Adopta (Prolog)

Adopta - Dina copy

Title : Adopta | Author : dina | Genre : Angst, Romance | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer

Storyline pure by Me, all cast belongs to God and their familiy

Poster by my lovely saengi rosaliaaocha

.

.

.

Siang itu suasana muram menyelimuti kediaman keluarga Bae Yong Jin. Putri sulungnya meregang nyawa tiga hari yang lalu. Sebuah kecelakaan berhasil merenggut nyawa putri satu-satunya yang selama ini setia menemaninya. Baju hitam tampak mendominasi seluruh ruangan, mengisyaratkan rasa berkabung teramat dalam.

“Kapan jenasah akan dikebumikan?” para pelayat saling bertanya.

“Aku dengar tuan Bae sedang menunggu seseorang,” bisikan demi bisikan mulai mengusik kesyahduan. Tuan Bae tidak ingin memakai cara yang biasa untuk mensemayamkan putrinya, ia memilih untuk membawa jenasah putrinya yang telah tebujur kaku di dalam peti untuk ditidurkan di rumah mereka sebelum membawanya menjalani proses kremasi.

Tap..tap..

Suara langkah tergesa seseorang memecah keheningan, sorot mata tertuju pada sumber si empunya kaki yang melangkah. Tuan Cho, asisten tuan Bae berjalan menghampiri gadis tersebut. Membisikkan sesuatu di telinga gadis berambut panjang kecoklatan dengan kacamata hitam yang masih menghiasi wajah putih pucatnya. Ia tampak seperti orang yang baru saja datang dari jauh, tas ransel masih setia mengalung di sebelah bahu tangannya, sedangkan kopernya datang bersamaan dengan pak supir yang menyerahkan sang koper ke tangan bibi Cho, istri tuan Cho.

“Kapan?” terdengar suara tegas nan dingin keluar dari mulut gadis tersebut. “Pukul 13.00 nanti,” jawab tuan Cho. “Dimana?” tanpa mengucapkan siapa yang dimaksud gadis tersebut, tuan Cho mengulurkan tangan kanannya menunjuk pada suatu ruangan, “ikut saya aghassi,” ajaknya. Gadis itu melangkah mengikuti tuan Cho, berjalan ke salah satu ruangan dimana tuan Bae sedang menenangkan dirinya. Langkah kakinya yang tegas menyeruak kerumunan pelayat. Selayaknya tamu besar, para pelayat seperti membuka jalan menuju lantai 2 kediaman tuan Bae.

Nugu?” tanya Sonia sambil terus mengamati gadis misterius yang dibicarakan lewat bisikan para pelayat. “Kudengar dia masih keluarga tuan Bae,” ujar Yoochun yang disambut anggukan tanda mengerti Sonia.

“Hei mana Myungsoo?” Siho mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, “tadi dia masih di sampingku,” jawab Sonia.

“Apa menurutmu dia sedih saat ini?” selidik Yoochun yang kembali membuka memori sahabat-sahabatnya mengenai peristiwa 2 tahun yang lalu. “Memang kenapa dia harus bersedih?” Sonia menautkan kedua alisnya. “Kau tidak ingat Myungsoo menyukai Bae Eunji?” tanya Yoochun balik. “Tapi apa benar? Aku tidak pernah mendapati Myungsoo berusaha mendekati Eunji,” balas Sonia.

“Sst! Dia menjadi secret admirer selama ini” bisik Yoochun. “Paboya!” suara Sonia yang sedikit meninggi membuat para pelayat menolehkan kepala mereka ke wajahnya. “Eunji telah memiliki kekasih sejak 5 tahun yang lalu,” kembali Sonia memelankan intonasi suaranya.

“Lupakan cerita lara Myungsoo, aku masih penasaran, siapa gadis tadi?” Yoochun memegang dagunya, kembali mengamati gadis yang telah berdiri di samping tuan Bae yang baru saja keluar dari ruangannya. Gadis itu tanpa melepas kacamata masih berdiri tegak selayaknya patung lilin. Kulitnya terlihat sangat terawat, mungkin saja ia tidak hidup di Korea. Ini terlihat dari gaya anggun nan elegan khas orang Eropa yang tergambar melalui gerak tubuhnya. Syal yang menutup rapat leher gadis tersebut telah disingkirkan, kemeja cokelat hitam dibungkus mantel beludru warna hitam serta sepatu pantofel yang ia kenakan semakin memberi kesan selayaknya putri yang datang dari kutub Utara.

“Wajahnya sangat mirip dengan Eunji,” bisik Sonia. “Matja, apakah mereka kakak beradik?” analisa Yoochun. “Kau tahu sepertinya perhatian seisi pelayat di ruangan ini hanya tertuju pada gadis itu,” bisik Sonia lagi.

“Seharusnya Myungsoo di sini saat ini,” ucap Siho.

Waeyo?” tanya Yoochun dan Sonia bersamaan.

“Karena ia yang Myungsoo cari selama ini,” Siho terus menatap intens gadis yang tengah berjalan beriringan dengan Tuan Bae. Terang saja kalimat pendek Siho membuat wajah Yoochun dan Sonia terheran. “Jangan bertanya mengapa karena aku tidak akan menjawab,” potong Siho yang berhasil membungkam mulut kedua sahabatnya.

Sesuai dengan jadual yang telah disusun oleh empunya acara, jenasah diberangkatkan untuk dikremasi, kemudian abunya akan dilarung di laut. Gadis itu melepas kacamatanya ketika akan memasuki mobil.

“Kau….” Myungsoo menatap dari kejauhan. Gadis itu telah duduk di samping tuan Bae, kesunyian menyergap keduanya, tanpa sepatah katapun keluar dari bibir gadis tersebut, tuan Bae mampu mendengar isakan kecil.

“Maaf…” sebuah kata terucap dari mulut tuan Bae, “maaf telah membuatmu pulang kemari dengan cara seperti ini,” suaranya semakin bergetar hebat. Tanpa gadis itu pinta, sudah pasti tuan Bae mengulurkan lengannya, berusaha memeluknya, menepuk bahunya perlahan. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada tuan Bae sambil menahan isakannya.

—-

Seorang Myungsoo hanya bisa diam terpaku menatap gadis yang berdiri di seberang dirinya. Selepas jenasah Eunji berhasil dikremasi menjadi abu, keluarga Bae beranjak ke dermaga Mokpo, bertolak ke tengah laut untuk mengebumikan abu Bae Eunji. Gadis itu masih terdiam mematung, kakinya seperti terpaku menatap perahu boat yang membawa tuan Bae bergerak ke tengah laut.

“Sooji,” Myungsoo telah berhasil berdiri di samping gadis tersebut. “Anda salah orang,” jawab gadis itu dengan nada datar sekaligus tenang namun mengisyaratkan sesuatu yang tertahan, tercekat di tenggorokannya.

“Kau Sooji,” Myungsoo masih meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang salah mengenali orang.

“Adopta, namaku Adopta..” gadis itu melepas kacamatanya, melayangkan tatapan ke mata teduh Myungsoo.

Senyumnya selalu membuatku bahagia, mata itu mata yang selalu aku rindukan.

Eonni-ya apakah aku bisa melihatnya lagi? Aku tidak ingin ikut dengan mama.

Memori gadis itu kembali berputar seiring dengan manik mata cokelat Myungsoo yang tengah menatap intens dirinya.

“Aku tidak pernah salah,” Myungsoo menampakkan senyumnya, senyum yang mungkin sangat dirindukan gadis tersebut.

“Aku pergi,” gadis itu memundurkan kakinya, perlahan berjalan menjauhi Myungsoo.

“Kapan kau kembali ke Edinburgh?” pekik Myungsoo. Langkah gadis itu terhenti, ia mengambil nafas panjang, memalingkan wajahnya ke belakang.

“Lusa,” jawabnya tanpa memberi kesempatan Myungsoo untuk kembali bertanya, ia melangkahkan kakinya lebih cepat menembus udara sore dermaga Mokpo.

“Kau tidak mungkin secepat itu meninggalkan kami. Aku akan berjuang mendapatkanmu.” Myungsoo menatap lembut gadis tersebut, seorang gadis yang mengisi kenangan-kenangan masa mudanya. Ia merapalkan janji dalam hati, kali ini ia akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan kembali kenangan-kenangannya yang perlahan rapuh, terpecah menjadi kepingan-kepingan. Ia seorang Kim Myungsoo akan mengubah sikap dingin seorang putri salju, Adopta.

TBC

Mian sedang tidak mood buat ff Yoona, jadilah prolog ini. Mungkin hanya 3 chapter saja di sela-sela ff Yoona. RCL nya ne ^^ ghamsahamida🙂

91 responses to “Adopta (Prolog)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s