I Hate Luv Story (3/3)

I Hate Luv Story - Dina

Title : I Hate Luv Story | Author : dina | Genre : Comedy, Romance | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer

Story based on “I Hate Love Story” movie, all cast belongs to God and their family

Poster by my lovely saengi rosaliaaocha

.

.

.

Temui aku di hotel Marriot, urgently –Sooji–

Myungsoo membaca pesan Sooji, “apa ada yang penting?” pikirnya sambil mengambil jaket dan kunci mobil

I had fallen for Mr. Wrong” Sooji tersenyum menatap dirinya di depan cermin dengan bergaun merah, malam ini ia akan mengutarakan perasaannya kepada Myungsoo

“Aku tidak tahu bagaimana aku mengatakan ini kepada appa, eomma dan Jihoon oppa..tapi ini masa depanku, dan aku tidak akan pernah tahu seperti apa masa depanku kelak” Sooji tersenyum menatap lampu jalanan, mobil membawanya melaju menemui Myungsoo

—-

Myungsoo hendak meninggalkan apartemennya ketika Junho cucu Ny. Han berlari menghampirinya

Hyung…” panggil Junho sambil terengah

Waeyo Junho-ya?” tanya Myungsoo

Halemoni…pingsan” jawab Junho

“Astaga!” Myungsoo dan Junho berlari ke apartemen Ny. Han. Di sana Ny. Han tergeletak lemas di sofa, Myungsoo mengambil obat gosok yang ia oleskan di bawah lubang hidung Ny. Han

Halemoni…” panggil Myungsoo, “kurasa kita harus membawa nenekmu ke rumah sakit, kau bisa membantuku membopong sampai ke mobil?” tanya Myungsoo

Ne hyung” Junho bergegas mengambil tas dan sandal neneknya, membopong bagian kaki, sedangakan kepala dan tubuh atas Ny. Han diangkat oleh Myungsoo

Kajja…” Myungsoo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, melesat melewati hiruk pikuk jalanan kota Seoul

—–

“Kau dimana?” Sooji melihat jam tangannya, waktu telah menunjukkan pukul 21.30 KRT, ia telah menunggu Myungsoo selama hampir 3 jam lamanya di lobi hotel

Kring…kring…

Sebuah panggilan masuk ke ponsel Sooji

Yoboseyo

“Sooji-ya, kau dimana?” tanya Sulli

“Aku di luar rumah, waeyo?”

“Jihoon oppa masuk rumah sakit”

“Hah?” Sooji bangkit dari tempat duduknya, “bukankah oppa masih di London?” tanya Sooji

Neo paboya, Jihoon oppa sudah kembali kemarin lusa, dia masuk rumah sakit dan kau tidak tahu?” selidik Sulli

Mianhe..aku benar-benar tidak tahu”

“Cepatlah ke rumah sakit Seoul, dia akan segera dioperasi”

“Operasi? Bagaimana bisa?” Sooji setengah berlari menuju mobilnya, pak sopir telah menunggu di dalam mobil

“Usus buntu, palliwa…kami tunggu, kututup”

Ne..” rasa penyesalan menyelimuti dada Sooji, perasaan bersalah tiba-tiba menyerangnya, menghujam hati dan pikirannya yang hanya dipenuhi Myungsoo ketika Jihoon tunangan yang setia mendampinginya justru terlupakan begitu saja

“Kau bodoh!” runtuk Sooji dalam hati, “Myungsoo selamanya akan menjadi Myungsoo” airmata Sooji lolos begitu saja tanpa ia pinta, “maafkan aku oppa…” lirihnya, spontan Sooji menghapus nomor Myungsoo dari dalam ponselnya

Kling…sebuah pesan masuk, Sooji mengamati nomor yang sangat ia hafal

Sooji-ssi kau masih di Hotel Marriot? –Myungsoo–

Sooji enggan untuk membalas pesan Myungsoo, ia mematikan ponselnya, berharap semua hanya mimpi dan ia ingin bangkit dari rasa menyakitkan yang ia alami bersamaan dengan rasa cintanya untuk Myungsoo yang kandas begitu saja

—–

Keesokan harinya

“Eoh Myung kau sudah datang?” sapa Eunji

Ne….memang kenapa?” tanya Myungsoo balik

Aniya, aku heran saja” kekeh Eunji, “oiya hari ini Sooji tidak masuk”

Waeyo?”

“Tunangannya sakit, semalam operasi…apa ya aku lupa” Eunji menempelkan bolpoin bunga di dagunya, “appendix..ya itu appendix surgery

“Usus buntu maksudmu?”

“Yap operasi usus buntu” cengir Eunji, “Sooji setia sekali dengan tunangannya, membuatku iri” keluh Eunji. Myungsoo menatap Eunji dengan wajah heran, mengapa semalam Sooji mengajaknya bertemu di Hotel Marriot jika tunangannya telah tiba kembali di Seoul, lalu mengapa Sooji tidak membalas pesannya padahal ia ingin menjelaskan alasan mengapa dirinya tidak datang ke tempat yang Sooji pinta

“Myungsoo-ya” kelima jari Eunji dikibaskan di depan wajah Myungsoo

“Hem?”

“Kau kenapa?” tanya Eunji yang disambut gelengan Myungsoo sambil tersenyum kecut, meninggalkan Eunji yang mematung keheranan melihat tingkah Myungsoo yang tiba-tiba diam

—–

Oppa…bagaimana rasanya?” tanya Sooji sambil duduk di sisi ranjang rumah sakit

“Sedikit sakit…untung Sulli segera membawaku ke rumah sakit”

Mianhe oppa, aku tidak menyadari kau telah tiba di Seoul” sesal Sooji

Aniya..aku memang pulang lebih awal dari jadualku” senyum Jihoon, “boghosippo Sooji-ya”

Sooji terdiam menatap Jihoon, jika ia bersedia jujur sesungguhnya Sooji hampir melupakan Jihoon karena seorang Myungsoo yang mengisi hari-harinya dengan kekonyolannya

“Kau tidak menjawabku?” tanya Jihoon

Ne oppa….”

“Tidak nado?” tanya Jihoon lagi

“Sudahlah oppa, yang terpenting kau terselamatkan..kau tahu jika beberapa jam saja Sulli terlambat membawamu ke sini, nyawapun dalam bahaya” terang Sooji yang sengaja menghindari pertanyaan Jihoon

Arra…” lirih Jihoon

Flashback

“Sulli-ya di sini!” panggil Jihoon beberapa jam sebelum dirinya masuk rumah sakit. Siang itu sengaja ia mengajak Sulli makan siang untuk menanyakan tentang Sooji yang mulai berubah sikap terhadapnya

Wae oppa? Kau tidak berbuat aneh lagi bukan?” selidik Sulli yang hafal betul jika Jihoon memanggilnya mengindikasikan sesuatu yang sangat penting terjadi antara Jihoon dan Sooji

“Aku bertemu dengan Jiyeon di bandara..”

Mwo?!” mata Sulli terbelalak, “kapan?”

“Ketika pesawatku akan berangkat dari London, kami berada dalam satu pesawat”

“Lalu?” tanya Sulli, “kalian duduk bersebelahan dan mengobrol sepanjang perjalanan?” tembak Sulli

Jihoon terdiam, ia bingung apakah harus menjawab jujur atau tidak, “kau mau jawaban apa?”

“Jawab pertanyaanku oppa, iya atau tidak?” tanya Sulli penuh penekanan

“Iya” jawab Jihoon

“Astaga!” pekik Sulli

Mianhe…aku dan Sooji semakin jauh, entahlah…aku merasakan kehampaan, mungkinkah aku terlalu memaksakan diriku sendiri?”

“Kau tidak kasihan dengan Sooji?”

Jihoon terdiam sejenak, tiba-tiba perutnya kembali merasakan kontraksi sakit yang lebih hebat dibandingkan ketika ia berangkat tadi pagi

“Argh…” Jihoon menekuk perutnya, memegang perut bawah sebelah kanannya

“Sulli-ya..appo!!”

“Ya Tuhan oppa!” Sulli semakin panik, orang-orang menghampiri Jihoon dan dirinya

“Tolong kakak saya….” Pinta Sulli

Flashback end

“Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku” batin Jihoon sambil memandang lurus wanita yang sibuk menata bunga untuknya

—–

Hari-hari Sooji dimulai tanpa keceriaan, ia mengisolir diri dari kehadiran Myungsoo. Berusaha untuk berbicara seperlunya. Dia hanya wanita biasa yang mempunyai rasa marah, rasa sedih karena seorang pria bernama Kim Myungsoo tidak hadir ketika ia memintanya. Myungsoo sendiri merasakan betul perubahan drastis perilaku rekannya yang beberapa bulan terakhir berhasil mencuri perhatiannya, bahkan mungkin mengisi sedikit ruang di relung hatinya tanpa ia sadari. Sejatinya sejak pertama ia melihat Sooji di bioskop, Myungsoo merasakan aura bahaya, alarm di pikirannya memperingatkan untuk tidak mengganggu wanita milik orang lain, namun hatinya menolak. Setiap kali melihat tingkah romantis Sooji dengan pemikiran sederhanya tentang kesempurnaan cinta membuat Myungsoo semakin ingin menyadarkan Sooji bahwa kesempurnaan cinta tidak pernah ada. Dan alarm itu semakin berbunyi keras ketika ia mulai merasa kesepian tanpa tawa dan kemarahan Sooji, sesuatu yang orang bilang loneliness, dan Myungsoo benci untuk mengatakan jika ia mengalaminya, kesepian…tanpa kehadiran seorang Bae Sooji

Flashback

“Jadi kau tertarik dengan sepupuku oppa?” tanya Sulli

“Hem?” tanya Myungsoo sambil menyendok es krim banana splitnya

“Kau oppa..Sooji?” tanya Sulli memajukan wajahnya berusaha membaca raut muka Myungsoo

“Menurutmu?” tanya Myungsoo balik

Sulli terkekeh geli, mengambil bruchetta kegemarannya, “kau tahu warna apa yang Sooji sebenarnya sukai?” tanya Sulli

“Merah dan hitam, she likes it a lot more than pink

Eoh??” Sulli terkejut dengan jawaban Myungsoo, “kau tahu Sooji minum hanya di weekend saja?”

Aniya…Sooji sebenarnya ingin minum di hari apapun”

“Kau tahu itu juga?” Sulli terperangah, “bahkan Jihoon oppa tidak pernah tahu kegemaran Sooji” gumamnya

“Dan aku tahu jika Sooji lebih menyukai makanan di pinggir jalan yang dijual di box snack daripada di restoran” Myungsoo menghabiskan suapan es krim terakhirnya

Woaa daebak!!” Sulli mengacungkan kedua jempolnya

Waeyo?” tanya Myungsoo melihat wajah heran Sulli

“Kau lebih mengenal sepupuku daripada tunangannya”

Jinca? Memang sudah berapa lama mereka bertunangan?”

“1 tahun terakhir tapi mereka menjalin kasih sedari SMA”

“Kau tahu Sulli-ya, menjalin kasih terlalu lama tidak menjamin ketika menikah nanti akan awet sampai kakek nenek” Myungsoo menasehati Sulli bak seorang ayah yang akan melepas anaknya menikah, “jika aku jadi Jihoon, mungkin aku akan meninggalkan Sooji sedari dulu”

Waeyo?”

“Karena mungkin saja Sooji adalah jodoh orang lain” jawab Myungsoo

“Aku kurang mengerti” Sulli mengerutkan kedua alisnya

“Begini…seorang Sooji seharusnya mendapatkan pria yang bertolak belakang dengan kepribadiannya” Myungsoo memasang wajah serius

“Maksudmu?” Sulli memiringkan kepalanya mendengarkan dengan khidmat pria di hadapannya

“Jihoon dan Sooji berwatak sama, bahkan aliran listrik akan tercipta jika kedua kutub berlawanan bertemu, positif dan negatif sedangkan Sooji dan Jihoon selayaknya kutub positif bertemu dengan postif, there will be no chemistry

“Aah…” Sulli nampak berpikir, “mungkinkah ini yang menyebabkan Jihoon oppa sulit melupakan Jiyeon?” gumam Sulli

“Jiyeon? Nugu?” tanya Myungsoo

Aniya…tidak penting, lalu sebaiknya Sooji mendapatkan pria yang seperti apa?” tanya Sulli

Myungsoo tersenyum penuh arti, “jangan bilang pria sepertimu oppa?” Sulli menyipitkan sebelah matanya yang dibalas kekehan geli Myungsoo

Aigoo…” Sulli menggeleng-gelengkan kepalanya

Flashback end

—–

“Sooji-ssi” panggil Dongwoo

“Iya?”

“Kau dipanggil Hyung Min hyung

Okay” jawab Sooji sambil memakai kembali kacamata minusnya, menenteng berkas yang ia perlukan untuk sunbaenya minta. Di ruang rapat telah berkumpul seluruh staf kecuali Myungsoo

Eoh kau sudah datang, duduklah” titah Hyung Min, “mana Myungsoo?” tanyanya lagi

“Dalam perjalanan, ia kusuruh mengecek peralatan syuting yang akan kita bawa nanti ke Jejudo” jawab Jungshin

Tok..tok..

“Itu dia datang” celetuk Eunji, “duduk sini Myung” Eunji menunjuk tempat duduk kosong di sebelah Sooji

Eoh…jeosonghamida saya terlambat”

Gwenchana..kita mulai rapat kali ini” buka Hyung Min

Salama rapat, Sooji lebih banyak mencatat daripada berbicara walau hanya sekedar usul yang biasa ia lakukan di rapat-rapat sebelumnya. Kali ini ia enggan membuka mulutnya, sedangkan Myungsoo yang biasanya terpaksa menjadi pendiam sedikit banyak memberikan usulan ke atasannya

“Heh…” Sooji mengetukkan bolpoinnya

“Kau bosan?” bisik Myungsoo

Sooji menggelengkan kepalanya, kembali menyimak penjelasan Hyung Min, berusaha menghindari komunikasi dengan pria di sebelahnya

Kita bertemu sepulang kerja, jangan lari lagi dariku –Myungsoo–

Sooji membaca pesan di ponselnya kemudian menghapus tepat di hadapan Myungsoo

“Ada apa denganmu?” batin Myungsoo, ia bertekad akan menahan Sooji bagaimanapun caranya, menjelaskan mengapa ia tidak hadir malam itu

—–

“Sooji-ssi” suara berat terdengar di telinga Sooji yang sontak membuat dirinya bergegas mengambil tas dan berjalan menjauh dari asal suara. Kantor telah sepi, hanya beberapa karyawan saja yang masih melemburkan diri menghadap mesin kerja mereka

“Kita perlu bicara” Myungsoo menahan tangan Sooji

“Bicara apa?”

“Kau dan aku”

“Maksudmu?” tanya Sooji

Mianhe Sooji-ssi…maaf aku tidak datang malam itu, kau menungguku?” tanya Myungsoo

Sooji terdiam menatap Myungsoo, “alasanmu pasti jauh lebih penting daripada sebuah undangan dariku” jawab Sooji

Aniya..aku mengantarkan tetanggaku ke rumah sakit”

Eoh?? Dulu sepupumu meninggal sekarang tetanggamu sakit? What a perfect liar” Sooji tersenyum sinis

“Apa maksudmu? Aku bersungguh-sungguh kali ini, mianhe Sooji-ssi…aku sudah berusaha menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif” jelas Myungsoo

“Ne…karena aku menunggui TUNANGANKU menjalani operasi” Sooji menekankan kata tunangan di kalimatnya

“Aku tahu” jawab Myungsoo

“Jadi hanya itu?” tanya Sooji, “jika tidak ada yang lain, aku pulang sekarang” pamit Sooji

Aniya…” cegah Myungsoo, “aku hanya ingin mengatakan, setelah proyek film ini selesai mungkin aku akan pergi dari sini”

“Mengapa?”

Eomma memintaku kembali ke rumah, haruskah aku menurutinya?” Myungsoo menatap wajah Sooji, berharap wanita di hadapannya mencegahnya untuk meninggalkan dirinya

Sooji diam sejenak, suasana hening kembali menyergap keduanya, “hem..lakukan yang seharusnya anak lelaki lakukan, buat bangga orang tuamu Myungsoo-ssi” jawab Sooji dengan sarkastik meskipun di hati kecilnya ingin sekali rasanya ia berteriak, menolak kepergian Myungsoo

“Baiklah” senyum Myungsoo kemudian, “kurasa aku tahu jawabannya, gomawo” Myungsoo mengacak pelan rambut Sooji, meninggalkan sebuah kesedihan di sana

“Aku pergi” pamit Sooji membalikkan badannya dengan cepat, air mata mulai berebut keluar dari kelopak matanya, ia tidak rela Myungsoo pergi

—–

Sooji berjalan sendiri menyusuri sungai Han, Jihoon memintanya menemuinya di sana. Udara dingin berhembus menerpa rambut hitam nan panjang milik Sooji

“Sooji-ya” panggil Jihoon yang telah datang menenteng 2 cup coffe hangat

Oppa..” senyum Sooji menghampiri Jihoon, “kau bawa apa?”

Ige…” Jihoon mengulurkan coffe hangatnya

Gomawo oppa, kita duduk di sana ne” ajak Sooji

Sooji dan Jihoon sama-sama terdiam menatap kerlap-kerlip lampu yang menghiasi sungai Han di malam yang cerah ini, suasana sunyi menyelimuti mereka yang tengah duduk bersebelahan

Mianhe…” buka Jihoon

“Untuk apa oppa?”

“Menghilangkan senyummu” lirihnya

“Hem?” Sooji masih menatap sungai Han sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jihoon

“Aku ingin Soojiku kembali” pinta Jihoon

Ne oppa, aku telah kembali”

“Aku ingin melihat senyummu lagi…tapi tidak untukku” Jihoon menyandarkan kepalanya di atas kepala Sooji

“Haruskah kita sudahi ini semua?” pertanyaan Jihoon meloloskan bulir demi bulir airmata Sooji. Jihoon mendekap erat kepala Sooji, “kita telah sama-sama berusaha sayang, tapi senyum tulusmu bukan untukku, begitupun sebaliknya” Jihoon mengusap pipi Sooji yang mulai basah

Ottoke…” lirih Sooji

—–

“Kau bodoh Myung!” ucap Eunji, “mana pria yang dulu kukenal dengan percaya dirinya?”

“Kau aneh” sanggah Myungsoo

“Kau yang aneh, keluar dari kenyataan, semua orang tahu kau menyukai Sooji” balas Eunji, “lalu dengan mudahnya kau kembali ke Toronto? Tsk…hanya sebegitu saja nyalimu” ejek Eunji

Ya! Jung Eunji jaga bicaramu” pekik Dongwoo, “semua terserah padamu Myung” Dongwoo berusaha menghibur Myungsoo

“Aku akan tetap pulang hyung, appa memerlukanku di sana..kali ini bukan karena Sooji”

“Kau masih saja memungkirinya” Eunji merasa semakin gemas melihat kebodohan rekan kerjanya, untuk kali ini ia menuruti kata hatinya membantu Myungsoo, menyadarkannya dari cinta yang ia pungkiri kehadirannya

“Dengar Eunji-ya, Sooji bukan untukku, dia sudah memiliki kehidupan sempurnanya” Myungsoo kembali menatap laptop yang ia sendiri tidak mengerti sama sekali apa yang ada di hadapannya

“Kau tidak pernah sedikitpun memikirkan Sooji?” Eunji melipat kedua tangan di depan dadanya

“Tidak…”

“Bahkan semenit….sedetikpun?” Eunji mencondongkan tubuhnya ke arah Myungsoo, “tidak pernah?”

Molla…” jawab Myungsoo

Pabo!” Eunji sukses mendorong kepala Myungsoo dengan jari telunjuk nan lentik miliknya

“Pejamkan matamu sekarang” titah Eunji yang diiringi kegelian Dongwoo, “Ya! kenapa kau tertawa? Memang apanya yang lucu?” protes Eunji

Aniya Eunji-ya, hanya saja kau terlalu memaksakan diri”

“Memang, mungkin hanya perjodohan saja yang membuatmu mendapatkan pasangan hidup kelak” ejek Eunji

“Hem..mungkin saja” Dongwoo memegang dagunya bak detektif yang sedang menerka-nerka. Myungsoo melongo melihat tingkah berlebihan kedua rekannya

Palliwa!” titah Eunji

“Apa?”

“Tutup kedua matamu” pinta Eunji

“Seperti ini?” Myungsoo memejamkan kedua matanya sambil tersenyum geli

“Apa yang kau pikirkan saat ini?”

Opso…” jawab Myungsoo cepat

“Benarkah?” tanya Eunji

Tiba-tiba bayangan Sooji berkelebatan di ingatan Myungsoo, wajah sebal Sooji saat mempoutkan bibirnya, pekikan 8 oktaf yang mengganggu tidur siangnya, tawa Sooji yang sangat disukainya. Perlahan senyum Myungsoo memudar

“Siapa yang ada di dalam pikiranmu saat ini?” lirih Eunji

Myungsoo terdiam sejenak kemudian tersenyum “banana split” kekehnya, “aku lapar..” rengeknya

“Astaga!! Argh!” Eunji berteriak frustrasi mendengar jawaban Myungsoo

“Kau bodoh Kim Myungsoo” gerutu Eunji yang kali ini merasa gagal menjalankan misinya mencegah Myungsoo meninggalkan pekerjaannya

Waeyo hyung?” tanya Myungsoo sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Dongwoo hanya menatap sahabatnya, “aku tidak ingin kau menyesal” tepuknya di pundak Myungsoo

“Aku baik-baik saja hyung

—–

Syuting di Jejudo berjalan lancar, beberapa scene berhasil tercipta hasil kerjasama yang apik antara Lee Howon dan Son Naeun. Untuk kali ini Myungsoo benar-benar serius menjalankan pekerjaannya, ia ingin meninggalkan kesan baik sebelum dirinya meninggalkan pekerjaan dan kembali ke habitat bisnis orang tuanya. Myungsoo masih menggoda Sooji meskipun tidak sesering dulu, pun Sooji hanya sesekali tersenyum melihat kekonyolan Myungsoo seperti ketika Eunji berulang tahun, Myungsoo menghadiahi kado berpita terbungkus rapi berisi buah pisang yang sangat Eunji benci

“Ya!! ulah siapa ini?” pekik Eunji yang merinding melihat buah pisang, Eunji mengalami phobia pisang tanpa alasan jelas. Di sudut set, Myungsoo pura-pura membantu Sooji melipat kertas

“Kau pelakunya?” tebak Sooji

Molla” Myungsoo mengedikkan bahunya

“Kau tidak berubah” senyum Sooji sambil kembali melipat kertas warna-warni. Myungsoo terdiam melihat senyum Sooji, kedua tangannya tanpa sadar terulur memegang kedua pipi Sooji

“Aku akan sangat merindukan senyum ini” ucapnya dengan tatapan lembut

Sooji terdiam menatap Myungsoo, “mianhe..” ucap Myungsoo lagi

“Kim Myungsoo!” terdengar suara teriakkan Eunji yang berjalan ke arah mereka

“Kau sudah memilih jalanmu sendiri” Sooji melepaskan kedua tangan Myungsoo dari wajahnya

Ya! tega sekali kau” Eunji menyingkap tirai yang menutupi tubuh Sooji dan Myungsoo, “eoh..mian” ucapnya dengan kikuk

Ige..orang yang kau cari” Sooji mendorong tubuh Myungsoo, menyerahkan dengan sukarela tubuh rekan gilanya untuk dipukuli oleh Eunji

It’s not me” bela Myungsoo

Jinca?” Eunji memicingkan matanya

“Menurutmu? Siapa yang suka dengan pisang di sini?”

“Chansung oppa?” terka Eunji, “Chanana oppa di sini? Dimana dia?” Eunji berteriak kegirangan

“Seharusnya kau senang ia mengunjungimu”

Oddiso?” mata Eunji berbinar-binar tidak sabaran, “di sana” tunjuk Myungsoo

Oppa!!” Eunji berlari ke arah Chansung

Pabo yeoja” Myungsoo tertawa geli, ketika ia membalikkan tubuhnya, Sooji telah menghilang dari hadapannya

“Heh..” Myungsoo menghela nafas panjang

—-

Scene di Jejudo merupakan scene terakhir dari perjalanan panjang pembuatan film Hyung Min kali ini. Malam itu seluruh kru dan pemain memutuskan untuk berpesta di sebuah club. Sooji menuruti Eunji untuk mencicipi sedikit cocktail meskipun Sooji menolaknya karena ini hari kerja, namun tatapan cute Eunji berhasil meluluhkan hati Sooji

“Kau tertarik dengan Sooji?” tanya Howon yang memperhatikan Myungsoo menatap Sooji dari kejauhan

“Iya” senyum Myungsoo, senyum bodoh yang dipaksakan

“Dengarkan aku, ada banyak bus kita lihat di jalan, namun hanya satu bus yang akan membawa kita pulang” ucap Howon, “dan itu harus kita yang mencarinya” tunjuk Howon ke dadanya

“Apakah kau percaya cerita cinta seperti yang selalu kau perankan hyung?” tanya Myungsoo sembari menenggak coktailnya

Ani…tapi aku percaya ada seseorang yang Tuhan ciptakan untuk kita, entah kapan kita akan menemukannya”

How cheessy” kekeh Myungsoo

“Tanpa embel-embel romantisme, cinta tetap akan tercipta dengan caramu sendiri. Kau tidak bisa memungkiri itu” tampik Howon

Arra hyung

—–

“Kubawakan” Myungsoo menarik koper Sooji sesampainya di bandara tempat pesawat yang mereka tumpangi dari pulau jeju berhasil mendarat dengan selamat

“Tidak perlu”

“Kau tampak kesulitan Sooji-ssi”

“Hem..tidak” jawab Sooji sambil meraih kembali pegangan kopernya

“Kau kuantar pulang?” tawar Myungsoo

“Jihoon oppa menjemputku”

“Eoh…baiklah” senyum Myungsoo

“Sooji-ya” panggil Jihoon dari kejauhan

Sooji berjalan menghampiri Jihoon diikuti Myungsoo

Oremani Myungsoo-ssi” sapa Jihoon

Ne..”

“Kau lelah?” tanya Jihoon mengambil pegangan koper dari tangan Sooji

“Sedikit, aku ingin segera pulang oppa” pinta Sooji

Kajja..kami pamit Myungsoo-ssi”

“Silakan” Myungsoo menjabat tangan Jihoon, “oiya Jihoon-ssi…”

“Iya?”

Another nice shirt” puji Myungsoo yang berhasil membuat Sooji tersenyum

Thank’s” jawab Jihoon sambil berlalu dari hadapannya

“Sooji-ya” gumam Myungsoo, menatap punggung Sooji yang semakin menjauh

 

Pulanglah nak, appa memerlukanmu di sini –Eomma

Haruskah aku pulang?

Ne…eomma tunggu –Eomma

 

Gidaryo eomma, aku pulang” lirih Myungsoo sambil kembali membaca pesan dari eommanya yang mengabarkan appanya yang ingin segera pensiun dari pekerjaannya

—–

“Kau yakin tidak ingin melihat premiere film ini?” tanya Hyung Min yang telah bertuksedo hitam, tampak gagah dan tampan

Ne hyung…pesawatku akan berangkat malam ini”

“Kau sengaja menghindari Sooji?” selidik Hyung Min

Myungsoo tersenyum, “untuk kali ini aku benar-benar berusaha keras menjalankan perintahmu hyung

Arragomawo Myungsoo-ya” Hyung Min menepuk punggung Myungsoo, “semoga kau sukses di sana”

Ghamsahamida hyung, aku pamit” Myungsoo menenteng tas ranselnya. Sore ini ia berpamitan kepada seluruh rekan kantornya, tapi ia tidak menemukan Sooji di ruangannya

“Dimana Sooji?” tanya Myungsoo

Molla…dia hanya ijin tadi siang, tapi nanti malam tetap hadir di premiere kita” jelas Yubin

Eoh…” Myungsoo menatap sebentar ruangan milik Sooji, ia kembali tersenyum mengingat kegilaannya beradu mulut dengan Sooji, “aku pasti akan sangat merindukanmu” batinnya

“Myungsoo-ya” panggil Dongwoo, “kau meninggalkan ini” Dongwoo memberikan sebuah album foto berwarna hitam

“Ini bukan punyaku”

“Tapi ini tertinggal di meja kerjamu” alis Dongwoo bertaut

Myungsoo membuka album foto, di sana terdapat 32 foto dirinya yang terhalang tangannya. Myungsoo tersenyum sambil membolak-balikkan halaman demi halaman

“Kau yakin akan meninggalkan ini semua?” tanya Dongwoo

“Hem..gomawo hyung, semoga film kali ini kembali sukses” Myungsoo memeluk Dongwoo

“Heh..rasanya ingin menangis” ucap Dongwoo

Waeyo?”

“Tidak ada lagi yang akan menraktirku”

“Astaga hyung” mereka berdua tertawa geli

—–

Myungsoo masih membolak-balikkan halaman album foto yang ia terima. Dalam satu jam lagi ia akan segera boarding, melewati pintu imigrasi dan meninggalkan Korea

Oppa!” Sulli setengah berlari, di belakangnya Minho membawakan tas milik Sulli

Aigoo Sulli-ya” Myungsoo beranjak dari tempat duduknya

Kajimayo..kau meninggalkan semua usahamu ini? kau pengecut oppa!” pekik Sulli

Eoh?” Myungsoo terkejut dengan pekikan Sulli

“Sulli-ya” Minho menempelkan jari telunjuknya di bibir, “malu” ucapnya

“Biarkan saja oppa, aku benar-benar kesal dengan pria ini” tunjuk Sulli

“Ada apa denganmu?”

Oppa paboya! Sooji dan Jihoon oppa telah lama berpisah” lapor Sulli

“Aku tahu” senyum Myungsoo

“Lalu? Kau akan tetap pergi?” tanya Sulli

“Hem..”

“Bagaimana dengan Sooji?”

“Dia akan baik-baik saja” jawab Myungsoo

“Tapi..baik apanya?” Sulli semakin geram

“Kau tidak malu dengan kekasihmu berteriak seperti ini?” tunjuk Myungsoo ke arah Minho yang meminta maaf kepada pengunjung lain atas ketidaksopanan kekasihnya

Oppa..kau tidak perlu meminta maaf kepada mereka” Sulli menarik lengan Minho yang menundukkan badannya berkali-kali

“Kau membuat kita malu sayang” ucap Minho

“Kau malu mempunyai kekasih seperti aku?” Sulli memicingkan matanya

Aniya bukan itu…” dan sepertinya Sulli lupa dengan misi awalnya, yang ada justru dirinya dan Minholah yang menjadi pusat perhatian

“Kalian sepupu sama saja” kekeh Myungsoo

Ya! oppa aku lupa dengan misiku” sungut Sulli

“Kau tidak perlu khawatir, aku dan Sooji akan baik-baik saja” senyum Myungsoo

“Kau yakin oppa?”

“Hem…100%” angguk Myungsoo

—–

Myungsoo menatap ke bawah ketika pesawatnya terlah berhasil take off meninggalkan bandara Incheon Korea menuju Toronto Pearson International Airport, senyumnya selalu terpasang mengingat kegilaannya menemui paksa Sooji sore tadi menjelang keberangkatannya ke bandara

“Aku kekanakan keutchi?” tanya Sooji

Aniya…

Mianhe Myungsoo-ssi”

“Sooji-ya” Myungsoo mendekap erat kedua pipi Sooji, “gomawo…”

“Apakah aku boleh menunggumu?” tanya Sooji

“Hem…harus”

“Lalu apa yang akan aku lakukan ketika kau tidak di sisiku?” tanya Sooji mendongakkan kepalanya menatap manik mata Myungsoo

“Bekerja” jawab Myungsoo dengan singkat

“Hanya itu?”

“Em…atau kau boleh menatap foto kita berkali-kali, mengagumi betapa tampannya diriku” goda Myungsoo

“Tidak lucu” protes Sooji

“Aku akan sangat merindukanmu..” peluk Sooji

Gidaryo..aku pasti kembali” Myungsoo merapatkan kedua tangannya yang kokoh ke tubuh Sooji

Promise me

I promise” jawab Myungsoo penuh kesungguhan, hidungnya yang mancung mencium puncak kepala Sooji

—-

11 Bulan kemudian

“Kembali kita siarkan langsung pernikahan Lee Howon dengan Son Naeun….” para reporter berita infotainment meliput pesta pernikahan Howon dan Naeun yang tertutup di pulau Jeju. Hyung Min, Eunji, Dongwoo dan beberapa rekan yang bekerjasama di produksi mereka turut hadir, tak lupa Sooji mengenakan dress hitam selutut yang berenda di bagian dada turut hadir memberikan restu dan ucapan selamat

Chukkae Howon-ssi” senyum Hyung Min dan rekan-rekannya

Ne ghamsahamida” Howon dan Naeun tidak melepaskan sedikitpun senyum dari wajah mereka ketika para repoter meliput mereka pasca prosesi pernikahan yang sakral. Sooji berjalan menjauh dari kerumunan, sambil meneteng clutchbagnya, ia berjalan ke arah pantai yang tidak jauh dari tempat resepsi. Ia memejamkan mata ketika angin sore menerpa wajah cantiknya yang berpoles make up tipis nan sederhana

“Angin sore tidak baik untukmu” terdengar suara yang sangat familiar di telinga Sooji. Sontak ia membuka kedua matanya, menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara

“Perutmu bisa kembung nona” lagi suara berat terdengar

Oppa!” Sooji berlari menghampiri lelaki itu, Kim Myungsoo membuka kedua tangannya lebar-lebar

Aigoo” Myungsoo setengah mengangkat tubuh Sooji yang memeluknya erat

Boghosippo” ucap Sooji

“Kau tidak berubah” kekeh Myungsoo melepas pelukannya, membetulkan poni Sooji yang berantakan karena tertiup angin

“Sejak kapan di sini?’ tanya Sooji masih bergelanyut di dada Myungsoo

“Itu tidak penting”

“Selalu itu jawabanmu” protes Sooji

“Itu kau tahu”

“Tidak romantis”

Anjhoa?” tanya Myungsoo

Aniya aku suka kau seperti ini oppa” senyum Sooji yang kembali menenggelamkan kepalanya di dada Myungsoo

“Sooji-ya” Myungsoo menangkup kedua pipi Sooji seperti biasa ia lakukan

“Hem?” Sooji mengerjapkan kedua kelopak matanya

“Kurasa aku akan menciummu”

Eoh?”

“Hem” angguk Myungsoo

“Lalu?” tanya Sooji

“Seperti ini” Myungsoo mendekatkan wajahnya, mencium singkat bibir Sooji

That’s it?” tanya Sooji yang sepertinya belum cukup puas melepaskan kerinduannya

“Ajari aku” pinta Myungsoo

“Heh” kedua tangan Sooji berganti menangkup pipi Myungsoo

“Kau hanya perlu mendekatkan wajahmu oppa, kemudian menciumku la-ma” jelas Sooji yang spontan membuat Myungsoo semakin gemas melihat tingkah cute kekasihnya

“Baiklah” Myungsoo melepaskan kedua tangannya dari pipi Sooji, “kita lakukan nanti, aku lapar” Myungsoo memegang perutnya

“Hah? Kau tidak jadi menciumku oppa?” protes Sooji

“Terlalu banyak orang” Myungsoo menggandeng tangan Sooji

Okay” bahu Sooji merosot menyadari ketidakromantisan kekasihnya

“Sooji-ya”

Ne..” mata Sooji terbelalak mendapati bibir Myungsoo mendarat dengan mulus di bibirnya, sebelah tangan Myungsoo berada di tengkuknya dan yang lainnya memegang pipi kanannya. Myungsoo menggerakkan bibirnya perlahan, spontan Sooji merasakan butterfly effect di perutnya, matanya terpejam mengikuti irama ciuman Myungsoo

Aigoo..anak itu” Hyung Min menggelengkan kepalanya melihat adegan ciuman gratis di hadapan mereka. Eunji mengabadikan momen tersebut sementara Dongwoo menepuk jidatnya

“Mau berapa lama lagi mereka berciuman?” tanya Yubin

Daebak! Ini sudah lebih dari 3 menit” Dongwoo melihat jam tangannya

So sweet…” Eunji menautkan kedua tangannya

Kajja kita pergi” Dongwoo membalikkan tubuh Eunji, berjalan menjauh dari Myungsoo dan Sooji diikuti Hyung Min dan Yubin

“Hosh…” Sooji menghirup nafas panjang selepas tautan mereka

Waeyo?” kekeh Myungsoo

“Aku kehabisan nafas”

“Kau sendiri yang memintaku menciummu” Myungsoo mengelus pipi bulat kekasihnya

Sooji tersenyum geli, “tapi tidak perlu selama itu oppa

“Em..apa seperti ini?” Myungsoo kembali mencium bibir pink milik Sooji, kecupan terputus-putus, sedangkan Sooji tersenyum menerima kecupan Myungsoo, “iya…” kecupan kembali mendarat, “seperti ini juga boleh” kembali kecupan ringan menyentuh bibir Sooji, “oppa…” Myungsoo masih menginterupsi perkataan Sooji dengan kecupan singkatnya yang berkali-kali, “cukup” Sooji menutup mulut Myungsoo yang kembali mendekatinya

“Lihat lipstikku menempel di bibirmu” jari telunjuk Sooji menyeka lipstik di bibir Myungsoo yang berubah sedikit pink

“Puas?” tanya Myungsoo

“Sangat” kekeh Sooji

“Kau memakai lipstik merk apa?”

“Yakinlah oppa kau tidak akan mengerti penjelasanku” kekeh Sooji

“Tidak juga..aku dulu pernah membeli pernak-pernik wanita, kau ingat?” Myungsoo dan Sooji menautkan jemari mereka, masih mengobrolkan hal yang tidak penting menyusuri jalan sekitaran pulau Jeju

….

“Jadi kapan kau melamarku oppa?” tanya Sooji sambil terus berjalan menjauh dari para tamu

“Tahun depan otte?”

“Tahun depan?” Sooji mendongakkan kepalanya ke samping menatap Myungsoo

“Bulan apa?” tanyanya lagi

“Saat musim panas?” jawab Myungsoo

Jhoa….lalu kita tinggal dimana nantinya?” pertanyaan demi pertanyaan masih berlanjut mengiringi langkah mereka. Sesekali kejahilan Myungsoo hadir di sela-sela obrolan ringan sore itu. Dan kembali Sooji tidak segan menampakkan wajah protesnya. Obrolan santai tanpa romantisme, sebuah jalan yang Tuhan rencanakan untuk mereka berdua, Myungsoo dengan caranya sendiri berhasil mengubah cara pandang Sooji bahwa mereka akan menemukan kesempurnaan karena ketidaksempurnaan orang lain

Oppa

“Hem”

Saranghae

Ne

“Seharusnya kau menjawab nado sayang”

“Itu kau tahu jawabanku”

Ne oppa kau juga sangat mencintaiku, manhi

“Hem manhi manhi saranghae Sooji-ya”

FIN

Wuaa akhir yang panjang rupanya ^^ mianhe sebenarnya mau posting siang tadi tapi apa daya saya harus ngantor hari ini, LONG KOMEN nya readers, sorry for typos

Ghamsahamida….see you on Yoona #pyongngilang#

70 responses to “I Hate Luv Story (3/3)

  1. akhirnyaaa mereka bersatu aaaah so sweet banget , walau myung gak suka hal2 romantis tapi segitu tuh menurutku udah romantis banget kekekeke
    yah suzy sama jihoon karena punya kesamaan jadi keliatan monoton /mungkin/ kalo sama myung yg konyol terlihat lebih berwarna ya? haha

  2. Ouw sweet nya ^^
    myungsoo memang tetap akan menjadi myungsoo, dia tidak akan berubah.. dia tetap akan menjadi dirinya sendiri, tidak bersikap romantis tapi kasih sayangnya untuk sooji tidak akan berkurang sedikitpun.
    ending yg sempurna🙂 sooji juga bisa menerima kekurangan myungsoo, bahkan dia malah suka terhadap ketidakromantisan myungsoo.. hubungan yg kaya gitu justru lebih santai, bukan berarti tanpa konflik sama sekali, pertengkaran mereka akan muncul karna hal sepele yg justru akan mendekatkan mereka.
    kak dina berhasil menyuguhkan cerita ringan penuh makna seperti biasanya, dan hasilnya pun daebak seperti biasanya ^^

  3. Waaahhh.. Sweet.. myungsoo mencintai suzy dgn caranya sendiri..
    gak chessy, tp sweet..
    kyaaa.. lucu bgt pas myung blg2 mau cium suzy.. Trus pke minta diajarin pula.. kkkk… kyeowo..
    keep writing, author.. ditunggu karya yg lainnya..

  4. Akhir yg romantis…
    mereka d persatukan dengan perbedaan dan kekurangan, saling melengkapi satu sama lain tanpa memandang sebelah mata.
    Bukan kehidupan jika dlm perjalanan tdk merasakan rasa sakit, kecewa, dan sebagainya. Teruslah berusaha jgn mengeluh jka hidup kita dilanda masalah atw hambatan…

    #terimakasih semoga terus berkaya. Good luck!!

  5. Hubungan memang tidak harus selalu romantis yg penting kita mnjalaninya dg sukacita, kalau hanya ada keromantisan, kesempurnaan,tawa bahagia tanpa ada sedikit pertentangan membumbui mungkin suatu saat akan ada kejenuhan seperti halnya yg dialami pasangan jihoon-sooji, namun kegilaan myungsoo dpat melengkapi kehampaan hati sooji yg membuat hidupnya lebih berwarna dan lbih ceria,suka bgt lah ma ff nya, tampak nyata bgt ceritanya🙂

  6. Wuaaaahhhh love it love it love it
    tanpa mengumbar kata2 romantis mereka sdh terlihat romantis dgn cara mereka sendiri kekekeke~
    bener tuh, biasanya pasangan itu memiliki sifat yg berbanding terbalik agar bisa saling melengkapi satu sma lain:D
    Nice ff kak Dina^^

  7. Ahhh jhoaa…jhoa..dibalik ketidaksempurnaan seorang kim myungsoo.. ada suez yang selalu menerimanya ahhh senengnya mereka bisa bersama. Dua sifat berbeda tapi melebur menjadi satu… dan happy ending tentunya..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s