Forever (Chapter 3)

forever-by-peniadts

Forever (Chapter 1)

Ayako Jung Storyline

Main Cast : Bae Suzy (Miss A’s Suzy) – Kim Myungsoo (Infinite’s L) – Park Jiyeon (T-ARA’s Jiyeon) || Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort, Sad, Angst, and AU || Rating : PG-15+ || Length : Series || Disclaimer : Plot and story is mine. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there same any title or characters. Sorry if you find typo(s)

Big thanks to peniadts @ Cafe Poster for amazing poster!

A/N : Tulisan yang bercetak italic (miring) artinya masa lalu. Jika di Korea nama Suzy berganti menjadi Sooji, jika di luar negeri namanya Suzy. || Fiuh, di chapter kedua ternyata banyak yang protes-_-” karena author bikinnya terlalu menyakitkan(?) tapi memang kayak gitu author bikin alurnya. Denger ya, ini kan baru permulaan jadinya author sengaja negbuat Suzy yang paling tersakiti disini. Nanti ceritanya juga bakal indah kok (?) maksudnya MyungZy bersatu gituh._. Tapi, kalian tunggu aja chapter berada yang akan timbul untuk ngeliat MyungZy bahagia. Tentu aja di FF MyungZy, karena author sendiri juga MyungZy Shipper

Nah buat para readersdeul yang udah mau baca, jangan kapok duluan yah hehehe ^^. Bagi yang merasa bahwa ini bukan FF MyungZy (Yang dulu pernah ngebaca di chapter sebelumnya) jangan patah hati dulu (?) ngeliat MyungZy belom bersatu. Nanti ada di chapter nya yang selanjutnya. Oke, author cuma bisa menghela napas aja yah~ Tenang ini adalah real FF MyungZy. Author gk bohong deh. Tapi klo gk percaya juga gpp *pundung di pojokan* Author sendiri yang negbuat juga ngerasa nyesek kok pas baca lagi. Jadi, readersdeul jangan pada emosi dulu yah ^^

Previous : Chapter 1 || Chapter 2

Enjoy Reading ^^

Yah. Sooji. 

Bae Sooji. Seorang gadis yang kembali merasakan betapa pahitnya terluka…

“Soo-Sooji, oppa.. Oppa bisa menjelaskan ini semua,”

Seorang lelaki berparas tampan, dengan mata yang tajam, dan rahang yang sangat tegas. Oh~ Bukankah lelaki ini begitu sempurna? Siapa wanita yang tidak akan masuk ke dalam pesonanya yang begitu menawan? Pasti banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya––atau lebih, mungkin. Siapa yang tidak mau dengan lelaki setampan dan sesempurna dirinya? Lelaki ini. Lelaki yang sudah memberikan rasa harapan yang sekarang sudah pupus di dalam hati Sooji. Lelaki yang sudah mengkhianati dirinya. Lelaki yang sekarang sudah membuatnya kembali membuat luka. Lelaki yang dulu menemani hari-harinya. Sekarang, sudah tidak ada lagi. Mungkin Sooji tidak akan pernah menemukan titik kebahagian dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Sejak dulu ia selalu mengalah, tanpa memandang sisi egois yang memang sudah ada di dalam dirinya. Selalu ingin berbuat yang terbaik pada orang lain. Tidak ingin mengcewakan orang-orang terdekatnya. Sungguh, kenapa dia harus merasakan nyawa di dalam kehidupannya yang kelam ini? Apakah ia masih bisa merasakan kebahagian jika seperti ini terjadi? Apakah masih ada harapan. Sepertinya tidak, walaupun itu hanya sedikit kemungkinan jika terjadi. Luka… Luka di dalam hatinya akan semakin lama semakin banyak tanpa ia ketahui. Apalagi jika semuanya itu belum kering sama sekali. Miris.

Ehmm, lelaki berparas tampan itu… Kim Myungsoo itu langsung berjalan cepat kearah Sooji yang masih mematung di depan pintu dengan tatapan kosong. Yah, itulah lelaki yang dimaksud dengan pembicaraan Ibu Sooji dulu. Lelaki yang merupakan kekasih Sooji. Lelaki yang dimaksudnya adalah sumber kebahagian satu-satunya milik Sooji. Lelaki yang mewarnai hari-harinya. Lelaki yang sering memberikan dukungan kepada dirinya agar tetap kuat menjalani jalan hidup yang keras ini. Hanya Myungsoo, yang––dulu, mungkin––yang sekarang seakan sangat peduli padanya. Okey, mungkin sekarang Myungsoo sudah tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang sekarang dengan apa yang terjadi. Semuanya terlambat. Harusnya Sooji mengetuk pintu dulu bukan? Myungsoo berharap dalam hatinya bahwa hal ini tidak akan terjadi. Tertangkap basah sedang berciuman dengan… Kakak Sooji sendiri, ah~ bukan kakak tiri Sooji sendiri. Yah~ itu kata yang lebih baik untuk di dengar. Tapi Sooji malah langsung membuka pintu dan menangkap dirinya sedang berciuman dengan gadis lain. Sekarang Myungsoo sudah tampak pasrah sekarang, meski ia menahan itu semua dengan menjelaskan semuanya pada Sooji. Sungguh, sekarang Myungsoo sedang berpikir dengan keras namun tidak ada ide yang keluar dari otaknya. Otaknya seakan mati fungsi. Myungsoo sangat gugup dan panik, tidak henti-hentinya dia mengetuk-ngetuk kepalanya dengan––cukup––keras. Mungkin ia masih berharap ada alasan yang logis untuk ini. Menutupi semuanya.

Sedangkan… Salah satu gadis lainnya yang berada disitu juga mengikuti Myungsoo untuk mendekati Sooji yang diam mematung. Tanpa menunjukan gerakan perubahannya. “Aku bisa menjelaskan semuanya,” Ya. Dia lah orang itu. Kakak Sooji… Salah. Maksudnya kakak tiri Sooji. Bae Jiyeon, ah~ sepertinya tidak cocok untuk dirinya. Maksudnya Park Jiyeon. Wajahnya juga tampak penuh dengan penyesalan atas perbuatan yang telah ia lakukan tadi. Di depan adiknya sendiri.. Bukan adik, melainkan sahabatnya. Jiyeon juga terlihat menunduk, ia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Yang pasti, ia berusaha menutupi semua itu. Sama seperti Myungsoo, berusaha menemukan alasan yang kuat untuk meyakinkan Sooji.

“Berhenti,” kata Sooji pelan.

Ucapan pelan itu terlontar dari bibir mungil Sooji. Namun, itu tidak cukup untuk mereka berdua berhenti bergerak untuk mendekati Sooji yang sekian lama malah mundur sedikit demi sedikit.

“AKU BILANG BERHENTI!!!!”

Mungkin kesabaran Sooji sekarang sudah hampir habis. Makanya ia melantangkan suaranya. Suaranya yang dulu sangat terdengar belum lembut tanpa ada nada tinggi sedikitpun disana. Sekarang, ia berani membentak kedua orang yang dulunya ia sayangi. Seketika, langkah kedua orang itu pun langsung yerhenti begitu saja mendengar teriakan Sooji yang melengking yang terdengar penuh dengan kepedihan dan keputus-asaan. Sooji lelah. Ia lelah menjalani hidup yang terus-menerus seperti ini. Pikirannya kembali melayang pada kata-kata Ibu nya saat itu, kembali terputar di memory otaknya. Hey, Sooji bahkan sudah berusaha untuk menyingkirkan ingatan perkataan Ibu nya. Rasanya perkataannya itu seperti berniat untuk membunuhnya secara halus. Belum lagi saat itu, belum lagi sekarang. Astaga! Kapan hidup ini akan berakhir?! Pikir Sooji berteriak dalam hati. Sepertinya akhir-akhir ini ia akan menangis sesuka hatinya. Sesukanya ingin berada di dalam, terserah jika orang-orang itu berpikir bahwa ia adalah orang yang kehilangan kewarasannya. Yang penting, ia bisa melampiaskan perasaan itu semua.

“Sayang…”

“Jangan pernah memanggilku dengan kata-kata yang keluar dari bibir ‘manis’ mu itu yang sebenarnya terdengar kata yang sangat brengsek bagiku, oppa…”

Myungsoo terbelak tak percaya dengan apa yang tadi ia dengar langsung. Sepertinya Sooji akan mendapatkan rekor sekarang, ini pertama kalinya gadis itu berbicara dengan kasar dan sangat dingin. Myungsoo menggeleng tidak percaya dengan apa yang tadinya ia dengar, langsung dan tepat di gendang telinganya. Kata-katanya terdengar begitu sangat pedas, dengan cibiran pula. Jujur saja, ia sadar bahwa kesalahan yang tadinya ia perbuat adalah kesalahan yang amat besar dan fatal, oke Myungsoo mengakui semua itu adalah murni kesalahannya. Bahkan ia sekarang tidak ada dipikirannya untuk mengucapkan kalimat ataupun alasan kebohongan dari mulutnya. Itu semua bukan kemauannya. Ia hanya––

“Aku mau bertanya pada kalian. Kenapa kalian berbuat seperti itu padaku? KENAPA?!”

Kembali terdengar nada yang sangat frustasi itu keluar dari bibir mungilnya. Rasanya sekarang kedua kaki Sooji sudah tidak mampu untuk menopang tubuhnya untuk berdiri, rasanya sangat terasa begitu lemas. Seketika Sooji langsung terduduk di lantai dan menjambaki rambut panjangnya. Dan tangan sebelahnya langsung memukuli dada kirinya yang kembali dilanda rasa yang nyeri. Sudah tidak perduli apa yang sekarang terjadi pada penampilannya, untuk apa mengurusi penampilannya sekarang jika akhirnya perasaan hatinya kini sedang sangat begitu kacau balau. Masa bodoh, tentang pikiran mereka sekarang. Sekarang… Mungkin adalah waktunya untuk puncak frustasi Sooji. Melampiaskan semuanya begitu bebas. Ia bahkan tidak pernah melampiaskan rasa sedih yang se-bebas ini.

Myungsoo semakin dilanda rasa bersalah di dalam lubuk hatinya melihat perbuataan gadisnya sekarang ini. Dan, Jiyeon… Gadis itu tampak juga raut penyesalan yang luar biasa. Ia malah semakin menggigit bibir bawahnya melihat Sooji sekarang. Baru selangkah mereka berniat maju, bertujuan untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Sooji. Tapi Sooji lebih cekatan dengan menahan mereka untuk jauh lebih mendekat kearahnya. “Jangan mendekat kearahku bodoh! Aku tidak akan pernah sudi untuk di dekati oleh orang-orang jahat semacam kalian,” Sooji mendesis.

Sooji langsung berdiri cepat dan segera berlari, menjauhi kedua orang yang masih memandangnya dari kejauhan dengan tatapan yang sangat menyesal dan penuh dengan kesalahan yang amat dalam. Bingung? Ya, kenapa mereka tidak berniat untuk menyusul Sooji? Atau.. Mungkin sengaja melakukan semua itu, berencana untuk menyakitinya?

.

.

.

Bagaikan semua kembang api di malam tahun baru yang penuh dengan warna-warni dan kebahagian, yang selalu tampak bersinar terang dan menghangatkan dan juga menyenangi hati semua orang yang melihatnya.

Namun, pada akhirnya semuanya juga akan lenyap tanpa disadari.

Ini sungguh terasa begitu menyakitkan, ketika semua yang aku impikan lenyap begitu saja. Berakhir dengan sangat menyedihkan tanpa ku sadari.

Memang benar, tidak selamanya kita bisa merasakan apa itu kebahagian, ada kalanya kita juga harus berjuang untuk memperjuangkan apa yang telah menjadi milik kita. Tapi juga tidak sesungguhnya kita harus merasakan kesengsaraan.

.

.

.

Dan sejak kejadian itu, Sooji benar-benar sangat berubah. Entah itu dari sikap atau cara bicaranya yang terdengar sangat berubah. Tidak terdengar lagi Sooji yang ceria dan memancarkan api kebahagian di balik pancar dan tawa canda khas miliknya. Semuanya sirna, bagaikan semuanya telah di telan habis oleh bumi dan juga takdir hidupnya yang berjalan begitu menyakitkan. Ia berubah drastis menjadi pemurung dan tak banyak bicara, ia hanya akan berbicara secukupnya saja atau ia akan menjawab jika di tanyai sesuatu dan menghindari seluruh peghuni rumah. Myungsoo pun juga ikut frustasi karena kekasihnya sudah tidak mau berdekatan dengannya. Kebanyakan ia terlalu banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar, semua orang juga ingin berniat masuk ke kamarnya untuk melihat apa yang ia lakukan saat itu. Dan juga dia bersikap dengan sangat dingin dan cuek. Sudah setiap orang mengetuk pintu kamarnya tapi saat dibuka ia tertidur––lebih tepatnya, berpura-pura––Dan juga satu orang lagi, ‘dia’ juga hanya bisa diam melihat perubahan tingkah Sooji. ‘Dia’ tahu bahwa ia melakukan sebuah kesalahan dan sangat bersalah yang bisa membuat hati ‘adik’ nya merasakan kesakitan yang luar biasa. ‘Dia’ berhasil merampas segalanya dari Sooji. Tapi ia pun juga tidak mempunyai maksud yang seperti itu…

Begitupun juga dengan kedua orang-tua Sooji. Karena mereka orang-tua kandung Sooji, jadi mereka sangat peka dengan keadaan Sooji sekarang. Mereka sudah tidak bisa melihat senyum ketulusan dari bibir mungil Sooji, sekarang mereka hanya bisa melihat sebuah senyum kepalsuan yang di tunjukannya sekarang. Semuanya serba palsu, entah itu tertawa riang atau ceria. Jika tidak di depan mereka semua, mungkin Sooji akan semakin terlihat sangat rapuh. Semua orang sudah tau siapa ‘Sooji’. Sooji memang sudah berubah.

“Apakah kau baik-baik saja?”

Tanya Tn. Bae lembut seraya mengelus rambut panjang anaknya. Mereka sedang bersama, yah~ sebagai kemonikasi antara seorang anak dengan orang-tuanya agar lebih terikat. Dan juga sedikit memberi pengarahan atau nasihat yang membuat sang anak lebih baik lagi untuk menjalani sekolah agar lebih baik. Dan Sooji hanya bisa membuat wajahnya tanpa ekspresi, datar. Tatapan matanya sangat kosong, ia memang tidak berniat untuk berkumpul bersama keluarganya sekarang. Hatinya memang sangat kacau balau, ia sekana tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Sooji memang sekarang sudah memiliki hobi baru yaitu ‘Menyendiri’.

Sooji memutar bola matanya singkat dan hanya mengangguk singkat tanpa menjawab dengan kalimat yang sangat lembut, seperti dulu. “Uh! Sangat baik Appa. Hingga hatiku terasa terhempas keawan lalu jatuh ke bumi. Uh! Bukankah hatiku sekarang sudah sangat berbunga-bunga dan sangat riang? Aku sangat baik,” Sooji menjawab dengan nada yang ‘sedikit’ dingin dan kemudian mengatur nada suaranya agar terdengar bahwa ia memang sedang dalam keceriaan yang penuh. Acting mu sangat bagus Bae Sooji! Kau bisa mengelabui Ayah mu sendiri dengan berucap dengan kata-kata yang seperti itu. Kau sangat pantas menjadi seorang aktris yang terkenal di Korea Selatan! Bae Sooji.

Demi Tuhan. Lelaki paruh baya yang selalu tampak gagah, tegar, dan tegas dalam setiap perkataanya saat menyampaikan suatu perintah atau nasihat kepada keluarganya. Kini sekarang pria paruh baya itu sudah tidak bisa menahan air mata nya lagi yang perlahan akan semakin jatuh. Beginilah sikap Sooji yang sekarang? Sudah sangat dingin dan tidak mau terlalu banyak berinteraksi kepada siapapun? Dan juga saat dulu, ia sangat lembut dan cepat dalam menjawab pertanyaan kedua orang-tuanya dengan jawaban yang tidak membuat mereka kecewa. Selalu mendengarkan kata orang-tuanya dan tidak pernah membantah. Anehnya, sekarang Sooji bahkan sudah––sedikit––membantah perintah orang-tuanya. Mungkin itu seperti awal permulaan saja, seperti awal Sooji untuk melampiaskan semua masalah dalam hidupnya. Seperti keluar saat malam, kemudian kembali lagi sampai jam dua pagi. Ini memang kebiasaan yang tidak baik untuk anak perempuan seperti Sooji, tapi mau bagaimana lagi? Setelah Tn. Bae mengingat beberapa sikap jelek Sooji sekarang, Tn. Bae segera menghapus liquid bening agar tidak dilihat oleh Sooji yang sibuk bereksperimen di atas kertas putih.

Setiap kata yang tadi diucapkan oleh Sooji sebenarnya banyak mengandung makna dan begitu banyak arti dari ucapannya tadi: “Sangat buruk Appa. Hingga hatiku terasa terhempaskan di awan kemudian jatuh ke bumi, dan tempatnya lebih tepat di dasar jurang. Sangat buruk dan menyedihkan,”

Memang dibalik wajah Tn. Bae itu sebenarnya juga selalu tidak perduli akan makna kiasan itu, entah apa yang telah di masukinya. Mendadak ia sudah sangat mengerti dengan makna ucapan Sooji tadi yang mengandung makna sedih dan penuh dengan kesesakan di dalam rongga hatinya.

.

.

.

Hingga saat itu…

Hari dimana adalah menjadi hari yang paling menyakitkan yang pernah terjadi di dalam kehidupanku kini. Kau kembali melukiskan sebuah luka yang sangat dalam dan tertanam di dalam ulu hatiku ini, hatiku seakan tertohok karena itu.

Saat itu…

Mataku juga selalu dan seakan pedih melihat sinar matahari yang memancar dengan begitu terangnya dan menyilaukan siapapun yang melihatnya lebih jelas. Dan.. Seperti hatiku yang pedih karena melihatmu berdiri disana bersama orang lain, dan itu bukanlah diriku. Hari menyakitkan itu tiba dengan begitu cepat, saat aku sendiri belum siap menerimanya. Ini adalah deritaku…

Hari itu telah tiba.. Ketika semua mimpi indahku terhenti begitu saja dan berganti dengan semua mimpi buruk.

.

.

.

Gadis bertubuh mungil itu dengan balutan dress cantik berwarna hitam selutut serta riasana tipis di wajahnya malah semakin menambah aura kecantikan alami pada dirinya tidak lupa dengan pesona dan wajah cantik menawan miliknya, yang membuat para lelaki yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta padanya saat pandangan pertama kali bertemu. Karena kharisma kecantukannya sangat tertempel kuat pada dirinya, sehingga bisa menarik para lelaki yang melihatnya bisa menyukainya langsung. Gadis ini––Sooji––hanya bisa memandang lurus ke depan. Tepatnya ke sebuah altar yang dimana sekarang terdapat seorang gadis cantik dengan gaun pernikahan berwarna putih berlengan panjang––yang sepantasnya dan seharusnya adalah gaun yang tengah ia pakai untuk acara pernikahannya sekarang ini. Tapi, sudahlah. Semuanya sudah berubah menjadi terbalik. Pandangannya terlihat sangat sinis dan tajam, seakan ingin menyingkirkan sang gadis itu pergi dari altar itu dan kemudian dialah orang yang sesungguhnya. Tapi kemudian, pandangan yang tadinya tajam berubah menjadi pandangan yang amat sendu. Tak bisa di pungkiri lagi kenyataannya, semuanya sudah terjadi dan ‘mereka’ sudah bersatu. Dengan ikatan pernikahan––yang menurut Sooji tanpa ada acara persiapan seperti; pembicaraan atau sebagainya. Karena omongan Ibu nya terhadapanya sangat terjadi secara mendadak. Atau memang ada sesuatu dibalik ini semua yang ia tidak ketahui sama sekali?

rn38m76ot8h1hqev5sjmp91nhoz7iynz

Ehmm. Gaun yang sebenarnya itu adalah gaun yang ia pesan bersama Myungsoo beberapa hari yang lalu yang kini sekarang malah harus di pakai oleh ‘gadis brengsek’ itu. Gadis yang sudah merampas segalanya dari Sooji. Termasuk kebahagian yang seharusnya menjadi miliknya malah harus menjadi ‘gadis brengsek dan tidak tahu terimakasih itu’. Pikiran Sooji terus berputar dan berkelebat memenuhi otaknya kini. Kenapa ia harus tertipu dengan wajah polos serta kebaikan ‘dia’ jika akhirnya irang yang sama lagi yang harus kembali merampas seluruh kebahagian yang telah menjadi hak nya. Kenapa ia harus kenal dengan ‘dia’? Kenapa ia harus menerima dia di keluarganya namun akhirnya dialah yang telah menghancurkan semuanya dan telah menjadi dalang atas semua ini? Sooji merasa bahwa dirinya telah di tipu selama beberapa tahun ini karena ‘dia’ harusnya ia tidak mengenal dan tidak pernah mengenal ‘dia’ Sooji merasa menyesal ketika ia harus senang saat itu, saat keluarganya telah berhasil mengangkat ‘dia’ sebagai anggota keluarga barunya. Jujur, ia baru merasakan penyesalan yang sebesar ini. “Kau benar-benar tidak tahu Jiyeon-ssi,” gumam Sooji sekaligus mencibir dengan kata-kata pedas miliknya sekarang. Sooji, seseorang yang awalnya di kenal dengan kata-kata manis nan lembut miliknya. Sekarang sudah berubah dan mempunyai kata-kata yang amat pedas. Dan di hadapan gadis itu, ada seorang lelaki yang tak kalah mempunyai wajah yang amat tampan.

Kim Myungsoo.

Jujur. Rasanya sekarang Sooji ingin menangis dan meraung-raung sekarang––atau berniat mempermalukan seluruh keluarganya dan termasuk dirinya? Ah tidak untuk sekarang memang benar kok. Rasanya begitu sakit, entah kenapa rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Sesak. Itulah yang sekarang dirasakan oleh Sooji kini. Anehnya semua kesedihan di dalam hatinya sudah berkumpul di jadi satu dan air mata nya pun tidak bisa keluar sekarang. Bukankah ini begitu menyebalkan? Sooji mengambil napas berat, ia hanya bisa menelan saliva nya, kemudian menggigit bibir bawahnya. Menahan semua rasa sesak dalam hatinya. Sooji saja sudah tidak bisa menafsirkan betapa sesaknya hatinya kini, sangat sesak. Kalian tahu jika kalian berada di posisi Bae Sooji seperti sekarang ini? Tentunya ini…

Ironis.

Dan menyakitkan––yang teramat menyakitkan, tentunya.

Kedua mempelai itu sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Karena pernikahan adalah sebuah perjanjian atau sacral yang mengikatkan kedua insan manusia antara laki-laki dan wanita bersatu. Dan hanya maut lah yang dapat memisahkan mereka berdua. Dan mengikat janji suci dan memasang cincin di jari manis mereka lalu di akhiri dengan ciuman lembut. Yang semakin membuat Sooji merasa sangat sakit. Kisah cinta yang awalnya ia harapkan untuk berakhir bahagia layaknya di negeri dongeng zaman dulu, sekarang malah berlaik menjadi buruk. Hidupnya memang yang sangat sulit. Ia melihat banyak sahabatnya yang hidupnya berakhir dengan bahagia, tidak dengan dirinya. Yang masih harus kesabaran yang penuh.

Dan saat ciuman lembut itu berlangsung, Sooji langsung menutup matanya rapat-rapat. Menutup sepasang iris mata madu nya, ia tidak mau melihat itu semua dengan kepala matanya sendiri lagi. Seperti saat kejadian itu, ia tidak mau terulang lagi. Ia sudah cukup kapok melihat hal yang menyakitkan seperti tadi. Jauh di dalam lubuk hatinya ia berharap bahwa yang sekarang telah melangsungkan ciuman lembut itu adalah dirinya dan Myungsoo, yang telah resmi menjadi pasangan hidupnya nanti. Tapi semua itu hanya di awali dengan kata ‘andaikan’ yang tidak mungkin ia capai. Kenapa orang-tuanya begitu jahat padanya? Kenapa mereka lebih memilih untuk melihat kebahagian ‘anak angkat’ mereka daripada mereka harus melihat kebahagian di wajah ‘anak kandung’ mereka. Apakah dunia ini malah sudah semakin terbalik? Rasanya ia ingin menyingkirkan ‘dia’ sekarang dan Sooji lah yang berada di posisi ‘dia’ sekarang! Kenapa hidup itu begitu egois padanya? Kenapa ia tidak pernah diberikan satu kesempatan itu merasakan apa itu kebahagian? Karena sumber kabahagian hidupnya sudah di rampas oleh ‘dia’, bukankah Sooji sudah bilang bahwa hanya Myungsoo lah yang bisa membuat bahagia. Hanya Myungsoo yang peduli padanya. Hanya Myungsoo yang sekarang selalu mendukungnya.

Secara perlahan ia membuka matanya. Dalam bola mata madu cerahnya tersebut sangat terlihat bahwa ia terlihat tengah mendamba kesakitan yang amat dalam. Sepertinya sekarang air matanya sudah berhasil untuk keluar dari sarangnya, semakin sakit yang ia rasakan. Semakin deras pula air mata yang telah ia keluarkan. Sooji itu sebenarnya adalah orang yang sangat rapuh jika harus berhadapan dengan soal perasaan Cinta. Sooji berdecih angkuh. Sayangnya Sooji tidak berhasil untuk membuat raut wajahnya menjadi angkuh. Karena sudah banyak luka yang ia terima. Kemudian ia tersenyum miring dengan apa yang telah terjadi. Oh~ Sayangnya sekarang Sooji sudah tidak mampu untuk menopang tubuhnya dengan kedua kakinya. Tubuhnya seakan sudah lemas. Ia sudah tidak kuat untuk menahan beban di kehidupannya. Oke, sekarang ia sudah tidak kuat untuk berlama-lama disana. Akhirnya ia lebih memilih untuk pergi menjauh meninggalkan bangunan gereja yang mnjadi saksi bisu kedua orang yang ia sayangi itu telah menikah. Cih!

Ia berlari sekuat tenaga dengan kekuatan berlari yang amat cepat untuk segera sampai ke rumahnya. Pikirannya bercabang serta kacau.

4 km.

Gadis itu berlari 4 km demi cepat sampai di rumahnya. Rumah yang sekarang menurutnya sudah berbeda dengan yang dahulu. Tidak perduli betapa lelahnya kakinya sekarang, betapa kakinya sekarang sudah bertambah lemas karena di terlalu banyak dibawa untuk berlari. Hanya untuk menghindari semuanya? Yap. Yang penting ia sudah bisa menginjakan kakinya di rumah besarnya. Intinya ia sekarang sudah tidak mau lagi bertemu dengan mereka yang sudah terlalu banyak meng-khianatinya. Ternyata mereka sangat jahat, dari yang ia perkirakan sebelumnya. 

To be Continue..

Okey~~~ Maaf ya, klo membuat kalian emosi+sakit hati *bow* tapi yah, itulah alurnya. Jangan kebawa emosi dulu yah, tahan aja. nanti di chapter selanjutnya dan terus, kalian juga akan baca chapter akhirnya MyungZy bahagia🙂. Jangan sakit hati dulu😀. Tenang aja, ini FF MYUNGZY kok. Author gk boong deh, suer~ Oh iya, abis baca ini jangan lupa tinggalkan comment serta like nya yah, karena itu sumber motivasi serta penyemangat author. Terimakasih😀

77 responses to “Forever (Chapter 3)

  1. wah ceritanyaa daebakkkk!!!
    aq pling ska crita yg sad tpi akhirnya happy ending, thor next chapter jgn bwt suzy trlalu trsiksa yaaa!! ksihan pas bcanya smpe tisu 1 pack q hbis thorrrr,,
    next chapter nya ya thorrr!!!😥😥

  2. Thorrrrr…. Sepertinya suzy lebih membutuhkan seseorng yg lebih baik dr myung, lebih ngmong n pd akhirnya hati suzy tertambat pd pria baik nan sabar itu… Pleaaassseeee biar c myungnya nyeselll…..

  3. BIG NOOOO thor
    masa suzy mau sama bekasan si jiyeon, gak relaaaa
    jangan sama myung thor, aku nggak suka sama myung di ff ini, dia itu pengecuttt, pokoknya gak rela klo nnti suzy mau balik sma myung
    apa”an coba udah nyakitin segitu banyaknya ke suzy, tuh orang tuanya suzy juga, mereka ngakunya orang tua tapi gak ada jiwa orang tuanya sama sekaliii
    jiyeonnya juga gak sadar diri, statusnya apa
    maaf thor udah komen kayak gini, sebel abisnya

  4. daebaaaaaaaaaaaaaakk feelnya dpt bngetttt thorrr!!!!
    huwaaaaaaaa suzy onnie sengsara bngettt, thor nex chap nya ya!!!!!
    fightinggg!!

  5. Gak tau kenapa setiap baca part ff ini, itu feel nya dapet banget, jd ngerasa itu beneran. Kebayang deh kalo jadi suzy itu pasti sakkit… Myung kok gitu sih, terus kayaknya gak ada yg peduli gitu sma suzy… Next part sangat ditunggu

  6. feel x dpat bnget ,, aku awal x pengen bca crita ynk sweet tntang myungzy , eh mlah dpt x ynk ini , ynk bikin q nangis skaligus kesel bnget…
    tp maaf ya aku coment x disini , al nxa bru bca di part 3 lngsung , part 1dan 2 x ga ku bca ,, tkut ga kuat , disini aja bikin aku nangis dan kesel bnget …
    aku bnci bnget ma myung dan jiyeon , knpa mreka hianatin sooji …
    aku mau x sooji pergi jauh , dan temuin ornk ynk bisa nenangin dia ….
    di tunggu part slanjut x .

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s