[Freelance] New Destiny Chapter 3

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

….

Joseon, 1365

Seorang pemuda tengah terbaring di sebuah ruangan yang tak begitu besar. Perlahan kedua matanya terbuka dan mengerjap. Keningnya berkerut samar, sedangkan manik matanya memindai setiap detail yang ada di ruangan itu.

Krekk..

Pemuda itu menolehkan kepalanya melihat pintu yang terbuka. Seorang gadis dengan hanbok berwarna kuning cerah memasuki ruangan lalu mendekati si pemuda.

Orabeoni, kau sudah bangun? Baru saja aku mau membangunkanmu dan mengajak makan malam bersama ayah.”

Myungsoo – pemuda itu – semakin mengerutkan keningnya. Ia kembali mengamati ruangan tempat Ia berbaring itu.

Orabeoni, kenapa diam saja? Ahbeoji sudah menunggu,” kata gadis itu lagi.

Myungsoo membangunkan tubuhnya. Aneh. Bagi pemuda itu, semuanya terasa ganjil. Yang Myungsoo ingat, Ia tengah berada di kamar Putra Mahkota tadi. Ia juga ingat saat tiba-tiba bangunan-bangunan runtuh hingga menimpanya. Dan yang paling diingatnya adalah saat Ia bertemu dengan seorang perempuan. Perempuan dengan penampilan dan juga bahasa yang aneh.

Orabeoni…”

“Sohyun-ah, apa Putra Mahkota baik-baik saja?” tanya Myungsoo.

Sohyun – gadis itu sekaligus adik Myungsoo – menatap kakaknya bingung. Apa sih yang dibicarakan kakaknya? Memangnya ada apa dengan Putra Mahkota?

“Ada apa denganmu, Orabeoni? Kenapa bertanya padaku? Bukannya kau baru bertemu dengannya tadi?” celoteh Sohyun.

Tiba-tiba saja Myungsoo beranjak berdiri. Ia kemudian memakai hanbok luarnya dan bergegas keluar dari rumah. Sohyun yang melihat kakaknya keluar dari kamar segera menyusulnya.

Orabeoni!” panggilnya.

Myungsoo menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah adiknya. “Ada apa?”

Ahbeoji sudah menunggu kita. Orabeoni mau kemana?”

“Katakan pada ahbeoji aku harus menemui Putra Mahkota sekarang!”

Sohyun terdiam memandangi kepergian kakaknya. Dahinya berkerut dalam, sibuk memikirkan tingkah kakaknya yang terlewat aneh. Namun semakin Ia memikirkannya semakin sulit pula jawaban itu mampir di kepalanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada kakaknya?

….

Sebuah bangunan dengan kolam ikan di depannya yang masih berdiri kokoh membuat Myungsoo tercengang. Terlebih melihat tak ada satupun sisa reruntuhan yang Ia lihat dan rasakan tadi siang.

Dihampirinya Kasim Hong yang baru saja keluar dari bangunan tersebut. Kediaman Putra Mahkota.

“Kasim Hong!” panggil Myungsoo.

Kasim Hong tersentak mendengar seseorang menyerukan namanya. Pasalnya hari sudah malam dan masih saja ada yang berkeliaran di istana. Namun keterkejutannya perlahan memudar setelah menyadari si empunya suara.

“Kasim Hong, apa kau baik-baik saja?” tanya Myungsoo.

Ne?” sahut Kasim Hong sambil menatap Myungsoo kebingungan, “tentu saja saya baik-baik saja. Memangnya ada apa?”

Myungsoo kembali terdiam. Manik matanya kembali meneliti keadaan di sekitarnya. Tak ada sedikitpun yang aneh pada kediaman Putra Mahkota. Tak ada sisa reruntuhan, bahkan bangunannya masih berdiri kokoh seolah tak ada yang terjadi tadi siang.

Setelah terdiam sejenak, Myungsoo pun menyuruh Kasim Hong untuk memberitahukan kedatangannya pada Putra Mahkota. Walaupun sebenarnya jika dilihat dari keadaan Kasim Hong dan bangunan yang ada, sudah pasti Putra Mahkota baik-baik saja.

“Masuklah, Pengawal Kim,” kata Kasim Hong setelah memberitahukan kedatangan Myungsoo pada Putra Mahkota.

Myungsoo pun melenggang masuk ke dalam ruangan Putra Mahkota. Tanpa sadar Ia menghela nafas lega melihat tak ada yang aneh pada Howon.

“Ada apa, Myungsoo?” tanya Howon.

Setelah membungkukkan badannya, Myungsoo pun beranjak duduk di hadapan Howon. Sejenak Ia terdiam karena tak yakin apa Ia harus menanyakan hal ini pada Howon, namun di sisi lain Ia juga penasaran dengan apa yang terjadi.

Howon menatap Myungsoo dengan bingung, hingga tanpa sadar menimbulkan kerutan samar di keningnya.

Choha, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan,” kata Myungsoo akhirnya.

“Katakanlah..”

Lagi-lagi keraguan menyerang Myungsoo.

“Katakanlah, Kim Myungsoo. Jangan membuatku penasaran!”

Jwesonghamnida, Choha. Sebenarnya saya… yang ingin saya tanyakan adalah,” Myungsoo berhenti sejenak sebelum kemudian melanjutkan, “apakah Choha tadi siang merasakan tanah yang bergetar?”

Kerutan di kening Howon terlihat semakin dalam mendengar pertanyaan yang lolos dari bibir Myungsoo. Sejurus kemudian Ia tertawa terbahak-bahak menertawakan pertanyaan Myungsoo yang aneh seolah hal tersebut adalah lelucon paling lucu di dunia.

“Apa maksudmu, Myungsoo-ya? Jangan bercanda seperti itu! Mana ada tanah yang bergetar? Haha!” celetuk Howon dengan diiringi tawa pada akhir perkataannya.

Myungsoo bingung harus berkata apa. Otaknya benar-benar tak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa denganmu, Myungsoo? Apa mencaritahu tentang Putri Mahkota terlalu berat bagimu? Kalau iya, sepertinya kau butuh istirahat. Apa aku harus meliburkanmu sejenak?”

Jwesonghamnida, Choha. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya…”

“Sudahlah,” potong Howon, “lebih baik kau pulang saja dan beristirahat di rumah. Masalah Putri Mahkota biar aku yang mengurus semuanya.”

Akhirnya Myungsoo memutuskan untuk kembali ke rumahnya setelah berpamitan pada Putra Mahkota dan juga tak lupa menyapa Kasim Hong yang masih berdiri tegak di depan kamar Putra Mahkota.

….

Sohyun menatap kakaknya bingung. Dari kemarin sikap kakaknya terbilang aneh. Terlampau aneh malah. Sejak bangun tidur setelah berkunjung dari kediaman Putra Mahkota, Ia menjadi banyak melamun entah memikirkan apa. Belum lagi saat malam-malam Ia juga tiba-tiba pergi menemui Putra Mahkota dan pulang dengan tingkah yang tak kalah aneh.

Orabeoni…” panggil Sohyun.

Myungsoo yang sedaritadi hanya diam sambil mengaduk-aduk makanannya pun menoleh pada adiknya yang masih betah duduk di hadapannya. Ia kemudian menyunggingkan senyumnya.

“Kau masih disini? Kukira kau sudah kembali ke kamarmu,” kata Myungsoo.

Tuh, kan. Apa yang Sohyun katakan memang benar. Kakaknya ini kenapa aneh sekali? Bahkan Ia tidak sadar kalau Sohyun belum beranjak sedikitpun dari tempatnya?

Orabeoni, ada apa denganmu sebenarnya?” tanya Sohyun akhirnya karena tak tahan dengan sikap kakaknya.

“Apa? Memangnya aku kenapa?”

Sohyun menggerutu karena kakaknya pun tak menyadari apa yang telah dilakukannya hingga membuat Sohyun kebingungan setengah mati. Ia pun menunjuk makanan Myungsoo yang sedaritadi belum termakan sedikitpun.

Sadar apa yang dimaksud adiknya, Myungsoo pun segera menyuapkan sesendok penuh makanan ke dalam mulutnya.

“Apa Orabeoni bermimpi buruk saat tidur tadi makanya sekarang bersikap aneh? Tapi kulihat tadi Orabeoni tidur dengan sangat nyenyak. Bahkan tidak bangun saat kubangunkan!” celoteh Sohyun.

Jinjjayo?”

Sohyun menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah membentuk anggukan. Ia kembali menunjuk makanan Myungsoo membuat pemuda itu kembali menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Orabeoni? Beritahukan padaku!”

Myungsoo meletakkan sendoknya. Ia kembali terdiam dan tenggelam dalam pikirannya. ‘Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi siang.. bukannya tadi tanah bergetar? Lalu kediaman Putra Mahkota… bukannya semuanya runtuh? Dan juga gadis aneh itu… siapa dia?’

 “Apa kau sedang bermain drama?”

 “Kau berbicara dengan aksen yang aneh. Seperti di drama sageuk saja.”

Sohyun mengerucutkan bibirnya karena kakaknya malah terdiam bukannya menjawab pertanyaannya dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun mengulurkan tangannya lalu mengibaskannya pelan di depan wajah Myungsoo.

Myungsoo mengerjapkan matanya dan kembali pada kesadarannya. Ia kemudian menatap Sohyun lagi.

“Kenapa malah diam? Apa masalah yang sedang Orabeoni hadapi berhubungan dengan istana makanya Orabeoni tidak bisa memberitahukannya padaku?” celetuk Sohyun, “Orabeoni, jawablah! Jangan diam saja!”

“Maaf, Orabeoni sedang banyak pikiran, Sohyun-ah. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Lebih baik kau kembali ke kamarmu dan segera tidur. Ini sudah malam. Ahbeoji bisa memarahiku kalau kau tidur larut malam,” kata Myungsoo sambil mengalihkan pembicaraan.

Tanpa banyak kata, Sohyun pun menuruti perkataan kakaknya dan bergegas kembali ke kamar.

Myungsoo?

Tidak, Ia tidak tidur. Ada begitu banyak pertanyaan yang memenuhi otaknya hingga menyulitkannya bahkan jika itu hanya untuk memejamkan mata saja.

Myungsoo menghela nafas panjang. Ia kemudian melepaskan hanbok luarnya satu-persatu dan segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Geure, lebih baik aku tidur. Mungkin Putra Mahkota benar kalau aku kurang tidur. Ah, dan Sohyun juga sepertinya benar. Tadi hanyalah mimpi. Bukankah Putra Mahkota baik-baik saja begitu pula kediamannya? Kim Myungsoo, lupakan semuanya dan tidurlah! Tidak ada tanah yang bergetar, tidak ada bangunan yang runtuh, tidak ada gadis itu juga. Semuanya pasti hanya mimpiku.”

….

Seoul, 2015

Mencoba untuk terlelap, Suzy mulai memejamkan matanya. Sesekali Ia berguling ke kanan atau ke kiri, mencari posisi yang lebih nyaman. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Ia kembali membenarkan posisinya. Hingga bermenit-menit Suzy lalui hanya untuk berguling-guling di atas kasur.

“Arghhh!!!” teriak Suzy frustrasi.

Ia pun beranjak duduk dan membuka ponselnya. Pukul dua belas dini hari. Suzy menghela nafas pelan. Kalau bukan karena ada kuliah pagi tak akan Ia paksakan untuk tidur.

Karena benar-benar belum mengantuk, Suzy memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia terus melangkah hingga kakinya berhenti saat menginjak lantai dapur. Tangannya mulai bekerja mencari gelas dan sekotak susu di kulkas. Ini adalah kebiasaan Suzy jika Ia sedang tak bisa tidur, minum susu.

Sambil meminum susunya, Suzy mendudukkan dirinya di kursi makan.

“Apa yang kau lakukan?”

“Apa?”

“Kau, apa yang kau lakukan? Beraninya kau menyentuhku!”

Suzy mengerjapkan matanya ketika tiba-tiba saja bayangan tadi siang muncul di pikirannya. Tepatnya adalah bayangan saat Ia bertemu seorang pemuda aneh di salah satu bangunan istana.

“Kenapa tiba-tiba aku ingat pemuda itu?” gumam Suzy.

Memang kalau dipikir-pikir, kejadian tadi siang sedikit aneh bagi Suzy. Seorang pemuda yang berpakaian seperti orang pada jaman Joseon tiba-tiba meminta minum padanya lalu saat Ia kembali, pemuda itu sudah pergi.

Eh, tidak.

Entah mengapa Suzy berpikir pemuda itu tidak pergi, melainkan menghilang.

Suzy menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir imajinasi-imajinasi tak jelas yang dihasilkan otaknya. Ia pun segera meneguk habis susunya dan mencuci gelas yang sudah kosong sebelum akhirnya kembali ke kamar.

….

Pagi yang cerah menaungi kota Seoul yang padat. Mentari dengan semangatnya menyinari bumi tanpa takut sinarnya akan membuat orang-orang kepanasan.

Di sebuah rumah seorang kakek tengah asyik membaca surat kabarnya tanpa terganggu oleh suara berisik langkah kaki dari lantai dua rumahnya.

Harabeoji!”

Laki-laki tua dengan rambut yang hampir semuanya memutih itu sontak memutar kepalanya untuk melihat siapa yang telah memanggilnya. Dilihatnya seorang gadis tengah menuruni anak tangga dengan buru-buru.

“Kenapa?”

Suzy – gadis itu – mendesis pelan mendengar sahutan kakeknya.

Harabeoji, aku tidak mau dijodohkan!’

Mata Suzy melotot saat melihat kakeknya justru beranjak dan meninggalkannya tanpa membalas sedikitpun perkataan yang Ia ucapkan.

“Ahh.. Harabeoji, jangan membuatku frustrasi!”

….

Tak berhasil membujuk kakeknya tadi pagi, Suzy kembali menemui kakeknya sepulang kuliah. Ia langkahkan kakinya masuk ke rumah dan segera mencari keberadaan sang kakek.

“Ne, Tuan Choi.”

Kedua sudut bibir Suzy terangkat membentuk seutas senyuman saat gendang telinganya menangkap suara yang familiar. Ia pun segera mengayunkan kakinya ke sumber suara. Benar saja, kakeknya kini tengah berada di kamarnya dengan sebuah ponsel tertempel di telinga kanannya.

“Aku juga senang bisa berbesanan denganmu.”

Suzy mengurungkan niatnya saat tak sengaja mendengar kalimat yang lolos dari bibir kakeknya. Ia mendekatkan telinganya ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka.

“Ne. Maaf karena baru bisa menepati perjanjian itu sekarang. Tapi kurasa itu tak penting lagi karena sebentar lagi kita akan berbesan dan perjodohan itu terlaksana sudah, benarkan Tuan Choi?”

Kedua alis Suzy tertaut karena bingung. Jujur saja, Ia sama sekali tak mengerti apa yang sedang dibicarakan kakeknya di telepon. Lalu perjanjian, perjodohan, dan… Tuan Choi? Jangan-jangan…

Mata suzy membulat sempurna saat pintu di depannya tiba-tiba terbuka.

Dilihatnya kakek yang kini tak kalah terkejutnya karena melihat cucu semata wayangnya itu tengah berdiri dengan posisi yang aneh di depan pintu.

Mwohae?” tanya kakek.

Suzy segera menegakkan tubuhnya ke posisi normal dengan salah tingkah karena ketahuan menguping. Ia kemudian menatap kakeknya.

Harabeoji, siapa yang ditelepon Harabeoji?” tanya Suzy.

“Apa kau menguping?”

Suzy harus menelan air ludahnya dengan susah payah setelah mendengar pertanyaan kakeknya. Namun sedetik kemudian Ia seperti menyadari sesuatu. Bukankah Ia menguping karena kakeknya membicarakan tentang berbesan? Dan bukankah itu artinya ada hubungannya dengan Suzy?

Setelah berpikir sejenak, Suzy pun menatap kakeknya. “Aku tidak berniat menguping kalau saja harabeoji tidak membicarakanku,” kata Suzy. Dilihatnya kakek yang kini berjalan keluar dari kamarnya dan menuju ruang tengah membuat Suzy mau tak mau ikut mengayunkan kakinya ke arah yang sama.

“Kakek tidak membicarakanmu. Jangan terlalu percaya diri!” elak kakek.

Suzy berdecak pelan, “apanya yang tidak membicarakanku? Jelas-jelas aku mendengar kakek berbicara tentang perjodohan dan berbesan. Ah, dan juga perjanjian. Memangnya siapa lagi kalau bukan aku yang dibicarakan kakek?”

Kakek terdiam sejenak kemudian kembali menggerakkan tubuhnya dan duduk di sofa.

“Bukan berarti kakek membicarakanmu.”

“Lalu siapa? Tidak mungkin kan kakek yang akan dijodohkan?” sahut Suzy, “dan lagi perjanjian apa yang kakek bicarakan?”

“Kau ingin tahu?”

Ne,” jawab Suzy.

Kakek menghela nafas panjang sebelum kemudian membalas perkataan Suzy. “Geure, akan kakek ceritakan. Tapi setelah ini tidak akan ada yang berubah dan kau tetap harus menikah dengan Choi Minho!” kata Kakek.

Suzy yang awalnya ragu akhirnya mengangguk. Toh, Ia akan tetap menikah dengan Minho jika Ia tahu atau tidak maksud perjanjian itu.

Kakek berdehem sebentar kemudian kembali menatap Suzy. Dilihatnya cucu perempuannya itu tengah memandangnya penuh tanya. Karena tak ingin membuat Suzy semakin penasaran, Kakek pun kembali berdehem sebelum memulai ceritanya.

“Sebenarnya… dulu sekali pada masa Joseon, hanya ada satu keluarga Bae. Satu-satunya yang tersisa pada masa itu. Karena sebuah musibah, keluarga Choi kemudian menolong keluarga kita. Kakek tidak tahu bentuk pertolongan mereka. Hanya saja rasa berhutang budi terus saja dirasakan keluarga kita dan membuat kedua keluarga bersahabat hingga bertahun-tahun yang lalu saat Kakek masih kecil,” Kakek menghentikan ceritanya sejenak, “keluarga Choi tiba-tiba mengusulkan untuk menyatukan kedua keluarga. Tapi tiba-tiba saja keluarga Choi harus pindah ke luar negeri dan baru beberapa bulan ini kembali ke Korea. Kebetulan cucu laki-laki keluarga Choi adalah Choi Minho dan umurnya tak jauh denganmu, Suzy-ah.”

Entah mengapa mendengar cerita kakeknya membuat Suzy sedikit kesal. Bukankah itu berarti Ia dijodohkan untuk membayar hutang budi keluarga Bae?

Kakek kembali berdehem mendapati Suzy justru melamun.

“Karena Kakek sudah cerita, tidak ada lagi penolakan untuk menikah dengan Choi Minho! Mungkin setelah acaramu di Joseon’s Festival baru kita membicarakan masalah pernikahan. Jadi kau harus siap-siap.”

Kedua mata Suzy melotot mendengar perkataan kakeknya.

Mwoya? Harabeoji, itukan sebentar lagi,” protes Suzy.

Senyum tipis muncul di bibir Kakek. “Memang.”

Suzy mendesis pelan begitu kakeknya beranjak meninggalkannya. Ia kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal saking frustrasinya. Kakinya kembali menghentak-hentak sebal.

“Hissh.. tiba-tiba saja aku tak ingin festivalnya datang dengan cepat.”

….

TBC

….

Hai.. ada yg nungguin ff ini ga? Semoga ada ya… makasih yg udh mau baca ff ini bahkan sampai rcl. Maaf kalo ceritanya jelek.

Buat chapter selanjutnya aku gatau kapan aku kirim soalnya tgl 2/3/15 aku mulai ujian sekolah… kalo ada waktu aku lanjutin kok🙂

77 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 3

  1. Suzyeon kyknya akan melakukan perjalanan ruang dan wkt.. hm gimana jdnya kembli ke zaman dulu? Penasaran … kak author tetap smngt yah…fighting..

  2. Wkwk.. Kok saya ngakak ya xD Kasian myungsoo linglung gitu, yg baca ikut bingung.
    Wah, perjanjian jaman kuno masih bertahan xD

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s