Mistakes and Regrets #5

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kim Sunggyu

Poster by animeputri @HSG

I don’t own anything besides the storyline

Dilemma

 

Warning! Yang bercetak tebal adalah flashback

 

Sooji menatap ibu tirinya, Lee Nahyun, dengan tenang. Berusaha meredakan rasa takutnya yang sedikit-sedikit berubah menjadi rasa emosi. Sooji daoat melihat bagaimana wajah ibunya yang terkejut namun kemudian ditutpinya kembali dengan seringai tipis yang tercetak di wajahnya.

“Ah Sooji. Bae Sooji. Kau berani pulang ternyata. Kukira kau lupa jalan pulang, nak.”

Tangan Sooji mengepal. Dia benci sebutan ‘nak’ yang diucapkan oleh Lee Nahyun. Lee Nahyun tersenyum kecil, menyadari bahwa Sooji sedang berusaha mengontrol amarahnya yang tiba-tiba datang.

“Melihat kau datang dengan membawa nama Hwajae aku yakin pamanmu yang menyembunyikan keberadaanmu selama ini. Apa kau sudah mengunjungi ayahmu? Kurasa dia kesepian di sana.” Senyum Lee Nahyun terlihat semakin mengerikan ketika dirinya menekankan kata ‘ayahmu’.

Sooji menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dia masih ingat dia harus menjaga sikap. Saat ini dirinya merupakan perwakilan Hwajae, perwakilan samchonnya. Dia harus bisa menahan diri.

“Ah tentu saja ayahmu tidak kesepian. Ada ibumu, ibumu yang penyakitan itu.”

“Jaga ucapanmu!” Sooji berteriak.

Habis sudah kesabaran Sooji, perlahan tangannya terangkat hendak menampar pipi Lee Nahyun. Beruntung Sunngyu ada di dekatnya dan menahan tangan Sooji. Digenngamnya erat-erat tangan atasannya itu.

Sooji ingin meneriakinya namun tatapan tajam Sunggyu seakan membungkamnya.

“Kami pamit sajangnim. Sekali lagi selamat ulang tahun untuk Jaesan.”

Sunggyu kemudian menarik tangan Sooji cepat-cepat setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Lee Nahyun. Lee Nahyun hanya tersenyum tipis melihat Sunggyu yang menarik Sooji dan Sooji yang terlihat sedikit meronta. Matanya perlahan menajam dan rahangnya mengeras, “Kau kira aku akan melepaskan Jaesan untukmu? Jangan harap.”

“Yya! Lepaskan aku.”

“Yya!”

“Kim Sunggyu-shi! Kubilang lepaskan tanganku!”

Di depan mobilnya, Sunggyu akhirnya melepaskan tangan Sooji kemudian berbalik menatap yeoja yang sepanjang perjalanan mereka melintasi parkiran, selalu meneriakinya.

“Yya! Bisa kau bersikap sopan? Aku atasanmu, neo arra? Jangan bersikap seenaknya!” Sooji memekik sembari mengelus pergelangan tangannya yang terasa perih dan terliaht memerah.

Sunggyu hanya diam dan menatap Sooji dengan wajah datar.

“Yya! Kau tidak usah campur deng…”

“Tidak usah ikut campur?” Sunggyu memotong ucapan Sooji.

Sooji mengerjapkan matanya, terkejut melihat perubahan wajah Sunggyu yang kini terlihat sangat dingin.

“Tidak usah ikut campur, katamu?” Sunggyu kembali mengulang pertanyaannya.

Sooji hanya bisa diam. Dirinya benar-benar terkejut dibentak oleh seorang Sunggyu.

“Yya! Kau hampir menamparnya, kau hampir menampar chairman Jaesan, kau hampir mempermalukan Hwajae di depan banyak orang. Kau harus bisa mengontrol emosimu, Bae Sooji!”

Sooji terhenyak begitu diteriaki begitu oleh Sunggyu. Digigitnya bibir bawahnya berusaha menahan segala emosi yang berkecamuk di dadanya. Sunggyu tidak mengerti.

“Kau itu seorang atasan, Sooji-ah. Kau dipercaya samchonmu untuk mewakili Hwajae menjadi tamu di acara Jaesan. Harusnya kau bisa bersikap lebih tenang menghadapi seseorang seperti Lee Nahyun itu.”

Air mata mulai terakumulasi di sudut Sooji. Perlahan ditundukannya kepalanya. Sooji merasa posisinya sangat salah saat ini. Dia mengerti posisinya sebaga seorang tamu tapi menurutnya wanita sialan itu sudah keterlaluan.

“Aku tidak peduli apa yang kalian bicarakan tapi kau harus bersikap professional. Jangan mudah terpancing emosi.”

Sunggyu menghentikan ocehannya dan menatap yeoja di depannya yang diam menunduk dan bahunya bergetar.

“Yya, neo uro?”

Sooji tetap bungkam, tidak menjawab tapi Sunggyu tahu yeoja di depannya ini menangis. Meski Sooji berusaha menyembunyikan isakannya Sunggyu masih bisa mendengarnya meski samar-samar.

Sunggyu mengehala nafas. Tangannya terangkat kemudian mengangkat dagu Sooji agar dirinya dapat melihat wajah Sooji dengan jelas namun Sooji menepisnya dengan kasar.

Sunggyu tidak menyerah, kini ditangkupnya wajah Sooji dengan kedua tangannya.

Mianhae, jeongmal mianhae.”

Sunggyu kembali menghela nafas karena Sooji tidak juga menghentikan tangisnya, diusapnya perlahan air mata yang turun di kedua belah pipi Sooji.

Uljima.”

Isakan Sooji memelan seiring bibirnya yang bergetar pelan hendak megutarakan pikirannya, “Dia menghina ibuku.”

Sunggyu terdiam mendengar ucapan Sooji yang tiba-tiba.

“Dia menghina ibuku! Tidak seorang pun boleh menghina nae omma!” Sooji berteriak histeris.

Sunggyu kemudian meraih tubu Sooji ke dalam dekapannya. Ditepuknya perlahan punggung yeoja itu agar tangisnya mereda.

Mianhae..mianhae..Sooji-ah. Maafkan aku yang tidak peka”

Sooji tetap terisak. Meskipun begitu, hatinya menghangat. Pelukan Sunggyu membuatnya hangat dan terasa sangat nyaman.

Sunggyu tidak melepaskan pelukannya hingga tangis Sooji berhenti. Sooji sendiri tidak meminta Sunggyu melepaskan pelukannya. Mereka terus berpelukan tanpa menyadari sepasang mata tajam yang memperhatikan mereka.

Seorang namja terlihat memainkan gitarnya dengan asal. Jarinya-jarinya memetik senarnya tanpa semangat. Penampilannya terlihat acak-acakan.

“Arg. Sial.” Namja itu tiba-tiba berteriak kemudian mengacak rambutnya, terlihat frustasi.

Drrttttt drrrtttttt drrrrrttttt

Namja itu menapa hpnya yang bergetar. Nama ‘Soojuung’ tercetak jelas di layar hpnya. Dibiarkannya hpnya bergetar terus menerus tanpa berniat mengangkatnya. Dirinya sedang malas untuk berbicara dengan gadis itu sekarang,

Namun sepertinya si penelfon tidak juga menyerah. Hingga akhirnya, pada dering ke enam, namja itu mengangkat hpnya dengan malas.

Wae?”

“Myungie, ottokhae…”Suara seorang yeoja terdengar lirih.

Neo oddieya? Jibe? Tunggu sebentar aku akan segera ke sana. Keuno

Setelah menutup telfonnya dengan Soojung, namja itu bergegas mengganti pakaiannya. Soojung memang belum mengatakan apa-apa di telfon tapi Myungsoo – namja itu – tahu kalau yeoja itu sedang memiliki masalah, terdengar dari suarnya yang begitu lirih.

Lagi-lagi seperti ini. Soojung selalu berhasil mengalihkan perhatiannya sebagaimanapun Myungsoo selalu berusaha menghindarinya. Seperti saat ini, saat dirinya memikirkan kejadian semalam yang mampu membuat darahnya bergejolak, saat dirinya sedang meratapi kesalahannya, saat dirinya sedang memikirkaan seorang yeoja yang begitu dirindukannya, Soojung selalu muncul dan entah kenapa Myungsoo tidak bisa mengatakan tidak kepada seorang Jung Soojung.

Myungsoo menghela nafas, Dia sangat tahu bahwa dia menyayangi Soojung tapi mengingat kejadian malam tadi, saat dia melihat seseorang memeluk yeojanya dan membuatnya mendidih, dia langsung sangsi mengenai perasaannya sendiri.

Myungsoo berdecak pelan, dia bahkan menyebut yeoja itu dengan sebutan yeojanya. Padahal yeoja itu sudah pergi, sudah terlepas dari genggamannya, dan itu.. salah dirinya.

Seoul 2010

“Hei Myungie, sudah makan? Aku membuatkanmu bibimbap.”

Myungsoo menatap gadis yang berada di sebelahnya dengan malas. Gadis itu tersenyum kikuk menyadari tatapan tak bersahabat dari Myungsoo.

Wwae?” Gadis itu bertanya dengan gugup melihat Myungsoo belum juga berhenti menatapnya.

“Kubilang berhenti memanggilku dengan sebutan Myungie.”

Alis gadis itu mengkerut, “Waeyo? Kau selalu melarangku memanggilmu Myungie tapi kau membiarkan Jungie memanggilmu begitu.”

Namja itu berdecak mendengar gadis itu menyebut nama Jungie. Matanya kemudian kembali beralih pada buku yang dipegangnya.

“Pokoknya aku tidak mau dipanggil Myungie.” Tegasnya lagi.

“Kenapa? Kenapa Jungie boleh sedangkan aku tidak?”

“Pokoknya tidak boleh!” Myungsoo mulai menaikkan nada bicaranya

Wae?!” Gadis itu juga tidak mau kalah, ikut menaikkan suaranya beberapa oktaf.

“Kubilang tidak boleh ya tidak boleh!”

“Kalau begitu Jungie juga harus berhenti memanggilmu Myungie!” pekik gadis itu lagi.

Myungsoo kembali menatap gadis itu, kali ini bukan dengan pandangan malas tapi tatapan dingin yang cukup mengerikan.

“Dengar ya. Jungie itu temanku sejak kecil hanya dia, kuulangi lagi, hanya Jung Soojung yang boleh memanggilku Myungie, yang lain termasuk kau, tidak.”

Gadis itu terhenyak mendengar ucapan Myungsoo, “Ken..”

“Kenapa? Kau mau tahu alasannya? Karena Jungie orang special bagiku. Sedangkan kau…kita bahkan baru kenal beberapa minggu.”

Myungsoo dapat melihat pantulan luka di mata gadis itu tapi dia tidak mau ambil pusing. Myungsoo sedikit terkejut ketika melihat gadis itu tersenyum kecil.

“Kalau begitu aku akan memanggilmu Soo, otte?”

Myungsoo mendesah, sekali lagi dibuka buku yang berada di tangannya. Gadis ini benar-benar keras kepala.

“Terserah kau saja, Bae Sooji.”

“Soo-ya! Apa kau melihat Yeol?”

“Dia pergi dengan Jungie.”

“Ah kencan ya?”

Myungsoo mengangguk, “Kenapa? Kau ingin menyusul mereka?”

Sooji terkekeh, “Untuk apa aku menyusul mereka? Aku akan mengganggu waktu mereka berdua, geutchi?”

Sebuah ide terlintas di kepala Myungsoo, “Ayo kita menyusul mereka Sooj.”

“Hah? Untuk apa? Sudah kubilang itu akan mengganggu mereka. Aku pulang saja.”

“Tidak, kita tidak akan mengganggu mereka Sooj. Mereka akan senang kalau melihat kita datang.”

“Tidak, aku tidak mau.”

“Ayolah, temani aku, ne?”

Sooji seakan terhipnotis dengan senyum Myungsoo. Myungsoo memang sangat jarang tersenyum padanya, senyum Myungsoo untuknya dapat dihitung jari padahal mereka sekelas bahkan semeja.

Entah sadar atau tidak, Sooji mengangguk.

Kajja.” Senyum Sooji melebar begitu Myungsoo menarik pergelangan tangannya. Ini akan menjadi kencan, geutchi?

Myungsoo juga tersenyum. Bukan, bukan karena Sooji. Tapi karena dia akan mengganggu kencan Soojung dan Sungyeol. Myungsoo sebenarnya tidak rela gadis yang disukainya berkencan. Ya benar, Kim Myungsoo menyukai Jung Soojung.

“Hei Soo, apa kau menyukaiku?”

Saat itu Myungsoo, Sooji, Sungyeol, dan Soojung sedang pergi berempat seperti biasa namun Sungyeol dan Soojung memisahkan diri. Mereka berdua mengatakan bahwa mereka membutuhkan waktu berdua. Jadi beginilah, Myungsoo terjebak bersama Sooji, gadis yang sejujurnya kalu bisa sangat ingin dia hindari.

Myungsoo menatap Sooji malas. Bibirnya seperti biasa terkunci rapat, sangat pelit mengeluarkan suara.

Sooji menghela nafas dan lagi-lagi Myungsoo melihat sorot terluka di mata Sooji. Sedetik kemudian Sooji menyunggingkan senyum kecilnya, senyum yang terlihat dipaksakan.

“Kau tidak menyukaiku ya, Soo-ya?” Tanya yeoja itu lagi.

Myungsoo masih menatap Sooji, diperhatikan baik-baik yeoja yang duduk di depannya itu, bagaimana yeoja itu tersenyum. Bagaimana yeoja itu terlihat gugup yang terlihat dari jari-jarinya yang saling terkait, bagaimana yeoja itu menatapnya. Myungsoo menyadari bahwa Sooji menyukainya, Myungsoo tau Sooji yeoja yang baik meskipun sedikit berisik dan kelewat hiperaktif, sayangnya Myungsoo menyukai Soojung.

“Tidak juga.” Myungsoo memang menyukai Soojung tapi tidak berarti Myungsoo tidak menyukai Sooji.

Senyum lebar menghiasi bibir Sooji.

Jinjja?” Matanya berbinar dan pipinya sedikit merona.

Myungsoo tersenyum tipis. Sepertinya sooji benar-benar menyukainya. Tanpa sadar, Myungsoo mengulurkan tangannya dan mengacak pelan rambut Sooji. Myungsoo kembali tersenyum ketika menyadari Sooji yang mematung dan pipinya semakin merona.

“Sooj? Kau baik-baik saja kan?”

“Aa nne ne, a aku baik-baik saja.” Sooji kemudian memainkan sendok tehnya. Myungsoo tersenyum lagi, menyadari Sooji yang salah tingkah.

Kemudian dilihatnya Sooji menghela nafas kemudian berdeham pelan. Dilihatnya Sooji yang memberanikan diri menatapnya.

“Soo-ya..”

“Ne?”

“Kau mau menjadi namjachinguku?”

Myungsoo tertegun, tidak menyangka Sooji akan berani mengatakannya. Myungsoo kembali menatap dalam Sooji yang juga sedang menatapnya. Myungsoo meyakinkan dirinya bahwa dia menyukai Soojung dan sudah seharusnya menolak Sooji. Myungsoo menelan salivanya gugup, bagaimana bisa dia bierkata tidak ketika Sooji menatapnya dengan pandangan memohon, bagaimana bisa Myungsoo berkata tidak ketika mata yeoja itu seakan memerangkapnya, pipi yang merona, dan bibir yang bergetar pelan karena gugup, bagaimana bisa Myungsoo megatakan tidak ketika Myungsoo tahu itu akan sangat melukai yeoja itu. Myungsoo menghela nafas. Mungkin sudah saatnya dia melepas Soojung. Mungkin sudah saatnya myungsoo melirik yeoja lain selain Soojung.

Myungsoo kemudian mengangguk dan tersenyum, “Aku akan mencobanya.”

Sooji tersenyum lebar mendengar jawaban Myungsoo. Pipinya yang sudah merah semakin merah karena bahagia, “Gomawo Soo-ya.”

Myungsoo kembali mengangguk. Yeah, dia akan belajar menyukai, ani, mencintai Sooji. Myungsoo yakin bisa lepas dari bayang-bayang Soojung.Myungsoo yakin dapat membalas cinta Sooji.

Sayangnya Myungsoo salah. Myungsoo memang berkata iya saat itu tapi pada kenyataannya dia tidak pernah benar-benar membuka hatinya. Dia kira dia tetap bisa menyayangi Soojung tanpa melupakan Sooji tapi itu salah. Myungsoo melukai Sooji berulang kali tanpa menyadarinya.

“Hei, neo gwenchana? Neo appo? Oddi appo?”

Serentetan pertanyaan itu langsung keluar dari bibir Myungsoo ketika sampai di kamar Soojung dan melihat kondisi Soojung yang berantakan.

“Myungie-ya.”

Myungsoo kemudian menarik Soojung ke dalam dekapannya.

“Ada apa? Kau bisa menceritakannya padaku.”

Uri oppa. Kang Minhyuk. Dia belum juga mengabariku.”

Rahang Myungsoo mengeras mendengar ucapan Soojung. Hatinya serasa dihantam ribuan paku. Dilepaskannya pelukannya secara spontan.

“Hanya itu?”

Soojung merengut mendengar ucapan Myungsoo, dihapusnya dengan kasar air mata yang turun di pipinya.

“Bukan hanya itu, Myung! Minhyuk oppa sudah dua minggu tidak menghubungiku. Aku kesal!”

Myungsoo menghela nafas. Dia kira Soojung kenapa-kenapa ketika mendengar suaranya di telfon tapi ternyata dia salah.

“Jika hanya itu masalahmu, Jung Soojung. Aku pamit.” Myungsoo mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar Soojung.

Soojung tertegun, “Neo waire? Kau bersikap aneh belakangan ini Myungie-ya.”

Myungsoo kembali memutar tubuhnya menghadap Soojung.

“Aku? Aneh? Yya! Kau yang aneh. Kau menelfonku seakan ada kedaan garurat dan gawat tapi ternyata hanya karena Minhyukmu yang belum menghubungimu. Menurutmu itu lucu?”

“Tidak, memang tidak lucu. Tapi ini memang keadaan gawat untukku, Myungie-ya.”

“Kau tahu aku menyukaimu kan, Jungie?”

Soojung terdiam, tentu saja dia tahu. Myungsoo sudah mengatakannya berulang kali tapi Soojung yakin perasaanya pada Myungsoo hanya sebatas sahabat, tidak lebih.

Myungsoo menghela nafas, “Kau sudah tahu tapi tetap menanyakan namja itu padaku? Daebak!”

Soojung mengerutkan dahinya bingung, “Yya! Kau ini kenapa? Biasanya juga aku bercerita soal Minhyuk oppa padamu dan kau tidak protes sama sekali.”

Myungsoo tersentak, soojung memang benar. Tidak biasanya Myungsoo marah hanya karena hal ini.

“Dan jika kau memang menyukaiku seharusnya kau menghiburku bukan membentakku!”

Myungsoo kembali menghela nafas, “Aku lelah Soojung-ah.”

“Belakangan ini kau bersikap aneh Myung, sejak kita bertemu Sooji di pemakaman, semenjak mengetahu Sooji telah kembali kau berubah.”

Myungsoo kembali tersentak mendengar penuturan Soojung, “Tidak. Kau tahu aku menyukaimu, Jungie.”

Soojung menutup matanya, kemudia membuang nafasnya pelaan. Ketika dirinya membuka mata diperhatikannya penampilan Myungsoo yang terlihat acak-acakan,

“Kau berantakan seperti ini apa karena kejadian semalam?”

Myungsoo mematung.

“Aku benar, geutchi? Kau terlihat berantakan dan temperamen seperti ini karena Bae Sooji, kan? Karena kau melihatnya berpelukan dengan kakakmu. Aku benar kan Kim Myungsoo?”

Myungsoo diam, bingung, tidak tahu harus menjawab apa.

Soojung menghela nafasnya, “Aku tidak peduli kau berkencan dengan siapapun Myung, aku tidak peduli jika akhirnya kau menemukan yeoja yang kau cari karena memang sudah saatnya kau berhenti menyukaiku.”

“Jungie, kau…”

Soojung mengangkat sebelah tangannya, meminta Myungsoo berhenti bicara kemudian melanjutkan ucapannya.

Keunde, aku tidak berharap Bae Sooji yang kau pilih. Aku tidak berharap Sooji yang akhirnya menjadi yeojamu. Mianhae. Tapi jika kau memang menyukaiku dan masih mau menjadi sahabatku, jauhi Bae Sooji.”

TBC-

a/n

Annyeong, ada yang masih inget ff ini? Mianhae lama banget jedanya kkk

Ah iya, sebelumnya mau ngucapin chukkae buat uri Suzy. Wish you a happy relationship with LMH.

Aku shock banget, shock banget, sampe ngerefresh page allkpop berulang-ulang ngarep kalo aku salah baca berita, yah tapi itu ternyata beneran, real, nyata, kalo Suzy dates him.

Awalnya sempet bingung, sedih, gimana nasib ff yang udah diposting, gimana nasib hobi aku baca ff kalo main cast nya udah punya namchin, takut feelnya ilang, takut gabisa lagi ngebayangi Suzy dengan Myungsoo atau pairing lainnya.

Tapi ternyata aku salah. Ngebayangin Suzy sama Myungsoo JAUH LEBIH GAMPANG dibandingin ngebayangin Suzy sama LMH. Itu bukti nyata kalau mereka ga cocok #maafkanakuSooj

Hahaha pasti banyak kepingan hati yang patah ya di luar sana.

Well, I always be Suzy fans but I’m not the fans of her relationship. I respect her decision and wish her to be happy but my fingers will keep writing about Myungzy.

Be strong ya, yeorobun. Aku gak rela juga sebenernya tapi ya rela-relain aja, kita harus jadi fans yang dewasa buat Sooji kkk

Yah pokoknya happy reading lah!

Mian for short chapter, typos or anything. Drop your commet juseyo :3

 

 

83 responses to “Mistakes and Regrets #5

  1. Pingback: Mistakes and Regrets #12 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Pingback: Mistakes and Regrets #5 | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s