Wedding Dress [chapter 4]

wedding-fress

xianara presents:

Wedding DressConsolation #1

Bae Suzy and Kim Myungsoo with Choi Minho, Bang Minah, and special appeareance from: Yoon Bora [SISTAR] | Romance, Angst, Drama, AU, Friendship, Family | PG13 | Chaptered : teaser 1 2 Interlude 3

beside the poster and story i own NOTHING!

“But if I can wordlessly hug you. If I can hug you. If I can wordlessly hug you right now.”

recommended song while reading: Consolation – URBAN ZAKAPA

Enjoy Reading

Myungsoo mendapat telepon dari Seoul.

Air muka di wajahnya berubah menjadi sangat keruh kala ponsel keluaran terbaru apparel komunikasi Amerika Serikat itu menempel di cuping telinganya. Rahangnya seketika mengeras namun perlahan mengendur. Air mata entah kenapa tahu-tahu sudah berkoloni di ujung mata kucing pemuda tersebut.

Ia pun menjatuhkan ponselnya ke dalam sakunya. Sebagai lelaki ia pantang menangis. Tetapi, untuk kali ini ia tebas semua pantangannya. Ia menangisi, kebodohannya. Ya kebodohannya.

Sungguh Kim Myungsoo yang malang.

***

Seporsi ramyun instan dalam kemasan mangkuk mengepulkan asap disertai wangi yang menggugah selera siapa saja yang menghirupnya. Suzy menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri searah jarum jam. Mulutnya tidak berhenti berdecak. Beruntung air liur belum terjun dengan indahnya dari lapisan bibir gadis itu.

Baru saja ia akan menyumpit sejumput ramen pada mangkuk plastik itu, tiba-tiba ponselnya bergetar.

‘Drrt’

Pesan dari Minah!

Suzy membatalkan suapan pertamanya. Lantas ia pun segera meraih ponsel yang tergeletak tepat di samping mangkuk ramennya.

Suzy-ya apa kau sedang sibuk? Hm, bisakah kau mengantarkan dompetku ke meja resepsionis? Dompetku tertinggal T_T hiks, aku sedang menuju ke sana, dua menit lagi aku sampai. Tolong ya? yaya???🙂

Bibir gadis itu membentuk kerucut imut. Dalam hati ia mengomel karena belum sempat membiarkan lidahnya diguyur rasa dari ramyun  tersayangnya. Dengan langkah gontai ia pun segera membawa dompet gadis teman sekamarnya itu yang terselip di bantal sofa beludru berwarna merah marun itu.

“Anak itu ceroboh juga ya, huh.” dumel Suzy seraya melampirkan jaket berwarna hijau emerald di tubuhnya.

Di dalam lift, gadis itu mengeratkan jaket yang dikenakannya. Ia pun hanya memandang pantulannya dengan tatapan yang kosong. Ia mengecek arloji hitam di pergelangan tangan kirinya.

Pukul 20:30.

Ia menggeleng malas. Berharap semoga hari cepat berganti hari sehingga pekerjaan di sini cepat selesai dan ia bisa kembali ke Seoul. Menjauh dari radar seorang Kim Myungsoo.

Setelah memorinya kembali, ia tidak memberitahukan ibunya. Ia memilih tidak menceritakan apapun kepada ibunya itu. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan ibunya jadi lebih baik biar masalah bodoh ini disimpan dirinya sendiri. Pikirnya begitu.

Hanya butuh beberapa detik untuk mencapai lantai dasar menggunakan lift. Begitu pintu lift itu berdenting dan terbuka, ia segera membawa kakinya keluar dari lift tersebut. Di dekat dek resepsionis yang besar dan elegan, ia melihat Minah yang melambaikan tangan.

Gadis itu langsung berjalan setengah berlari menghampiri Suzy. Cengiran bersalah pun terbit di bibir tipis gadis itu.

“Maaf ya. pakai merepotkanmu segala, “ ringis gadis itu.

“Tidak apa. Ya sudah, jangan pulang terlalu malam! Ingat besok kita masih ada schedule, “

“Tapi kan agenda pemotretannya dilakukan pada sore hari, “

Err ya sudah. Cepat sana pergi, katanya terburu-buru, duh, “

“Arrayeo, sekali lagi terima kasih ya!”

Minah pun segera melesat menuju pintu utama dari hotel itu dan meninggalkan Suzy yang juga langsung melipir menuju pintu lift berwarna kuning keemasan tersebut.

‘Ting!’

Saat pintu besi itu bergeser, tubuhnya seperti disengat jutaan lebah. Kakinya serasa terpaku ke dalam bumi sehingga sulit digerakkan.

Myungsoo menatap gadis yang mematung di depan lift itu dengan kikuk. Ia pun lekas-lekas menekan tombol untuk menutup pintu baja ringan tersebut. Namun, langkahnya terhenti kala ia mendapati sosok gadis itu kini tengah berdiri di sampingnya. Memasang wajah datar dan tidak peduli.

Sejujurnya, dalam hati gadis itu pun ia juga risih. Makanya, ia pun menyibukkan dirinya dengan menjelajahi kuku-kuku di jarinya dengan seksama. Begitu juga dengan Myungsoo yang sok asyik menjawili bagian bawah bibir tipisnya.

Keheningan yang menguasai pun dipecahkan oleh dentingan lift.

‘Ting!’

Keduanya pun hampir keluar secara bersamaan kalau saja Myungsoo tidak melambatkan langkahnya seujung rambut dari Suzy. Nalurinya berkata, masalah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Selesaikanlah secepatnya!

Suzy pun memperlekas langkah menuju pintu kamarnya. Syaraf yang mendiami engsel lehernya pun menyuruh agar gadis itu tetap menegakkan pandangan. Terus menatap ke depan! Jangan menengok ke belakang.

‘Tap, tap, tap’

Gema antara alas sepatu pantofel milik pria itu yang beradu dengan lantai berkarpet tebal berwarna merah pekat itu terasa membakar saluran pendengaran gadis itu. Oh ayolah! Ia tidak sedang menguntitmu! Ia ingin ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamarmu. Bae suzy, kau jangan ke-geer-an oke?

Akan tetapi, ia tidak menemukan tanda-tanda Myungsoo telah lenyap dari pungunggnya. Nyatanya, sampai jarak sejengkal menuju pintu kamar hotelnya ia masih mendengar langkah kaki tersebut.

Suzy membalikkan badannya. Dugaan pertama gadis itu benar. Myungsoo menguntitnya. Lalu apalagi?

“Myungsoo, seb – “

“Bisakah kita berbicara sebentar? Kau cukup mendengarkanku selama Lima menit saja? Ah, ani, dua menit. Bagaimana?”

“Aku mau ist – “

“Kumohon, “

Ucapan gadis itu terputus dan  menyangkut di tenggorokan. Ia pun mengeluarkan tatapan ‘apa-apaan sih kau?’. Selanjutnya, ia menundukkan kepalanya lalu mengangguk sansgsi. Ia sudah lelah menghindar dari pria itu seharian ini. Myungsoo melihatnya dengan tatapan lebih dari ‘apa-apaan ini? kenapa dia menyetujui secepat ini?’.

“2 menit saja, kelewat setengah detik siap-siap kutendang.” ancam Suzy.

‘Bip!’

Keduanya pun termenung di depan jendela geser yang memamerkan kerlap-kerlip lampu dari gedung-gedung berarsitektur modern dan islami di Dubai. Terlihat menara Burj Khalifa berdiri dengan angkuh seakan ialah raja dari gedung-gedung modern di sekitarnya.

“Mulailah, waktumu tinggal 1 menit 48 detik, “

Myungsoo yang berdiri dalam radius kurang dari tiga meter di hadapan Suzy menegakkan punggungnya yang bersandar pada tembok pembatas ruang tidur dan kamar mandi. Ia pun memandang lekat Suzy yang kini tengah menelanjangi dirinya dengan tatapan tajamnya.

“Maafkan aku,” suaranya terdengar pelan seperti angin malam yang diam-diam menyelusup.

Diam,

Hening.

Bisu.

“Gara-gara kebodohanku kau sampai menderita amnesia disosiatif. Kau, kau melupakanku. Kau telah melupakanku.”

Suzy terdiam. Matanya memanas. Kendati ia memaksakan dirinya untuk menelan air matanya. Posisinya pun masih berdiri di hadapan pria itu sambil bersedekap. Mulutnya pun sengaja ia kunci rapat-rapat.

Sekali-sekali berdamai dengan masa lalu, dicoba dulu tak apalah.

“Aku memang pantas dilupakan, terlebih olehmu. Dilupakan olehmu sejenak, bukankah itu sebuah hukuman yang manis? Terlupakan sementara. Lalu, kau kembali mengingatku. Keajaiban macam apa ini?”

Suzy membatu. Ia tak menggubris perkataan lelaki itu. Pikirannya dibiarkan mencerna tiap frasa yang mengandung makna yang barusan terlontar dari bibir Myungsoo. Perih dirasakan matanya karena tak mampu menahan volume air mata yang semakin banyak.

Fragmen-fragmen masa SMA yang dahulu kelihatan blur, abstrak, dan bukan samar-samar perlahan menyeruak. Ia dapat melihat dengan jelas paras kepunyaan Myungsoo yang tengah tertawa lebar saat melumuri lumpur di wajahnya.

Bak gulungan rol film yang berputar ia dapat merasakan gelak tawa renyah yang menyambar kokleanya kala ia menertawakan tampang bocah itu yang kesulitan membuat pola sederhana bracelet di sebuah booth kerajinan. Terakhir, saat ia berlari kencang tak tentu arah meninggalkan bocah lelaki di atap gedung sekolahnya.

“A-aku baru tahu itu semua. Kau menderita amnesia itu karena aku yang telah membuatmu bersedih. Entahlah kau akan percaya padaku atau malah semakin membenciku aku dapat menerimanya. Semua yang telah terjadi di masa lalu adalah murni kesalahanku. Park Jiyeon dan hyeong tidak salah sama sekali.”

Suzy masih betah membisu.

“Aku sungguh menyesal, kumohon maafkan aku.“ Myungsoo kembali bersuara namun kali ini nadanya terdengar semakin parau.

“Kau terlihat tidak menyesal, Myungsoo, “ gadis itu melangkah mendekati Myungsoo. Lidahnya tidak dapat bersinkronisasi dengan hati dan pikirannya.  “waktumu telah habis. Silahkan angkat kaki sebelum kutendang.”

Myungsoo enggan bergeming. Ia memberanikan diri mengadukan pandangan pada gadis di hadapannya.

“Sekali saja tidak bisa? Kau kan belom mencobanya. Memaafkanku, “

Hati dan telinganya menjadi tuli. Suzy tak mengindahkan pria di hadapannya itu. Area belakang kepalanya tiba-tiba terasa seperti ditimpa beton. Nyeri. Pening yang menggerayangi coba ia tahan. Ia pun menepuk pelan pundaknya guna mengurangi rasa nyerinya.

“Sepertinya kau melupakan janjimu di awal yah? Kau bilang kan aku hanya cukup mendengarkan saja.”

Maaf.

Hanya itu yang ia butuhkan saat ini dari Suzy. Ia tidak ingin meminta lebih. Meskipun perasaanya telah berkhianat, ia hanya ingin Suzy kembali menjadi sahabatnya lagi. Tak peduli dengan perasaan sepihak yang ia simpan selama bertahun-tahun untuknya. Kendati demikian, hati nuraninya hanya ingin bersama dengannya lagi.

Pemuda itu menjatuhkan lututnya ke lantai secara tiba-tiba. Suzy memandangnya dengan perasaan yang campur aduk. Kasihan, kesal, marah, gregetan, sedih, frustasi, gundah, dan 1001 macam perasaan G6Gelisah, Galau, Gundah, Gulana, Gimana, Gitu, lainnya.

“Bae Suzy, maafkan aku, “ pinta Myungsoo dengan memelas.

Suzy mengepalkan tangannya. Kepalanya pun serasa mau pecah. Bronkiolus di saluran pernapasannya pun seakan mengecil sehingga membuatnya menjadi kesulitan bernapas.

“Bangunlah, kau menyedihkan, “ Suzy menyuruh pria itu agar berdiri dari posisi berlututnya.

“Masih tidak bisa memaafkanku? Ani, kau masih tidak mau memafkanku?” ralat Myungsoo.

Ia menepis ucapan pria itu dengan meraup pundak yang merosot itu. Memaksanya untuk bangun.

“Kim Myungsoo, kumohon, pergilah dari kamarku sekarang.”

Ia pun mendahului Myungsoo yang masih bertransformasi menjadi patung. Kepala pria itu menunduk lemas. Usahanya, semua usahanya akan selalu berakhir di jalan buntu. Tiada maaf bagiku.

“Aku lelah. Jadi, tolong biarkan aku beristirahat, Myungsoo k- “

Suara gadis itu lenyap tatkala ia merasakan sepasang lengan kokoh yang melingkar di tubuhnya. Tubuhnya pun menegang, terlebih mengetahui milik siapa lengan yang mengurungnya ini. Myungsoo mendekap gadis itu dari belakang.

Jemari gadis itu pun terangkat untuk melepaskan kungkungan itu namun dengan cepat Myungsoo menahannya. Dan membiarkan ia membawa gadis itu ke dalam rengkuhannya sekali ini saja.

Myungsoo lantas berbisik dengan pelan. Suzy tentu saja dapat mendengarnya. Lututnya pun seketika dibuat lemas.  Waktu, kumohon tetaplah berjalan. Jangan biarkan momen ini bertahan, tolong.

***

Hari kedua di Dubai, Pantai Jumeirah.

Agenda pemotretan hari kedua sekaligus terakhir ini akan dilakukan mulai pada pukul 17:00 waktu setempat. Maka dari itu agenda pada hari ini tidak terlalu padat seperti kemarin. Namun, Myungsoo dan Tariq beserta staff tetap sibuk mempersiapkan segala keperluan lainnya.

Mengingat kali ini mereka akan mengggunakan latar matahari terbenam dengan Burj Al-Arab sebagai landmarknya mereka pun memilih Pantai Jumeirah sebagai lokasi. Burj Al-Arab sendiri merupakan hotel yang bisa disebut sebagai hotel termewah di dunia. Bangunan dengan tinggi 321 meter itu pun juga didaulat sebagai bangunan tertinggi yang seluruh gedungnya dijadikan hotel.  Bisa kau bayangkan ada berapa ribu kamar di dalam sana. Seperti telor semut! Banyak!

Arloji di pergelangan kirinya menujukan pukul 16:40. Suzy sedang bersantai di bawah pohon kelapa yang telah di sulap menjadi sebuah tenda mini lengkap denngan peralatan make-up dan wardrobe. Ia pun tersenyum manis kala Minah kembali dengan membawa dua butir kelapa muda.

“Terima kasih.”

“Yap, sama-sama.”

Minah pun menyedot air kelapa muda melalui sedotan berwarna putih itu cepat dan diakhiri dengan lenguhan nikmat yang keluar dari mulut mungilnya. Begitu juga dengan Suzy.

See? Sudah kubilang kan pemandangan di sini indah.” Minah menunjuk dengan memajukan kepalanya.

Gadis di sebelahnya menoleh tak acuh lalu kembali memfokuskan netranya pada lautan lepas di depannya.

Lautan lepas yang ditempa sinar matahari sore. Dahan-dahan pohon kelapa yang tertiup angin laut. Nyanyian burung camar. Cahaya kuning keemasan di lautan yang dihasilkan dari proses pembiasan cahaya itu seakan mengejek Suzy yang tengah menbung. Benang kusut yang ada di hatinya pun semakin tak terurai.

“Lebih bagus Haeundae ah menurutku.” Suzy membuang pandangannya pada kelapa muda yang tinggal airnya saja.

Yaa, kau ini bisa tidak meninggalkan nasionalisme itu barang sedetik saja? Aiguu.” cibir Minah. Ia pun membiarkan Suzy menyemburkan tawa.

“Suzy-a?”

Suzy menggumam. Minah pun merapihkan tataanan poninya dengan canggung. Ia harap, kali ini ia akan berhasil. Ya, dia memang menjilat ludahnya sendiri. Dia pernah bilang tidak akan ikut campur urusan orang lain. Tapi kenyataannya, ia sedang melancarkan konspirasi bersama Myungsoo dan Minho. Untuk kembali mendekatkan sepasang sahabat yang terpisah itu.


“Demi Tuhan!! KAU BODOH TUAN KIM!!!”

“Minah, tahan emosimu! Dia itu bos kita tahu! Eishh, “ Minho memeluk bahu mungil gadis itu untuk menenangkan.

Myungsoo pun hanya bisa tersenyum kecut. Bahkan semua orang setuju aku ini orang yang bodoh.

“Aishhh. Mau bagaimana lagi? Kau harus minta maaf padanya! Tidak peduli kau dimaafkan atau tidak, setidaknya kau harus mencoba kan? Aiguuu, “ Minah mengelus dadanya mencoba meredakan emosi yang berkecamuk dalam dadanya. “dengar, aku tahu ini sangat tidak sopan. Tetapi, kami akan membuatmu berbaikan padanya. Harus!” lanjut Minah.

Minho mengotakkan matanya yang terkenal belo itu. Tidak masuk akal. Sebelumnya dia mengancamku untuk tidak mencampuri urusan orang lain, tapi sekarang?

“Tidak usah. Kalian terlalu berlebihan. Lagipula ini hanya masalah yang kecil.” Myungsoo berujar sembari bangkit dari kursi restaurant di hotel saat makan malam tengah berlangsung.

“Justru itu kesalahanmu, Kim Myungsoo. Kau menyepelekan hal kecil. Bukannya langsung meniup percikan api kecil justru kau lebih memilih menunggunya menjadi kobaran api yang besar baru kau padamkan.”


Eung, anu, bolehkah aku bertanya sesuatu dan meminta saran darimu?”

“Tentu.” Suzy mengangguk.

Minah mengolesi saliva pada kedua lapisan bibirnya. Awal yang ragu untuk menjalankan misi penyelamatan ini. Namun, ia tidak boleh menyerah. Bukankah sudah sepantasnya sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan untuk saling membantu?

“Jadi, begini, a-aku sedang ada masalah dengan sahahatku. Kami berteman dekat sejak SMA. Ini semua karena salahku. Aku menyadarinya dan langsung meminta maaf darinya. Akan tetapi, sahabatku itu tidak mau memaafkanku. Jadi, menurutmu aku harus melakukan apalagi supaya dia mau memaafkanku?”

Suzy tercekat. Aku juga sedang mengalaminya, Minah. Bagaimana bisa aku memcahkan masalah tersebut di saat aku sendiri tidak bisa mengurusi  masalahku sendiri. Sungguh hal yang sangat  konyol bukan.

Gadis bersurai cokelat yang sudah mulai pudar warnanya itu tersenyum tipis. Arti dari senyuman itu tentu saja untuk mengejek kebdohannya sendiri.

“Cobalah kau ingatkan dia akan kenangan kalian berdua. Baik suka maupun duka, “ lantas, ia pun menoleh ke samping kanannya. “karena setahuku, orang-orang itu tidak bisa melupakan kenangan.”

Minah menganggukan kepalanya kaku.

“Apakah itu akan berhasil?”

“Tentu saja, “

“Kau yakin, Suzy-a?”

“Hm!” jawab Suzy dengan gumaman.

Yokshi! Terima kasih!” Minah memeluk Suzy erat dan langsung dibalasnya tak kalah erat.

Suzy tersenyum pahit. Aku aktris yang handal bukan? Aku sukses bersandiwara di panggung kehidupanku sendiri.

Minah yang masih berada di pelukan gadis itu mengernyit heran. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa hangat. Dan itu berasal dari tubuh Suzy. Yeah, pelukan itu memang terasa hangat Bang Minah!

Bukan itu maksudnya. Gadis berkacamata itu pun segera melonggarkan pelukannya. Telapak tangannya tahu-tahu sudah bertengger di dahi kepunyaan Suzy. Minah mentranformasikan bibirnya menjadi bentuk lingkaran. Si empunya dahi pun menyipitkan matanya.

“Astaga! Suhu tubuhmu tinggi sekali! ah, pantas saja kau terlihat pucat, “ simpul gaids itu. “aduh, apa kau sakit? Sudah minum obat belum? sudah berapa lama kau merasa tidak enak badan, hah? Aduh aduh, kau bawa ginseng merah tidak?” cerocos Minah.

Suzy terkekeh menanggapi aksi kelewat hiperbolis Minah. Namun perasaan hangat menjalar di sekitar gadis itu. Ternyata, masih ada yang pedulu padaku.

“Aku baik-baik saja. Paling hanya mau flu saja. Aku sudah minum obat kok. Tenang saja. Tidak usah khawatir, oke?”

“Ta-tapi, “

“Minah-a, “

“Aku harus memberitahu Myungsoo!”

“Tidak usah!”

“Lho, kok begitu sih? Lagipula, dia kan, “

“Bang Minah! Kubilang tidak usah ya tidak usah!” tanpa sadar gadis itu membentak Minah. Ia pun mengerut di tempat duduknya.

“Ma-maksudku, yah kita harus memberitahu Myungsoo karena dia kan leader romobongan ini? yah hanya untuk memastikan keadaanmu saja. Kalau tidak perlu tidak apa kok. Maaf aku juga tidak bermaksud untuk, “

Mianhae, maaf karena telah membentakmu. Aku hanya, hanya, “ Suzy sibuk memikirkan alasan lain. tidak mungkin kan ia bilang ‘Aku hanya muak melihat tampangnya yang menyedihkan itu. yang ada sakitku nanti malah tambah parah!’. Tidak mungkin. “Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain.” bohong Suzy.

Eyy kau tidak merepotkan kami sama sekali, “

Suzy pun meresponnya dengan mengangguk simpul.

Memori di zona konvergensi kepunyaan Suzy tengah memutar kejadian semalam di depan pintu kamar hotelnya. Perlahan, jemarinya terangkat kemudian mengusap pangkal lengan atasnya. Kehangatan itu masih terasa. Ya, masih. Rasa hangat yang menjalar itu seakan tidak mau lepas dari sel-sel epidermis di kulitnya. Juga, seseorang yang sedari dulu mendiami singgasana istana imajinya. Masih terasa ada.

Suara gadis itu lenyap tatkala ia merasakan sepasang lengan kokoh yang melingkar di tubuhnya. Tubuhnya pun menegang, terlebih mengetahui milik siapa lengan yang mengurungnya ini. Myungsoo mendekap gadis itu dari belakang.

Jemari gadis itu pun terangkat untuk melepaskan kungkungan itu namun dengan cepat Myungsoo menahannya. Dan membiarkan ia membawa gadis itu ke dalam rengkuhannya sekali ini saja.

Gadis yang dipeluk dari belakang itu pun berusaha melepaskan kurungan Myungsoo. Siapa sih yang menciptakan kodrat wanita itu lemah dan pria itu kuat? Tenaga gadis itu jadi tak mampu melawan kokohnya lengan yang merengkuhnya itu tahu.

Aneh. Kenapa lengan yang melingkar itu terasa pas di tubuhnya? Suzy pun menghembuskan gas karbondioksida dengan kesal.

“Myungsoo lepaskan, “

Tidak ada gertakan, tidak ada bentakan yang kasar, tidak ada caci dan maki juga serapah yang meluncur dari labium milik gadis itu. Semua itu disubstitusikan oleh sebuah permintaan meloloskan diri bernada memelas.

Pria itu mengabaikannya. Dan lebih memilih mengeratkan dekapannya seraya memajukan kepalanya shingga berpangku pada bahu mungil gadis itu. Dari situ, ia dapat menghirup harum shampoo wewangian bunga krisan dan madu yang melekat pada rambut gadis itu. Indera penciumannya pun juga menangkap cologne bayi yang menempel di permukaan kulit leher gadis itu. Seleranya benar-benar tidak berubah.

Kalau menangis berarti aku kalah! Okay, kau harus mampu bertahan Bae!

Dengan posisi kepala pria itu yang berada di bahu gadis itu, bilamana Suzy menelengkan kepalanya ia dapat memangkas habis jarak di antara mereka. Hembusan napas pemuda itu yang bersarang di sekitaran telinga dan rambutnya seperti hantu baginya.

Waktu. Yap, ia tidak boleh membiarkan Sang Waktu mengambil peran di sini. Ia tidak ingin waktu terhenti. Ia menepis semua moment yang bersiap diri untuk bertahan. Ia tidak ingin waktu yang menyembuhkan luka di dalam hatinya. Tidak untuk sekarang.

“Biarkan seperti ini kumohon, “ bisik Myungsoo tepat di daun telinga gadis itu. ia pun memejamkan kedua matanya dan mengikuti ke mana intuisinya berlayar.

“Aku tidak berharap kau ikut merasakan  kehampaan yang kurasa tanpa adanya seorang sahabat. Seseorang yang tidak pernah melepas genggaman eratnya. Tanpa seorang sahabat yang selalu siap menghapus jejak air mata di pipi. Tanpa seseorang sahabat yang mampu mengisi kekosongan di setiap sudut terkecil hatiku. Seseorang yang tidak pernah mengenal kata duka dan suka karena selalu berada di sampingku. Tanpa dirimu. Aku tidak berharap kau merasakan itu.” 

Gadis itu merasa seperti berada di dalam kolam pasir penghisap. Ia seperti tersedot ke dalamnya. Lututnya melemas mendengar kata-kata yang meluncur begitu derasnya dari seorang yang menebar benih penderitaan kepadanya.

“Bae Suzy, kumohon kembalilah menjadi sahabatku yang dulu,” pinta Myungsoo.

***

It’s a wrap! Terima kasih atas kerja sama kalian selama ini! terima kasih banyak! Mari dapatkan akhir yang bahagia!” seru Myungsoo. Ia pun segera membungkukkan badannya kepada seluruh staff yang telah membantu melangsungkan kegiatan prewedd di sini.

Tariq pun terlihat seperti mengucap syukur dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh pria itu namun ia mengetahuinya. Tak lupa ia pun juga menghamburkan pelukan terima kasih kepada teman satu kelasnya itu – Tariq, di Boston University saat mengambil jurusan Manajemen sewaktu ia kuliah di Amerika.

Semua ini tidak akan berjalan lancar tanpa bantuanmu, Kawan! Terima kasih!

Tidak usah sungkan begitulah Kim. Terima kasih juga telah memercayakan akomodasi milik ayahku sebagai partner bisnismu di sini.” sahut Tariq sambil tersenyum hangat.

Pemotretan berlatar sunset dan bangunan hotel Burj Al – Arab telah selesai dilaksanakan. Agenda mereka selama di Dubai pun selesai tepat pada waktunya.

Yunho dan BoA tidak bosan meloloskan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu prosesi pre-wedding mereka ini. Tidak ketinggalan Duo Min yang kini tengah sibuk ber-selca ria dengan latar Burj Al – Arab di belakangnya.

Begitu juga dengan gadis yang mengenakan  kaos berwarna abu-abu dengan kemeja hijau tua yang disampirkan pada pinggangnya. Suzy membungkukkan badannya sopan tak lupa dengan frasa terima kasih yang disetel otomatis untuk keluar dari pita suaranya.

“Terima kasih semuanya! Kalian semua jjangiya!

Myungsoo menyadarinya. Gadis itu semakin menghindarinya. Setelah pembicaraan sepihak dan insiden pelukan semalam gadis itu makin terasa jauh darinya. Sungguh, ia sendiri tak habis pikir. Akalnya sudah kehabisan cara agar gadis itu mau memaafkannya. Apakah ia harus mengemis kepada Jiyeon? Ah tidak-tidak! Mau digadaikan ke mana harga dirinya sebagai seorang pria?

Lekat ia amati sosok yang tengah memindahkan koper berisi alat riasnya itu dengan hati-hati. Tidak, ia sudah kapok membawakan koper gadis itu.

Pucat. Wajah gadis itu terlihat pucat. Ketika mereka bersobok pandang baik keduanya langsung membuang pandangan yang berlawanan dengan canggung. Dan saat itu pun Myungsoo benar-benar yakin bahwa rona merah muda yang biasa menghiasi pipi chubby itu menghilang.

Lama-kelamaan langkah gadis itu juga terlihat semakin melambat. Jelas sekali kalau ia menahan kesakitan. Walaupun ia hanya dapat melihat punggungnya, Myungsoo yakin gadis itu pasti tengah meringis kesakitan. Tuhan, apa yang terjadi padanya?

Tepat pada saat itu, salah seorang staff pria sedang sibuk melilit kabel dari lighting set yang dipakai Minho sebelumnya. Kedua lubang telinganya disumpal dengan sepasang earset. Posisinya pun membelakangi Suzy yang bersiap-siap akan berjalan melewatinya.

Staff bawahan Tariq tersebut tidak menyadari lingkungannya sehingga ia pun menarik gulungan kabel yang agak kusut itu dengan gerakan yang cepat dan agak kasar. Tanpa disengaja, gadis itu menginjak kabel yang tengah digulung tersebut. Ponsel di saku jeansnya bergetar. Ia pun berhenti di atas kabel yang tengah ditarik itu.

Staff pria di atas merasa heran. Kenapa kabelnya jadi berat ya? Ia tidak tahu kalau ada seorang gadis yang menahan kabel itu tanpa disadarinya. Si pria berkumis tipis itu hanya berdecak malas. Lantas ia pun meletakkan kabel yang diinjak Suzy barusan dan menggantinya dengan kabel penghubung standing giant lamp yang lain. Dengan kekuatan penuh dan satu tarikan napas ia pun menggelung kabel tersebut dengan satu hentakan yang keras.

‘Srett!’

Kabel tersebut berhasil tertarik – begitu juga dengan lampunya. Oh no! Si staff itu lupa mencabut kontak kabel dengan colokan di lampu tersebut sehingga lampu bekaki tiga itu ikut terbawa. Dan yang lebih parahnya, lampu itu tepat berada di belakang gadis itu.

“AWASSS!”

To Be Continued.

Epilogue:

Kembali ke masa di mana Suzy masih dirawat di rumah sakit di bagian syaraf ,

Ruangan dokter spesialis bagian syaraf yang terletak di lantai delapan dalam sebuah gedung rumah sakit diisi oleh presensi dua makhluk hidup yang berbeda.

Seorang wanita yang ditaksir usianya belum mencapai kepala tiga itu mengenakan setelan berjas putih lengkap dengan stetoskop yang menggantung di lehernya. Tersemat name tag yang di atasnya terukir nama sang dokter lengkap dengan gelarnya – Yoon Bora, Sp. S..

Sedangkan yang lain, seorang wanita paruh baya dengan wajah yang rupawan dan awet muda dengan setelan mantel berwarna gelap sederhana.

Sang dokter pun berbicara,

“Suzy mengalami Dissociative Amnesia di mana ia tidak mampu mengingat detail personal yang penting dan pengalaman yang sering kali berhubungan dengan kejadian traumatis atau sangat menekan. Orang-orang yang mengalami amnesia disosiatif biasanya memberikan gambaran sebuah rentang atau rangkaian dalam ingatan mereka mengenai kejadian bermasalah di masa lalu atau bagian-bagian kehidupan mereka.”

Nyonya Choi menyimaknya sambil  menautkan jemarinya erat. Ia sendiri sebenarnya tidak terlalu mengerti mengenai penjelasan dokter di hadapannya.

“Maksudnya? Amnesia? Apakah amnesia seperti yang ada di drama-drama itu?”

“Tidak seperti itu Nyonya.” Dokter Yoon tersenyum tipis.

“Apakah itu berbahaya bagi anak saya, Dok?”

“Begini Nyonya, biar saya jelaskan, pasien dengan gangguan ini mengalami satu atau lebih episode yang membuat mereka tidak dapat mengingat kembali informasi pribadi yang penting. Biasanya terjadi pada sebuah situasi lingkungan yang traumatis atau penuh tekanan. Secara umum hal ini nampak seperti lupa. Dalam kasus ini Suzy gagal mengingat kembali bebrapa hal tetapi tidak semua hal dan detail kejadian-kejadian yang terjadi selama periode waktu tersebut. Dari diagnosa yang saya dapatkan, anak ibu pernah mengalami situasi persis seperti itu. Setelah saya wawancara ia pun mengklaim bahwa dirinya merasa sangat tertekan saat mengetahui, “

“Saat ayahnya meninggal?” potong Nyonya Choi.

“Bukan itu Nyonya.” Dokter Yoon tersenyum memaklumi. “Bisakah saya lanjutkan kembali?”

“Ah iya maaf, silahkan Dok.”

“Baik terima kasih. Jadi, dalam wawancara tersebut ia memberitahu kepada saya kalau dia itu sangat sedih sekali karena seseorang yang bernama Kim Myungsoo.”

“Kim Myungsoo?” Nyonya Choi memastiakn gendang telinganya tidak bergeser. Ada apa dengan sahabat anak gadisku tersebut? Apa jangan-jangan ia telah membuat anakku,

“Nyonya Choi, ini bukan seperti yang anda pikirkan.”

“Lalu?”

“Ini hanya sebuah kesalahpahaman khas anak remaja.”

Nyonya Choi merasakan sesak di dadanya menipis. Lalu ia pun berjengit sambil memasang ekspresi harap-harap cemas. Dokter Yoon pun menceritakan apa yang ia dengar dari penuturan Suzy secara langsung kepada Nyonya Choi.

“Syukurlah. Eung, tetapi apakah anak saya bisa sembuh?”

“Tentu saja. Lagipula symptom ini tidak berbahaya sama sekali. Saya juga sudah meresepkan beberapa obat khusus di sini.”

Ne, kamsahamnida. “

“Nyonya Choi, “ Dokter Yoon menahan ucapannya.

Ne?

“Saya sarankan juga agar anda tidak menyinggung hal-hal traumatis penyebab keabnormalan puteri Anda di kemudian hari. Demi kenyamanan dan kemanan zona konvergensi anak Anda, biarkan ia mengingatnya dengan sendiri.” Lanjut Dokter Yoon yang diimbuhi dengan senyuman tipis menenangkan khas seorang dokter.

“Maksudnya? Saya harus menjauhkan dia dari, “ kata Ibu Suzy dengan nada yang terkesan sangat ragu.

Kim Myungsoo.

***

a/n

adakah yang menanti #duh ini berlebihan# or ingat dengan epep receh ini? Here is Wedding Chapter 4!!! #jangkrik mengeong# BLARRR!

oke, i did my best for this chapter#even spent my sleeping time*tertampar*#~ semoga chapter ke-4 ini bisa ‘sedikit’ memuaskan dahaga penasaran nan kebingungan kalian.lalu the next chapter will be posted agak lama, maaf T_T

last, terima kasih sekali buat semua pembaca yang sudah mengapresiasi Wedding Dress sampai2 ikut memberikan saran yang usefull sekalee sehingga membuatnya kip on going!🙂

so, see you in the next chapter!

your gengges notsarangseurowo amateurthor

xianara-sign

82 responses to “Wedding Dress [chapter 4]

  1. dug dag dug dag (?) lampu ohh lampu kenapa kamu nikin aku dag dug . keren banget thor simpenan cerocosan aku buat komen ilang gara2 baca ff ini . jjangg

  2. Duo Min lucu juga😀 bisa kali dibikin couple😀
    aku masih tidak percaya masalah sepele seperti itu bisa menyebabkan guncangan yang… err dahsyat?

  3. jangkrik mengeong kucing mengembik dan sapi menggonggong ahahaha..suzy jangan kecelakaan dong …knp myungsoo ga nyatain aja ya..slama 6 taun dia pernah berpaling ga sih??kalo suzy sih kayanya sibuk cari duit yah huehueh

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s