Sunny Park, Height, You and I

From A Call For A Friend’s Series

sunny-park,-height,-you-and-i-suzy-version

Sunny Park, Height, You and I

 xianara | Bae Suzy / Park Chanyeol | AU, School-life, Fluff, slight!Friendship, very-very crack! | Teen and Up | Vignette | disclaimer: beside the poster and storyline I own nothing. been posted here with different cast(s)|

Another ACFA’s Series : Suzy with Minho *posted in personal’s wp* | Myungsoo | Baekhyun |

March, 2015©

“Park Chanyeol, kamu tambah tinggi ya!”

Pada suatu siang yang terik, aku bergegas menuju sebuah taman di dekat terminal bis pusat kota. Kududukkan bokongku pada sebuah bangku jejer yang kebetulan tak bertuan. Bunyi gemericik air mancur yang menari-nari di hadapanku, ditambah dengan suara kicauan burung yang berasal dari sebuah sangkar raksasa tepat di belakangku seakan menyambut kedatanganku. Suara kondektur bis yang sahut-menyahut untuk memboikot para calon penumpang mewarnai pendengaranku. Bau asap pembakaran bus yang sudah tak layak pakai pun mencemari tulang sinusku. Rupanya, pemandangan nan menakjubkan ini akan menjadi teman santap siangku.

Aku pun segera menarik kotak bekal makan siang yang bersembunyi di dalam ransel berwarna pusat segala warna – menurutku lho ya –, hitam milikku. Meskipun jahitan pada penyangganya sudah mencuat ke sana-sini, aku enggan mendonasikan ransel kesayanganku sejak kelas delapan ini kepada tukang kaleng rombeng yang biasa lewat rumah kontrakan nenekku setiap sebulan sekali. Terlalu banyak memori manis tersimpan di balik resleting tas keluaran brand local ini, alasanku.

Kembali ke acara santap siangku. Kotak belak berwarna hijau tosca itu pun segera kulepas penyegelnya. Wangi tumisan sayur-sayuran sisa semalam pun menguar. Wortel, buncis, paprika, brokoli, beserta sedikit suwiran daging ayam setipis daun pandan yang hanya dibumbui dengan saus tiram dan sedikit kecap manis itu pun berhasil menggoyangkan selera makanku.

Beres. Semuanya sudah siap. Lantas aku pun segera menyuapkan asupan – tidak terlalu – penuh gizi itu ke dalam mulutku yang akan meluncur menuju tenggorokanku dan dengan gerakan peristaltiknya sari-sari makanan itu akan diserap dan diproses oleh organ pencernaan lainnya.

Saat ini pukul dua belas siang. Jamnya makan siang. Pantas saja kesebelasan cacing di perutku sudah meronta minta diberi suntikan makanan sedari aku menumpang bus bercorak hijau daun teratai menuju ke taman di dekat sebuah terminal ini. Rasa penat dan lelah sehabis mengoreksi berlembar-lembar jawaban ujian rupanya menjadi alasan komprehensif mengapa aku merasakan apa yang dirasakan saudara-saudaraku yang kekurangan bahan makanan di jalur Gaza sana, kelaparan.

Kurang dari lima menit bekal makan siangku lenyap dikandaskan rasa laparku. Udara yang panas dan terik seakan menghasutku untuk melepas jaket yang membungkus bagian atas tubuhku, menyembunyikan seragam dengan badge khas SMA Kangdan. Cukup bodoh memang. Di saat musim panas tengah berada di puncaknya, justru aku malah mengenakan pakaian yang menyebabkan kelenjar keringatku semakin banyak. Namun, itulah gayaku. Si gadis jaket, titel yang disematkan teman-teman sekelas waktu SMP kepadaku karena tabiatku yang suka memakai jaket dalam kondisi apapun.

Omong-omong, kalian pasti penasaran kenapa aku bisa berada di taman dekat sebuah terminal sehabis pulang sekolah? Ingin bertemu kekasih. Ck, mengejekku? Walaupun pemandangan di sekitarku kebanyakan didominasi pasangan muda-mudi yang tengah bersantai bukan berarti aku akan menjadi bagian dari mereka juga.

Aku mendapati beberapa pasangan yang memilih pojok dekat dengan sebuah pohon yang rindang yang melindungi mereka dari sengatan sinar matahari. Mendudukan diri dan merapatkan barisan, setelah itu entahlah apa yang akan mereka lakukan.

Sejujurnya, aku di sini akan bertemu dengan teman lamaku. Seorang pria. Namun bukan pujaan hati. Dia adalah teman SMP-ku. Meskipun saat SMA aku dan dia terpisah, bukan berarti hubungan pertemanan aku dan dia akan terpisah juga. Justru dengan adanya jarak yang terbentang, aku dan dia pun semakin dekat. Yap, aku dan dia. Bukan ‘kami’.

Aku memandang pancuran air yang meliuk-liuk di bawah siraman laser ultraviolet dengan khusyuk. Pusatku tidak tertuju pada air mancur itu Kawan, melainkan pada kosakata dan kalimat pembuka yang akan kutembangkan pada temanku itu nanti. Berikut beberapa kandidat yang masuk ke dalam dua besar setelah babak eliminasi – tanpa embel-embel substitusi – sebelumnya.

Usulan pertama, sebenarnya sangat basi dan ayolah! Setiap hari aku dan dia bertukar pesan jadi usulan pertama dicoret saja; “Hai! Lama tak bertemu ya! Bagaimana kabarmu sekarang?”,

Gagasan kedua, uh ini kalau aku mau dilengserkan dari teman curahan hatinya akan kugunakan gagasan ini namun tidak akan pernah kulakukan. Jadi kubuang ke tong sampah dekat bangku taman ini saja; “Jadi, apa ada perkembangan antara kamu dengan si atlit badminton itu?”,

Kesimpulan: kalimat pembukaku tidak ada yang bagus sama sekali. Semuanya payah dan sangat kacangan.

Aku pun meniup sehelai rambut yang mencelos di dahiku. Beginilah, rambut hitam sebahuku ini memang bandel. Setiap kukuncir pasti selalu saja ada helai-helai yang lolos. Jadinya, rambutku berantakan. Tidak mempermasalahkan soal rambut lagi, aku pun merogoh ponsel pabrikan Finlandia berwarna biru gelap yang baru dibelikan nenekku. Bermaksud mengecek pukul berapa sekarang, pasalnya aku adalah orang yang terlalu malas memakai arloji di pergelangan tangan.

Teng! Pukul 12:15 siang!

Kurun waktu janjianku dengan temanku itu adalah jam segitu. Tanpa banyak mulut, aku pun bergegas meninggalkan taman yang baru kuketahui bernama Taman Matahari pada plang yang kulirik sekilas.

“Aku penasaran. Rupa dirimu yang sekarang akan seperti apa. Ah, bukan itu sih, aku penasaran bagaimana reaksi kita berdua setelah hampir setahun tak bersua. Oh, kawanku.”

Aku pun lekas berjalan setengah berlari dengan perasaan senang bukan main kelewat gembira hampir menyentuh status gila, kala aku telah menginjakkan kakiku di pelataran sebuah mall yang berdiri di dekat terminal bis tadi. Suasananya begitu ramai. Bangku-bangku besi berwarna silver metalik itu nampak disesaki berbagai gender dan ras yang sekedar bersantai atau menunggu sanak saudara atau rekan yang lain. Bahkan saking ramainya pengunjung, aku dapat melihat beberapa pria duduk di teras batu pembatas dengan taman mini yang jelas-jelas sudah dilarang untuk didudukki.

Karena tidak kebagian tempat duduk, aku pun terpaksa berdiri sambil menatap ke arah pintu bertuliskan Berlian Barat. Ransel yang berada digendonganku pun laksana punuk yang kusyukuri kehadirannya. Aku meremas lengan ranselku. Berharap rasa deg-degan tak karuan ini lenyap.

Layar ponselku berkedip. Ada pesan masuk darinya. Berbunyi,

Kamu di mana? Aku udah sampai,

Aku hampir saja membanting ponsel yang baru seumur jagung tersebut. Dia segera tiba. Oh, perasaan kangen seorang teman lama ini kian membuncah di dalam jantung hatiku. Rasanya bilik kanan dan bilik kiri di jantungku sedang bertukar posisi dengan gerakan dinamis; begitu juga dengan serambi kanan dan serambi kiri. Oh, kenapa bertemu dengan teman lama rasanya seperti penantian seorang anak selama sembilan bulan yah?

Karena terlalu lama berhipotesis di luar jaringan, aku terdiam memandang pesan darinya. Jariku yang beruntung tidak teranestesi oleh hasutan neuronku pun segera mengetik balasan kepadanya.

Aku ada di depan pintu Berlian Barat, memakai jaket berwarna cokelat dengan ransel hitam,

Tombol kirim pun segera kupilih. Sip, pesan sudah terkirim.

Well, dalam beberapa menit lagi aku akan berjumpa dengan teman lamaku itu maka aku pun harus tampil prima. Kulirik bangku kosong yang berjarak lima meter di belakangku. Aku pun segera mengambil alih bangku yang permukaanya terasa hangat tersebut.

Setelah itu, ransel yang tadinya berada di gendongaku kini beralih di pangkuanku. Kutarik resleting kantong depan ransel potongan maskulin ini dengan gerakan yang terburu-buru dan terkesan tidak sabaran. Sebotol kecil kolonye berwarna biru langit yang kurampas dari lemari perkakas milik sepupuku yang masih bayi pun menyembul. Aku mengeluarkannya dan membuka tutupnya kemudian menumpahkan hampir tiga sendok makan cairan wewangian yang menyegarkan tersebut. Gerakan mengusap sekujur pergelangan tanganku dengan kolonye tersebut terhenti kala selaput jalaku menangkap sesosok bocah lelaki yang berdiri dalam jarak dua puluh lima meter tepat di hadapanku.

Bocah itu memakai jaket berwarna merah hati dengan garis linear berwarna kuning keemasan yang menjalar di sepasang lengannya. Ia pun tersenyum sirus seraya menggoyangkan tangannya ke udara, melambai ke arahku layaknya putri sejagat. Masa bodoh dengan first impression dia terhadapku yang menjorok pada aku yang terlihat atau tercium seperti habis berendam di dalam tong berisi wewangian kolonye balita sehari semalam karena wangi yang sungguh menyengat. Aku pun masih terpaku menatap teman lamaku itu yang perlahan meretas jarak denganku, menuruni anak-anak tangga.

Menyumpahi ketololanku kuurungkan nanti saja karena aku lebih memilih menyapa teman lamaku yang rupanya berubah. Dia jadi lebih tinggi. Oh, dan bila dibandingkan dengan diriku mungkin aku hanya menyentuh pundaknya saja. Maaf, jangan salahkan aku yang tidak memiliki gen turunan Kaukasoid baik dari ibu atau ayah sehingga tinggiku hanya mentok di 168 senti.

Aku mencoba memasang senyum tak bermakna plus cengiran konyol dan kaku. Dan memilih tidak membalas lambaian dia padaku; aku lebih memilih menghampirinya.

Setelah aku dan dia berada tepat di bawah tulisan Berlian Barat yang menggantung di langit-langit dengan bantuan rantai besi, aku pun menyembunyikan cengiran keledaiku dan menggantikannya dengan senyuman tipis seperlunya saja. Benar saja dugaanku, aku hanya sepantaran pundaknya. Aku pun mencoba membuang atmosfer canggung di antara aku dan dia dengan bersuara dan menyapanya terlebih dahulu. Yang pasti bukan dengan usulan kacangan Taman Matahari di atas.

“Park Chanyeol, lama ya tidak bertemu. Dan kamu tambah tinggi, “

Bolehkah aku meminta setoples penuh cabai jalapeno sekarang juga? Kenapa malah klausa tak berbobot itu yang kulontarkan? Uh, tapi itu lebih baik daripada aku menyinggung soal atlit bulutangkis – first crush gagalnya –  yang bisa membuatnya langsung jatuh karena lutut lemas mendengarnya.

“Baru setahun kok. Eh itu lama ya?” ceplos bocah lelaki itu. Nah, kebiasaan sejak SMP masih melekat padanya. Kebiasaan Chanyeol nomor 11, merespon segala hal dengan cepat. “Aku tambah tinggi? Perasaanmu saja kali.”

Ia terkekeh tak bersuara setelahnya. Senang juga bisa melihat dia tertawa kecil seperti itu, lagi. Aku pun hanya bergumam tak jelas membalasnya. Bingung karena harus membalas apa. Toh, aku ini termasuk lemah dalam memberi feedback sebagai komunikan.

“Apa sudah lama menunggu?”

“Ah, lumayanlah.”

“Begitukah? Maafkan aku.”

“Tidak apa. Well kamu tak ingin jam kantor radio itu berakhir ‘kan? Lebih baik aku dan kamu bergegas pergi sebelum hari menjadi sore. Tahu sendiri ‘kan kalau jalanan protokol di sini itu unpredictable?

Entah mengapa aku kini tengah memuji teknik komunikasi mengalihkan topik pembicaraanku yang ternyata bagus juga. Setidaknya aku tidak perlu memukul batok kepalaku dulu untuk me-loading materi. Chanyeol, bocah lelaki berlesung pipi dan bertelinga macam peri itu pun menganggukan kepala tanda setuju.

Uhm, okay. Ayo!”

*** Epilog ***

Aku dan dia tengah berjalan beriringan menuju bis corak serupa yang kutumpangi sebelumnya menuju ke terminal bis kota namun dengan nomor seri angkutan dan tujuan yang berbeda. Gwanghwamun. Kira-kira beberapa waktu sebelum aku menaikkan langkahku ke dalam bis kami sempat bertukar konversasi. Dimulai dari Chanyeol yang menanggapi decak kagumku pada tubuhnya yang tumbuh tinggi – aku lemah terhadap pria dengan tinggi yang proporsional bak model.

“Kamu masih membawa cap talk more do more pemberianku rupanya,”

“Eishh, aku serius Chanyeol-a! Karena kamu tinggi sekali, aku jadi minder berjalan beriringan denganmu tahu! Aku masih bisa tumbuh ‘kan? Ah, masih sepertinya, “

“Ji-ya?” panggil Chanyeol kepadaku. Kebiasaan Chanyeol nomor 13, memanggil nama seseorang hanya dengan satu silabel kata saja.

“Apa? Huh?” jawabku pura-pura tak mengindahkan seruannya.

“Hei, kamu mau cepat tinggi tidak?”

Aku terdiam lalu mengangguk cepat dan antusias. Manik hitam legamnya pun berkilat jenaka. Oh, baik rupanya dia juga berubah menjadi salesman yang persuasive ya. “Apa – apa? Cepat beritahu!”

“Simak baik-baik ya, “ dia memberi jeda pada ucapannya dan semakin membuatku tambah penasaran. “Caranya, alas sepatumu harus ditempel dengan penggaris besi sepanjang 30 cm pada kedua sisinya. Kujamin, tinggimu akan bertambah drastis! Jaminan uang kembali!”

Aku termakan tipuannya. Lihat ‘kan?

“Park Chanyeol!!!!”

END

a/n

ide yang tiba-tiba lewat dan berakhir dalam sebuah tulisan berkapasitas 1771 kata dalam microsoft word dengan storyline semi nyata. yap, story di atas sebagian pernah saya alami secara pribadi!kkkk~

menjelang masa habisnya liburan kuliah saya, sekiranya inilah persembahan saya sebelum dipusyangkan dengan jadwal baru yg sangat hectic, hikzeu T_T semoga terhiburzz~

8 responses to “Sunny Park, Height, You and I

  1. Haha…..bikin ketawa-ketawa sendiri,and juga senyum2 nyengir mendekati gila. Keke…….timpukan kepala dan cubitin pipi agar waras kembali. Wk…..wk…… Intinya ff ini sangat2 menghibur, dan kata2 nya itu, membahana badai…..hehe……. Pintar buat kata-kata ajaib seperti itu, aigoo….bahasa apa yang aku gunakan bahasa planet plutonium yang sudah di singkat dan tak di anggap. Keke……… Bahaya…..Stop…..nyengir dulu sebelum kabur.

    Oh yah, gomawoyo ff nya bagus dan sangat2 menghibur, mianhe jika kata-kata dari comment ku tak berkenan di hati. 🙂

    selalu di tunggu karya ff2 nya Nara.

    Nara hwaiting……..gomawoyo.

    *BOW*🙂

  2. Hahahaha songong yoel. Yaampunnn n mwnyebalkan timpuk suzy. Hahaha
    udah serius dengerin malah gitu wkwk

  3. Ah, Suzy lumayan 168, nah lho aku cuma 160!
    #lemezzz
    padahl adikku yg cewek masih smp udah lbh tinggi dariku! Adik cowokku apalagi, mungkin udah 180 kali!
    Aku jadi diledekin kurcaci!
    Hikszzeu T.T
    (adwh, knapa malah curhat!) / mafkeun yg Xia y! ^^V
    btw, aku suka dngan alur critany, ringan2 dan tanpa polemik yg bikin nyesek, khas remaja gituh!
    Btw, sukses buat kuliahny y, pasti jadi kangn krn ksibukan Xia, tapi ga papa dh yg pnting ttp posti walau jangka waktu yg agak lama, pokokny, ttp smangt!
    Hwaitting! ^^9

  4. bnyk kata2 yg sulit aku pahami,bacany gregetan krna bkin pnsrn kyk mcm kita mau kesuatu tmpt tp gak nympe2,disini saya merasa di permainkan author/mngkin saya yg tdk sbrn nunggu crta sweet scenennya… huffffttt suzy parah somplaknya+chanyeol yg mcem salesman. hahaha….

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s