[Freelance] It Must Be Love Chapter 3

Title : It Must Be Love | Author : @reniilubis| Genre :  Drama, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy

Disclaimer: 

All casts are belong to their self and God

Poster by        : rosaliaaocha@ochadreamstories

Happy Reading^^

Myungsoo memarkirkan mobilnya di halaman rumah mewah itu. Setelah mematikan mesin mobilnya, ia segera turun dari mobilnya tanpa berkata apapun lagi pada Suzy yang masih duduk terdiam di dalam mobil. Suzy yang melihat gerak gerik Myungsoo pun segera turun dari mobil, mengikuti Myungsoo yang kini sedang memencet bel rumah mereka. Tak beberapa lama kemudian, pintu terbuka, dan tampaklah wajah Sungjong disana.

“Hyung, mau apa datang kemari?” tanya Sungjong heran.

“Memangnya—“

“Suzy Noona~~”

Belum sempat Myungsoo membalas perkataan Sungjong tadi, Sungjong sudah memotong perkataannya dan langsung dengan sok ramahnya –menurut Myungsoo – menghampiri Suzy yang berdiri dibelakangnya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah mereka. Detik berikutnya, Myungsoo baru tersadar dia tinggal seorang diri di ambang pintu. Myungsoo mendengus kecil, kemudian masuk ke dalam.

“Eomma~~ mereka sudah datang…..” teriak Sungjong memanggil eomma nya.

“Ah, ne.” Nyonya Kim menghampiri Sungjong dan Suzy ke ruang tamu dan langsung memeluk Suzy.

“Apa kau baik-baik saja? Myungsoo berbuat yang aneh-aneh padamu?” Nyonya Kim langsung membrondong pertanyaan-pertanyaan pada Suzy sambil menatap curiga pada Myungsoo yang masih setia dengan wajah datarnya.

“Ah, eomma tenang saja. Aku baik-baik saja.” balas Suzy yang langsung mengalihkan tatapan Nyonya Kim dari Myungsoo.

“Baiklah karena appa kalian sedang pergi keluar kota, jadi eomma saja yang akan menyampaikan ini.” Nyonya Kim mulai menuju ke topik pembahasan yang menyebabkan Myungsoo dan Suzy datang menemuinya.

“Eomma dan appa akan memasukkan kalian ke Universitas SEOUL. Kami sudah mendaftarkan diri kalian disana dan mulai minggu depan kalian sudah mulai masuk. Bagaimana menurut kalian?” Nyonya Kim memberi jeda sejenak untuk melihat reaksi Myungsoo maupun Suzy.

“Eomma, apa tidak merepotkan? Biar Myungsoo saja yang kuliah.” Suzy membuka suaranya.

“Aniya, kalian harus kuliah bersama-sama. Itu tidak merepotkan sama sekali, Suzy-ya.” balas Nyonya Kim sambil menatap Suzy lembut.

“Bagaimana menurutmu, Myungsoo-ya?” kali ini Nyonya Kim bertanya pada anak sulungnya itu.

“Tidak masalah.” jawab Myungsoo singkat dan terkesan tidak tertarik.

“Hyung~~ ayo bertanding game denganku!” tiba-tiba Sungjong berseru keras memanggil Myungsoo dari lantai 2 rumah mereka. Myungsoo reflek mendongakkan wajahnya melihat Sungjong yang sedang berada di lantai 2. Ia mengangguk sekilas, lalu beranjak menuju lantai 2 dan langsung memasuki kamar Sungjong.

Kini tinggallah Suzy dan Nyonya Kim berdua di ruang tamu.

“Eomma, apa sungguh tidak merepotkan?” kali ini Suzy mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di pikirannya.

“Maksudku, biar Myungsoo saja yang pergi kuliah.” sambungnya.

“Sudah eomma katakan itu tidak apa-apa, kan? Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirkan.” kini tangan mulus Nyonya Kim terulur untuk mengusap rambut panjang Suzy dengan penuh kasih sayang. Ia sungguh menyayangi gadis dihadapannya ini. Ia kemudian tersenyum lembut.

“Apa kau dan Myungsoo baik-baik saja selama tinggal bersama?” tanya Nyonya Kim penuh selidik. Setidaknya dia sedikit khawatir melihat tingkah Myungsoo yang kelewat dingin terhadap Suzy.

“Eomma tenang saja. Kami baik-baik saja.” balas Suzy sambil tersenyum manis.

“Eomma, sebenarnya apa makanan kesukaan Myungsoo?”

“Eh?”

***********

Myungsoo dan Suzy kini telah sampai dirumah yang mereka tinggali berdua. Myungsoo membuka bagasi mobilnya, dan mengeluarkan barang-barang belanjaan yang dibeli Suzy tadi pagi. Suzy berjalan ke arah barang belanjaannya bermaksud untuk membawanya ke dalam rumah mereka, namun sebelum tangan Suzy sempat menyentuhnya, Myungsoo dengan sigap langsung mengangkat barang-barang belanjaan itu dengan kedua tangannya. Suzy tersadar, dan ia cepat menyusul Myungsoo yang kini telah membuka pintu rumah mereka. Dengan langkah yang agak terburu-buru, Myungsoo berjalan ke arah dapur dan meletakkan barang-barang yang ia bawa sedari tadi diatas meja makan. Tanpa mengeluarkan suara apapun, Myungsoo segera bergegas dari dapur dan langsung menuju kamarnya. Suzy yang hendak memasuki dapur berpapasan dengan Myungsoo yang ingin kembali ke kamarnya.

“Gomawo…” ucap Suzy tulus sambil tersenyum manis kepada Myungsoo.

Myungsoo hanya meliriknya sebentar, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.

Senyuman Suzy perlahan hilang dari wajah cantiknya. Dia menghela nafas cukup keras, kemudian menghampiri barang belanjaannya lalu menyusunya ke dalam lemari.

Setelah semuanya beres, Suzy masuk ke kamarnya untuk mengambil handuk yang tergantung dibalik pintu kamarnya, lalu bergegas menuju kamar mandi.

Tepat saat pintu kamar mandi tertutup, Myungsoo keluar dari kamarnya. Ia menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es, dan kembali masuk ke dalam kamarnya.

TING…TONG…

Terdengar suara bel rumah itu, menandakan ada tamu yang sedang mengunjungi rumah mereka.

TING…TONG…

Sekali lagi, bel itu berbunyi.

Myungsoo segera keluar dari kamarnya, melihat ke arah kamar mandi sekilas memastikan Suzy telah selesai mandi apa belum. Dan akhirnya dengan langkah malas Myungsoo menuju pintu untuk membukakan pintu. Sebelum membuka pintu, Myungsoo mengintip dari balik jendela untuk melihat siapa orang yang bertamu ke rumah mereka. Dan matanya membulat sempurna tatkala bola mata hitam kelamnya mengenali sosok yang sedang berdiri tak sabar di depan pintu rumahnya. Myungsoo sedikit panik, dan kepanikannya bertambah 1000 kali lipat saat ia melihat Suzy baru saja keluar dari kamar mandi. Myungsoo dengan cepat berlari menghampiri Suzy yang masih berbalut handuk sebatas dada sampai lututnya, dan menarik tangan Suzy secara paksa lalu mendorong Suzy masuk ke dalam kamar. Suzy yang sedikit heran dengan tingkah Myungsoo akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

“Myungsoo-ya, ada apa? Siapa yang datang?”

“Kau diamlah disini. Jangan mengeluarkan suara sedikitpun. Arraseo?” Myungsoo tidak menjawab pertanyaan Suzy. Ia malah menutup pintu kamar itu lalu menguncinya dari luar.

Suzy yang masih sangat merasa heran dengan Myungsoo, hanya menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Myungsoo itu dengan tatapan penuh tanda tanya.

‘Sebenarnya ada apa? Siapa yang datang’ batinnya dalam hati.

Suzy mencoba menepis pikiran-pikiran aneh yang entah sejak kapan menghampiri otaknya. Ia kemudian berbalik, memandangi kamar itu sejenak, dan……..

…….15 detik kemudian…….

Menyadari sesuatu bahwa……..

“Aku di kamar Myungsoo?!?!” serunya tak percaya.

*

“Aish! Kenapa lama sekali?” gerutu seorang namja manis berpipi chubby itu sambil memandang geram pada Myungsoo yang kini tersenyum kaku pada sahabatnya itu.

“Mianhae, Sungyeol-ah.” cengirnya tanpa dosa.

“Boleh aku masuk? Aku lelah terlalu lama berdiri disini.” cerocosnya sambil melihat ke dalam rumah Myungsoo.

“Ah, silahkan.” ucap Myungsoo mulai deg-degan.

Dalam hati dia selalu berdoa agar Sungyeol tidak mengetahui tentang keberadaan Suzy, dan semua akan baik-baik saja.

Sungyeol langsung menuju ruang tamu, dan duduk disalah satu sofa empuk itu. Myungsoo berjalan ke dapur, mengambil beberapa soft drink untuk diberikan kepada Sungyeol.

“Jadi, darimana kau tahu rumah ini?” tanya Myungsoo membuka pembicaraan.

“Awalnya aku datang ke rumahmu. Namun, eomma mu bilang kau sudah pindah dan memberikan alamat rumahmu ini padaku. Dan aku langsung menuju kesini.” jawab Sungyeol sambil meneguk minuman yang diberikan Myungsoo padanya.

“Ada perlu apa?” tanya Myungsoo lagi.

“Tidak ada. Hanya ingin bertemu denganmu saja.” jawabnya enteng.

“Tapi ngomong-ngomong, untuk apa kau pindah rumah dan tinggal sendiri?” tanya Sungyeol penuh selidik. Dia cukup penasaran juga kenapa Myungsoo memilih pindah rumah.

Myungsoo menelan ludahnya dengan susah payah. Dia bingung harus mengatakan apa pada Sungyeol. Dia terus memutar otak jeniusnya untuk mencari alasan yang masuk akal. Tidak mungkin kan, dia berkata yang sebenarnya pada Sungyeol? Bagaimana reaksi teman-temannya yang lain kalau tahu ia tinggal serumah dengan seorang yeoja? Mau ditaruh dimana wajahnya yang tampan nan rupawan ini?

“Agar lebih dekat saja ke kampus.” jawab Myungsoo akhirnya.

Myungsoo melirik Sungyeol sekilas untuk melihat bagaimana reaksi namja itu.

“Begitu, ya…” tanggap Sungyeol seolah tak acuh.

“Aku ingin berkeliling untuk melihat-lihat rumahmu. Boleh, kan?” Sungyeol bangkit dari duduknya dan mulai berjalan perlahan.

Myungsoo gelagapan, dan sontak ia pun segera berdiri dari duduknya. Keringat dingin pun dengan leluasa keluar dari pori-pori kulitnya yang seputih salju itu.

“Sebaiknya jangan hari ini, Sungyeol-ah. Aku belum membersihkan rumah ini.” ucap Myungsoo bermaksud mencegah Sungyeol untuk masuk ke bagian lebih dalam rumahnya.

“Tidak masalah. Aku hanya ingin melihat-lihat saja.” balas Sungyeol yang tetap melangkahkan kakinya.

Demi apapun, bisakah Myungsoo mengumpat sekarang? Atau membunuh Sungyeol detik ini juga? Kalau ia bisa memilih, ia akan memilih pilihan yang kedua. Myungsoo semakin panik saat langkah Sungyeol kini mulai mendekati kamarnya. Dan Myungsoo dapat melihat dengan jelas kunci kamarnya tergantung dengan indah disana. Dengan cepat, Myungsoo segera berjalan mendahului langkah Sungyeol. Ia mengumpat kecil saat menyadari sesuatu.

‘Aku memasukkan Suzy ke kamarku?!’ teriaknya frustasi dalam hati.

“Bodoh!” desisnya kemudian.

“Apa yang kau katakan?” tanya Sungyeol yang kini tepat berdiri di hadapan Myungsoo.

“Ah, tidak ada.” jawabnya sedikit kikuk.

“Oh iya, bagaimana kalau kita makan malam diluar? Sudah lama kita tidak melalukannya lagi, kan?” tanya Myungsoo mencoba menghasut temannya itu.

“Benar juga. Kenapa tidak kau katakan dari tadi? Ayo.” ucapnya semangat lalu berjalan berbalik arah menuju pintu.

“Ajak juga yang lain.” ujar Myungsoo kalem. Ia sudah merasa lega.

“Ide yang bagus. Aku akan menghubungi Hoya, Niel, Woohyun dan Dongwoo. Kita akan berpesta malam ini!” seru Sungyeol gembira.

Myungsoo hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan Sungyeol. Ia lalu mengunci pintu rumahnya dan segera melesat pergi meninggalkan halaman rumah itu dengan menggunakan mobil mewah Sungyeol.

Dan oh ya. Sepertinya Myungsoo kita melupakan sesuatu. Ckckck~

*

Suzy menghela nafas entah untuk yang keberapa kalinya. Sungguh, ia merasa sangat kedinginan dengan kondisinya yang hanya berbalut handuk. Suzy duduk di kursi meja belajar milik Myungsoo. Sesekali ia mengusap-usapkan kedua telapak tangannya mencoba mendapatkan kehangatan. Ia melihat tempat tidur Myungsoo. Ingin sekali rasanya ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu, lalu membungkus tubuhnya yang kedinginan dengan selimut tebal itu. Namun tentu saja ia tidak melakukan semua itu. Ia tidak akan menyentuh barang-barang milik Myungsoo sedikitpun. Ia tidak mau Myungsoo marah padanya saat mengetahui Suzy menyentuh barang-barang miliknya.

Suzy melihat jam yang ada di meja nakas disamping tempat tidur Myungsoo. Sudah hampir pukul 7 malam. Berarti sudah hampir 2 jam Suzy bertahan dengan kodisinya seperti ini. Hanya berbalut handuk berwarna biru laut miliknya. Suzy sudah sedikit gemetaran menahan dinginnya malam ini. Ia sama sekali tidak mengetahui apa pun yang sedang terjadi diluar sama. Ia menghela nafas lagi, lalu kemudian meletakkan kepalanya di atas meja belajar Myungsoo. Perlahan-lahan mata Suzy sudah mulai tertutup, dan akhirnya matanya tertutup sempurna menandakan bahwa ia sudah tertidur.

**********

“Myungsoo-ya, kapan-kapan boleh aku menginap di rumahmu?” tanya Sungyeol yang sedang fokus mengemudi. Mereka baru saja pulang dari acara ‘pesta’ mereka dan kini Sungyeol sedang mengantar Myungsoo pulang.

“Eh? Ah… boleh. Silahkan saja.” jawab Myungsoo sedikit gugup.

Tak berapa lama kemudian, mereka telah sampai di depan rumah Myungsoo.

“Gomawo, Sungyeol-ah.” ucap Myungsoo sambil terkekeh.

“Ne. Aku akan sering-sering datang kemari.”

Myungsoo hanya tersenyum menanggapinya. Kemudian ia keluar dari mobil Sungyeol dan bergegas memasuki rumahnya setelah Sungyeol pamit pulang.

Myungsoo membuka pintu rumahnya, melirik sekilas pada jam yang tergantung di dinding bercat putih itu.

‘Kenapa rumah masih gelap? Kemana anak itu?’ batin Myungsoo.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam tepat. Ia dengan santainya menuju ke dapur, lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es. Sambil meneguk minumannya, Myungsoo lalu menyalakan lampu dapur, ruang tengah, dan ruang tamu, lalu bergegas menuju kamarnya. Myungsoo melihat sekilas ke arah kamar Suzy, lalu mengedikkan bahu pertanda ia sama sekali tidak peduli pada gadis itu. Ia memutar kunci pintu kamarnya, lalu membukanya dan tanpa menghidupkan lampu kamarnya terlebih dahulu, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur empuknya. Myungsoo memejamkan mata sejenak, lalu tiba-tiba teringat sesuatu kemudian matanya terbuka kembali. Ia buru-buru melihat ke sekeliling kamarnya, dan matanya terhenti pada sosok yang kini tengah tertidur di atas meja belajarnya. Dengan sekali gerakan cepat, Myungsoo bangkit dari posisi tidurnya, langsung berdiri dan dengan cepat menghidupkan lampu kamarnya. Ia mendekati Suzy dan memperhatikan gadis itu dengan teliti.

‘Sial! Kenapa aku melupakannya?’ umpatnya dalam hati.

“Apa yang harus ku lakukan?” gumamnya pelan.

Ia sekali lagi memperhatikan Suzy yang sedang tertidur dengan damainya. Myungsoo sedikit kasihan melihat keadaan Suzy yang hanya berbalutkan handuk. Ia pasti sangat kedinginan. Myungsoo perlahan-lahan mengangkat tangannya bermaksud menyentuh Suzy, memastikan apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak. Namun diurungkannya. Ia menarik kembali tangannya.

Myungsoo bingung harus melakukan apa. Ini semua salahnya dan dia mengakui itu.

“Suzy.” panggil Myungsoo akhirnya sambil mengoyang-goyangkan bahu Suzy pelan.

“Suzy, bangunlah.” Myungsoo sedikit khawatir.

Suzy pun akhirnya terbangun. Ia mengangkat kepalanya dari atas meja belajar Myungsoo, lalu mengerjap lucu sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia terkejut saat matanya menemukan Myungsoo yang kini sedang berdiri dihadapannya sambil memandang dirinya. Ia kemudian melihat keadaan dirinya sendiri, lalu sontak berdiri dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

“Mianhae…” ucapnya dengan nada sedikit bergetar menahan dingin.

Myungsoo dengan cepat mengambil selimut tebalnya lalu memakaikannya di tubuh Suzy. Ia dengan jelas bisa melihat bahwa Suzy benar-benar kedinginan.

“Kenapa kau tidak melakukan sesuatu dan membiarkan tubuhmu seperti ini selama berjam-jam, hah?” Myungsoo bertanya kepada Suzy dengan nada datar, namun penuh dengan penekanan.

“A…aku takut menyentuh barang-barangmu.” Suzy kali ini menunduk, tak berani menatap wajah datar Myungsoo.

Ia tidak tahu apakah Myungsoo sedang marah padanya atau tidak. Ayolah… ia selalu berwajah datar, jadi siapa yang bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya?

Myungsoo terdiam sambil tetap memandangi Suzy yang kini tengah menundukkan kepalanya dihadapannya.

“Sebaiknya aku kembali ke kamarku.” ucap Suzy akhirnya dengan nada pelan dan sedikit bergetar. Setelah ia meletakkan selimut Myungsoo di kursi, ia langsung bergerak melangkahkan kakinya keluar dari kamar Myungsoo.

Myungsoo hanya menatap punggung Suzy yang kini telah menghilang di balik pintu. Kemudian ia keluar kamarnya dan menuju dapur, lalu membuat segelas teh hangat bermaksud memberikannya pada Suzy. Myungsoo menunggu beberapa menit sampai ia rasa Suzy telah selesai memakai baju, lalu ia bergegas menuju kamar Suzy.

Tokk…tokk…..

Myungsoo dengan perlahan mengetuk pintu kamar Suzy.

Tidak perlu menunggu waktu lama, Suzy kini telah membukakan pintu. Suzy mengernyit, sedikit heran dengan Myungsoo yang tiba-tiba saja datang ke kamarnya.

“Kau sudah lapar? Aku akan menyiapkan makan malam.” sebelum Suzy sempat melangkahkan kakinya, Myungsoo sudah terlebih dahulu menghalangi jalan Suzy.

“Boleh aku masuk?” tanya Myungsoo tanpa mempedulikan perkataan Suzy.

Suzy yang sedikit bingung dengan sikap Myungsoo hari ini, hanya mengangguk saja, lalu mengikuti langkah Myungsoo yang kini telah memasuki kamarnya.

Myungsoo lalu mendudukkan dirinya di sebuah kursi meja rias Suzy, sedangkan Suzy masih berdiri di dekat Myungsoo.

“Ya, duduklah.” seru Myungsoo yang melihat Suzy masih berdiri disampingnya.

Suzy yang menyadari teguran Myungsoo langsung saja menurutinya dan ia duduk di tepi ranjangnya.

“Minumlah.” ucap Myungsoo sambil memberikan segelas teh hangat yang ia buatkan tadi kepada Suzy, ya tentu saja dengan ekspresi datarnya.

Suzy tampak ragu untuk menerima teh panas yang disodorkan Myungsoo kepadanya, tapi akhirnya ia mengambilnya juga.

“Gomawo…” katanya sambil tersenyum manis, lalu meneguk teh yang diberikan Myungsoo.

“Ah, sebaiknya kau tunggu disini. Aku akan keluar sebentar.” ucap Myungsoo lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Suzy.

“Mau kemana?” tanya Suzy takut-takut.

“Kau disini saja. Dan jangan kemana-mana, aku akan segera kembali.” seperti sebuah nada perintah, Myungsoo akhirnya keluar lalu menutup pintu kamar Suzy.

Sedangkan Suzy masih terdiam sambil menatap pintu kamarnya yang baru saja ditutup oleh Myungsoo. Ia sedikit terpesona dengan sikap Myungsoo hari ini, yang sudah mulai berubah dari sikapnya sebelumnya. Suzy mengukir senyum manis diwajahnya, lalu menghabiskan sisa teh yang masih ada di dalam gelasnya. Sesekali Suzy tampak merapatkan jaket yang sedang ia pakai pada tubuhnya. Entah kenapa malam ini Suzy merasa hari semakin dingin. Ia kemudian menatap keluar jendela. Menatap beberapa bintang yang ada di langit sana, yang menurutnya sangat indah mengingat hari ini hatinya sedang berbunga-bunga.

-15 menit kemudian-

Suzy menatap ke arah pintu kamarnya dan melihat Myungsoo kini sedang berjalan ke arahnya sambil membawa nampan berisi piring dan segelas air putih. Suzy mengernyit heran saat ia menatap wajah tampan Myungsoo, tapi Myungsoo malah menunjukkan ekspresi datarnya seperti biasa.

“Kau pasti lapar.” suara Myungsoo menyadarkan Suzy yang masih setia memandangi wajahnya. Myungsoo kemudian meletakkan nampan yang ia bawa tadi di atas meja rias Suzy, lalu memberikan sepiring nasi kepada Suzy.

“Makanlah.” lanjutnya sambil menyodorkan piring itu ke hadapan Suzy, dan langsung diterima Suzy dengan senang hati.

“Kau tidak makan?” tanya Suzy akhirnya.

“Aku sudah makan.”

Suzy perlahan-lahan menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya sendiri tanpa berhenti tersipu malu ketika Myungsoo malah memandanginya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sesekali ia melirik ke arah Myungsoo yang masih memandanginya, dan rona merah langsung menjalar memenuhi wajahnya ketika tidak sengaja matanya dan mata Myungsoo saling bertemu.

‘Ku rasa dia memang sedang sakit.’ batin Myungsoo dalam hati.

“Mianhae.” singkat dan jelas, Myungsoo melontarkan kata ‘maaf’ itu kepada Suzy, dengan mata tetap fokus menatap wajah cantik Suzy.

“Eh?” heran Suzy. “Minta maaf untuk apa?” sambungnya.

“Eum… untuk kejadian yang tadi sore.” jawab Myungsoo.

“Ah, itu tidak masalah.” cengir Suzy. Ia kemudian mengambil gelas yang terletak di atas mejanya, meminumnya terburu-buru bermaksud untuk menghilangkan rasa gugupnya.

Kenapa ia begitu gugup? Entahlah, ia juga tidak tahu. Ia selalu merasa gugup bila sedang berhadapan dengan seorang Kim Myungsoo.

Suzy lalu meletakkan piringnya yang sudah kosong ke atas meja, kemudian menatap Myungsoo lagi.

“Kenapa kau masih disini?” tanya Suzy. Itu pertanyaan yang mengganjal pikirannya sedari tadi.

“Aku menunggumu hingga tertidur.” dan jawaban itulah yang sukses membuat wajah Suzy yang awalnya memang sudah memerah, kini bertambah merah lagi karena tersipu malu atas jawaban Myungsoo barusan. Ia sangat senang. Ia yakin wajahnya kini sudah semerah tomat. Bahkan ia tak sanggup untuk membalas perkataan Myungsoo tadi saking gugupnya. Jantungnya berpacu lebih cepat dari yang biasanya. Ia kemudian menundukkan wajahnya, tak sanggup menatap wajah Myungsoo lebih lama lagi.

“Baiklah, sebaiknya kau tidur.” ucap Myungsoo akhirnya, memecah keheningan diantara mereka.

“Ne…” jawab Suzy pelan nyaris tak terdengar.

Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, lalu menarik selimut tebalnya menutupi tubuhnya. Ia menatap Myungsoo lagi dengan rona merah masih setia menghiasi wajah cantiknya.

“Gomawoyo, Myungsoo-ya.” ucap Suzy tulus lalu buru-buru mengalihkan tatapannya dari wajah Myungsoo.

“Hm.”

Setelah memastikan bahwa Suzy sudah benar-benar tertidur, Myungsoo bergegas keluar dari kamar Suzy menuju kamarnya sendiri. Setelah menutup pintu kamar Suzy dengan gerakan sepelan mungkin, Myungsoo menghela nafas panjang. Ia kemudian tersenyum— bukan, itu bukan senyuman. Melainkan sebuah seringaian.

T

B

C

62 responses to “[Freelance] It Must Be Love Chapter 3

  1. Mwoya …. Menyeringai …. Aish … Solma myungsoo itu bipolar …..
    Sooji trapped with a myungster …. Myung monster … Astejong

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s