[Freelance] It Must Be Love Chapter 2

Title : It Must Be Love | Author : @reniilubis| Genre :  Drama, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy

Disclaimer: 

All casts are belong to their self and God

Poster by        : rosaliaaocha@ochadreamstories

Happy Reading^^

“Appa dan eomma sudah menyediakan 1 rumah sederhana untuk kalian tinggali. Kalian akan tinggal bersama mulai besok.” kata sang eomma sumringah sambil tersenyum lebar ke arah Myungsoo dan Suzy.

“MWO???” teriak Myungsoo sekeras-kerasnya.

“Tinggal  serumah? Appa dan eomma bercanda? Bagaimana mungkin kami akan tinggal serumah sedangkan kami belum memiliki hubungan apa-apa?” Myungsoo yang sedari tadi mood nya benar-benar buruk, kini bertambah 100 kali lipat lebih buruk lagi. Kali ini Myungsoo tampak emosi.

“Ya, Suzy tidak mungkin tinggal dirumah kita.” Tuan Kim menyuarakan pendapatnya.

“Appa, eomma, tolonglah…” Myungsoo tampak memohon kepada orang tuanya dengan wajah memelas.

“Kami tidak menerima bantahan, Myungsoo-ya.” kali ini sang eomma yang bersuara.

“Dan nanti malam kau sudah bisa membereskan barang-barangmu, arraseo?”

Wajah Myungsoo memerah menahan emosi. Dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia sudah terlanjur menyetujui permintaan orang tuanya dari awal, jadi dia tidak bisa melanggarnya begitu saja.

Myungsoo melihat ke arah orang tuanya sekilas, lalu beralih menatap wajah Suzy. Suzy bermaksud ingin memberikan senyum terbaiknya pada Myungsoo, namun diurungkannya karena dia melihat jelas sorot kemarahan dimata Myungsoo. Sebelum dia sempat tersenyum kepada Myungsoo, namja itu sudah berbalik arah dan menuju lantai atas tepatnya menuju kamarnya.

Suzy menelan ludahnya dengan susah payah. Dalam hati ia selalu berdoa agar  semua ini baik-baik saja.

Malam Hari

Tuan Kim, Nyonya Kim, Myungsoo, Sungjong, dan Suzy kini sedang makan malam bersama di ruang makan. Acara makan malam itu pun berlangsung tenteram. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar di ruang makan itu.

“Myungsoo-ya, kau sudah membereskan barang-barangmu?” akhirnya Tuan Kim memulai pembicaraan.

“Belum.” jawanb Myungsoo cuek.

“Kalau nanti Myungsoo hyung sudah pindah, tidak ada lagi orang yang akan bertanding game denganku.” Sungjong tampak memaju-majukan bibirnya terlihat seperti anak-anak yang kehilangan mainannya.

Kini semua mata memandang ke arah Sungjong, kecuali Myungsoo. Dia masih tetap saja menyantap makanannya santai soelah-olah tidak ada yang terjadi.

“Kau bisa mengunjungi rumah hyung mu. Tidak terlalu jauh dari rumah kita.” sang eomma mencoba menghibur Sungjong.

“Dan tidak ada lagi yang akan mengajariku mengerjakan tugas-tugas sekolahku.” lanjut Sungjong lagi.

“Sudah eomma bilang, kau bisa datang ke rumah hyung mu.” Nyonya Kim tersenyum geli melihat tingkah Sungjong yang kekanak-kanakan itu.

“Noona, kalau nanti Myungsoo hyung berbuat yang macam-macam padamu, kau langsung hubungi aku saja. Aku yang akan memberinya pelajaran. Arraseo?” Sungjong kini mencoba bercanda dengan Suzy.

“Ne…” jawab Suzy malu-malu.

“Ya, hyung! Kau harus menjaga Noona ku baik-baik. Arraseo?” kali ini Sungjong mencoba memperingatkan Myungsoo.

Myungsoo hanya menatap Sungjong sekilas tanpa bersuara, kemudian melanjutkan makannya.

“Kau terlalu berlebihan, Sungjong-ah.” kata sang eomma sambil tersenyum.

“Aku sudah selesai.” suara berat khas Myungsoo menengahi pembicaraan antara eomma nya dan Sungjong. Dia kemudian beranjak berdiri bermaksud kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat dia mendengar suara eomma nya lagi.

“Jangan lupa bereskan barang-barangmu ya, sayang.” peringat eomma nya untuk yang kesekian kalinya.

Myungsoo tidak merespon perkataan eomma nya dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.

“Mau ku bantu, Myungsoo-ya?” akhirnya Suzy memberanikan diri untuk menawarkan bantuan kepada Myungsoo.

Namun Myungsoo tampaknya sama sekali tidak menggubris perkataan Suzy dan terus saja berjalan menaiki tangga. Suzy menghela nafas sejenak.

“Maafkan sifat Myungsoo, ya. Dia memang seperti itu. Tapi dia laki-laki yang baik. Kau tenang saja, ne? Lama-lama dia pasti berubah.” Nyonya Kim mencoba menghibur Suzy.

“Ne, eomma.” jawab Suzy sambil tersenyum manis.

**********

Dan disini lah mereka sekarang. Di depan sebuah rumah sederhana bercat putih namun terlihat mewah. Myungsoo dan Suzy baru saja sampai di halaman rumah baru mereka. Myungsoo keluar dari mobil dan menuju bagasi untuk mengeluarkan barang-barang mereka. Setelah Myungsoo selesai mengeluarkan barang-barang mereka dari bagasi, ia mengambil koper miliknya, meninggalkan barang milik Suzy begitu saja dan menyeret barang-barangnya menuju pintu rumah itu. Myungsoo mengambil kunci rumah dari dalam sakunya dan membuka pintu rumah itu. Ia masuk ke dalam dan langsung mencari kamar yang akan ditempatinya. Sesampainya Myungsoo di kamarnya, dia langsung merebahkan dirinya di kasur empuk itu dan mulai memejamkan matanya. Sedangkan Suzy baru saja akan mengangkat barang-barangnya yang cukup berat, dan dengan susah payah berusaha membawanya sendiri masuk ke dalam rumah mereka. Suzy tampak melihat kesana-kemari mencoba mencari sosok Myungsoo. Namun dia tidak melihat Myungsoo dimana-mana. Suzy mencari kamarnya dan setelah ia menemukan sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka, dia langsung memasuki kamar tersebut tanpa melihat dulu ke dalam. Dengan membawa barangnya yang lumayan banyak dan cukup berat, dia sama sekali tidak dapat melihat ke depan dengan jelas karena tertutupi dengan barang bawaannya. Suzy terus berjalan pelan-pelan sambil meraba jalan dengan kakinya. Dia tidak tahu bahwa ia sekarang sedang berjalan ke arah tempat tidur. Dia terus berjalan mendekati tempat tidur, dan tanpa sengaja kakinya seperti terganjal sesuatu sehingga membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan kemudian menjatuhkan barang-barangnya dan tubuhnya jatuh ke atas tempat tidur, dan sepertinya ia menimpa sesuatu seperti tubuh seseorang. Ups! Ternyata itu adalah Myungsoo. Suzy tidak sengaja terjatuh di atas tubuh Myungsoo yang sedang berada di atas tempat tidur. Sekarang wajah mereka sedang berhadapan dan tubuh mereka saling menempel. Dan jarak wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak 1 sentimeter saja. Mereka masih tetap dalam keadaan seperti itu hanya dalam beberapa detik sampai akhirnya mereka pun tersadar akan posisi mereka sekarang. Suzy sontak langsung bangkit berdiri dengan cepat.

“Ya! Apa yang sedang kau lakukan disini? Ini kamarku.” kata Myungsoo dengan suara keras setelah ia bangkit dari tidurnya kemudian menatap Suzy.

“Mi-mianhae. Aku tidak sengaja.” kata Suzy takut-takut sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Myungsoo.

“Sebaiknya kau ketuk pintu sebelum masuk.” Myungsoo memandang Suzy dengan tatapan sinis. “Ini kamarku, kamarmu disebelah.” lanjutnya.

“Mianhae…” kata Suzy sekali lagi sambil membungkuk-bungkukkan tubuhnya. Berharap dengan begitu Myungsoo akan memaafkannya.

“Sebaiknya kau cepat keluar, dan bawa semua barang-barangmu ini.” kata Myungsoo, kemudian ia beranjak pergi menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

Suzy mengangguk tanpa berkata-kata lagi, kemudian segera mengangkat barang-barangnya keluar kamar Myungsoo. Suzy keluar dari kamar Myungsoo dan menemukan kamarnya disebelah kamar Myungsoo. Suzy memasuki kamar tersebut dan langsung duduk di salah satu kursi yang ada dikamar itu. Suzy mencoba meredakan degup jantungnya yang sangat cepat setelah insiden dikamar Myungsoo tadi. Dia memandang wajahnya di cermin dan rona merah tampak jelas menghiasi wajahnya. Suzy memegang kedua pipinya.

‘Kenapa aku jadi begini?’ batinnya dalam hati.

“Aish!” kemudian dia pun membongkar isi tasnya kemudian menyusunnya di lemari.

At 19.00 PM

Suzy kini tampak sedang sibuk didapur untuk mempersiapkan makan malam mereka berdua. Dia menata piring di atas meja makan, meletakkan makanan yang akan mereka makan, dan membuatkan segelas coklat panas untuk Myungsoo. Setelah semua sudah selesai, Suzy pun memanggil Myungsoo yang mungkin sedang ada di kamarnya.

“Myungsoo-ya~ makan malam sudah siap. Ayo kita makan.” panggil Suzy.

Hingga beberapa lama, Myungsoo belum muncul juga. Akhirnya Suzy pun memutuskan untuk mendatangi kamar Myungsoo. Dengan segenap keberaniannya, dia berusaha untuk memanggil Myungsoo dan mengajaknya makan bersama. Suzy mengetuk pintu kamar Myungsoo.

“Myungsoo-ya~ makan malam sudah siap. Ayo kita makan.” panggil Suzy lagi.

Tak beberapa lama, pintu Myungsoo pun terbuka dan menampakkan sosok tampan Myungsoo yang tepat berada di hadapan Suzy. Suzy tampak terdiam sejenak. Myungsoo tak menghiraukan Suzy yang terlihat bodoh sedang berdiri diam di depan kamarnya, kemudian pergi begitu saja menuju meja makan dan meninggalkan Suzy yang masih terdiam. Suzy akhirnya pun tersadar, dan dengan buru-buru segera mengikuti langkah Myungsoo menuju meja makan.

Myungsoo dan Suzy duduk berhadapan, dan mulai makan dalam keadaan diam. Tak ada satu pun di antara mereka yang berniat mengeluarkan suara terlebih dahulu. Suzy sesekali menatap wajah Myungsoo yang sedang melahap makanannya.

Akhirnya Myungsoo pun selesai makan dan meletakkan sendoknya di atas piring.

“Myungsoo-ya, minum susu itu. Aku membuatkannya untukmu.” kata Suzy akhirnya mengeluarkan suaranya.

Myungsoo menatap Suzy sejenak, kemudian tatapannya beralih pada segelas coklat panas yang terletak di hadapannya itu. Myungsoo meraih gelas itu, dan dalam beberapa detik telah menghabiskan isinya. Myungsoo kemudian mengambil piring-piring kotor bekas mereka makan tadi, dan mengangkatnya ke dapur. Dia menggulung sedikit lengan bajunya, kemudian menghidupkan kran air dan mulai mencuci piring-piring kotor itu.

Suzy yang melihat apa yang sedang dilakukan Myungsoo pun akhirnya cepat-cepat menghampiri Myungsoo dan menarik piring yang sedang dicuci Myungsoo.

“Myungsoo-ya, kau tidak perlu melakukannya. Biar aku saja.” kata Suzy cepat sambil mencoba meraih spons yang ada di genggaman Myungsoo.

Tangan Myungsoo pun dengan gesit segera menghindar dan mengambil kembali piring yang dicucinya tadi dari tangan Suzy.

“Biar aku yang melakukannya.” kata Myungsoo dingin.

“Ini pekerjaanku, Myungsoo-ya. Sebaiknya kau kembali saja ke kamarmu. Biar aku yang membereskan semua ini.” kata Suzy lagi kali ini mencoba meraih piring yang ada di tangan Myungsoo.

“Biar aku saja.” balas Myungsoo sambil melanjutkan pekerjaannya mencuci piring.

“Kemarikan, Myungsoo-ya.”

“Tidak mau.” balas Myungsoo ketus.

Myungsoo masih saja terus melanjutkan pekerjaannya mencuci piring.

“Kemarikan, Myungsoo-ya. Biar aku yang menyelesaikannya.” kata Suzy lagi masih berusaha mengambil alih pekerjaan Myungsoo itu.

“Tidak perlu. Kau yang sudah memasaknya. Jadi biar aku yang membersihkannya.” kata Myungsoo tanpa melihat Suzy.

“Tapi itu semua memang pekerjaanku, Myungsoo-ya.” kata Suzy lagi.

Myungsoo tak menghiraukan perkataan Suzy. Dia menatap Suzy sebentar kemudian melanjutkan pekerjaannya mencuci piring. Suzy yang baru saja ditatap oleh Myungsoo tersentak kaget kemudian buru-buru menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, Myungsoo sudah selesai mencuci piring, mengibas-ngibaskan tangannya sebentar, lalu menatap Suzy tajam. Dengan gerakan cepat, ia menarik rambut Suzy secara kasar dan menyeretnya paksa ke kamar mandi.

“Aku membencimu, Bae Suzy! Kenapa kau harus datang di kehidupanku?” bentaknya, lalu menghempaskan tubuh Suzy ke tembok kamar mandi dengan keras.

“M-Myungsoo-ya…” Suzy meringis saat merasakan punggungnya sangat sakit. Ia menatap takut pada Myungsoo yang seperti singa kelaparan, lalu mulai menangis. Ia sangat takut sekarang.

“Duduk disana!” teriak Myungsoo keras, lalu mengambil shower dan mulai menyalakannya.

Suzy hanya diam saja dan segera menuruti perkataan Myungsoo. Ia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan, dan air matanya semakin deras mengalir. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Myungsoo. Suzy sangat terkejut saat ia merasakan cipratan air menyemproti tubuhnya. Ia memejamkan matanya kuat, berusaha menghindari air yang masuk ke matanya.

Merasa belum cukup, Myungsoo meraih gayung dan mengambil air dari bak mandi, lalu segera menyiramkannya di tubuh Suzy tanpa ampun. Suzy terlihat sudah terbatuk-batuk, tapi Myungsoo sepertinya belum puas menyiksa gadis itu.

“M-Myungsoo-ya… a-ampun…” ujar Suzy lemah.

“Rasakan ini! Aku membencimu!” Myungsoo semakin ganas menyirami Suzy dengan air, lalu beberapa saat kemudian, ia melemparkan shower yang masih menyala itu di dekat kaki Suzy, dan melemparkan gayung yang ia pegang sedari tadi ke sembarang arah. Matanya tampak memerah menahan emosi. Ia menatap Suzy nyalang, lalu bergegas meninggalkan Suzy yang kedinginan begitu saja, dan mengunci pintunya dari luar.

Suzy yang melihat kepergian Myungsoo pun semakin terisak. Hatinya sakit, mau tidak mau. Ia memeluk lututnya sendiri berusaha mencari kehangatan, namun sama sekali tidak membantu. Tubuhnya sudah sangat kedinginan. Tubuhnya sudah basah kuyub. Ia meraih shower yang masih menyala itu, lalu melemparkannya ke bak mandi. Suzy menundukkan kepalanya dalam, lalu kembali menangis.

*

Myungsoo menghela nafas sejenak, lalu memutar kunci itu dan membuka pintunya. Ia menatap datar sosok yang tak berdaya itu, lalu mulai berjalan pelan menghampirinya. Ia berjongkok, lalu menatap iba Suzy yang kini tergeletak di lantai dengan wajah yang sudah memucat. Tampaknya gadis itu sudah tertidur. Myungsoo menyadari, kalau ia kasihan juga melihat yeoja itu. Myungsoo mengulurkan sebelah tangannya, lalu menyentuh pipi pucat Suzy.

“Ya…” panggilnya sambil memukul-mukul pipi Suzy pelan. “Suzy…” katanya lagi dengan nada terkesan malas.

Perlahan-lahan, mata Suzy tampak bergerak-gerak, kemudian membuka secara perlahan. Suzy mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, lalu menatap Myungsoo lemah.

“Myungsoo-ya…” katanya pelan, lalu mulai bangkit duduk. Ia mengusap wajahnya sekali, lalu terbatuk.

“Kajja.” Suzy menatap Myungsoo bingung saat melihat tangan Myungsoo menarik tangannya untuk berdiri. Dengan pelahan, Suzy menggenggam tangan Myungsoo, lalu bangkit berdiri. Ia berjalan pelan mengikuti langkah Myungsoo.

“Cepat ganti bajumu. Aku akan menunggu diluar.” Kata Myungsoo datar saat mereka sudah sampai di depan kamar Suzy. Ketika Suzy masuk, Myungsoo menutup pintunya dan berdiri di depan pintu kamar Suzy.

Suzy yang masih bingung hanya diam saja, dan mulai mengganti bajunya. Ia berfikir, apa yang akan dilakukan Myungsoo lagi padanya. Ia takut Myungsoo akan menyiksanya lagi. Setelah selesai, ia membuka pintu kamarnya, dan menemukan Myungsoo yang masih berdiri disana. Myungsoo menatapnya, lalu menarik tangannya dan membawanya ke tempat tidur. Suzy yang kepalanya sangat sakit, tak banyak berkomentar. Ia segera membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya, walaupun jantungnya berdegup kencang, takut Myungsoo akan melakukan yang tidak-tidak padanya. Ia membuka matanya lagi saat merasakan Myungsoo menyelimuti tubuhnya, dan menatap Myungsoo yang kini sudah terbaring di sebelahnya.

“M-Myungsoo-ya, apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan nada bergetar. Ia menatap wajah Myungsoo dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Sebaiknya kau cepat tidur. Jangan merepotkanku kalau kau nanti sakit.”

Suzy segera menutup mulutnya rapat-rapat. Kepalanya terlalu sakit untuk memikirkan apa-apa. Yang ia lakukan hanya memejamkan matanya dan segera tidur.

Tak berapa lama kemudian, Suzy sudah tertidur pulas di sebelah Myungsoo. Myungsoo menatapnya dalam diam, sesekali terlihat panik saat melihat mata tertutup Suzy bergerak-gerak gelisah. Sepertinya Suzy tidak bisa tertidur dengan nyenyak akibat ulahnya tadi. Myungsoo mengangkat sebelah tangannya, lalu mulai mengelus rambut Suzy dengan pelan. Dalam hati, ia berjanji tidak akan melakukan hal keji seperti itu lagi. Tidak akan pernah. Ia menyesal telah menyiksa Suzy tadi. Myungsoo menghela nafas sejenak, lalu berbisik di telinga Suzy.

“Mianhae…” dan ia segera bangkit dan meninggalkan kamar Suzy.

Morning ~

Pagi ini tepat pukul 06.30 pagi, Suzy terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya sebentar, mengerjap-ngerjap lucu, kemudian menguap lebar. Ia sudah merasa lebih baik sekarang. Ia bahkan sudah melupakan kejadian semalam, dan berjanji tidak akan membahasnya lagi. Ia akan bersikap biasa-biasa saja di hadapan Myungsoo. Suzy menyibakkan selimut tebalnya, lalu turun dari tempat tidurnya, kemudian melipat selimutnya, dan sekaligus merapikan tempat tidurnya. Suzy beranjak keluar dari kamarnya. Melihat kamar Myungsoo sekilas, lalu pergi ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan wajah dan menyikat giginya. Ia menuju dapur bermaksud untuk membuatkan Myungsoo segelas cokelat panas. Setelah selesai membuat cokelat panas untuk Myungsoo, ia meletakkannya di atas meja. Suzy mengambil handuk, kemudian kembali ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya disana. Hari ini ia akan berbelanja untuk bahan makanan mereka hari ini.

Tak beberapa lama ketika Suzy sudah berada di dalam kamar mandi, Myungsoo keluar dari kamarnya. Ia menuju dapur, kemudian membuka kulkas untuk mengambil sebotol air mineral. Ketika Myungsoo hendak meminum air mineral itu, ia melihat segelas cokelat panas yang masih mengepulkan asap ada diatas meja. Myungsoo memandangi gelas itu, lalu ia mendengar suara gemericik air yang berasal dari arah kamar mandi. Myungsoo melihat sekilas ke arah kamar mandi, dan ia dapat menyimpulkan bahwa Suzy sedang membersihkan dirinya disana. Myungsoo meletakkan botol air mineral yang ia ambil dari kulkas tadi, kemudian meraih cokelat panas itu dari atas meja. Myungsoo menuju ruang keluarga, memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di atas sofa, kemudian meraih remote dan menghidupkan Televisi. Dengan santainya Myungsoo menonton Televisi sambil menikmati segelas cokelat panas.

Beberapa menit kemudian, Suzy keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terbalut handuk sebatas dada sampai lututnya. Suzy terus saja berjalan santai menuju kamarnya dan sedikit terkejut ketika melihat Myungsoo yang sedang menonton Televisi diruang keluarga. Dengan sedikit berlari, Suzy langsung memasuki kamarnya, takut Myungsoo akan melihatnya dalam keadaan seperti ini. Suzy memilih-milih pakaian apa yang akan dipakainya untuk pergi ke pasar. Setelah mendapat baju yang akan ia pakai, Suzy segera memakai baju itu lalu berdandan ala kadarnya. Setelah itu Suzy pun keluar dari kamarnya. Suzy melihat Myungsoo masih menonton. Suzy mendatangi Myungsoo, bermaksud untuk berpamitan.

“Myungsoo-ya, aku pergi ke pasar dulu, ne? Aku akan berbelanja.” pamit Suzy kepada Myungsoo.

Myungsoo mendongakkan kepalanya menatap Suzy sekilas, lalu kembali memfokuskan diri menonton Televisi. Myungsoo mengangguk singkat.

Suzy yang samar-samar melihat anggukan singkat Myungsoo dengan segera beranjak menuju pintu dan pergi ke pasar.

Myungsoo yang melihat punggung Suzy sudah menghilang di balik pintu menghela nafas sebentar. Kemudian ia mematikan Televisi dan bangkit dari tempat duduknya. Myungsoo menuju kamar mandi, dan sesaat kemudian terdengarlah suara gemericik air dari dalam.

Beberapa menit kemudian, Myungsoo keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Ia bergegas mengambil baju dari dalam lemarinya, dan langsung memakainya. Myungsoo melihat dirinya sebentar di cermin, menyisir rambutnya dan mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas mejanya.

**********

Skip Time

Suzy sudah selesai berbelanja, dan sekarang ia bermaksud akan pulang.

Meskipun barang-barangnya tidak terlalu banyak, namun barang belanjaan Suzy lumayan berat. Dengan tenaga yang tak seberapa, Suzy berjalan tertatih-tatih membawa barang belanjaannya itu. Keringat tampak mengucur deras membasahi pelipis Suzy. Suzy berjalan menuju halte bus terdekat sambil membawa barang belanjaannya. Ia akan pulang dengan menaiki bus. Suzy terus saja berjalan pelan menuju halte bus yang menurutnya masih sangat jauh itu. Sesekali Suzy berhenti berjalan untuk menghirup udara sejenak, lalu melanjutkan perjalanannya menuju halte. Disaat Suzy sudah hampir kehabisan tenaganya, tiba-tiba saja barang belanjaan yang sedang ia bawa terasa ringan, dan dalam sekejap barang belanjaannya itu sudah terlepas dari tangannya. Suzy mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang telah mengambil barang belanjaannya itu.

“Myungsoo-ya…”

“Kenapa barang belanjaanmu seberat ini?” tanya Myungsoo sambil melihat wajah Suzy yang penuh dengan keringat. Myungsoo sedikit kasihan dengan kondisi Suzy saat ini.

“Apa saja yang kau beli?” lanjutnya lagi karena Suzy sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.

“Emm… hanya keperluan bahan makanan saja…” jawab Suzy dengan pelan.

Setelah mendengar jawaban Suzy barusan, Myungsoo langsung berjalan menuju mobilnya yang terletak tidak jauh dari mereka. Suzy yang melihat Myungsoo sudah meninggalkannya kini berlari-lari kecil untuk mengejar Myungsoo yang sudah masuk ke dalam mobil. Suzy kemudian membuka pintu mobil, dan segera duduk tanpa banyak bicara.

Tak beberapa lama kemudian, mobil yang mereka naiki kini sudah melaju meninggalkan area pasar. Suzy tampak mengelap keringatnya dengan sapu tangan yang ia bawa. Sampai beberapa menit kemudian, Suzy sedikit heran karena jalan yang sedang mereka lewati bukan jalan menuju arah rumah mereka.

“Myungsoo-ya, ini bukan jalan ke arah rumah kita. Kita mau kemana?” tanya Suzy takut-takut.

Myungsoo sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Suzy. Dia terus saja fokus menyetir mobil dan beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah rumah makan sederhana.

“Myungsoo-ya, mau apa kita kemari?” tanya Suzy heran.

Myungsoo lagi-lagi tak merespon pertanyaan Suzy. Ia mematikan mesin mobil, melepas sabuk pengamannya, dan kemudian turun dari mobil. Sebelum Myungsoo sempat menutup pintu mobilnya, Myungsoo memasukkan kembali kepalanya dan melihat Suzy yang masih terdiam ditempatnya.

“Ya! Turunlah.” kata Myungsoo dengan ekspresi datarnya.

“Eh?”

“Ku bilang turun. Sekarang.” ucap Myungsoo dengan penekanan pada kata ‘sekarang’.

Suzy segera turun dari dalam  mobil dan mengikuti langkah Myungsoo memasuki rumah makan itu. Ia juga mengikuti saat Myungsoo sudah duduk manis di salah satu kursi rumah makan. Pelayan segera menghampiri mereka berdua dan memberikan daftar menu. Myungsoo tampak melihat-lihat daftar menu yang ada di tangannya dengan teliti, dan kemudian mengatakan pesanannya kepada sang pelayan. Sang pelayan itu segera mencatat apa yang di pesan Myungsoo.

Kini pandangan Myungsoo beralih melihat Suzy.

“Kau mau pesan apa?” tanya Myungsoo kalem.

Suzy yang mendengar suara Myungsoo langsung menegakkan posisi duduknya dan melihat wajah Myungsoo. Suzy tampak ragu ingin mengatakan sesuatu karena ia sama sekali belum melihat daftar menunya.

“Emm… aku sama seperti yang kau pesan saja.” katanya pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Aku pesan 2.” kata Myungsoo kepada sang pelayan, pelayan itu mengangguk, dan kemudian pergi dari hadapan Myungsoo.

Sekarang Myungsoo maupun Suzy sama-sama saling diam. Myungsoo tampak sedang asyik dengan ponselnya, sedangkan Suzy hanya menatap pesona tampan Myungsoo yang duduk tepat dihadapannya dengan diam. Myungsoo mengangkat kepalanya, dan detik itu juga dia dapat melihat bahwa Suzy kini sedang menatap dirinya. Mata Suzy dan Myungsoo pun saling bertemu pandang walau hanya sekejap, namun itu sukses membuat Suzy tersentak kaget. Antara takut atau malu, kini wajah Suzy sudah mengeluarkan rona merah. Suzy menundukkan wajahnya dalam, takut Myungsoo akan melihat wajahnya yang memerah. Myungsoo dengan jelas bisa menangkap gerak-gerik dari Suzy. Namun ia diam saja dan tak menghiraukannya.

‘Ada apa dengannya?’ batin Myungsoo dalam hati. Namun setelah itu Myungsoo kembali cuek dan mulai fokus pada ponsel yang ada di genggaman tangannya.

Untuk menghilangkan rasa malunya, Suzy mengambil ponsel dari dalam tasnya. Suzy melihat ada 1 pesan baru yang belum ia buka. Suzy melihat pengirimnya adalah Eomma nya. Ia segera membuka pesan itu.

“From : Eomma

Suzy-ya, besok kau dan Myungsoo datang ke rumah eomma, ne? Ada sesuatu hal yang ingin eomma sampaikan pada kalian. Beritahu Myungsoo soal ini…”

Suzy menghela nafas sejenak setelah ia selesai membaca pesan dari eomma nya. Kemudian ia pun menunjukkan pesan itu pada Myungsoo.

“Myungsoo-ya, baca ini. Eomma yang mengirimnya.” kata Suzy kepada Myungsoo sambil memberikan ponselnya pada Myungsoo.

Setelah Myungsoo selesai membaca pesan itu, Myungsoo menaikkan sebelah alisnya pertanda dia sedikit bingung.

‘Ada apa lagi ini?’ batinnya curiga.

T

B

C

Note: Alohaaaaa~  iya FF ini sebelumnya udah pernah di publish disuatu tempat dengan alur yang sama, tapi judul dan cast yang berbeda. Dan ini versi MyungZy nya. Semoga sukaaa yaaa~ Aku ga ngelanjutin lagi di blog sana karena ada masalah dengan salah satu admin, dan juga ada yg ngebash karena ga suka sama pairnya. Maaf karena aku ga akan melanjutkannya, dan aku juga minta maaf bagi yang menunggu kelanjutannya. Sebenarnya aku ga masalah kalo di bash, tapi kalo memang ga suka sama ceritanya silahkan ga usah di baca aja. Dan bagi kalian yg udah penah baca, ga usah dibaca juga gapapa kok ^^ buat kalian yang mau baca dan kasih komentar terima kasih banyak yaaa~ ^^

60 responses to “[Freelance] It Must Be Love Chapter 2

  1. Duh. Myung kesambet setan apa tadi smpe nyiksa suzy. Aku shock.
    Mgkin dia msh blm bs nerima ini smua.
    tapi di balik sifat dingunnya, dia cukup care..

    Kykny suzy mulai suka ma myung.. hmmmm…
    Smoga myungsoo gk dingin lagi n bisa buka hati buat suzy.. wkwkwkwkk..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s