#Happy2ndAnniversaryKSF Step Mom

Step Mom - dina copy

Title : Step Mom | Author : dina | Genre : Family | Main Cast : Bae Sooji, Seo In Guk, Jung Eunji | Other Cast : Kim Myungsoo

Disclaimer   :

This story is Mine, all cast belongs to God and their family

Poster by my lovely saengi rosaliaaocha

.

.

.

“Junho dan Jihyo ikut bersamaku, aku tidak akan melarang dirimu untuk mengunjungi mereka. Bagaimanapun kau appa mereka dan aku eomma mereka.”

“Semoga kau berbahagia.”

Sebuah perceraian, sesuatu yang semua pasangan ingin hindari. Namun jika hati dan raga tidak lagi dapat bersatu maka perceraian merupakan langkah terakhir yang harus ditempuh. Bae Sooji mengalaminya. Kehidupan rumah tangganya dengan Seo In Guk kandas ketika memasuki usia pernikahan yang ketiga tahun. Dahulu Sooji meyakini bahwa menikah muda atas dasar pilihan orang tua akan membawa dirinya menuju kehidupan rumah tangga yang abadi. Kenyataannya kebahagiaan itu hanya sesaat ia dapatkan. Tepat setelah anak kembar mereka Junho dan Jihyo lahir di dunia ini, In Guk merasa bahwa hatinya tidak lagi dapat dipaksakan untuk mencintai Sooji sepenuh hati. Meskipun Sooji dan In Guk berusaha keras menyelamatkan rumah tangga mereka, namun takdir berkata lain.

– STEP MOM –

7 Tahun kemudian.

“Sooji-ssi.”

“Bagaimana hasilnya?” jemari Sooji merapat, ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

“Kau harus menjalani pengobatan dan terapi rutin. Aku bisa merekomendasikan dokter herbal yang dapat membantumu mengendalikan sel-sel ini.”

“Apakah separah itu?”

Dokter Kim terdiam, ia sangat tahu seperti apa rasanya menerima vonis dari dokter, pasien-pasien terdahulunya bahkan ada yang sampai pingsan menerima kenyataan.

“Keluargamu harus tahu,” ucap dokter Kim.

Andwe…

“Bagaimanapun suatu saat kau harus jujur dengan keluargamu.”

“Anak-anakku masih kecil..”

“Mereka masih punya appa-nya, kau tahu betul itu.”

“Berapa lama lagi kesempatan untukku?”

Dokter Kim menggelengkan kepalanya, “aku tidak bisa memastikan, jika aku memvonis waktumu tidak lama maka aku menentang ketentuan Tuhan. Bagaimanapun yang bisa kau lakukan hanya mengendalikan penyakitmu, jalani pengobatan seperti yang kusarankan.”

Hening

“Haruskah aku menyerahkan anak-anakku?”

“Kau harus mendekatkan mereka ke appa-nya”

Ne…” wajah Sooji berubah muram.

—–

“Junho! Jihyo!” panggil In Guk begitu melihat dua buah hatinya memasuki halaman rumahnya bersama Sooji. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menyambut kedua putra putrinya.

Appa!” sorak keduanya sambil berlari merengkuh lengan kekar In Guk, “aku rindu appa!” Jihyo mencium pipi In Guk, “aku juga!” rengek Junho yang lahir 2 menit setelah Jihyo.

“Aigoo…appa manhi manhi boghosippoyo” In Guk mencium satu persatu pipi anak-anaknya.

Annyeong” sapa Sooji sambil menundukkan kepalanya.

Annyeong…kalian tampak sehat” senyum In Guk.

Ne…mana istrimu oppa?”

“Eunji-ya!” panggil In Guk, berjalan memasuki rumahnya sambil menggandeng Junho dan Jihyo.

Neeoh Sooji-ssi,” sapa Eunji yang diangguki Sooji, “bagaimana kabar kalian?” Eunji melepas apronnya.

“Kami baik,” Sooji duduk di sofa, Junho dan Jihyo sibuk dengan In Guk. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Aku baik, sangat baik” senyum Eunji mengusap puncak kepala Junho.

Yimo!” Junho memeluk kaki Eunji.

Aigo..Junho-ya, kyeopta!” balas Eunji.

“Kau mau minum apa Sooji-ssi?” Eunji berjalan ke arah dapur diikuti Sooji.

“Apa saja” Sooji melepas mantelnya, “Eunji-ssi…” panggil Sooji.

Ne?”

“Apakah anak-anak boleh tinggal di sini?” tanya Sooji hati-hati.

“Hem?” Eunji meletakkan gelas perlahan sambil menatap Sooji, “kau mau pergi?” tanyanya.

“Iya..mungkin sekitar 5 bulan, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di Daegu, aku tidak mungkin meninggalkan anak-anak sendiri di rumah tanpa pengawasan orang tua..”

Eunji terdiam sejenak, ia baru 2 tahun menikah dengan In Guk. Kehidupan sehari-harinya ia habiskan hanya bersama suaminya. Sesekali Junho dan Jihyo berkunjung setiap liburan musim panas atau menjelang natal.

“Sebaiknya bicarakan dengan In Guk oppa.” Eunji menjawab dengan diplomatis.

“Hem..” Sooji menganggukkan kepalanya.

—–

“Kau keberatan dengan permintaan Sooji?” In Guk membuka obrolan dengan istrinya. Sooji memintanya menjaga anak-anak mereka selama ia pergi ke Daegu.

“Hem?” Eunji membetulkan letak selimutnya, In Guk berbaring di sampingnya. Sebelah tangan In Guk menopang kepalanya, “kau keberatan?” tanyanya lagi

“Tidak, mereka anak-anak yang manis dan penurut. Hanya saja aku belum mengenal dekat mereka…”

Arra…jika kau keberatan mungkin aku bisa meminta tolong bibi Kang untuk menjaga mereka.”

“Mereka tinggal di rumah Sooji sendiri?” Eunji mengerutkan kedua alisnya.

Ne..aku akan mengawasi mereka setiap pagi dan sore.”

Aniya oppa, aku tidak setuju.”

“Lalu bagaimana?”

Eunji terdiam sejenak. Tangannya ia selipkan di pinggang In Guk, merapatkan kepalanya di dada suaminya. “Kurasa tidak ada salahnya mereka di sini, mungkin dengan adanya mereka bisa memberi kita aegy,” Eunji memejamkan matanya, sedetik kemudian ia menguap. In Guk tersenyum menatap istrinya, “gomawo sayang” kecupnya di kening Eunji.

Sementara itu di lain tempat

Sooji berbaring di tengah-tengan Junho dan Jihyo. Ia mengelus kepala kedua anaknya, memorinya berputar mengenang masa lalu ketika ia membesarkan kedua anaknya sendiri. Meskipun In Guk tetap memperhatikan Junho dan Jihyo, namun waktu mereka lebih banyak dihabiskan dengan Sooji.

Mianhe…” lirih Sooji sambil berkali-kali mengecup pipi Junho dan Jihyo, “eomma akan berjuang untuk kalian,” airmata Sooji tak terbendung, ia menangis..

—–

Ige…buku Junho dan Jihyo, seragam dan baju mereka sudah ada di koper masing-masing.” Sooji menjelaskan kepada In Guk apa saja yang dibutuhkan kedua putra putri mereka, menulis panduan apa saja kegiatan Junho dan Jihyo, hingga jadual pelajaran mereka, daftar nama guru dan semua keperluan Junho dan Jihyo. Eunji memperhatikan dengan seksama penjelasan Sooji ketika anak-anak meminta appa mereka mengajaknya jalan-jalan.

Jeosonghamnida Eunji-ssi…maaf merepotkanmu” Sooji menata baju Junho dan Jihyo, memindahkannya ke lemari kabinet di kamar mereka.

Gwenchana…sudah saatnya rumah ini diisi keceriaan anak-anak kecil.”

“Jika kau butuh bantuan segera telepon aku,” pinta Sooji.

“Hem…” Eunji mengambil boneka beruang putih milik Jihyo, “Sooji-ssi..” panggilnya.

Ne?” Sooji berdiri menata buku Junho.

“Seperti apa rasanya mengandung? Maksudku..seperti apa rasanya mengandung anak kembar?” ulangnya lagi.

Sooji berhenti sejenak, “rasanya menyenangkan, jika orang lain mulai terlihat membesar di usia 5 bulan, perutku tampak lebih besar 1,5 kali dari mereka” senyum Sooji mengenang masa lalunya, “semua perhatian padaku..” suara Sooji memelan. “Mianhe..” Sooji tampak menyesal, ia hampir lupa dengan siapa dia berbicara saat ini.

Gwenchana..” kembali Eunji memainkan bonekanya.

“Kau pasti akan segera memiliki aegy, aku yakin itu.”

Ne semoga…gomapta Sooji-ssi,” Eunji kembali tersenyum.

—–

Hari-hari Eunji mulai disibukkan dengan kehadiran Junho dan Jihyo. Setiap pagi, ia dan In Guk menyiapkan keperluan mereka saat berangkat sekolah, siang hari mengecek apakah Junho dan Jihyo telah dijemput, malam harinya menemani mereka belajar hingga Eunji membacakan cerita sebelum Jihyo tidur. Sudah menjadi kebiasaan Sooji untuk menceritakan sesuatu sebelum putrinya terlelap. Di awal Sooji menitipkan kedua anaknya, ia masih sering berkomunikasi dengan Eunji atau Junho dan Jihyo, namun seiring berjalannya waktu, ia mengurangi intensitas meneleponnya, berharap perhatian anak-anak terhadap dirinya berkurang. Siapapun tidak ada yang tahu dimana keberadaannya. Hanya dokter Kim saja yang setia mengunjunginya di Busan. Sooji dirawat di sebuah rumah sakit khusus penderita kanker.

“Bagaimana kondisimu?” tanya dokter Kim ketika mengunjungi Sooji.

“Kemo ini meyiksaku,” Sooji memegang pergelangan tangannya yang semakin mengecil, “aku tampak aneh keutchi? Apakah anak-anak bisa mengenaliku?”

“Kau berlebihan, tentu saja mereka bisa mengenali eomma-nya, kau tidak seburuk dugaanmu Sooji-ssi,” terang dokter Kim.

Sooji melihat ke dalam cermin, wajahnya mulai tampak tirus, kulitnya lebih gelap dari pertama ia datang ke tempat ini, efek dari radioterapi dan kemoterapi yang sangat menyiksa. Orang tua Sooji sudah tiada semenjak ia menikah dengan In Guk, praktis ketika berpisah dari mantan suaminya, Sooji berjuang seorang diri membesarkan Junho dan Jihyo. Dan sekarang ia harus berjuang untuk dirinya sendiri, bertahan hidup demi putra-putrinya.

“Kau melamun?” suara dokter Kim membuyarkan keheningan Sooji.

“Hem…” Sooji berusaha tersenyum, “aku merindukan mereka” lirihnya menatap jendela, di luar sana mendung tampak menggelanyut, awan bersiap menumpahkan isinya selayaknya airmata Sooji yang berdesakan di sudut matanya.

—–

Yoboseyo…” Eunji menerima telepon dari sekolah Junho dan Jihyo.

“…..”

Ne…gidaryo, saya segera ke sana.” Eunji berlari menyambar kunci mobil, melajukan dengan kecepatan tinggi menuju sekolah Junho dan Jihyo.

Sesampainya di sekolah, Eunji berjalan melawati lorongs ekolah yang telah sepi menuju ruang konseling.

Annyeonghasimika…Seo Eunji imnida,” Eunji menyapa dengan sopan Lee saem. Tatapannya berubah heran mendapati Jihyo duduk di sudut ruang konseling dengan rambut berantakan dan baju sobek di bagian lengan.

“Anda wali dari Jihyo?” tanya Lee saem.

Ne…” jawab Eunji.

“Dimana orang tuanya?”

“Saya ditugaskan mewakili, mohon maaf apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Eunji dengan sopan. Jihyo menampakkan wajah datarnya, sangat berbeda dengan Jihyo yang Eunji lihat ketika di rumah.

“Seo Jihyo melakukan penganiayaan terhadap temannya”

“Apa maksudnya?” alis Eunji bertaut.

“Dia memukul kepala temannya dengan botol minuman dan menyebabkan temannya pingsan.”

“Aku hanya membela diri saem!” protes Jihyo.

“Tapi yang kau lakukan tetap saja salah, perkelahian bukan jalan keluar!” bantah sang guru.

“Tapi…Hyemi yang terlebih dahulu mengejekku!” Bantahan demi bantahan keluar dari mulut Jihyo.

“Jihyo-ya” Eunji memegang pergelangan tangan Jihyo, berusaha menenangkan, “jeosonghamnida Lee saem, bisakah saya berbicara empat mata dengan Jihyo?” pinta Eunji.

Lee saem diam sejenak, “baiklah…” lanjutnya.

Eunji mengajak Jihyo keluar dari ruangan konseling, “ada apa denganmu?” tanya Eunji.

Opso..”

“Jihyo-ah…bagaimana aku bisa membelamu jika kau tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.” Suara Eunji melembut.

Jihyo masih terdiam, matanya mulai memerah, “Hyemi dan Hongbin mengejekku” lirihnya.

“Mengejek?”

Jihyo menganggukkan kepalanya, “dia mengatakan kepada semua orang jika aku anak alien karena jariku ini, di selalu mengatakannya berulang-ulang. Junho berusaha membelaku tapi Hyemi menyuruh teman-temannya mengerjai Junho. Yimo tahu kenapa kemarin Junho mengerang perutnya sakit? Itu bukan karena dia susah BAB tapi karena Hongbin menendang perutnya di halaman belakang sekolah, tapi Lee saem tidak percaya. Akhirnya aku putuskan memukul kepala Hongbin ketika mereka mulai menggangguku lagi.” Nafas Jihyo mulai berat, “aku rindu eomma…” isaknya memenuhi sepinya lorong sekolah. Semenjak lahir Jihyo mengalami kelainan pada kedua tangannya. Ia menderita polidaktili, hanya Sooji yang selalu berhasil membuatnya bangkit dari ketidakpercayaan dirinya. In Guk tidak pernah tahu kehidupan sekolah putra-putrinya, namun Sooji sangat tahu dan mengerti karakter putra-putrinya. Itulah sebabnya ketika Junho dan Jihyo dipaksa untuk tinggal di rumah appa mereka, perubahan wajah perlahan tampak, baik Junho dan Jihyo memerlukan eomma mereka.

Mianhe…” Eunji mendekap tubuh Jihyo yang bergetar karena isakan tangis.

—–

Oppa

“Hem..”

“Dimana Sooji?”

“Bukankah di Daegu?”

“Apakah dia benar-benar bekerja di sana?”

“Kurasa..”

Eunji terdiam sejenak, pikirannya kembali ke kejadian tadi siang ketika ia mengantarkan Junho dan Jihyo ke rumah mereka. Di meja makan rumah Sooji, ia menemukan segepok obat herbal dan surat rekomendasi dokter untuk melakukan radioterapi dan kemoterapi. Eunji sangat terkejut melihat nama yang tertera di sana untuk direkomendasikan adalah nama Sooji.

Oppa..besok aku ajak anak-anak ke Daegu ne!” pinta Eunji.

“Sendiri?”

“Hem…aku sanggup menyetir mobil sendiri.”

“Kau yakin?”

“Yap, anak-anak membutuhkan eomma-nya setelah kejadian kemarin.”

In Guk tampak berpikir, “aku ikut dengan kalian.”

“Bukankah besok kau ada rapat penting oppa?”

“Bisa kutunda..”

—–

“Sooji-ya, kau dimana?” In Guk menelepon ponsel Sooji. Setelah panggilan ke delapan barulah Sooji mengangkat teleponnya.

“Aku masih di Daegu” jawab Sooji.

“Daegu mana? Aku dan anak-anak ingin mengunjungimu.”

Sooji tampak terkejut, ia tidak terpikir akan dikunjungi mantan suami dan anak-anaknya. Ia bimbang apakah harus mengatakan jujur atau tidak keberadaan dirinya saat ini.

“Halo..Sooji-ya, kau masih di sana?” tanya In Guk lagi.

“Temui aku di Seoul..” Sooji angkat bicara.

Ne?! apa maksudmu?”

“Aku akan ke Seoul, kita bertemu di rumahku saja,” pinta Sooji.

Onje? Kami sudah hampir memasuki kawasan Daegu.”

“Putar balik, pulanglah ke Seoul, akan kukabari lagi sekembalinya aku dari sini.”

“Kau baik-baik saja?” In Guk menampakkan nada khawatirnya.

“Aku baik-baik saja.”

“Baiklah…kau yakin kami harus kembali lagi ke Seoul?” In Guk masih berusaha meyakinkan.

Ne..kembalilah!”

“Baiklah, aku tutup.”

Ne..” Sooji menghembuskan nafasnya duduk mematung di sisi ranjang. Beberapa menit kemudian jemarinya memencet sebuah nomor, ia menelepon seseorang.

“Aku harus kembali ke Seoul, bisakah kau menjemputku?”

“……”

“Aku tunggu, gomawo” Sooji menutup sambungannya. Pandangannya menerawang, besok ia harus terlihat sehat. Rambutnya yang mulai rontok akan ia tutup dengan topi agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ia harus siap menghadapi kedua putra putrinya, apapun yang terjadi.

—–

Eomma!!” Junho dan Jihyo berlari ke arah Sooji, memeluknya sangat erat.

Boghosippo eomma!!” Junho dan Jihyo bergantian mengecup pipi Sooji.

Nado..” Sooji mengelus pipi Jihyo, “kalian tampak sehat” senyum Sooji.

“Hem…appa dan yimo sangat baik,” lapor Junho yang diangguki Jihyo.

Jinca?!”

“Hem…eomma aku ingin bermain ayunan!” Jihyo berlari ke halaman belakang tempat ia dan Junho bermain ayunan berbahan roda truk atau memanjat rumah pohon buatan kakek mereka sebelum meninggal. In Guk tersenyum melihat antusias putra putrinya sekembalinya Sooji.

“Sooji-ssi,” panggil Eunji

Eoh…duduklah!” Sooji menepuk bangku di sebelahnya. In Guk berdiri menatap lekat Sooji, sementara Eunji berusaha tenang. Ia dan suaminya telah berencana menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sooji.

“Bagaimana kabarmu 6 bulan ini?” tanya In Guk.

“Aku baik..” Sooji beusaha menjaga ketenangannya.

“Kau jangan berbohong Sooji-ya” tembak In Guk.

“Berbohong? Tentang?” Sooji kembali berusaha menutupi kondisinya.

“Kenapa kau rahasiakan ini dari kami?” tanya In Guk lagi.

“Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu In Guk-ssi” balas Sooji.

“Eunji menemukan surat dokter milikmu…” In Guk menyodorkan surat yang Eunji ketemukan di meja makan rumah Sooji.

Sooji terdiam mematung sambil terus memegang surat dokter miliknya. “Kalian sudah tahu rupanya..” Sooji tersenyum kecil, “jangan katakan ini pada anak-anak!” Pinta Sooji sembari berusaha menghilangkan kesedihannya. Demi apapun ia sudah berjanji tidak akan menangis di hadapan Junho dan Jihyo.

“Sooji-ssi…” Eunji meneteskan airmatanya.

“Aku titip Junho dan Jihyo ne, kumohon…”

Eunji hanya bisa terdiam menahan isakan tangisnya, kapalanya ia anggukkan berkali-kali. Sooji menepuk pundak Eunji, “aku tidak akan menangis” ucap Sooji.

Appa, eomma, yimo! Kita foto ya!” ajak Junho yang sedari tadi memegang kamera milik In Guk.

Call!” teriak In Guk.

—-

Sooji duduk di bangku panjang menghadap taman rumah sakit. Ia telah kembali ke Busan, menjalani pengobatannya dengan dokter Kim.

“Kau melamun lagi?” sapa dokter Kim yang berhasil membuyarkan lamunan Sooji.

Aniya…” senyum Sooji, tangannya merapatkan sweater rajut yang menutupi tubuhnya dari terpaan angin sore kota Busan.

“Menikmati matahari terbenam?”

“Hem…”

“Bagaimana kabar anak-anak?”

“Baik..kurasa aku akan tenang meninggalkan mereka bersama Eunji.”

“Kau tidak perlu mengatakan seolah-olah akan pergi selamanya.”

“Waktuku tidak banyak, kau tahu pasti hal itu.”

Dokter Kim mendudukkan dirinya di samping Sooji, ikut menatap matahari yang perlahan mulai terbenam.

Gomawo…” ucap Sooji.

“Untuk?”

“Menemaniku, merawatku, mengomeliku dengan sabar..”

Cheonma..” kekeh dokter Kim.

“Kemarilah..” Sooji menyandarkan kepalanya di bahu dokter Kim.

Mianhe Myungsoo-ssi…”

“Untuk apa lagi?”

“Bahkan ketika aku telah berpisah dengan In Guk oppa, aku tidak bisa menjadi milikmu…”

Suasana hening seketika, hanya terdengar suara daun berhamburan akibat hembusan angin. “Gwenchana…” dokter Kim menyandarkan kepalanya di atas kepala Sooji, sementara Sooji semakin merapatkan genggamannya di lengan dokter Kim. “Biarkan seperti ini..” lirihnya.

—–

2 Tahun kemudian

“Jihyo-ya, ppalliwa!” pekik Junho mendapati saudari kembarnya sibuk dengan diary-nya. Hari ini mereka akan melihat Jisoo adik mereka mengikuti lomba bayi sehat.

Ne…” Jihyo menutup diary-nya, memasukkan ke dalam laci meja belajarnya.

Eomma…nan boghoshippo…jeongmal boghoshippoyo!! Kemarin aku dan Junho berhasil masuk sekolah favorit seperti keinginan eomma, doakan kami dari atas sana ne! Saranghae eomma…

***

Happy2ndAnniversaryKSF ^^

Enjoy it guys!! Sengaja posting dini hari karena besok hari yang super duper sibuk (nggaya!!) jadi diposting sekarang sekalian habis ngerjain tugas kuliah. Mian kali ini main cast bukan Myungsoo-Sooji, bukan apa-apa sih hanya pas kebagian jatahnya bukan couple-an ini. Lagi-lagi saya menyajikan ff keluarga seperti ini, ga ada maksud bersedih kog, semoga cerita-cerita di WP ini menginspirasi kita semua, jangan lupa RCL nya ne…annyeong

45 responses to “#Happy2ndAnniversaryKSF Step Mom

  1. woah keren .. tapi sad ending😥
    gga apa2 sih, aku tetep suka.. ada banyak pelajaran yg bisa diambil dari sini.
    seperti biasa, ff nya kak dina yg bertema keluarga selalu menyentuh :’)
    aku seneng sama keluarga barunya in guk, eunji tetep bersikap baik sama sooji, in guk juga masih perhatian, dan anak2nya sooji bisa diterima sama eunji.
    well, meskipun ini sad ending tapi setidaknya sooji bisa meninggal dengan tenang.
    dan hubungannya myungsoo dengan sooji disini bikin aku sedikit terkejut.. ternyata myung bukan cuma sekedar dokter untuk sooji, dia pasti ikut terluka dengan kepergian sooji😥

  2. Main cast bukan myungsooji.. tapi critanya bagus..
    walaupun gk happy ending tp ttp suka..
    untungnya eunji baik bgt mau nerima anak2 sooji dan memperlakukanny kayak anak kandung.. dia jg bisa sayang sm mreka..
    Nice ff..

  3. Oh eonnie sangat sangat nysek…secara aku bacanya d tempat umum,jd aku g bs nangis..malu nanti dikiranya abis d putusin pacar atau apalah itu. Ternyata nahan tangis itu g enak ya Hëhëhëhë

    Setidaknya sooji prgi dg ktenangan d ht,mungkin tdk akan terlalu berat meninggalkan k2 buah hatinya karena sudah ada eunji yg akan mmberikan kasih syang layaknya seorang ibu.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s