The Fog [Epilog]

Title: The Fog

Author: Little Thief

Main cast: Suzy, Myungsoo, Mark

Genre: romance, angst, fantasy

Length: chaptered

Rating: PG-13

Mark berjalan cepat-cepat dan berusaha melekatkan masker itu untuk terus menempel di hidung dan mulutnya. Untuk mengalihkan perhatian, ia menunduk untuk mengecek ponselnya. Meyakinkan bila pesan itu sudah masuk.

Aku sudah sampai di alun-alun. Cepat datang. Dasar pujaan wanita.

Mark mendengus. Ia memasukkan kembali ponselnya, dan berjalan dengan tenang. Tapi saat itu, dua orang gadis melewatinya. Mata Mark langsung membelalak. Dia kenal dua orang ini. Mereka adalah maniak yang mengirimi Mark aksesoris yang menggelikan, beserta ratusan surat cinta yang Mark muak membacanya.

Sebelum dua gadis itu menyadari kehadirannya, Mark berlari cepat menuju taman kota. Menghindari tatapan beberapa orang yang melihatnya berlari seperti orang kesetanan. Setelah beberapa menit, dengan napas terengah, ia sudah sampai ke sebuah alun-alun kota.

Mark menghela napas dalam-dalam dan kemudian melangkah memasuki alun-alun kota yang luasnya beberapa hektar. Banyak orang sedang bercanda ria bersama kekasihnya di situ, dan Mark hanya bisa tersenyum bebas. Ia janji akan mengajak Azura berkencan di sini suatu ketika.

Ia sampai ke sebuah tempat yang dinamai orang-orang sebagai pusat alun-alun yang berupaa sebuah taman. Di situ, berjejer berbagai kursi kayu yang cukup sampai beberapa puluh orang dewasa untuk memenuhi taman itu. Di salah satu kursi, ada sebuah punggung membelakanginya, dan sosoknya terasa familier.

Rambut lurusnya yang tidak berubah menjadi ciri khasnya. Mark tersenyum melihatnya, dan kemudian berjalan mengenda-endap dan menepuk keras pundaknya dengan kedua tangan. Wanita itu terlonjak sampai nyaris melompat dari kursinya dan dibalas tawa Mark.

Wanita itu menoleh dan menggeram, “Mark Tuan! Itukah cara yang bagus untuk reuni pertama?”

Mark terkekeh, “Maaf, maaf. Untung saja itu kau. Kalau bukan, aku akan malu sekali.”

Mark duduk di sebelahnya dan tersenyum jahil, “Halo, Suzy. Bagaimana kabarmu? Sudah mulai tur dunia dua bulan lagi, ya?”

Suzy menunduk malu, “Kau, bagaimana? Muak rasanya aku melihat wajahmu di layar televisi sambil menari-nari sesuai musik. Bersama enam temanmu yang lain itu.”

Mark tersenyum, “Seharusnya kau beruntung teman lamamu ini menjadi penyanyi selebriti di negaramu. Aku tidak akan segan memberikan ciuman kepadamu kalau mau, bahkan ketika penggemarku rela membayar apa saja untuk melakukannya.”

“Yang benar saja. Berarti Azura gadis yang beruntung. Apa kabarmu dengannya?”

“Bagus, baik. Sangat baik. Kau tahu? Meskipun kau dan aku baru berumur dua puluh dua, aku berminat menikahinya tiga sampai empat tahun ke depan. Lucu, bukan?”

“Oh, benarkah?” Suzy menyeringai, “Selamat kalau begitu.”

Mereka tertawa-tawa, dan kemudian Mark berdeham, “Jadi, bagaimana perasaanmu tentang Myungsoo sekarang? Tak sadar sudah hampir enam tahun dia tak ada, bukan?”

Suzy menunduk dan mengangguk, “Ya. Aku sangat merindukannya sampai aku ingin mati.”

“Ya, aku juga. Tapi hidup terus berjalan, Suzy. Aku punya banyak teman baru pengganti dirinya. Kau merintis karier sebagai pianis sukses. Mau tak mau, dia tak nyata.” Ujar Mark.

Aku mengerti, Mark. Dia tak nyata. Boleh dibilang perasaan kami masing-masing tak sesempurna kau dan kekasihmu itu. Tapi, Mark, aku punya kabar menarik.”

“Apa?”

“Itu tentang Ayahku. Beberapa tahun lalu dia bilang padaku tentang kenapa dia membunuh Myungsoo, bukan Ayahnya.”

“Kenapa?” tanya Mark, mulai tertarik kini

Ayah Myungsoo dan Ayahku bersahabat sejak sekolah menengah atas. Mereka bersahabat. Tapi Ayah Myungsoo punya banyak kelebihan, sehingga Ayahku iri. Mereka berpisah selama bertahun-tahun, dan baru bertemu ketika masing-masing anak mereka sudah besar. Aku dan Myungsoo, maksudku. Menemui Ayah Myungsoo kembali membuat Ayahku merasakan cemburu yang ia rasakan semasa sekolah. Jadilah, itu, dia membakar toko roti tersebut.”

“Lalu kenapa harus Myungsoo, Suzy?”

“Ayahku tahu bahwa Kim Myung Hwan sangat mencintai anaknya, Myungsoo. Dia berpikir menghancurkan anaknya akan lebih baik. Agar mereka berdua terjatuh bersama-sama. Aku tak tahu mengapa Ayahku begitu. Dan aku menyesali betul kenapa Myungsoo tak cepat-cepat menutup tokonya pada malam itu.”

Mark memberi isyarat bahwa Suzy harus menyelesaikan ceritanya.

“Pada awal niatnya, Ayahku hanya ingin membakar toko rotinya tanpa membunuh seseorang di sana. Tapi ketika ia menemukan toko roti masih terbuka, dan ia tahu ada orang di dalam pintu dapur, niatnya berubah menjadi gila. Ia membakar toko secara brutal. Ingin membunuh Myungsoo agar Kim Myung Hwan pun hancur bersamanya. Maka ia kobarkan seluruh api di dalam toko agar Myungsoo terjebak. Andailah Myungsoo saat itu cepat-cepat pergi, dia mungkin masih hidup.”

Mark tercengang, tapi dia tidak lagi cengeng. Tak ada tangisan. Dia sudah merelakan kepergian sahabatnya.

“Dan, ada lagi satu hal menarik.”

“Apa?”

“Dia mengenalku jauh lebih lama daripada kau. Dan mengucapkan salam padaku lebih pertama dibanding dirimu.”


Ahjussi, bolehkah saya minta sesuatu?”

“Ya?”

“Kurasa saat saya kembali ke Amerika, akan sangat menarik mengenal putri Anda. Mungkin saja kami bisa bertemu ketika saya sudah kembali. Bisakah saya titip salam kepadanya?”


Author Note

Pertama kali, izinin ngomong dulu :”)

Tbh ini adalah fanfiction pertama yang benar-benar kelar. Dan rasanya puas banget. Merasa kemampuan menulis terasah benar di sini.

Aku ingin ngucapin terimakasih sebanyak mungkin buat para readers. Entah itu yang nampilin diri atau tidak. Penyemangat dan energi. Komentarnya cuma sepuluh sampe dua puluhan ga bakal masalah buatku, yang penting membangun. Kedua, aku ingin berterimakasih sama film Don’t Worry I’m a Ghost yang ngasih pertama sumber ide ini. Wikipedia yang memberiku banyak referensi mengenai latar tempat di cerita ini. Dan, untuk John Green, dengan novel Looking for Alaska-nya yang hebat. Novel itu jadi sumber referensiku selama menulis ini, dan ceritanya bakal buntu kalau saja aku gak dapat ide tambahan dari novel itu. Recommended banget buat dibaca!

Dan juga minta maaf buat kalau ada yang kecewa sama cerita ini :’) semoga saja suatu ketika bakalan bikin cerita lebih bagus di KSF. Aamiin!

Salam, Nadia🙂


Soundtrack: Taylor Swift – Wildest Dream

24 responses to “The Fog [Epilog]

  1. Jadi iri jadi alasan BWH membunuh myung.. karena ingin ngancurin appanya myung…
    Trus myung udah kenal suzy duluan bahkan sempet titip salam sama appany suzy.. rasanya gag rela bgt kalo akhirnya myung meninggal..😥
    Ceritanya sukses bikin mewek..

  2. Gomawo untuk epilog.a authornim
    trus kebangkan mnulismu author ditunggu karya slanjut.a Fighting

  3. aaaah ff ini udah lamaa banget rasanya, dulu aku suka comment pake akun yg namanya sejenis ‘myungsoonaenampyeon’ dsb ahaha *knp malah curhat?*
    skrg aku baca lagi, karena dasarnya emang suka sm cerita author😀 ceritanya selalu terasa ngalir, dan aku selalu dapet baca feel cerita ini. sedih huhu😦
    yaudah ya thor, maaf kalo komentarnya ganggu, anggap aja ini hiburan di bln puasa buat author(?)😀
    N : oh ya thor, kl tingkat pengunjung sm yg CL gak sebanding, bisa jadi itu karena aku yg suka baca berulang2 hehehe😀

  4. Sebenernya agak kecewa dengan endingnya. Andai myungsoo cmn koma pasti bisa happy ending:( tapi keren kok thor, biasanya aku gasuka dengan genre seperti ini tapi setelah baca the fog dapet bgt feelnya. Ditunggu ff selanjutnya ya.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s