[Writing Fanfiction Contest] Jejak Diantara Takdir

5. Poster Phynz20 Jejak Diantara Takdir by Phynz20

Title : Jejak Diantara Takdir | Author : Phynz20 | Genre :  Supernatural, Sad | Rating : PG-17| Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kang Jiyoung & Ryu Sujeong (as Kim Ryu)

***

Sesuatu jejak yang tertinggal. Kesan yang mendalam. Perihal masa depan. Percaya atau tidak, kamu yang menentukan takdirmu.

.

Terhampar sawah luas menguning tertimpa mentari senja di sebelah kirinya. Sedang di sebelah kanan pepohonan hijau membuat suasana tambah syahdu. Hening yang terdengar mengganggu pendengaran. Tak ada satu pun makhluk hidup terlihat disana kecuali tetumbuhan dan sang empunya sepasang mata hitam bulat besar.

Baru saja sepasang mata menutup sejenak, sekonyong-konyong ada lelaki menghadap utara. Berkedip lagi, muncul satu dua kendaraan dari selatan. Hendak berteriak, ia tak sanggup. Suaranya tercekat.

Wajah tampan itu, tubuh idealnya, dan mata tajamnya terhempas begitu saja. Kendaraan yang menabraknya segera berhenti. Seseorang turun darinya dan memeriksa keadaan pemuda itu. Namun yakinlah, dengan darah yang terkucur cukup banyak, sudah pasti ia tak tertolong.

“AWAS BODOH! ADA KENDARAAN DI BELAKANGMU!”

Bising orang berbisik kini mengambang di udara. Perlahan Sooji membuka kelopaknya. Sekali lagi ia harus menanggung malu ketika kekuatannya menyambangi. Dengan menutup mulut, ia kembali duduk dan menyibukkan diri dengan buku di hadapannya. Berupaya sebisa mungkin agar ributnya tak terdengar.

Jiyoung memicingkan mata dan mendekatkan mulutnya pada telinga Sooji, “Dia muncul lagi?”

Sooji menghela napas berat dan menutup bukunya. Melupakan kepura-puraannya dari tak mengetahui apapun.

“Kali ini di pedesaan. Tapi aku tak pernah melihat wajahnya sebelumnya. Dan… dan kali ini dia meninggal.”

Jiyeong menutup mulutnya cepat. Ia tahu ketika Sooji melihat sesuatu karena kekuatannya, pastilah itu yang akan terjadi. Namun, baru kali ini Sooji menceritakan kepadanya tentang orang yang akan meninggal.

“Sore nanti aku akan ke kedai. Kau mau ikut?” ajak Sooji tiba-tiba. Jiyoung yang baru saja memikirkan akan kejadian tadi mau tak mau menyetujui ajakan Sooji. Ia ingin melihat kekuatan Sooji.

.

“Kakak! Aku ingin ke kedai itu!” Ryu merengek pada Myungsoo ketika sepeda mereka melewati suatu kedai dengan suasana gelap. Myungsoo langsung menggeleng dengan mata tajamnya. Ia langsung saja mendecih ketika tepat di depan kedai itu terpampang spanduk besar-besar, masih dengan warna dan suasana gelap. Agak horror sebenarnya.

Kedai Ramal Bae Sooji.

Dibawahnya tertera hal yang membuat Myungsoo merotasikan bola matanya.

Sesuatu jejak yang tertinggal. Kesan yang mendalam. Perihal masa depan. Percaya atau tidak, kamu yang menentukan takdirmu.

“Kak! Ayolah!” Kemudian didapati tangan Ryu sudah menyeret tubuhnya ke dalam kedai itu.

Myungsoo pikir kedai itu adalah kedai yang sepi pengunjung. Lagipula siapa pula yang ada di zaman ini masih percaya dengan ramalan-ramalan tidak jelas itu.

Yang ia tahu, satu-satunya orang yang percaya pada hal ini hanyalah adik tersayangnya.

Namun ternyata ia salah. Gila! Ia tak menyangka dari kedai yang berpenampilan menyeramkan seperti ini malah dipenuhi oleh remaja-remaja yang sepertinya sedang kasmaran dan sebagainya.

Dengan tatap heran Myungsoo, Ryu menjelaskan, “Kedai ini sangat laris di sekolahku! Semua gadis membicarakan kedai ini!”

“Dan kamu percaya dengan hal semacam ini?! Ryu! Kamu disekolahkan bukan untuk percaya pembodohan seperti ini!”

Spontan Ryu mengerucutkan bibirnya. Sudah ia tahu kalau kakaknya akan bersikap seperti ini padanya. Untung saja kakaknya masih sedikit waras untuk tidak berteriak kepadanya di depan umum.

“Aku tidak mau masuk ke dalam, oke? Dan aku tidak mau menunggu lama. Kalau sampai kamu lama, akan aku tinggal. Mengerti adik kecil?”

Sungguh, Ryu membenci kakaknya yang seperti ini. Tidak bisakah ia tinggalkan, barang sebentar saja, otak sok logikanya itu. Toh, ini juga hanya untung-untungan kan. Siapa tahu ia dapat ramalan bagus.

Jadian dengan Jungkook misalnya?

“Kak Jiyoung!”

Gadis yang dipanggil menoleh dan mendapati Ryu melambaikan tangan kepadanya. Jiyoung langsung saja menghampirinya.

“Berapa antrian lagi, Kak?”

“Tinggal satu. Kamu tidak buru-buru kan Ryu?”

Ryu menggeleng. Sejenak didekatkannya mulutnya ke telinga Jiyoung, “Kakak serius? Tamu hari ini banyak, kenapa antriannya tinggal satu?”

“Entahlah. Sooji cepat sekali meramal hari ini.”

“Aku semakin terkagum pada Kak Sooji!”

Jiyoung meninggalkan Ryu dengan satu kedipan mata.

Hanya sebentar saja rasanya Ryu menunggu disitu namun ia segera dipanggil Jiyoung untuk masuk ke tempat Sooji berada. Dan lagi-lagi ia berhasil menarik tubuh Myungsoo ikut dengannya.

Sesuatu jejak yang tertinggal. Kesan yang mendalam. Perihal masa depan. Percaya atau tidak, kamu yang menentukan takdirmu.

Myungsoo memperhatikan dengan seksama kata per kata dari kalimat yang Sooji lontarkan. Bukankah ini persis sama dengan apa yang tertera di spanduk depan? Apakah kalimat itu adalah semboyannya?

Ada-ada saja cara untuk menipu orang.

Sooji mendongak dan mendapati Ryu dan lelaki yang tak dikenal di hadapannya. Sejenak, ia semaca de javu dengan kejadian ini, namun tak disangka….

Tigapuluh enam hari dari sekarang, jiwamu akan kembali pada-Nya. Jasadmu tak akan lagi utuh, orang-orang yang kau sayangi akan tertinggal. Namun ini semua tergantung pilihanmu. Kamu mau pilih takdir yang mana.”

Myungsoo mengerutkan kening bingung sedangkan Ryu sudah mulai ketakutan. Ia yakin itu tadi bukan suara gadis di hadapannya. Untuk ukuran secantik gadis itu, suara berat dan penuh desakan tak mungkin keluar.

“Apa yang kukatakan?” tanya Sooji pelan-pelan pada kedua orang itu. Baik Myungsoo maupun Ryu akhirnya terbingung bukan main. Bahkan Myungsoo menjadi lebih menyebalkan daripada biasanya.

“Kamu mau membodoh-bodohi orang ya? Siapa memang yang akan meninggal?” kecam Myungsoo benar-benar geram. Sooji hanya memicingkan mata, sambil merasa sesuatu. Ia familiar dengan wajahnya.

“Kamu… Tolong jangan pernah pergi ke pedesaan sebentar lagi. Atau kamu akan mati.”

Kali ini Myungsoo sudah tak tahan lagi dan merasa bahwa itu hanya olok-olok. Ia benar-benar tertawa di depan Ryu dan Sooji. Tak mengindahkan omongan Sooji.

“Aku serius. Dan satu lagi…,” Sooji menarik benang merah kasar dari tasnya. Dan memberikannya pada, “Tolong bawa benang ini kemana pun kamu pergi. Jangan sampai ia hilang.”

“Dan jangan sombong jadi orang.”

Sooji bangkit dari singgasananya. Sama sekali tidak menghiraukan Myungsoo dan Ryu yang masih memberikan respon pada pernyataannya itu.

Kamu harus selamat Kim Myungsoo.

.

Sejak Myungsoo bertemu dengan Sooji di kedai ramal itu, akhir-akhir ini mereka jadi sering bertemu. Pemikiran Myungsoo sebenarnya cuma satu, Sooji memang sedang meneror dia.

Suatu ketika, Sooji melakukan hal diluar kebiasaannya. Biasanya, ia hanya memandang Myungsoo dari jauh. Dan diakhir pertemuannya, ia mendekat kira-kira semeter, meneriakkan sumpah serapahnya.

“Jangan ke desa!”

“Mobil besar!”

“Jangan pergi jauh-jauh!”

“Jangan senja, jangan!

“Awasi belakangmu!”

“Jangan memicingkan mata!”

“Hati-hati pada kendaraan!”

“Jangan dekat-dekat dengan sawah!”

“Waspada setiap saat!”

“Jangan pergi ke sawah!”

“Awas bodoh! Ada kendaraan di belakangmu.”

Kalimat terakhir benar-benar sukses membuat Myungsoo refleks menoleh ke belakang dan meloncat minggir.

Detik berikutnya ikut-ikut menyumpahi Sooji karena tak ada satu pun kendaraan di belakangnya. Itu cafe!

Memang, pertemuannya dengan Sooji hanya seperti itu. Namun, kali ini berbeda. Ketika Myungsoo sudah melihat Sooji dari sejak ia mengendap-endap mencurigakan di belakang pohon besar di taman kota, ia sudah menyiapkan mental untuk diteriaki sumpah serapah.

Ada hal yang berbeda. Jelas sangat. Biasanya untuk mencapai tempat terdekat ke arah Myungsoo, Sooji seharusnya mengendap-endap. Tapi kali ini tidak! Ia berjalan sangat santai, namun menatap tajam Myungsoo. Rambutnya berkibar dan pakaiannya juga tidak seperti tempo hari dilihat Myungsoo. Aneh dan tidak karuan.

Sooji berjalan pasti ke arah Myungsoo. Karena hal yang tidak biasa ini, justru adrenalin Myungsoo menjadi terpacu. Sedikit waspada ia balik menatap tepat di manik Sooji.

Sudah satu meter, ia tidak berhenti. Terus mendekat ke arah Myungsoo sampai ia menghempaskan tubuhnya ke bangku di hadapan Myungsoo.

“Kamu bodoh atau apa?”

Disini Myungsoo malah mengerutkan kening.

“Sudah aku peringatkan berkali-kali. Apa kamu masih tidak percaya? Nyawamu jadi taruhan Kim Myungsoo!”

Ia sudah tak tahan lagi. Sungguh, “Aku tidak kenal kamu. Kamu siapa berani-berani memperingatkanku? Memang aku anak kecil yang masih bodoh mau saja mempercayai lelucon seperti ini?”

Sooji membelalakkan matanya. Ia kaget dengan kecaman yang dilontarkan Myungsoo. Ia hanya berniat membantu. Sungguh. Dengan kekuatannya, ia selalu membantu orang dan memperingatkan kalau ada bahaya. Dan baru sekali ia mendapat penglihatan orang meninggal seperti ini.

Tapi yang diperingatkan malah seperti ini?!

“Tinggal enam hari lagi dan kamu pikir ini sebuah lelucon! Gila kalau kau mau tahu!”

“Aku sudah muak, okay? Bisa tidak kamu berhenti menerorku seperti ini? Enam hari apanya?! Aku sudah bilang aku bukan anak kecil. Jauh-jauh dari kehidupanku!”

Myungsoo yang berseru seperti itu akhirnya meninggalkan bangkunya. Tidak diindahkannya Sooji yang masih terperangah karena penolakkannya. Ia masa bodoh dengan sikap dan akan apa yang terjadi nanti.

Sooji bukan peramal dan ia tahu itu. Sooji hanya orang iseng yang paling tidak punya kerjaan di seluruh dunia.

“Terserah kamu saja! Pokoknya aku sudah memperingatkan! Kalau kamu celaka nanti jangan panggil-panggil aku! Jangan menyesal pria sombong!”

Disela-sela seruannya, Myungsoo mendengar getir putus asa. Sesaat ia nyaris percaya dengan semua ucapan Sooji. Namun ego mengalahkannya. Logika membutakannya.

.

Hari ini adalah hari yang Sooji peringatkan.

Myungsoo menjalani pagi ini seperti biasa. Kebetulan pagi ini ia punya jam kuliah. Jadi, setelah bangun ia segera bergegas membereskan diri untuk berangkat.

Setelah rapi, ia segera turun untuk mengambil sarapan. Tak ada sapaan, tak ada sosok-sosok yang harusnya menempati meja makan itu. Hanya Ryu yang ada. Itupun terlihat fokus sekali dengan gadget-nya.

“Ryu!”

Ryu menoleh ketika Myungsoo memanggilnya, “Apa Kak?”

Berpikir sejenak. Bagaimana caranya membicarakan hal yang ia rencanakan tadi malam. Ia sudah berpikir. Kelewat sering malah.

Jam kuliahnya hari itu hanya sampai jam sepuluh. Dua hari ke depan pun ia tak ada kuliah. Dan ia tak punya kerjaan apa-apa memang setelahnya. Ryu tak bisa diganggu, ia sedang sibuk dengan lomba menyanyinya. Lagipula disana udaranya segar, banyak pepohonan. Apalagi pasti sawah sudah menguning. Siap panen.

“Kak?” Ryu memanggil sekali lagi. Sepertinya ia menangkap ada hal aneh di wajah Myungsoo.

“Aku harus pergi,” disini Ryu menaikkan sebelah alis, “Ke rumah paman. Aku… aku butuh ketenangan.”

Ryu tersentak sejenak sebelum ia menormalkan kembali pemikirannya. Ia tahu menjadi Myungsoo itu sulit. Sejak kedua orangtua mereka bercerai dan pergi masing-masing ke rumah yang berbeda, Myungsoo-lah yang mengatur semuanya. Myungsoo bekerja keras untuk memenuhi uang kuliah, sekolah Ryu dan makan sehari-hari. Dan kali ini mereka masih harus hidup ekstra keras karena hutang-hutang yang ditinggalkan orangtuanya.

“Kau tidak apa sendiri?” Myungsoo masih sangsi sebenarnya meninggalkan adik tersayangnya sendiri. Namun, ia benar-benar butuh ketenangan saat ini. Ia harus berpikir kritis karenanya.

Ryu tersenyum menenangkan, “Aku akan baik-baik saja, Kak. Lagipula aku tidak akan kesepian. Masih ada Kak Sooji dan Kak Jiyoung. Dan sekarang aku bahkan kerja di kedainya!”

Telinga Myungsoo mendadak geli mendengar nama Sooji disebut. Sudah enam hari berlalu dan Sooji benar-benar menepati janjinya. Ia tidak pernah muncul lagi di hadapan Myungsoo. Walau itu melegakan, namun ada sesuatu yang hilang dari diri Myungsoo sejak Sooji tak menyambangi hidupnya dengan sumpah serapah itu.

“Jaga diri baik-baik. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tak masuk akal di dunia ini.”

Tiba-tiba Myungsoo memeluk Ryu. Sesuatu hal yang sangat jarang dilakukannya. Karena, bagaimanapun sayangnya Myungsoo terhadap adiknya, ia tak pernah menampilkan rasa sayang itu secara gamblang.

Ryu membalas pelukannya dengan bingung. Ia tak pernah tahu perasaan kakaknya. Myungsoo tak pernah sekali pun mengeluhkan apa-apa pada Ryu. Dan ini sangat mencengangkan.

“Selamat tinggal.”

Dan Myungsoo berlalu begitu saja.

.

Jam kuliahnya usai sejak delapan jam yang lalu. Ia sudah sampai di rumah pamannya, makan, membereskan kebun belakang, bercerita dengan Paman dan Bibi. Semua sudah dilakukan. Ia sungguh tak ada kerjaan.

Sebenarnya Paman dan Bibinya mengajak Myungsoo untuk menonton televisi bersama. Maklum, itu televisi baru. Dengan sopan ia menolak, ia sudah bosan dengan hal di dalamnya.

Lebih banyak pembodohan daripada berita yang bisa di dapat darinya, pikir Myungsoo.

Maka disinilah dia. Memandang mentari kembali ke peraduannya. Sungguh, pemandangan disini sangatlah menakjubkan. Terhampar sawah luas menguning tertimpa mentari senja di sebelah kirinya. Sedang di sebelah kanan pepohonan hijau membuat suasana tambah syahdu.

Ia tidak melihat siapa-siapa disini. Hening yang terdengar sedikit mengganggu pendengarannya. Kejadian seperti ini mengingatkan ia akan satu hal. Namun, ia sulit untuk mengingatnya. Apakah hal itu penting?

Myungsoo tidak menghiraukan. Berjalan-jalan di sekitar sini memang haruslah untuk mengurangi penat, bukan untuk menambah penat, bukan? Lalu untuk apa memusingkan hal yang belum tentu penting sama sekali?

Terasa sekali tiupan angin menampar Myungsoo. Sejenak, ia merasa sekali lagi de javu. Ia rasanya pernah merasakan hal ini belum lama. Bukan saat ia masih kecil atau terakhir kali kesini, tapi ada sesuatu hal yang mengganjal.

Ketika ia menengok ke arah sawah, pemikiran itu mendadak terbuka. Ia ingat ini hari ke tiga puluh enam sejak ia bertemu dengan Sooji. Ia ingat Sooji sering sekali berteriak padanya untuk menjauhi sawah, senja, dan pedesaan.

Namun, sekarang disinilah ia. Ada sawah, sedang senja dan ini pedesaaan. Ia yakin sekarang bahwa Sooji hanyalah main-main. Kalau pun tiga unsur itu benar, tidak ada kendaraan di belakangnya.

Tapi ia baru ingat, ini menjelang malam, biasanya truk-truk dari pasar akan pulang kembali ke desa ini.

Menoleh ke arah belakang, ia melihat sosok tervisualisasikan dengan jelas. Tepat di arah serong kanan. Rambutnya berkibar dan mata bulat itu tajam menatapnya. Ia balas menatap dengan tajam. Ia tidak menduga hal ini akan terjadi.

Ia mengedip sekali. Sekonyong-konyong muncul satu dua kendaraan dari selatan. Hendak berteriak, ia tak sanggup. Suaranya tercekat.

“AWAS BODOH! ADA KENDARAAN DI BELAKANGMU!”

Sesuatu tertabrak begitu kencang. Seperti benturan besi pada baja. Wajah tampan itu, tubuh idealnya, dan mata tajamnya terhempas begitu saja.

Myungsoo baru sadar, Sooji benar-benar berniat menolongnya. Ialah yang terlalu bodoh tidak mempercayai orang sebaik Sooji. Jejak itu sudah tertinggal. Kesan itu masih ada. Takdirnya ditentukan oleh egonya sendiri

Ia tahu, semua sudah terlambat. Myungsoo sudah tak lagi ada pada raganya.

Kendaraan yang menabraknya segera berhenti. Seseorang turun darinya dan memeriksa keadaan pemuda itu. Namun yakinlah, dengan darah yang terkucur cukup banyak, sudah pasti ia tak tertolong.

Bayangan gadis itu pun mulai lenyap. Dan berkilo-kilo jauhnya dari tempat kejadian, Sooji menangis terisak di hadapan Jiyeong dan Ryu sembari menggenggam benang merah.

Ia sungguh tak bisa menghalangi kejadian itu.

“Maafkan aku Ryu… maafkan aku….”

-END-

25 responses to “[Writing Fanfiction Contest] Jejak Diantara Takdir

  1. klo udh tkdir gk bisa di lawan, wlau pun bisa mnghindar tp suatu saat psti dtng dngn cra lain😦 myungppa

  2. Hoel…myungsoo gk percaya ya ama suez. Heh asihan banget nasib myung, coba dia percaya suez.
    Heh suez ampe nangis kek gitu… hohoho sad ending

  3. Pingback: [Remark Fic] Jejak Diantara Takdir | Agent Mystery's·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s