Wedding Dress [chapter 3]

wedding-fress

xianara presents:

Wedding Dress Chapter 3 – Walking away, chasing away, but please take my stay.

Bae Suzy, Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Choi Minho, Bang Minah, and special appeareance from Kim Heechul and Song Jihyo | AU, Romance, Angst, Friendship, Life, Family. | General, PG | Chaptered teaser 1 2 Interlude

I found it hard to breathe. I cried so much that I could barely see. The lone dreams that always came to me, so, was it you?

Enjoy Reading^^

Suzy sudah siap mengangkut koper berwarna silver berisi perkakas make upnya. Namun hal itu dihalangi oleh lengan Myungsoo. “Tak baik wanita membawa barang berat seperti ini.”

“Cih, kau sedang menjilatku? Aku bisa membawanya sendiri!” Suzy berkata dengan nada yang tajam.

“Sudah kau jalan duluan sana.”

“Kembalikan atau aku akan berteriak.” ancam Suzy.

Telinga Myungsoo seperti disumpal sesuatu. Ia mengabaikan ancaman gadis itu. Myungsoo terus melangkah sambil membawa koper milik Suzy. “Teriak saja.”

Tak terima dengan sikap Myungsoo yang semena-mena dan meremehkan dirinya, Suzy pun menyusul Myungsoo. Dengan sekali tangkap, Suzy meraih tangan Myungsoo. Dan itu justru membuat koper Suzy terjatuh.

“DASAR KAU! PENGKHIANAT!” teriak Suzy kencang.

Ia pun segera memeriksa keadaan kopernya. Beruntung kaca dan lampu riasnya tidak pecah. Hanya saja letak bedak, eyeliner, lipgloss, eyshadow, foundation, dan yang lainnya menjadi tidak beraturan.

Tanpa disadari semua mata tertuju pada mereka berdua. Yunho dengan kikuk menggamit lengan BoA meninggalkan suasana yang awkward itu dalam diam. Sementara hanya Duo Min dan Tariq yang menghampiri Suzy dan segera membantu gadis itu mengemasi perkakasnya.

Sudah-sudah hentikan.” kata Tariq.

Myungsoo yang dikatai pengkhianat oleh Suzy tak mampu membalas. Ia pantas menerima lebih dari ini.

***

Gurun Rub Al Khali ialah satu dari kedahsyatan alam gurun Abu Dhabi. Terlihat bentangan pasir nan luas. Suzy dapat melihat beberapa turis yang melakukan olahraga ski pasir. Hatinya berdesir melihat keagungan Tuhan yang tiada tara.

Tetapi Myungsoo yang barusan berlalu di hadapannya merusak pemandangan saja. Perasaan kesal dan malu menyeruak dalam hati gadis itu. Kejadian memalukan tadi semakin membuat akar kebencian terhadap Myungsoo semakin menguat.

Sebuah caravan sudah menanti mereka di tengah gurun. Terdapat meja, kursi, serta kipas angin tornado untuk kenyamanan mereka. Selanjutnya, Suzy dan Minah kembali beraksi.

Suzy mengaplikasikan make up natural namun dengan karakter yang lebih dramatis dari sebelumnya. Pada rona pipi, Suzy memoles warna light pink. Serta lipstick dengan warna merah menyala untuk membuat kontras pada kulit putih susu BoA dan langit biru di hamparan gurun Rub Al Khali.

“Suzy, tolong ambil kerudung lace di sana ya.” Pinta Minah yang sedang sibuk membenahi setiap detail gaun berpotongan marine yang kali ini dikenakan BoA. Bulir-bulir kristal Swarovski menghiasi bagian dada gaun berpotongan A-Line tersebut.

“Ya, tunggu.”

Suzy pun segera mengambil kerudung lace yang tersemat di koper dekat meja riasnya. Dilimpahkannya kerudung tersebut kepada Minah. Dengan cekatan, Minah memasang kerudung berbahan lace tersebut ke atas kepala BoA. Suzy mengamatinya dengan seksama.

Ia sungguh terpesona oleh BoA yang sekarang berdiri di hadapannya. Mengenakan gaun putih dengan ekor yang menjuntai disertai tudung lace di kepalanya. Ah, apakah ini pernikahan impian Suzy kelak?

“Ah kau benar-benar cantik Eonni. Beruntung sekali oppa bisa memilikimu.” Suzy memuji penampilan BoA yang sudah siap untuk pemotretan sesi kedua.

“Suzy kau ini bisa saja. Justru aku yang beruntung, bisa memiliki pria yang mengerti aku.”

Minah mengacungkan jempol tanda setuju. “Semoga kita nanti  bisa sepertimu Eonni. Benar Suzy?”

“Yah, tapi aku tidak mau melaksanakan prewedd di sini. Terlalu jauh. Biayanya juga pasti selangit.”

“Astaga, jangan berkata seperti itu, Suzy.” BoA berbicara untuk menenangkan.

“Suzy benar. Eonni kan seorang public figure. Beda dengan kami ini.”

BoA tersenyum memaklumi. “Suzy, Minah, walaupun kita baru bertemu, tapi kalian sudah kuanggap seperti adikku sendiri lho. Kalian tahu kan, kalau Tuhan itu tidak menutup matanya bagi hambanya yang mau berdoa dan berusaha. Kalian pasti bisa. Okee?”

Nasihat BoA masih terngiang di benak Suzy. Selagi mengamati pemotretan yang dilakukan di atas bukit pasir dengan siraman sinar matahari yang untungnya tak begitu terik, Suzy berdiri di dekat Minho dan Minah. Sesekali ia mengarahkan ponselnya untuk memotret pemandangan gurun yang jarang atau malah tidak bisa ditemui di Korea.

“Indahnya…” gumam Suzy pelan.

“Hei..”

Suzy menolehkan kepalanya ke arah orang yang memanggilnya. Mengetahui siapa yang memanggilnya, ia kembali mengembalikan pandangannya ke ponselnya. Ia mengabaikan sapaan dari Myungsoo.

“Hei Suzy. Untuk yang tadi maafkan aku.” Myungsoo bersuara dengan hati-hati.

Suzy berlaku seperti orang tuli. Ia tak merespon permintaan maaf pria itu yang ditujukan kepada dirinya. Tak ingin berlama-lama dengan Myungsoo, gadis itu bergegas pergi meninggalkannya menuju BoA untuk merapikan tatanan rambutnya.

“Tunggu.” Myungsoo menarik pergelangan tangan Suzy. “Kalau kau masih mencampurkan urusan pekerjaan dengan perasaan pribadi itu namanya seorang pecundang.”

Suzy melepaskan tautan Myungsoo yang memenjara tangan kanannya. Myungsoo berhasil memancing Suzy untuk tidak peduli lagi dengan masalah di masa lalu mereka yang terbengkalai.

“Apa katamu?!” sungut gadis itu. “Kita jauh-jauh terbang ke sini untuk bekerja. Bukan untuk mengurusi sesuatu yang tidak penting seperti ini. Hello Myungsoo! Sadarlah!”

Yaa, aku ini orang yang professional. Kau tak perlu khawatir. Dan Hai Bae Suzy! Sikapmu kepadaku itu sangat jelas sekali kalau kau tidak professional dalam pekerjaan ini!”

“Kau bilang aku tidak professional? Beraninya kau!”

Cukup. Amarah gadis itu sekarang sudah berada di ujung tanduk. Dalam hitungan detik Suzy bisa-bisa meledak. Tapi gadis itu berusaha menekan kembali amarahnya. Ia tidak boleh bersikap seperti orang bodoh.

“Terserah kau lah. Aku sudah tak ingin ambil pusing denganmu.”

Suzy beranjak pergi meninggalkan Myungsoo. Kali ini pria itu membiarkan Suzy menjauhinya. Akan tetapi belum jauh Suzy melangkah, pria itu bersuara,

“Sungguh, maafkan aku. Maafkanlah aku.”

Gadis itu dapat mendengarnya. Langkahnya dihentikan. Dalam diam itu Suzy bergeming. Terlambat. Tapi terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali kan?

“Simpan saja maafmu untuk orang yang lebih membutuhkan. Permisi.”

Kembali ditelan pil pahit yang selama ini mengganjal di tenggorokan pria itu. Ternyata luka yang ditorehkan Myungsoo kepada Suzy dalamya sudah melebihi Palung Izu. Sungguh sangat dalam. Sementara tanpa mereka ketahui, ada sosok manusia yang tak henti-hentinya mengabadikan moment Suzy dan Myungsoo berdua dengan lensa kualitas tingginya.

Ia menyayangkan mengenai perihal yang mereka perbincangkan. Setiap kata yang diucap sungguh mengandung rasa ketidaksukaan yang teramat dalam. Padahal, mereka berdiri dia atas hamparan gurun pasir dengan angkasa biru yang terbentang luas. Sungguh sebuah pemandangan terindah antara dua insan yang pernah ia abadikan. Melebihi Yunho dan BoA.

***

‘plak!’

“Eh kenapa memukulku??!”

“Siapa suruh menguping pembicaraan orang lain?! Itu namanya melanggar privasi mereka berdua tahu!” Minah berkata dengan suara yang keras. Pria itu malah kesal, ia pun langsung membekap mulut gadis di depannya itu.

“Jangan keras-keras!”

Minah balas menggigit jemari Minho. Membuat pria itu mengaduh kesakitan sehingga melepaskan bekapannya.

“Jangan sok ikut campur urusan orang lain. Kalau benar mereka memang mengenal satu sama lain ya biarkan saja. Dan jika mereka berdua terlibat masalah itu urusan mereka. Biar mereka yang menyelesaikannya. Jangan coba-coba ikut campur!”

Minho menghela napas lalu mengangguk lemah. “Baiklah. Tumben kau bijaksana? Eii?” ujar Minho sambil mencolek dagu gadis itu.

“Baru sadar ya?”

“Hm, aku masih tidak menyangka, ternyata Myungsoo dan Suzy itu saling kenal. Tapi kenapa mereka, lebih tepatnya Suzy sih bersikap seolah-olah lupa ya?”

“Err, sudah kubilang itu urusan mereka. Choi Minho! Jangan coba-coba oke?!

***

Pemotretan dengan latar gurun Rub Al Khali selesai pada pukul 13:00 waktu setempat. Bertepatan dengan jam makan siang, para rombongan segera meninggalkan Rub Al Khali kembali menuju Hotel Le Meridien Abu Dhabi. Meskipun masuk kategori ekonomis, tempat mereka menginap ini menawarkan fasilitas lengkap dan arsitektur yang megah.

Suzy memilih nasi dengan lauk Al Salona yang serupa sup daging sebagai menu santap siangnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Suzy menghentikan kegiatan menyuap nasi dengan daging yang lezat ke dalam mulutnya. Melihat nama di layarnya, ia langsung tersedak.

‘Uhuk!’

Ibunya yang berada di Seoul meneleponnya. Deg! Ia lupa untuk segera menghubungi ibunya sesampainya ia di Dubai. Membuat ibunya merasa cemas karena anak gadisnya tak kunjung meneleponnya.

“Ha-halo, Ibu, maaf aku lupa meneleponmu, ”

“Yaa, Bae Suzy! Kau membuat ibu jantungan karena tak kunjung dapat telepon darimu tahu!”

“Iya maaf.”

Terdengar helaan nafas ibu Suzy di ujung telepon. “Ya sudah, kau sampai di sana kapan? Kenapa tidak langsung menelepon Ibu?”

“Kurang lebih empat jam yang lalu. Itu Bu, aku langsung kerja sesaat setelah sampai. Maaf aku lupa memberitahumu.”

“Oh begitu. Ya sudah. Kau sudah makan?”

Suzy kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ia pun mengangguk. Sadar bahwa ia sedang bertelepon dengan ibunya, mustahil ibunya dapat mendengar anggukannya.

“Ini aku sedang makan siang. Ibu tak usah khawatir. Ibu jaga kesehatan di sana dan jangan sampai larut malam menonton TV. Mengerti?”

“Iya-iya ibu paham. Kau jaga diri di sana juga ya. Oh ya, barusan Jinyoung datang ke toko.”

Suzy berhenti mengunyah sari-sari makananya. “Oh, untuk apa dia datang?”

“Itu anu, eung, “

“Bu? Apa dia menitipkan pesan untukku?”

“Bukan, bukan itu kok.”

“Lalu apa?”

“Suji-ya, hm, apa kau telah mengingatnya?” sejenak hening merambat pada konversasi keduanya. “Temanmu itu bertanya mengenai pria itu, Kim Myungsoo itu sahab – ”

 “APA?! Oh, nanti kutelepon lagi ya bu. Aku masih harus bekerja. Aku sayang padamu.” potong gadis itu cepat.

“Eoh, aku sayang padamu juga Suzy-ah.”

‘Klik’

Suzy langsung memutuskan hubungan teleponnya. Ia menengok malas ke arah Myungsoo yang duduk satu meja di depannya. Kau memang menyebalkan. Dari dulu sampai sekarang.

Minah datang menghampiri meja Suzy dengan semangkok ice cream cokelat dengan siraman saus mulberry di atasnya. Ia pun menawari Suzy ice cream yang ada di pangkuannya itu. Suzy hanya menunjuk piring makan siangnya yang tinggal setengah. Minah mengangguk mengerti.

Suzy pun tidak melanjutkan menghabiskan makanannya. Selera makan gadis itu sudah hilang. Bagus, sekarang aku jadi tidak napsu makan! Tsk!

***

Hari kedua di Abu Dhabi.

Fajar belum menyingsing. Angkasa pun masih menampakkan warna biru gelapnya. Gugusan bintang turut serta mendekorasi cakrawala dengan bulan sabit sebagai episentrumnya. Waktu masih menunjukan pukul 04:00 waktu setempat.

Suzy berdiri di balkon kamar hotelnya. Rambut yang dibiarkan tergerai pun berterbangan tertiup angin. Tangan kanannya yang menggenggam secangkir cokelat panas yang mengepulkan asapnya. Sesekali ia pun menyeruputnya perlahan guna mengusir dingin yang melingkupi tubuhnya.

Kedua matanya merekam semuanya. Pemandangan kota dengan kelap-kelip lampu yang berasal dari lampu gedung-gedung berarsiktektur futuristik ataupun dari bangunan yanng mirip istana beratap kubah. Tidak beda jauh dengan Seoul, pikirnya. Tetapi ada yang membedakan.

Terdengar suara seseorang yang dapat diperkirakan adalah pria dewasa. Seruan adzan di waktu fajar tengah dikumandangkan. Gadis itu mengetahuinya. Seruan menuju kebaikan itu berasal dari Mesjid Syeikh Zayed yang terlihat dari balkon kamar hotelnya. Walaupun ia tidak terlalu paham, gadis itu terlihat menikmatinya.

Sudah menjadi kebiasaannya. Pergi tidur di larut malam – pekerjaannya di hari pertama memang sampai larut malam di Abu Dhabi – dan bangun di pagi-pagi buta jika ia berada di tempat yang asing. Kebiasaan itu telah dialaminya sejak ia masih kelas sepuluh SMA. Tepat saat ia mengenal Myungsoo.

Uk! Kenapa pria itu lagi sih? Batin gadis itu.

Mengingat pria itu membuat memori tentang masa SMA kembali berputar bak film di bioskop. Pada hari pertama masuk sekolah ia terlambat. Ternyata ia tidak sendirian. Ada seorang murid baru yang terlambat juga. Kim Myungsoo.

Mulai saat itulah mereka mengenal satu sama lain. Di samping itu, saat pembagian kelas keduanya pun masuk ke dalam kelas yang sama. Entah dorongan dari mana tetapi Suzy langusng menerima ajakan pertemanan Myungsoo sesaat masa orientasi siswa berakhir. Keduanya pun secara resmi mendeklarasikan diri mereka masing-masing sebagai sepasang teman.

Mereka memiliki satu hobi. Menonton film. Setiap akhir pekan mereka pasti akan ke bioskop di Myeongdong untuk menonton minimal satu film perminggunya.

Warna favorit mereka pun juga sama. Biru dan hitam. Hanya saja soal makanan mereka berbeda. Myungsoo suka pedas sedangkan SUzy tidak. Suzy pemakan segala sayur dan buah tetapi Myungsoo sangat anti terhadap sayur  dan buah.

Myungsoo dan Suzy.

Sepasang sahabat itu pun (lebih tepatnya Suzy seorang) pada akhirnya memutuskan hubungan yang mengikat mereka selama ini. Hanya karena sebuah kesalahpahaman yang tidak terbukti. Namun, sudah kepalang basah. Suzy merasa dirinya ditusuk dari belakang oleh orang terdekatnya sendiri. Myungsoo.

Ternyata pepatah “Musuh sebenarnya itu bukan dari lawanmu tetap justru kawanmu” itu benar adanya. Hal itu pun seperti running text yang tidak berhenti berputar di otaknya.

***

Seoul, 6 Tahun yang lalu,

Di salah satu sudut café di distrik elit Gangnam terdapat dua orang lelaki dan dua orang perempuan. Satu pria dewasa dan satunya lagi masih kelas 12 SMA. Begitu juga dengan perempuan dewasa dengan setelan necisnya dan gadis yang berseragam SMA di sampingnya. Seragam yang dipakai sang gadis pun sama persis motif dan coraknya dengan lelaki yang sibuk membuang pandangannya ke luar jendela.

“Kira-kira seperti itu, bagaimana menurutmu? Jihyo?” pria dewasa bersurai sebahu itu melemparkan pertanyaan kepada perempuan berambut magenta itu.

“Hm, ide yang bagus. Tak kusangka, ternyata kau cukup cerdas juga ya, Heechul,”

“Tentu saja. I’m Kim Heechul,” tukas pria itu dengan tampang yang berbinar. Diikuti dengan gerakan menyikut sepupu lelakinya yang hampir mati kebosanan di sebelahnya.

“Hei, Kim Myungsoo!”

Bocah lelaki yang disikut itu tersentak dari lamunannya. Ia pun memasang senyum kikuk di bibir. “Ah maaf. Aku sedang kepikiran banyak tugas sekolah, maafkan aku.”

It’s okay, “ Jihyo menjawab. “Jiyeon sepertinya juga sama sepertimu. Tuh, lihat saja. Dia bahkan sampai tertidur.”

“Ah itu mah tidak apa, Jihyo. Siapa tahu dia memang kelelahan karena tugas sekolah yang menumpuk. Dia setingkat dengan Myungsoo kan?” tukas Heechul yang direspon dengan gelengan kepala Myungsoo di sebelahnya.

‘Deg!’

Mendengar kata sekolah ia teringat dengan Suzy. Gadis itu pasti masih berada di sekolah. Dan sekarang sudah pukul? Myungsoo melirik arloji yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. Pukul lima sore!! Ia menepuk jidatnya keras!

‘Plak!’

“Kim Myungsoo! Kau kenapa? Ada lalat di dahimu?” Heechul berkata dengan panic melihat tingkah laku adik sepupunya.

“Aku lupa memberi kunci rumah kepada Suzy!” seru bocah itu.

“Suzy?”

“Tadi aku bertemu Bibi saat akan ke sini. Beliau menitip kunci rumahnya kepadaku agar segera memberikannya kepada Suzy. Tetapi aku lupa! Ini semua gara-gara rencana penjajakan konyolmu!”

Myungsoo segera bangkit dari kursinya. Kim Heechul terperenyak di kursinya. Song Jihyo memasang wajah bingung dari yang paling terbingungnya. Jiyeon yang tertidur pun turut terbangun mendengar teriakan Myungsoo.

Heechul mengatur ekspresi wajahnya. Rencana mendekati Jihyo gagal total. Jihyo yang masih belum mudeng pun hanya mengalihkan pandangannya dari Heechul ke Jiyeon lalu ke Myungsoo yang sudah berderap pergi meninggalkan mereka.

“Kim Myungsoo! Mau kemana kau! Heh!? Ini perintah dari nenek tahu! Aku hanya disuruh!” teriak Heechul memakai ilokusi. Beruntung saat itu suasana café tidak terlalu ramai. Jadi ia tidak disangka Tarzan yang sedang berteriak memanggil Jane.

“Mau ke mana dia? Park Jiyeon! Coba kau susul dia,” suruh Jihyo kepada adik sepupunya.

Jiyeon menurutinya. Ia pun segera menyusul Myungsoo yang mungkin belum jauh perginya. Sementara kedua bocah SMA itu sudah pergi kini tersisa Heechul dan Jihyo. Dalam kondisi yang sama sekali tidak keren. Heechul yang tengsin dan Jihyo dengan ekspresi blanknya.

“Jihyo, sungguh itu bukan maksudku,”

***

Jiyeon menepuk pundak lelaki di sebelahnya. Ia pun memberikan tatapan prihatin, empati, sekaligus tidak mengerti kepada Myungsoo yang duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kurasa, ini ada sangkut pautnya denganku kan?” Jiyeon berujar dengan nada yang terkesan hati-hati.

“Bagus, ternyata kau cukup peka.” tukas Myungsoo cepat. Ia pun mendongakkan kepalanya.

“Kurasa ini belum terlambat untuk meminta maaf kan? Kesalahpahaman yang konyol ini?”

“Tetap saja. Ini akan sulit bagiku. Dia, dia itu sebenarnya tidak suka kepadamu tahu.”

“Aku tahu kok. Ha ha ha.” Jiyeon lalu tertawa dalam suku kata.

Bocah itu pun mendengus pelan. Sudah tahu ia tidak disukai orang lain tapi ia tidak sama sekali marah. Anak perempuan memang, errr, aneh.

“Ini salahku sepenuhnya. Pakai acara berbohong segala.” aku Myungsoo. Ia kembali menjatuhkan tatapannya ke tanah yang basah akibat diguyur hujan.

“Bukan salahmu sepenuhnya. Aku mungkin juga salah,”

***

Dubai, pukul 06.30 Pagi,

Swiiiiiiiiiiiiiing!

Alarm di ponsel Myungsoo berbunyi. Pria yang langsung tersadar dari masa setengah meninggalnya pun segera terbangun. Lantas ia pun segera mematikan alarm yang bunyinya lebih mirip sirine ambulans tanpa interval tersebut.

Ia menggeliat di kasurnya. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela yang lupa ia tutup tirainya. Tiba-tiba pikirannya memutar ulang kejadian sore menjelang malam kemarin.

Masih di hari pertama.

Selesai istirahat makan siang, rombongan pun segera melaksanakan sesi pemotretan ketiga. Kali ini Burj Khalifa didaulat sebagai latar belakang pre wedding pictorial Yunho dan BoA. Mereka mengambil tempat tepat di sebelah Dubai Mall supaya kontruksi menara tertinggi di dunia itu terlihat jelas di gambar nanti. Destinasi utama para turis ini pun untuk sementara dikosongkan.

Maka dari itu sesi pemotretan kali ini pun tidak boleh memakan waktu lebih dari 30 menit. Kalau lebih dari itu, siap-siap diusir saja. Tak heran, kali ini tema yang dipakai tidak seribet sebelumnya agar tidak memakan waktu terlalu banyak. Tema simpel dan elegan pun dipilih.

Guys, time is running out! Hurry up!” Myungsoo menghampiri calon pasangan pengantin tersebut.

Saat pandangannya dan gadis itu beradu ia langsung mengalihkan tatapannya pada dasi kupu-kupu Yunho yang agak miring.

“Kau harus tampil sempurna Hyeong. Tidak boleh ada celah, sedikitpun!” ujar Myungsoo sambil merapikan ujung dasi pria yang ternyata merupakan senior di kampusnya dulu. Ia pun langsung melirik ke arah Suzy yang melintasinya. Gadis itu membuang mukanya.

“Yeah tentu. Kau, bisa tidak berhenti bersikap seperti lelaki abnormal kesepian yang menggoda laki normal macam diriku?”

Suzy tidak mengindahkan perilaku Myungsoo barusan dan memilih mengikuti BoA yang sudah jalan terlebih dahulu. Minah dapat melihatnya. Tatapan kebencian yang terpancar jelas di manik Suzy berbeda dengan tatapan penuh penyesalan di manik Myungsoo. Uh, sial. Dia jadi juga penasaran kan dengan apa yang terjadi di antara keduanya.

Acara pemotretan di Burj Khalifa selesai sesuai dengan prediksi. Para tim pun segera berbenah peralatan masing-masing. Myungsoo segera menghampiri Tariq dan teman-temannya untuk mengucapkan terima kasih. Begitu juga kepada yang lainnya.

Terima kasih atas kerja samanya! Terima kasih!

Suzy sendiri sibuk memasukan perkakas lenongnya ke dalam koper ajaibnya dibantu Minah yang sudah selesai dengan tugasnya.

“Suzy habis ini mau ikut aku melihat pertunjukan air mancur tidak?”

“Hm, “ ia bergumam lantas menggeleng. “Aku tidak ingin menjadi obat nyamuk di antara kau dengannya.” tunjuk Suzy dengan dagunya pada Minho.

“Eyyy, tidak seperti itu kok. Eonnie, oppa, dan Myungsoo juga ikut tahu.”

Mendengar nama Myungsoo disebut membuat ekspresi mendung lengkap dengan petir yang menyambar tercetak di wajah Suzy. Ia menghela napas dengan berat. Ia pun menutup suitcase perkakasnya dengan keras.

“Aku ingin istirahat saja. Sudahlah tak apa. Kalian kan masih bisa pergi tanpa diriku.”

“Ta-tapi, “

“Aku akan baik-baik saja, oke, “ ucap Suzy seraya mengangsurkan senyuman pertanda ia baik-baik saja.

“Ah, baiklah.” Minah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Selamat beristirahat kalau begitu!”

***

“Myungsoo, maafkan aku tapi dia tetap tidak mau ikut. Maafkan aku ya?”

“No, no, no, dia tidak ikut kan bukan salahmu. Tidak perlu meminta maaf. Yah mau bagaimana lagi? Hm, tetapi, terima kasih atas bantuanmu, Minah, “

Gadis ber-eyesmile itu pun mengangguk sangsi.

***

To Be Continued.

Epilogue:

Atap sekolah SMA Jongno, masih 6 tahun yang lalu.

“Perasaanku kok merasakan sesuatu yang, eung, aneh ya?”

Myungsoo menghentikan kegiatan menyeluk kotoran di hidungnya. Suzy lantas menjauh segera dari bocah itu. Kadang, ia suka khilaf memeperkan berlian tersebut kepada orang di sekitarnya.

“Soal apa?”

“Olimpiade bahasa itu.”

“Tidak usah cemas, “

Waeyeo?

“Te-tentu saja kau pasti akan lolos terlebih karena usahamu sendiri.” Myungsoo berkata sambil membuang pandangannya pada komik Eyeshield 21 milik perpustakaan sekolahnya yang ia pinjam secara diam-diam. “Kau kan Bae Suzy. Hei ayolah! Suzy, kau tenang saja! Kau itu satu-satunya kandidat siswi untuk olimpiade bahasa kali ini. Aku berani bersumpah! Persahabatan kita taruhannya?!”

Suzy menilik sahabatnya itu dari samping kemudian menggerakan kepalanya ke atas dan ke bawah.

“Hati-hati dengan ucapanmu itu Tuan Muda!”

“Lho, kenapa?”

“Tidak apa-apa. Cuma sekedar berbicara saja, “

Suzy tidak berniat memperpanjang konversasi di antaranya. Begitu juga dengan Myungsoo. Namun, tiba-tiba pemuda itu meninjau gadis yang kini tengah sibuk menggosokan punggung tangan pada kedua matanya. Berusaha mengusir debu yang bersarang di pinggiran kedua irisnya.

“Hei, “ panggil Myungsoo.

Suzy tidak mengacuhkan panggilannya karena sibuk dengan union debu di pelupuk matanya. Myungsoo reflex mengerucutkan bibirnya sebal. Ternyata, selain Matt Damon, ada oknum yang mampu membuat Suzy tidak memedulikannya.

Tanpa aling-aling, bocah lelaki itu mendekatkan wajahnya pada milik gadis di sebelahnya. Si empunya wajah tidak mengtahuinya karena kedua matanya yang tertutup itu.

‘Fuuuh’

Myungsoo menyingkirkan tangan yang sedang mengucek itu lalu memantrai udara bebas pada mata gadis itu guna menghilangkan debu yang bersarang. Gadis itu kaget diperlakukan seperti itu secara tiba-tiba. Tanpa menyoroti ekspresi gadis itu, Myungsoo pun kembali ke posisi sebelumnya.

“Aku cuma mau bilang supaya kau tidak lupa untuk datang ke taman dekat rumahmu itu. jam tujuh malam besok. Oke?”

“Hm ,” Suzy mengangguk kaku.

Ia merasakan hembusan napas hangat pria itu meresap ke dalam pori-porinya. Jaraknya dengan pemuda itu tadi itu sungguh sangat err. Ia bahkan bisa melihat pantulannya di pupil hitam bocah lelaki itu.

“Satu lagi, jangan ngaret. Hm, hm, hm?” ujar Myunsoo seraya melancipkan kedua ujung bibir tipisnya itu.

“Hhh, I know!!!

***

Ia memandang sendu kotak beludru berwarna biru di genggamannya. Di sana tersemat cincin dengan saduran emas putih juga desain yang sederhana. Bunyi ‘klik’ terdengar ketika jemarinya menutup kotak tersebut.

“Seminggu telah berlalu, “

Pemuda dengan setelan kemeja yang dibalut dengan jaket berbahan kulit sintetis berwarna hitam itu bangun dari bangku panjangnya. Matanya memenjara seluruh sudut taman di tengah kompleks perumahan itu. Ia memandang sambil tersenyum kecut.

“Mulai sekarang, tidak ada lagi kita. Hanya kau dan aku. Sungguh, maafkan aku. “

Myungsoo kembali merasakan sesak berkepanjangan pada ulu hatinya. Kata-kata terakhir inilah pemicunya.

“Maafkan aku karena terlalu mencintaimu, Bae Suzy.”

.

.

.

Selamat tinggal Seoul, suzy, BAE SUZY, dan Suzy.

***

a/n

mic test, hana, dul,

adakah yang menunggu chapter ini? #suara sopran jangkrik menggaung# dan lagi, saya mohon maaf bilamana masih ada yang merasa kebingungan akan jalan cerita dr ff ini, saya akan berusaha lebih baik!🙂

bagi yang sudah ‘mudeng’ can you tell me what do u think abt the sepele matter yang menjerat dua sahabat ini? lalu menurut kalian sendiri, bagaimana caranya menyelesaikan sengketa antara Suzy dan Myungsoo ini? feel free to express YOUR CRITICS and REVIEWS too😀

last,  terima kasih atas semua apresiasi untuk WD ini.🙂

see you in the next chapter luvs,

xianara-sign

94 responses to “Wedding Dress [chapter 3]

  1. Myungsoo cinta sama Suzy? Apa penghianatan itu yg disebut Suzy?
    Suzy masih aja benci sm Myungsoo

  2. Ayo myung luluhkn hati suzy dan jelaskn semua kesalah pahaman yg telah terjdi, agar suzy bisa memaafkn….
    adu apa yg akn terjdi pd suzy????

  3. kalo jadi suzy aku juga bakal kecewa, tapi kalo dipikirin menurut aku itu nggak sepenuhnnya sala myungsoo. cuma namanya uda kecewa, pasti suza ngampunin. greget sama myungsoonyaaa. dia ga terlalu agresif minta maap ke suzi (?) ehh bukan myungsoonya deh yg gak agresif. aku yang terlalu agresif ngarapin myungsoonya gimana2 gitu :v

  4. hahhha the sepele matter…iya sih mhurut aku mah emg sepele yah kalo sampe amnesia disosiatif mah…tp kan namanya jg cerita apapun mungkin…nothing imposible kata slogan kantor pt hdte mah hahahaha mohon abaikan nglanturan saya

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s