2 Become 1 (Final of Borderline)

2BCM1

Title : 2 Become 1 | Author : dina | Genre : Surrealism (?) | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer

Story is Mine, all cast belongs to God and their family

.

.

.

  I Don’t Know If It’s Real or Unreal?

***

 

Candle light and soul forever
A dream of you and me together
Say you believe it
Free your mind of doubt and danger
Be for real don’t be a stranger
We can achieve it

 

***

Bulan Desember menjadi salah satu bulan yang sangat Sooji sukai, kehangatan penduduk kota Seoul menyambut natal menebarkan kasih sayang yang berlebih dibandingkan hari-hari biasa. Sooji merapatkan mantel dan syal pembungkus lehernya selebar hampir menutupi setengah wajahnya. Pagi ini ia membawa remah-remah roti sisa sarapan paginya ke taman kota, rencananya ia akan menebarkan kasih kasih sayang kepada sesama mahluk hidup yang hampir terlupakan. Burung pigeon tepatnya yang mendiami pojok taman biasa tempat ia duduk

“Dinginnya” kepulan asap keluar dari mulut Sooji, iringan lagu Jingle Bell di sepanjang toko yang ia lewati menghantarkan langkah ringan kakinya. Sooji sesekali tersenyum mengingat wajah lelaki yang 3 bulan terakhir tidak menemuinya, menghilang dari mimpi-mimpinya setelah sebuah gelang berinisial KMS menggantung bebas di pergelangan tangan kanannya. Gelang kuno berbahan metal putih sederhana berhias lonceng kecil serta berukirkan sebuah inisial nama yang awam di pikirannya. Bahkan selama ia hidup, orang tuanya hanya sekali memberinya perhiasan yaitu cincin yang tersemat di jari manis kanannya saat ia beranjak remaja

“Kur..kur…” Sooji membuat suara selayaknya burung, memanggil rekan seperjuangannya menahan hawa dingin kota Seoul

“Kalian datang” senyumnya sambil mengulurkan remahan roti di telapak tangannya yang pucat. Tangan kirinya sibuk mengelus kepala burung yang bertengger di lengan kanannya. Bunyi gemerincing pelan tercipta ketika sang burung mematukkan paruhnya ke telapak tangan Sooji

“Kau suka? Aigo…mianhe aku hanya membawa sedikit makan hari ini” Sooji menyibakkan rambut ke belakang telinga merahnya yang menahan hawa dingin yang berhembus perlahan

Deg….Sooji terdiam sejenak, ia mengedarkana pandangan ke sekeliling, namun yang ia dapatkan hanya kesunyian taman, di sana seorang kakek dan nenek berjalan melewatinya, sosok yang sangat halus. Kembali bulu kuduk Sooji berdiri menghadirkan bunyi alarm di pikiran dan hatinya. Perasaan takut sekaligus penasaran menuntunnya mengikuti kedua mahluk yang melewatinya tadi

“Cukup untuk hari ini, aku pergi ne” Sooji menepukkan kedua tangannya ke udara, membersihkan remah roti di tangan kanannya, “dimana mereka?” Sooji mengedarkan pandangannya sekali lagi, mencari kakek dan nenek yang hendak ia sapa

—–

Myungsoo berjalan di trotoar, hari ini ia hanya ingin menghirup udara pagi kota Seoul. Entah mengapa langkah kakinya dengan sendirinya berjalan menuju taman kota. Tangan kanan Myungsoo menenteng sebuah koran yang ia beli saat melewati toko buku, “eh..kenapa aku ke sini?” batinnya melihat sekeliling taman yang cukup ramai. Anak-anak berlarian menembus terpaan lembut angin pagi yang cukup cerah ini. Minggu merupakan waktu yang sangat menyenangkan bagi para keluarga berkumpul, sekedar melepas penat

Annyyeong..” sapa Myungsoo ke arah gadis kecil menggemaskan yang mengemut ibu jarinya, sebelah tangannya bertaut di mantel ibunya

“Oh hai anak muda, kemarilah” sapa ibu tersebut, “kau mau mencicipi kimbap buatanku?” tawarnya

Ne..ghamsahamida” Myungsoo ikut duduk di gelaran rumput beralaskan tikar bermotif bunga. Myungsoo menikmati paginya bersama teman barunya, sebuah keluarga kecil beranggotakan 4 orang, ayah, ibu, adik ipar dan putri kecil mereka. Myungsoo tertawa mendengarkan cerita sang ayah, hingga tiba-tiba sebuah figur seorang wanita berbaju putih panjang menatapnya dari kejauhan, rambutnya berkibar tertiup angin menutupi wajahnya

“Kau?” batin Myungsoo, matanya semakin menajam ketika tangan kanan wanita tersebut menyibakkan rambut yang menghalangi wajahnya. Myungsoo mendengar suara lirih wanita tersebut, seakan-akan mereka melakukan telepati, “aku di sini”

Myungsoo terperangah, masih dengan menatap wanita yang ia kunci dari pandangannya, ia menundukkan kepalanya berpamit kepada teman barunya. Bergegas memakai sepatu, mengejar wanita yang ia rindukan yang perlahan menghilang dari mata elangnya. Myungsoo hanya mengikuti wanita yang berlari semakin menjauh darinya menuju arah barat taman yang luas

“Dimana mereka?” Sooji yang diliputi rasa penasaran mengedarkan pandangannya, seolah-olah seseorang menuntun kakinya menuju arah timur taman kota, hingga langkah kakinya terhenti. Sosok lelaki yang datang di dalam mimpinya berdiri di seberangnya, Sooji terpaku melihat pemandangan di hadapannya. Lelaki itu dengan wajah sempurna, hidung mancung, mata yang sayu nan tajam, bibir yang menyunggingkan senyum termanis yang pernah Sooji lihat

“Heh…” Myungsoo menundukkan setengah tubuhnya kembali menghirup udara, mengejar wanita yang menganggu pikirannya akhir-akhir ini. Myungsoo mengedarkan pandangannya hingga pada suatu titik ia melihat sosok nyata wanita tersebut berselimut mantel dan syal yang menutupi setengah wajahnya. Myungsoo berjalan menghampiri wanita yang berdiri terpaku di seberang dirinya

10 meter….9 meter…8 meter…Myungsoo semakin mengikis jarak diantara mereka hingga ia berhenti di jarak setengah meter dari Sooji

“Kau…” ucap Myungsoo, Sooji membuka syal tebal yang melilit lehernya, suara lembut nan pelan gemerincing gelang di tangan Sooji memecah kesunyian

“Gelang itu?” lirih Myungsoo

“Siapa namamu aghasi?” tanya Myungsoo

Sooji masih berdiri terpaku menatap Myungsoo, “kau nyata?” tangan kanan Sooji terulur ke wajah Myungsoo

“Hem…” perlahan senyum tersungging di wajah Myungsoo, “aku menjemputmu”

Myungsoo meletakkan tangannya di atas tangan Sooji yang menempel di pipinya, bibirnya ia dekatkan ke telapak tangan Sooji

“Gelang ini ada padamu?” tanya Myungsoo

“Hem..kau yang menyematkannya malam itu” balas Sooji

“Jangan menangis” Myungsoo mengusap air mata Sooji

Dari kejauhan sepasang tangan seorang wanita dan pria bertaut, perlahan sosok mereka berubah menjadi bayangan dan berpendar menghilang, menyisakan udara kosong. Angin berhembus mengantarkan wangi cinta dan kebahagiaan yang terbalaskan

 

Gwangju, 1901

“Minsoo-ssi kau akan pergi?”

“Pernikahanmu akan segera berlangsung”

“Berjanjilah padaku, di kehidupan yang akan datang, kau akan menjadi milikku” tangis wanita itu pecah di tengah keheningan malam

“Semoga Tuhan mengabulkan permintaanmu…Sinji-ya”

 

END

RCL nya ne, ghamsahamida….see you on Friday ^^

67 responses to “2 Become 1 (Final of Borderline)

  1. haii.. 내 follow you salam kenal

    cerita renkanasi yaa,
    sweet bgt ketika “Myungsoo meletakkan tangannya di atas tangan Sooji yang menempel di pipinya, bibirnya ia dekatkan ke telapak tangan Sooji ” itu ngefeel bgt
    fightinggg

  2. Heh baru ngeh, setelah baca yg terakhir.
    Jadi myung ama suez itu ceritanya reikarnasinya minsoo dan sinji ya…dan kakek nenek yg berpendar itu minsoo dan sinji kan..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s