Wedding Dress [Interlude]

IM

xianara presents:

Interlude

Bae Suzy and Kim Myungsoo

Interlude from Wedding Dress *more click here teaser 1 2

enjoy!

-Interlude-

Myungsoo’s.

Cukup aku saja yang berlakon sebagai orang dungu di sini. Kau tetaplah menjadi dirimu yang dulu, jangan pernah berubah. Bahkan jika aku yang memintanya.

Tanpa membuang waktu aku segera mengejarnya yang bergegas turun dari atap sekolah. Sebelum menyusulnya aku menyempatkan diri untuk mencari bracelet yang ia buang sembarangan. Sepuluh menit kumencari, akhirnya kutemukan juga jimat persahabatan kami itu.

Segera kumasukan gelang tersebut ke dalam saku celanaku. Lalu aku pun segera berlari mengejarnya yang kuharap belum jauh dari sekolah.

Lima menit kuberlari tanpa henti. Aku membuang napasku yang yang tersengal-sengan dan mencari tumpuan pada sebatang tiang listrik di depanku. Tunggu, punggung itu sepertinya kukenal. Dugaanku tepat. Itu dia! Lihat, dia kutemukan juga kan? Tapi tunggu, ada yang aneh dengannya.

Ia berjalan dengan sempoyongan.

Dari jarak 25 meter aku masih dapat mendengar suara isakan tangisnya. Hatiku teriris saat mendengarnya. Terlebih mengetahui penyebab dari ia menangis itu adalah aku. Tanpa pikir panjang lagi, segera kuhampiri dirinya. Namun, tubuhnya itu semakin terhuyung dan terhenti di dekat tiang listrik. Dapat kulihat ia memegang kepalanya lalu berteriak mengaduh kesakitan.

“Ah!!!”

Aku segera berlari secepatnya. Sedetik kemudian ia pun ambruk tepat saat aku berada di belakangnya. Aku pun menangkap tubuhnya yang terlungkup itu dengan sigap.

“Bae Suzy!!!!”

Aku membopong tubuh Suzy yang lemah itu dan berlari sekuat tenaga menuju ke klinik dan rumah sakit terdekat. Dalam hati kuberdoa agar sesuatu tidak terjadi padanya. Kalau sampai itu terjadi, aku tak punya pilihan selain bunuh diri! Berlebihan? Tidak!

Di rumah sakit,

Bibi Choi datang sambil tergopoh-gopoh dengan wajah yang berlinangan air mata. Ia pun segera memberondongiku dengan pertanyaan yang bertub-tubi mengenai Suzy.

“Apa yang terjadi pada anakku?! Kenapa dia bisa seperti itu? Myungsoo-ya, kau tahu apa yang terjadi padanya? Tolong beritahu aku!”

“Bibi, tenanglah dulu, dokter dan perawat sedang merawatnya, “

“Apakah ia baik-baik saja? Huh?”

“Dia pasti baik-baik saja. Suzy itu gadis yang kuat dan tangguh Bi.”

Aku berdusta. Benar-benar lelaki pengecut.

Dua hari kemudian,

Aku masih setia menemani bibi di rumah sakit. Walaupun bibi telah menyuruhku untuk kembali ke rumah aku beralasan bahwa aku tidak bisa meninggalkan Suzy sendirian. Padahal, alasan sebenarnya karena aku merasa bersalah. Penyebab dirinya sampai pingsan dan belum sadar ini kan aku. Kim Myungsoo Si Bodoh.

“Myungsoo-ya, lebih baik kau pulang saja. Nanti akhir pekan kau bisa kemari lagi. Ayah dan nenekmu di rumah pasti mengkhawatirkanmu.”

“Tidak apa Bi. Aku sudah memberitahu mereka dan mereka bilang tidak apa. Bukankah nenek juga sudah memberitahumu kemarin kan? Saat ia datang menjenguk Suzy.”

“Iya aku tahu Nak, tapi kan kau harus, “

“Bibi, dengarkan aku, aku tidak bisa pergi ke sekolah tanpa Suzy. Aku tidak bisa melakukan apa-apa tanpa dirinya. Dan sebagai seorang sahabat sudah sepantasnya aku setia di sini bersama Suzy, “

“Kim Myungsoo kau, “

“Lagipula, aku ini calon menantu yang baik kan? Apakah aku bisa menjadi menantumu kelak?” canda Myungsoo yang membuat Bibi Choi mengular sebuah kekehan kecil.

“Dasar anak muda jaman sekarang.”

***

Kabar Suzy telah sadar dengan cepat merambat ke telingaku. Aku mengambil langkah seribu menuju rumah sakit tempatnya di rawat. Aku bertanya kepada resepsionis di mana kamar Suzy dipindahkan, meningat selama seminggu kemarin gadis itu dirawat di ruangan ICU.

Keningku berkerut. Gadis itu dipindahkan ke lantai 8. Di bagian syaraf. Ada apa dengannya? Tanpa banyak bertanya aku pun menggumamkan terima kasih lantas segera menekan tombol lift untuk  segera naik. Firasatku mengatakan sesuatu terjadi. Entah apa itu tetapi aku merasakan sakit yang semakin kuat. Apa ini maksdunya.

‘Ting!’

Lift berdenting menandakan aku telah sampai di lantai 8. Aku melihat papan penunjuk jalan. Ruang Bagian Syaraf ambil jalan lurus. Aku pun mengikuti petunjuk itu. Tepat di depan pintu bertuliskan Dr. Yoon Bora, Sp. S. aku melihat bibi keluar dari sana.

“Bibi, bagaimana keadaan Suzy?”

“Kim Myungsoo!”

Aku sedikit tersentak. Tidak biasanya bibi memanggilku dengan nama belakangku. Ada apa dengannya? Suaranya pun terdengar sedikit membentak. Apa benar firasatku itu?

“A-ada apa Bi?”

“Jauhi Bae Suzy.”

Kata-kata itu seperti jutaan jarum yang menghujam jantungku. The pain is here.

“Apa maksudnya? Bibi, jangan bercanda, kau tahu kan kalau, “

“Aku tidak sedang bergurau! Kumohon, jauhilah Bae Suzy. Kalau perlu kau pergilah ke luar Seoul dan jangan pernah nampakan batang hidungmu itu di depan anakku!”

“Bi, a-aku tidak mengerti dengan semua ini. Memang apa  yang telah terjadi pada Suzy? “

“Jawab pertanyaanku, apa kau menyayangi Suzy?” potong Bibi cepat.

Aku terdiam. Tidak, aku tidak menyayanginya tetapi sangat menyayanginya.

“A-ku, aku, “ suaraku tercekat. Aku pun menatap mata bibi. “Tidak. Tetapi, aku sangat menyayangi bahkan mencintainya. Tetapi jika aku pergi untuk kebahagiaanya aku akan pergi. Kadang cinta itu tidak harus saling memiliki kan?”

Bibi menangis. Air mataku juga tidak dapat berkompromi. Saat berkata seperti itu dadaku rasanya sesak sekali. oh, mengapa sesakit ini? Aku pun dengan kasar menghapus jejak air mata di wajahku.

“Myungsoo, berjanjilah, kau akan melupakan Suzy. Kau akan pergi jauh untuknya. Satu lagi, jangan sampai aku menemukan anak buahmu, ayahmu, atau nenekmu yang memata-matai kami. Jangan pernah mengorek informasi tentang kami, mengerti?”

Aku mengangguk pilu. Bibi lantas tidak meninggalkanku melainkan memberiku sebuah pelukan yang hangat. Tanganku pun terulur untuk membalas pelukan seorang ibu itu.

“Maafkan aku, ini pasti semua karena salahku.”

Bibi tidak menjawab.

“Aku hanya tidak ingin kehilangan orang tersayangku lagi. Cukup aku ditinggal oleh ayahnya, aku tidak mau Suzy juga pergi dariku!”

***

Sore itu, saa terakhir kumelihatnya. Suzy terbaring lemah di atas bangsal serba putih. Tidak ada lagi peralatan aneh yang terpasang di tubuh gadis itu selain jarum infus. Wajahnya pucat pasi seperti kertas ulangan kami. Ah, jadi ini akhir dri kisah yang bahkan belum kumulai secara resmi?

Aku memenuhi janjiku kepada bibi. Aku akan pindah ke New York untuk melanjutkan studi dan kuliah di sana. Sekaligus ikut menemani ayah untuk berekspansi bisnis di sana. Aku juga memenuhi permintaan bibi untuk tidak menaruh penguntit dan mata-mata di sekitar lingkungan tempat tinggalnya dan sekolah. Aku akan benar-benar melupakan Suzy. Semampuku. Itupun kalau aku bisa. Kalau tidak? Yah, bayangkan sendiri saja.

Waktu dua tahun telah menyadari bahwa kumencintaimu di hatiku. Namun bagiku melupakanmu dan semua kenangan selama itu butuh waktuku seumur hidup. Aku pun mengucapkan selamat tinggal kepadanya melalui matanya yang terpejam.

Bae Suzy, annyeong.

-Interlude-

Suzy’s.

Tuhan sepertinya menjadikanku sebagai bulan-bulananNya. Kenapa harus kau lagi sih?

Aku mengerang keskaitan. Tubuhku rasanya sakit semua. Paling sakit rasanya itu di kepala. Entah di bagian mana tetapi rasa sakitnya itu luar biasa dahsyatnya. Aku tidak bisa tidak menangis setiap sakit ini datang. Aku pun mencari keberadaan ibu.

Di mana ibu?

‘Ceklek!’

Pintu kamarku terbuka. Oh ternyata itu Dokter Yoon. Dokter muda yang manis itu datang bersama ibuku. Aku pun tersenyum menyapa keduanya.

Annyeong haseyo Dokter.”

Annyeong Suzy, sudah baikan? Apa masih sakit kepalanya?

“Hm, aku sudah merasa sedikit baikan. Ya, sedikit.”

Aku pun mengalihkan perhatianku dari Dokter Yoon kepada ibu yang sibuk mengemasi pakaianku. Pikiranku pun merawang. Hari ini aku pasti sudah diperbolehkan pulang.

“Ibu, Dokter Yoon, hari ini aku sudah bisa pulang ke rumah ya?” tanyaku.

Ibu dan Dokter Yoon mengangguk. Aku pun kembali tersenyum. Akhirnya aku bisa bebas dari bau rumah sakit yang menyesakan paru-paruku.

“Tetapi sebelum pulang kau harus menjalani final check dulu ya. Lalu setelah itu jangan lupa untuk melakukan medical check-up secara rutin. Oke?”

“Oke Dok.”

Jujur, sebenarnya aku sendiri tidak tahu alasan kenapa aku bisa masuk rumah sakit. Padahal seingatku aku sehat-sehat saja. Seeingatku aku itu akan mengikuti olimpiade bahasa lalu keesokan harinya aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Anehnya aku malah menemukan diriku terbaring di atas ranjang rumah sakit.

Setelah kutanya apa yang terjadi ibu hanya menjawab bahwa waktu itu aku tersandung lalu terjatuh hingga tak sadarkan diri. Aku sih percaya-percaya saja. Toh, aku juga tidak merasakan kejanggalan apapun.

Saat kutanya tentang olimpiade bahasa yang kuikuti ibu hanya menjawab bahwa aku tidak perlu cemas. Katanya, sekolahku itu menyabet juara pertama dan berhak maju ke babak selanjutnya. Park Jiyeon pasti besar kepala. Uh, pasti gadis itu senang sekali bisa memiliki hak paten sebagai perwakilan SMA Jongno untuk olimpiade bahasa itu. Apalagi setelah ia berhasil membantu sekolahku meraih juara. Huh!

Yah, mengingat posisiku yang hanya sebagai cadangan tentu saja aku hanya seperti secarik kotoran semut di atas tali jemuran bagi Jiyeon dan Youngjae – pemuda kelas sebelas yang mewakili SMA Jongno. Lihatkan? Aku masih ingat persis informasi terakhir yang kudapat.

Ya, setelah kupikir-pikir memang tidak terjadi apa-apa padaku. Namun aku juga merasaka gelagat aneh baik dari Dokter Yoon maupun ibu. Seperti ada yang disembunyikan. Tetapi melihat gelagat aneh ibu aku seperti sudah terbiasa. Toh, ibuku itu memang agak sedikit hebring. Jadi, itu wajar.

-Interlude-

Papan pengumuman yang memuat daftar nama siswa yang mengikuti olimpiade bahasa dan mewakili SMA Jongno telah dipasang rapi. Hanya segelintir murid saja yang tertarik membacanya. Sisanya malah memilih berlalu begitu saja.

ann

Seorang gadis dengan gaya rambut berponi depan memandang  kertas di hadapannya dengan tatapan yang tidak dapat dipercaya. Ia mengatupkan mulutnya rapat. Magma di dalam raganya sudah mendidih. Kalau divisiualisasikan seperti kartun yang selalu ia tonton, mungkin kepalanya sudah berasap.

Untuk apa ia belajar menghapal grammar beserta tenses dan berbicara menggunakan bahasa asing dengan ibunya yang hanya bisa menjawab Yes dan No kalau posisinya itu hanya seorang cadangan. Ya cadangan! Hatinya mencelos tatkala usahanya akan terbuang sia-sia.

Park Jiyeon. Gadis itu satu sekelas dengannya. Dilihat dari daftar presensi ia sempurna. Tidak pernah ada contrengan di kolom S I A. kehadirannya mencapai angka 100%. Jadi, berharap dia tidak masuk saat olimpiade berlangsung itu sama saja mendoakan Yunho, Changmin, Junsu, Yoochun, dan Jaejoong bersatu. Mustahil.

Choi Youngjae. Ia tidak begitu kenal dengan pemuda yang berada satu tingkat di bawahnya itu. Namun dari desas-desus yang ia dengar ia merupakan English-freak. Jadi, memilihnya dibanding Youngjae adalah kesalahan besar.

Ia menghela napas seolah-olah itu adalah napas terakhirnya. Pelupuknya mulai dipenuhi air mata. Cengeng, kalau menyenggol soal akademik air matanya akan sukarela meluncur dari sarangnya. Ia sangat sensitive kalau disinggung soal akademik.

Secara, dia itu adalah peraih peringkat #1 atau #2 sejak kelas sepuluh di SMA Jongno. Bisa dibilang, gadis yang sedang menggigit bibir bawahnya ini adalah juara kelas dan kebanggaan sekolah. Tetapi melihat namanya yang hanya masuk tim cadangan dalam olimpiade itu sungguh menjatuhkan martabatnya.

“Bae Suzy!”

Gadis itu menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda jangkung dengan terburu-buru menghampirinya. Suzy – gadis itu malah segera berlari menghindarinya.

‘He?! Mau ke mana! Tunggu aku!”

‘Grepp!’

Setelah aksi kejar-kejaran Tom and Jerry dilakukan, pemuda itu berhasil menarik pergelangan tangan gadis itu. ia mencengkeramnya kuat seakan tidak membiarkannya kabur.

“Lepaskan!”

“Tidak mau!”

“Kim Myungsoo, kubilang lepaskan! Dasar pengkhianat!”

Myungsoo sudah tahu reaksi apa yang akan dikeluarkan gadis itu terhadapnya setelah melihat papan pengumuman yang baru dipasang tadi pagi. Mengamuk. Marah-marah. Bahkan yang lebih fatal, membencinya.

“Dengarkan aku dulu, ini hanya kesalahpahaman, sungguh, “

“Halah?! Kesalahpahaman kau bilang? Sudah jelas-jelas namaku tertera di sana sebagai cadangan. Dengar tidak? C A D A N G A N!” Suzy bahkan sampai mengeja setiap abjadnya dengan penuh penekanan.

Suzy menarik cengkeraman pemuda itu yang memenjarakan lengannya. Ia pun membiarkan gadis itu melepasnya. Myungsoo lekas menarik lengan gadis itu lagi dan membawanya pergi ke halaman belakang sekolah.

“Hei dengar ya, aku bukan PENGKHIANAT! Dan kumohon dengarkanlah penjelasanku dulu, “

“Penjelasan yang mana? Yang saat kau disuruh menemani nenek ke rumah sakit padahal kau sedang bersantai sore di sebuah café bersama hyeongmu, Jihyo Seosangnim, dan satu lagi. Gadis yang baru kuketahui identitasnya. Jiyeon. Ah, dia ternyata sepupunya Jihyo Seosangnim ya? Aku baru tahu. Ha?!

Myungsoo pun terdiam. Ia tidak bisa mengelak dan membantah. Ia adalah terdakwa sepenuhnya dalam kasus yang menyeret Suzy dan dirinya.

“Harusnya kau bilang dari awal kalau tidak ada kesempatan untukku. Jangan mengobral mimpi dan janji palsumu itu; Suzy, kau tenang saja! Kau itu satu-satunya kandidat siswi untuk olimpiade bahasa kali ini. Aku berani bersumpah! Persahabatan kita taruhannya?! Kau benar, kau telah mempertaruhkan persahabatan kita. Myungsoo, kau it – “

“Bae Suzy, hentikan!” gertak Myungsoo. Ia pun mendekatkan dirinya pada gadis itu. mencengkeram kedua bahunya erat lantas menyelaraskan pandangannya hingga bertemu dengan manik hazel itu.

“Kau boleh menyalahkanku. Aku mengaku salah. Tapi, asal kau tahu, ini semua di luar kendaliku. Heechul Hyeong pernah bilang kalau ia pasti akan memasukan namamu di papan pengumuman namamu memang keluar tapi tahu-tahu  hanya sebagai cadangan. Untuk soal itu, demi Tuhan, aku tidak tahu menahu.” Pemuda itu pun menjauhkan wajahnya dari Suzy yang memerah. Bukan karena tersipu melainkan menahan tangis.

“Soal Jiyeon, maafkan aku karena telah membohongimu. Saat itu a-aku aku takut membuatmu cemburu karena aku se-sedang bersama dengan orang kau tidak sukai itu, “

Suzy berdecak kesal. “Cemburu? Untuk apa aku cemburu. Turunkan tanganmu itu!” seru Suzy. Pemuda itu pun menuruti. “Satu lagi, mulai sekarang kalau dirimu mau jalan dengan siapaun dan kemanapun itu bukan lagi menjadi urusanku! Urusi saja urusanmu sendiri! Mulai detik ini kita masing-masing saja!”

Suzy pun berlari meninggalkan Myungsoo yang membatu di tempatnya. Ia pergi menuju atap sekolah yang dikenal sepi. Mengetahui ke mana ia pergi, Myungsoo pun segera membuntutinya. Tidak, tidak mungkin! Suzy tidak akan loncat dari atas sana. Ayolah, ini kan karena hal sepele. Sebuah kesalahpahaman.

“Jangan ikuti aku!”

*** Interlude to Wedding Dress ***

a/n:

Interlude ini berisi clue2 kenapa Suzy bisa kena amnesia disosiatif dan hal apa yang sudah dilakukan Myungsoo sampai membuat Suzy marah besar. Kenapa saya membuat interlude ini? karena saya sadar banyak readers yang kebingungan akan jalan ceritanya. jadi, untuk mempermudah para readers yang kebingungan itu saya buat interlude ini. bisa dibilang ini tuh semacam ringkasan cerita untuk ke chapter selanjutnya.

lalu saya juga MOHON MAAF SEBESAR-BESARNYA atas storyline Wedding Dress yang membingungkan. saya tidak akan membuat alasan karena ini adalah ff chaptered pertama saya tetapi saya akui itu mmg kesalahan saya karena kurang cakap dalam mengolah suatu cerita. MOHON MAAF juga atas SCENE ROMANCE yang minim SEKALI dalam FF ini*padahal ff in bergenre romkance tapi di kaga ada romance2 acan yah di chapt2 sebelumnya:( *. saya tahu banyak kejenuhan ditemukan saat membaca WD dan itu juga merupakan kelalaian saya. sekali lagi saya minta maaf. Untuk ke depannya akan saya usahakan lebih baik lagi untuk hal itu.🙂

terima kasih untuk semua yang telah mendrop apresiasi dan menghabiskan waktu berharganya untuk  Wedding Dress🙂

see u in the next chapter,

xianara-sign

*setahu saya di KSF tidak ada yang namanya SIDERS kan? Semua pembaca di KSF adalah orang2 yang apresiatif kan?😉 *

#maaf kebanyakan cingcau saya T_T#

73 responses to “Wedding Dress [Interlude]

  1. Pingback: Wedding Dress Final Chapter (2/2) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Euum jdi suzy mengalami amnesia disosiatif, pantesan aja lupa. Lalu apa penyebabnya? Knp suzy mnganggap myung pengkhianat? apa Bnar myung berubah mnjadi pengkhianat? knp suzy membenci myung? ada masalah apa antara suzy dan myung?

  3. ahh, uda kejawab kenapa suzy kesel sama myungsoo. soalnya kalo ak jadi suzy juga pasti kecewa berat biarpun blom tentu myungsoo yg sala. btw hebring itu apa ya thor hehe

  4. Oalah ternyata itu penyebabnya… kl dipikir ga terlalu parah. Tp kl u anak Korea jenius yg perfeksionis itu menjadi hal yg besar.
    Oke lanjut ke final chap…

    • lol, saya tahu ini lebayy emang tapi ya namanya juga fiksi😀 hehe
      tapi berdasarkan studi kasus, hal tersebut bisa aja terjadi *lho, ngawur aja nih*
      eniwei, makasih banyak ya kamu sudah baca keseluruhan chapter Wedding Dress ^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s