[Freelance] New Destiny Chapter 5

New Destiny 3 poster

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

….

Joseon, 1365

“Letakkan surat ini di bawah tempat tidur Putri Mahkota dan buat seolah-olah surat ini ditinggalkan oleh Putri Mahkota sendiri karena Ia melarikan diri.”

Seorang dayang terlihat celingukan di sekitar kediaman Ibu Suri Park. Matanya menatap sekeliling berharap tidak akan ada yang melihatnya berkeliaran di istana.

Dayang itu adalah salah satu dari dayang-dayang Putri Mahkota yang harus dipulangkan mengingat Putri Mahkota saat ini belum juga diketahui keberadaannya. Nama dayang tersebut adalah Oh Hayoung.

Dayang bertubuh tinggi itu kembali melangkahkan kakinya saat dirasanya tak ada siapapun. Ia kemudian segera melangkahkan kakinya menuju ke kediaman Putri Mahkota sesuai yang diperintahkan Ibu Suri Park padanya.

 

Langkah kakinya tergopoh-gopoh hingga tubuhnya mencapai pintu kamar Putri Mahkota. Ia berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang sekaligus menghilangkan kegugupannya. Diraihnya gagang pintu lalu dibukanya perlahan.

Cklek.

“Omo!”

Hayoung membulatkan matanya saat melihat seorang pemuda tengah entah melakukan apa di dalam ruangan itu. Dilihatnya pemuda itu yang tak kalah terkejutnya dengan dirinya.

“Anda… siapa?” tanya Hayoung.

….

Hayoung terlihat bingung. Ia sekarang tengah berada di dalam kamar Putri Mahkota setelah berbohong pada pemuda tadi – yang mengaku merupakan pengawal pribadi Putra Mahkota, Kim Myungsoo – kalau kantungnya terjatuh di kediaman Putri Mahkota. Kini di tangan Hayoung tersemat secarik surat yang tadi di berikan Ibu Suri Park. Hayoung melirik ke arah tempat tidur Putri Mahkota.

“Letakkan surat ini di bawah tempat tidur Putri Mahkota dan buat seolah-olah surat ini ditinggalkan oleh Putri Mahkota sendiri karena Ia melarikan diri.”

Hayoung pun mendekati alas tidur Putri dan membukanya. Setelah meletakkan surat tadi di bawah tempat tidur, Hayoung pun beranjak berdiri. Namun, sejenak kemudian Ia berhenti. Ia kembali menatap alas tidur Putri.

“Bukannya pengawal tadi sedang mencari sesuatu di kamar ini? Kalau Ia tiba-tiba menemukan surat ini di sini padahal tadi tidak, bisa-bisa pengawal itu mencurigaiku,” gumam Hayoung.

Ia pun kembali membuka alas tidur Putri Mahkota dan menyimpan kembali suratnya. Karena takut meninggalkan jejak, Hayoung pun merapikan alas tidur Putri Mahkota sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.

“Semoga pengawal itu tidak curiga padaku,” kata Hayoung dalam hati.

….

Pagi berganti siang dan siang pun berganti malam. Matahari yang tadi pagi berada di ufuk timur kini perlahan kembali ke peraduannya. Berkas-berkas sinarnya masih nampak di angkasa hingga menimbulkan semburat kejinggaan.

Di sebuah bangunan yang terletak di kawasan istana, seorang wanita tua tengah meminum tehnya sambil menatap tajam perempuan berpakaian dayang di hadapannya. Perlahan Ia letakkan cangkir teh di atas meja masih dengan mata yang menatap lurus si dayang.

“Apa kau sudah meletakkan surat itu di kamar Putri Mahkota?” tanya si wanita tua yang tak lain adalah Ibu Suri Park.

Terlihat sorot keraguan terpancar dari mata si dayang. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap wanita tua di hadapannya.

“Aku tidak berbicara dengan patung,” tukas Ibu Suri Park.

Jwesonghamnida, Mama,” ucap Hayoung, dayang tersebut. Dengan ragu Ia mulai membuka mulutnya untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Ibu Suri. “Saya belum bisa melaksanakan perintah Anda, Mama.”

Kedua bola mata Ibu Suri Park melebar, lalu menatap Hayoung semakin tajam.

“Apa maksudmu belum? Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar?” bentak Ibu Suri Park.

Hayoung semakin menundukkan kepalanya. Ia terlalu takut untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ibu Suri. Namun Ia lebih takut lagi pada kemarahan wanita itu jika Ia tak segera menjawabnya.

Hayoung pun menjawab, “jwesonghamnida, Mama. Saya tidak melakukannya karena saat itu ada pengawal pribadi Putra Mahkota di sana. Saya takut jika saya melakukannya akan membuat pengawal itu curiga.”

Salah satu alis Ibu Suri Park terangkat bersamaan dengan senyum sinis yang terukir di bibirnya. Ia kemudian menatap Hayoung. “Kau benar. Rencanaku untuk membuat Putra Mahkota berpikir bahwa Putri Mahkota pergi karena melarikan diri akan gagal jika Pengawal Kim memergokimu saat itu,” kata Ibu Suri Park.

Ia kemudian kembali menyesap tehnya.

“Dayang Oh Hayoung, kurasa aku akan membatalkan tugas ini karena aku mempunyai rencana lain,” kata Ibu Suri Park sambil menyunggingkan senyum penuh artinya, “dan kau.. sebaiknya kau pulang karena hari mulai malam,” lanjutnya.

Ne, Mama.”

Setelah Hayoung meninggalkan ruangannya, senyum yang terukir di bibir Ibu Suri Park berubah menjadi senyuman yang sinis bersamaan dengan tatapannya yang semakin tajam.

“Dayang Song!” panggil Ibu Suri Park pada dayangnya.

Seorang dayang paruh baya dengan hanbok berwarna hijau memasuki ruangan Ibu Suri Park. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya. “Ne, Mama…” jawabnya.

“Beritahu pada Yang Mulia Raja dan juga Putra Mahkota untuk menemuiku sekarang. Aku ingin membicarakan masalah pemilihan Putri Mahkota yang baru.”

Ne, Mama.”

….

“Apa? Pemilihan Putri Mahkota akan dipercepat?”

Kasim Hong menganggukkan kepalanya saat Myungsoo mengulangi lagi apa yang Ia katakan pada pemuda itu sebelumnya.

Myungsoo yang berniat akan menemui Putra Mahkota menjadi terkejut saat mendengar perkataan Kasim Hong yang mengatakan bahwa pemilihan Putri Mahkota akan dilakukan sesegera mungkin atas permintaan Ibu Suri.

“Apa memang harus secepat itu, Kasim Hong?” tanya Myungsoo.

Kasim Hong hanya mengedikkan bahunya.

“Berarti Putra Mahkota tak ada di kediamannya saat ini?”

Kali ini Kasim Hong menganggukkan kepalanya.

Myungsoo kembali berpikir. Jika pemilihan Putri Mahkota akan segera dilaksanakan, itu berarti waktu yang Ia punya untuk mencaritahu keberadaan dan penyebab hilangnya Putri Mahkota juga hanya sebentar.

“Aishh.. kenapa pemilihannya cepat sekali!” gerutu Myungsoo.

Karena merasa tak ada yang bisa Ia lakukan di istana saat itu mengingat Putra Mahkota juga sedang tidak ada di tempat, Myungsoo pun berpamitan pada Kasim Hong untuk segera kembali ke rumah.

….

Seorang pemuda tengah sibuk melihat-lihat berbagai macam perhiasan untuk wanita yang dijual di pasar. Ia memang berencana untuk membelikan sesuatu sebagai hadiah ulang tahun adiknya.

Ahjussi, aku ambil yang ini,” kata Myungsoo sambil menunjuk sebuah jepit rambut merah muda berbentuk bunga.

Setelah mendapatkan barangnya, Myungsoo pun segera melangkahkan kakinya menuju rumah. Ia tak sabar untuk memberikan hadiah itu pada Sohyun, adiknya yang Ia tebak pasti akan kegirangan saat menerimanya.

Bruk!

Jwesonghamnida.”

Myungsoo menundukkan tubuhnya sedikit saat tak sengaja tubuhnya bertabrakan dengan seorang gadis. Ia kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Namun, sedetik kemudian langkah kakinya kembali berhenti saat Ia menyadari sesuatu.

“Suara gadis itu… mirip sekali dengan dayang yang tak sengaja bertemu denganku di kediaman Putri waktu itu,” gumam Myungsoo.

Sejurus kemudian Myungsoo pun membalikkan tubuhnya dan segera membuntuti gadis yang diduganya adalah si dayang Putri Mahkota. Langkah kaki Myungsoo terus mengikuti pergerakan dayang itu hingga tiba-tiba gadis itu masuk ke sebuah rumah.

“Apa ini rumah dayang itu?” batin Myungsoo bertanya-tanya.

Karena merasa sudah sore, Myungsoo pun mengurungkan niatnya untuk langsung menemui dayang tersebut. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah itu keesokan harinya. Myungsoo pun bergegas kembali ke rumah saat mengingat hadiah yang akan Ia berikan pada Sohyun, tanpa menyadari ada seseorang dengan pakaian hitam-hitam tengah mengamatinya dengan tajam.

….

Keesokan harinya.

Orabeoni mau kemana?” tanya Sohyun saat melihat kakaknya bersiap-siap untuk pergi padahal hari masih begitu pagi.

Myungsoo tersenyum simpul sambil mengelus puncak kepala adiknya. “Orabeoni harus melakukan sesuatu, Sohyun-ah,” jawab Myungsoo masih dengan seutas senyum terlukis di bibirnya.

Sohyun merengut kesal karena rambutnya yang kini menjadi berantakan. “Apa masalah Putra Mahkota lagi?”

Eoh, kau tentu tahu jawabannya. Orabeoni pergi dulu,” pamit Myungsoo.

“Hmm.. hati-hati.”

Myungsoo pun bergegas menjauh dari rumahnya dan menuju sebuah rumah yang baru saja diketahuinya sebagai rumah milik dayang Putri Mahkota yang dicurigainya. Tak lama Myungsoo pun sampai di depan rumah itu. Namun, ada sesuatu yang aneh. Rumah itu terlihat lebih sunyi seolah tak ada kehidupan di dalamnya.

Tiba-tiba seorang pemuda berpakaian hitam-hitam melompati pagar rumah itu lalu dengan terburu-buru menjauhi rumah tersebut beserta Myungsoo yang masih terpaku.

“Siapa pemuda itu?” gumam Myungsoo.

“Aku yakin ada seseorang dibalik ini semua.”

Kedua bola mata Myungsoo sontak membulat saat sebuah suara yang sudah amat dihafalnya terngiang-ngiang di telinganya. Suara Putra Mahkota.

Tiba-tiba saja perasaan Myungsoo menjadi tidak enak. Ia pun bergegas memasuki kediaman dayang Putri Mahkota tersebut yang anehnya masih tertata rapi seolah tidak terjadi apapun. Myungsoo pun mengetuk pintu rumah si dayang.

“Permisi!” teriaknya.

Namun hingga berkali-kali Ia berteriak, tak ada satupun yang membukakan pintu. Karena tak sabar lagi, Myungsoo pun mendobrak pintu tersebut. Betapa terkejutnya Ia saat dilihatnya seorang gadis tergeletak di hadapannya dengan tubuh yang bersimbah darah.

Myungsoo pun mendekati gadis tersebut yang tak lain merupakan dayang Putri Mahkota yang dicurigai Myungsoo.

“Sial! Pemuda tadi pasti yang membunuh dayang ini karena aku mulai mencurigainya.”

Mata Myungsoo terarah pada si dayang yang kini telah mati terbujur kaku. “Maafkan aku. Kalau bukan karena aku mencurigaimu, kau pasti tidak akan meninggal seperti ini,” kata Myungsoo, “tapi dengan perginya dirimu semakin membuatku curiga bahwa ada seseorang dibalik menghilangnya Putri Mahkota.”

“Sekali lagi, maaf..”

….

Di sebuah tempat di salah satu sudut Joseon, seorang gadis terbaring lemah dengan mata tertutup rapat. Hanbok yang dipakainya terlihat acak-acakan. Rambutnya pun sudah tak serapi sebelumnya. Sedangkan di sampingnya, seorang gadis yang lain juga masih memejamkan matanya tanpa ada tanda-tanda akan terbangun.

Suzy dan Krystal.

Sebuah kejadian aneh yang baru saja mereka alami membawa mereka ke suatu tempat dan juga waktu yang bahkan tak pernah sekalipun mereka mimpikan. Dinasti Joseon.

Perlahan salah satu dari kedua gadis itu menggerakkan jemari tangannya bersamaan dengan kelopak matanya yang terbuka. Manik matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memindai setiap sudut ruangan tempat Ia berada.

“Dimana ini?” gumam Suzy – si gadis yang baru saja membuka matanya – sambil membangunkan tubuhnya. Keningnya mengernyit heran saat melihat benda-benda yang ada di ruangan itu. Benda-benda yang berbeda dengan yang Ia lihat beberapa waktu yang lalu di ruangan yang sama.

Ia kemudian memalingkan pandangannya ke samping begitu menyadari ada orang lain selain dirinya di ruangan itu.

Omo.. Krystal-ah!” pekik Suzy.

Suzy menggerakkan tubuhnya mendekati Krystal yang masih terbaring dengan mata terpejam rapat. Ditepuknya pelan pipi gadis itu. “Krystal-ah, ireona,” ucapnya. Namun yang dibangunkan tak kunjung membuka matanya.

Suzy pun mulai panik. Diguncangkannya lagi tubuh Krystal, namun tak ada gerakan. Tubuh gadis itu tergolek lemah.

“Krystal-ah, ireonaottokhae?”

….

Howon menatap  kesal para orang tua di hadapannya. Neneknya, ayahnya, juga ibunya. Ia kesal pada neneknya yang dengan semena-mena menyuruh Raja segera mengadakan pemilihan Putri Mahkota yang baru. Ia kesal dengan ayahnya yang tak bisa menolak permintaan neneknya. Ia juga kesal pada ibunya yang merupakan orang tertinggi di istana dalam namun tak dapat melakukan apa-apa.

Abamama, aku tidak mau Soojung-ku diganti dengan orang lain,” kata Howon.

Ibu suri Park yang mendengar perkataan Howon hanya tersenyum sinis. “Soojung-mu itu sudah pergi, Wangseja. Dia tidak akan kembali karena dia tidak mencintaimu.”

Howon menahan gejolak panas yang terus memaksa untuk keluar. Tangannya mengepal kuat, tatapannya lurus menatap ibu suri Park dengan tajam, sedangkan rahangnya telah mengeras sedaritadi.

Desisan kesal keluar dari bibir Howon, “dia mencintaiku, Nenek!”

….

Suzy tak tahu harus bagaimana. Krystal tak kunjung bangun. Tubuhnya justru semakin lemah. Ia pun beranjak keluar dari ruangan tempatnya berada itu, berharap dapat menemukan seseorang yang dapat membantunya.

Kosong.

Tak ada satupun orang yang berlalu lalang. Tentu saja membuat Suzy mengernyit heran karena beberapa waktu yang lalu, istana masih dijejali orang-orang yang ingin menonton Joseon’s Festival.

“Kemana perginya orang-orang?” gumam Suzy.

Ia terus berjalan kesana-kemari. Istana terlihat begitu sepi sore itu.

Ottokhae? Aku harus mencari bantuan dimana?”

….

Myungsoo mengayunkan kakinya memasuki istana. Seperti biasa, Ia harus melaporkan hasil dari penyelidikannya tentang menghilangnya Putri Mahkota. Kejadian terbunuhnya dayang istana yang diduganya sebagai salah satu dayang mata-mata tentunya sangat mengejutkan bagi Myungsoo. Dan Ia harus segera melaporkan hal ini pada Putra Mahkota.

Langkah kaki Myungsoo terhenti saat melihat seorang gadis yang tampak tak asing di matanya. Gadis dengan hanbok yang terlihat acak-acakan itu terus berjalan tak tentu arah. Bahkan Myungsoo yakin gadis itu tak menyadari keberadaannya.

Perlahan kaki Myungsoo bergerak mendekati gadis itu.

“Hei..”

Gadis itu menoleh, dan terkejut. Lebih terkejut lagi saat Ia merasa tak asing pada pemuda di hadapannya. Gadis itu adalah Suzy.

“Kau… bukankah kau yang waktu itu pingsan di bangunan istana?”

Myungsoo menatap gadis itu bingung karena Ia juga merasa tak asing pada Suzy. Sejurus kemudian kedua matanya membulat saat teringat seorang gadis aneh yang masuk ke dalam mimpinya saat itu.

“Eoh.. kau…”

“Tolong bantu aku… temanku pingsan di dalam sana dan tak kunjung bangun. Aku mau mencari bantuan tapi tak ada orang sama sekali. Hanya kau.”

Sejujurnya Myungsoo tak begitu mengerti apa yang dibicarakan Suzy. Namun Ia tetap mengikutinya saat gadis itu menuntun dirinya menuju kediaman Putra Mahkota, membuat kebingungan semakin menyelimuti otak Myungsoo.

“Apa temanmu ada di dalam sana?” tanya Myungsoo sambil menunjuk bangunan di hadapan mereka. Suzy mengangguk.

“Ayo masuk!”

Myungsoo kembali mengikuti Suzy yang kini telah memasuki ruangan putra mahkota dengan santainya bahkan tanpa meminta izin. Dengan sedikit ragu Myungsoo melangkahkan kakinya memasuki ruangan putra mahkota dan tak lupa menutupnya.

Seketika pupil Myungsoo melebar melihat seorang gadis tergolek lemah di tengah ruangan itu. Didekatinya Krystal – si gadis yang tengah tergolek – dan semakin terkejutnya dirinya saat matanya melihat wajah Krystal.

“Putri Mahkota…” gumamnya.

Mwo?”

Tiba-tiba Myungsoo memutar tubuhnya menghadap Suzy. “Kau.. siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa bersama Putri Mahkota?” cerca Myungsoo yang tak ayal membuat Suzy kebingungan.

“Putri Mahkota? Apa maksudmu?”

“Jangan bercanda! Dia adalah Putri Mahkota yang menghilang!”

Kali ini Suzy yang terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Myungsoo. Sedetik kemudian mulutnya mengeluarkan kekehan kecil hingga akhirnya meledak menjadi tawa. “Ya.. kau yang bercanda. Putri Mahkota dari mananya? Dia Krystal, temanku.”

Nugu?”

“Krystal!”

“Keuriseutal?” sahut Myungsoo. Suzy membalasnya dengan anggukan.

“Tentu saja. Dia adalah Jung Krystal!”

Isanghane…”

….

Howon melangkahkan kakinya dengan kesal begitu Ia keluar dari kediaman Ibu Suri sedangkan ayahnya masih tinggal disana, berusaha untuk membujuk Ibunya agar mau memenuhi permintaan Howon.

“Aku yakin Abamama tak akan bisa membujuk nenek. Percayalah… bukankah aku benar, Kasim Hong?” tanya Howon.

Kasim Hong menundukkan kepalanya sembari menjawab, “ne, Choha.”

Sekali lagi Howon mendengus kesal. Ia kembali mengayunkan kakinya ke arah kediamannya. Matanya menyipit saat melihat kediamannya kosong melompong. Tak ada satupun dayang istana di depan bangunan tempat tinggalnya.

“Kemana para dayang?” tanya Howon pada Kasim Hong.

“Para dayang tengah dipanggil oleh Ketua Dayang Istana karena akan ada penggantian seluruh dayang secara serentak di setiap istana termasuk dayang di kediaman Anda, Choha,” jelas Kasim Hong.

Howon terdiam. “Apa ini ada hubungannya dengan menghilangnya Putri Mahkota?” batinnya.

Ia kemudian kembali melangkahkan kakinya dan memasuki kediamannya tanpa tahu ada orang lain di dalam kamarnya.

….

Ya! Jangan diam saja! Bagaimana dengan temanku?”

Myungsoo mengalihkan pandangannya pada Suzy yang masih saja berusaha membangunkan Krystal. Manik mata Myungsoo kembali menangkap wajah Krystal. Keningnya mengernyit. Wajah gadis itu… baginya terlalu mirip dengan Putri Mahkota yang hilang. Tapi.. ada yang aneh. Ia merasa ada sesuatu yang janggal.

Ya! Sudah kubilang jangan diam saja! Apa temanku begitu cantik sampai kau terus memandanginya?”

Myungsoo tersentak. “Jwesonghamnida. Lebih baik kita pindahkan dia ke atas tempat tidur dulu agar tak kedinginan,” kata Myungsoo kemudian segera membopong tubuh Krystal ke atas tempat tidur yang tentunya merupakan alas tidur yang dipakai Putra Mahkota.

Ottokhae? Bagaimana kalau Krystal tidak bangun juga? Apa festivalnya sudah selesai?”

Masih menatap Krystal, kini Myungsoo kembali mengalihkan pandangannya pada Suzy.

“Kau… sebenarnya kau siapa?” tanya Myungsoo.

Suzy menolehkan kepalanya lalu menatap Myungsoo. “Aku Bae Suzy. Kau sendiri siapa?”

“Aku Kim Myungsoo. Pengawal pribadi Putra Mahkota Lee Howon.”

Suzy mengernyitkan keningnya. Sedetik kemudian tawanya meledak. “Mwoya? Putra Mahkota Lee Howon? Ya! Apa kau sedang syuting drama? Tingkahmu aneh sekali. Apa kau terobsesi menjadi aktor sageuk, eoh? Kalau kau pengawal Putra Mahkota, maka aku adalah Putri Mahkotanya.”

“Jaga bicaramu! Beraninya kau mengatakan hal kasar seperti itu!”

Suzy mendesis pelan. “Michin saram,” batinnya.

Cklek

Kapjagi!” seru Suzy.

Choha…,” ucap Myungsoo sambil menundukkan kepalanya memberi hormat pada Howon yang tiba-tiba memasuki ruangan bersama Kasim Hong.

Howon mengerutkan keningnya melihat dua orang di hadapannya. Kim Myungsoo dan seorang gadis yang tak pernah dilihatnya – Suzy – tengah menatapnya dengan raut terkejut. Apa yang dilakukan Myungsoo bersama gadis itu di kamarnya? Ah, tunggu! Ada satu orang lagi di sana.

Kedua pupil Howon melebar begitu melihat dengan jelas wajah seorang gadis yang kini tengah terbaring lemah di atas tempat tidurnya.

“Soojung!” seru Howon.

Dengan segera Howon melangkahkan kakinya mendekati tubuh gadis yang Ia panggil Soojung. Diguncangnya perlahan tubuh si gadis namun kedua kelopak mata gadis tersebut tak kunjung terbuka. Kemudian Ia alihkan pandangannya pada Myungsoo dan Suzy yang masih terdiam di tempatnya.

“Kim Myungsoo, dimana kau menemukan Putri Mahkota-ku?” tanya Howon.

“Eung.. itu…”

Chogiyo…” ucap Suzy menyela percakapan kedua orang itu. “Kalau boleh aku tahu, kau siapa?” tanya Suzy pada Howon.

Ketiga orang di hadapan Suzy – termasuk Kasim Hong – terkejut mendengar pertanyaan lancang Suzy. Myungsoo segera menghampiri Suzy dan menarik lengannya. “Choha, biarkan saya membawa gadis ini keluar dan berbicara padanya,” kata Myungsoo.

Howon yang bingung hanya menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menghampiri gadis yang mirip dengan Soojung-nya.

“Soojung-ah…,” panggilnya pelan.

Krystal – yang dikira merupakan Soojung oleh Howon – tak bergeming. Ia tetap terbaring dengan mata tertutup rapat. Hal ini semakin membuat Howon bingung. Tak ayal Ia pun menjadi panik.

“Kasim Hong, panggilkan Tabib Istana!”

Ne, Choha.”

….

Suzy melangkah terseok-seok karena lengannya yang terus ditarik oleh Myungsoo tanpa memedulikan Ia yang kesusahan berjalan.

Ya! Berhenti!” teriak Suzy.

Myungsoo pun menghentikan langkahnya. Ia kemudian membalikkan badannya dan menatap Suzy dengan tajam. “Kau, gadis tidak sopan! Apa kau tidak tahu siapa yang kau ajak bicara tadi? Beraninya kau berbicara lancang seperti itu pada Putra Mahkota!”

Decakan pelan keluar dari bibir Suzy. “Ck, di dunia mana aku berada sekarang? Ya! Mana ada Putra Mahkota di jaman modern seperti ini! Korea Selatan dipimpin oleh presiden, bukan Raja! Kau pikir ini jaman Joseon?”

“Tentu saja ini di Joseon.”

Mwo?”

“Kau bisa saja dihukum mati jika terus bersikap seperti ini. Lebih baik kau pulang ke rumahmu. Hari sudah gelap. Tak baik seorang gadis berkeliaran malam-malam begini apalagi kau berkeliaran di istana,” kata Myungsoo.

Suzy menatap keadaan di sekelilingnya. Benar, sudah gelap. Tapi… dimana orang-orang? Bukankah seharusnya Joseon’s Festival diadakan sampai malam?

Ah, jinjja! Sebenarnya apa yang terjadi? Kemana orang-orang?” gumam Suzy pelan.

“Karena kau diam saja, aku akan mengantarmu pulang. Ayo!” ajak Myungsoo.

Suzy menghentikan langkah Myungsoo seraya melepaskan lengannya yang masih berada di genggaman Myungsoo. “Aku harus pulang dengan temanku. Krystal masih di dalam,” ujar Suzy.

“Dia Putri Mahkota, bukan temanmu yang namanya sulit diucapkan itu.”

“Dia temanku, bukan Putri Mahkota.”

Myungsoo berdecak kesal. Ia kemudian menarik lengan Suzy dan membawanya kembali ke kediaman Putra Mahkota. Keningnya berkerut heran saat melihat seorang tabib istana baru saja keluar dari kediaman Putra Mahkota. Apa Putra Mahkota sakit?

“Kasim Hong!” panggil Myungsoo pada Kasim Hong.

“Pengawal Kim,” sahut Kasim Hong.

Myungsoo menghentikan langkahnya di depan Kasim Hong begitu pula Suzy yang masih mengikuti di belakangnya. “Kenapa ada tabib istana disini? Apa Putra Mahkota sakit?” tanya Myungsoo.

“Bukan Putra Mahkota tetapi Putri Mahkota Jung Soojung,” jawab Kasim Hong.

Mata Myungsoo melirik ke arah Suzy yang tak mengeluarkan suara sedaritadi.

Mwo?” sahut Suzy saat menyadari pandangan Myungsoo yang terarah padanya.

Myungsoo mengalihkan pandangannya pada Kasim Hong yang masih berdiri di hadapan mereka. “Kasim Hong, beritahukan pada Putra Mahkota kedatanganku,” kata Myungsoo.

Ne.”

Suzy memutar bola matanya melihat lengannya yang masih berada digenggaman Myungsoo. Dilepaskannya dengan kasar jemari tangan Myungsoo yang masih bertengger di lengannya.

“Ayo masuk!” ajak Myungsoo begitu Kasim Hong memberinya isyarat untuk masuk ke kediaman Putra Mahkota.

….

Howon tengah menatap Soojung – Krystal – yang masih memejamkan kedua matanya dengan rapat. Kedua tangannya menggenggam jemari tangan kanan Soojung – Krystal – dengan begitu erat.

“Choha, Pengawal Kim ingin menemui Anda.”

Mendengar perkataan Kasim Hong, Howon segera menyuruh Myungsoo untuk masuk ke kediamannya. Tak berapa lama, pintu kediaman Howon kembali terbuka. Myungsoo melangkahkan kakinya memasuki ruangan diikuti Suzy di belakangnya.

Choha,” panggil Myungsoo.

Howon mengalihkan perhatiannya dari Soojung – Krystal – dan menatap Myungsoo dan Suzy yang kini tengah duduk di hadapannya. Kedua matanya teralih pada Suzy yang tak mengeluarkan suaranya sama sekali. Manik matanya menatap tajam gadis itu.

“Kau! Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau berada disini bersama Putri Mahkota tadi? Apa kau yang menculik Soojung-ku?” cerca Howon tiba-tiba membuat kedua orang di hadapannya tersentak karena terkejut.

Ne?” sahut Suzy.

“Kim Myungsoo, apa kau terlibat atas penculikan Putri Mahkota?” tuduh Howon.

Myungsoo membelalakkan matanya. “Tentu saja tidak, Choha. Saya tidak mungkin berani melakukan hal seperti itu.”

“Kalau begitu berarti dia yang melakukannya!”

Myungsoo dan Suzy semakin terkejut mendengar perkataan Howon. Apalagi saat Howon tiba-tiba menyerukan sebuah perintah pada Kasim Hong.

“KASIM HONG! PANGGIL PENGAWAL DAN BAWA GADIS INI KE POLISI KARENA DIA YANG TELAH MENCULIK PUTRI MAHKOTA SELAMA INI!”

Mwo? Aku tidak menculik Krystal!”

Choha….”

“KASIM HONG! CEPAT BAWA DIA!”

Ne, Choha.”

Suzy berusaha memberontak saat tiba-tiba beberapa pengawal kerajaan mencoba menarik dan membawanya keluar dari kediaman Putra Mahkota. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan memohon, berharap pemuda itu menolongnya.

Choha, kurasa ada yang salah-”

“Tidak, Kim Myungsoo. Pasti gadis itu yang telah menyembunyikan Putri Mahkota selama ini,” potong Howon. Ia kemudian menatap tajam Myungsoo. “Dan kau! Jika kau membela gadis itu, aku akan menyuruh pengawal untuk membawamu serta!”

Myungsoo hanya terdiam tak dapat berbuat apa-apa.

Sementara di luar kediaman Putra Mahkota, Suzy terus memberontak agar dilepaskan.

“Lepaskan aku!” teriaknya yang tentu saja tak akan mendapatkan respon yang baik dari para pengawal. Kakinya berusaha menahan agar para pengawal kesusahan membawanya.

“Lebih baik kau berhenti memberontak!” bentak salah satu pengawal.

Seketika Suzy berhenti memberontak. Kedua matanya beralih menatap bangunan di hadapannya. Ia kemudian teringat Krystal yang masih ada di dalam bangunan itu.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Suzy dalam hati.

….

TBC

….

Hai Hai… karena ujian sekolah aku udh selesai, jadi aku kirim skg deh chapter limanya. Sebenernya mau aku kirim besok sekalian pas ultahnya Myungsoo Oppa tapi besok full sibuk dari pagi sampe malem jadi pasti ga sempet ngirim.

Sama makasih buat yg udh nungguin cerita ini. Maaf ya kalo ceritanya jelek dan membosankan. Makasih juga buat komen-komennya. Aku selalu senyum2 sendiri kalau baca komen2 kalian, hihi…

Ah dan juga aku buat cover baru lohh buat ff ini hihi.. aneh ya? Maaf..

Akhir kata, jangan lupa RCL yaaa😀

75 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 5

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s