Mi Pequeño Hijo, Yoona (4)

Mi pequeno hijo, yoona - dina copy

Title : Mi Pequeño Hijo, Yoona | Author : dina | Genre : Angst, Family, Romance | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer   :

This story is Mine, all cast belongs to God and their family

Poster by rosaliaaocha

♠♠

Mi Pequeño Hijo, Yoona (My Little Child, Yoona)

.

.

.

“Guilty“

Kwajangnim…chukkae” teman-teman Myungsoo menyelamati Myungsoo tatkala mereka bertemu kembali di hari kerja esok harinya

Eoh?” Myungsoo tersadar kejadian semalam saat dirinya siaran di radio ternyata juga disimak teman kantornya

“Apakah dia yang kemarin di sini bersama keponakan anda Myungsoo-ssi?”

Nugu?”

“Kami tahu Myung” Woohyun menepuk pundak Myungsoo sembari mengerlingkan matanya

“Astaga! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan” Myungsoo buru-buru menghilang dari hadapan teman-temannya, lebih baik ia tenggelam diantara tumpukan dokumen daripada menjadi perbincangan hangat di kantor tempat ia bekerja

Drt…sebuah pesan masuk di ponsel Myungsoo

“Kau sibuk?” –Sooji

“Ne..” –Myungsoo

“Mianhe…bisakah kita bertemu sore ini?” –Sooji

Myungsoo memutar ponselnya, ia enggan membalas pesan Sooji. Ponselnya ia letakkan begitu saja ketika atasannya memanggilnya untuk rapat

Drt…drt…ponsel Myungsoo berkali-kali bergetar, terlihat 5 panggilan tak terjawab dari Sooji

“Kau marah?” gumam Sooji

3 Jam kemudian

Myungsoo mengendurkan dasinya, dirinya sedikit lega karena tuan Choi bersedia berkompromi dengan perusahaan tempat ia bekerja. Ia mengambil ponselnya, wajahnya cukup terheran mendapati 5 panggilan tak terjawab

“Sooji?” Myungsoo menghela napas panjang, dengan cepat ia mengetikkan sebuah pesan dan mengirimnya

—–

“Sooji-ssi” panggil Myungsoo, sedari tadi ia sudah duduk manis menunggu Sooji

“Ah jeosonghamida” Sooji menundukkan kepalanya

Gwenchana..silakan duduk” balas Myungsoo

“Kukira kau marah padaku” Sooji memasang wajah menyesalnya, “mianata Myungsoo-ssi, pasti banyak orang salah paham dengan perkataanku semalam”

“Tidak apa-apa, teman-temanku saja yang berlebihan”

Mianhe..”

Gwenchana Sooji-ssi, jadi ada perlu apa dengan saya?”

Sooji menata kembali pikirannya, hari ini ia ingin mengungkapkan semua yang ada di benaknya termasuk keinginannya untuk mengadopsi Yunji sebagai anaknya

“Tentang pertanyaanku kemarin, bisakah aku menjadi ibu Yunji?” tanya Sooji hati-hati. “Maksudku…ijinkan aku tinggal bersama Yunji”

“Apa mau anda sebenarnya?” tanya Myungsoo

“Yunji sangat mirip dengan anakku, aku bahagia jika Yunji berada di sampingku” Sooji berusaha menata dadanya yang berdegup kencang

“Yunji dan anak anda berbeda” balas Myungsoo yang berpikir ide Sooji mulai kelewatan

“Bisakah kau menanggalkan kata formal?” pinta Sooji

“Kenapa?”

“Aku ingin kita lebih dekat”

Myungsoo terdiam menatap lekat wanita di hadapannya, “untuk keinginan tinggal bersama keponakan saya, saya mohon maaf. Yunji memiliki keluarga, saya dan kakek neneknya”

Sooji berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah

“Baiklah..aku tidak akan memaksa, maaf” ucap Sooji

“Anda harus bisa menerima kenyataan bahwa putri anda telah tiada, Yunji adalah Yunji putri kakak saya”

Hati Sooji mencelos mendengar pernyataan Myungsoo, sungguh ia selama ini menganggap Yunji sebagai dirinya. Ketika melihat Yunji, Sooji belajar untuk menerima keadaan bahwa Yoona tidak akan kembali, hanya Yunjilah yang sanggup membuat dirinya kembali tersenyum. Melihat penolakan Myungsoo perlahan membuat hatinya sakit

“Anda tidak apa-apa?” tanya Myungsoo melihat wajah Sooji mulai memerah

“Maaf..” lirih Sooji, ia beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Myungsoo

—–

Woohyun memutar mp3 playernya, lagu Love Fool yang dicover ulang Olivia Ong mengingatkan ia akan kenangan dengan cinta pertamanya, Kim Jihyun

Flashback

“Hyunie”

“Hem…”

“Aku menyukai seseorang” ucap Jihyun

Woohyun masih sibuk mengerjakan tugas sekolahnya, Lee saem sangat galak jika berkaitan dengan tugas, itulah sebabnya ia tidak pernah menskip satupun pertemuan dengan Lee saem

Ya! Hyunie kau mendengarkanku?”

“Tidak”

Ya!!” pekik Jihyun sambil mempoutkan bibirnya

Woohyun yang merasa telinganya pengang meletakkan dengan kasar bolpoinnya

“Dengarkan aku, hanya aku yang benar-benar menyayangimu, arra!” tegas Woohyun

Jihyun mengerjapkan mata elangnya, mata khas seorang Kim yang juga tercetak di wajah adiknya, Myungsoo

Waeyo?” tanyanya

“Apa perlu aku jelaskan?” Woohyun merasa semakin kesal

“Tapi….Dojoonie” lirihnya

“Hanya aku atau Dojoon yang boleh memilikimu” Woohyun menangkup kedua pipi Jihyun

“Jika aku memilih Dojoon, apa yang akan terjadi dengan kita bertiga?”

Woohyun hanya terdiam, ia enggan menjawab setiap kali Jihyun menanyakan perasaannya jika suatu saat Jihyun menjadi milik orang lain

“Hyunie…” Jihyun melepas kedua tangan Woohyun, ia menyandarkan kepalanya di bahu Woohyun

“Aku ingin menyukaimu tapi entah mengapa rasanya sulit sekali”

Mianhe…” lirih Woohyun

…..

“Aku hamil, ottoke…” lirih Jihyun

“Siapa yang melakukannya?”

“Dojoon…” isak Jihyun

“Ya Tuhan” bagai disambar petir di siang hari, Woohyun terduduk lemas mengetahui wanita yang dicintainya hamil dengan sahabat mereka yang baru 2 minggu meninggalkan mereka untuk selama-lamanya

…..

“Kau harus meminum susu ini” Woohyun menyodorkan segelas susu ibu hamil ke meja pantry miliknya ketika Jihyun yang tengah hamil 5 bulan mengunjunginya bersama Myungsoo

Gomawo..” Jihyun yang pipinya semakin menggembul tampak tersenyum puas

“Kandunganmu tidak nampak seperti 5 bulan” telaah Woohyun

Noona mengandung anak kembar hyung” ujar Myungsoo sambil memainkan game playernya

Jinca?!” Woohyun tersenyum senang, “boleh kusentuh?” tanya Woohyun

“Hem…” Jihyun tersenyum sambil meneguk susu cokelatnya

“Sehat-sehat di sana ne…kami tidak sabar segera melihat kalian lahir di dunia ini”

Airmata berkumpul di pelupuk mata Jihyun melihat ketulusan lelaki yang sangat mencintainya, perasaan bersalah tidak pernah bisa hilang dari dirinya. Seakan-akan melakukan pengkhianatan walaupun kenyataannya ia dan Woohyun hanya sahabat. Myungsoo terpaku menatap dua insan di hadapannya, ia hanya berharap suatu saat Woohyun dan Jihyun bersatu meskipun itu sangat sulit, keluarga Woohyun tidak akan semudah itu menerima kehadiran kakaknya

Flashback end

Hyung” panggilan Myungsoo membuyarkan lamunan Woohyun yang tengah memperhatikan Yunji

“Yunji semakin mirip eommanya”

“Kau tidak sedang bersedih kan hyung?” selidik Myungsoo

Aniyo, aku hanya membayangkan jika Jihyun masih hidup pasti dia akan senang mengetahui putri kecilnya tumbuh sangat cantik” senyum Woohyun

“Ini sudah lebih dari enam tahun hyung, kau harus mencari pengganti noonaku” saran Myungsoo

Woohyun hanya tersenyum kecil, “mungkin” jawabnya dengan nada sarkastik

—-

“Kau sudah siap?” tuan Bae mengecek keberadaan putrinya, malam ini mereka akan menghadiri pesta pernikahan salah satu dokter senior di Seoul yang cukup ternama

Ne appa, aku sudah siap” Sooji memakai gaun dark blue tanpa lengan, rambutnya ia gelung rapi dengan poni menjuntai

Yeppo” puji tuan Bae

Appa bisa saja, mana eomma?”

“Di luar, kajja

Sementara itu di tempat lain

“Myungsoo-ssi kau sudah bawa undangannya?”

“Iya”

“Kali ini kau benar-benar tidak bisa hadir, kau tidak apa-apa menggantikanku?”

“Saya tidak keberatan Sajangnim

“Baiklah..gomapta

Myungsoo menutup sambungan ponselnya, melaju ke tempat resepsi pernikahan putra dokter Jang Dong Wook, dokter kenamaan Seoul yang juga dimana Sooji dan keluarganya ikut hadir di dalamnya sebagai tamu undangan

Sesampainya di tempat resepsi

“Tamu dari JonggAng Illbo” ucap Myungsoo yang mendapatkan perlakuan khusus dari empunya hajat

“Sebelah sini tuan” pemandu melangkahkan kakinya memasuki hall pertemuan yang cukup megah

Ghamsahamida” balas Myungsoo

Myungsoo mengikuti langkah sang pemandu untuk mencarikan tempat duduknya. Mata Myungsoo berada pada satu titik, ia berhasil menangkap figur seorang lelaki yang sangat ia kenal

“Di sini” pemandu mempersilakan Myungsoo duduk

Eoh Myungsoo-ssi” sapa tuan Bae

“Selamat malam tuan Bae”

Oremani” peluknya, “duduklah…tidak kukira akan bertemu denganmu di sini”

Ne…”

“Kau sendiri?”

“Iya, lalu anda?” tanya Myungsoo sedikit ragu

“Itu Sooji dan istriku” tunjuk tuan Bae. Sooji sedikit mengangkat gaunnya, ia tampak sangat anggun seperti biasanya

“Myungsoo-ssi?” sapa ibu Sooji

Ne omonim” Myungsoo berdiri sambil menundukkan kepalanya

“Senang melihatmu lagi” ibu Sooji tersenyum sumringah

“Sooji-ya duduklah” titah tuan Bae

“Hem…” baik Sooji maupun Myungsoo tampak kikuk duduk bersebelahan

“Kudengar Sooji beberapa kali bertemu dengan keponakanmu?” tuan Bae membuka percakapan

“Iya, kami bertemu 2 kali” jawab Myungsoo

“Kudengar lagi Yunji sangat menyukai Sooji”

“Sepertinya begitu” senyum Myungsoo

“Lihat sakramen segera dimulai” ucap ibu Sooji

Yeppo” celetuk Sooji melihat pengantin wanita memasuki hall, “mengingatkanku akan oppa” senyum Sooji. Dada Myungsoo yang mendengarkan ucapan Sooji berdesir hebat, ia tidak tega melihat kenyataan pahit kehidupan Sooji, ditinggalkan selamanya suami dan putri satu-satunya

“Aku senang mengenalmu Myungsoo-ssi” senyum tuan Bae

“Saya tersanjung tuan” balas Myungsoo

“Kau dan Yunji berhasil mengembalikan Soojiku yang dulu kukenal, kembali dengan senyuman cantiknya” tuan Bae mengusap puncak kepala Sooji

Appa…” balas Sooji

“Kau tahu, appa sangat bahagia melihatmu tersenyum sayang”

Appa tahu pasti jika aku sangat menyayangi kalian” senyum Sooji

Arra” tuan Bae mengenggam erat tangan Sooji

Mianhe..” gumam Myungsoo dalam hati, ia merasa sangat jahat telah melontarkan kata-kata yang menyinggung Sooji tempo hari

—–

“Anda sudah mau pulang tuan?” tanya Myungsoo

Ne..istri dan putriku tampak lelah”

“Sooji-ssi..” panggil Myungsoo, “kau tidak keberatan kita berbicara sebentar?” pinta Myungsoo

“Hem?” Sooji tampak heran, sedari tadi ia hanya berdiam diri, mendengarkan Myungsoo dan kedua orang tuanya mengobrol. Ia sedang malas berbicara atau membahas Yunji dengan Myungsoo

“Aku lelah” jawabnya singkat

“Hanya 10 menit” pinta Myungsoo

“Kubilang aku lelah” balas Sooji

“Ehem..Sooji-ya kau tidak lagi anak kecil, bersikaplah dewasa”

Myungsoo menatap Sooji, “bagaimana jika saya antar Sooji pulang tuan?” tawar Myungsoo

“Begitu lebih baik, kau mau kan Sooji-ya?” tanya ibu Sooji

Eomma…aku ingin pulang”

“Untuk kali ini saja” pinta ibu Sooji

“Heh…baiklah, tapi ini tidak akan lama” Sooji menatap Myungsoo

Ne, hanya sebentar”

“Kalau begitu kami pulang, hati-hati di jalan, jangan pulang terlalu malam Myungsoo-ssi” pesan tuan Bae

Algeseumida” Myungsoo menundukkan kepalanya

—–

Myungsoo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang melewati lenggangnya jalanan malam kota Seoul. Mobilnya berbelok ke arah sungai Han

“Kenapa kita di sini?” tanya Sooji menatap kerlap kerlip lampu di sekitar sungai Han

“Aku suka tempat ini, kajja kita keluar” ajak Myungsoo. Ia menyandarkan tubuhnya di kap mobilnya

“Indah” gumam Sooji

“Hem..aku biasa ke sini dengan kakak perempuanku ketika masih remaja” Myungsoo menatap lurus sungai Han

Angin bertiup tenang menghadirkan hawa malam, “dingin” Sooji mengusap kedua lengannya yang terbuka, “aku tidak pernah kemari sejak terakhir kali appa mengajakku saat sekolah dasar”

“Bukankah kemarin kita bertemu di sini?” tanya Myungsoo

“Tapi itu sore hari, tidak semalam ini” kembali Sooji mengusap kedua lengannya supaya menjadi hangat

“Ige…pakai jasku” Myungsoo melepas jasnya dan menyampirkan ke tubuh Sooji, “begini lebih hangat” ucapnya sambil membetulkan jasnya yang menempel di tubuh Sooji

Gomawo

Myungsoo terdiam sejenak, manik matanya bertemu dengan keping hitam mata Sooji, entah karena suasana yang syahdu membuat dada Myungsoo berdesir melihat wajah Sooji yang berubah sedikit pucat kedinginan

“Myungsoo-ssi?” Sooji mengibaskan kelima jarinya di depan wajah Myungsoo

Eoh?” Myungsoo kembali ke kesadarannya

“Apa yang mau kau bicarakan?” tanya Sooji

“Tentang kemarin…aku minta maaf” Myungsoo memegang tengkuknya yang tidak gatal

Gwenchana…aku yang bertingkah berlebihan” Sooji merapatkan jemarinya, “Yunji bagian terpenting di keluargamu, jika aku memaksakan kehendakku, aku akan menjadi manusia yang egois keutchi?”

“Hem…itu kau tahu jawabannya” celetuk Myungsoo

Eoh..” Sooji tampak heran, “kau sepertinya tidak sungguh-sungguh berempati padaku Myungsoo-ssi” protes Sooji

Myungsoo tertawa geli, “lihat kau seperti anak kecil yang menginterupsi eommanya” elak Myungsoo

“Kau” Sooji menatap Myungsoo gemas, bersipa mengangkat tangan kanannya

Arrasso..mianhe Sooji-ssi” Myungsoo kembali menampakkan senyuman tulusnya

“Aku suka”

“Eh?” Myungsoo mengangkat alisnya

“Aku suka kau menanggalkan keformalitasan diantara kita” senyum Sooji

Senyum Myungsoo perlahan memudar berganti dengan tatapan lembut, “gomawo..telah memberikan kasih sayang untuk Yunji” Myungsoo memegang kedua bahu Sooji

Cheonmaneyo” balas Sooji

Suasana mendadak hening

“Myungsoo-ssi” lirih Sooji ketika wajah Myungsoo perlahan mendekat ke wajahnya, hembusan nafas Myungsoo menerpa wajahnya

Cup…

Myungsoo mengecup pipi kiri Sooji sambil memejamkan matanya, Sooji terpaku tanpa bisa bergerak sedikitpun. Hanya 5 detik, Myungsoo menarik wajahnya perlahan dari pipi Sooji

“Kuantar kau pulang” Myungsoo melepas tangannya dari bahu Sooji, berjalan kembali ke mobil, membukakan pintu untuk Sooji. Mobil melaju dalam keheningan, baik Myungsoo maupun Sooji hanya terdiam, bertanya dalam hati, “apa yang sebenarnya terjadi diantara kami?” batin Sooji melayangkan pandangannya menatap lampu jalanan

Sesampainya di rumah Sooji

Gomawo” ucap Sooji

Ne…

Sooji tampak menghindari tatapan Myungsoo

“Sooji-ssi” Myungsoo menahan lengan Sooji

“Hem?”

“Maafkan kekurangajaranku”

Sooji hanya terdiam, “aku masuk” Sooji melepaskan genggaman Myungsoo, menutup pagar rumahnya. Di balik pintu, tubuhnya serasa akan merosot mendapati ketulusan Myungsoo. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama lebih dari 7 tahun terakhir

“Ada apa dengan jantungku?” lirihnya

—–

Minggu pagi ini Sooji tampak cantik memakai baju casualnya. Rencananya ia akan bertemu kembali dengan Yunji setelah hampir 2 minggu tidak bertemu. Seperti biasa ia membawa berbagai pernak-pernik yang disukai Yunji

“Yunji-ya!” panggil Sooji dari seberang jalan

Yimo” Yunji berlari ke arah Sooji

Aigoo Yunji-ya tunggu samchon” pekik Myungsoo sambil mengunci mobilnya. Yunji yang tidak mendengar teguran pamannya tetap berlari ke seberang jalan dimana Sooji berdiri

“Tunggu di sana sayang” pekik Sooji

“Hijau” Yunji yang cerdas melihat tanda hijau untuk penyeberang, karena suasana sepi ia segera berlari ketika sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi melaju dari arah samping

“Yunji-ya” Sooji yang menyadari langsung berlari ke arah Yunji, bersamaan dengan itu Sooji melihat Myungsoo berlari menyusul Yunji tanpa menyadari motor dengan kecepatan tinggi mendekati mereka berdua

“Myungsoo-ssi awas!”

Brak!!

Samchon! Yimo!”

Myungsoo tersungkur dengan tubuh Sooji di atasnya, “Myungsoo-ssi…appo” lirih Sooji yang dalam tiga detik langsung pingsan akibat tubuhnya yang terserempet sepeda motor dan mengenai punggungnya yang melindungi Myungsoo dan Yunji

“Sooji-ssi..ireona!” pekik Myungsoo

—–

“Bagaimana kondisi anak saya dokter?” tanya tuan Bae

“Sooji hanya mengalami lebam di punggungnya akibat hantaman stang motor, dia pingsan karena shock saja, anda tidak perlu khawatir tuan Bae

“Syukurlah…”

Kedua orang tua Myungsoo ikut menemani Myungsoo dan Sooji di rumah sakit. Mereka kaget ketika mendengar telepon dari Myungsoo yang mengabarkan ia dan Yunji yang hampir terserempet motor dengan kecepatan tinggi

“Maafkan cucu kami” tuan Kim menundukkan kepalanya merasa bersalah

“Tidak apa-apa tuan, untunglah semua selamat” balas tuan Bae

Myungsoo meninggalkan keluarganya dan Sooji, kakinya melangkah ke ruang UGD tempat Sooji beristirahat. Myungsoo menatap lekat Sooji, tanpa seorangpun di sana, ia menutup tirai pembatas

Gomawo” Myungsoo mendekatkan wajahnya, mengecup kening Sooji yang sontak membuat Sooji membuka matanya

“Myungsoo-ssi?” lirihnya

“Kau membuatku khawatir” Myungsoo mengelus pipi lembut Sooji, “jangan ulangi lagi” pinta Myungsoo

Sooji hanya bisa mengangguk ketika Myungsoo memeluk erat lehernya, membisikkan sesuatu yang mampu membuat dada Sooji berdetak lebih kencang

TBC

Next chapter

“Myung kenalkan, Yoo Jiae” panggil Ny. Kim

“Myungsoo imnida, bagapta

“Ne…Jiae imnida

…..

“Kita akan lebih sering bersama Yunji-ya” sapa Jiae

Andwe” tolak Yunji

……

“Aku tidak suka jika Jiae eonni berdekatan denganku” protes Yunji

Waeyo?”

“Aku hanya ingin Sooji yimo

Aigoo..”

……

“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jiae”

“Adapun tidak masalah untukku”

“Kau yakin?”

“Hem..”

Myungsoo memeluk Sooji dari belakang, “tapi tidak denganku” bisiknya

***

Beberapa readers sepertinya salah mengerti, yang percakapan Myung-Woohyun itu justru Woohyun yang menyukai noona Myung bukan sebaiknya, khusus part ini saya tersentuh banget sama ketulusan Woohyun

Hell’s Kitchen part 4 was posted, sekali lagi akan ada part yang di pw, ditunggu RCL nya ne…gomawo ^^

Advertisements

114 responses to “Mi Pequeño Hijo, Yoona (4)

  1. Kesal sama myungsoo menolak suzy, konflik banyak ia, woohyun ingat jihyun karna sifat suzy yg ke ibu’an

  2. myung merasa bersalah ya…emg sedih banget kalo jd suzy…lg hamil jadi janda trus anaknya meninggal pula…..tp kayanya myung uda ada getar2 cinta deh hahaha

  3. bagian pas myung nyium pipi sooji apa itu artinya myung mulai ada perasaan…ehemmm
    bener thor aq juga salut bngt sma ketulusan woohyun, kyknya dulu dia cinta bngt sm jihyun…semoga ada bagian dmna dia bisa ketemu pnggantinya jihyun

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s