[Vignette] Interlude

INTERLUDE

xianara presents:

Interlude

Bae Suzy and Wu Yi Fan | slight!Romance, Fluff, Life, AU, | Vignette, | PG 13

beside the story and poster i own nothing.

been posted here

"Bae Suzy sangat mengagumi kesunyian oleh sebab itu ia sangat anti sekali dengan kegaduhan. Interlude, untuk pegecualian."

Interlude

Alunan distorsi gesekan violin dengan instrumen lain pengiring lagu berbahasa mandarin terdengar. Suaranya itu sungguh menyebabkan pekak. Diduga kuat, tetangga sebelah kembali menyabotase kesunyian statis di dalam relung bawah sadar gadis dengan rambut kusut masai yang terbangun dari tidur lelapnya.

Suzy – gadis itu, memandang tak suka ke arah jendela kamarnya yang silau diterpa sinar matahari pagi. Lagi-lagi, ia lupa menutup gordennya sehingga membiarkannya dimandikan sinar matahari pagi yang kaya akan fosfor tersebut.

Telapak tangannya meraih cangkir berwarna cokelat mahoni di atas nakas dekat kasurnya. Matanya lagi-lagi memandang tak suka ke cangkir tersebut. Cangkir kosong itu lantas diletakkan kembali ke tempat semula.

Waktu istirahatnya terganggu. Huh. Batinnya tidak terima. Selimut tipis yang penuh tambalan sana-sini itu pun disibak dengan gaya orang yang sedang marah. Kasar. Suzy tahu benar tetangga mana yang tiap pagi menyetel lagu dengan volume setara orang tuli tersebut.

Suzy keluar dari kamar kontrakan sepetaknya dengan tampang kusut, seolah-olah siap menerkam siapa saja yang berani berbuat gaduh di depannya. letak kamar yang berada di bagian atap itu sebenarnya menawarkan pemandangan yang cukup menarik.

Hanya saja bila setiap pagi ia dipusingkan dengan polusi suara dari alunan lagu-lagu kolosal berbahasa mandarin yang diputar dengan gelombang suara setara ultrasonik, scenery itu menjadi nonensense. Yang ada malah gendang telinganya terkena vertigo dan kepalanya yang bisa pecah!

“HOI TETANGGA! Mumpung aku masih bersikap baik kepadamu, lebih baik kau kecilkan volume gramofon jadulmu itu! Ha!” sambil berkacak pinggang Suzy berteriak seperti Jane di batas balkon kamarnya.

Pun suara sopran melengking seorang wanita yang mendendangkan tembang lagu balada mandarin tersebut perlahan menghilang ditelan udara.

‘Ceklek!’

Lawang berwarna abu-abu kera di seberang kamar Suzy berderik. Ganti dengan seorang pria jangkung yang tersenyum layaknya burung. Dia pun melambaikan tangan penuh semangat tatkala pandangannya menubruk siluet gadis itu.

“Oh, Zǎo ān! Apa tidurmu nyenyak?!” sapa Yifan.

Suzy membulatkan kedua ujung bibirnya. Tidur nyenyak apanya? Bagaimana bisa ia tidur dengan nyenyak kalau sampai malam menjadi buta, udara di sekitar justru disesaki dengan suara kaleng rombeng yang berasal dari pemutar piringan hitam tua milik Yifan – tetangganya.

Ha? Yaa, kalau saja tembang piringan hitam  milik Leslie Chang punyamu itu sudah kubakar tempo hari, seharusnya aku bisa tidur nyenyak!”

Yifan masih menyingsingkan ujung bibirnya membentuk secarik senyum tipis. Pria itu tidak merasa sakit hati dengan ucapan kasar gadis itu kepadanya. Ia sudah terbiasa.

“Kalau benar itu terjadi, engkau mungkin tidak akan pernah menyambangi kamarku dan memborbardir telingaku dengan serapahmu itu kan semalam? Ah, beruntung kau tidak membakar salah satu pelat gramofon kesayanganku!”

Gadis itu memilih diam. Tidak menjawab. Selalu begini. Ia selalu kalah jika bersilat lidah dengan pria tiongkok yang gemar menyumbang gerak tawa ekspresif tanpa suara di bibir itu. Yifan memang pandai dalam memutar-balikkan perkataan.

“Kau merusak pagiku!!” seru Suzy sambil mengepalkan tangannya ke udara hendak meninju Yifan dari jarak jauh.

“Aku justru menabur sejuk pada pagimu, Nona Sue! Kapan lagi coba kau didendangkan tembang romantis dari seorang pria yang sedap dipandang sepertiku ini?”

Museun mariya? Yaa, matamu masih terpejam kah? Atau semalam kau menenggak selusin gentel halusinogen? Mimpi kau.”

Lihat. Malahan setelah dikatai seperti itu, senyuman Yifan semakin lebar. Sengaja ia menarik kelopak matanya menutupi kedua matanya. Sejenak menginterperetassi bagaimana kesalnya gadis yang lebih muda darinya itu.

“Aku tidak berdelusi apalagi berhalusinasi. Ini bukan mimpi juga bukan seulas khayal. Ini kenyataan, menjaring obrolan pagi denganmu adalah sarapan terlezat setelah bakpao cokelat kiriman Tao. Manis, legit, dan merindu.”

Tubuh gadis itu melemas. Bukan karena terpesona apalagi terlena gombalan receh pemuda itu. Cairan asam di dalam lambungnya seketika meningkat. Sehingga, ia pun merasa mual.

‘Huek!’

Yifan mulai lagi. Selain ia gemar menyetel tembang lawas nan eksentrik pada gramofon uzur miliknya, ia kerap kali melontarkan kata-kata bernada seperti kayu – tidak manis, kepada siapapun. Termasuk pada Suzy.

“Dasar tidak waras!”

“Lalu bagaimana denganmu sendiri Nona? Yang sudi meladeni ketidak-warasanku ini?”

“Nah, aku, aku lebih tidak waras dong? Aku sinting, gila, miring?”

“Hanya kau yang tahu.”

Suzy mengerucutkan bibirnya tak suka. Ia juga mengikusertakan sepasang matanya memicing tajam ke arah Yifan di seberang sana. Yifan – masih tersenyum, pun beralih memunggungi gadis itu. Melesat ke dalam kamarnya.

Gadis dengan setelan sweter ungu tua kebesaran itu masih menatap garang pria yang tahu-tahu muncul kembali. Tidak peduli dengan kadar ketampanan pria itu yang melonjak naik bilamana surai cokelat terangnya melambai tertiup angin.

“Hei Nona! Kuberitahu ya, setiap pemutaran drama di televisi pasti selalu diselingi iklan. Di sekolah maupun di kantor kita mengenal jam istirahat atau break. Begitu juga dalam teater dan musik, pasti selalu ada interlude di tengahnya.”

Yifan berkata dengan nada yang ringan. Kedua maniknya pun lekat menyinggung gumpalan awan tipis sirokumulus yang membentang di kaki langit kota Seoul pada pagi hari seperti ini.

Tck, “ Suzy berdecak malas menanggapi ocehan pria yang lebih terdengar sebagai mantera itu. “Tapi, sepertinya kau tidak tahu apa itu interlude. Buktinya sudah jelas. Kau tidak pernah menaruh jeda barang sedetik pun pada gramofonmu yang sudah lansia itu!”

“Persepsi orang tentang interlude adalah selingan musik. Kau butuh selingan musik di hidupmu yang minim drama dan lika-liku itu tahu.”

Duh, sudah berapa kali ia dibuat pening oleh tetangga eksentriknya ini. Dan, bodohnya lagi, kali ini ia malah terjerat oleh jampi-jampi pemuda yang bekerja di teater itu. ayolah!

Ia pun segera mengumpulkan kesadaran di seluruh tubuhnya. Setelah semuanya terkumpul di markas otak besarnya ia pun memaksakan langkah untuk pergi meninggalkan pemuda yang tengah memangku dagu di pinggiran selasar kamar kontrakannya. Mendapati tetangga cantiknya itu telah melengos pergi, pun ia segera mengakkan punggungnya.

Yifan tersenyum simpul.

“Bae Suzy, terimalah interlude ini, semoga kau dapat menikmatinya, “

“A-apa maksdum, – “

Yifan memencet remote yang tersembunyi di balik lipatan tangannya sedari tadi. Sayup-sayup terdengar suara alto seorang vokalis pria dari tembang lawas favorit gadis itu. Suzy mendengarnya dan menghentikan titian langkahnya.

Ijen beotilsu eopdago
(Now you say that you can’t stand any longer)

Hwenghan useumeuro naeeoggaee gidaeeo nuneul gamatjiman
(With an empty smile you lean against my shoulder, although your eyes are closed)

Ijen malhalsu inneun geol
(Now that you can say everything)

Neoye seulpeun nunbichi naye maeumeul apeuge haneun geol
(Your sad eyes go right through my heart, it makes me hurt)

Naege malhaebwa
(Tell me)

Neoye maeum sogeuro deureoga bolsuman itdamyeon
(If only I could go inside and take a look into your heart)

Cheoreopdeon naye moseubi eolmankeum euimi ga dwaelsu inneunji
(I would see how much my immature self meant to you)

Maneun nari jinago naye maeum jichyeo galddae
(After many days pass, and my heart becomes weary)

Nae maeum sogeuro seuryeojyeo ganeun neoye gieogi
(Inside my heart, those fading memories of you)

Dashi chajawa
(Come and find me again)

Saenggagi nagetji neomu keobeorin nae miraeye
(I’ll remember, won’t I? In my future that would be grown too big)

Geu ggumdeul sogeuro ichyeojyeo ganeun neoye gieogi
(Inside those dreams, those forgotten memories of you)

Dashi saenggang nalgga
(Will I remember them again?)

Maneun nari jinago
(After many days pass)

Geu ggumdeul sogeuro geu sogeuro neoege
(In dreams of, into those dreams of you)

Alunan musik dari Exhibition bertajuk An Etude Of Memory perlahan menghilang mengikuti pawana yang berhembus. Suzy tidak jadi menuntaskan langkah ketiganya setelah mendengar lagu romantis sekaligus tergegana versinya yang menggelitik gendang telinganya.

Dalam hati ia mengutuk Yifan yang selalu menang atas dirinya. Pemuda itu tahu bahwa sangat pantang bagi Suzy bila ia tidak ikut menyanyikan syair dari lagu itu dari awal sampai habis. Gadis itu sendiri merasa tubuhnya karatan di tempat. Untuk menggerakkan kelingkingnya saja susah.

Ia menahan malu yang amat sangat.

Pria berhidung lancip itu kembali mengulas sebuah senyum berperisa glukosa. Sungguh, tetangga gadis yang satu itu tidak bosan untuk tersenyum – saya sendiri bosan menulis morfem tersenyum dan morf senyum untuk Yifan di sini, zz.

“Suez, bagaimana? Kau menikmatinya kan?” tanya Yifan retoris.

“Menurutmu?” balas Suzy dengan pertanyaan lainnya.

Berhasil – ia membalikan badannya sehingga berhadapan dengan Yifan di seberang sana, ia memberanikan diri menatap pria dengan titel Raja Senyuman itu. Mengubur dalam-dalam kekalahan telak entah yang keberapa kalinya jika berdebat dengan pria di seberangnya ini.

“Entahlah.”

“Sepertinya jawabanku serupa dengan yang kau sebutkan di awal tadi deh, Yifan, ” tanpa sadar gadis itu memanggil pemuda itu dengan nama sebenarnya.

Sebelumnya, ia tidak pernah memanggil Yifan dengan Yifan. Paling-paling, tetangga, hoi, kau, yaa. Bahkan ia pernah memanggil pria itu dengan cara menimpukkan tutup botol vitaminnya – saat pita suaranya mencapai kata limit sehingga ia kehilangan stok suaranya.

Yifan tidak bosan melukis – lagi, sebuah senyuman.

Hanya kau yang tahu….

END.

glosarium

Interlude: n.1. an intervening episode, period, or space.
Zǎo ān: b. mandarinSelamat pagi.
gramofon: n mesin untuk mereproduksi suara dan musik yg direkam pd piringan hitam
sirokumulus: n Met awan tipis tanpa bayangan yg berbentuk perca-perca, lembaran, atau lapisan tersusun dl bentuk bola-bola kecil, berkerut berderet-deret memencar atau menuju ke satu titik

a/n

#lihat ke atas# ingin rasanya saya mendaratkan tamparan pada pipi ini. berani-beraninya saya nerbitin epep gopek macam gini T_T udahmana saya demen bgt bikin karakter Kakak Suzy yang doyan marah2 lagi, zzz

eung, sekian, dan terima kasih sajalah😀 wks

btw, joheun morning and have a nice sunday!!!❤

xianara-sign

18 responses to “[Vignette] Interlude

  1. seru yaa, seru aku baca keributan dipagi hari antara suzy dan yifan, kkk
    aku ngakak pas bagian yifan yg sedang ngegombal recehan, haha entahlah kenapa 😀
    kerreeen!

    • aiguu kalo pagi2 mesti ribut sm tetangga setamvan yifan emg seru bingits.wksss. yeah, reaksi saya hhampir sama kaya Suzy di sini😀
      terima kasih sudah mampir dan menyempatkan ngomen🙂❤

    • ini kan ost architecture 101 kak ^^ filmnya Kakak Suzy itu… hehe. di RM ep 208 waktu suzy jadi guestnya pas dia muncul juga diputar. hehe
      terima kasih ^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s