The Fog [Chapter 12] END/FINAL

Untuk yang terakhir; terimakasih cloverqua dari Art Fantasy untuk covernya yang indah🙂

Title: The Fog

Author: Little Thief

Main cast: Suzy, Myungsoo, Mark

Genre: romance, angst, fantasy

Length: chaptered

Rating: PG-13

Tangannya bergetar meraih gagang telepon, jarinya tak tentu arah menekan tombol di situ, walaupun begitu apa yang dia tuju adalah benar. Sementara hubungan sedang disambung, Mark terduduk di lantai dan merasa bahunya lemas.

Sesaat kemudian, suara isakan Suzy muncul di teleponnya.

“Hai,” sapa Mark serak, dia tak perlu bertanya apapun tentang hal ini. Dia ingin terisak seperti itu kalau bisa.
“Jangan bicara padaku, kita selesaikan ini besok.” Kata Suzy tersendat, tidak berusaha menutupi tangisannya dari telepon.

“Asal kau tahu, Myungsoo masih ada di sekitar sini. Tapi aku tak tahu perginya. Aku yakin, ia ingin bertemu denganmu kali ini.”

Suzy semakin terguncang, terdengar dari isakannya yang mendadak mengeras. “Mark, jangan ajak aku bicara. Jangan. Aku hanya bisa bicarakan ini besok.”

“Benarkah?” tanya Mark lunglai. “Oke, kau harus janji. Bertemu denganku besok.”

“Ya Tuhan, Mark. Ya Tuhan,” bisik gadis itu lirih, “Aku benar-benar minta maaf.”

Suzy datang ke Mushten dan menganggap ini adalah terakhir kalinya dia menjajaki gedung sekolah yang gagah. Jalannya begitu lambat. Wajahnya seperti orang terkena sakit flu. Rambutnya acak-acakan, dia tidak berminat merapikannya pagi ini.

Pikirannya kacau. Dorongan kenapa ia datang adalah mengucapkan perpisahan, dan mengakui semuanya. Ia akan kembali esok ke Korea, menghadiri sidang sang Ayah. Suzy sangat marah kepadanya, tapi dia tak tahu harus berbuat apa. Memarahinya tak akan mengembalikan Myungsoo.

Padahal tiga hari lalu dia masih merayakan Natal bersama. Bahagia. Suzy bahkan mulai berharap pembunuh itu tak akan ditemukan. Tapi kenyataan pahitnya, itu adalah Ayahnya sendiri.

Mark tampaknya membolos entah untuk ke berapa kalinya. Dia menemui Suzy yang berjalan patah-patah. Wajahnya merah karena menangis dan tampak lesu. Langkahnya tidak segagah dan selincah ketika pertama kali mereka bertemu. Hal pertama yang dilakukan Mark ketika melihatnya adalah memeluknya.

“Dimana Myungsoo?” bisik Suzy di telinganya.

“Entah, aku tak tahu. Tapi yang jelas, dia belum menghilang. Kurang ajar kalau sampai dia menghilang dariku. Tanpa pamit.”

Suzy tertawa lesu, dan kemudian mereka duduk di barisan kursi di lobi. Gadis itu bisa melihat sekolah ini begitu gempar dengan berita terbaru Myungsoo. Berita pembunuh Myungsoo ditemukan tersebar di berbagai sisi dinding lobi. Membuat Suzy merasa sangat malu dan marah. Ia ingin pergi dari tempat ini secepatnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Mark.

Suzy terdiam sejenak, menatap Mark sejenak. Kemudian, bahunya mulai bergetar. “Ya Tuhan. Ya Tuhan. Aku minta maaf. Aku minta maaf sekali.”

“Ada apa?”

Suzy tersenyum pahit, “Kau ingat, ketika pertama kali aku memperkenalkan diri ke depan aula?”

Mark menatapnya ragu, tapi kemudian mengangguk.

“Apa kau ingat, atau paling tidak mendengar, aku berkata bahwa kedua orangtuaku sudah bercerai? Aku hanya tinggal bersama Ibuku karena perceraian mereka?”

Mark mengangguk, dan mulai dapat menyimpulkan sesuatu.

Seumur hidup setelah Ibu membawaku ke sini, aku tak pernah tahu dan tak pernah peduli tentang kabar Ayahku. Tapi, Mark. Dia yang membunuh Myungsoo. BWH. Bae Woo Hyuk. Dia Ayahku. Kurasa itulah kenapa aku bisa melihat Myungsoo sementara yang lain tidak. Kami berkaitan.”

Mark tercengang, dan matanya mulai berkaca-kaca. Dia kelihatan sangat terpukul, terlihat dari bahunya yang mulai melemas.

“Dan esok pagi, aku sudah akan kembali ke Korea. Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan. Kau yakin akan baik-baik saja?”

“Kembali ke Korea?” tanya Mark, kali ini lebih terkejut, “Esok pagi? Itu mendadak sekali.”

“Ayahku sidang besok. Kalau bukan karena ini tentang kasus Myungsoo, aku tak akan peduli. Tapi aku harus menanggungnya. Jaga diri baik-baik, Mark?”

“Aku tidak yakin apakah bisa hidup tanpamu dan Myungsoo. Aku tak punya teman lagi. Tapi, mungkin kita bisa bertemu kali nanti.” Mark tersenyum, dibalas anggukan Suzy dengan berkaca-kaca.

Suzy merentangkan tangan dan memeluknya erat, “Terimakasih, setidaknya, di sekolah ini aku tak akan benar-benar kesepian. Aku punya sahabat sepertimu. Jaga diri baik-baik.”

“Ya, setidaknya, kau membuatku tidak merasa kesepian, dan mempertemukanku dengan gadis sesempurna Azura,” Mark terkekeh, masih memeluknya erat. Tenggorokannya serak dan ia hampir menangis.

Mereka berpelukan lama sekali. Mark merasa kesedihannya melebur, seolah mereka berbagi. Mark akhirnya tahu ia membutuhkan Suzy sebagai sahabatnya, bukan lebih. Mark teringat sesuatu, lantas kemudian berbisik.

“Tapi, sebelum perpisahan, aku ingin kau melakukan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Temui Myungsoo. Agar kau lebih merelakan.”

—-

Suzy berjalan-jalan ke bukit pertama kali ia bertemu Myungsoo. Ia sudah hafal jalannya sekarang. Mark sedang masuk kelas musik kali ini, membiarkannya berbicara empat mata dengan Myungsoo. Menapaki padang rumput membuatnya sedih ketika harus menghadapi kalau besok dia meninggalkan lingkungan ini. Rasanya ia sudah jadi bagian dari sekolah ini.

Benar saja, Myungsoo sedang duduk menghadap hamparan ilalang. Punggungnya sama seperti Mark dan Suzy, lunglai. Suzy merasakan ketenangan melihatnya, tapi dalam hati ia ingin menangis. Angin dingin berhembus mengibarkan rambutnya, membuatnya merasa tenang, apalagi dengan pemandangan luar biasa di depannya dan kehadiran Myungsoo di sana.

Suzy duduk di sebelahnya. “Hei.”

Myungsoo menoleh, dan tersenyum lebar dengan terpaksa, “Hei. Sudah lama tak bertemu.”

Suzy mengangguk, ragu. Maka, selama semenit, keheningan panjang menyisip di antara mereka. Tapi sebelum Suzy memulai, Myungsoo sudah angkat bicara.

“Aku rasa memang sudah saatnya aku harus pergi.”

Suzy tidak bicara apapun. “Ya. Apapun itu. Pergi meninggalkan orang yang kau sayang. Begitu juga aku. Apapun akhirnya, aku akan mati sepertimu. Aku tidak akan menyangkal.”

Myungsoo mengangguk, kepalanya tertunduk. “Entahlah, aku hanya muak dengan duniaku yang fana. Kau tahu apa tujuanku datang padamu?”

Suzy mengangguk. “Ya, tidak perlu dijelaskan lagi. Aku mengerti.”

Segala hal tentang kematianku, membuat muak, Suzy. Seandainya aku dengan cerdas berpikir pembunuh itu punya rencana sendiri. Seandainya aku dan Ibu tak perlu membuka toko hari itu. Seandainya aku tak dengan tololnya membiarkan pembunuh itu beraksi sementara aku masih ada di dalam dapur. Tapi, sebanyak apapun aku berandai, mau apapun juga, aku sudah tidak berarti lagi.”

Bahu Suzy bergetar. Dia sudah lelah menangis, tapi dia tak akan sanggup mendengar ocehan Myungsoo. Mendengarnya seakan pria itu sudah menusuk dalam-dalam jantungnya.

“Aku bukan apa-apa, Suzy. Apa yang kau pikirkan tentang aku? Hanya kabut. Tak lebih dari itu. Bukan sesuatu yang hidup. Bukan juga sesuatu yang mati.”

Suzy berusaha menahan tangisannya. “Mau dengar cerita Ayahku?”

Tapi Myungsoo lelah menjawab basa-basi itu, jadi Suzy menganggapnya sebagai ‘ya’.

“Waktu aku kecil, dia pernah mengajakku ke taman bermain. Yah, kami bermain apa saja. Dia melupakan segala tentang pendidikan musik yang selalu dia tegaskan padaku. Masih kerasa bahagianya untukku. Aku pun tak percaya. Selama seharian dia tak mengungkit nilai grade yang anjlok. Mempersilahkanku berlibur, berteriak dan tertawa. Tapi sepulangnya, dia bertengkar dengan Ibuku. Berbicara sambil berbentak. Aku bahkan masih menyimpan lollipop yang kubeli di sana ketika Ibuku mendadak berteriak bahwa aku harus pergi.”

Myungsoo hanya menunduk mendengarnya, mencabut rerumputan di hadapannya.

“Apapun itu, Myungsoo, aku pernah kehilangan seseorang. Rasanya seperti kehilangan bagian dari hidupku. Ayahku orang yang baik. Tapi selepas aku tak pernah menemuinya, dia berubah. Dia berbeda. Aku tak yakin ia pernah melakukan masalah sebelumnya, tapi…” suara dan nada Suzy mulai terbata-bata, matanya mulai berair, “Aku baru menemui berita ia membakar sebuah toko roti dan menewaskan satu orang. Remaja.”

Kepala Myungsoo langsung tegak, dia menatap Suzy tidak percaya dan terbelalak. “Ayahmu?”

“Ya, namanya Bae Woo Hyuk. Tinggal di Korea. Dia yang membunuhmu berbulan lalu dan kemudian pergi. Meninggalkan kau di sini. Kau tak perlu sukar mencarinya, Myungsoo. Kenyataannya, aku adalah putrinya.”

Myungsoo tergagap, jelas kehabisan kata-kata. Entah nyata apa tidak, Suzy melihat airmata keluar dari matanya, membuat dadanya sesak dan gadis itu mulai ikut menangis.

“Ya Tuhan, Ya Tuhan. Aku sangat minta maaf. Aku tak tahu harus apa. Memarahinya tak akan membuatmu kembali. Aku akan kembali untuk menemuinya besok. Dan, aku minta maaf. Aku minta maaf. Myungsoo, aku—“

Suzy sudah tidak bisa bicara, dan Myungsoo langsung memeluknya. Merasakan tangisannya yang jarang ia rasakan. Ia tak pernah menangis. Hati Myungsoo panas, tapi dia tak bisa membenci apa yang baru saja ia dengar. Karena Suzy yang mengucapkannya.

“Aku-“ Suzy berusaha melanjutkan, tapi terpotong oleh isakan.

“Ssh, tidak apa-apa,” Myungsoo menahan tangisnya, “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu.”

“Aku sangat menyesal,” Suzy berteriak, “Aku minta maaf, Myungsoo. Aku minta maaf. Aku menyesal sekali.”

Myungsoo memilih tak menjawab. Dia hanya mengusap lembut rambutnya, dan merasakan ia sendiri ikut terisak. Maka mereka hanya berbagi lewat tangisan.

“Tak ada yang perlu dimaafkan. Dia Ayahmu. Dan aku mencintaimu. Jadi, tak ada yang perlu dimaafkan. Kau tak pernah perlu untuk meminta maaf.”

—-

“Aku tak pernah mengakuinya. Kau tahu aku menyukaimu, bukan?” tanya Myungsoo, suatu ketika.

“Ya. Kau kira aku tidak? Begitupun aku. Tapi, aneh bukan, menyukai kabut sepertimu?” balas Suzy, suatu ketika.

Myungsoo menyisir rambut lurus Suzy untuk terakhir kali, “Lagipula, toh, aku tak perlu membenci Bae Woo Hyuk. Aku sudah mati. Aku akan menghilang. Tak perlu lagi. Terimakasih sudah bertemu denganku, Suzy. Aku senang sekali kematianku punya kaitan denganmu.”

Suzy mengangguk, dan kemudian mendekatkan kepalanya. Memautkan bibir masing-masing sebelum akhirnya dirasakan sesuatu tak hadir lagi dalam hatinya. Sesuatu telah hilang. Rasanya seperti kehilangan separuh bagian jiwanya. Rasanya kosong. Tanpa perlu diberitahu, Suzy pun sudah tahu

———-END———-

A/N

.

.

.

Alhamdulillaaaah ini FF selese juga :’) ngegantung? Emang. Setelah ini aku bakalan tambahin epilog. Yuk mari ditanya apa yang nggak jelas dari cerita ini? Bisa aku tambahin ke epilog nanti😀

Akhirnya, setelah nyaris 6 bulan ditelantarkan, nggak nyangka FF ini bakalan selesai. Oh, ya, untuk FF ini aku tarik omonganku di chapter sebelumnya bahwa aku bakal bikin Suzy jadi murid Mushten. Aku pengen kayak begitu, tapi kayaknya readers keburu bosen dan males. Jadi, ya gausah deh wkwkw.

Terimakasih untuk para readers tercinta yang menjadi spirit hahahahaah. Dari readers lama sampai yang baru. Semoga ke depannya aku bisa menulis dengan bagus. Maaf selama chapter terakhir dibikin penasaran. Karena memang seperti itulah taktik mengarang yang terbaik. SEKALI LAGI, TERIMAKASIH SEMUANYA!

Salam cinta dari Myungsoo :”)

Dan, apa sih pendapat kamu tentang FF The Fog ini? Bagus apa jelek? Tulis pendapatnya di kolom komentar ya. Terimakasih!🙂

23 responses to “The Fog [Chapter 12] END/FINAL

  1. Yah sad ending deh hhuuuuwaaah, aq seneng sih ama cerita’a thor misteri gtu cmn kasian ama myungzy’a enggk bisa nyatu heheheh. Tetap semanget yah wat bikin ff’a thor and next ff myungzy’a aq tunggu yah

  2. Daebak thor..
    Gag kuat bacanya… merrka akhirnya ngunkapin perasaannya masing” walau akhirnya gag semanis yg dibayangin..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s