The Fog [Chapter 11B]

Title: The Fog

Author: Little Thief

Main cast: Suzy, Myungsoo, Mark

Genre: romance, angst, fantasy

Length: chaptered

Rating: PG-13

“Myungsoo! Myungsoo!” Ibunya berteriak. Seperti biasa, teriakannya mengalahkan seluruh weker yang pernah dipakai Myungsoo. Jadi pria itu mengeluh, kemudian mengerjapkan matanya.

“Bangun! Sudah jam sembilan pagi! Saatnya kau jaga toko!”

Myungsoo berguling lagi ke tempat tidurnya. Mengabaikan suara yang meneriakinya dari balik pintu yang terkunci. Dia tidak akan bangun bila Ibunya berkata bahwa ia harus menjaga toko sekali lagi.

“Oke, aku tidak akan menyuruhmu jaga. Kau mau mengikuti Ayahmu ke kantornya?” bujuk Ibunya. Myungsoo terbangun, perlahan tersenyum mendengar nada memohon dari Ibunya. Maka ia bangkit dari tempat tidur, dan membuka pintu dengan rambut acak-acakan.

“Ke kantor Ayah?” tanyanya langsung dengan semangat.

Ibunya langsung menjitak kepalanya keras, “Kau ini. Bila sudah hal seperti ini, langsung semangat. Ya, tapi berjanji padaku kau akan jaga toko besok.”

“Oke,” Myungsoo mengecup pipi Ibunya, kemudian menuruni tangga dan pergi ke meja sarapan. Sarapannya hanya sepiring penuh salad sayur dengan omelet, dan dimakannya dengan semangat. Mengingat dia tak akan jaga toko hari ini.

Kemudian telepon rumahnya berbunyi. Myungsoo menghentikan kegiatan makannya dan mengangkat telepon tersebut seraya mengecap sisa-sisa saus di jarinya.

“Ya. Kim Myungsoo di sini. Siapa di sana?”

“Kau sudah bangun?” geram sang Ayah dari telepon. “Baguslah. Jaga toko kalau begitu.”

“Ogah,” sergahnya asal, “Aku lelah menjaga toko. Ibu yang akan ke sana. Aku ke kantor Ayah saja, bagaimana?”

Ayahnya menghela napas, “Hm, yasudahlah. Kau tentu bisa menyetir mobilmu, bukan? Kalau bisa datang ke sini dalam waktu cepat. Teman-temanmu pasti akan senang kau datang.”

“Aku bahkan baru bangun tidur. Tapi aku akan ke sana secepatnya. Oke, aku akan tutup teleponnya.”

Myungsoo langsung menutup telepon dan kembali menyantap sarapannya. Setelah itu, dia segera menuju kamar mandi dan tak butuh waktu lama baginya untuk siap dengan pakaiannya yang menurutnya keren.

“Dimana kunci mobilnya?” tanya Myungsoo, mencari-cari di laci. Ibunya kemudian menyodorkan kunci mobil itu ke arahnya.

“Kau mau ngapain, sih, di kantor Ayahmu?” gerutu sang Ibu kesal.

“Bertemu teman-teman Ayah yang penggila golf. Aku sudah mempelajari olahraga konyol itu dari mereka. Atau bertemu para pemuda maniak musik metal.”

“Jangan bandel,” pesan Ibunya. Ia mengacak rambut Myungsoo sebelum anaknya itu sudah melesat menuju mobil, menyalakan mesin dan kemudian sudah menghilang dari garasi sebuah rumah yang super besar.

Myungsoo menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Jalanan sedang lengang kali ini. Lima belas menit kemudian, dia telah sampai di depan gedung pencakar langit. Ayahnya bekerja di sana, sebagai direktur sekaligus pemiliknya. Ada tulisan besar berwarna merah marun tertulis di situ, Rocco Music Entertainment.

Walaupun merupakan anak pemilik perusahaan tersebut, Myungsoo tetap membayar pajak parkir, dan ketika memasuki gedung, dia tetap tersenyum ke masing-masing security di tempat tersebut.

Ia menuju ke kantor Ayahnya yang berada di ruangan paling atas. Ia mengetuk pintu ruangan dan kemudian terdengar gumaman Ayahnya, menyuruhnya masuk. Maka Myungsoo membuka pintu dan terlihat Ayahnya sedang berada di sofa, menikmati kopi paginya. Di hadapannya, duduk di sofa yang sama, adalah seorang pria bermata sangat sipit dan sedang tertawa lebar.

Myungsoo menyipitkan mata. Sepertinya sosok di hadapan Ayahnya ini tidak begitu asing. Tapi Myungsoo mengalihkan wajah dan memanggil Ayahnya.

“Halo, Ayah.” Sapanya, mendekati sang Ayah dan kemudian melakukan tos mereka. Kemudian Myungsoo melirik pria tersebut, dan Ayahnya berdeham.

“Myungsoo, kenalkan. Ini temanku, namanya Bae Woo Hyuk.” Ia memperkenalkan.

Myungso membungkukkan badan beberapa derajat, “Kim Myungsoo.”

Bae Woo Hyuk balas menunduk, dan menjabat tangan Myungsoo. “Kelas berapa?” tanyanya hangat.

“Aku? Kelas sebelas.” jawabnya singkat.

“Di sekitar sini?”

Myungsoo menggeleng, “Di Amerika. Oklahoma, tepatnya. Aku ke sini untuk liburan musim panas.”

Tampak ada ekspresi tak enak di wajah Woo Hyuk, tapi Myungsoo merasa ekspresi itu tidak berhubungan dengan suatu etika atau sopan santun.

“Oh, bagus sekali.” Ujarnya, tapi kali ini nadanya seperti dibuat-buat. “Mungkin lain kali kau bisa berteman dengan putriku di sana.”

Myungsoo membelalak, “Oh, putrimu juga tinggal di sana?”

“Ya, aku sudah bercerai dengan istriku. Mungkin sekitar…lima tahun lalu. Saat umurnya masih sebelas. Dia seumuran juga denganmu.”

“Dia bersekolah di mana?”

“Oh, itu. Dia tidak menyelesaikan pendidikan formal. Aku tak memberikan banyak sejak dahulu. Paling hanya seorang guru homeschooling yang datang. Tapi dia pintar, aku tahu. Minat bacanya besar. Dari kecil aku memfokuskan segalanya ke musik. Bahkan ketika bercerai, istriku yang mengasuhnya melanjutkan pendidikan musiknya yang sempat terputus.” Ucapnya panjang lebar.

Myungsoo mengangguk mengerti. Kemudian, seperti biasa, ia akan turun ke bawah, dan makan di kafe. Para pelayan kafe kantor itu sudah kenal dengan Myungsoo. Selain karena ia adalah anak dari Kim Myung Hwan, si pemilik perusahaan, ia disenangi karena keramahannya dan dia tidak sombong walaupun merupakan anak pemilik. Myungsoo tetap membayar ketika memesan dua piring besar waffle dan segelas besar kopi dingin, tapi para pelayan memberikannya diskon separuh harga.

Ketika ia memakan waffle-nya tanpa bicara, sendirian dan berada di sudut kafe, seseorang mengangetkannya dari belakang. Myungsoo terkaget, dan kemudian orang itu duduk di kursi di hadapannya yang kosong, dan mulai mengambil makanannya tanpa ampun.

Myungsoo menghela napas keras, “Kris, bisakah kau tidak mengganggu makanku sebentar saja?”

“Sayangnya, tidak bisa.” Jawabnya, seraya mengambil kopi Myungsoo dan meneguknya dalam tegukan besar-besar. Myungsoo langsung mengambil kopinya sebelum kopi itu habis.

Kris, pemuda berambut pirang itu, tertawa dan kemudian memesan pesanan yang sama dengannya. Ia menaikkan sebelah kakinya.

“Jadi, temanku di Korea, Myungsoo. Apa kabarmu, hah?” tanyanya angkuh.

“Baik,” Myungsoo menjawab tanpa minat, “Kau untuk apa di sini? Sudah jagoan ya dengan para teman-teman musikmu itu?”

“Betul sekali,” jawabnya, “Kami keren, kau tahu. Keren karena tidak ada perusahaan yang mau menanggung kami di China, jadi kami pindah ke sini. Korea. Dan sukses berat. Beruntung kan, kau kenal dengan aku? Nah, kini aku sudah ada proyek membuat album keduaku.”

Myungsoo mendelik, “Terserah.”

Pesanan Kris sudah datang, dan dua piring waffle itu dimakannya dalam waktu hanya sepuluh menit. Myungsoo selalu jijik melihat caranya makan, dia seperti orang yang sangat kelaparan. Akhirnya ketika masing-masing makanan mereka habis, Kris mengajaknya untuk masuk ke studionya yang berada di lantai empat gedung.

Kris adalah seorang penyanyi dari China yang memulai karir di Korea, dan berada di bawah naungan Ayahnya. Kris hanya dua tahun lebih tua darinya, jadi dia merasa nyambung dengannya.

Ia memulai karirnya dengan sebuah band aliran alternative rock. Bandnya terdiri dari empat orang, termasuk Kris. Mereka semua seumuran dan menyenangkan. Biasanya, bila masuk ke kantor Ayahya, Myungsoo akan mendapat album mereka secara gratis dan menghabiskan waktu bernyanyi atau berkaraoke bersama mereka.

Kris masuk ke vokalisnya. Ia merupakan daya tarik. Myungsoo mengakuinya walaupun enggan, bahwa wajahnya memang bisa dibilang tampan. Rambut pirangnya yang acak-acakan selalu bisa melumpuhkan seorang gadis. Dan suaranya yang serak begitu serasi dengan musiknya.

Maka siang itu tidak ada yang bisa dilakukannya selain ikut bernyanyi dan berkaraoke dengan teman satu band Kris yang bisa dibilang separuh sinting. Tapi menurutnya, itu lebih baik daripada menjaga toko rotinya.

—-

Ketika sore harinya, suaranya serak karena para teman Kris memaksanya bernyanyi terus-terusan di ruang karaoke.

“Kau punya potensi bagus. Akan kumasukkan ke grupku nanti,” begitu pendapat Kris. Tapi Myungsoo mengenyahkannya dan pergi ke pintu belakang, menuju ke ruang parkir untuk pulang. Tapi, saat ia baru mencapai lobi kantor, seseorang menghampirinya. Tak lain dan tak bukan adalah Bae Woo Hyuk.

“Selamat sore, Myungsoo.” katanya.

Myungsoo membungkuk, “Selamat sore juga, ahjussi.”

“Apa kau ada jadwal besok? Mungkin kita perlu bicara lebih banyak sambil minum kopi.” Tawarnya, dan Myungsoo bingung kenapa. Dia terlihat ragu-ragu, dan nyaris menyetujuinya ketika tahu besok ia harus jaga toko.

“Oh, aku minta maaf sekali. Aku harus menjaga tokoku dari pagi sampai malam. Maaf sekali. Lusa, mungkin? Aku usahakan bisa datang.”

“Toko? Kau punya toko?’

“Ya, toko roti. Ibuku yang membuatnya.”

“Dimana tokomu itu?”

“Di deretan ruko pinggir jalan yang menjual jajanan. Kimm’s Bakery. Tidak jauh dari jalan besar di kota.”

Woo Hyuk menyeringai, “Oh, ya, aku suka beli jajanan di ruko-ruko sana. Tapi aku baru tahu ada toko roti milikmu. Mungkin lain kali aku bisa datang ke tokomu. Jam berapa tutupnya? Yah…sepertinya esok aku akan sibuk juga. Tapi tak apalah.”

“Jam delapan malam akan tutup. Kau benar-benar mau datang, ahjussi? Akan jadi kehormatan untukku.”

“Ya, aku akan datang, tapi sekitar jam mau tutup,” Woo Hyuk tersenyum simpul, “Baiklah, sampai bertemu besok. Aku ada urusan. Selamat sore, Myungsoo.”

Ia mengangguk, “Selama sore juga.”

Kemudian Woo Hyuk berbalik dan menaikki lift. Myungsoo mengerutkan dahi. Untuk apa pria itu mengacaknya berbicara? Mau melampiaskan rasa frustrasi atas perceraian dengan istrinya?

Myungsoo menghela napas keras, dan segera menuju ke tempat parkir, di mana mobilnya bertengger di sana.

“Myungsoo! Sudah jam berapa sekarang? Pulang, cepat!”

Yang ditelpon tidak menjawab. Ia masih meletakkan mangkuk-mangkuk dan loyang di tempat cuci, membuang puluhan kertas pelindung tangan. Dengan susah payah dijepitnya ponsel melalui pundak kanan dan telinga kanannya.

“Iya. Iya. Aku sudah selesai!”

“Cepat!”

“Iya. Akan lebih baik bila kututup teleponnya agar aku bisa lebih cepat selesai.”

Telepon itu tertutup, kemudian Myungsoo menatap layarnya. Ia mengendus dan kemudian meletakkannya di meja dapur, sambil merutuki dalam hati.

“Kemarin saja bilangnya aku harus jaga toko. Sekarang disuruh cepat-cepat pulang,” gerutunya. Ia membersihkan sisa-sisa adonan yang bercecer dan nyaris mengering. Bau tepung masih menusuk hidungnya.

Biasanya jam segini karyawan lain yang akan mengurus. Namun karyawan yang biasa membersihkan kekacauan ini harus pulang lebih awal jam enam tadi. Maka Myungsoo yang harus menanggungnya sendiri. Tapi itu tidak masalah, dia hanya kesal dengan teriakan Ibunya.

Kemudian, dari kejauhan didengarnya pintu kaca berderit terbuka. Myungsoo terdiam. Apakah itu Bae Woo Hyuk? Pria itu sudah berjanji kemarin. Ah apa peduliku, pikir Myungsoo. Woo Hyuk atau bukan, sama saja, mereka pelanggan. Jadi Myungsoo terus membersihkan adonan, membiarkan siapa saja yang datang itu memilih kuenya.

Selama sepuluh menit Myungsoo terus membersihkan dapur sampai bersimbah keringat. Tapi kenapa pembeli itu tidak memencet bel di kasir? Padahal sekali tekan Myungsoo juga akan keluar. Myungsoo akan keluar, tapi saat itu dilihatnya setumpuk loyang berantakan di sudut dapur. Maka dengan berat hati dia meratakannya dan menaruhnya ke tempat cuci.

Ketika ia meletakkan loyang-loyang itu di mesin cuci, ia mencium bau asap. Bau api. Ia segera mengecek ke oven, takut oven itu justru masih nyala. Tidak sama sekali. Oven itu sudah dingin karena dimatikan sedari tadi. Lantas, bau api dari mana?

Merasa ada yang tidak beres, Myungsoo akhirnya berjalan menuju keluar dapur yang langsung berhadapan dengan meja kasir. Dia mengira mungkin toko sebelah ada masalah atau apa. Dia membuka pintu keluar untuk melayani pembeli. Namun bukan seorang pembeli yang berdiri di depan mejanya. Melainkan kobaran api yang sudah menyebar di mana-mana.

Myungsoo nyaris terjungkal, dan mundur ketakutan. Bagaimana bisa ada api? Toko itu masih wangi kue tiga puluh menit lalu. Ia merasa ingin muntah. Dia harus mencari tempat untuk menyelamatkan diri. Myungsoo hendak bersembunyi di pintu dapur, tapi itu konyol, api jelas sudah akan melahapnya.

Dimana orang-orang? Jerit Myungsoo dalam hati. Apa mereka tak menyadari satu pun? Apa mereka tak melihat api yang membakar? Apa mereka tak melihat ada satu orang terjebak di sini?

Dia melihat jalur menuju pintu keluar belum terlalu dimakan api. Maka ia segera menuju keluar meja kasir dan berjalan menuju pintu keluar. Dalam hati ia menyesali tidak membuat pintu darurat untuk toko. Tapi Myungsoo yakin dia bisa bertahan hidup dan keluar dari pintu dengan selamat.

Ia mulai berlari menuju pintu tersebut, anehnya dia merasa tenang seperti aktor di film-film aksi. Dia yakin bisa keluar dari tempat ini. Dia yakin bisa pulang ke rumah, bertemu Ibunya. Dalam hati ia menyesali kenapa tidak menuruti perintah Ibunya sedari tadi.

Pintu itu tinggal beberapa langkah lagi. Tangan Myungso bahkan sudah terjulur untuk meraih pegangannya. Panas api mulai mengitari tubuhnya, membuat matanya perih karena terkena keringat berkali-kali. Ditambah dengan asap yang membuatnya terbatuk. Tapi ketika hanya tinggal setapak lagi, Myungsoo merasakan sesuatu yang licin.

Sepertinya kantung plastik untuk membungkus roti. Kantung plastik tokonya memang licin. Dan amat celaka, Myungsoo terjatuh dalam posisi tidak menguntungkan.

Ia terpeleset tepat di sebelah kobaran api besar. Dan, ia terjatuh di dalam kobaran itu. Myungsoo berteriak, merasakan api mulai membakar kulitnya. Tapi tak ada apapun. Ia terus berteriak, mulai merasakan panas itu membakar seluruh bagian dalam tubuhnya. Kulitnya sudah berubah hitam menyeramkan. Perlahan api itu mulai membakar bagian otaknya, dan kemudian, segalanya sudah kelihatan gelap bagi Myungsoo. Hanya ada sedikit kesadaran untuknya, tapi Myungsoo tidak tahu harus bagaimana.

Di dapur, ponselnya bergetar. Ibunya sudah membuat empat panggilan tak terjawab.

A/N

Karena kemarin sibuk, jadi baru update sekarang. Maaf untuk yang menunggu. Semoga terhibur🙂

23 responses to “The Fog [Chapter 11B]

  1. Ya ampuun kasian bgt myung… mungkin itu firasat eoma ny myung.. nyuruh myung buat cpet” pulang.. ternyata kejadian buruk menimpa..😥
    Sebnernya apa motif bae woo hyuk ngelauin perbuatan keji itu??

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s