[PROLOG] MELODY OF LOVE

11718_521359921336578_4618875410739322796_n

Title : Melody of Love | Author : @ohohmr Genre :  Romance, School Life | Rating : General | Cast : Bae Suzy as Suzy, Seo Kang Jun as Kang Jun, Ahn Jae Hyun as Jae Hyun, Park Min Woo as Min Woo, Bae Ju Hyeon as Irene.

.

.

.

PROLOG

    “Ini.. untukmu,” bocah laki-laki yang umurnya berkisar 4 tahunan itu memberikan sebuah kotak musik berukuran kecil ke gadis di depannya. Gadis itu sepantaran dengannya, hanya beda bulan saja. Gadis itu lahir pada bulan Desember dan bocah laki-laki itu lahir di bulan Oktober.

     “Terima kasih. Aku pergi..” lirih gadis itu, sepertinya dia tidak tega meninggalkan bocah laki-laki itu, namun orangtua gadis itu mendesak pergi ke Amerika secara mendadak karena urusan kerja.

     Gadis itu berjalan pergi menuju orangtuanya yang sudah menunggunya di dalam mobil. Mereka terlihat tidak sabaran menunggu putrinya mengucapkan kalimat perpisahan kepada bocah laki-laki tersebut.

     “Suzy-ah!” panggil bocah laki-laki itu.

     Suzy mendongak ke sumber suara itu berasal. Matanya terbelalak ketika mendapati wajah sang bocah laki-laki yang sudah banjir oleh air mata. Hal itu membuat Suzy semakin tak sanggup meninggalkan bocah laki-laki yang notabene merupakan sahabatnya sejak lama.

     “Ada apa?” kini suara Suzy memarau, ia ikut terjerumus dalam kesedihan.

     Bocah itu menghapus air mata yang membanjiri wajahnya seraya berkata, “Jangan lupakan aku!”

     Tangis Suzy memecah ketika mendengar kalimat bocah itu, Eomma Suzy keluar dari dalam mobil lalu menggendong putrinya itu, ia membawa Suzy ke dalam mobil.

     Detik berikutnya mobil itu sudah melesat cepat meninggalkan sang bocah seorang diri.

.

.

.

.

.

     School Art of Seoul, adalah sebuah sekolah yang sangat terkenal hampir di seluruh Korea Selatan. Sekolah itu hanya menerima siswa yang memiliki basic seni di dalam diri siswa itu masing-masing. Sekolah itu biasa di kenal dengan sebutan SAS. Hanya orang-orang kaya saja yang bersekolah disana, ah ya.. sedikit koreksi, disana juga terdapat siswa yang di katakan biasa-biasa saja atau miskin. Mereka bersekolah di SAS karena mendapatkan beasiswa. Itulah informasi seputar SAS.

***

Miss Park berjalan bersama seorang gadis yang sepertinya adalah murid baru di sekolah ini. Gadis itu mengekor di belakang Miss Park. Namun sesampainya di depan kelas, gadis itu diam, ia membiarkan Miss Park masuk duluan.

Miss Park sudah berdiri di depan para siswa. “Anak-anak!” serunya galak, kemudian kelas itu terlihat mulai kondusif. “Kita kedatangan murid baru.”

Semua pasang mata memandang ke arah gadis yang baru saja masuk ke dalam kelas, mereka memperhatikan gadis itu dari kepala hingga kaki. Entahlah, mungkin jika gadis itu orang kaya, mereka ingin memanfaatkannya. Begitulah kehidupan murid-murid di sekolah ini. Terlalu materialistis.

“Perkenalkan, namaku Bae Suzy.” ujar murid baru itu.

Semua orang tidak bereaksi, mereka menunggu-nunggu seseorang bertanya sesuatu. Sampai pada akhirnya, Irene mengacungkan telunjuknya.

“Ya, silahkan bertanya.” ujar Miss Park.

“Ada 2 kategori siswa yang masuk di sekolah kami, kau termasuk di dalam kategori mana?” gadis yang bernama Irene itu menyeringai sombong. Dialah gadis terkaya di sekolah ini, tidak ada yang bisa menentangnya.

Suzy menatap ragu ke arah Irene, yang sedari tadi menatapnya tidak sabaran, ia sepertinya ingin cepat-cepat mendengarkan jawaban Suzy. “Aku masuk ke sekolah ini lewat jalur beasiswa..” Suzy menunduk, ia tahu sesuatu yang tidak mengenakkan akan terjadi.

Seluruh murid di kelas itu kemudian menatap Suzy, tatapannya seperti sedang merendahkan. Namun ada sekelompok murid laki-laki yang sedari tadi tidak memperhatikan adegan perkenalan Suzy, mereka juga anak-anak terpandang di sekolah ini. 3 lelaki itu asyik mengobrol. Mereka adalah Ahn Jae Hyun, Park Min Woo dan Kang Jun.

Sedikit perkenalan seputar ketiga namja itu. Ahn Jae Hyun si dingin, namja satu ini sangat suka menggambar, biasanya jika sedang stres dia akan pergi ke ruang seni lukis untuk menenangkan diri. Park Min Woo si kalem, dia sangat pendiam, terutama kepada yeoja. Park Min Woo sangat jago bermain piano. Dan yang terakhir adalah, Kang Jun si playboy. Dia sangat senang berganti-ganti gebetan. Hampir semua yeoja cantik di sekolah ini sudah pernah menjadi pacarnya.

“Bae Suzy,” suara Miss Park menyadarkan Suzy yang sedang melamun.

Ia mendongak ke arah keberadaan Miss Park berdiri. “Ya, Bu?”

Jari telunjuk Miss Park menunjuk ke bangku sentral kelas, “Duduk disana.”

Suzy mengangguk dan ia kemudian berjalan ke bangku itu. Suzy sudah sampai disana, namun mungkin ia sedang benar-benar sial hari ini, baru saja dirinya akan duduk tiba-tiba kursi yang akan di dudukinya di tarik oleh seorang namja. Sepertinya dia tidak suka Suzy duduk persis di depannya.

Namja itu tersenyum meremehkan, matanya menatap Suzy tajam, seperti ada kilatan. “Kau tidak boleh duduk disini! Menghalangi saja. Sana pindah!” tiba-tiba namja itu melempar kursi Suzy ke pojok kelas. Terdengar suara BRUK yang cukup keras. Untung kursi itu tidak rusak, melainkan hanya lecet saja.

Jelas saja namja itu dapat berbuat apa pun, sebab saat ini tidak ada Miss Park, ia sedang pergi karena ada urusan dengan orangtua murid.

Suzy menghela napas sejenak lalu menatap namja itu tanpa ekspresi seraya berkata di dalam hatinya, Kau akan menyesal melakukan hal ini terhadapku!

Suzy berjalan ke pojok kelas dengan tenang. Entah kekuatan dari mana, dengan satu tangan ia mengangkat kursi seorang diri, jika sedang kesal Suzy akan memiliki kekuatan yang aneh. Ia membawa kursi itu kembali ke posisinya semula.

Melihat hal itu, mata namja yang melempar kursi Suzy tadi terbelalak. Berani juga gadis ini, ujarnya dalam hati. Namja itu tidak melakukan apa-apa lagi, lebih tepatnya dia malas mengganggu orang yang tidak sederajat dengannya. Ia lebih memilih kembali melanjutkan acara mengobrolnya bersama 2 orang teman lelakinya.

Irene sedari tadi menatap semua gerak-gerik Suzy. Irene kesal ketika melihat tingkah Suzy yang sok jagoan itu. Namun ia sedang tidak mood mengomentari, jadinya ia diam saja.

***

“Eomma, ini sudah keputusanku.” Suzy mendesak Nyonya Kim untuk menyetujui permintaannya.

     Nyonya Kim terlihat sangat gelisah mendengar permintaan putrinya yang mendadak itu. “Tapi, Suzy-ah..”

     “Kumohon…” Suzy menyatukan kedua tangannya, “Ayolah, Eomma.. tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan menanggung semuanya. Boleh, ya?”

     Nyonya Kim terlihat sedang menghela napas berat. “Baiklah,” akhirnya ucapan yang sedari tadi di tunggu-tunggu keluar juga dari mulut Nyonya Kim.

     Suzy memeluk Eommanya itu kemudian mengecup dahinya, lalu cepat-cepat pergi menuju ke kamarnya.         

***

Hari demi hari ia lalui dengan begitu banyak kesengsaraan hidup. Sungguh sangat tidak adil jika ia di cap sebagai orang miskin karena masuk ke sekolah ini lewat jalur beasiswa. Seluruh isi sekolah sudah tahu hal itu. ‘Suzy si gadis beasiswa’. Semua orang menjulukinya seperti itu. Menyebalkan.

Saat ini Suzy sedang duduk sendirian di kelas, murid-murid yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya ia seorang yang tinggal di kelas.

Suzy mengambil sebuah kotak musik dari dalam ranselnya. Di dalam kotak musik itu terdapat foto bocah lelaki yang sedang menggendong seorang gadis kecil di punggungnya. Gadis yang di gendong itu adalah Suzy, dan bocah lelaki itu adalah sahabat kecilnya.

Jika Suzy sedang stres seperti saat ini, ia akan mendengarkan alunan musik yang bersumber dari sebuah kotak musik kecil miliknya. Dengan mendengarkannya saja sudah membuat hati Suzy menjadi tenang.

Suzy memandangi foto tadi, ia terus menatap ke arah bocah lelaki yang menggendongnya dulu. “Hmm.. kuharap kita bisa bertemu lagi..”

Selang 20 menit kemudian, ketika hatinya sudah mulai tenang, Suzy bergegas pulang. Sudah jam 9 malam. Gawat! Jika tidak cepat-cepat pergi ia tidak akan mendapat bus. Bus terakhir sebentar lagi datang.

***

Dengan seluruh kekuatannya, Suzy berlari, sangat kencang.

Halte bus sudah berada di depannya, sekitar 30 meter lagi ia akan sampai disana.

Namun malang, bus terakhir sudah mendahuluinya dan.. terpaksa ia harus berjalan kaki menuju ke rumah.

Sesak, itu yang Suzy rasakan. Dadanya sesak sekali karena berlari tadi. Ia duduk sebentar di halte selama beberapa menit, kemudian mulai berjalan dengan tampang lesu.

Sudah 30 menit Suzy berjalan. Ia lelah, penglihatannya juga sedang tidak bagus karena jalanan yang gelap. Lampu jalan utama rusak, padahal hanya lampu itu saja satu-satunya yang seharusnya menerangi jalan.

Suzy masuk ke jalan pintas yang biasanya ia lewati tiap pulang sesudah beberapa lama menempuh perjalanan menggunakan bus. Jalan pintas itu berupa gang, jalurnya berbentuk huruf F. Belokan pertama adalah jalan buntu, sedangkan belokan kedua merupakan akses menuju jalan besar. Gang tersebut di kelilingi oleh banyak lampu, sebut saja lampu disko. Kenapa ‘disko’? Karena lampu-lampu itu berkedap-kedip karena hampir rusak, cahayanya juga remang sekali, merusak mata.

Belum juga Suzy menapakkan kakinya ke gang tersebut, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, “Nona.. mau pulang, ya?”

Suzy tersentak kaget ketika menoleh ke belakang, ia terkejut melihat 2 orang lelaki berbadan tegap yang juga berotot dan memakai baju serba hitam tiba-tiba saja muncul di depan matanya.

Preman.

Kedua preman itu saling bertatapan, salah satu dari mereka seperti sedang mengisyaratkan sesuatu. “Ayo!” preman-preman itu dengan cara paksa menarik tangan Suzy. Yang satu memegang tangan kanan, yang satunya lagi memegang tangan kiri. Suzy tidak bisa melepaskan cengkeraman mereka yang terbilang sangat kuat.

Mau memberontak seperti apa pun tetap saja kedua tangannya itu tak kunjung terbebas. “Lepas! Lepaskan aku!!” seru Suzy histeris. “Hentikan! Kumohon jangan apa-apakan aku!”

Suzy menangis. Namun kedua preman tersebut tidak mengenal rasa iba, mereka tetap mencengkeram tangan Suzy, bahkan lebih kuat dari yang sebelumnya. Preman-preman itu membawa Suzy ke markas mereka yang berada tak jauh dari gang berjalur F tadi.

“Tolonngggg!!!!!” teriak Suzy.

“Diam kau!” bentak salah satu preman. Ia kemudian membungkam mulut Suzy menggunakan tangannya.

Tiba-tiba saja sebuah suara menyahut dari arah belakang. “Seharusnya kau saja yang diam!”

Spontan Suzy dan kedua preman tersebut mendongak ke belakang, tampaklah seorang namja tinggi berdiri disana. Namja itu masih memakai seragam sekolah. Sontak saja mata Suzy terbelalak ketika mengenali wajah namja itu.

Orang yang sangat ia tidak harapkan untuk menolongnya malam ini. Ia tahu wajah itu, tapi ia tak tahu namanya. Namja itulah yang dengan sengaja melempar kursinya tempo hari, dia juga yang setiap hari duduk persis di belakangnya.

“Hei, bocah! Jangan macam-macam kau!” salah seorang preman berkata seraya menyerahkan Suzy ke temannya. “Aku yang berkuasa di daerah ini, kau mau melawanku? Jangan harap kau bisa kabur!”

Preman itu mendekati namja tersebut, ia berusaha meninju wajah namja itu. Hanya sekali gerak saja namja itu dapat menepisnya dengan mudah. Ia tersenyum meremehkan, membuat sang preman kesal bukan main.

“Sialan kau, bocah!” kali ini preman itu meninju angin karena namja itu dapat menghindar dengan cepat. Preman itu sudah kewalahan dan menyuruh temannya untuk membantunya. Tinggallah Suzy seorang diri disana tanpa pengawasan kedua preman tersebut.

Rasanya Suzy ingin melarikan diri saat ini juga, tapi ia masih memiliki hati. Ia tidak ingin namja sialan itu terluka karena menolongnya. Suzy terdiam di tempatnya, tidak dapat berbuat apa-apa.

Namja itu masih beradu fisik dengan kedua preman tersebut, namun ia sempat melirik Suzy. Mulut namja itu membentuk sebuah kalimat yang tak bersuara. Sepertinya itu sebuah isyarat. Dalam hitungan ketiga mereka berdua akan lari, itulah isyarat yang berusaha disampaikan namja itu kepada Suzy.

“Tiga!” teriak namja itu. Ia masih sempat-sempatnya mengadu kepala kedua preman itu lalu berlari ke arah Suzy, detik berikutnya mereka berdua sudah saling bergandengan tangan sambil berlari menuju gang berjalur F.

Suzy mengikuti langkah-langkah panjang milik namja di depannya. Melelahkan, tapi inilah tindakan terbaik di saat kondisi sedang darurat seperti ini. Namja sialan itu sesekali menengok ke arah Suzy, memastikan gadis itu masih sanggup berlari, karena jika Suzy sudah tidak bisa lari lagi, mau tak mau ia akan menggendongnya.

Kedua preman itu mengikuti mereka, namun masih jauh di belakang sana. Lari kedua preman itu terbilang cepat, jadi besar kemungkinan mereka dapat menggapai Suzy.

Namja itu dan Suzy sudah masuk ke dalam gang, mereka berbelok di belokan pertama.

“Sial! Jalan buntu!” namja itu memaki, wajahnya terlihat sangat kesal.

Sudah tidak ada waktu lagi untuk berbalik arah. Akhirnya ia dan Suzy bersembunyi di sebuah tembok yang menjorok ke dalam, mereka masuk kesana. Sempit sekali. Jarak antara kedua wajah itu sangatlah dekat.

Napas mereka berdua sangat memburu, Suzy kelihatan sangat takut. Pikiran-pikiran negatif yang berkecamuk di kepalanya telah memakan habis akal sehatnya, ia tak henti-hentinya menangis.

“Ssstt..” namja itu berusaha meredakan tangis Suzy, “Diamlah. Jika kau tidak diam, nanti mereka mendengarnya.” perkataannya tak di dengar oleh Suzy, gadis itu sudah terlampau takut bukan main.

Namja itu menjadi semakin kesal ketika melihat Suzy yang menangis, ia sangat benci mendengar orang menangis, apalagi jika itu adalah seorang gadis.

“Kumohon diamlah..” ujar namja itu tertahan.

Percuma saja, Suzy tetap tidak menghentikan tangisannya. Mau memohon seperti apa pun yang namanya orang sedang takut sulit sekali untuk menghentikan tangisannya dengan menggunakan kata-kata, apalagi jika pengucapannya terdengar kasar di telinga. Seharusnya seorang lelaki harus lebih mengerti kalau wanita tidak suka di bentak. Semakin di bentak mereka akan semakin takut, di tambah lagi kondisinya bisa di bilang antara hidup dan mati.

Sial! geram namja itu dalam hati.

Perasaan kesal telah memakan akal sehat namja tersebut, ia dengan kasar membungkam bibir Suzy menggunakan bibirnya. Suzy yang tadinya menangis sontak terbelalak. Tangisnya berhenti seketika. Ia melawan dengan cara memukul-mukul pundak namja itu. Ciuman paksa namja di depannya itu membuat Suzy jadi sulit bernapas.

Suara 2 pasang kaki terdengar berlari melewati kediaman Suzy dan namja itu.

Dengan kasar juga namja itu menyudahi adegan kissing mereka.

PLAKK!!

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kanan namja itu, rona merah pekat menjalar di pipi bagian kanan namja tersebut. Suzy mengelap bibirnya dengan jijik. Matanya kembali berair. “Kurang ajar kau!” dengan kedua tangannya ia mendorong namja itu hingga terjungkal ke aspal dengan posisi terduduk.

Entahlah, jika Suzy sedang marah seperti sekarang ini, sebuah kekuatan akan secara mendadak menelusup ke dalam tubuhnya itu. Kekuatannya jadi bertambah berlipat kali ganda.

Namja itu tersenyum kecil sambil melihat kepergian Suzy. Bukannya merasa bersalah, ia malah tertawa senang. Dasar aneh.

“Oh ya, aku tidak tahu namanya. Payah!” namja itu berkata seraya berdiri dan membersihkan celananya yang terkotori oleh debu tanah. “Ah sudahlah, toh besok ketemu lagi.”

.

.

To be continue…

Hi? I’m back with a new fanfiction, again. Silahkan voting, mau lanjut atau tidak. Just comment. Terima kasih.

46 responses to “[PROLOG] MELODY OF LOVE

  1. wahh.. keren..
    tpi siapa yang nolongin suzy ?
    trus suzy bener2 jaga kotak musik yang diberikan sama sahabat masa kecilnya dulu :3

  2. Omo itu jaehyun??namja kecil itu jugaa?suzy itu sengaja masuk pk jalur beadiswa kan. Oia ijin baca ya author

  3. Wahhh.. Aku suuka thor.. ^^
    Itu yg nolongin suzy siapa?
    Apa kang jun yg nolongin suzy?
    Suzy klo marah kekuatannya jdi berlipat? Apa ada fantasinya kah thor?
    Trus, yg ngasih kotak musik ke suzy itu siapa?
    Aku penasaran,thor… >.< Keren deh ff mu 5 jempollll (y)(y)(y)(y)(y)
    See you next chap thor ^-^/

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s