GOEZ [#TheJourney]

goez

comes as Sequel from GOEZ

#TheJourney

Bae Suzy as Suez / Kim Myungsoo as Elgo | AU, Fantasy, Fluffy Angst, slight! | Vignette | PG 13 | disclaimer: beside the poster and story I own nothing!

“Sayangnya perjalanan ini belum berakhir.”

Enjoy reading^^

Perjalanan yang harus ditempuh untuk keluar dari Hutan Terlarang menuju ke perbatasan Hutan Gerfhi membutuhkan waktu hampir semalam penuh. Berbagai halang rintangan yang menghadang tak ubahnya seperti camilan bagi Elgo. Dengan mudah, ia pun dapat membabat semuanya. Beruntung, gadis rusuh dengan simpanan milyaran topik pembicaraan yang menjadi teman seperjalanan bagi Elgo tidak terlalu merepotkan. Suez bukan tipikal gadis manja yang harus melulu diperhatikan – justur wajib dihindari bagi Elgo.

Jadi, pria itu pun tidak terlalu repot kala kerudung merah Suez  tersangkut ranting kering karena gadis ceriwis itu dapat mengatasinya.

Atau saat terdengar suara lolongan serigala dari barat daya Bukit Seperdelapan Kelabu Semu yang memang merupakan kampung halaman bagi bangsa werewolf, Suez justru terlihat biasa saja karena ia ternyata bertetangga dengan seorang werewolf betina cantik yang supel di Desa Mojo-mocho jadi sudah terbiasa juga.

Atau saat di mana Elgo menemukan tarantula berkepala kumbang beracun yang muncul tiba-tiba di hadapannya dan langsung menebasnya dengan satu ayunan kapak sakti miliknya, padahal saat tragedi pembantaian rubah yang dilakukan oleh Elgo, susunan engsel penggerak pada lutut Suez serasa mau copot.

Dan atau-atau yang lainnya. Anehnya, menurut selayang pandang Suez, itu semua tidak terlalu menjadi sebuah problematika. Karena toh sudah ada Elgo yang akan melindunginya dalam perjalanan.

Tetapi ada satu hal yang patut diwaspadai dari seorang gadis yang selalu terlihat bahagia setiap saat bernama Suez ini, khusus untuk tipikal manusia masam seperti Elgo. Mau tahu apa itu? Baca saja sampai alinea terakhir dengan baris penutup yang diisi kalimat yang mengandung kata, frasa, dan klausa ini, Teman.

Elgo, pria berkalung kapak bermata dua pun memimpin dan membuka jalan. Pria itu lebih memilih bungkam jikalau rumah keongnya diketuk oleh barisan frasa dan kata yang meluncur dengan deras dari labium berwarna merah muda milik Suez.

Gadis itu pun tidak berhenti mengoceh layaknya burung pipit tersiram kuah panas kental sop kaldu buatan Nenek Shino. Dengan riangnya, ia berceloteh mengenai kehidupan sebatang kara yang dijalaninya semenjak ditinggal oleh mendiang sang ayah dan ibu yang meninggal saat ikut berlayar dalam Ekspedisi Laut Bisop yang dipimpin Kakek Shino – suami dari Nenek Shino. Walaupun ia tinggal seorang diri, namun Suez tak pernah merasa sendirian. Ada teman-teman yang selalu siap sedia menghibur dan menemani gadis berlesung pipi dalam itu.

“Tuan Elgo, kamu tahu tidak?” Suez menyeruak ke samping Elgo dan mulai memasang ekspresi siap berceloteh riang. Sementara pria yang berperan sebagai komunikan karena terpaksa, tetap mematenkan ekspresi kaku dan dingin, guna mengusir keceriaan yang merebak di paras Suez.

“Tidak tahu, kamu ‘kan belum memberi tahu dan aku tidak mau tahu.” jawab Elgo dengan nada yang rendah dan terkesan ketus.

“Nah, makanya sekarang kuberitahu.” Suez makin melebarkan gerak simpul ekspresif di atas bibir miliknya, mengabaikan raut wajah Elgo yang mengeras seperti kue jahe kadaluwarsa buatan Ludeer – rusa ekliptika yang tidak jago memasak, sahabat Suez.

Tuh ‘kan lihat. Pria itu diam-diam menambah kecepatan berjalannya supaya ia tidak kembali dijejali dengan kronik penuh imaji dari Suez. Bibir tipisnya pun ia tutup rapat-rapat. Sepasang manik elangnya pun ia tegakkan pandangannya agar menatap lurus ke depan bukan ke samping pada sudut 45° di bujur kirinya; seorang gadis berkerudung merah yang cerewet.

“Entah kenapa aku bisa langsung memercayai orang asing sepertimu, “ ujar Suez. Ia pun terkikik pelan setelahnya. Dengan mengangkat satu tangannya yang menganggur, ia menutup mulutnya yang mengikik seperti jangkrik dioles balsem buatan Tabib Zhang.

“Awalnya aku ragu tetapi setelah kutatap kedua kelereng di matamu saat itu, aku percaya. Seperti ini, “ Suez menghentikan langkah tepat di depan tubuh tegap Elgo yang sedang berjalan.

Otomatis titian langkah Elgo pun terhenti guna menghindari kontak fisik – bersentuhan – dengan kelinci energizer di depannya. Gadis itu lantas mendongakkan kepala dengan kedua kaki yang menjinjit kepada Elgo yang tingginya jauh terpaut puluhan senti di atasnya.

“Minggir, kubilang.” titah Elgo seraya memberengut ditatap dengan tiba-tiba dalam jarak selebar daun barley tersebut.

Diperintahkan seperti itu oleh Elgo, gadis cilik itu pun segera mengerjapkan kedua manik hazel-nya dan mundur seketika. Pun dengan langkah kikuk seorang Elgo yang langsung menebas jarak dan menghindar dari cecaran manik Suez yang mengerling heran.

Jutaan kepik di dalam diafragma milik Elgo serasa sedang menggelar kompetisi gulat kelas berat.  Itulah sebenarnya yang dirasakan oleh Elgo saat ia melihat refleksi dirinya pada sepasang netra jelmaan mutiara hitam paling eksotis yang pernah ia lihat dalam hidupnya.

Baru setengah lusin pria berjubah hitam kumal itu melangkah, ia pun menyetopkan langkah lantas membalikkan badan. Kedua indera penglihatannya turut digunakan untuk menilik Suez di belakangnya yang ikut terdiam.

“Perjalanan ini masih panjang. Jadi lebih baik jangan buang-buang waktu dengan hal-hal tidak penting, seperti yang barusan. Kamu mengerti?”

Suez mengangguk tanda paham. Selanjutnya, gadis yang masih menenteng keranjang mahoni berisi kue jahe yang sudah dingin itu pun menyusul Elgo dan menyamakan langkah dengannya.

“Satu lagi, “ Elgo melambatkan untaian langkah dan menengok kepada Suez di sampingnya. “Jangan panggil aku dengan ‘Tuan’. Aku dan kamu umurnya tidak jauh berbeda tahu. Apa tampangku terlihat seperti Paman Gembul, tetangga Nenek Shino? Huh?”

“Ba-bagaimana kamu tahu kalau aku seumuran dengan kamu?” tanya Suez. Belum sempat Elgo membuka mulutnya, ia pun kembali membubuhkan kuesioner lainnya. “Coba tebak berapa usiaku kalau begitu? Hayo???”

“16 tahun lewat dua gerhana bulan dan tiga bulan cekung.” tandas Elgo cepat.

Suez membelalakkan matanya. Semburat takjub dan antusias kembali mengembang di wajahnya. Wah, kenapa Tua – eh maksudnya Elgo bisa menjawab dengan benar ya?

“Kamu benar. Wow.” Suez menggelengkan kepalanya dengan heran. Binar takjub pun terbaca di kedua matanya. “Kalau kata Ludeer – sahabatku, kamu keren!” puji Suez cepat sambil mengacungkan kedua jempol tangannya bergantian.

Kerah jubah yang sudah bolong itu pun pura-pura dibenarkan letaknya oleh jemari Elgo. Senyum congkak lantas menempel di atas bibir tipis Elgo. Namun kecongkakkan pria itu tidak bertahan lama. Karena setelahnya, pria itu kembali bungkam menelan puluhan kodi serapah yang siap ia lontarkan.

Nenek Shino, kenapa cucu kesayanganmu itu cerewet sekali?!

“Aku penasaran sungguh sangat penasaran!! Tolong ceritakan kepadaku, bagaimana bisa kamu mengenal Nenekku?” rengek Suez seraya menyongsong keranjang kue di tangannya karena kedua tangannya yang saling bertautan.

Elgo pun hanya memutar bolata matanya dengan malas – gerakan simpul khas seorang Elgo.

“Bisa diam tidak?”

“Tidak bisa sampai kamu bercerita kepadaku!” seru Suez.

“Suez, kubilang diam. Apa kamu tidak lelah mengoceh terus-menerus seperti gramofon rusak, huh? Apa lidahmu tidak pegal kaena terus berbicara tanpa henti? Ha?”

“Lidahku ‘kan tidak bertulang jadi tidak terasa pegal kok.” balas Suez dengan kilat. Selanjutnya, sang gadis berkepang dua itu pun kembali merengek. “Oh, ayolah! Tuan – eh maksudku Elgo! Ceritakan kepadaku ya?”

“Oh, ikan trout busuk!” serapah Elgo.

Hush! Kamu tidak boleh menyumpah seperti itu apalagi di tengah hutan seperti ini!” Suez pun menyenggol lengan pria itu dengan keranjang di tangannya. Yang dibalas decakan malas oleh Elgo.

Sayangnya perjalanan ini belum berakhir.

Elgo, persiapkan batinmu ya Nak!

Waduk kesabaran Elgo untungnya belum jebol. Sehingga, terciptalah bisikan pelan yang sarat akan suatu pesan inti dari angan terdalamnya kepada Suez.

“Suez, kalau mau kuceritakan, berjanjilah satu hal kepadaku, “ ucap Elgo dengan nada yang tidak familier bagi pria itu sendiri; lembut.

“Baiklah! Katakan saja! Aku pasti bisa!” tanpa perlu berpikir panjang, Suez pun menganggukkan kepalanya dengan antusiasme yang tinggi.

“Tutup mulutmu!”

END.

[LONG] a/n

sequel kilat.hiks.bagi para pembaca yang menagih sequel, ini utang saya kepada kamyu-kamyu^^ sori kalo masih belum memuaskan dahaga MYUNGZY-nya.

ohya, sekalian saya mau izin hiatus ya.kegiatan perkuliahan kampus saya udah mulai lagi, di awal minggu ini aja udah dibebani tugas segambreng T_T jadi waktu saya menipis untuk menulis di sini.hikzeuuu😦 jadi saya kelarin dulu tugas2 itu baru saya bisa fokus di sini lagi okeh🙂

so, see you later in KSF’s 2nd Anniversary and Wedding Dress chapter 5!

and then, i wish for every one of you to stay health and always be happy! GBU❤ fighting!!!🙂😀

xianara-sign

40 responses to “GOEZ [#TheJourney]

  1. Pingback: GOEZ: Morn | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Heh mereka pas banget deh, suez yg kelewat cerewet. Dan elgo yang kelewat dingin… asyik…
    Ehh elgo bicara dengan nada lembut loh ke suez,,,

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s