#Happy2ndAnniversarryKSF — Love Equation

confusedend

BAE SUJI – LEE JONGSUK

author: @kyunita11 II genre: melodrama, angst, happiness II Length : One Shot

*********************************

Author dedikasikan untuk Kingdom of Suzy’s Fanfiction 2nd Anniversarry. Let’s write! Let’s read! Let’s Go!

*********************************

*********************************

Pernahkah kamu mengucapkan kata perpisahan pada kekasihmu saat hari sedang bersinar terang ditengah kota? Percayalah, hatimu akan terasa lebih sakit dibandingkan saat dirimu berpisah dengannya di hari saat hujan turun membasahi kota.

********************************** 

Hari minggu dipertengahan bulan Mei, cuaca bersinar cerah seolah bahagia menyambut kehadiran matahari musim semi yang menawan hati. Aku melangkahkan kaki perlahan-lahan menyusuri jalanan diantara pertokoan Gangnam sambil mencoba untuk menikmati hijaunnya tunas daun yang mulai menyembul di sekitar dahan. Suasana minggu terasa ceria karena penuh gelak tawa terdengar di seberang kafe dan bar dari tempatku berjalan. Aku melihat sepasang pria dan wanita begitu bahagia menertawakan wajah mereka yang terlihat aneh setelah melakukan selca. Disebelahnya, empat orang wanita muda mengangkat tinggi-tinggi gelas berisi champagne rose yang berwarna kuning mengkilat diudara seolah hanya ada kebahagian dihidup mereka.

Aku masih terus berjalan dengan langkah pasti menyusuri jalan di pusat pertokoan Gangnam yang hiruk pikuk siang ini. Semilir angin berusaha menyapaku sambil menerbangkan beberapa helai rambut hitam panjangku. Kuselipkan rambutku di belakang kedua daun telingaku yang selalu memerah setiap kali terkena udara dingin sambil berharap angin tak lagi mencoba ramah padaku. Sejujurnya, aku tak menyukai angin musim semi. Kenapa? Karena angin musim semi selalu mendesak airmataku keluar. Aku hanya mendesah pelan sambil menggelengkan kepalaku, berusaha sekuat hati menahan kenangan masa muda yang sering mendesak keluar bersama linangan airmata.

Tiba-tiba dua orang remaja sekolah, seorang pria dan wanita menyenggolku dan berjalan bergandengan tangan didepanku. Mereka sama sekali tidak menoleh kearahku tapi bisa kulihat keduanya saling lirik sambil tersenyum malu. Wajah kedua remaja itu tidak asing bagiku. Kucoba mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan diri bahwa ini bukanlah mimpiku. Aku terdiam ditempatku berpijak melihat keduanya. Remaja pria itu mengingatkanku pada dirinya yang telah menjauh dari hidupku dulu namun bayangannya menghantui mimpiku sampai sekarang, LeeJongsuk.

Sang remaja pria menggandeng tangan sang remaja wanita dengan penuh rasa hangat. Jarak diantara mereka sangatlah rapat. Dapat kulihat senyum tak pernah lepas dari keduanya yang membuat dadaku berdetak cepat. Tangan kiri sang remaja pria terulur untuk menyelipkan sisi rambut sang remaja wanita dibelakang telinganya yang memerah. Dari jarak yang tak cukup jauh, aku bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan. Ah, alangkah indah kenangan yang masih sempat mereka buat.

“terima kasih, Jongsuk-ah…” ujar sang remaja wanita sambil tersenyum malu.

“oh! Lihatlah, telingamu memerah Suji-ya!?” sahut Jongsuk sambil mengamati daun telinga Suji.

“hm.. ini karena aku tidak terlalu kuat menahan udara dingin… jadi setiap kali berada diluar seperti ini, daun telingaku akan memerah dengan sendirinya” jelas Suji sambil menahan wajahnya agar tidak ikut memerah.

“Wah, kamu benar-benar menarik sekali!” seulas senyum dari Jongsuk membuat angin musim semi bergerak lebih cepat seperti kabut.

Kulihat kedua remaja itu berbelok ketikungan kiri jalan yang kulewati. Langkahku membawa diriku ditikungan kiri itu, ada rasa penasaran dalam hatiku untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka ditikungan itu. Sesaat aku memandang jalan tikungan itu sambil mendesah. Kedua remaja itu sudah tak terlihat lagi. Yang tersisa dari kehadiran mereka hanyalah tiupan angin musim semi yang berdesir sepi dihati ini.

Kurapatkan kedua sisi jaket coklat muda yang kukenakan untuk menahan sebuah kenangan. Sekali lagi aku meneruskan perjalananku menyusuri pertokoan Gangnam. Angin musim semi yang berdesir selalu ingin mengintip isi hatiku ini. Sekuat apapun aku merapatkan sisi jaketku, tetap saja angin di musim penuh bunga bermekaran ini berhasil menerobos masuk melalui celah hampa yang tertinggal. Hatiku hanya bisa berdecak kesal memandangi kelopak bunga yang turut serta menyapaku. Dimana kamu berada sekarang, cinta masa muda yang hanya menawarkan keindahan?

Sekali lagi, dua orang menyenggol bahuku dan kini berjalan didepanku. Dan sekali lagi aku terdiam memandangi punggung mereka ditengah hari yang cerah ini. Seorang wanita menggandeng lengan kanan pria yang berjalan disampingnya. Kepala sang wanita disandarkan dilengan sang pria yang terlihat sangat gagah. Aku jadi teringat pada Jongsuk yang selalu membiarkan kepalaku bersandar dilengannya. Tangan kanan sang wanita berada didepan mantel coklatnya, mencoba untuk menahan terpaan angin. Sang pria melirik wanita disampingnya sambil tersenyum penuh cinta. Samar-samar aku bisa mendengar percakapan mereka.

“kau kedinginan?” tanya sang pria dengan penuh perhatian.

Sang wanita mengangguk, “sedikit… aku jarang keluar dihari berangin seperti ini”

“Kalau begitu ayo kita mampir ke kafe dulu sambil menghangatkan tubuh” ajak sang pria sambil membelok arah jalan mereka kekanan untuk menuju kafe.

Kulihat nama kafe yang mereka berdua tuju, Love Café. Sekali lagu desahan pelan keluar dari bibirku. Tempat kencan pertamaku dan Jongsuk itu seolah menarikku untuk masuk kedalam. Hah, otakku tahu ini ide yang buruk. Tidak seharusnya aku masuk kedalam kafe yang hanya akan membuatku mengingat Jongsuk. Namun hatiku selalu punya alasan untuk membatalkan perintah otakku, aku kan hanya penasaran dengan pasangan yang tadi menyenggol bahuku, batinku dalam hati sambil berjalan kearah kafe. Begitu aku membuka pintu kafe, aku mengedarkan pandangan disekeliling kafe untuk mencari pasangan kekasih yang menyenggol bahuku tadi. Tapi sekali lagi yang kudapati hanyalah aroma kopi latte yang selalu kupesan di tiap kencanku dengan Jongsuk.

Kulihat seorang waiter tersenyum ramah padaku sambil menyuruh duduk di sudut kanan ruangan, tempat favoritku setiap kali datang kemari. Kupesan coffee latte dan sepiring marshmallow untuk hari ini. Aku hanya ingin memakan sesuatu yang ringan dan manis. Begitu pesananku datang, aku tak langsung meminum coffee latte-ku. Kupandangi uap panas kopi yang mulai menyelubungi pandanganku.

Mataku tertutup beberapa saat hingga kemudian kudengar suara seorang pria dihadapanku. Kubuka kedua kelopak mataku dan melihat dengan jelas wajah Jongsuk. Aku terkejut melihatnya dihadapanku saat ini. Memori dikepalaku seperti mengulang kejadian saat itu, ketika aku terakhir kali bertemu dengannya di tengah hari berangin saat musim semi.

Aku tahu dia sedang marah dan syok saat itu, hal yang sangat jelas terekam di memoriku. Raut wajahnya yang tanpa senyuman membuatku tidak bisa bicara. Hanya linangan airmata yang tiba-tiba terasa panas dikedua pipiku ini yang membuatku sadar bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan Jongsuk.

“kenapa kamu tiba-tiba mengatakan itu?” Jongsuk terlihat syok sambil menatap kedua manic mataku.

“hm…entahlah, aku hanya…” suaraku tersedak buliran airmata yang jatuh.

“bukankah kita berjanji akan melewati masalah ini bersama? Tapi kenapa kamu memintaku pergi?”  Jongsuk berusaha mengulur tangannya untuk merengkuh hatiku.

Aku hanya mendesah pelan sambil menjauhkan hatiku yang terluka dari Jongsuk, “kita akhiri saja hubungan kita…”. Kalimat yang paling beracun dalam hubungan cinta terucap dari bibirku.

Jongsuk hanya terperangah dan matanya berkaca-kaca menatapku yang tak kalah pilu.

“kita tak akan pernah bisa bersama. Keluargamu… egomu… keluargaku… egoku… tidak akan pernah bisa bersatu… maafkan aku…” kupandangi wajah pucat Jongsuk yang kini sedang menunduk karena tak ingin terlihat lemah dimataku.

Aku sangat buruk dalam berakting sebagai wanita tegar, Jongsuk pun sangat buruk dalam berakting sebagai lelaki kuat. Kami tak mampu menyembunyikan airmata kami di tengah hari berangin saat musim semi seperti hari ini. Perpisahan kami akan jadi yang paling menyakitkan dan memalukan karena semua orang yang melihat wajah sembab ini pasti akan tertawa. Ah, harusnya aku memutuskannya saat musim penghujan tiba sehingga kami masih bisa menyembunyikan alasan wajah sembab ini.

Aku menoleh kearah kiri tempat jendela besar kafe membatasi jalan di pertokoan Gangnam. Aku bisa melihat angin berhembus cukup kencang menerbangkan tunas-tunas daun muda dan kelopak bunga di tengah hari yang cerah di musim ini. Begitu kualihkan pandanganku ke depan meja tempatku, Jongsuk sudah tak lagi duduk disana. Aku tersadar dari mimpi buruk perpisahan yang menyakitkan hati ini. Kuteguk coffee latte yang sudah mulai dingin dihadapanku, berharap semua kenangan tentang perpisahanku dengan Jongsuk tergelontor keluar dari tubuhku. Lalu, kuambil sebuah marshmallow dan memasukkannya kedalam mulutku, berharap memori manis akan selalu mengisi diriku. Rasa manis marshmallow menjalari setiap relung diriku, membuatku tersenyum untuk pertama kalinya hari ini. Aku pun berjanji pada diriku bahwa kini semua yang terjadi pada diriku hanya akan menjadi kenangan manis yang tak perlu kusesali, termasuk tentang Jongsuk.

Aku ingat sekali Jongsuk pernah berkata padaku saat kencan pertama kami di kafe ini, “Cinta adalah sesuatu yang indah. Jangan pernah menyesalinya!”

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Kuambil ponselku yang berada didalam saku jaket coklat mudaku dan melihat idcaller orang yang meneleponku, “Jang Myung”.

“Halo nak!” Kusapa cinta yang paling indah dari Tuhan untukku.

Anak lelakiku pun bertanya dengan nada tak sabar, “ibu dimana? Aku sudah pulang sekolah. Katanya ibu mau menjemputku”

“oh! Tunggu ibu, nak! Ibu akan segera kesana. Apa kau sendirian disana?” Jawabku sambil bangkit dari tempat dudukku untuk membayar pesananku dikasir.

“tidak, aku bersama Sun Mi sekarang. Kami sedang bermain ayunan di depan sekolah. Ayah Sunmi juga belum datang” jawab Jang Myung sambil menoleh kearah anak perempuan sebaya dengannya yang sedang mengayunkan ayunannya dengan cepat. Rambut Sunmi yang hitam panjang berkibar terkena angin musim semi yang membuatnya terlihat lebih indah dimata Jangmyung.

“baiklah. Kau tunggu saja di situ bersama Sunmi. Ibu akan segera tiba” jawabku sebelum menutup teleponku.

Segera saja aku berjalan keluar kafe untuk menyusuri jalanan pertokoan Gangnam. Langkahku kini lebih cepat dan mantap daripada sebelumnya. Aku menyadari satu hal, hari ternyata masih sangat panjang ketika aku memikirkanmu, Jongsuk. Aku yakin kau baik-baik saja dan akan selalu melakukan yang terbaik untuk hidupmu. Jika waktu berbaik hati, kita pasti akan bertemu lagi.

****

“Jangmyung-ah…!” Aku setengah berlari menuju anakku yang sedang bermain ayunan bersama seorang teman wanitanya yang bernama Sunmi.

Kulihat Jangmyung melambaikan tangannya dan menyambutku. Ia memelukku dengan erat, aku tersadar bahwa kini anakku tercinta sudah setinggi pinggangku. Rasanya baru kemarin aku menggantikannya popok, tapi kini dia sudah bisa berlari bersama dengan teman di sekolah dasarnya.

Sunmi mendekatiku dan menunduk penuh hormat kepadaku. Aku tersenyum melihat gadis yang sangat sopan ini. Begitu kupandangi wajahnya, aku seolah melihat diri kekasih yang pernah hadir dalam hidupku.

“Sunmi-ya…!” Kudengar suara seorang pria tak jauh dari belakangku. Suara itu sangat tidak asing bagiku, meski aku sudah hampir delapan tahun tidak bertemu dengannya.

Kulihat Sunmi berlari kearah pria yang berdiri di belakangku sambil berteriak, “ayah!!”.

“selamat siang, paman!” sapa Jangmyung yang tiba-tiba melepaskan pelukannya padaku dan berdiri menghadap pria dibelakangku.

Kukepalkan kedua tanganku dan berharap bahwa dugaanku salah. Dia bukan Jongsuk, Dia bukan Jongsuk, aku pun memutar badanku untuk menghadap ayah Sunmi. Aku berharap dia bukan Jongsuk, tapi ayah Sunmi yang kini sedang berdiri dihadapanku adalah Jongsuk.

“halo, ibunya Jangmyung… saya ayahnya Sunmi… ini pertama kalinya kita bertemu kan?” kulihat Jongsuk mengulas senyuman canggung dihadapanku.

“ya… ini pertemuan pertama kita sebagai ibunya Jangmyung… dan Ayahnya Sunmi…” kutatap matanya yang masih sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya, bersih, jernih dan penuh cinta.

“apa kabar?” tanya Jongsuk padaku yang masih menatapnya dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Aku tak pernah menyangka bahwa anaknya bersekolah ditempat yang sama dengan Jangmyung. Tidak pernah sekalipun aku bertemu dengan Jongsuk diacara ‘Parent Lesson’ disekolah sejak Jangmyung bersekolah di sd ini selama empat tahun. Bagiku, waktu mungkin baru mempertemukan kami saat ini karena aku sudah mulai merelakan Jongsuk menjadi bagian dari memori indahku.

Kujawab pertanyaan Jongsuk dengan senyum lega, “baik. Anda pasti baik juga kan?”

“tidak ada yang berubah darimu” balas Jongsuk sambil tersenyum.

“anda terlihat baik” Aku tahu bahwa dirinya pun telah menjadikanku kenangan indah baginya. “maaf, kami harus pergi dulu” ujarku sambil menggandeng Jangmyung.

“baiklah, sampai jumpa lagi…” Jongsuk menatapku sesaat sebelum mengalihkan pandangannya kearah anakku, “…Jangmyung”.

Anakku melambaikan tangan kearah Sunmi dan Jongsuk. Ku genggam tangannya dan mulai berjalan meninggalkan sekolah. Kutolehkan kepalaku ke belakang dan melihat Jongsuk tertawa bahagia sambil menggendong Sunmi. Jongsuk sudah menemukan cinta yang indah untuk dirinya dan aku hanya bisa turut tersenyum melihatnya.

“Terima kasih kau sudah memaafkanku, Jongsuk. Semoga kau bahagia dengan cintamu yang indah!” batinku dalam hati sambil melihat Jongsuk yang kini sedang bercanda dengan Sunmi.

****

“Terima kasih kau sudah merelakanku, Suji. Semoga kau bahagia dengan cintamu yang indah!” batin Jongsuk sambil menoleh kearah Suji yang kini berjalan sambil bergandengan tangan dengan Jangmyung.

****

THE END

*******************************************************

Author seneng banget Kingdom of Suzy’s Fanfiction ultah ke-2 tahun!!! (lompat kegirangan^^). Meskipun author masih terbilang baru gabung, readers disini mau welcome sama ff geje author (bow) (thank you^^)!!

Semoga makin oke karya-karya author disini, makin kece-kece juga readers-nya, makin yahud juga komentarnya~~~

*****

PS: A White Paper Chapter 1 akan segera diupload. Buat shipper JongZy, MyungZy, HyunZy, stay tunes~~~ (Terima kasih yaaa komentarnya di Sinopsis dan Perkenalan!! Author seneng banget!!)

16 responses to “#Happy2ndAnniversarryKSF — Love Equation

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s