#Happy2ndAnniversaryKSF Because I Love You

©  School Art Design by Krys★

Title : Because I Love You  | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Fantasy, Romance | Rating : PG-13 Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Sulli

Read before

Three Wishes

“Karena aku mencintaimu.”

Myungsoo membuka matanya perlahan begitu sinar matahari mulai memasuki celah-celah jendela kamarnya. Sudah pagi ternyata. Mata elangnya menatap jam yang melekat pada dinding berwarna putih gading itu. Sudah jam 7.

“Selamat pagi.”

Myungsoo sontak menoleh ke sumber suara. Ah, ternyata gadis itu. Gadis yang setiap hari, tanpa mengenal waktu, selalu ada di hati dan pikirannya. Suzy. Myungsoo masih ingat bagaimana reaksinya begitu Suzy mengatakan cerita yang sangat tidak masuk akal – bahwa ia adalah seorang peri. Tapi, siapa yang sangka bahwa ia akan jatuh cinta pada gadis yang sempat ia pikir memiliki gangguan jiwa, hingga akhirnya Myungsoo memutuskan untuk membuat permohonan agar Suzy berubah menjadi manusia seutuhnya. Myungsoo tersenyum simpul. Dan itulah yang membuat ia dan Suzy tinggal bersama selama kurang lebih 3 tahun belakangan ini.

“Apa yang kau pikirkan?”

Pertanyaan Suzy membuat Myungsoo tersentak. Lelaki itu menggeleng. “Tidak ada. Hanya saja aku masih tidak percaya bahwa kau kini berada dihadapanku,” Myungsoo memeluk gadis itu hangat begitu Suzy duduk tepat disebelah Myungsoo.

Mendengar perkataan Myungsoo, Suzy menggelengkan kepalanya. “Cepatlah mandi. Kau bisa terlambat kerja nanti,” suruhnya. Suzy lalu mulai membuka gorden kamar Myugsoo, membuat kamar yang semula gelap itu kini nampak lebih terang.

“Baiklah. Tapi berikan aku ciuman pagi dulu.” Myungsoo memajukan bibir tipisnya.

“Aku akan memberikannya setelah kau mandi,” Suzy menutup bibir Myungsoo dengan telapak tangannya. “Cepatlah,” ujarnya sebelum akhirnya meninggalkan Myungsoo sendirian dikamarnya. Sedangkan Myungsoo hanya mendesah pasrah lalu mulai beranjak ke kamar mandi.

Suzy kini sibuk mengiris-iris sayuran. Ia lalu mulai memasukkan semua bahan kedalam wajan. Gadis itu kini tampak seperti koki dari hotel bintang lima yang kini sedang memasak untuk para pelanggannya.

“Wanginya enak sekali. Apa yang kau masak?”

Suzy tersenyum simpul begitu tangan Myungsoo memeluk erat pinggangnya. “Ya! Bagaimana aku bisa memasak kalau kau memelukku seperti ini?” dengus Suzy. “Duduklah. Aku akan segera menghidangkan makanannya.”

“Baik, ibu,” ejeknya. Namun, walaupun begitu, ia tetap menuruti perintah Suzy.

Tak lama, Suzy kemudian meletakkan beberapa makanan yang telah ia masak dihadapan Myugsoo. “Makanlah,” ujarnya.

Myungsoo kemudian menyantap makanannya dengan lahap. Baru beberapa suapan, Myungsoo kembali membuka suara. “Nanti malam jangan memasak.”

“Kenapa?” tanya Suzy bingung.

“Ayahku mengundang kita untuk makan malam bersama.”

“Benarkah? Baiklah kalau begitu.”

“Aku sudah selesai,” Myungsoo meletakkan sumpitnya tepat disebelah mangkuknya. “Kalau begitu, aku pergi,” Myungsoo mencium kening Suzy lembut sebelum akhirnya pergi.

Suzy tersenyum simpul seraya memandangi punggung Myungsoo yang mulai menjauh. Namun, begitu bayangan lelaki itu menghilang, senyuman Suzy juga ikut menghilang. Ia menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya menoleh pada seorang gadis yang sebaya dengannya yang sedari tadi menyaksikan percakapan singkatnya dengan Myungsoo tanpa disadari lelaki itu.

“Kenapa kau selalu saja menggangguku?”

Gadis itu – Sulli – terkekeh kecil mendengar pertanyaan yang ditujukan Suzy untuknya. “Bukankah sudah jelas? Aku kesini untuk menjemputmu.”

“Bukankah sudah jelas juga untukmu, aku tak mungkin kembali ke dunia atas.”

“Suzy-ah, kau tidak tahu betapa marahnya guru begitu ia tahu kau berubah menjadi manusia?”

“Tapi, aku tak bisa kembali. Aku mencintai Kim Myungsoo. Aku tak bisa hidup tanpanya,” Suzy mulai mengangkat piring-piring kotor kedalam wastafel.

“Lalu bagaimana dengan ibumu? Apa kau tidak merindukannya?”

Pertanyaan Sulli membuat gerakan Suzy seketika terhenti. Sulli bisa mendengar hembusan nafas yang panjang dari gadis itu. “Aku merindukannya. Sungguh. Tapi, aku benar-benar tak bisa kembali. Maaf,” ujarnya menyesal.

“Kau tahu, Suzy-ah. Berhubungan dengan manusia itu tak seindah kelihatannya. Mereka makhluk yang egois dan tak setia. Suatu saat kau pasti menyesal. Kalau begitu, aku pergi. Aku akan kembali beberapa hari lagi untuk menjemputmu. Bersiaplah.” Sedetik kemudian, gadis berambut panjang itu menghilang.

“Aku tidak akan merubah pendirianku,” lirih Suzy.

Myungsoo  memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah keluarga Kim. Setelah pagar besar itu terbuka, barulah Myungsoo kembali menjalankan mobilnya. Myungsoo kemudian memarkirkan mobilnya tepat disebelah mobil porsche berwarna silver. Suzy tak pernah melihat mobil itu sebelumnya. Apa keluarga Kim kedatangan tamu?

“Kenapa diam?” tanya Myungsoo melihat tingkah Suzy.

Gadis itu mengidikkan bahunya. “Entahlah. Seberapa sering pun aku kerumah ini, tetap saja gugup.”

“Kau tidak usah khawatir. Ayah dan Bibi Lee tidak menggigit,” candanya, berharap dengan begitu, kegelisahan gadis itu akan berkurang. “Ayo,” Myungsoo menggandeng tangan Suzy lembut.

Myungsoo memencet bel rumahnya. Tak lama, terdengar suara sahutan seorang wanita. Itu jelas bukan suara asisten rumah tangga Myungsoo, karena Bibi Park jelas sudah berumur setengah abad lebih, sedangkan wanita ini sepertinya sebaya dengan Suzy. Jadi, siapa?

Oppa!

Suzy membuka sedikit mulutnya begitu sosok seorang gadis cantik dengan eyeliner tebalnya muncul dihadapannya. Yang membuat Suzy terkejut bukan karena kehadiran gadis itu tapi karena gadis itu tiba-tiba saja mencium pipi tirus Myungsoo. Siapa gadis ini? Beraninya ia mencium Myungsoo didepan tunangannya sediri!

“Park Jiyeon? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Myungsoo. Sepertinya lelaki itu tak kalah terkejutnya dengan Suzy.

Park Jiyeon? Suzy tak pernah mendengar Myungsoo menceritakan gadis ini sebelumnya. Siapa dia sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan Myungsoo hingga dia berani mencium Myungsoo?!

Jiyeon mendengus begitu mendengar pertanyaan Myungsoo. “Ya, Oppa! Kau tidak senang aku mengunjungimu?” Pandangannya kemudian beralih pada Suzy yang sedari tadi hanya menonton mereka. “Ah, apa karena gadis ini?” Jiyeon melirik Myungsoo sekilas. “Annyeong! Park Jiyeon-imnida,” Jiyeon membungkukkan badannya sebagai tanda perkenalan dirinya dan Suzy.

Suzy tersenyum simpul. Sepertinya gadis ini tak seburuk yang ia pikirkan. “Annyeong! Suzy-imnida.”

“Apa yang sedang kalian bicarakan? Masuklah.”

Ketiganya sontak menoleh kearah Kim Jongin – adik tiri Myungsoo. Suzy masih ingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan lelaki berkulit hitam manis itu. Saat itu, hubungan Jongin dengan kakak tirinya itu masih tidak begitu baik. Namun, setelah semuanya jelas, semua berubah seratus delapan puluh derajat. Walau Myungsoo masih belum mau memanggil Bibi Lee dengan sebutan “ibu”.

Suzy, Myungsoo dan Jiyeon lalu mengikuti langkah Jongin menuju ruang makan. Suasana ruang makan sama hangatnya seperti saat sebelum-sebelumnya. Kedua orang tua Myungsoo menyambut Suzy hangat. Namun, saat mereka mulai menyantap makan malam mereka, Suzy merasa seperti orang asing. Saat keluarga kecil itu – ditambah dengan Jiyeon – asik bernostalgia, yang Suzy lakukan hanya diam sambil sesekali tersenyum simpul saat mendengar cerita mereka yang menurutnya lucu.

Sehabis makan malam, keadaan tidak membaik. Ayah Myungsoo dan Bibi Lee asik bercerita di ruang tengah sedangkan Myungsoo dan Jiyeon asik bercengkrama di taman belakang.

“Kenapa tak ikut bergabung dengan mereka?”

Suzy menoleh sekilas pada Jongin lalu tersenyum simpul. Bukannya menjawab, gadis itu malah bertanya,”Sebenarnya, apa hubungan Myungsoo dan Jiyeon?”

Jongin duduk disamping Suzy sebelum akhirnya menjawab,”Keluarga kami dan Jiyeon noona cukup dekat. Dia bahkan sering tidur disini saat kecil. Aku sempat berpikir bahwa mereka akan berkencan saat beranjak dewasa. Tapi, siapa sangka dia akan jatuh cinta denganmu,” Jongin menyikut lengan Suzy.

Hampir berkencan? Apakah mereka memang sedekat itu? Entah kenapa ada sesuatu yang mengganggu Suzy. Ia sendiri tak tahu apa itu.

Selama perjalanan pulang ke apartemen mini Myungsoo, Suzy tak banyak bicara. Gadis itu hanya menjawab sekedar pertanyaan Myungsoo. Myungsoo tahu ada yang salah dengan Suzy. Namun, begitu ia berniat bertanya pada Suzy, gadis itu sudah terlebih dahulu masuk ke apartemen.

“Ada apa denganmu? Kenapa sedari tadi hanya diam?”

Suzy yang tadinya berniat untuk tidur ke kamarnya mengurungkan niatnya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya membalik menghadap Myungsoo. “Tidak ada. Aku hanya lelah,” jawab Suzy sekenanya. Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Suzy masuk ke kamarnya.

Melihat itu, Myungsoo tak mau ambil pusing. Mungkin Suzy sedang datang bulan. Bukankah wanita memang sangat sensitif jika sedang begitu?

Myungsoo masih tak mengerti apa yang terjadi pada Suzy. Sudah sedari tadi mereka berdua menyantap sarapan yang dibuat oleh Suzy, tapi Suzy tetap tak membuka suaranya. Myungsoo sesekali mencoba memulai pembicaraan, tetapi gadis itu hanya menjawab dengan sekenanya.

Myungsoo menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya bertanya,”Ada apa denganmu sebenarnya?” Sebelum Suzy menjawab pertanyaannya, Myungsoo kembali melajutkan,”Jangan katakan kau baik-baik saja karena aku tau kau sedang tidak baik-baik saja.”

Suzy terdiam sejenak. Apakah ia harus mengatakan pada Myungsoo bahwa ia tidak menyukai kedekatannya dengan Park Jiyeon? Tapi, Suzy tak mau Myungsoo mengaggapnya berlebihan walau ia yakin kecemburuannya itu beralasan. “Aku… hanya merindukan keluargaku.” Suzy yang baru saja menyelesaikan suapan terakhirya lalu mengangkat piringnya ke wastafel.

Myungsoo sontak terdiam. Ia tahu ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi masalah Suzy. Seandainya tempat tinggal Suzy bisa dijangkau oleh pesawat, Myungsoo rela. Tapi, ia tahu itu tidak akan berhasil.

“Maafkan aku,” Myungsoo memeluk hangat pinggang Suzy. “Ini semua karena permintaan bodohku.”

Suzy menggeleng kecil. Ia lalu membalikkan tubuhnya, membalas pelukan Myungsoo. “Tidak. Ini semua bukan salahmu. Aku sangat bahagia bisa mengenalmu. Sungguh.”

Keduanya terdiam sejenak, menikmati kebersamaan mereka, hingga akhirnya Suzy kembali membuka suara,”Apa kau tidak akan melepaskan pelukanmu? Kau bisa terlambar kerja nanti.”

Myungsoo tersadar dari lamunannya. Lelaki tampan itu sontak melepas pelukan hangatnya pada Suzy lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Myungsoo masih sempat mencium kening Suzy sebelum akhirnya benar-benar pergi. Namun, baru beberapa detik setelah kepergian Myungsoo, bel apartment Myungsoo berbunyi. Suzy menghembuskan nafasnya perlahan. Itu pasti Myungsoo. Kebiasaan buruk lelaki itu. Ia pasti selalu meninggalkan barang keperluannya.

“Kali ini apa lagi yang kau tinggalkan?”

Suzy sedikit terkejut karena begitu ia membukakan pintu, ia tidak menemukan sosok Myungsoo, melainkan gadis yang baru semalam ia kenal. “Park Jiyeon-ssi, Myungsoo baru saja pergi ke kantor.”

Jiyeon tersenyum simpul. “Aku tahu. Aku bertemu dengannya tadi di depan. Memangnya aku tidak boleh mengujungi apartment Oppa-ku?”

Entah kenapa, Suzy tidak suka mendengar Jiyeon memanggil Myungsoo dengan sebutan “Oppa-ku”. Bagaimanapun juga, lelaki itu adalah tunangan Suzy. Tidak sepantasnya Jiyeon melakukan hal itu.

Tanpa disuruh oleh tuan rumah, Jiyeon melengos masuk ke apartment Myungsoo. Suzy menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya mengikuti langkah Jiyeon. Gadis eyeliner itu kini asik melihat-lihat apartment Myungsoo.

Kyeopta!” Jiyeon terseyum lebar begitu melihat foto Myungsoo sedang bersama Damon – anjing tetangga mereka –  dengan mata yang menyipit dan senyum khasnya.

Suzy hanya bisa menggeram dalam hati. Ingin rasanya ia mengusir gadis itu dari kediaman Myungsoo tapi apa daya. Ia tak punya hak untuk itu meskipun ia adalah tunangan Myungsoo.

Tiba-tiba saja, Jiyeon berbalik membuat Suzy terperanjak karena terkejut. “Omong-omong, kau tak keberatan bukan kalau aku makan malam disini?”

Suzy terdiam. Ia tak berniat menjawab.

“Kau tahu bukan, aku menyukai Myungsoo Oppa,” ujarnya setelah terdiam beberapa saat.

Sebenarnya Suzy sudah menduga sebelumnya bahwa Jiyeon memang memiliki perasaan terhadap Myungsoo. Tapi, ia tak menyangka Jiyeon sendiri yang akan mengaku padanya.

“Berani taruhan?” tantangnya.

Suzy menatap Jiyeon tanpa berkedip sedikit pun. Taruhan? Taruhan apa?

“Setelah ini, Myungsoo Oppa mungkin akan jatuh cinta padaku.”

Seperti yang Jiyeon katakan beberapa saat lalu, ia akan makan malam bersama dirinya dan Myungsoo – atau mungkin hanya Myungsoo saja karena Suzy tahu jelas kehadirannya tak diharapkan. Suzy mengunyah malas makanannya. Ia menatap sekilas Myungsoo yang kini asik tertawa mendeNgar lelucon yang dilontarkan Jiyeon. Ia tersenyum lirih begitu mengingat perkataan Jiyeon beberapa saat lalu. Gadis itu menyukai Myungsoo.

Suzy mengangkat piringnya begitu ia meyelesaikan makan malamnya. Lihat! Myungsoo bahkan tak memperhatikannya sedikit pun.

“Biar ku bantu,” tawar Jiyeon begitu melihat Suzy sibuk membersihkan meja makan. “Oppa, ku tinggal dulU,” pamitnya.

“Bagaimana?”

Suzy menoleh pada Jiyeon yang kini sudah berada disampingnya. “Apanya?” tanyanya tak mengerti.

“Apa kau sudah merasa tersaingi?”

Mendengar pertanyaan Jiyeon, Suzy hanya diam. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Jiyeon tahu Suzy mulai risih dengan sikapnya. Ia kemudian memperhatikan Suzy yang kini sedang sibuk membuatkan susu untuk Myungsoo – kebiasaan Myungsoo setiap malamnya.

“Apa itu untuk Myungsoo Oppa? Biar aku yang memberikannya,” Jiyeon langsung merebut segelas susu yang baru saja selesai Suzy buat.

“Biar aku saja!” bentak Suzy. Ia mengambil kembali susu tersebut. Karena kedua gadis itu tak mengalah, gelas itu beserta susunya akhirnya jatuh membuat pecahan kacanya berantakan.

Suzy mengepalkan kedua tangannya. Sudah sedari tadi ia mencoba bersabar dengan tingkah Jiyeon, namun gadis ini benar-benar keterlaluan. “Kau mengacaukan semuanya!” Suzy mendorong tubuh Jiyeon lalu segera mengambil pecahan kaca yang berserakan dilantai. Suzy merintih kesakitan begitu tangannya terkena pecahan kaca tersebut.

“Apa yang terjadi?”

Mendengar suara Myungsoo yang mendekat, Jiyeon segera menjatuhkan tubuhnya lalu meronta kesakitan.

“Ada apa denganmu?” tanya Myungsoo pada Jiyeon seraya menghampiri gadis itu.

Oppa, Suzy mendorongku karena aku ingin membantunya mengantarkan susumu. Sekarang susumu tumpah karenaku,” lirihnya, berpura-pura menyesal.

“Suzy! Ada apa denganmu sebenarnya?! Kalau kau tidak ingin Jiyeon membantumu, kau tidak perlu mendorongnya!”

“Tapi aku…”

“Jiyeon-ah, apakah kau baik-baik saja? Bisa berdiri?” Myungsoo mengulurkan tangannya.

Baru saja Jiyeon mencoba berdiri dengan bantuan Myungsoo. Namun, baru sepersekian detik, gadis itu kembali terjatuh. “Sepertinya kakiku terkilir,” lirihnya.

“Kalau begitu naiklah kepunggungku. Aku akan mengantarkanmu pulang.”

Suzy hanya terdiam menatap kepergian Myungsoo. “Padahal aku juga terluka,” ujarnya seraya menatap tangannya yang kini mengeluarkan darah.

Suzy merintih kesakitan saat ia mengoleskan obat merah ke lukanya. Rasanya sakit sekali.

“Ada apa denganmu?”

Suzy tersentak begitu mendengar suara Sulli yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya. Sudah beberapa hari ini Sulli tak menjenguknya. Ia kira gadis itu sudah bosan membujuknya, ternyata tidak juga.

“Tanganmu…” tunjuk Sulli pada tangan Suzy yang terluka.

“Aku baik-baik saja,” tegasnya.

“Dimana lelaki itu? Kenapa dia tidak ada disaat seperti ini?”

“Dia pergi,” suara Suzy terdengar sayu.

“Apa terjadi sesuatu?” Sulli terdiam untuk beberapa saat. “Apa… kata-kataku menjadi nyata? Dia tidak setia?”

Suzy tersenyum lirih. “Tidak. Aku tahu Myungsoo bukan tipe lelaki seperti itu. Dia hanya menganggap Jiyeon sebagai adikya. Tidak lebih.”

“Jiyeon. Apa itu namanya?”

“Suzy…”

Suzy dan Sulli tersentak kaget begitu Myungsoo masuk ke dalam kamar Suzy. Sulli hanya menghembuskan nafas lega. Untung saja Myungsoo tidak bisa melihat wujudnya.

“Kau sudah pulang?” tanya Suzy seraya meyembunyikan tangannya dibalik punggungnya. Bagaimanapun juga, ia tak ingin membuat Myungsoo khawatir.

Lelaki itu menggumam. “Begitulah. Aku hanya mengantar Jiyeon pulang kerumahnya,” ujarnya. Myungsoo lalu menarik tangan Suzy dari balik punggung gadis itu. Ia lalu dengan sigap memberi perban pada tangan Suzy yang terluka.

“Kau tahu?” tanyanya sedikit tak percaya.

“Tentu saja aku tahu. Kau itu seperti buku. Mudah sekali untuk dibaca,” jawabnya. Lelaki itu masih sibuk dengan tangan Suzy. Namun, Myungsoo tersentak begitu Suzy mulai menangis. “Ya! Ada apa denganmu? Kenapa malah menangis?”

“Kau jahat! Kenapa kau malah membentakku seperti itu?”

“Maafkan aku,” suara Myungsoo terdengar sangat lembut. Myungsoo lalu mengusap pipi Suzy dengan sayang. “Jiyeon itu sudah ku anggap seperti adikku sendiri.”

“Tapi, dia menganggapmu lebih dari seorang kakak.”

“Tapi, aku tetap menganggapnya adikku. Jadi, tak ada yang perlu kau khawatirkan. Ya! Apa kau sekarang sedag cemburu? Aku baru kali ini melihat Suzy-ku cemburu.”

“Aku cemburu karena aku tak mau kehilanganmu!” akunya.

Myungsoo terdiam beberapa saat lalu tersenyum. “Kau tenang saja. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu.”

Suzy menatap malas pada Jiyeon yang menjadi tamu pertamanya pagi ini. Apa gadis itu tak punya kerjaan lain selain merusak hubungan orang?

“Apa yang kau lakukan?” tanya Suzy datar.

Jiyeon tersenyum. “Apakah Myungsoo Oppa tidak mengatakannya padamu? Aku mengajak kalian untuk berkemah sebagai tanda penyesalanku,” ujarnya. Ia menunjukkan keranjang bawaannya yang mungkin berisi bekal makan siang mereka untuk berkemah seperti yang dikatakan oleh Jiyeon. “Dan aku juga mengajak satu orang lagi! Jongin-ah!” panggilnya.

Tak lama, Jongin muncul dengan senyum tersimpul dibibirnya. “Annyeong, Suzy-ah!”

“Kalian sudah datang?”

Ketiganya sotak meoleh kearah Myungsoo yang kini sudah berada disamping Suzy.

“Kenapa kau tak mengatakan padaku sebelumnya?” bisik Suzy.

“Aku lupa.”

“Jadi, apa kita akan berangkat atau terus berbincang seperti ini?” sahut Jongin.

“Kenapa kau cemberut seperti itu?” tanya Jongin pada Jiyeon yang kini duduk tepat disampingnya yang sedang mengemudi.

“Tentu saja! Aku ingin satu mobil dengan Myungsoo Oppa! Kenapa aku malah terjebak bersamamu?”

“Kau masih menyukai Myungsoo hyeong?”

“Tentu saja! Dia cinta pertamaku!”

“Tapi, apapun yang kau lakukan, kau tidak akan bisa merebutnya dari Suzy.”

Jiyeon mendesis. “Harusnya kau membelaku!”

Suzy dan Jongin kini sibuk memotong-motong sayur sedang Myungsoo dan Jiyeon kini memanggang daging yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Jiyeon memaksa untuk melakukannya berdua dengan Myungsoo walau Jongin tahu pasti bahwa Jiyeon sangat benci dengan aroma daging panggang.

“Bagaimana harimu?” tanya Jongin memulai pembicaraan.

“Seperti yang kau lihat. Tidak ada yang spesial,” jawab Suzy sekenanya.

Jongin hanya tersenyum mendengar jawaban Suzy. Ia tahu gadis itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik. “Bahagia bukan, memiliki orang yang benar-benar spesial dihatimu?”

Alis Suzy mengernyit, sedikit bingung dengan perkataan Jongin yang tiba-tiba. “Maksudmu?”

“Buktinya saja kau dan Myungsoo. Menyenangkan melihat kau cemburu pada Jiyeon karena kau takut kehilangannya.”

Suzy hanya tersenyum simpul. “Tapi tidak sepenuhnya menyenangkan. Kau tidak tahu betapa panasnya aku melihat mereka berdua?” bisik Suzy seraya menatap tajam Myungsoo dan Jiyeon yang kini sedang asik tertawa, membuat Jongin terkekeh kecil. “Bagaimana denganmu?”

“Apanya?” tanya Jongin tak mengerti.

“Apa kau tak punya orang yang spesial dihatimu?”

“Ada.”

Suzy membuka mulutnya mendegar pernyataan Jongin. Berharap saja semoga tak ada lalat yang masuk kemulutnya itu! “Ya! Kenapa kau tak pernah cerita padaku?” desak gadis itu.

“Karena dia sudah mempuyai kekasih dan tampaknya dia juga bahagia dengan kekasihnya itu.”

Suzy tertegun. Ia bisa melihat kesedihan yang dalam dari dalam mata lelaki hitam manis itu. “Siapa?” tanyanya tanpa sadar.

“Kau.”

Jongin bisa mendengar Suzy melengos mendengar jawabannya. “Ya! Aku serius! Kenapa kau malah bercanda?”

“Aku serius, Bae Suzy,” Jongin terseyum simpul seraya mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

Suzy terdiam beberapa saat. Rasa bersalah kini menyelimutinya. “Maaf,” ujarnya menyesal.

Jongin lagi-lagi tersenyum. “Ya! Aku baik-baik saja!” tegasnya. “Lagi pula, sepertinya aku mulai bisa menerimamu menjadi calon kakak iparku. Ya! Potong timunnya baik-baik!” suruh Jongin dan Suzy yakin pria itu melakukan hal itu untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.

Suzy menarik nafasnya panjang dan meghembuskannya perlahan. Tatapannya memandang lurus kea rah danau yang terbentang luas dihadapannya. Entah kenapa, disaat seperti ini ia merindukan ibunya.

“Bagaimana?”

Suzy tersentak begitu mendengar suara Jiyeon yag tiba-tiba berada disebelahnya. Kenapa gadis itu suka sekali muncul secara tiba-tiba? Alis Suzy terangkat sebelah mendengar pertanyaan gadis itu. “Apanya yang bagaimana?” tanyanya tak mengerti.

“Apa kau sudah mulai merasa kalau Myungsoo Oppa lebih nyaman bersamaku?”

“Teruslah bermimpi, Park Jiyeon,” ucap Suzy sedikit malas.

“Kupikir, seandainya aku tidak pergi, Myungsoo Oppa juga pasti akan memilihku.”

“Ada atau tidaknya kau, Myungsoo tetap bersamaku,” ujar Suzy mulai kesal.

“Masih ingat dengan taruhan kita?”

“Taruhan? Taruhan apa?”

“Myungsoo akan memilihku.”

Suzy membulatkan matanya begitu melihat Jiyeon menjatuhkan dirinya sendiri kedalam danau. “Apa yang kau laukan?” tanya Suzy masih tak percaya.

Oppa, tolong aku!”

“Apa yang terjadi?” Myungsoo yang melihat keadaan itu setelah mendengar teriakan Jiyeon beberapa saat lalu sontak menceburkan dirinya untuk menyelamatkan gadis itu. Tak berapa lama, ia keluar dari dalam danau dengan menggendong Jiyeon yang sudah tak sadarkan diri. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Myungsoo segera memberikan pertolongan pertama yaitu nafas buatan.

“Apa dia baik-baik saja?” tanya Suzy khawatir. Walaupun Suzy sering menyumpahi Jiyeon, tetap saja gadis itu khawatir. Terlebih lagi, Jiyeon melakukannya karena ulahnya sendiri, tanpa maksud yang jelas.

Myungsoo tak begitu mendengar pertanyaan Suzy. Lelaki itu masih sibuk memberikan nafas buatan pada Jiyeon sambil sesekali menekan dada gadis itu untuk mengeluarkan air yang telah ditelannya.

 “Oppa…” lirih Jiyeon. Matanya kini memandang Myungsoo sayu.

“Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau bisa seperti ini? Bukankah kau tidak bisa berenang?”

“Gadis itu… Dia mendorongku.”

Suzy menatap Jiyeon tak percaya. Apa yang baru saja dikatakannya? Mendorong? Bohong! Jelas-jelas Jiyeon sendiri yang menjatuhkan dirinya. “Tidak. Bukan aku!”

Myungsoo menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap Suzy tajam. “Ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa sifatmu belakangan ini kasar sekali? Jangan bilang kau cemburu padanya karena kedekatan kami?”

“Itu benar bahwa aku cemburu. Tapi, itu bukan berarti aku harus berbuat jahat seperti ini. Aku…”

“Sudahlah, Suzy. Aku sudah muak dengan kebohonganmu. Ayo, Jiyeon-ah. Apa kau bisa berjalan?”

Jiyeon menggeleng lemah. “Kakiku tidak bisa digerakkan.”

Myungsoo mengangguk mengerti. Dengan segera, digendongnya Jiyeon dengan tangannya yang kekar. Namun, sebelum mereka benar-benar pergi, Suzy dapat melihat Jiyeon tersenyum sinis kearahnya.

Suzy megepalkan kedua tangannya, berusaha menahan bulir-bulir air matanya. “Kau berubah.”

“Sudah kubilang bukan, manusia itu makhluk yang egois. Tidak setia,” suara Sulli membuyarkan lamunannya.

“Kau… Sejak kapan kau ada disini?”

“Sejak gadis ber-eyeliner tebal itu menjatuhkan dirinya sendiri ke danau.”

“Kau melihatnya?” tanya Suzy sedikit tak percaya.

Sulli megangguk. “Suzy-ah, sudah saatnya kau pulang.”

“Tidak. Tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan Myungsoo sendirian.”

“Setelah apa yang dilakukannya padamu?”

Suzy mengangguk pasti. Baru saja ia ingin pergi meninggalkan Sulli, perkataan gadis itu yang tiba-tiba berhasil menghentikan langkahnya. “Sang Ratu… Ah, tidak. Ibumu… sakit.”

Sakit? Sakit apa?

Jongin mengeryitkan alisnya begitu melihat Myungsoo menggendong Jiyeon. “Apa yang terjadi? Dimana Suzy?”

“Ceritanya panjang. Suzy ada di disana,” jelas Myungsoo. Lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya.

Tak peduli pada Myungsoo dan juga Jiyeon, Jongin segera menyusul Suzy. Namun, lelaki hitam manis itu membulatkan matanya melihat apa yang terjadi. Suzy sedang berbicara dengan… Entahlah, Jongin tak tahu pasti ada apa dibalik cahaya putih yang kini ada dihadapan Suzy. Penasaran, Jongin berusaha mendengar  apa yang sedang Suzy dan lawan bicaranya itu diskusikan. Maka dari itu, Jongin segera bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari dirinya.

“Ibuku… sakit apa?”

“Ratu sakit keras beberapa hari ini. Dia selalu memanggil namamu dalam tidurnya. Maka dari itu, kembalilah, Suzy.”

“Aku…” Suzy terdiam sejenak. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Disatu sisi, ia khawatir dan rindu dengan ibunya. Tapi, di sisi lainnya, ia tak bisa meninggalkan Myungsoo begitu saja. “Baiklah. Aku akan pulang,” ujarnya akhirnya setelah terdiam beberapa saat.

Sulli terseyum puas. “Keputusan yang bijak, Suzy.” Gadis itu lalu memejamkan matanya. Membaca sedikit mantra untuk mengembalikan Suzy ke wujud aslinya.

Tak lama, tubuh Suzy mulai terbungkus gumpalan asap berwarna merah muda. Dan sedetik kemudian, penampilan gadis itu sudah berubah – sama seperti saat pertama kali ia menunjukkan wujudnya pada Myungsoo.

Jongin yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon besar mengangakan mulutnya. Ada apa ini sebenarnya? Bagaimana hal itu terjadi? Ia bisa melihat Suzy kini mengenakan gaun putih selutut. Cantik sekali.

“Su…zy.”

Suzy tersentak kaget begitu menyadari Jongin kini berada dibelakangnya. Dengan ragu, gadis itu membalikkan tubuhnya. Ia dapat melihat raut wajah Jongin yang terkejut melihat apa yang terjadi sekarang.

“Jongin-ah…”

“Kau… Siapa kau sebenarnya?”

Ah, pertanyaan itu lagi. Ia masih ingat jelas bagaimana reaksi Myungsoo saat Suzy mengatakan bahwa ia adalah seorang peri. Ia pasti akan dianggap gila setelah ini. “Aku tahu kau pasti tak akan percaya padaku. Aku… adalah seorang peri.”

“Tapi… bagaimana… bagaimana kau…”

Suzy menghembuskan nafasnya perlahan. Sepertinya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menceritakan semua kejadiannya dari awal. Dari saat pertama kali Myungsoo membuka botol ajaib hingga sampai Suzy berubah menjadi manusia karena permintaan lelaki itu. Semuanya.

Jongin mengepalkan kedua tangannya. Ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Suzy sebelumnya. Suzy adalah peri? Tiga permintaan? Semuanya cukup tak masuk akal untuk Jongin. Tapi, itulah yang terjadi sebenarnya.

Jongin menoleh ketika mendengar seseorang membuka pintu apartment Myungsoo. Ya, setelah Suzy mengucapkan salam perpisahannya, gadis itu benar-benar pergi. Lenyap untuk selamanya.

“Kim Jongin, apa yang kau lakukan disini?”

Mendengar pertanyaan Myungsoo, Jongin sontak beranjak berdiri. “Suzy sudah pergi, hyeong.”

Jongin dapat melihat lipatan dari kening kakak lelakinya itu. “Pergi? Kemana?”

“Kembali ke asalnya. Ketempat dimana seharusnya ia berada.”

Myungsoo membelalakkan matanya. “Kau… sudah tahu?”

Jongin mengangguk. “Ini… Suzy menitipkan surat ini sebelum dia pergi. Mungkin, setelah membacanya, kau akan mengerti semuanya,” Jongin menepuk pelan pundak Myungsoo sebelum akhirnya pergi.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Myungsoo segera membaca surat tersebut. Mata lelaki itu membesar. Tidak… Tidak mungkin! Suzy-ah, kembalilah!

Oppa…

Bolehkah aku memanggilmu seperti itu? Selama kita tinggal bersama, aku tidak pernah memanggilmu, Oppa. Aku juga ingin memanggilmu Oppa seperti yang dilakukan Jiyeon.

Myungsoo Oppa, maaf karena tak mengucapkan apa-apa sebelum aku pergi. Aku benar-benar harus pergi. Ibuku sakit. Dia membutuhkanku. Dan sepertinya aku tidak akan kembali lagi.

Kau bisa tanpaku bukan? Lagi pula, sekarang kau sudah memiliki Jiyeon. Jujur saja, aku sedih melihat kedekatan kalian. Apakah aku egois? Tapi, setelah ku pikir-pikir, mungkin lebih baik jika kalian bersama. Seorang peri dan manusia bersatu… Itu benar-benar menentang alam. Jadi, lebih baik aku yang pergi.

Tapi, aku hanya ingin kau tahu satu hal. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu, Kim Myungsoo.

Ini sudah enam bulan semenjak Suzy pergi meninggalkan Myungsoo. Semuanya berubah. Tak ada lagi yang membangunkan Myungsoo dari tidurnya, tak ada lagi yang membuatkan sarapannya, tak ada lagi yang memarahinya jika Myungsoo membuat kesalahan. Tidak ada.

Myungsoo berusaha melakukan semuanya sama seperti saat sebelum ia mengenal Suzy. Terkadang, Park Jiyeon masih tetap mendatanginya walau sudah beberapa kali ia mencoba menolak gadis manja itu secara halus.

Sama seperti sekarang, Jiyeon kini tengah mengoceh didepan Myungsoo. Apa gadis itu tak sadar bahwa tidak sedetikpun Myungsoo memperhatikannya?

Oppa! Apa kau mendengarku?!”

“Iya,” jawabnya malas. Myungsoo lalu menuangkan soju kedalam gelasnya.

Jiyeon mendengus kesal. “Ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa kau jadi seperti ini?”

Myungsoo tak begitu mendegarkan Jiyeon. Lelaki itu hanya sibuk dengan dunianya sendiri.

Jiyeon kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Ia mendesis. “Ternyata sia-sia saja aku membuat Suzy pergi.”

Mendengar nama Suzy disebut, Myungsoo menghentikan kegiatannya. “Apa yang baru saja kau katakan?”

“Kau tidak tahu? Aku sengaja menjatuhkan diriku ke dalam danau untuk menarik perrhatianm? Tapi kenapa kau malah seperti ini? Aku bahkan…”

“Jadi… kau bohong?”

Jiyeon terdiam. Sial! Kenapa malah ia mengatakan semuanya pada Myugsoo? Sekarang Myungsoo tahu bahwa Suzy tidak bersalah. “Oppa, aku…”

“Pergilah, Park Jiyeon.”

“Tapi…”

“Aku bilang pergi!”

Ini baru perama kalinya Myungsoo membentak Jiyeon. Mungkin seperti inilah perasaan Suzy saat dibentak Myungsoo. Tak ingin membuat Myungsoo bertambah marah, gadis itu segera pergi.

Sedang Myungsoo, ia hanya terdiam seraya menyesali apa yang telah diperbuatnya. “Maafkan aku, Suzy.”

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Suzy mengangkat kepalanya. Ia tersenyum begitu mendapati ibunya kini telah berada disampingnya. Wanita paruh baya itu lalu duduk disamping putri tunggalnya.

“Tidak ada. Aku hanya melihat-lihat pemadangan indah ini.”

Ya. Saat ini Suzy berada di taman khayangan. Banyak anak-anak kecil yang bermain disana. Dulu, Suzy juga sering bermain dengan peri yang sebaya dengannya. Tapi, itu sudah lama sekali.

 “Apa kau merindukan bumi? Atau… kau hanya merindukan lelaki itu? Kim Myungsoo?”

Lamunan Suzy buyar begitu mendengar perkataan ibunya. Ia tersenyum. “Aku memang merindukannya.  Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula, sepertiya dia sudah melupakanku. Bukankah dia sudah bersama Park Jiyeon? Gadis yang membuatnya memarahiku.”

“Dari mana kau tahu bahwa dia sudah melupakanmu?”

“Aku…” Suzy terdiam. Benar. Ia tak tahu apakah Myungsoo sudah melupakannya atau tidak.

“Mau melihat kebenarannya?”

“Maksud ibu?”

“Pejamkan matamu,” suruh ibu Suzy.

Suzy segera menutup kedua matanya. Tak lama, ia bisa melihat seorang lelaki sedang  duduk sedirian di meja kantornya. Itu Myungsoo. Apa yang terjadi dengannya? Lihatlah dirinya sekarang! Lelaki itu bertambah kurus. Dan Suzy dapat melihat dengan jelas kumis tipis disekitar bibirnya. Sudah berapa lama lelaki itu tidak bercukur?

Suzy kemudian membuka matanya perlahan. “Apa yang terjadi dengannya?” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

“Dia masih sangat mencintaimu. Ibu tahu jelas itu. Bagaimanapun juga, ibu pernah muda,” ujarnya. Wanita itu tersenyum lembut.

“Tapi, aku tak bisa meninggalkan ibu sendiri,” lirih Suzy. Kedua matanya memandang ibunya sayu.

“Dengarkan aku. Tempat ini akan selalu terbuka untukmu. Jika kau meridukanku, kau bisa menggunakan ini,” Ibu Suzy menyerahkan sebuah kalung dengan bandulan mutiara berwarna putih yang cantik. Suzy segera menerima pemberian ibunya itu. “Tapi cinta… Kau tak akan tahu kapan kau akan bertemu dengan orang sepertinya lagi. Jadi, selagi kau bisa, kau harus menggapai cinta itu,” Ibu Suzy tersenyum tulus.

Suzy terdiam sejenak. Memikirkan dengan sungguh-sungguh perkataan sang ibu. Ia tersenyum lalu mengangguk kemudian memeluk erat ibunya. “Terimakasih, bu. Aku benar-benar berterimakasih.”

Myungsoo menggelengkan kepalanya beberapa kali. Langkahnya kini sempoyongan. Namun, ia tetap memutuskan untuk berjalan menuju apartement-nya. Sial! Kenapa kepalanya pusing sekali?! Ini pasti karena soju yang diminumnya tadi!

Sesampainya didepan pintu, Myungsoo segera merogoh saku celananya. Sudah beberapa menit ia mecari kunci itu, tapi tak ditemukannya juga. Dimana sebenarnya kunci itu? Ah, dapat! Bodohnya ia! Kenapa ia tak ingat bahwa meletakkan kunci di saku hoddie-nya?

Tanpa menunggu lama lagi, lelaki itu segera membuka pintu apartmentnya. Setelah melepaskan sepatunya dan meletakkanya asal, Myungsoo segera melangkahkan kakinya. Tapi, bukannya malah ke kamarnya, lelaki itu lebih memilih untuk bermalam diatas sofa yang berada diruang tamu. Ya, mungkin sebaiknya malam ini ia tidur di sofa.

“Kebiasaanmu tidak berubah,” gumam gadis cantik yang entah sejak kapan sdah berada disampingnya.

 Myungsoo membuka matanya perlahan. Apa sudah pagi? Matanya menyipit begitu sinar matahari menusuk tajam matanya. Eh? Myungsoo tersadar akan sesuatu. Sejak kapan gorden rumahnya terbuka lebar seperti ini? Lelaki itu mengidikkan kedua bahunya, tak mau ambil pusing. Myungsoo melirik arlojinya. Sial! Ia sudah terlambat! Tak ingin berlama-lama, Myungsoo segera bergegas ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi – atau lebih tepatnya hanya menggosok gigi dan mencuci wajah tampannya saja – Myungsoo bergegas mengambil sepatu yang diletakkannya di dekat dapur. Setelah selesai memakai sepatu, lelaki itu segera beranjak berdiri.

“Tidak sarapan dulu?”

Myungsoo menggeleng. “Tidak sempat, Su…” Ia terdiam. Matanya kini membesar, seolah ingin keluar dari tempatnya. Suara itu… Apakah ia tak salah dengar? Bukankah itu suara Suzy? Ayolah, Kim Myungsoo! Sadarlah! Suzy sudah pergi dengan damai ke tempatnya berasal. Tapi, Myungsoo tetap tak tenang sebelum ia memastikan bahwa ia memang benar-benar sedang berkhayal.

Dengan hati-hati, Myungsoo memundurkan langkahnya perlahan. Ia menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya berbalik. Matanya membulat. Ia kini merasakan intermezzo.

“Ada apa denganmu? Apakah aku terlalu lama meninggalkanmu hingga membuatmu menjadi aneh seperti ini?”

“Suzy… Apakah itu benar-benar kau?”

Gadis yang ternyata Suzy itu mendegus. “Ya! Apa kau sudah lupa dengan wajahku?”

Myungsoo diam. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Melihat tingkah Myungsoo, Suzy segera menghampiri lelaki itu.

“Aku Suzy. Suzy-mu.”

“Be… benarkah ini?” Myungsoo mengangkat kedua tangannya, mengelus lembut pipi bulat gadis itu. Gadisnya.

Suzy tersenyum lalu mengangguk. Tak perlu lebih lama lagi bagi  Myungsoo untuk segera membawa gadis itu kedalam pelukannya.

“Aku merindukanmu! Sungguh!”

Suzy tersenyum dalam peluk Myungsoo. “Aku tahu. Aku juga merindukanmu.”

Setelah puas memeluk Suzy, lelaki itu melepaskan pelukannya. “Untuk semua yang terjadi di masa lalu, aku mita maaf. Tak seharusnya aku memarahimu. Aku tahu bukan kau yang mendorong Jiyeon. Gadis bodoh itu sendiri yang melakukannya. Aku…” Myungsoo menghentikan ucapannya begitu Suzy menempelkan jari telunjuknya kebibir tipisnya.

“Kau tidak sadar sudah berapa kata yang kau ucapkan tanpa jeda?” Suzy menggeleng kecil. “Dengarkan aku. Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi di masa lalu. Yang terpenting sekarag adalah perasaan kita tak berubah. Aku kembali karena aku mencintaimu. Itu yang terpenting sekarang. Jadi, mari kita mulai semuanya dari awal.”

Myungsoo mengangguk. “Berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi.”

Suzy tak sempat menjawab karena Myungsoo sudah terlebih dahulu mencium lembut bibirnya.

Sulli yang sedari tadi hanya menjadi penonton hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Oh! Dan jangan lupakan Sulli yang sudah berjasa membawa Suzy kembali ke bumi.

Ya! Apa kalian tidak tahu bahwa ada orang lain disini?” teriaknya kesal. Tak ingin mengganggu kemesraan keduanya, gadis itu segera menghilang.

True love doesn’t mean being inseparable. It means being separated and nothing changes.

THE END

Ini fanfiction pertamaku setelah Suzy fix jadi milik Lee Min Ho HAHAHA *ketawa evil* Jujur, aku ngerestuin mereka 100%!! Mereka itu cucok banget!! Sama sama sempurna!! Walau sebenarnya schock banget kok bisa sama LMH padahal mereka nggak pernah dapat project bareng. Tapi namanya juga cinta. Pas ketemu di Premiere Gangnam 1970 langsung deh falling in love. But you know what? I will always sailing this ship (read: Myungzy) until Suzy is marrying Mr. Lee.

Anyway, Happy 2nd Anniv KSF!! Nggak terasa udah 2 tahun aja nih :’) Makasih ya buat para readers sekaligus buat siders yang setia ngunjungin wp ini. Big hug buat kalian {} Semoga kedepannya KSF dapat menyajikan ff yang lebih  bermutu lagi :*

Oiya, pengumuman pemenang buat lomba ffnya aku tunda ya soalnya laptopku lagi sakit tapi aku usahain secepatnyaaaa🙂 Maaci *cium satu-satu*

51 responses to “#Happy2ndAnniversaryKSF Because I Love You

  1. Happy 2nd Anniversary KSF..
    ffnya bkin sedihh bgt pas suzy disalahin myungsoo gara” sii yeoja nappeun itu..
    tapi yaudalah finally suzy kembali lgi krn dia mencitai myungsoo oh so sweetnya…
    myungzy emng the best apa lgi ma author yg bkin ceerita kayak gini..

  2. Kak dinda! inget aku engga? Aku puji salah satu author lalai diwpmu;3
    ikh aku lupa kalo ultah ksf tgl 26*mian* aku juga baru buka wp setelah 3bulan lamanya aku engga post karna lagi sibuk pkl,-
    Gimana ini? Aku mau posting, aku udah ada ffnya kalah tapi kasalahnya laptop aku rusak, mau ke warnet tapi udah malem soalnya kan aku masih pkl jadinya tadi siang engga sempat.
    Aku post besok aja masih boleh engga?tau kok kalo udah telat;3

  3. kesel aku sama jiyeon >< dasar wanita rubah(?)
    tapi seneng tetap happy ending🙂 myungzy so sweet

  4. nangis pas suzy dy bentak sma myungsoo dan myungsoo lbih mlih jiyeon hiks hiks #happyanivKSF

  5. Huuuhhh,,, sempat deg-degan pas suzy pergi ke istana asalnya. Untung aja dia mau kembali lagi ke bumi. Dasar si myungsoo sih gampang banget dibodohi. Kesel banget sama dia waktu dia malah ngasi nafas buatan sama si yeoja maklampir itu dan malah bentak Suzy. Napa gak dibiarkan mati aja tuh yeoja licik macam si jiyeon? Iiikkhhh
    Syukur-syukur tuh Suzy mau balik lagi sama myungsoo.
    Myungsoo harus ngucapin terima kasih sama suzy karena Suzy dah sudi balik lagi sama dia. Lol
    Oia, tengkyu thor masih nulis ff myungzy. Feel mereka ga akan pernah hilang, always nempel di hati.🙂
    Dan happy anniversary untuk KSF. Semoga terus menelurkan ff2 yang berkualitas, WPnya gak akan pernah tutup atau dihapus, makin cetar membahana, makin eksis, makin rame dan siders pada berkurang dan bila perlu gak ada lagi deh yg jadi siders. Amin.🙂

  6. waah, endingnya myungsoo tetep sama suzy,, happy ending deh… tapi sebelumnya di ff ini jiyeon bikin greget, licik banget.. kasian suzy… but anyway, yang penting endingnya suzy sama myungsoo..
    aku setuju sama author… walaupun aku myungzy shipper, tapi aku tetep dukung suzy bakalan sama siapa aja yang penting suzy bahagia dan mendapatkan yang terbaik.. semoga LMH bisa menjadi namjachingu yang tepat untuk suzy.. bae Suzy jjang!! MyungZy jjang!!
    ~author jjang!!~

  7. huwaaa jahatt babgett suhh jiyiii…kesell bangett sumpahh
    tp baguss sihh ceritanyaa
    next ff aku tunggu

  8. Seriusan ceritanya daebakk..
    Ahh suka banget sama ceritanya thor,, keren drh pokoknya..
    mereka cocok banget. Meskipun tadi sedikit sebel sama jiyeo heh

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s