[Freelance] New Destiny Chapter 4

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

….

Joseon, 1365

Kediaman Putri Mahkota masih kosong melompong tanpa ada satu pun yang menempatinya. Hanya sesekali terlihat Howon dan para dayangnya tengah berada di kediaman Putri Mahkota. Selebihnya tak ada.

Hal inilah yang membuat Myungsoo yakin jika menghilangnya Putri Mahkota memang karena diculik. Ia masih ingat bagaimana Ia bertemu dengan salah satu dayang putri yang entah mengapa terlihat mencurigakan.

“Sial! Kalau saja aku tak kehilangan jejaknya saat itu, pasti Putri Mahkota sudah ketemu,” sungut Myungsoo.

“Apa kau sedang bermain drama?”

 “Kau berbicara dengan aksen yang aneh. Seperti di drama sageuk saja.”

Namun, serangkaian dialog aneh tiba-tiba menyerbu pikirannya, memaksanya untuk mengingat sesuatu. Myungsoo menggelengkan kepalanya saat tiba-tiba Ia teringat mimpi anehnya. “Lupakan mimpi itu, Kim Myungsoo! Sekarang kau harus fokus mencari Putri Mahkota!”

Tangannya kemudian kembali bergerak bersamaan dengan bola matanya yang meneliti setiap sudut kamar Putri Mahkota. Atas ijin Howon, Myungsoo diperbolehkan kembali menyelidiki kediaman Putri.

Keningnya mengernyit melihat ada sesuatu yang aneh pada alas tempat tidur Putri Mahkota. Bukankah pada saat itu alas tempat tidur Putri tidak tertata rapi? Kenapa sekarang tempat tidurnya jauh dari kata berantakan seolah tak pernah dipakai untuk tidur?

“Apa dayang itu yang merapikannya?”

Karena penasaran, Myungsoo pun mendekati tempat tidur Putri dan membukanya. Tak ada apa-apa.

“Kosong,” gumam Myungsoo pelan. Keningnya berkerut semakin dalam saat merasakan sesuatu yang ganjil. “Kenapa dayang itu harus merapikan tempat tidur Putri padahal tidak ada apapun di sini saat itu?”

Merasa tak ada hasil yang didapatkan, Myungsoo pun beranjak meninggalkan kediaman Putri Mahkota tanpa diketahui siapapun.

….

“Mohon pertimbangkan permintaan kami, Chonha.”

Seorang yang terlihat gagah dengan jubahnya yang berwarna merah dan gambar naga berwarna emas terjahit apik di pakaiannya tengah duduk di kursi singgasana dengan kepala yang terasa begitu berat. Di ruangan itu, lebih tepatnya di hadapannya, duduk beberapa orang berpakaian merah yang sering disebut sebagai para menteri.

Raja – seseorang dengan jubah merah – menatap menteri-menterinya dengan bingung.

Beberapa menit yang lalu, menterinya baru saja mengajukan petisi untuk melakukan penggantian Putri Mahkota dikarenakan menghilangnya Putri Mahkota yang sekarang. Entah darimana para menteri mengetahui berita tersebut tapi ini jelas merupakan hal buruk jika Ia langsung saja menuruti permintaan para menteri.

Chonha, Putra Mahkota sudah dewasa dan sudah seharusnya mempunyai istri yang baik dan patut dicontoh saat menjadi ratu kelak. Kita tidak bisa membiarkan kedudukan Putri Mahkota diisi oleh seseorang yang tidak patut menjadi teladan bagi rakyat seperti Putri Mahkota Jung yang menghilang tiba-tiba, Chonha.”

Raja menatap tajam seseorang yang baru saja berbicara. Menteri Park. Ia tahu Menteri Park adalah salah satu dari beberapa menterinya yang menentang pernikahan Putra Mahkota dengan putri keluarga Jung, Jung Soojung, Putri Mahkota yang sekarang tengah menghilang.

“Biarkan aku memikirkannya terlebih dahulu dan membicarakannya dengan Putra Mahkota,” kata Raja akhirnya angkat bicara.

“Mohon pertimbangkan permintaan kami, Chonha.”

….

Howon menatap tajam pria setengah baya di hadapannya. Tangannya mengepal erat karena menahan kesal.

Abamama, bagaimana Anda bisa menuruti permintaan para menteri dengan melakukan pemilihan ulang Putri Mahkota? Mereka jelas hanya ingin menyingkirkan Soojung-ku dan membuat seseorang dari klan mereka untuk menggantikannya.”

Raja menghela nafas mendengar kalimat protes yang diajukan putranya. Ia jelas tahu jika Howon tak akan menyetujui permintaan para menteri. Tetapi sebagai Raja negeri ini, Ia juga harus mempertimbangkan apa yang diutarakan para menteri-nya karena suara mereka adalah suara rakyat.

“Howon…”

Abamama, aku mencintai Soojung. Kumohon jangan kabulkan permintaan mereka.”

Lagi. Raja semakin bingung harus berbuat apa. Apakah Ia harus menyetujui permintaan menteri-menterinya? Atau mengabulkan keinginan putra sematawayangnya sekaligus penerus tahtanya?

Raja menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengeluarkan suaranya. “Dengar, Howon, sebagai salah satu penghuni Istana kau juga harus mematuhi aturan yang berlaku disini. Untuk sementara ini turutilah permintaan mereka. Selagi menunggu sampai hari pemilihan ulang itu tiba, aku akan mengerahkan para anak buahku untuk segera menemukan Putri Mahkota.”

Howon menatap ayahnya tak percaya. Antara sedih dan kecewa.

“Baiklah. Aku akan menuruti apa yang ayah mau, tapi aku tak akan tinggal diam jika sampai saatnya pemilihan sialan itu Soojung-ku tak kunjung kembali. Aku tak akan pernah mau menikah dengan wanita lain selain Soojung.”

Setelah mengatakan itu, Howon pun beranjak meninggalkan kediaman ayahnya.

Helaan nafas kembali lolos dari mulut Raja, “aku juga tak ingin terus menjadi boneka mereka, Howon-ah.”

….

Myungsoo membungkukkan tubuhnya di hadapan Putra Mahkota. Dilihatnya raut wajah Howon yang.. entahlah, sulit dijelaskan. Kesal? Sedih? Kecewa? Marah? Myungsoo tak tahu. Namun Ia penasaran. Apalagi saat tiba-tiba saja Putra Mahkota menyuruh Myungsoo menemuinya padahal Ia baru saja menginjakkan kakinya ke rumah.

Choha…”

“Myungsoo.”

“Ne?” sahut Myungsoo. Sekali lagi Ia kembali dibuat penasaran dengan raut Putra Mahkota.

Howon menatap Myungsoo. Manik matanya tepat terarah ke mata tajam itu.“Cari keberadaan Putri Mahkota sesegera mungkin dan bawa Ia kembali ke istana sebelum hari itu datang!” perintah Howon.

Myungsoo mengerutkan keningnya kebingungan. “Kalau boleh saya tahu, hari apa yang Anda maksud, Choha?”

Sejurus kemudian raut muka Howon berubah. Tatapannya tak setajam sebelumnya. Namun jelas sekali tersirat kesedihan di mata Howon. Pemuda itu berkali-kali mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas meja sambil menopang kepalanya.

Choha…”

“Para menteri sudah tahu mengenai hilangnya Putri Mahkota,” potong Howon membuat kedua bola mata Myungsoo melebar, “sesuai dugaanku sebelumnya pasti ada orang dibalik semua ini. Tak mungkin para menteri tahu dengan sendirinya mengenai berita itu. Dan lagi.. tsk.. terlihat sekali motif mereka.”

Myungsoo semakin bingung mendengar cerita Howon. “Jwesonghamnida, Choha. Tapi saya kurang mengerti maksud Anda.”

“Mereka akan mengadakan pemilihan Putri Mahkota kembali dan aku yakin seseorang dari klan mereka yang akan terpilih untuk menggantikan Soojung-ku.”

Tak tahu harus membalas apa, Myungsoo hanya terdiam.

Howon kembali menatap Myungsoo penuh harap. “Myungsoo, cepat temukan Putri Mahkota.”

Ne? Ne.. algeusseumnida.”

….

Langkah kaki Myungsoo menuntunnya keluar dari kediaman Putra Mahkota. Keningnya berkerut semakin dalam memikirkan perintah Putra Mahkota yang semakin berat. Ia terus berjalan tanpa menyadari sebuah rombongan berjalan ke arahnya.

“Pengawal Kim..”

Myungsoo mendongakkan kepalanya saat mendengar suara seseorang memanggilnya. Ia segera membungkukkan badannya saat menyadari seseorang itu merupakan Ibu Suri Park.

“Kau baru saja dari dalam? Apa Putra Mahkota ada di kediamannya?” tanya Ibu Suri Park.

Myungsoo menyunggingkan senyumnya sembari membalas pertanyaan Ibu Suri. “Ne… Putra Mahkota ada di kediamannya saat ini, Yang Mulia,” jawab Myungsoo.

Kedua matanya teralihkan pada seorang gadis cantik dengan hanbok merah muda tengah berdiri di samping Ibu Suri. Kedua alisnya bertaut bingung mendapati gadis itu terus saja menatapnya. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya pada Ibu Suri dan gadis di sampingnya sebelum meninggalkan mereka.

“Jiyeon-ah, ayo!”

Ne, Mama.”

….

Keesokan harinya.

Sohyun tengah menjemur pakaian saat dilihatnya kakaknya terus berjalan mondar-mandir di depan rumah dengan kening berkerut dalam. Dengan senyum jahil Sohyun menghampiri kakaknya.

ORABEONI!” seru Sohyun di hadapan Myungsoo tiba-tiba saat pemuda itu membalikkan tubuhnya. Sohyun tertawa geli melihat ekspresi terkejut kakaknya namun sejenak kemudian tawanya menghilang saat Myungsoo menatapnya dengan tajam.

Myungsoo mendesah pelan dan kembali melanjutkan kegiatannya mondar-mandir.

Orabeoni, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat bingung begitu?”

Langkah kaki Myungsoo terhenti. Ia kemudian menoleh pada adiknya yang kini tengah memandangnya penuh rasa ingin tahu.

“Sohyun-ah, apa terlihat sekali kebingungan Orabeoni?” tanya Myungsoo.

Sohyun menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menarik lengan kakaknya dan mengajaknya untuk duduk di atas lantai rumah di sampingnya. “Orabeoni, ceritakan padaku! Aku tahu Orabeoni sedang memiliki masalah.”

Myungsoo menghela nafas panjang. Ia kemudian menatap Sohyun.

“Sohyun-ah, misalkan aku sedang membantu mencari barang ahbeoji yang hilang di kamar ahbeoji, lalu tiba-tiba kau datang dan melihatku. Saat itu kau tidak tahu apa yang kulakukan. Lalu saat kutanya apa yang kau lakukan, kau menjawab kalau kau ingin mencari barangmu yang jatuh di kamar ahbeoji padahal sebelumnya aku tak melihat barangmu itu ada di sana. Aku pun menyuruhmu mencarinya dan aku menunggu di luar,”–Myungsoo berhenti sejenak sebelum melanjutkan–“saat kau keluar, kau bilang sudah menemukan barangmu. Saat aku masuk lagi, ada yang aneh. Alas tidur ahbeoji tiba-tiba saja sudah rapi. Menurutmu, apa kau yang merapikan tempat tidur ahbeoji?”

Dengan mulut sedikit menganga Sohyun menatap kakaknya. “Panjang sekali ceritanya. Aku tak mengerti maksud Orabeoni.”

“Eish…” desis Myungsoo.

“Baiklah, akan aku coba jawab,” kata Sohyun. “Menurutku mungkin saja memang aku yang merapikan tempat tidur ahbeoji setelah menemukan barang yang kucari.”

“Tidak, tidak. Sebenarnya kau tidak menemukan barang itu disana karena sebelumnya aku tak melihat barang itu ada di kamar ahbeoji tapi kau berbohong dan bilang sudah menemukannya.”

Sohyun mengerutkan keningnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil berpikir keras.

Orabeoni tahu darimana kalau aku saat itu bohong?”

“Apa?”

“Bisa saja kan aku memang menemukan barangku dan tidak berbohong. Mungkin Orabeoni  tidak teliti mencarinya makanya tak melihat barangku di kamar ahbeoji,” sahut Sohyun.

Terlihat sekali dari raut wajah Myungsoo yang semakin bingung. Kerutan-kerutan yang terbentuk di keningnya memperlihatkan betapa Ia begitu dalam berpikir. “Bagaimana kalau sebenarnya kau berbohong? Atau kaulah yang ternyata mencuri barang ahbeoji?”

Sohyun menatap kakaknya kesal. “Mwoya? Kenapa aku harus mencuri?”

“Itukan permisalan, Sohyun-ah.”

“Emm.. mungkin saja aku ingin mengembalikan barang ahbeoji. Tapi aku tak tahu kalau Orabeoni ada di sana. Karena tak mau ketahuan mencuri, aku akhirnya tak jadi mengembalikan barang ahbeoji dan berbohong pada Orabeoni kalau aku sedang mencari barangku yang jatuh. Tapi Orabeoni malah menyuruhku mencari barang itu. Aku yang bingung jadi gugup dan tak sengaja tersandung alas tidur ahbeoji. Aku pun merapikannya dan saat keluar aku bilang sudah menemukan barangku.”

Myungsoo terdiam mendengar penjelasan adiknya. Entah mengapa Ia merasa jawaban yang kedua lebih tepat dibanding yang pertama.

“Apa pemikiranku terlalu jauh?”

“Tidak. Terima kasih sudah mendengarkanku, Sohyun-ah. Aku akan memikirkannya lagi.”

Myungsoo pun beranjak meninggalkan Sohyun yang masih kebingungan dengan tingkah aneh kakaknya.

“Ada apa dengan Orabeoni sebenarnya? Aneh sekali.”

….

Seoul, 2015

Seorang gadis tengah asyik mengoleskan krim malam pada wajah cantiknya. Sesekali Ia tepuk-tepuk wajahnya sambil meratakan krimnya. Begitu dirasanya sudah merata, gadis itu pun beranjak dari duduknya dan menuju tempat tidur.

Ting tong!

Baru saja Ia akan memejamkan mata, tiba-tiba saja telinganya menangkap dentingan suara bel. Tak lama Ia kembali memejamkan matanya saat bel tersebut tak lagi berbunyi. Mungkin ayahnya sudah membukakan pintu untuk tamu yang tak tahu waktu itu.

“KRYSTAL-AH!”

Lagi. Baru beberapa detik matanya terpejam, telinganya kembali menangkap sebuah suara yang tak asing. Kedua matanya sontak terbuka begitu mengingat siapa si pemilik suara tak asing tersebut. Buru-buru Ia langkahkan kakinya keluar kamar.

Dan,

“Hai…”

Krystal menatap heran gadis di hadapannya. Dilihatnya penampilan gadis tersebut dari ujung kaki hingga pucuk kepala. “Suzy? Apa yang kau lakukan disini?”

Suzy – gadis itu sekaligus tamu yang tak tahu waktu – menyeringai, menampilkan sederet gigi putihnya. “Biarkan aku masuk dulu,” ucapnya seraya melangkahkan kakinya memasuki kamar Krystal, meninggalkan si pemilik kamar yang masih terpaku di ambang pintu.

“Tidak mau masuk?”

Tersadar dari keterkejutannya, Krystal pun segera memasuki kamarnya dan duduk di atas ranjang sambil mengamati Suzy yang tengah meletakkan tasnya. Ralat. Bukan sekedar tas tetapi tas besarnya.

“Kenapa tiba-tiba kemari?” tanya Krystal.

Suzy menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah sahabatnya, “wae? Andwaeyo?”

Aniya, geunyang… ini mendadak sekali. Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?”

Suzy menegakkan tubuhnya. Ia kemudian berjalan menghampiri Krystal dan duduk di sampingnya. “Aku sedang malas di rumah. Aku malas dengan harabeoji,” jelas Suzy.

Krystal mengernyitkan keningnya. Bukankah baru beberapa hari yang lalu Suzy bilang padanya mau menemui kakeknya dan membicarakan masalah perjodohan itu dengan baik-baik? Lalu sekarang kenapa lagi? Apa pembicaraannya tidak berjalan lancar?

“Sudah bilang pada kakekmu kalau kau tidak mau dijodohkan?” tanya Krystal.

Suzy menganggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Krystal. Gadis itu kemudian mengangkat kakinya hingga duduk bersila di atas kasur sembari kedua tangannya memeluk erat bantal tidur milik Krystal.

“Lalu?”

“Lalu apa? Ya begitu. Kakek tidak mau ada penolakan. Bukankah sudah kubilang sebelumnya kalau berbicara dengan kakek akan sulit,” sahut Suzy. Ia kemudian menghela nafas sebelum melanjutkan berkata, “bukannya dibatalkan, kakek malah cerita mengenai hutang budi. Kata kakek, perjodohan ini dilakukan karena perjanjian di masa lalu. Karena kakek masih merasa berhutang budi pada keluarga Choi, makanya Ia ingin perjodohan ini dilakukan,” jelas Suzy.

Krystal memiringkan kepalanya bingung. “Aku tak mengerti maksud ceritamu.”

Decakan pelan keluar dari bibir Suzy. “Intinya, aku dijodohkan untuk membalas budi keluarga Choi pada keluargaku. Dan yang lebih menyebalkan lagi, pembicaraan mengenai perjodohan akan dimulai setelah Joseon’s Festival.”

“Apa kakekmu tahu kau menginap disini?”

Suzy mengangguk. “Eoh. Aku bilang pada kakek kalau aku mau fokus latihan bersama guru disini sekaligus bersiap-siap untuk festival lusa,” jawab Suzy.

“Jangan bilang kau akan menginap sampai hari H tiba?”

“Memang itu tujuanku.”

“Dasar!”

….

Suzy menggerakkan jari-jarinya di atas senar gayageum dengan lincah. Petikan-petikannya menghasilkan alunan yang tidak akan merusak sistem pendengaran siapapun yang mendengarnya saking indahnya.

“Sudah kau siapkan semuanya untuk besok?” tanya Krystal yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Suzy.

Suzy menghentikan permainannya kemudian menoleh ke Krystal. “Sudah.”

“Hanbok untuk besok?”

“Sudah kusiapkan,” jawab Suzy, “kau sendiri besok berangkat bersamaku kan? Kau pakai hanbok apa?”

Kedua sudut bibir Krystal terangkat membentuk sebuah senyuman. “Aku akan memakai hanbok peninggalan ibuku yang sangat cantik itu. Aigoo.. aku tidak sabar untuk mengenakannya di tubuhku. Sudah lama aku ingin memakainya.”

Suzy mengangguk. Ia pun kembali menarikan jemarinya di atas senar-senar gayageum.

“Ah, matta! Apa kakekmu akan datang besok?”

Pertanyaan yang dilontarkan Krystal praktis menghentikan gerakan tangan Suzy. Ia berfikir sebentar. Apakah kakeknya akan datang? Apa kakeknya akan datang bersama keluarga Choi? Hmm.. memikirkannya saja membuat Suzy malas.

“Aku tidak tahu. Lihat saja besok.”

Krystal mendesis mendengar jawaban Suzy. “Ya sudah. Cepat tidur supaya besok tidak kesiangan,” pesan Krystal sebelum beranjak berdiri kemudian langsung berjalan menuju kamarnya.

….

Suzy menatap cermin di hadapannya, terpantul seluruh tubuhnya yang kini telah menggunakan hanbok berwarna biru muda sedangkan roknya berwarna biru tua. Wajahnya yang masih polos tanpa make up terlihat cantik.

“Suzy, giliranmu!”

Suzy menoleh pada penata rias yang bertugas merias seluruh pemain musik yang akan tampil nanti. Ya. Hari ini adalah hari  H dimana Joseon’s Festival diadakan. Karena gugup, jemari tangan Suzy menjadi basah oleh keringat. Tiba-tiba saja keningnya berkerut.

Eonnie…” panggil Suzy pada si penata rias.

Wae?”

“Eung.. geuge.. bolehkah aku ke toilet sebentar? Tiba-tiba aku kebelet,” kata Suzy.

Terlihat si penata rias terdiam sejenak sambil berpikir sebelum akhirnya mengangguk. “Eoh. Lebih baik kau kebelet sekarang daripada nanti. Jangan lama-lama ya! Kau belum dirias,” kata si penata rias sambil menyunggingkan senyumnya.

NE!!” teriak Suzy seraya bergegas keluar dari ruang ganti.

Dengan langkah tergopoh-gopoh karena harus memakai hanbok, Suzy berlari mencari toilet. Dan yang lebih parah lagi adalah Ia harus lewat jalan memutar agar dapat sampai ke toilet karena jalan yang biasa ditutup untuk keperluan festival.

“Suzy!”

Langkah kaki Suzy sontak terhenti saat telinganya menangkap sebuah suara yang meneriakkan namanya. Ia pun menolehkan kepalanya mencari sumber suara. Salah satu alisnya terangkat melihat Krystal berlari-lari ke arahnya.

Waeyo?” tanya Suzy.

Krystal menghentikan langkahnya. “Kau mau kemana?”

Hwajangsil.”

Kedua sudut bibir Krystal terangkat membentuk sebuah senyuman yang sangat lebar. “Wahh.. kebetulan sekali. Aku juga mau ke toilet. Kalau begitu kita ke sana bersama. Kajja!” ajak Krystal.

Mereka berdua pun segera melanjutkan langkah kaki mereka menuju toilet yang masih jauh dari pandangan.

….

“Heish.. kenapa ke toilet saja harus jalan memutar sih? Huh!”

Suzy menolehkan kepalanya mendengar gerutuan kesal yang keluar dari bibir Krystal. “Sudah selesai kan? Ayo!” ajak Suzy. Ia pun mulai melangkahkan kakinya setelah menunggu temannya itu keluar dari toilet.

“Tadi aku bertemu kakekmu di depan. Dia bersama beberapa orang. Ada seorang pemuda juga. Kurasa pemuda itu yang dijodohkan denganmu,” kata Krystal tiba-tiba.

Suzy menghela nafas panjang. “Biarkan saja.”

“Kau tampil kapan?” tanya Krystal.

Suzy menghentikan langkahnya lalu mengecek jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya. “Sekitar satu jam lagi,” jawab Suzy. Ia kemudian melanjutkan langkahnya lagi sedangkan matanya menatap sekelilingnya yang terasa tak asing.

Eoh?”

Lagi-lagi Suzy menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Ia mendengar suara Krystal. “Ada apa?” tanyanya.

“Bukankah ini kediaman Raja Howon saat masih menjadi Putra Mahkota? Lihatlah!”

Suzy pun mengedarkan pandangannya dan menatap sekelilingnya. Tiba-tiba kedua matanya melebar saat Ia mengingat sesuatu. Tanpa sadar langkah kakinya membawanya untuk mendekati bangunan tersebut.

Ya! Suzy, kau mau kemana?” seru Krystal.

Suzy menolehkan kepalanya ke arah Krystal. “Apa?”

“Kenapa kau malah berjalan ke arah bangunan istana?” tanya Krystal seraya menghampiri Suzy. Ditatapnya gadis itu yang sekarang justru berdiri mematung sambil menatap bangunan yang ada di hadapan mereka.

Kedua pupil Suzy kembali melebar saat mengingat pertemuannya dengan pemuda aneh di bangunan itu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Apa?”

“Kau, apa yang kau lakukan? Beraninya kau menyentuhku!”

“Krystal-ah..” panggil Suzy.

Kening Krystal berkerut melihat tingkah Suzy yang tiba-tiba aneh. Ia kemudian mengikuti arah pandang Suzy yang sedari tadi masih saja menatap lurus bangunan yang merupakan kediaman Putra Mahkota tersebut.

“Apa menurutmu sedang ada syuting drama disini?” tanya Suzy.

Kerutan di kening Krystal semakin dalam mendengar pertanyaan aneh yang lolos dari bibir sahabatnya itu. “Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang kau bicarakan?”

Suzy mengalihkan pandangannya lalu menatap Krystal. “Beberapa hari yang lalu saat kau mengajakku ke sini. Aku tak sengaja bertemu seorang laki-laki yang memakai hanbok seperti di dalam drama-drama. Dan yang lebih aneh, dia bertingkah seolah-olah berada di dinasti Joseon. Saat aku keluar untuk mencari minum, dia masih ada disana. Tapi begitu aku kembali dia sudah menghilang,” cerita Suzy.

Ya! Jangan menakutiku begitu! Kau bercerita seolah-olah habis melihat hantu.”

“Eish.. bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa aneh.”

Krystal terdiam sejenak untuk berpikir. Ia kemudian kembali memusatkan pandangannya pada bangunan di depannya. “Apa mungkin memang ada syuting?” gumamnya.

Tiba-tiba Krystal menolehkan kepalanya ke arah Suzy membuat gadis itu tersentak karena terkejut. Masih dengan sisa kekagetannya, Suzy menatap Krystal sembari menunggu gadis itu bersuara.

“Suzy, aku jadi penasaran. Bagaimana kalau kita lihat?”

“Apa? Jangan! Aku takut..”

“Eish.. ayolah… hanya melihat sebentar.”

Akhirnya kedua gadis itu pun melangkahkan kakinya mendekati bangunan tersebut. Dengan sedikit ragu, Krystal mengulurkan tangannya untuk meraih gagang pintu. Perlahan dibukanya pintu bangunan tersebut.

Satu detik.

Dua detik.

.

.

Hingga beberapa detik berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Ruangan yang ada di bangunan tersebut juga kosong melompong. Hanya ada perabotan-perabotan khas kerajaan pada masa Dinasti Joseon.

Eoh, tidak ada apa-apa,” gumam Krystal. Ia pun menutup kembali pintu bangunan itu.

Suzy menatap sekelilingnya takut-takut. Entah mengapa seketika firasatnya menjadi tidak enak. “Krystal-ah, sebaiknya kita kembali,” kata Suzy.

“Kau benar. Kita harus kembali sebelum-”

BUM! Wushhh….

“-kapjagi!” teriak Krystal saat tiba-tiba Ia mendengar suara dentuman yang keras bersamaan dengan kulitnya yang merasakan hembusan angin yang cukup kencang. Ia kemudian menoleh ke Suzy yang mematung, “Suzy-ah!” panggilnya.

Tersadar dari keterdiamannya, Suzy pun menoleh menatap Krystal. “Krystal-ah, aku rasa aku pernah mendengar suara itu sebelumnya. Dan juga angin itu… seperti entahlah, pokoknya aku pernah merasakan sesuatu yang seperti ini,” kata Suzy.

Krystal mengernyitkan keningnya bingung.

Tiba-tiba kedua mata Suzy membulat. “Krystal-ah! Aku mendengar suara itu sebelumnya! Bahkan angin itu juga berhembus, tepat sebelum aku bertemu dengan pemuda aneh itu disini. Ya, benar.”

Tanpa sadar, Suzy pun mengggerakkan kedua tangannya ke arah pintu dan membukanya.

OMO! Suzy! Gempa!” teriak Krystal saat merasakan tanah di sekitarnya mulai bergetar bersamaan dengan bangunan di hadapannya yang ikut bergoyang.

Suzy yang juga merasakan gempa pun terkejut, matanya memandangan ruangan yang terbuka di hadapannya. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada barang-barang yang kini bergoyang-goyang dan mulai berjatuhan.

“Suzy, kita harus pergi dari sini!”

Mereka berdua pun segera menjauhi bangunan tersebut. Namun tiba-tiba sebongkah kayu jatuh di hadapan mereka.

Kapjagi! Omo! Ottokhae?” teriak Suzy.

Krystal yang juga panik tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba muncul sinar putih yang sangat menyilaukan di hadapan mereka. Mata kedua gadis itu menyipit karena tak tahan oleh silau sinar tersebut.

Omo!”

Mwoya ige?”

“Krystal-ah!”

“Suzy-ah!”

BLAM!

Semuanya menjadi gelap.

….

TBC

….

Hai.. aku balik lagi bawain chapter 4 nih. Ada yang nungguin nggak? Sebenernya ujianku belum selesai, baru mulai malah… tapi aku pengen ngirim sekarang soalnya takut pada bosen nanti kalo kelamaan nunggu *semoga ada yg nunggu* dan lagi ternyata chapter 3 di pos lebih awal dr perkiraanku.

Buat yang udh komen di chapter sebelumnya makasih bgt yaa.. maaf aku ga bisa balesin komen kalian satu persatu. Maaf juga kalo pd bingung sm jalan ceritanya. Mungkin chapter ini juga bakal membingungkan tp aku usahain chapter berikutnya ga bingung lagi deh.

Pokoknya makasih buat reader yg udh setia nungguin. Jangan lupa RCL yaa…

65 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 4

  1. Ommooo makin kesini makin seru ceritanya, aahh penasaran, penuh mistery jdinya sulit untuk nebak”😀. Lanjut baca ya thor🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s