[Writing Fanfiction Contest] Think Again About Cinderella

cinderella

Think Again about Cinderella!!

A Fanfiction by Fanficfunny

.

.

.

 || Main Cast : Suzy Miss A, Park Jinyoung GOT7, Mark Tuan GOT7|| Support Cast : OC, Naeun Apink, Jackson GOT7, etc|| Genre : Romance||Rating : T || Length: Oneshoot (3k w)

.

Terinspirasi dari Dream High 2

Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini milik agency mereka masing-masing tapi alurnya sepenuhnya milik saya.

****

 

 

 

.

Ada perbedaan kentara di sini. Mereka yang menyebutnya sebagai cinderella dan dia yang menjadi saudara tiri yang jahat. Mark kelewat tahu siapa penyandang tittle yang terus saja menghuni bangku paling belakang pojok kanan dan siapa gadis beruntung yang menerima banyak cinta di sekolah. Ia Naeun dan Suzy. Sebuah contoh interaksi tak menguntungkan.  Lalu mereka bilang dirinya adalah pangeran. Pangeran tak berpihak. Ia tak memilih cinderella tak juga memilih saudara tiri. Mereka bilang, ia harus memutuskan pilihannya sebelum salah satu diantara mereka hanya tertinggal nama.

“Mark, aku tidak terlalu mengerti matematika. Bisakah kau mengajarinya?”

Di sisi lain lelaki tak bertittle hanya mendengus melihat usaha kawannya—sekaligus teman sebangkunya— terlihat menjijikan di matanya. Ia Jinyoung, yang kebetulan mendiami kubu saudara tiri dan mendukungnya meskipun seluruh dunia mengatakan ‘bitch’ padanya.

“Masih berani kau kau merayu Mark setelah apa yang terjadi kemarin? Bae Suzy?”

Jinyoung tahu akan seperti ini. Ia tahu Ina akan memulainya dengan nada sarkatis yang membosankan dan lihat! Dalam beberapa sekon setelahnya seluruh kelas memandang Suzy tajam.

“Bagus. Saudara tiri berulah, dan lihat siapa yang mendapat hukuman? Son Naeun.” Kali ini Teuk In yang berujar.

“Jadi? Kalian pikir aku yang menjatuhkan ponsel Lee Saem?”

Yaa!!! Aku melihatnya sendiri saat kau menyuruh Naeun untuk membersihkan meja Lee Saem.”

“Kau melihatku merusak ponsel Lee Saem Hyorin?”

Hyorin membeku, maniknya berputar ragu.

“Kau benar. Aku yang melakukannya.”

Teriakan diringi nada menghina menjadi backsong selanjutnya. Suzy tak mau ambil pusing, toh ia kelewat biasa menjadi satu-satunya penjahat yang bertanggung jawab atas kemalangan Naeun.

“Ayo keluar.” Jinyoung menarik Suzy paksa, membuatnya mau tak mau mengikuti arah Jinyoung melangkah. Seisi sekolah tahu tentang kisah klasik Cinderella di kelas 2-3 dan begitu melihat Suzy diseret Jinyoung tak sedikit siswa yang melemparkan senyum ejekan.

Langkah Jinyoung bertambah cepatmembuat Suzy kewalahan dalam mengimbanginya. Ia terus melangkah hingga Suzy tahu jika ia akan diseret ke atap sekolah. Lagi? Tepat lima menit Suzy beragumentasi dirinya sudah melihat pintu atap dan seketika pula Jinyoung membukanya.

“Bukan kau ‘kan yang melakukannya?” tanya Jinyoung begitu ia telah menutup pintu.

“Itu aku.”

“Bae Suzy!”

“Benar. Bukan aku yang melakukannya, kau puas hah?”

Raut wajah Suzy berubah merah. Maniknya tak lagi sarat akan keculasan.

“Aku—“ Entah kenapa hatinya terlampau sakit. “—Aku tidak melakukan apapun. Aku melihat Naeun yang menjatuhkannya. Aku melihatnya, tapi Hyorin dia—“ Titik bening mulai muncul di kokoa Suzy, ia tahu. Ia orang yang kasar, dia orang yang menyebalkan. Dia yang pernah memfitnah Naeun di depan Mark, dia juga yang pernah mendorong Hyorin hingga terkilira. Ia tahu jika dirinya adalah iblis. Ia tahu!! Tapi bisakah mereka mempercayainya kali ini saja? Ia lelah. Ia lelah menjadi tokoh antagonis di drama mereka.

Awalnya ia yakin, jika dirinya berubah semua orang akan tersenyum padanya tapi sialnya Naeun selalu mengacaukannya. Ketika Naeun jatuh di depannya ia yang dituduh. Ketika Naeun menangis, ia yang dihujam. Ketika ia berbicara pada Mark ia dituduh menjelekan Naeun.

Naeun. Naeun. Naeun. Kenapa harus selalu gadis itu?

Mereka pikir dia peri? Atau malaikat yang berhati suci? Dia manusia?!! Manusia bodoh dan menyebalkan!!

“Bodoh.”

Senyuman Jinyoung yang dilihat Suzy sebelum dirinya tenggelam di balik pelukan Jinyoung. Suzy tak tahu mengapa air matanya terus mengalir seperti ini, ia juga tak menemukan alasan yang tepat ketika dirinya sesenggukan di depan Jinyoung. Yang ia tahu, hatinya sakit. Terlampau sakit hingga rasanya ada batu besar yang menindih hatinya hingga membuatnya sesak.

“Berhentilah menyukai Mark. Dia bukan pangeranmu.”

Suzy kembali menangis dengan volume dan hati yang kian perih. Apa salah jika saudara tiri menyukai pangeran? Apakah salah jika ia menginginkan pangeran? Yeah, ia tahu ia salah. Dalam dongeng versi manapun tak pernah menyebutkan pangeran dan saudara tiri. Yang ada hanya pangeran dan cinderella.

“Aku—“ Suzy tergagap, dengan rasa perih yang menggila. “Apakah salah jika aku menyukai Mark? Apakah salah bertindak secara terang-terangan? Aku bukan murahan Jinyoung-ah, aku juga wanita. Dan aku—bisakah aku menjadi cinderella? Hanya sehari saja. Aku juga ingin merasakan bagaimana semua orang memperlakukanku dengan baik.”

“Apa menurutmu. Orang yang pertama kali menolongmu adalah pangeranmu?”

“Setidaknya, dia tak menganggapku penjahat.”

“Dia juga tak menganggapmu sebagai orang baik.”

“Kau ingat saat semua orang menuduhku mencuri uang Ina? Hanya Mark yang mau bersusah payah mencari ke seluruh sekolah. Apa kau juga ingat saat kau sakit dan semua orang tak mau duduk denganku saat makan siang, dia melakukannya Jinyoung-ah,” ujar Suzy tak merespon ucapan Jinyoung.

Jinyoung menghela nafas kasar, pelukannya kian erat. “Dia juga melakukannya pada Naeun.”

“Bisakah kau berhenti mengatakan nama itu?”

“Aku tahu.”

“Jinyoung-ah.”

Hmm?”

“Aku ingin membunuh Naeun.”

Eyy~ apa maksudmu.”

“Aku benar-benar membencinya, sangat membencinya.”

Tangan Jinyoung melonggar, ia melepas pelukannya. Maniknya bersiborok dengan manik kokoa Suzy. “Jika kau melakukannya aku tidak akan pernah berada di sisimu lagi. Tidak akan pernah.”

“Benarkah? Kita lihat setelah Naeun terluka. Bye~”

Suzy berlari dengan wajah kesalnya. Jinyoung tahu kendati Suzy merencanakan pembunuhan tersadis yang pernah dipikirkan manusia, tapi tak setitikpun ia berniat melakukannya. Ia mengatakannya sekadar ingin menghibur dirinya.

Atau mungkin menghibur dirinya karena terlihat menyedihkan di mata Mark? Mark lagi? Jinyoung tahu segalanya perihal Mark dan Suzy—well kendati hanya dari sudut pandnag Suzy. Gadis bodoh itu menyukai Mark melebihi segalanya, ia terlanjur menaruh hatinya saat kali pertama ia menampar Naeun—hanya karena Naeun menjatuhkan ipodnya. Hal itu membuat seluruh kelas geram, dan sangat kebetulan Eunji membawa banyak telur karena Hyosung berulang tahun. Layaknya drama Dream High mereka melempari Suzy dengan telur. Saat itu Jinyoung tak mempunyai keberanian lebih untuk melindungi Suzy, dan beruntunglah Mark dengan gesit berdiri di depan Suzy hingga telur itu mendarat di dahi Mark. Membuat semua orang terdiam dan bubar seketika.

Berbeda dengan kisah Jinyoung.

Pertama kali Suzy melihatnya, dan tahu namanya. Saat hujan di tahun pertama, ia mencuri payung di loker bernama Park Jinyoung—yang kebetulan Jinyoung lupa menguncinya. Jinyoung tahu dan meneriakinya seperti orang gila. Tapi gadis itu keras kepala, ia malah berlari menerjang hujan tanpa membuka payungnya. Opsi pertama yang ingin Jinyoung lakukan adalah menyeret gadis itu, namun niatnya berubah setelah melihat Suzy memberikan payungnya pada seekor kucing dalam kardus dan membiarkan dirinya berlari basah kuyup.

Ia cukup tahu diri ada perbedaan kentara antara dirinya dan Mark perihal kesan pertama.Jinyoung tahu bahwa segalanya akan berakhir bertepuk sebelah tangan.

Tapi bodohnya ia masih berdiri di sisi si gadis tak peka itu yang malah memilah mengejar Mark.

Well cukup sampai di titik ini, ia bermelodrama. Ia tak mau otaknya berpikir untuk melompat dari atap sekolah hanya karena gadis bodoh semacam Suzy. Lagipula, ada audisi drama musikal modern yang harus diikutinya.

Setidaknya ia mampu menjadi fake pangeran di serial Cinderella. Ugh kenapa ia benci dengan judul itu.

Tak mau berlama-lama memikirkan tentang ‘kenapa-harus-cinderella’ Jinyoung bergegas, ketika melihat arlojinya menunjuk angka sembilan. Sial! Ia benar-benar sudah terlambat!

“Sial! Kenapa sudah banyak sekali orang.”

Lagi-lagi Jinyoung menggerutu melihat antrean panjang di depan aula.

“Bukankah itu Suzy? Eyy~ sepertinya dia benar-benar bernafsu menyingkirkan Naeun. Bagaimana mungkin dia yang muncul ketika nama Naeun yang disebut?”

Alis Jinyoung menyatu. Apa Suzy membuat masalah lagi? Benar-benar lagi?

“Permisi. Permisi. Permisi.”

Yaa!! Kau harus antri! Kau tidak boleh masuk tanpa nomor antrian Yaa!!”

Tak ada waktu mendengarkan Namjoon, atau sekadar melirik para antrean yang terlanjur kesal padanya. Ia hanya peduli dengan—yeah, satu gadis menyebalkan di sana. Berdiri di atas panggung dengan mic di tangan kanannya.

“Aku ingin bertukar nomor antreandengan Naeun. Dia setuju.”

“Tapi—“

“Aku akan menyayikan lagu So many tears, Ost Me too flowers.”

Dentingan piano milik Youngjae mengawali segalanya, Suzy—gadis itu memejamkan matanya dalam tiga sekon. Setelahnya suaranya telah bergumul dengan nada yang di mainkan Youngjae. Inilah Suzy sebenarnya, tak akan ada yang mampu menghujatnya tatkala ia bernyanyi, kendati ada ribuan tahun dendam yang dipelihara seseorang. Dia menjadi angsa ketika bernyanyi karena gadis kasar itu—menggunakan hatinya.

Setelah Suzy merampungkan nyanyiannya. Semuanya bertepuk tangan, namun hanya sekejab. Karena setelahnya atmosfer telah berubah tajam, Jinyoung mampu merasakannya. Setelah ini Suzy mungkin akan menjadi seorang penjahat lagi.

“Ah selamat! Kau sudah mengurangi poin Naeun. Tidak bisa menjadi cinderella dalam kehidupan nyata, sekarang kau berambisi menjadi fake cinderella?” ujar Ahrin setelah Suzy turun dari panggung.

“Memangnya ada yang salah?” tukas Jinyoung tak suka sembari menghampiri Suzy, Ahrin, dan Chaerin.

“Kau tidak tahu? Di peraturan jelas tertulis. Jika bertukar nomor ujian, poin akan dikurangi bagi mereka yang pertama dipanggil. Seperti kau tahu Suzy melakukannya saat nomor antrean Naeun. Jadi poin Naeun akan di potong 10.”

“Kenapa kalian tak menanyakannya ke Naeun lebih dahulu?” Semua mata mengalihkan fokusnya pada arah barat daya. Si kembar Ahrin dan Chaerin hanya mampu membeku.

Jinyoung tertawa hambar. Ia tak tahu mantra apa yang dikuasai Mark, hingga lelaki itu mampu mengontrol seluruh siswa di SOPA.

“Itu Naeun,” teriak Chaerin sembari menunjuk pintu depan aula. Di sana ia tengah berdiri mematung tatkala Chaerin menunjuknya dengan jemari telunjuk. Kondisinya buruk dengan make-up luntur dan hampir basah kuyup.

“Apa ini giliranku?” tanyanya tatkala melihat beragam tatapan menghujamnya.

“Dia tidak pernah setuju ‘kan? Kau benar-benar memalukan,” tutur Ahrin jijik.

“Kau benar. Aku memang sengaja melakukannya, aku tidak mau peran cinderella jatuh ke tangannya. Aku ingin peran itu. Apapun yang terjadi!!”

Jinyoung tahu Suzy berbohong!! Ia tahu!!

“Suzy-ah hentikan.”

“Untuk apa? Aku memang menyiramnya dengan air. Sehingga aku bisa menyingkirkannya. Berhentilah berpura-pura baik padaku, kau tahu kau menjijikan.”

“Suzy-ah.”

Jinyoung tahu, sekejam apapun dia. Tak sekalipun Suzy berani berkata tajam pada Jinyoung dengan mimik seserius itu.

“Jangan lagi mencampuri urusanku Jinyoung-ssi,” ucap Suzy tajam.

Uhm—maaf. Kau bilang Naeun setuju tapi—“

“—Aku tahu. Aku didiskualifikasi ‘kan? Sebelum kau mengatakannya aku keluar. Siapa yang mau ikut dalam drama membosankan cinderella. Apa dalam otak kalian cinderella selalu baik hati? Bacalah versi aslinya. Lagipula siapa yang memilih kalian menjadi jurinya? Sangat tidak elit.”

Yaa! Berani seklai kau pada sunbaemu!! Yaa Bae Suzy berhenti di situ!! Aku bilang berhenti! Kenapa kau terus berjalan?! Yaa!!”

Jackson berteriak-teriak marah melihat kepergian Suzy. Masih kesal, tak mendapat respon ‘sopan’ Jackson melemparkan kertas penilaiannya. “Jangan pernah terima Suzy. Sampai kapanpun.”

“Mark-ssi.” Jinyoung mengikis jaraknya dengan Mark, hingga dirasanya jaraknya tinggal beberapa senti Jinyoung berhenti. Mark—lelaki itu tersenyum tipis sebelum berdiri tegak hingga berhadapan langsung dengan Jinyoung.

“Teman-teman—“ Minyoung—salah satu juri yang kebetulan berada paling dekat dengan keduanya memosisikan dirinya berada di tengah. “—Jangan bertengkar. Ok?”

“Minyoung-ah.” Minyoung berbalik dan menatap rekan sejawatnya Jackson menyuruhnya kembali—dengan gestur tangannya. Ia tahu, mungkin dirinya akan menjadi wasit teraniaya jika keduanya benar-benar melancarkan aksinya.

“Anak-anak—“ Minyoung tertawa hambar “—Jangan berkelahi.” Minyoung berlari kecil mendekati sosok Jackson yang tengah berdiri dengan kumpulan siswa yang entah sejak kapan sudah bergerombol menyaksikan perang mata keduanya.

“Kau—“ Jinyoung pelaku pertama yang menarik kerah seragam Mark dengan kedua tangannya, di susul dengan jemari Mark yang mencengkram erat kerah seragam Jinyoung. “Kenapa?” tanya Mark sinis.

“Jackson-ah, kita harus memanggil saemsekarang juga,” bisik Minyoung histeris.

“Jangan. Ini akan menarik. Kira-kira siapa yang menang ya?”

Minyoung tahu, mengadukannya pada Jackson adalah hal mustahil mengingat Jackson penggila kehebohandan tetek bengeknya.

“Mereka bertengkar hanya karena Suzy?”

“Ugh, gadis itu lagi membuat kerusuhan.”

“Dasar Jalang!”

Jinyoung mampu mendnegarnya, dengusan-dengusan tak suka. Ocehan-ocehan sinis, serta kekehan mengejek yang selalu mampir dalam gendang telinganya. Well, Jinyoung hanya manusia biasa yang—

BUGH

—punya batas kesabaran.

“Kyaaaa!!!”

“Jinyoung-ah!!”

“Mark!! Mark Oppa!!”

Ia berhasil mendaratkan bogem mentah di rahang kiri Mark, membuat lelaki itu tersungkur. Jinyoung menempatkan senyum timpangnya melihat cetakan biru dan segumpal darah di sudut bibir Mark.

“Itu yang ingin kulakukan sejak dulu.”

Yaa!! Kau pikir kau siapa berani memukul—“ ucapan Ahrin terpotong tatkala maniknya tanpa sengaja bersiborok dengan manik Jinyoung. Ia kini tampak lebih menakutkan.

“Minggir.” Secara otamotis Ahrin menyingkir, begitupun seluruh siswa. Mereka membuat jalan untuk Jinyoung tatkala lelaki itu melangkah lebih jauh.

“Apa jika aku memilih semuanya bisa berakhir?”

Langkah Jinyoung terhenti. “Apa maksudmu?” tanya Jinyoung

“Baik. Aku akan memilih.”

Mark bangkit dengan sedikit terhuyung. Ia berjalan santai melewati Jinyoung yang tengah mematri mimik penuh tanya. “Semuanya sudah berakhir, Jinyoung-ah.” Hanya kalimat itu yang mampu didengar Jinyoung tatakala Mark membisikinya sebelum Mark lebih dulu melangkah keluar dari euang aula.

“Ngomong-ngomong dimana Naeun?” tanya Chaerin begitu tak melihat keberadaan Naeun. Biasanya gadis itu selalu bergeming atau setidaknya berbicara gagap jika dirinya dilibatkan mengenai Suzy.

Yaa!! Teman-teman!!” Sejatinya tak ada satu pun siswa tertarik menilik Dongwoon dengan kondisi seragam tak bertata krama dan nafas tak berirama. Namun raut kekhawatiran Dongwoon mengalihkan fokus mereka.

“Ada apa?” Salah satu siswi berinisiatif merespon teriakan Dongwoon

“Naeun—dia—dia—“ Dongwoon tak tahu satu nama yang terlontar darinya mampu membuat semua wajah menghunuskan keingintahuannya padanya. Tapi sialnya! Nafasnya terlalu pendek untuk menempuh beberapameter dari kejadian perkara. Oke! Dia harus bernafas dulu!

“Dia kenapa?!!!” teriak  Sulli—teman sebangkunya—tak sabar.

“Jatuh dari tangga.”

“Apa kau bilang?” teriak Sulli.

“Ya Tuhan.”

Ugh, yeah,” cerca Jinyoung pelan.

“Tidak mungkin.”

“Karena Suzy,” lanjut Dongwoon lagi.

Heh?”  Ina lagi yang memulainya.

“Dia lagi?!!”

“Bad girl kembali berulah.”

What the f—k!!”

Manik Jinyoung melebar, Dongwoon bilang Suzy?“Dimana dia sekarang? Dimana?” Jinyoung sudah berada di jarak terdekat Dongwoon membuat lelaki itu hanya memundurkan langkah sembari menunjuk arah kiri, “Di tangga ke perpustakaan.”

“Dasar wanita jalang! Aku akan membunuhmu.” Sulli adalah perespon pertama yang menunjukannya dengan berlari di susul Jinyoung dan seluruh siswa.

Tak jauh jaraknya memang dari ruang aula, sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk menyaksikan tubuh Naeun yang sedang dilarikan ke UKS oleh siswa yang sudah lebih dulu berada di sana. Jinyoung tak tertarik dengan Naeun, namun ia tertarik dengan tremor yang Suzy tunjukan. Saat itu maniknya kosong hampir dipenuhi air mata, dengan fokus yang ia layangkan pada tangannya.

“Jinyoung-ah,” ujarnya bergetar begitu menyadari kehadiran Jinyoung. “Aku—“ Jinyoung tahu Suzy tak akan setega itu.”—Aku—“ Jinyoung tahu sekejam apapun Suzy ia tak mungkin melakukan kejahatan fisik. “—Aku—“ Jinyoung yakin!! Ia sangat yakin jika Suzy hanya menempatkan dirinya di timing yang salah, ia percaya gadis itu—

“Aku tidak sengaja melakukannya,” ujar Suzy hampir kehilangan nadanya.

Tak ada pergerakan signifikan yang ditunjukan Jinyoung. Ia masih bergeming kaku di posisinya, dengan dua iris melebar. Rahangnya pun kini hampir-hampir jatuh.

“Suzy-ah.”

Jinyoung tahu segalanya tentang Suzy, namun kini Jinyoung sanksi atas apa yang di perolehnya dari hasil observasinya sendiri. Suzy—gadis baik—ugh lucu. Bahkan Suzy hanya sebuah manusia yang terdapat sisi negatif di dalamnya.

Well, Jinyoung kini tahu bagaimana rasanya dikhianati atas perjanjian yang telah di sepakati—terlebih oleh orang yang dicintai.

“Maafkan aku.”

Jinyoung masih mampu mendengar Suzy menangis keras-keras, sekalipun seluruh siswa kini tengah mengulitinya dengan makian. Jadi ini akhir dari kisah si saudara tiri dan lelaki tak bertittle. Huh, klise dan tak berkelas. Dan menjengkelkan. Dan—menyedihkan.

||.||

 

“Aku berpacaran dengan Mark.”

Sewajarnya satu bulan telah berlalu bukan topik itu yang ingin didengarkannya dari Naeun. Bukan pula rona merah yang tercetak di kedua pipinya. Hanya saja sebuah permintaan maaf atau setidaknya ungkapan peduli karena telah berhasil membuat seluruh siswa memandnagnya sebagai saudara tiri sialan yang patut di singkirkan, itulah tujuannya.

 “Tidak perlu merasa kesal. Mark berpacaran denganku hanya ingin menghindarkanmu dari masalah.”

Dua iris hitam Suzy melebar, dahinya berkerut-kerut. Apa itu berarti Mark menyukainya?

“Kau setuju?” satu alis terangkat remeh tatkala Naeun hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sebuah ikatan karena keterpaksaan bukanlah hal yang patut dibanggakan.

“Maaf karenaselalu menempatkanmu sebagai penjahat. Saat audisi itu terimakasih sudah menyelamatkanku. Aku tahu kau berdiri saat waktuku hanya karena ingin menyelamatkanku dari dikualifikasi, karena terlalu lama ke toilet. Tapi karena terlalu gugup aku malah menyemprotkan air ke tubuhku sendiri sehingga membuatmu dituduh yang tidak-tidak. Alasanku menerima cinta Mark karena aku hanya ingin mengakhiri kisah klasik kita. Aku tidak mempunyai keberanian untuk mengakui omong kosongku.” Naeun menghena nafas kasar. “Mark menyukaimu dari awal.”

“Oh iya, saat kejadian di tangga. Itu bukan salahmu, aku terpeleset bukan karena sentuhan tanganmu di bahuku. Lagipula kau belum sempat menyentuhku.”

“Aku tahu seminggu setelahnya.

“Maafkan aku Suzy.” Naeun berbalik dan berlari cepat meninggalkannya beserta angin barat daya yang berhembus. Ini aneh, Mark berpcaran dengan Naeun tapi kenapa hatinya baik-baik saja?

Tidak. Ini salah! Bukan ini yang dimaksudkannya. Ada yang aneh.

“Bukankah dulu aku selalu ingin bunuh diri ketika melihat Mark dan Naeun bersama? Tapi kenapa—”

Suzy yakin bola kasti yang dilempar oleh siswa kelasnya membuat otaknya sedikit bergeser? Oh atau bau busuk sampah yang dijumpainya di pagi hari selama sebulan telah melumpuhkan salah satu sarafnya? Atau karena faktor kesepian hingga membuatnya merasa hambar? Bahkan dengan berita terheboh sekalipun?

“Suzy-ah!”

Suzy berbalik dan mendapati sosok Jinyoung yang hampir mati kehabisan nafas. Detik berikutnya Jinyoung berlari kearahnya dan memeluknya erat. Sangat erat hingga rasanya Suzy ingin menangis.

Tapi kenapa??

Kenapa ia ingin menangis hanya karena dipeluk Jinyoung?

Kenapa ia merasa sangat bahagia hanya karena Jinyoung masih peduli padanya?

Ini aneh. Bukan! Ini salah!! Sangat salah!

“Ada apa?”

“Kupikir kau—“ Isakan Jinyoung melumpuhkan ucapannya di tengah jalan. Membuat Suzy kebingungan setengah mati. Ia yakin di jam pertama Jinyoung masih mengabaikannya dan masih memandangnya jijik. Ia juga ingat Jinyoung sudah tak sudi lagi satu bangku dengannya satu bulan yang lalu dan hari ini tapi kenapa Jinyoung—

“Aku berpikir bahwa kau akan mati bodoh hanya karena Mark dan Naeun.”

Ah! Jadi itu alasannya.

“Aku—aku tidak bisa membiarkanmu pergi sebelum aku mengatakan ‘aku mencintaimu’

Hah?

Suzy yakin otak Jinyoung terbentur sesuatu.

Tapi… kenapa? Rasanya seperti ada kembang api yang meletup-letup di dadanya? Kenapa terasa manis dan menyejukan secara bersamaan.

Jangan-jangan!

Ani. Kau hanya merasa kasihan saja padaku ‘kan?” Yeah Suzy tahu itulah kebenarannya. Meski anehnya hatinya merasakan sakit. Sakit yang sesungguhnya.

“Tatap mataku, jika kau masih menganggapnya candaan.”

“Tapi kau—“

“Aku salah karena lebih percaya pada keadaan ketimbang dirimu. Aku salah karena membuatmu menghadapinya sendiri.“

“Tapi Jinyoung-ah.”

“Kenapa? Kau bukan cinderella dan aku bukan pangeran. Bukankah ini alasan yang masuk akal untuk kita bersama? Tidakkah kau merasa aneh saat aku menjauhimu?”

Suzy berpikir; memang ada yang aneh saat Jinyoung menolak bersiborok dengannya. Ada yang terluka saat Jinyoung tak sudi lagi berada di lingkupnya. Tapi mungkinkah itu?

“Memang. Tapi—“

“Jadi mulai sekarang kita jadian.”

Hah?!!

Yaa!! Park Jinyoung!!”

Terlambat. Jinyoung sudah berlari dan kini tak terlihat lagi.

Mungkin apa yang dikatakan Jinyoung benar. Bukankah ia tak merasakan apapun saat mendengar hubungan Mark dan Naeun?

Jadi ini kisahnya. Saudara tiri dan lelaki tak bertittle.

END

18 responses to “[Writing Fanfiction Contest] Think Again About Cinderella

  1. Suka sma cerita.a author orang yang diangga jahat justru sbenar.a orng yg paling baik
    daebak deh author jjang

  2. Wuahh keren bnget thor,baru kali ini baca ff yg di ambil dr seg saudara tiri dan lelaki tak bertitle..keke~~~~~~~~!!!

  3. Omgggg ini ff daebak bgttt>.<
    Part awal gelisah bgt kalo2 yg jadian markzy, ehh ternyata akhirnya JrZy!!! Ahhh senangnya.. secara saya JrZy shipper berat hehee..
    btw ini ga lebay yaa.. emang ceritanya keren, bahasanya nyaman, trus feel nya kerasa bgt, dan moral value nya ada.
    okee, sekian comment saya. Good job author! Ditunggu ff JrZy nya lagiii hehe:)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s