. Aku bisa saja berteriak memanggil satpam komplek dibawah,” balas Suzy.

Myungsoo menidurkan tubuhnya di ranjang Suzy lalu menutup matanya. “Sudahlah, badanku sudah remuk akibat raket itu. Aku mau tidur,”

“Ka, bangunlah,”

“Untuk apa? Kau ingin mengusirku? Tidak, aku lelah,” jawab Myungsoo sambil mengubah posisinya memunggungi Suzy.

Suzy mencoba memegang punggung namja itu. Kemudian namja itu merintih kesakitan.

“Aish, jangan kau pegang. Ini masih sangat sakit, Zy-ah,”

“Jjinja?” Ada perasaan tak enak disana. Secara tak langsung ia sudah melukai namjanya.

Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya tanpa mencoba mengubah posisinya menghadap Suzy. Yeoja itu segera turun dari ranjang lalu berjalan menuju dapur ingin memanaskan air untuk mengompres luka Myungsoo. Bagaimana pun ini juga salahnya yang terlalu keras memukulnya dengan raket.

Tak berapa lama, Suzy sudah kembali ke kamarnya dengan baskom berisi air hangat dengan lap kecil ditangannya. Suzy mendudukkan dirinya dipinggir ranjang lalu mengguncangkan tubuh Myungsoo pelan.

“Oppa..”

“Hm?”

“Ka, bangunlah. Aku ingin mengobati punggungmu,”

Myungsoo membuka sebelah matanya dan menemukan baskom dengan uapan air di pangkuan Suzy. Lalu benar-benar membuka matanya. “Kau sungguh-sungguh ingin mengobati punggungku?”

“Waeyo?” timbul kerutan di kening Suzy.

Myungsoo mencoba membuka bajunya sedikit. Dengan cepat Suzy memegang tangan Myungsoo meminta menghentikan aksinya. Wajah Suzy sudah pucat pasi. Suzy bukanlah yeoja yang sangat suka melihat namja toples. Dia masih sangat polos untuk itu. Bahkan jika appanya keliling rumah dengan keadaan toples, Suzy segera menutup matanya dan menyuruh appanya memakai bajunya. Entahlah, tapi memang begitu sifat Suzy.

Myungsoo memejamkan matanya kembali. Dia sudah tau betul sifat yeojanya. Maka dari itu dia bertanya seperti itu. Dia sendiri tidak begitu yakin jika Suzy memang ingin mengobatinya. Jika nantinya Suzy akan menyuruhnya mengobatinya sendiri, jangan harap akan Myungsoo lakukan. Badannya sudah terlanjur remuk untuk sekedar duduk. Terdengar berlebihan memang. Tetapi dia memang sudah lelah karena dia baru saja sampai ke Seoul dan langsung menuju rumah Suzy tanpa pulang terlebih dahulu.

Sudah berkali-kali Myungsoo membunyikan bel tapi tetap saja tidak ada reaksi dari pemilik rumah. Betapa bodohnya dia saat itu, dia baru melihat jika pintu gerbang itu tidak di gembok. Myungsoo segera membuka pintu gerbang itu lalu menutupnya kembali seperti semula. Lagi-lagi dirinya tak disambut apapun dari si pemilik rumah. Ketukan pintunya tidak dijawab sedikitpun. Dengan kesal, Myungsoo membuka knok pintu. Dan lihat, pintu itu tidak dikunci. Rasanya Myungsoo ingin menghukum Suzy secepatnya. Bagaimana bisa dia tidak memeriksa gembok dan tidak mengunci pintu rumah. Bagaimana jika nanti ada maling? Pencuri? Yeojanya memang perlu mendapat hukuman.

“Ya sudahlah. Lebih baik kau tidur juga, aku sangat lelah, Zy-ah,”

Suzy menghela nafasnya pelan-pelan lalu mengeluarkannya. “Baiklah. Buka bajumu, oppa,”

“Buka saja bajuku,” ide jahil Myungsoo mulai berjalan jika sudah seperti ini. Memang evil sejati.

Dengan ragu Suzy membuka kaos yang melekat pada tubuh Myungsoo. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Pipinya bahkan ikut bersemu merah. Ini baru punggung Myungsoo, bagaimana jika Myungsoo membalikkan badannya? Suzy akan lemas mungkin. Suzy berusaha mengendalikan dirinya, memasukkan lap ke dalam baskom lalu memeras lap tersebut. Dibasuhnya punggung Myungsoo.

“Dimana orang tuamu?”

“Mereka sedang di Gwangju mengunjungi sepupuku disana. Oppa, bagaimana kau bisa sampai ke kamarku?”

“Kau saja yang pabo,” ujar Myungsoo santai.

“Mwo? Memang aku kenapa?” dasar namja menyebalkan.

“Kau belum memeriksa gembok pagar dan pintu rumahmu. Aku akan menghukummu, Nona Bae. Tapi tidak sekarang, aku sudah lebih dulu mendapat hukuman darimu,” cibir Myungsoo.

Suzy membelalakkan matanya. Suzy segera menaruh baskom itu dibawah kasur lalu berlari ke lantai bawah mengunci gembok lalu mengunci pintu rumahnya. Tak lupa dia memeriksa seluruh ruangan yang ada dirumahnya. Jendela-jendela yang masih terbuka mulai ditutupnya dengan gorden. Suzy menghela nafas lega. Untung saja ada Myungsoo. Jika tidak, Suzy tak tau lagi apa yang akan terjadi pada rumahnya nanti. Apalagi dia seorang diri dirumah.

“YAK!! KAU BELUM SELESAI MENGOBATIKU!!!”

***

Meniupkan sedikit kuah sup yang ada di sendok untuk sekedar mengurangi uap disana lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Kemudian mengalihkan pandangannya pada yeoja yang beberapa bulan ini dirindukannya. Anni, sangat dirindukannya. Kekasihnya yang ditinggalkannya demi cita-citanya yang sudah mulai dia tentukan.

Myungsoo sendiri juga tidak percaya dengan dirinya yang sekarang. Dulu dirinya yang sangat suka mencari masalah disekolah dan dirumah kini mulai mau menuruti keinginan appa nya untuk meneruskan perusahaan appanya dengan berkuliah terlebih dahulu. Sebenarnya bukan ini keinginannya. Dia ingin sukses tanpa bantuan appanya. Kemudian appa Myungsoo memberikan keringanan dengan Myungsoo yang boleh bekerja dengan jerih payahnya sendiri tetapi jika dirinya sudah benar-benar harus pensiun, Myungsoo yang harus meneruskannya. Dan tentu dia menerimanya dengan senang hati.

Semuanya mulai berubah sejak dirinya mengenal Suzy. Dulu fikirannya masih sangat dangkal, sekarang mulai memikirkan masa depannya dengan matang. Tak terkecuali keinginannya yang akan melamar Suzy jika dirinya sudah merasa bisa menghidupi keluarganya nanti. Hatinya sudah terpatok untuk anak perempuan satu-satunya dari keluarga Tuan Bae ini.

“Kau tidak merindukanku, eoh?” sahut Myungsoo dengan senyum evilnya.

Suzy menaikkan alis sebelahnya, seolah cuek dan tak peduli dengan kata rindu yang baru saja diucapkan Myungsoo. “Memangnya aku harus merindukanmu?” balas Suzy. Ingin rasanya dia memeluk namjanya lalu berteriak jika dia sangat merindukan namja evil itu. Namun diurungkan niatnya itu, sifat pemalu Suzy memang belum hilang sepenuhnya.

Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Kau memang harus merindukanku,”

“Sudahlah, habiskan makanmu. Lalu kau pulang, aku lelah,” usir Suzy. Sebenarnya dirinya belum bisa mengendalikan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat sekarang. Suzy sendiri sangat benci dengan keadaan ini.

“Mwo? Kau mengusirku? Anni, aku ingin menginap disini,”

Kini Suzy menatap Myungsoo tak percaya. “Yak!! Aku tak terima kau menjadi tamu dirumahku,” kesal Suzy.

“Tak apa, lagipula aku akan bersikap seakan ini rumah kita,” balas Myungsoo sambil mengedipkan matanya pada Suzy.

Ingin muntah rasanya melihat Myungsoo yang mulai mengeluarkan sifat evilnya. Dengan malas Suzy pergi meninggalkan namja itu menuju ruang tengah lalu mendudukkan dirinya di sofa. Suzy segera menyambar remote televisi lalu menyalakannya.

Setelah selesai makan malam yang disiapkan Suzy, Myungsooberjalan menyusul dimana Suzy berada. Dia memposisikan dirinya tidur dipangkuan Suzy. Yang dipangku pun tidak bereaksi apapun. Tetap memfokuskan dirinya pada televisi didepan. Tapi Myungsoo yakin, Suzy tidak menonton drama yang ditayangkan itu.

“Suzy-ah,”

“Hm?”

“Aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu,” akui Myungsoo.

Suzy menundukkan kepalanya. Menatap kedua bola mata namja itu, berusaha mencari kebenaran disana. Suzy tersenyum malu mendapati kejujuran yang terpancar dari mata namja itu.

“Nado,”

“Hanya itu? Kau tak ingin memberiku ciuman atau apapun?”

Suzy ingat dengan origami ‘love’ yang dia sembunyikan disuatu tempat. Hanya ingat, tidak ingin memberikannya pada Myungsoo. Dengan itu dia ingin membuktikan seberapa rindunya dirinya pada namja itu. Hanya untuk kebanggaannya sendiri, ya, hanya itu. Suatu hari nanti ia akan memberikannya tidak untuk sekarang. Suzy mengerucutkan bibirnya lalu menggelengkan kepalanya.

“Seharusnya aku yang meminta hadiah darimu,” kesal Suzy.

“Mwo?” Myungsoo membenarkan posisinya dengan duduk disamping Suzy.

“Aku yang baru ulang tahun tapi kenapa kau yang meminta hadiah,” cibir Suzy.

Myungsoo menyeringai mendengar itu. “Jadi kau ingin hadiah?”

Mata Suzy mulai berbinar mendengarnya lalu memeluk lengan Myungsoo penuh manja dan mengangguk semangat mengiyakan pertanyaan Myungsoo barusan. Dengan ini biasanya Myungsoo akan luluh dengannya. Dalam hati Suzy tertawa sendiri mengingat kedekatan mereka dulu.

“Bagaimana dengan satu ciuman?” tanya Myungsoo penuh dengan seringaian.

Dengan cepat Suzy memukul lengan Myungsoo lalu menyembunyikan wajahnya di lengan Myungsoo. “Yak! Nappeun,”

Myungsoo langsung tertawa terbahak-bahak melihat betapa lucunya yeojanya ini. Sifat Suzy ternyata tidak pernah berubah, masih sangat polos. Myungsoo menyukainya.Dirinya berusaha meredam tawanya, setelah beberapa lama mencoba menghentikannya.

“Baiklah, baiklah. Jadi kau benar-benar ingin hadiah?”

Suzy menggelengkan kepalanya, masih bersembunyi di lengan Myungsoo.

“Angkat kepalamu, sayang,”

“Anniyo,”

“Aku hanya bercanda. Lenganku juga masih sakit,” bohong Myungsoo. Sejak di kompres tadi, dirinya sudah lebih baik dari sebelumnya.

“Mianhe, oppa,” sesal Suzy sambil mengelus lengan Myungsoo lembut. Myungsoo hanya bisa menahan tawanya, takut jika kalau Suzy mengetahuinya akan bisa marah seperti ahjumma-ahjumma yang sedang mengomel.

“Ah, oppa, bagaimana kau bisa  disini?” tanya Suzy penasaran.

“Bulan ini aku sedang libur semester, sayang. Aku sangat merindukanmu oleh karena itu aku kembali untuk berlibur disini denganmu,” jujur Myungsoo.

Suzy langsung mencubit perut Myungsoo kesal. “Kenapa kau tak bilang kalau kau ingin kesini, oppa,”

“Aahh, ini sakit, sayang,” keluh Myungsoo sambil memegang perutnya yang baru saja mendapat cubitan maut dari kekasihnya. Lagi-lagi inilah trik Myungsoo. Suzy mencibir kesal, memangnya dia tidak tau trik namja itu.

***

Kalau bukan karena sekolahnya yang terlalu berlebihan, mungkin dia tidak akan masuk sekolah. ‘Setiap murid harus menghadiri acara class meeting karena akan di masukkan ke dalam absen’ begitulah pemberitahuan yang dibacanya di mading sekolah beberapa hari lalu. Sangat ketinggalan jaman.Sebenarnya Suzy beberapa kali ditunjuk sebagai peserta di beberapa lomba yang diadakan. Dia hanya menerima lomba basket. Lomba itu dilaksanakan hari ini. Kelasnya menjadi juara dalam perlombaan kali ini.

Teman-temannya berencana merayakan kemenangan mereka dengan makan di restauran salah satu teman satu kelasnya, Goo Hara. Namun, Suzy menolaknya dengan halus. Dia ingat jika Myungsoo berjanji ingin menjemputnya hari ini. Setelah membersihkan dirinya diruang ganti, Suzy segera melangkahkan kakinya keluar sekolah. Sekolahnya sudah mulai sepi mengingat class meeting sudah selesai setengah jam yang lalu.

Suzy sempat berfikir jika Myungsoo sudah datang menjemputnya, ternyata kenyataan berkata lain. Suzy masih harus menunggu namja itu, menyebalkan. Lebih baik dia pulang naik bus jika di beri pilihan sekarang juga.

“Suzy-ah,” teriak seseorang dari arah belakangnya. Spontan Suzy mengalihkan pandangannya ke belakang dimana orang itu berada. Kebiasaan Junho masih belum hilang. Sangat hobi berteriak memanggil seseorang saat jaraknya masih sangat jauh lalu berlari menghampiri orang yang baru saja dipanggilnya itu.

Tak berapa lama Junho sudah ada di hadapannya lalu berusaha mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Suzy memberikan sebotol air mineral yang kebetulan dipegangnya. Dengan cepat disambar Junho lalu ditengguknya air itu dalam sekali teguk.

“Ada apa, Junho-ah?”

“Bagaimana hadiah dariku?” tanyanya penuh dengan semangat.

Suzy segera memperlihatkan pergelangan tangan kirinya pada Junho sambil memamerkan gigi putihnya. Disana melekat jam ungu pemberian dari Junho kemarin. Junho menyunggingkan senyumnya sambil tertawa renyah. Ternyata hadiah darinya langsung dipakai sekarang. Tak sia-sia dia harus menanggung malu memberikan hadiah itu untuk Suzy.

Semenjak keputusan Suzy yang lebih memilih hubungan mereka tak lebih menjadi teman, Junho mulai menjauhkan diri dari Seohyun. Tidak, dia tidak membenci Suzy. Dia menerima keputusan itu. Bagaimana pun itu lebih baik daripada Suzy tidak mengungkapkannya lalu hubungan itu akan lebih hancur. Junho hanya ingin menata hatinya kembali untuk siap berteman dengan Suzy seperti sedia kala. Dan mulai dari hadiah inilah dia baru menyiapkan hatinya.

“Ada apa kalian senyum tak jelas seperti itu?” sahut seseorang yang sudah berdiri disamping Suzy. Suzy menoleh kesamping lalu membeku seketika. Matilah kau Bae Suzy, batin Suzy.Myungsoo sudah mengetahui siapa Junho dan seperti bagaimana orang yang bernama Junho itu. Suzy tidak ingin menutupi orang-orang dimasa lalunya, itulah prinsipnya.

“Nuguya?” tanya Junho.

“Kau tak mengenalku?” balas tajam Myungsoo.

“Untuk apa aku mengenalmu,” Junho bahkan bisa sama sengitnya dengan Myungsoo.

“Yak!! Kalian hentikan!!”

“Lalu untuk apa kau disini bersama namja yang tidak memiliki mata ini?” tanya Myungsoo dengan penekanan di tiap katanya. Suzy hanya bisa bergidik ngeri mendengarnya.

“Hei, aku hanya ingin menanyakan hadiah yang aku berikan kemarin pada Suzy. Ada urusan apa kau datang kesini lalu terlihat seperti serigala menahan lapar,” kesal Junho.

Myungsoo menatap Suzy sangat tajam. “Kau berhutang padaku, Nona Bae,” bisiknya penuh dengan amarah, lalu menarik lengan Suzy menuju mobilnya.

Seperti ingin menjadi pahlawan kesiangan, Junho menarik tangan Suzy yang lain. Berusaha menjauhkan mantan kekasihnya itu dari namja buas seperti namja yang menurutnya asing itu. Suzy semakin geram jika seperti ini. Entah hukuman apa yang akan didapatnya nanti dari Myungsoo. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.

Myungsoo menghentikan jalannya lalu menatap Junho penuh amarah, seakan bola matanya terdapat api disana. Junho yang memang sangat tidak suka di bilang penakut atau semacamnya, menantang Myungsoo dengan membalas tatapan itu. Apalagi ini, batin Suzy. Dengan lemas dia menggerakkan tangannya yang digenggam Junho. Namja itu yang seakan mengerti maksud yeoja itu, perlahan-lahan melepas tangan itu dengan tidak rela. Setelah merasa tidak ada yang menghalanginya, Myungsoo memasukkan Suzy ke dalam mobil di samping kemudi. Kemudian Myungsoo berjalan ke seberang sana lalu masuk ke mobil tanpa memperdulikan Junho yang menatap Suzy kasihan.

“Malang sekali, Suzy. Siapa namja itu?”

***

“Hadiah apa yang diberikan si namja yang tidak memiliki mata itu? Hadiah untuk apa? Kenapa kau menerimanya?” cecar Myungsoo saat mereka sudah berada di pinggir danau tempat favorit mereka dulu. Dan hanya satu bangku panjang disana yang kini diduduki dua sejoli ini.

Suzy masih menundukkan kepalanya. Dia tidak tau jika Myungsoo akan semarah ini padanya. Padahal dia ingin menceritakan ini pada Myungsoo. Semua kegiatannya selalu di ceritakan pada Myungsoo, Suzy tidak suka jika harus ada ke salah pahaman nantinya. Tapi lihat, akibat Suzy telat menceritakan mengenai hadiah itu, Myungsoo marah besar padanya. Ada sedikit perasaan senang dihatinya mendapati namjanya sedang dilanda perasaan cemburu. Tapi lagi-lagi dia tidak tau jika reaksi ini yang akan di dapatinya.

“Ja-wab a-ku, Nona Bae Suzy,” tambah Myungsoo dengan kedua tangannya yang sudah terkepal kuat menahan amarah pada yeojanya. Bagaimana bisa yeoja itu menerima hadiah dari mantannya sendiri, sedangkan yeoja itu sekarang sudah memilikinya. Apa kekasihnya ini tidak memikirkan perasaannya?

“Oppa, aku mohon jangan seperti ini. Aku akan menceritakannya. Tanpa kau pinta pun aku akan menceritakan semua,” ujar Suzy pelan penuh dengan hati-hati.

Myungsoo mengalihkan pandangannya ke arah danau lalu menarik nafasnya panjang dan membuangnya. Di lakukannya berkali-kali untuk sedikit menenangkan hatinya. Bagaimana pun dia juga tidak ingin membuat Suzy takut padanya.

Suasana hening untuk beberapa menit. Setelah merasa waktu sudah pas, Suzy menarik nafasnya pelan sekaligus mengatur kata-kata yang pas untuk diutarakan kepada namjanya. Ada yang salah satu kata saja, sudah sangat fatal akibatnya.

“Kemarin, Junho datang menemuiku untuk memberikan hadiah ulang tahun padaku. Dia ingin memulai semuanya dari awal menjadi teman seperti dulu. Ya, hanya itu,”

“Lalu hadiah apa yang diberikan si mata hilang itu padamu?” tanya Myungsoo ketus.

Suzy memperlihatkan pergelangan tangan kirinya yang melingkar jam tangan ungu disana. Myungsoo yang seakan mengerti hadiah apa yang diberikan oleh Junho untuk Suzy, segera melepas jam tangan itu dari tangan Suzy.

“Jangan gunakan hadiah itu jika kau sedang bersamaku,” ujar Myungsoo tajam.

Suzy semakin menundukkan kepalanya. “Mianhe, oppa. Aku hanya ingin memberitahukan pada Junho jika aku menerima pertemanannya. Tidak lebih, oppa. Kau bisa memegang janjiku,”

“Dengan apa aku bisa mempercayaimu?”

Dadanya sedikit sakit mendengar ucapan kekasihnya yang menjelaskan seakan namja itu tidak mempercayainya sama sekali. Kali ini kau yang harus mengalah, Suzy-ah, batin Suzy.

Suzy mendongakkan kepalanya menatap Myungsoo dalam. “Aku sangat mencintaimu, oppa. Aku tidak mungkin pergi ke tempat lain sedangkan sudah ada tempat yang begitu nyaman untukku,” entah Suzy mendapatkan kata-kata itu darimana. Bibirnya secara cepat berkata seperti itu, sesuai kata hatinya.

Dengan cepat Myungsoo memeluk Suzy erat. Suzy membalas pelukan namjanya lalu menangis dalam pelukan hangat itu. Suzy berjanji tidak akan membuat Myungsoo terlihat sangat cemburu seperti tadi. Itu sangat membuatnya takut.

Myungsoo sangat bersyukur memiliki yeoja seperti Suzy. Semoga saja apa yang diucapkan yeoja-nya tadi akan selamanya seperti itu. Ada perasaan menyesal sudah terlalu marah pada kekasihnya. Namun apa boleh buat, rasa cemburunya mengalahkan segalanya.

“Tetap jadikan aku yang pertama untukmu. Maaf aku tidak bisa selalu disampingmu, menjagamu, merawatmu seperti yang kau mau. Tapi jika aku sudah sukses nanti, aku akan melakukan itu semua untukmu. Aku sangat mencintaimu, sayang,” ujar Myungsoo sambil mencium kening Suzy dalam.

***

 

Tok…tokk….

Ketukan pintu kamar Suzy semakin terus terdengar. Suzy yang sudah berkali-kali merubah posisi tidurnya untuk meredam suara ketukan itu yang masuk ke dalam kedua telinganya, tapi suara ketukan itu malah semakin keras. Suzy menyerah, seharusnya hari minggu ini digunakannya untuk bermesraan dengan kasurnya harus sirna akibat suara ketukan itu. Dengan kesal Suzy bangun dari tidurnya lalu melangkahkan kakinya ke pintu kamarnya dan membukanya.

“Selamat pagi, princess,” ujar seorang namja tinggi putih di hadapannya dengan setangkai mawar merah di genggaman namja itu.

Emosinya yang sudah ingin dikeluarkannya langsung mencair saat melihat Myungsoo membawa mawar merah di tangannya. Dengan cepat Suzy mengambil mawar merah itu.

“Gomawo, oppa,” ucap Suzy manja.

Myungsoo hanya mengacak rambut Suzy yang sebenarnya memang berantakan. “Hari ini tidak ada minggu malas. Cepat mandi, dasar bau,” ledek Myungsoo.

Suzy mengerucutkan bibirnya lucu. “Aish, baiklah. Kau tunggu saja di meja makan, ne,”

“Anni,” Myungsoo langsung melewati Suzy lalu masuk ke dalam kamar yeojanya dan memandang seluruh isi kamar yeojanya. Tak buruk, yeojanya memang sangat rapi. Ya mungkin hanya kasurnya saja yang sedikit berantakan akibat masih asik menikmati pulau kapuk tadi.

“Terserah kau saja, oppa. Awas saja kau mengintipku,” ujar Suzy sambil mengambil baju didalam lemarinya lalu menuju kamar mandi yang ada didalam kamarnya.

“Memang apa yang bisa di intip dari tubuh besarmu itu, eoh?” cibir Myungsoo dengan santai sambil menatap sebuat bingkai foto yang terdapat di nakas samping tempat tidur Suzy.

“YAAKKK!!!!” teriak Suzy dari dalam kamar mandi. Myungsoo hanya terkekeh geli mendengarnya.

***

Tangan Myungsoo memang tidak bisa diam. Layaknya seorang maling, Myungsoo mengobrak-abrik seluruh isi kamar Suzy. Tentu saja pelan-pelan, menghindari suara bising yang dapat mengakibatkan Suzy mengomel didalam kamar mandi. Setelah melihat-lihat buku pelajaran Suzy, pandangannya tertuju pada nakas yang berada disamping kiri tempat tidur Suzy. Myungsoo mendudukkan dirinya di pinggir kasur Suzy lalu dengan penuh hati-hati, Myungsoo membuka laci paling atas. Disana ada beberapa koleksi rillakuma yang di benci Myungsoo namun di sukai Suzy. Entah kenapa dirinya sangat membenci itu.

Myungsoo pun menutup laci paling atas dan membuka laci paling bawah. Keningnya sedikit mengkerut saat melihat sebuah kotak besar dengan sampul kertas kado berbentuk love dengan warna merah muda. Dikeluarkannya kotak besar itu, lalu di bukanya. Kening Myungsoo semakin mengkerut saat melihat ada enam botol bening yang isinya origami yang sudah di kreasikan sedemikian rupa menjadi bentuk ‘love’. Dan di antara enam botol tersebut, ada satu botol yang belum penuh.

“Untuk apa Suzy membuat ini?” gumam Myungsoo.

Pandangannya pun beralih pada sebuah kertas dibagian paling bawah kotak tersebut. Myungsoo segera mengambil kertas tersebut dan membalikkannya.  Disana ada sebuah tulisan.

Myungsoo oppa akan meninggalkanku untuk waktu yang lama. Dia harus melanjutkan studinya di Jepang. Aku tidak tau kapan dia kembali ke Seoul. Untuk jangka waktu selama itu, aku pasti akan sangat merindukannya. Aku ingin tau seberapa banyak rasa rinduku padanya. Aku membuat origami ‘love’ ini sebagai bukti rasa rinduku padamu oppa. Tapi mungkin ini tidak seberapa dengan rasa rinduku yang sebenarnya. Aku membayangkan seberapa banyak origami yang akan kubuat saja sudah sangat senang. Aku akan tau seberapa banyak aku merindukanmu oppa ^^

***

Dua hari berikutnya setelah Myungsoo mengganggu waktu minggunya dan mengajaknya ke rumahnya untuk membuat kue bersama Hyojungeonni (kakak perempuannya), Myungsoo mulai menghilang. Dua hari ini Myungsoo tidak ada kabar sama sekali. Suzy sudah menghubunginya berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Suzy sudah mengirimkan pesan berpuluh-puluh kali pun tidak direspon. Suzy pun sudah menghubungi Hyojung eonni, tapi seakan Hyojung eonni menyembunyikan sesuatu, tak tau apa itu. Kemana Myungsoo? Dia sangat merindukan namja konyol itu.

Ingat akan kebiasaannya membuat origami, Suzy membuka laci paling bawah di nakas samping tempat tidurnya. Suzy mengambil sebuah kotak besar itu, lalu membukanya. Diambilnya sekertas origami berwarna kuning bermanik. Kemudian dibuatnya dengan sedemikian rupa sehingga menjadi lambang hati itu. Setelah selesai, Suzy memasukkannya kedalam salah satu botol yang belum penuh.

“Mwo?”

Sepertinya ada yang berbeda disini. Suzy ingat betul kalau dia punya enam botol didalam kotak ini. Tapi kenapa hanya lima? Pabo, Suzy baru menyadarinya. Suzy merutuki dirinya sendiri yang kurang teliti dan sembarangan menaruhnya. Suzy mengembalikan kotak itu kembali ke tempatnya. Kemudian mencari satu botol yang hilang.

“Aish, kemana botol itu? Seingatku aku selalu menaruhnya langsung ke dalam kotak,” gerutu Suzy.

***

Suzy melangkahkan kakinya ke danau tempat favorit dirinya dengan Myungsoo. Semalam yeoja ini mendapat pesan dari Myungsoo yang menyuruhnya datang ke danau ini sekitar pukul empat sore hari ini. Tentu saja Suzy menurutinya, ingin rasanya ia meneriaki Myungsoo sepuasnya. Setelah membuatnya seperti patung berjalan yang sedang merindukan kekasihnya, dia hanya memberinya pesan untuk menyuruhnya ke danau ini. Apa namja itu tidak merindukannya juga? Dasar menyebalkan. Lihat saja, Suzy bisa menjadi buas jika dia mau.

Ditambah dengan hilangnya satu botol yang menurut Suzy sangat berharga itu. Hari itu Suzy tidak menemukan dimana botol itu berada. Sedangkan Suzy yakin jika dia selalu menaruhnya didalam kotak itu. Moodnya semakin aneh saja hari demi hari.

Setelah sampai di danau itu dan duduk di bangku yang biasa mereka tempati, Suzy tidak menemukan Myungsoo disana. Dimana namja itu? Dia yang membuat janji mengapa harus dia juga yang terlambat. Suzy hanya bisa mempout bibirnya kesal. Sedangkan, seseorang yang sedang di balik pohon yang berjarak beberapa meter tepat dibelakang dari tempat Suzy duduk hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah lucu kekasihnya. Ya, Myungsoo sebenarnya sudah berada di tempat sekitar lima belas menit yang lalu. Dia ingin memberikan sedikit kejutan untuk yeojanya.

I’ve been living with a shadow overhead,

I’ve been sleeping with a cloud above my bed

 

Myungsoo keluar dari tempat persembunyiannya sambil memetik senar gitar yang dibawanya.

I’ve been lonely for so long,

Trapped in the past,

I just can’t seem to move on!

Suzy menengok ke belekang saat menyadari suara siapa yang baru saja didengarnya. Dirinya tak dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya saat mendapati sang kekasih bernyanyi sambil memainkan gitar. Dia sendiri tau betul kalau Myungsoo tidak bisa bermain gitar. Tapi lihat? Bagaimana namja ini memainkannya? Bahkan dulu saat Myungsoo mencoba mengajarinya dia selalu menyerah dan lebih memilih mengganti-ganti channel televisi. Sudah banyak perubahan semenjak Myungsoo merantau ke Jepang. Dia sedikit berbeda.

I’ve been hiding all my hopes and dreams away,

Just in case I ever need ’em again someday,

I’ve been setting aside time,

To clear a little space in the corners of my mind!

Kini Myungsoo dan Suzy saling berhadapan. Suzy menatap Myungsoo penuh haru. Ini lagu favorit mereka. Myungsoo yang masih setia menatap mata teduh milik kekasihnya mulai menyadari ada beberapa tetes air mata yang keluar disana. Ingin rasanya dia menghapus air mata yeojanya. Suzy ikut bernyanyi bersama Myungsoo.

All I wanna do is find a way back into love.

I can’t make it through without a way back into love.

Ooo hooow

I’ve been watching but the stars refuse to shine,

I’ve been searching but I just don’t see the signs,

I know that it’s out there,

There’s gotta be something for my soul somewhere!

 

I’ve been looking for someone to she’d some light,

Not somebody just to get me through the night,

I could use some direction,

And I’m open to your suggestions.

 

All I wanna do is find a way back into love.

I can’t make it through without a way back into love.

And if I open my heart again,

I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end!

 

Mereka mengakhiri lagu tersebut penuh haru. Myungsoo menaruh gitarnya di atas bangku taman lalu mengambil bunga mawar merah yang sudah dia sediakan untuk kekasihnya yang berada di kantong celana belakangnya.

“Oppa…” Suzy mengambil bunga itu lalu berhambur kepelukan namjanya.

Myungsoo merasakan kini bajunya sudah basah. Dia pun melepas pelukan itu lalu mengusap air mata Suzy.

“Kamu kenapa menangis, sayang? Hm?”

“Aku mencintaimu, oppa,” ujar Suzy lalu kembali memeluk tubuh kekar Myungsoo. Myungsoo mencium kening Suzy dalam dan semakin mempererat pelukannya. Menghapus jarak diantara mereka. “Nado saranghae, chagi,”

“Ah tunggu dulu,” Myungsoo melepas kembali pelukannya lalu mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dongker dan membukanya.

Suzy semakin kaget saat melihat dua cincin indah didalamnya. Apa Myungsoo berniat melamarnya? Tapi dia masih berstatus pelajar dan masih terlalu muda untuk itu. Fikiran-fikiran aneh mulai berkeliaran di dalam otaknya.

“Oppa maksudnya ini apa? Kau ingin melamarku?” tanya Suzy polos.

Myungsoo menjitak kening kekasihnya. Bagaimana bisa dia berfikir seperti itu. Yeojanya memang sangat polos. Suzy hanya bisa mengusap keningnya sambil mengaduh ria.

“Tentu saja tidak, sayang,” Myungsoo mengambil satu cincin lalu memakaikannya ke jari manis Suzy. “Ka, sekarang kau pakaikan satunya lagi padaku,”

“Kalau kau tidak melamarku lalu ini apa? Shireo, aku tidak mau memakaikannya,” Suzy mulai berusaha melepas cincin yang baru saja di pasangkan Myungsoo. Seakan frustasi, Myungsoo menghalangi tingkah konyol yeojanya.

“Pabo! Siapa yang ingin melamarmu? Siapa juga yang ingin melamar bocah, eoh?” kesal Myungsoo.

Suzy melongok kesal. “Mwo? Kau bilang aku apa barusan? Aku bocah? Yak! Kau yang bocah!” Suzy mendaratkan sebuah jitakan ke kepala Myungsoo lalu mempout bibirnya kesal.

Myungsoo menarik nafasnya berkali-kali sebelum menjawab pernyataan konyol yeojanya sambil menutup kedua matanya. “Suzy-ah..”

“Wae? Kau benar ingin melamarku kan? Jangan berbohong, tuan Kim,”

Namja tersebut membuang nafasnya kasar lalu membuka kedua matanya dan menggenggam tangan kekasihnya. “Dengarkan aku sebentar, chagi. Anggap saja ini sebagai tanda kalau kau sudah menjadi milikku. Ah, kau boleh menganggapnya sebagai cincin pertunangan. Ingat, aku bukan melamarmu, bocah,” lagi-lagi Suzy menatap Myungsoo kesal saat memanggilnya bocah. “Aku akan melamarmu jika nanti aku sudah sukses dan yakin dapat membangun masa depan yang lebih baik denganmu. Kau hanya perlu menunggu beberapa tahun. Lagipula aku hanya ingin melamar yeoja dewasa, bukan bocah sepertimu,” cibir Myungsoo.

“Neo…!!!!!!!!!!!!!!!!!” Suzy segera mengejar Myungsoo yang sudah berlari menjauh menghindari cubitan Suzy yang sangat perih itu.

***

Satu bulan pun berlalu begitu cepat. Kini tiba hari dimana Myungsoo harus kembali ke tempat dirinya menuntut ilmu. Ada perasaan tidak rela disana jika Suzy harus kembali kehilangan Myungsoo selama beberapa bulan kedepan lagi. Tapi lagi-lagi Suzy tidak ingin menghalangi Myungsoo pergi.

Kedua orang tua Myungsoo tidak dapat mengantarnya karena ada rapat penting yang harus dihadiri. Myungsoo sendiri pun tidak mempermasalahkan itu. Hanya Suzy dan beberapa temannya yang mengantarkannya. Ketiga teman Myungsoo yang menyadari pasangan ini membutuhkan waktu berdua, pergi entah kemana.Myungsoo menggenggam tangan Suzy erat. Di jari manis keduanya sudah terpasang cincin yang Myungsoo berikan beberapa waktu lalu. Myungsoo menghentikan jalannya dan disusul Suzy.

“Boleh aku meminta sesuatu?” tanya Myungsoo setelah mereka saling berhadapan.

Kening Suzy mengkerut bingung. “Kau ingin meminta apa, oppa?”

Myungsoo membuka tas gembloknya lalu mengeluar sebuah botol bening dengan berisi karya-karya origami didalamnya. Kedua bola mata Suzy membulat menyadari botol apa itu. Jadi Myungsoo yang mengambilnya? Bagaimana bisa? Kapan?

“Oppa?”

Myungsoo menyeringai sambil menggerakkan botol tersebut. “Apa boleh aku bawa ini Jepang? Kalau aku merindukanmu ini bisa sedikit ampuh untuk mengobati rasa rinduku disana,”

“Dasar maling,”

“Mwo? Aku tidak masuk dalam kategori maling yang kau maksudkan, arra? Aku tau kau membuat ini karena kau memikirkanku. Karena ini masih menyangkut-pautkan diriku, tak masalah bukan kalau aku mengambil satu saja?” tanya Myungsoo sambil mencolek dagu Suzy, mencoba menggoda.

Pipi Suzy merona merah saat mendengarnya. Kemudian Suzy mengangguk pelan. “Kalau kau malingnya, tak apa,”

Myungsoo mengacak rambut Suzy. “Bocah yang manis,”

“Aish, aku bukan bocah,” kesal Suzy.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Myungsoo pelan. “Myung, sebentar lagi kau harus take off. Ka, jangan karena yeojamu kau tertinggal pesawat,” ledek Sunggyu, salah satu sahabat Myungsoo yang ikut mengantarnya. Disamping Sunggyu ada Woohyun dan Hoya yang ikut serta mengantarnya juga.

Myungsoo menyikut Sunggyu. “Kau ini. Baiklah aku pergi, kalian baik-baik disini, arra. Jangan terlalu merindukan sahabat kalian yang tampan ini. Aku akan sangat bingung menenangkan kalian nanti,” ujar Myungsoo sambil memeluk Sunggyu, Hoya dan Woohyun secara bergantian. Dan mendapatkan tiga memar merah setelah memeluk ketiga namja itu.

“Itu balasan kami. Siapa suruh kau terlalu percaya diri,” cibir Hoya.

“Kalau bukan karena Suzy, aku tak mau mengantarmu kesini,” jujur Woohyun lalu mendapat jitakan pedas dari Myungsoo. Keempat lelaki bersahabat itu tertawa dan disusul tawa satu-satunya yeoja cantik disana.

Lalu Sunggyu dan Woohyun mengambil alih koper Myungsoo, bersedia menemani Myungsoo masuk kedalam bandara. Suzy tidak dibiarkan ikut masuk kedalam, takut-takut Myungsoo bisa tidak jadi keluar negeri saat menatap Suzy lagi.

Myungsoo menatap Suzy damai, kemudian memeluk yeoja yang lebih pendek darinya beberapa sentimeter. “Awas kalau kau dekat-dekat dengan namja bernama Junho itu lagi,” perintah Myungsoo.

Suzy terkekeh mendengarnya. Namjanya masih cemburu. “Bagaimana kalau aku ingin dekat dengannya?”

“Yak!! Kau ingin mati, eoh?!” Myungsoo segera melepas pelukannya.

“Tidak, oppa. Percaya padaku,” ujar Suzy lalu mencuri-curi mencium bibir Myungsoo sekilas. Sunggyu, Hoya dan Woohyun yang asik melihat kemesraan pasangan tersebut segera mengalihkan pandangannya. Ada yang berpura-pura melihat orang-orang menuruni lift seperti Sunggyu, Woohyun melihat security disana sedang menasihati salah seorang disana, dan Hoya yang pergi ke tempat makan dekat sana.

Myungsoo mengerjapkan matanya. Suzy menciumnya? Yang benar?  Setelah tersadar dengan apa yang terjadi barusan, Myungsoo mengeluarkan evil smilenya yang sangat ditakuti Suzy. Entah mengapa, bagi Suzy senyum itu adalah senyum mesum milik Myungsoo. Myungsoo yang menyadari tingkah temannya seolah tak melihat apa yang terjadi barusan mendapat ide jahil yang tiba-tiba saja terlintas diotaknya.

“Suzy-ah,”

“Hm? Ne oppa?” tanya Suzy yang masih tertunduk malu dan merutuki dirinya sendiri yang sudah mulai membuat Myungsoo mengeluarkan senyum setannya.

“Kau tak ingin menatapku, eoh?”

Suzy menggelengkan kepalanya cepat. Evil smile milik Myungsoo semakin menampakkan kehadirannya. Dengan cepat Myungsoo menarik tubuh Suzy lebih dengannya, bahkan tak ada jarak sedikitpun. Dan segera melumat bibir Suzy lembut. Mencoba menyalurkan rasa cintanya pada kekasihnya. Namjanya memang sangat konyol. Suzy tak mau diam, dia langsung memeluk leher namjanya, dapat diartikan dia menerima ciuman tersebut.

Sedangkan Sunggyu dan Woohyun yang masih ada disana langsung membelalakkan matanya kesal. Pasangan menyebalkan! Bagi mereka menunjukkan kemesraan didepan para single sangat dilarang. Dibalik ciumannya yang semakin dalam, Myungsoo tertawa dalam hati.

“KALIAAANNNN!!!!!!!”

-end-

Gimana ff gajenya? Hehe maaf kalau aku buat alurnya terlalu cepat, aku ga ada ide banyak. Lagipula cuman berencana aku buat oneshot kkk~

Maaf kalau karakternya keluar dari aslinya..

Jangan lupa meninggalkan jejak seperti like or comment ne ^^ kamsahamnida^^

36 responses to “[Freelance/Oneshoot] Origami of Love

  1. Bagus bnget thor ceritanya..
    suka sama keseriusan myung untk jd org sukses agar bs nkah ma suzy..
    endingnya jd kasian ma 3 namja tampan tp jomblo..keke^^

  2. sosweet lucu dan sangat romantis… myungsoo kalo cemburi serem yaa… bagian endingnya paling aku suka

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s